A’uudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillahir rahmaanir rahiim. Alhamdulillahi robbil ‘alaamin
Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa Sayidina Muhammadin wa ‘alaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajma'in.
Yaa Mawlana Yaa Sayyidi Madad al-Haqq.
Detik-Detik terakhir kehidupan Rasulullah SAW
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
amma ba'du,
Berkatalah Ibnu Mas'ud (salah seorang sahabat Nabi yang terdekat):
"Dikala telah dekat waktu wafatnya Rasulullah SAW., kami berkumpul bersama-sama di rumah ibu kita Aisyah ra. Nabi menoleh kepada kami dan kemudian kedua matanya mencucurkan air mata, dan kemudian beliau berkata antara lain:
"selamat datang bagi kalian semua, semoga Tuhan melimpahkan rahmatNya kepada kamu!" Aku berwasiat kepada kamu semua dengan takwalah, taat kepadaNya. Telah dekat masa perpisahan dan telah hampir waktu pulang kepada Allah dan kepada Surga Al-Makwa. Hendaklah Ali memandikan saya, Al-Fadal bin Abbas dan Usamah bin Zaid yang menuangkan air, dan kemudian kafanilah aku dengan kain jika kamu menghendaki yang demikian atau dengan kain putih buatan Yaman!"
"Apabila kamu telah selesai memandikanku, letakkanlah jenazahku di atas tempat tidurku di rumahku ini di atas pinggir lubang kuburku. Kemudian bawalah aku keluar sesaat, maka awal pertama kali yang memberi selawat kepadaku adalah Allah Azza wa Jalla sendiri, kemudian Jibril, kemudian Mikail, kemudian Israfil, kemudian malaikat maut (Izrail) bersama pasukannya dan kemudian segenap para malaikat. Sesudah itu barulah kamu masuk kepadaku rombongan demi rombongan dan sholatkanlah aku bersama-sama"
Setelah para sahabat mendengar kata-kata amanat perpisahan Rasulullah SAW. mereka menjerit dan menangis dan kemudian berkata :
"Ya Rasul Allah! Engkau adalah Rasul kami, penghimpun pembina kekuatan kami dan penguasa urusan kami, apabila engkau pergi dari kalangan kami, kepada siapakah gerangan lagi kami pergi kembali?"
Maka menjawablah Nabi SAW :
"Aku tinggalkan kamu di atas jalan yang terang, dan Aku tinggalkan untukmu dua juru nasihat, yang berbicara dan yang diam. penasihat yang berbicara ialah Al-Qur'an dan yang diam ialah maut. Apabila kamu menghadapi persoalan-persoalan yang musykil, maka kembalilah kepada Al-Qur'an dan Sunnah, dan apabila hati kamu kesat-kusut, maka tuntunlah ia dengan mengambil iktibar tentang peristiwa-peristiwa maut!"
Setelah itu Rasulullah jatuh sakitlah pada akhir bulan Safar dan senantiasa beliau dalam keadaan sakit selama 18 hari (ada yang mengatakan 13 dan ada pula yang mengatakan 17 hari) yang senantiasa di jenguk oleh para sahabat. Adalah beliau menderita sakit kepala sampai beliau berpulang ke Rahmatullah. beliau diangkat Tuhan menjadi Rasul pada hari Senin dan meninggal dunia pada hari Senin. pada hari terakhir dari hayatnya beliau, penyakit beliau bertambah berat.
Dalam keadaan beliau yang kritis itu, beliau masih terkenang kepada kaum fakir miskin dan melarat, dan beliau teringat bahwa masih ada uang simpanan sebanyak 7 dinnar dalam rumahnya. Disuruhnya ambilkan uang itu kepada istrinya yang tecinta Siti Aisyah ra. sambil berkata:
"Bagaimana gerangan persangkaan Muhammad terhadap Tuhannya, sekiranya ia menemui Tuhannya sedang ditangannya tergenggam benda ini?" kemudian diserahkannyalah harta miliknya yang terakhir itu kepada fakir miskin selaku kebajikan.
Setelah Bilal menyerukan adzan di waktu Subuh dengan semerdu-merdu suaranya ia pun berdiri di muka pintu rumah Rasulullah, maka ia pun memberi salam. "Assalamu'alaikum ya Rasul Allah!". Menyahutlah Fatimah, putri tersayang beliau yang senantiasa mendampingi ayahnya di kala sakit. "Rasulullah sedang sibuk dengan urusannya sendiri". kemudian Bilal pergi ke Mesjid dan ia tidak mengerti kata-kata fatimah itu. Tatkala shalat subuh akan dimulai, maka ia datang ke rumah untuk kedua kalinya dan berdiri di pintu sambil mengucapkan salam seperti semula. Kali ini suaranya di dengar Rasulullah dan lantas menyuruhnya masuk dengan katanya: "Masuklah engkau Bilal sambil menangis! Saya sibuk merawat diri saya dan sakitku bertambah berat. Hai Bilal, suruhlah Abu Bakar memimpin (Imam) sholat bersama orang banyak!"
Kemudian Bilal pun ke luar rumah menuju ke Masjid sambil menangis dan tangannya diletakkan di atas kepalanya dan sambil mengeluh ia berkata: "Oh musibah, putuslah harapan dan patahlah semangat! Wahai kiranya, alangkah baiknya kalau aku tidak dilahirkan ibuku!" Kemudian ia masuk ke dalam masjid memanggil Abu Bakar. "Hai Abu Bakar!" ujarnya. "Sesungguhnya Rasulullah menyuruh engkau tampil supaya mengimami orang banyak karena beliau sangat sibuk sekali dengan keadaan yang menimpa diri beliau".
Waktu Aisyah mendengar Rasulullah menyuruh ayahnya jadi imam, ia mengemukakan keberatannya yang sangat kepaada Rasulullah, karena katanya, ayahnya adalah orang yang lemah. "Ayahku, Abu Bakar adalah orang yang lemah, dan bila ia menggantikan kedudukan engkau, niscaya ia tidak mampu kelak," ujar Aisyah ra.
Karena menurut pandangan Aisyah, bahwa konsekuensi jadi Imam itu adalah berat, karena bukan saja seorang itu mampu jadi Imam di dalam Masjid, tetapi juga harus mampu menjadi Imam dalam masyarakat sebagai insan teladan. Dan menurut Aisyah, ayahnya adalah orang yang lemah yang tidak akan mampu mengemban dan mendukung tugas amanah yang berat itu. Berkali-kali Aisyah mengemukakan keberatannya, sehingga Nabi marah, dan alasan Siti Aisyah itu tidak dihiraukan Beliau. Karena ia lebih tahu menilai kecakapan para sahabat- nya daripada istrinya Aisyah itu. beliau tetap memerintahkan dan berkata sekali lagi:
"Suruhlah Abu Bakar memimpin sholat bersama orang banyak!". Demikianlah akhirnya Abu Bakar sempat mengimami sholat berjamaah bersama kaum Muslimin selama 17 kali waktu menjelang akhir hayat Rasulullah.
Tatkala Abu Bakar melihat ke mihrab Rasulullah, memang ia melihat mihrab dalam keadaan kosong dari Rasulullah, ia tidak dapat menguasai dirinya sehingga terpekik dan kemudian ia keluar kembali dalam suasana yang penuh duka cita. maka menjadi gemparlah kaum muslimin dan kegemparan itu terdengan oleh Rasulullah. kepada Fatimah beliau bertanya: "Ada apa ini pekik dan kegemparan?" "Kaum muslimin menjadi gempar karena mereka tidak melihat ayah berada di kalangan mereka," jawab Fatimah.
Rasulullah kemudian memanggil Ali bin Abi Thalib dan Fadhal bin Abbas untuk membimbing beliau pergi ke Masjid, dan beliaupun sempat berjamaah bersama mereka pada hari Senin itu. Rasulullah memang memaksakan dirinya pergi ke Masjid pada subuh terakhir itu untuk memberikan ketentraman ke dalam hati ummatnya yang sedang resah dan khawatir.
Anas bin Malik (pembantu rasul yang setia sampai beliau wafat) mengatakan, "Saya tidak pernah melihat Nabi secerah berseri seperti halnya dengan keadaan beliau di kala subuh terakhir itu". Ya, sambil tersenyum simpul beliau melambaikan tangannya kepada jamaah yang ramai berdesak-desakan itu, demi untuk menghibur dan membujuk jiwa mereka yang sedang dirundung gelisah dan cemas selama ini.
Kemudian setelah selesai menunaikan shalat berjamaah, maka beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak sambil berkata:
"Wahai kaum muslimin! Kamu semua berada di bawah perlindungan Allah SWT dan penjagaanNya. Janganlah lupa bertaqwa kepada Allah dan menaatinya, karena aku tidak lama lagi akan meninggalkan dunia ini. Inilah awal hari akhirat bagiku dan akhir hari duniaku!". Kemudian beliau berdiri dan pergi masuk ke dalam rumah beliau.
Setalh itu Allah SWT., memberi perintah kepada Malaikat Maut: "bahwa turunlah engkau kepada kekasihKu dengan rupa yang sebagus-bagusnya dan bersikap lemah lembutlah kepadanya dalam menggenggam rohnya. Apabila ia telah memberi izin kepada engkau, maka barulah engkau boleh masuk ke dalam rumahnya. Tetapi apabila ia tidak memberi izin, maka janganlah engkau masuk dan kembali sajalah!"
Maka turunlah Malaikat Izrail AS ke dunia dengan roman muka seorang arab, lalu mengucapkan salam: Assalamu'alaikum wahai para keluarga rumah tangga Nabi dan sumber kerosulan! Apakah saya diizinkan masuk?" Fatimah menjawab dengan katanya:
"Hai hamba Allah, sesungguhnya Rasul Allah sedang sibuk dengan dirinya!" Kemudian Malaikat Izrail berseru untuk kedua kalinya. "Assalamu'alaikum ya Rasul Allah dan wahai keluarga rumah tangga kenabian, apakah saya diperbolehkan masuk?"
Nabi Muhammad SAW mendengar suara itu maka beliau bertanya: "Hai Fatimah, siapakah itu gerangan yang berada dipintu?" "Seorang lelaki arab memanggil ayah, telah aku katakan kepadanya, bahwa Rasulullah sedang repot dengan dirinya sendiri. Kemudian orang itu memanggil sekali lagi dan telah saya beri jawaban yang sama, tetapi ia memandang kepadaku, maka tegak meremanglah bulu roma kulitku, takutlah hatiku, gemetar segala tulang persendianku, dan berubahlah warnaku (pucat)". jawab Fatimah.
Maka berkatalah Nabi SAW: "Tahukan engkau siapa sebenarnya orang itu ya Fatimah?" "Tidak tahu ayah," sahut Fatimah. Berkatalah Rasulullah SAW: "Itulah dia pemusnah segala kelezatan hidup, pemutus segala kesenangan, pencerai-berai persatuan, perubah rumah tangga dan penambah ramainya penghuni kubur."
Mendengar itu, menangislah Fatimah dengan tangisnya yang menjadi-jadi,dan ia berkata: Wahai! akan meninggal kiranya penutup para Nabi; wahai bencana! Akan berpulang kiranya orang takwa terbaik, dan akan lenyaplah Pemimpin dari segala tokoh orang suci. Ah, celaka! pasti terputuslah wahyu dari langit. Akan terhalanglah aku dari mendengar kata-kata ayah mulai hari ini, dan aku tidak pernah lagi mendengar salam ayah sejak hari ini."
Nabi SAW menjawab: "Ya Fatimah! Engkau keluargaku yang pertama kali menyusul aku". Dan kemudian beliau berkata kepada Malaikat Izrail yang sedang menunggu di luar.
"Silahkan engkau masuk hai Malaikat Maut"! Maka iapun masuklah sambil mengucapkan salam:
"Salam sejahtera atasmu ya Rasul Allah!" yang lalu di jawab oleh Nabi SAW. "Dan juga alam sejahtera bagimu ya Malaikat Maut! Apakah kedatangan engkau ini berupa kunjungan ziarah ataukah bertugas untuk mencabut nyawa?"
"Aku datang untuk kedua-duanya, ziarah dan juga bertugas mencabut nyawa, itupun jika beroleh ijin darimu; dan jika tidak saya akan kembali," sahut malaikat Izrail itu.
Nabi bertanya pula: "Ya Malaikat Maut, dimana tadi engkau tinggalkan Jibril?"
"Saya tinggalkan dia di langit dunia dan para Malaikat senantiasa memuliakannya," jawab Malaikat Maut. Dan tak lama kemudian maka datanglah malaikat Jibril AS menyusul, dan terus duduk di dekat kepala Rasulullah.
"Apakah engkau tidak tahu bahwa perintah telah dekat?" tanya Rasulullah kepada Jibril AS.
"Benar ya Rasul Allah!" sahut Jibril AS.
"Gembirakanlah saya! Apakah gerangan kehormatan yang kiranya akan saya peroleh di sisi Allah?" tanya Rasulullah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii!" -
"Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia,
tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak.
Dan pada penghujung nafasnya yang terakhir beliau mengerakkan kedua bibirnya dua kali dan akupun mendekatkan telingaku baik-baik, maka aku masih sempat mendengar beliau berkata dengan pelan-pelan: "Ummati! Ummati!" (Ummatku, ummatku). Maka dijemputlah Roh suci Rasulullah SAW dalam keadaan wajah berseri-seri dan bibir manis yang bagaikan hendak tersenyum, di pangkuan istri tercinta, Aisyah ra. pada hari Senin 12 bulan Rabi'ul Awal, yakni dikala matahari telah tergelincir di tengah hari pada tahun ke-11 Hijriyah, bersesuaian dengan dengan tanggal 3 Juni tahun 632 Masehi. Dan adalah umur Nabi SAW pada waktu itu genap 63 tahun menurut riwayat yang termasyur dan yang paling sahih.
Sekiranya dunia ini
Boleh kekal untuk seseorang
Sesungguhnya Rasulullah SAW
Adalah penghuninya yang abadi
Diriwayatkan pula bahwa ketika Ali bin Abi Thalib meletakkan jasad Rasulullah di atas tempat tidurnya, tiba-tiba terdengar suara ghaib dari pojok rumah berseru dengan nada tinggi: "Jangan kamu mandikan jenazah Muhammad, karena ia adalah orang suci lagipula membawa kesucian" Ali ra. curiga terhadap suara itu dan ia bertanya: "Siapa engkau? Padahal Rasulullah menyuruh kami memandikannya". Tiba-tiba terdengar pula suara ghaib yang lain yang berseru sebaliknya:
"Hai Ali, mandikanlah beliau! Suara ghaib yang pertama itu berasal dari suara Iblis yang terkutuk karena dengki terhadap Muhammad SAW, dan ia bermaksud agar supaya Nabi Muhammad SAW tidak dimasukkan ke dalam liang kuburnya dalam keadaan dimandikan (suci bersih)". "Semoga Allah membalasi engkau dengan kebajikan di kala engkau telah memberitahukan, bahwa suara itu berasal dari Iblis. Sekarang siapakah pula sebenarnya engkau sendiri?" tanya Ali ra.
"Saya adalah Khidir," jawabnya. Saya datang untuk menghadiri jenazah Muhammad SAW".
Kemudian Ali bin Abi Thalib ra. memandikan jenazah Rasulullah sedang Al-Fadhal bin Abbas dan Usamah bin Zaid ra menimbakan air, dan Malaikat Jibril AS datang membawa harum-haruman dari surga. Mereka kafani dan kuburkan beliau di kamar rumah Siti Aisyah ra, pada malam Rabu, (ada yang mengatakan malam Selasa).
Sambil berdiri di kubur Nabi Muhammad SAW istri beliau tercinta Aisyah ra. pun berkata, bersenandung dengan suara terharu:
Wahai orang yang tidak pernah memakai sutra,
yang tidak pernah tidur di atas kasur yang empuk,
Wahai orang yang keluar dari dunia dan perutnya
tidak pernah kenyang dengan roti gandum.
Wahai orang yang memilih tikar untuk tempat tidur
Wahai, orang yang tidak tidur sepanjang malam
karena takut sentuhan neraka Sa'ir.........!
Dari sumber lain, dapat pula kita ketahui reaksi ummat atas wafatnya Rasulullah. Bahwa dengan meninggalnya Rasulullahlah, penduduk Madinah khususnya dan ummat Islam pada umumnya diliputi oleh awan berkabung yang rawan beberapa waktu lamanya.
Suasana kedukaan yang menimpa keluarga Rasulullah dipancarkan dari rumah duka ummul mukminin Siti Aisyah ra. ke seluruh kaum muslimin yang sedang kehilangan Nabinya dan Pemimpinnya yang tercinta, sayang dan menyayangi mereka; suasana peristiwa yang membuat ummat Islam kebingungan sedemikian rupa bagaikan anak ayam kehilangan induknya, terlunta-lunta kesana kemari menunggu nasib selanjutnya. Mereka ada yang panik sehingga tidak mau mengakui fakta takdir yang sedang menimpa mereka.
Ummar bin Khatab sendiri malah bersikap sedemikian rupa seolah-olah lupa diri dengan penuh nafsu menghunus mata pedangnya marah-marah di muka orang banyak dengan berkata; "Siapa yang berani mengatakan bahwa Muhammad telah wafat akan saya pukul dengan pedang ini".
Selanjutnya ia berkata; "Bahwa Muhammad tidaklah wafat, tetapi hanya pergi buat sementara kepada TuhanNya sebagaimana Musa bin Imran menghilang sementara dari kalangan kaummnya 40 malam lamanya dan kemudian ia kembali setelah dikatakan orang telah wafat. Demi Allah, Rasulullah akan kembali pula sementara halnya Musa kembali"
Tentang Abu Bakar, ia agak terlambat datang karena rumahnya jauh. Teteapi setelah ia tiba, dilihatnya orang beramai-ramai berkerumun di depan pintu memperhatikan Ummar sedang marah-marah. Tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan ia pun segera masuk ke rumah Aisyah dengan tidak menghiraukan orang banyak. Sepatah kata pun ia tidak bicara dengan mereka.
Dilihatnya Rasulullah terbaring di atas tempat tidurnya. Dibukanya kain selubung yang menutupi wajah Rasulullah lantas di ciuminya wajahnya yang mulia itu dan kemudian ia pun menangislah tersedu-sedu sambil berkata;
"Demi ayah bundaku, alangkah indahnya hidupmu dan alangkah indahnya matimu! Demi Allah, sekali-kali tidak akan terkumpul dua kematian atas dirimu. Adapun mati yang telah ditentukan Tuhan bagimu, telah engkau temui. Dan setelah itu takkan ada lagi kematian yang datang kepadamu buat selama-lamanya".
Kemudian barulah ia keluar mendapatkan orang banyak, tetapi Ummar masih berbicara menurut sekehendak hatinya belaka. Melihat keadaan yang terus menerus demikian barulah beliau berbicara untuk menentramkan hati orang ramai. Dan banyak orang pula yang mulai beralih menghadapkan perhatiannya kepada Abu Bakar dan meninggalkan Ummar, dan Ummar sendiripun duduklah mendengarkan apa yang dikatakan Abu Bakar. Dan setelah terlebih dahulu mengucapkan puji dan sanjung ke hadirat Allah yang Maha Kuasa, berkatalah ia;
"Wahai manusia! Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Tetapi barang siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah hidup, tidak akan mati-mati untuk selama-lamanya"."Sesungguhnya engkau akan mati dan merekapun akan mati!" (Az-Zumar : 30)
Kemudian beliau menyitir firman Allah yang berbunyi: "Muhammad itu tidak lain, melainkan hanya seorang Rasul. Telah banyak berlalu Rasul-rasul sebelumnya. Apakah sekiranya ia mati atau terbunuh, kamu akan berpaling atas tumit-tumit kamu? Dan barang siapa yang murtad, maka hal itu tidak akan menyusahkan Tuhan sedikitpun. Dan Allah pasti membalas jasa orang-orang yang berterima kasih kepadaNya!" (Ali Imran : 144)
Tetapi namun demikian orang banyak masih menangis juga. ummar berkata; "Demi Allah, seolah-olah saya tidak pernah membaca ayat ini! Demi Allah, setelah aku mendengar Abu Bakar membacanya terpancarlah seluruh keringatku, kakiku tidak kuat berdiri seolah-olah aku mau jatuh rubuh ke bumi. Tetapi karena aku mendengar Abu Bakar sendiri yang membacanya, sadarlah aku bahwa benarlah Muhammad SAW. betul-betul telah meninggal dunia".
Di samping itu Ibnu Abbas berkata pula: "Demi Allah, orang banyak memang tidak tahu bahwa Allah SWT, telah menurunkan ayat ini, sampai Abu Bakar membacakannya di tengah-tengah mereka. Tidak ada orang yang telah mendengar ayat ini kecuali membacanya kembali".
Abu Bakar berpidato di muka orang banyak untuk menenangkan mereka dengan air mata yang bercucuran, dan dengan perasaan yang tertekan. Suaranya terputus-putus dengan dada yang sesak dan kerongkongan yang tersendat-sendat. Dan setelah selesai ia berpidato dia berpaling kepada Ummar bin Khatab dengan berkata; "Lupakah engkau bahwa Rasulullah pernah berkata kepada kita pada hari sekian, waktu demikian dan kala demikian?" Ia juga mengingatkan Ummar akan apa yang dikatakannya sendiri tentangakan meninggalnya Rasulullah SAW. Maka Ummar berkata;
"Saya mengaku dengan tulus, bahwa benarlah Kitab Al-Qur'an sebagaimana yang telah diturunkan, dan benarlah Hadits sebagaimana yang telah diucapkan. Dan bahwa Allah SWT hidup tidak akan mati selama-lamanya. Kita ini kepunyaan Allah, dan kepadaNya kita semua akan kembali".
Akhirnya, marilah kita ungkapkan kembali apa yang pernah diratapkan oleh seorang penyair, sahabat Rasulullah, Hasan bin Tsabit dalam sebuah sajaknya yang melukiskan keluhan jiwanya ditinggalkan Rasulullah pada hari wafatnya, disamping menggambarkan cinta kasihnya yang sangat besar kepada beliau.
Engkau biji mataku
Dengan kematianmu aku menjadi buta,
tak bisa melihat
Siapa yang ingin mati sepeninggalmu,
biarlah ia pergi mati menemui ajalnya,
Aku, hanya risau haru dengan kepergianmu
Wallahu ‘alam bish showab, wal ‘afu minkum,
Wassalamu a’laikum warrahmahtullahi wabarakatuh
Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!