Hippobroma longiflora (L.) G.Don.
Hippobroma longiflora (L.) G.Don.
Hippobroma longiflora merupakan tumbuhan herba dari famili Campanulaceae yang berasal dari kawasan tropis Amerika Tengah dan Karibia, terutama Jamaika, dan telah dinaturalisasi ke berbagai wilayah tropis lainnya termasuk Asia Tenggara dan Pasifik. Tumbuhan ini dikenal dengan nama umum "Star of Bethlehem", "Madre Cacao", atau “bintang putih beracun” karena bentuk bunganya yang mencolok dan kandungan senyawa toksiknya yang tinggi. Nama genus Hippobroma berasal dari bahasa Yunani, yang berarti “racun untuk kuda”, mengacu pada getah putih tanaman ini yang sangat beracun bila terkena mata atau tertelan.
Tumbuhan ini tumbuh liar di daerah lembap seperti pinggir jalan, tepi sungai, dan kebun. Selain karena bentuk bunganya yang indah, Hippobroma longiflora juga dikenal di beberapa budaya sebagai tanaman obat luar, meskipun penggunaannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena toksisitasnya yang tinggi.
KLASIFIKASI :
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Family : Campanulaceae
Genus : Hippobroma
Species : Hippobroma longiflora (L.) G.Don.
MORFOLOGI
Hippobroma longiflora merupakan tumbuhan herba tegak atau sedikit menjalar yang tingginya bisa mencapai 20 hingga 60 cm. Batangnya bergetah putih yang sangat beracun dan dapat menyebabkan iritasi bila terkena kulit atau mata. Daunnya tunggal, tersusun secara berseling, berbentuk lanset memanjang dengan tepi bergerigi kasar atau bercangap, panjang daun berkisar antara 5 hingga 20 cm dan lebar 1 hingga 5 cm. Permukaan daun bagian atas halus mengilap sedangkan bagian bawahnya berbulu halus.
Bunganya sangat khas, berwarna putih dengan corolla (mahkota) berbentuk tabung panjang sekitar 6–13 cm dan lima lobus ujung yang menyebar menyerupai bintang. Bunga muncul secara soliter dari ketiak daun. Bunga ini menghasilkan buah kapsul berbentuk lonjong yang memiliki dua ruang (bilokular), berambut halus, dan berisi biji kecil berwarna cokelat. Bunga ini sangat menarik secara visual tetapi seluruh bagiannya mengandung zat beracun.
HABITAT
Hippobroma longiflora hidup secara alami di wilayah tropis lembap seperti Jamaika dan wilayah Amerika Tengah, namun kini telah menyebar ke Asia Tenggara, Australia, Pasifik, dan Afrika. Tanaman ini tumbuh liar di lahan yang teduh hingga semi terbuka, pada tanah yang lembap dan memiliki drainase baik. Ketinggian optimal pertumbuhannya adalah mulai dari dataran rendah hingga sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Di alam liar, tanaman ini sering ditemukan di pinggir sungai, tepi jalan, ladang tidak terawat, dan area semak-semak lembap.
ZAT FITOKIMIA
Hippobroma longiflora mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, yang sebagian besar bersifat toksik. Getah putih tanaman ini mengandung senyawa alkaloid beracun seperti lobeline, nicotine, lobelamin, dan lobelanidine, yang semuanya tergolong dalam senyawa piperidin alkaloid. Selain itu, daun dan bunga mengandung flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid yang berpotensi memberikan efek farmakologis seperti antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri, meskipun penelitian lebih lanjut masih sangat diperlukan untuk memverifikasi khasiat dan keamanannya.
POTENSI
Meskipun sangat beracun, tanaman ini memiliki potensi yang menjanjikan dalam bidang farmakologi. Studi laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak tumbuhan ini (khususnya dari jamur endofit di dalamnya) memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba yang cukup tinggi. Aktivitas farmakologis seperti antiinflamasi, antikanker, dan aktivitas terhadap penyakit infeksi menjadi bidang yang masih terbuka luas untuk eksplorasi lebih lanjut. Namun, karena toksisitasnya yang tinggi, pemanfaatan tanaman ini harus dilakukan secara ilmiah dan hati-hati, terutama jika digunakan untuk pengobatan herbal.
MANFAAT
Secara tradisional, bagian tanaman Hippobroma longiflora digunakan di beberapa wilayah Asia dan Pasifik sebagai pengobatan luar. Daunnya diremas dan airnya digunakan sebagai obat gosok untuk mengatasi gatal-gatal, nyeri otot, sakit kepala, dan rematik. Di beberapa daerah, getahnya juga digunakan sebagai obat sakit gigi dan tetes mata, meskipun praktik ini sangat berisiko karena getahnya dapat menyebabkan iritasi parah atau bahkan kebutaan. Di wilayah tertentu, tumbuhan ini juga digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi asma, bronkitis, dan tekanan darah tinggi, namun penggunaannya umumnya tidak disarankan karena risiko keracunan sangat tinggi.
PETA SEBARAN