Muslih bin Abdirrahman Mranggen

Perintis Jam’iyyah Thariqah Mu’tabarah IndonesiaSyeikh K.H Muslih Abdurrahman adalah ulama allamah yang pernah mengasuh pon-pes Futuhiyyah Mranggen sejak tahun 1936-1981 Masehi. Beliau sangat berjasa dalam mengembangkan dan membesarkan pon-pes Futuhiyyah Mranggen berkat fadlol dan rahmat Allah SWT, hingga dapat melahirkan banyak kiai dan ulama yang tersebar di tanah Jawa khususnya di Indonesia umumnya.Dan beliau berjasa pula dalam menyebarkan thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Jawa / Indonesia, hingga melahirkan banyak Kiai dan Guru Mursyid Thoriqoh tersebut. Disamping berjasa sebagai salah seorang pendiri dan salah seorang Ro’is Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh di Indonesia yang di kenal sekarang dengan jam’iyyah ahlith Thoriqoh Nahdliyyah itu beliau juga ikut aktif mengembangkan dan membesarkan Jam’iyyah tersebut hingga akhir hayat pada tahun 1981 Masehi.Oleh karena itu beliau dapat disebut sebagai Abul Masyayikh dan Syaikhul Mursyidin. Ghofarollohu wa Rohimah wa Qoddasallohu Asroroh wa yamidduna bi asrorihi wa barokati wa ulumihi wa karomatihi wa maunatihi wa syafa’atihi wa jami’i ahli silsilatihim wa usuluhim wa yulhiquna bihim fi khoirin wa sa’adatin wa salamah. Allahumma amiin.Beliau berjasa pula dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang, baik anggota laskar hizbulloh yang berlatih kemiliteran bersama Syekh K.H Abdulloh Abbas Buntet Cirebon dalam satu regu di Bekasi Jawa Barat dan menjadi komando pasukan sabilillah yang beranggotakan para kiai/ulama’ di wilayah Demak selatan atau front Semarang wilayah Tenggara.Beliau wafat dan di makamkan di ma’la Makkah al Mukarromah di pemakaman yang kebetulan berdampingan dengan makam Sayyidatina Asma’ binti Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A, dekat/di depan kompleks makam Sayyidatina Khodijah R.A, istri Rosulillah S.A.W. Jama’ah haji Indonesia dari Mranggen dan Demak banyak yang ziarah kepada beliau dengan bantuan mukimin setempat.Beliau wafat pada bulan syawal 1981 Masehi, dengan mewariskan pon-pes Futuhiyyah yang besar untuk di lestarikan dan di kembangkan lebih lanjut. Dan Al-hamdulillah pon-pes Futuhiyyah Mranggen tetap lestari dan berkembang hingga saat ini. Semoga demikian seterusnya hingga akhir masa.Allahumma amiin.

I. IDENTITAS DIRI DAN KELUARGA

Syeikh K.H Muslih bin Syeikh K.H Abdurrohman dan Hj. Shofiyyah, asli / kelahiran suburan Mranggen Demak, pada tahun 1908 Masehi Beliau adalah adik kandung dari Syeikh K.H Ustman bin Syeikh K.H Abdurrohman.

Silsilah Syekh Muslih bin Abdirrahman

Dari Ayah :

Muslih bin Abdurrohman bin Qosidil haq bin R. Oyong Abdulloh Muhajir bin Dipo Kusumo bin P.Wiryo Kusumo / P.Sedo Krapyak bin P.Sujatmiko atau Wijil II / Notonegoro II bin P. Agung atau NotoProjo bin P.Sabrang bin P. Ketib bin P. Hadi bin K. S. Kali jogo, hingga Ronggolawe adipati Tuban I atau Syeikh Al-Jali / Syeikh Al-Khowaji, yang berasal dari Baghdad keturunan Saayyidina Abbas r.a paman Rasulullah s.a.w.

Dari Ibu :

Muslih bin Shofiyyah binti Abu Mi’roj wa binti Shodiroh hingga bersambung pada ratu Kalinyamat binti Trenggono Sultan Bintoro Demak II bin Sultan Bintoro I / R. Fatah bin R. Kertowijoyo / Darmokusumo Brawijaya I Raja Majapahit.

Ratu Kalinyamat istri Sultan Hadliri yang berasal dari Aceh dan menjabat sebagai adipati Bintoro Demak di Jepara. Sedangkan istri Sultan Trenggono adalah puteri K. S Kalijogo dan istri Sultan Fatah / Ibu Sultan Trenggono adalah putri K.S Ampel Surabaya, Dzuriyyah Rasulullah s.a.w.

Syeikh K.H Muslih Abdurrahman menikah dengan Nyai Marfu’ah binti K.H Siroj dan berputra :

Setelah Nyai Marfu’ah wafat tahun 1959 Masehi, Syeikh K.H. Muslih Abdurrohman menikah lagi dengan Nyai Mu’minah Al-Hafidhoh / Al-Hamilah bin K.H. Muhsin ( ayah K.H. Muhibbin Al-Hafid, pengasuh pon-pes Al-Badriyyah Mranggen ) dan berputra :

Setelah Nyai Mu’minah wafat pada tahun 1964 Masehi, Syeikh K.H Muslih Abdurrahman menikah lagi dengan Nyai. Sa’adah binti H. Mahhmud, Randusari Semarang sampai sekarang beliau masih hidup, semoga thowil umur Allah husnil khotimah fi tho’atillah fil alwi wal afiyah wassalamah was sa’adah fi daruun-min fadllillah wa rohmatillah Allahuma amiin. Begitu pula keluarga dan dzuriyyah syeikh K.H Muslih, bani Abdurrohman dan para santri dan alumni pon-pes Futuhiyyah Mranggen dan cabang-cabangnya, para muhibbin beliau beliau berikut para pejuang Fi Sabillillah termasuk K.H Abdurrahman Wahid ( Gus Dur Presiden R.I ) dan keluarga masing-masing. Allahumma Amiin.

II. PENDIDIKANNYA

Pendidikan Syekh Muslih bin Abdirrahman, diperoleh dari :

Dari hasil pendidikannya tersebut Syekh Muslih bin Aburrahman termasuk Ulama’ Allamah Ahli ilmu-Kalam Bahasa Arab (Nahwu, Shorof, Balaqhoh, hingga ilmu Mantiq dan Arudh) Ahli Ilmu-Klam /Tauhid., Ahli Ilmu Tasawwuf - Ahli Ilmu Thoriqoh Mu’tabaroh hingga ahli pula dalam Ilmu Kepemimpinan Ilmu Kependidikan, Ilmu Siasah, Ilmu Hikmah Ilmu Jihad fi sabillillah termasuk Ilmu Kemiliteran. Oleh ksrns itu beliau sangat pantas menjadi Guru Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah Bahkan menjadi Syeikhul Mursidin atau guru para mursyid, sebab beliau telah memenuhi peryaratan sebagai guru Guru Mursyid sebagai mana yang dianjurkan oleh sayidina Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani RA, yang mana seorang mursyid itu seharusnya :

Syeikh K.H. Muslih teryata belajar dan mengajar sebagaimana tersebut dalam manaqib As-Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani r.a, yaitu Tafsir dan ilmu Tafsirnya, Hadist dan ilmu Muthola’ah Hadistnya ilmu fiqh dan Hilafayahnya, ilmu Usuluddin ( ilmu kalam ) dan ilmu Ushulul Fiqh, ilmu Qiro’ah / Tawid, ilmu Nahwu, ilmu Shorof, ilmu Ma’ani, ilmu Bayan Badi’, ilmu arudl, ilmu Qowafi, ilmu Matiq dan ilmu tasawwuf / ilmu Thoriqoh. Ilmu – ilmu tersebut semuanya diajarkan di pon-pes madrasah, kecuali ilmuthoriqoh / ilmu Tasawwuf. Disamping ilmu-ilmu tersebut Syeikh K.H. Muslih Abdurrohman diwaktu mudanya juga rajin belajar ilmu-ilmu kanuragan dan ketabiban Islamy maupun do’a-do’a / aurrod yang khusus, termasuk aurod khusus untuk memdapatkan Ilmu yang bermanfa’at lagi barokah. Ilmu yang manfa’at ialah ilmu yang dapat diamalkan sendiri ( dirinya dapat beribadah billah sesuai dengan ilmu yang diperolehnya, sebab fadlol dan rahmat Allah s.w.t ). Sedang ilmu yang barokah ialah ilmu yang sudah dapat ditularkan kepada orang lain, baik melalui pendidikan dan pengajaran maupun nasehat, baik secara langsung maupun tidak langsung ( melalui tulisan dalam buku / kitab yang disusun, digandakan dan dibaca oleh orang lain ). Selain belajar ilmu-ilmu tersebut beliau sempat belajar bagaimana cara mengajar yang baik ( guru yang berhasil ) dan bagaimana menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran sistem klasikal ( Salafiyah ) saat beliau mondok di Termas, Pacitan. Sebelum beliau di Termas, sepulang dari pondok Sarang beliau bersama kakaknya, yaitu Syeikh K.H. Utsman bin Abdurrohman sempat belajar dagang pakaian jadi di pasar Mranggen,selama satu tahun, atas perintah orang tuanya agar merasakan bagaimana susahnya orang bekerja mencari rejeki ( dalam setahun kerja, teryata tidak laba dan tidak rugi ) setelah itu beliau berangkat ke Termas memenuhi perintah Syeikh K. H. Maksum Lasem sekalian ingin menambah ilmu dan pengalaman.

Kitab Nurul Burhani

Kitab Manaqib Nurul Burhani disusun oleh seorang ulama bersahaja asal Mranggen, desa kecil di perbatasan Semarang – Demak, kitab terjemah dan syarah manaqib itu kini menjadi bacaan paling populer di kalangan warga nahdliyyin.

Hampir semua warga nahdliyyin, baik yang tergabung dalam salah satu thariqah mu’tabarah maupun tidak, sangat akrab dengan pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Dalam berbagai acara, terutama pada malam 11 bulan hijriah yang merupakan tanggal wafat sang wali, kitab manaqib yang mengisahkan sebagian riwayat hidup sang wali beserta sekelumit ajarannya itu menjadi bacaan “wajib”, seperti halnya kitab-kitab maulid.

Kitab manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang paling termasyhur adalah Al-Lujjainid Dani karya ulama besar Madinah, Syaikh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji. Kitab yang bersyair indah itu tersebar di berbagai negeri muslim di dunia, terutama di daerah basis penyebaran thariqah Qadiriyyah. Di Indonesia sendiri kitab ini sudah masuk sejak akhir abad 18 M, bersamaan dengan tersebarnya thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.

Bahkan di negeri ini, hampir semua kitab Al-Lujjanid Dani diterbitkan bersama syarahnya (keterangan atau komentar) dalam bahasa-bahasa daerah. Salah satu edisi manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani bersyarah yang paling populer adalah kitab An-Nurul Burhani fi tarjamatil Lujjainid Dani fi Dzikri Nubdzatin min Manaqibisy Syaikh Abdil Qadir Al-Jilani karya Syaikh Muslih Abdurrahman Al-Maraqi, mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah asal Mranggen, Demak Jawa Tengah.

Berbeda dengan syarah lain yang hanya satu jilid, kitab karya pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen yang juga Rais Am Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah pada masanya itu terdiri dari dua jilid. Jilid pertama yang selesai ditulis pada tahun 1382 H/1962 M banyak mengupas tentang ulasan seputar pembacaan manaqib seperti hukum manaqiban, dalil-dalil penggunaan hadits dhaif untuk fadhailil a’mal (keutamaan beribadah) dan tawassulan. Diterangkan juga seputar kewalian, karamah dan fadhilah atau keutamaan membaca manaqib. Semua penjelasan Syaikh Muslih juga dilengkapi dengan keterangan kitab-kitab rujukan karya ulama salaf ternama.

Dan di bagian terakhir Syaikh Muslih mengajarkan tata cara membaca manaqib yang baik dan benar, lengkap dengan beberapa amalan sebelum membaca manaqib dan sesudahnya. Seperti pembacaan enam surah pendek : Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Qadr dan Al-Insyirah, masing-masing tujuh kali lalu disambung doa pembuka keberkahan rizqi, yang dianjurkan diamalkan sebelum membaca manaqib.

Mencegah Kefakiran

Dinukilkan juga beberapa doa ternama seperti doa ismul a’zham (nama Allah yang Mahaagung), doa bagi orang yang ingin mendapatkan putra-putri yang shalih dan dan doa lithalabil ghina wa nafyil faqr (memperoleh kekayaan dan mencegah kefakiran) yang banyak diajarkan oleh ulama ternama. Doa-doa tersebut dianjurkan oleh Syaikh Muslih untuk dibaca seusai membaca manaqib.

Sementara pada jilid kedua yang usai ditulis pada tahun 1383 H/!963 M, Syaikh Muslih membagi isi kitabnya menjadi dua bagian. Bagian yang atas berisi matan (tulisan pokok) kitab Al-Lujanid Dani karya Syaikh Ja’far Al-Barzanji, lengkap dengan qashidahnya. Sedangkan bagian bawah, dengan tulisan yang lebih kecil, Syaikh Muslih menyampaikan terjemahan serta syarah (komentar dan keterangan)-nya atas kitab Al-Lujjainid Dani.

Keterangan tambahan dari Syaikh Muslih yang bersumber dari kitab-kitab besar itu sangat menambah wawasan pembaca manaqib mengenai kehidupan dan ajaran Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. Ada juga nukilan kisah-kisah langka khas kaum thariqah. Seperti dialog ruhaniah yang cukup menarik antara Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dengan Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, tentang pilihan Syaikh Abdul Qadir berfatwa menurut madzhab Hanbali. Atau kisah dialog malaikat Izrail dengan Syaikh Abdul Qadir menjelang wafatnya.

Di penghujung kitab, usai doa penutup manaqib, Syaikh Muslih juga melampirkan dua doa qashidah karya dua wali besar yang menurutnya sangat baik dibaca sebagai penutup majelis manaqiban. Qashidah pertama merupakan gubahan wali agung Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir Ba’alawi yang sangat akrab di masyarakat, terutama setelah dipopulerkan oleh Ustadz H. Salafudin Benyamin Pekalongan, dengan judul syair Ya Arhamar Rahimin.

Sedangkan qashidah kedua adalah karya Sulthanul Auliya Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Dalam keterangannya, qashidah ini digubah oleh sang wali untuk sebagai permohonan agar bencana kemarau yang melanda negerinya diangkat. Syaikh Muslih juga mengisahkan pengalaman gurunya Syaikh Ibrahim Brumbung yang mengamalkan qashidah tersebut saat daerahnya idlanda kemarau panjang. Dan, Subhanallah, tak lama setelah syair-syair indah itu dipanjatkan, hujan pun turun dengan lebatnya.

Masih banyak lagi keterangan dan pelajaran berharga yang disampaikan Syaikh Muslih dalam dua jilid karyanya tersebut.

Tidak ada hal yang menonjol dari Muslih kecil, selain ketawadhuan sikap dan kebersahajaan hidupnya yang belakangan terus mewarnai perjalanan hidup sang mursyid hingga wafatnya. Usai mempelajari dasar-dasar ilmu agama, ia lalu nyantri di Pesantren Brumbung, Demak yang diasuh Syaikh Ibrahim Yahya, seorang ulama dan mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah generasi kedua di Jawa setelah Syaikh Abdul Karim Banten. Dari Syaikh Ibrahim ini pula Syaikh Abdurrahman, ayah Kiai Muslih, memperoleh ijazah kemursyidannya yang diturunkan kepada sang putra.

Mengurung Diri

Usai mengaji di Brumbung, Kiai Muslih nyantri di Mangkang, Semarang Barat, tempat Syaikh Soleh Darat dulu pernah nyantri. Kemudian Kiai Muslih pindah lagi ke Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah, yang diasuh oleh K.H. Imam dan K.H. Zuber, ayahanda ulama kharismatik Sarang saat ini, K.H. Maimun Zuber.

Selain mengaji kepada kedua ulama sepuh itu, Muslih juga mengaji kalong kepada ulama sepuh di Lasem, K.H. Ma’shum, ayahanda K.H. Ali Ma’shum, pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta yang juga mantan Rais Am PBNU. Di Lasem, Muslih berkawan dekat dengan Ali Ma’shum. Karena kedekatan itu setahun setelah pulang dari Pesantren Sarang, Muslih memilih nyantri di Pesantren Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, menyusul sahabatnya yang sudah lebih dulu nyantri.

Ada kisah menarik saat keduanya nyantri di Tremas. Suatu ketika Kiai Ali Ma’shum ditunjuk oleh pengasuh pesantren untuk menjadi kepala madrasah diniyyah di lingkungan pesantren. Dengan tugas barunya yang terbilang berat Ali pun melepaskan tugas awalnya mengajar nahwu dengan pegangan kitab Alfiyyah Ibnu Malik.

Sebagai penggantinya Ali Ma’shum menunjuk Muslih yang saat itu masih dalam taraf belajar. Tentu saja yang ditunjuk gelagapan dan berusaha mengelak. Namun Ali terus memaksanya seraya memberinya dorongan bahwa cara paling efektif untuk menguasai ilmu nahwu adalah dengan mengajarkannya kepada orang lain.

Akhirnya Muslih menyerah dan menerima tugas tersebut. Namun sebelumnya ia minta waktu terlebih dulu untuk mengkaji lagi kitab nahwu tingkat tinggi tersebut. Setelah itu Muslih mengurung diri di dalam kamar selama seminggu. Siang malam ia membolak-balik halaman kitab tersebut sambil terus berdoa mohon bimbingan dari Allah SWT. Tepat seminggu kemudian, ia keluar dari kamar dan mulai mengajarkan kitab Alfiyyah di kelas-kelas.

Dan hebatnya, entah apa yang dilakukan Muslih di dalam kamar, ketika keluar ia bukan saja telah menguasai seluk beluk kitab Alfiyyah, tetapi Muslih juga berhasil menemukan metode pengajaran yang khas dan menarik sehingga banyak murid-murid yang semula benci pelajaran nahwu berbalik menjadi suka. Salah satu murid yang mengidolakan pengajaran ilmu nahwu ala Kiai Muslih adalah DR. Mukti Ali, mantan menteri Agama RI di tahun 1970an.

Demikianlah, beberapa tahun kemudian ia pulang dari Tremas sebagai ulama muda yang alim dalam ilmu fiqih, ushul fiqh, hadits, ilmu-ilmu Al-Quran dan –terutama– ilmu alat. Bahkan dengan keahlian khususnya di bidang ilmu, tak heran pesantrennya di Mranggen belakangan juga dikenal sebagai salah pusat pembelajaran ilmu alat terbaik.

Sistem pembelajaran di Tremas yang menganut pola klasikal belakangan juga menginspirasi Kiai Muslih untuk merombak sistem pendidikan di Mranggen yang masih menganut pola kuno, yakni halaqah sorogan dan bandongan. Ketika dipercaya menggantikan ayah dan kakaknya untuk mengasuh Pesantren Mranggen pada tahun 1936, ia langsung mendirikan madrasah-madrasah diniyyah sebagai tempat aktivitas belajar mengajar.

Selain mengasuh pesantren Kiai Muslih juga mulai terjun ke dunia thariqah. Ia mengambil bai’at pertamanya kepada K.H. Abdurrahman Menur, Mranggen, salah seorang khalifah Syaikh Ibrahim Yahya Brumbung. Setelah menjalani suluk dan riyadhah, Muslih dibai’at menjadi mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah oleh Syaikh Abdul Lathif Banten dan mulai menerima bai’at dari murid-muridnya.

Memimpin Pejuang

Dengan bekal kealimannya dalam berbagai cabang ilmu, Kiai Muslih pun segera dikenal sebagai ulama thariqah yang jempolan. Pengakuan atas ketokohannya terbukti ketika Kiai Muslih yang saat itu menjabat wakil Rais Am Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah tampil mengendalikan organisasinya, karena sang Rais Am, Kiai Hafidz dari Rembang sudah sangat uzur.

Ketika dalam tubuh jam’iyyah muncul perpecahan, karena ada sebagian tokohnya yang terjun ke politik praktis, Kiai Muslih bersama beberapa ulama sepuh lain mempelopori berdirinya Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman).

Selain mengajar dan membimbing murid-murid thariqahnya, ketika pecah perang kemerdekaan, Kiai Muslih juga aktif memimpin laskar Sabilillah. Tak hanya itu, Kiai yang lekat dengan sarung dan sorban melilit di kepalanya itu juga menjadikan Pesantren Mranggen sebagai basis pertahanan seluruh pasukan jihad yang berjuang di sektor Semarang Timur, yang terdiri pasukan Hizbullah, Sabilillah dan Barisan Kiai.

Tak hanya piawai mendidik dan memimpin massa, Kiai Muslih juga terbilang produktif menulis. Selain kitab syarah manaqib An-Nurul Burhani yang legendaris, ayah sebelas anak itu juga menulis tak kurang dari enam belas buku dan risalah yang rata-rata berbahasa jawa.

Kebanyakan karya-karya sang allamah berkaitan dengan ilmu tashawwuf khususnya yang berlairan Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah, seperti kitab Al-Futuhatur Rabbaniyyah fi Thariqatil Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah. Banyak petunjuk, panduan dan ajaran berthariqah yang tercantum dalam kitab-kitab karya Kiai Muslih belakangan menjadi pegangan Jatman dalam menyusun adab dan tata laksana perthariqahan di Indonesia.

III. PERJUANGAN

Syeikh K.H. Muslih Abdurrohman selain berjuangan demi terwujudnya suatu pribadi yang baik serta menjadi ulama pejuang islami, ternyata beliau juga berjuang fi sabilillah disisi yang lain, yaitu :

IV. PENGASUH PON-PES FUTUHIYYAH

Sebelum Syeikh K.H. Muslih mondok kembali di Pondok Pesantren Termas, beliau sempat mukim dirumah yaitu Suburan Mranggen kira-kira pada tahun 1931 Masehi selama satu tahun, setelah kembali dari mondok di Pondok Pesantren Sarang.

Pondok Pesantren yang telah direhabilitasi pada tahun 1927 Masehi, atas perintah Syeikh K.H. Abdurrohman, telah berhasil menampung puluhan santri, namun aktifitas Madrasah tersebut menjadi berhenti, setelah diminta oleh N.U cabang Mranggen .

Akhirnya Syeikh K.H. Muslih berusaha mendirikan kembali Madrasah Diniyyah Awaliyyah Futuhiyyah di komplek Pon-Pes Futuhiyyah dengan tekat tidak boleh diminta oleh N.U lagi. Jika N.U ingin mengelola Madrasah lagi supaya mendirikan sendiri.

Selang beberapa waktu, Pon-Pes Futuhiyyah mendirikan Madrasah dua kali pada tahun 1927 dan 1929 Masehi. Selama dua kali mendirikan, dua kali pula diminta oleh N.U. Cabang Mranggen dengan cara Bedol Madrasah, Murid dan Gurunya di pindah tempat, yang kemudian dikelola oleh N.U Cabang Mranggen dan dua Kali pula terhenti.

Setelah Madrasah yang didirikan oleh Syeikh K.H. Muslih berjalan lancar, satu tahun kemudian diserahkan oleh adik beliau, yaitu Syeikh K.H. Murodi setelah mukim kembali dari mondok di Lasem dan para gurunya, dengan pesan agar tak boleh dipindah lagi, karena beliau akan Mondok lagi ke Termas.

N.U. cabang Mranggen, akhirnya mendirikan sendiri Madrasah Diniyyah Awaliyyah dan dapat hidup hingga sekarang, di Kauman Mranggen, yang dikenal kemudian dengan nama Madrasah Ishlahiyyah.

Syeikh K.H. Muslih saat datang di Termas, langsung diminta oleh Syeikh K.H. Ali Maksum (Krapyak Yogya), selaku kepala Madrasah di Termas saat itu, untuk mengajar kelas di ajar oleh Syeikh K.H. Ali Maksum (kelas Alfiyyah Ibnu Malik). Semula Syeikh K.H. Muslih menolak, dengan alasan belum mampu mengajar Alfiyyah. Beliau tetap dipaksa dan dibujuk dengan kata-kata nanti saya ajari oleh Syeikh K.H. Ali Maksum. Setelah itu, Beliau akhirnya bersedia. Namun Ternyata Syeikh K.H. Ali Maksum hanya sekali mengajar Syeikh K.H. Muslih sebagai persiapan mengajar Alfiyyah, yaitu pada malam sebelum esok harinya mengajar, lalu beliau menghilang.

Dengan berat hati Syeikh K. H. Muslih mengajar dikelas yang ditinggalkan Syeikh K.H . Ali Maksum. Dan kira-kira setengah bulan kemudian, Syeikh K.H. Ali Maksum baru muncul dan bertanya kepada murid – murid kelas tersebut, bagaimana hasil kerja Ustadz baru, murid-murid menjawab baik dan puas, setelah itu Syeikh K.H. Muslih di tetapkan guru kelas tersebut.

Suka duka Syeikh K.H. Muslih tidak menghalangi untuk berenovasi menjadi guru yang baik dan ini terbukti saat dimana santri-santri senior yang ada di Termas tidak disuruh mengajar, justru santri barunya yang disuruh mengajar, yaitu Syeikh K.H. Muslih, maka oleh santri-santri senior tersebut, kursi tempat duduknya di rawe ( diberi bulu buah rawe agar gatal-gatal, hingga tidak jadi mengajar ). Dengan berbekal Ilmu yang lebih luas dan pengalaman selama menjadi guru madrasah Tsanawiyyah di Termas itulah akhirnya Syeikh K.H. Muslih pulang dan mukim kembali di Suburan Mranggen kira-kira pada tahun 1935 Masehi, dengan tekad akan mengembangkan pondok pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen. Dan Al-Hamdulillah pada tahun 1936 Masehi berdirilah Madrasah Ibtida’iyyah yang bukan M.I, karena pelajarannya sudah setingkat dengan Madrasah Wustho atau Madrasah Tsanawiyyah yang diselenggarakan pada pagi hari.

Mengenai bagaimana teknis pengumuman P.M.B yang dilakukan saat itu, sementara saat itu tidak ada radio, tidak ada stensil, tidak ada mesin tulis apalagi fotocopy, tetapi yang jelas, madrasah tersebut penuh dengan murid dan pondoknya semakin banyak jenis santri mukimnya, baik yang berasal dari desa-desa wilayah kecamatan Mranggen dan sekitarnya hingga Gubug-Purwodadi, hal ini terjadi karena tersiarnya berita bahwa di pondok Suburan Mranggen telah muncul Kiai yang alim.

Sesudah tahun 1950 Masehi pon-pes Futuhiyyah semakin berkembang santri mukimnya semakin bertambah ( antara 300 – 400 orang ), di samping santri lajo yang masih belajar di madrasah maupun sambil mengaji wetinan, berikut datangnya santri pengajian thoriqoh yang dibuka mulai tahun 1950 Masehi. Adapun penyebabnya adalah bervariatif, mungkin Syeikh K.H. Muslih dikenal sebagai Kiai yang enak ngajinya, atau karena adanya aktivitas da’wah dari para mubalighin, termasuk Syeikh K.H. Abdul Hadi yang malang melintang berda’wah seantero Jawa Tengah,dan sekitarnya.

Singkatnya, apa yang telah terwujud itu adalah fadlol dan rohmat Allah s.w.t. yang harus diyakini berkat syafa’at ahli silsilah Ilmu Islami aurod mujahadah dan riyadloh, termasuk dzikir thoriqoh, khususnya Syeikh K.H. Ibrohim. Yahya Brumbung, Syeikh K.H. Abdurrohman wa ushulih, Syeikh K.H. Hadi Giri Kusumo, Syeikh Abu Mi’roj Sapen, serta para auliya’-syuhada’ tanah Jawa hingga Wali Sembilan dan K.S. Fatah beserta pengikutnya, Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani r.a dan ahli silsilahnya hingga Rasulullah s.a.w.

Syeikh K.H. Muslih Abdurrohman selaku pimpinan / pengasuh pon-pes Futuhiyyah harus berjuang pula mencukupi kebutuhan prasarana dan sarana pondok pesanten termasuk keperluan dalam menyelenggarakan madrasah, seiring pribadi beliau menggerakkan pula partisipasi aktif dalam pembangunan pondok pesantren futuhiyyah baik dari santrinya, para wali santri maupun masyarakat baik dalam bentuk sumbangan tenaga, material maupun nonmaterial. Adapun sumber-sumber yang lain berasal dari sumbangan pemerintah.

Pertengahan bulan Ramadhan 1401H/1981M, sebagaimana cita-citanya sejak lama, Syaikh Muslih Abdurrahman wafat di tanah suci Makkah ketika tengah menunaikan ibadah umrah. Jenazahnya dimakamkan di Ma’la bersama ribuan orang yang telah wafat di bumi Al-Haramain tersebut.

Sementara itu sepeninggal Syaikh Muslih, kemursyidan thariqahnya di Mranggen dilanjutkan oleh adiknya K.H. Ahmad Muthohhar Abdurrahman, putranya K.H. M. Luthfil Hakim, dan menantunya K.H. Makhdum Zein. Juga K.H. Muhammad Ridwan, dan Kiai Abdurrahman Badawi, yang sebelumnya menjadi khalifah Syaikh Muslih.

Melanjutkan kebiasaan Syaikh Muslih, pengajian thariqah atau lazim disebut tawajjuhan, yang kini sudah diasuh oleh generasi ketiga yang dipimpin K.H.M. Hanif Muslih, Lc, K.H. Abdurrahman Badawi dan K.H. Sa’id Labib Luthfil Hakim, digelar seminggu dua kali. Hari Senin untuk kaum pria dan hari Kamis untuk ibu-ibu.

Pada masa hidup beliau, partisipasi santri besar sekali dalam pembangunan pondok pesantren Futuhiyyah, sebagai pengalaman ilmu, ikut andil dalam jariyyah, bersatu dan bergotong royong secara ikhlas merealisasi program pembangunan sekaligus nyadong berkah dari Allah s.w.t. Untuk keperluan hidupnya di dunia dan akhirat kela, Amiin. Wallahu A'lam.

Sumber: pondoktremas.com