Heptapleurum emarginatum adalah tumbuhan dari keluarga Araliaceae yang dikenal sebagai tanaman asli daerah tropis Asia, termasuk wilayah India, Sri Lanka, Tiongkok Selatan, hingga Asia Tenggara. Tanaman ini sebelumnya dikenal dengan nama Schefflera emarginata, namun berdasarkan pembaruan taksonomi terbaru dari World Flora Online, nama yang diterima saat ini adalah Heptapleurum emarginatum. Di beberapa daerah, tanaman ini dibudidayakan sebagai tanaman hias karena bentuk daunnya yang khas menyerupai payung. Selain itu, tanaman ini juga memiliki potensi dalam pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun- temurun.
Tanaman ini tumbuh sebagai semak atau pohon kecil dan sering ditemukan di area hutan hujan tropis dan sub-tropis yang lembap. Dalam ekosistem alaminya, tumbuhan ini tumbuh baik pada ketinggian antara permukaan laut hingga 1.400 meter di atas permukaan laut. HABITAT alami dari Heptapleurum emarginatum termasuk lereng perbukitan, tepi hutan, serta kawasan dengan curah hujan tinggi dan tanah yang memiliki drainase baik. Tumbuhan ini dapat diperbanyak secara generatif melalui biji atau secara vegetatif melalui stek batang. Genus Heptapleurum sebelumnya tergabung dalam genus besar Schefflera, namun berdasarkan pemutakhiran KLASIFIKASI filogenetik, genus ini telah dipisahkan berdasarkan bukti molekuler.
KLASIFIKASI :
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Apiales
Family : Araliaceae
Genus : Heptapleurum
Species : Heptapleurum emarginatum (Moon) Seem.
MORFOLOGI
Heptapleurum emarginatum memiliki bentuk tumbuhan berupa semak atau pohon kecil. Batangnya berkayu, dengan percabangan simpodial. Daunnya tersusun majemuk palem (digitat), terdiri atas 5 hingga 16 anak daun berbentuk lonjong sampai elips dengan ujung meruncing dan tepi rata. Daun berwarna hijau tua, permukaannya licin dan mengkilap. Daun tersusun secara spiral pada batang dan memiliki tangkai panjang yang khas menyebar seperti payung. Bunga-bunganya tersusun dalam bentuk malai terminal atau umbel, berwarna putih kekuningan, kecil, dan bersifat hermafrodit. Buahnya berbentuk drupa bulat atau lonjong, pada saat matang berwarna ungu kehitaman, dan di dalamnya terdapat beberapa biji kecil berbentuk bulat.
HABITAT
Tanaman ini menyebar secara alami di wilayah Asia tropis dan subtropis seperti India, Sri Lanka, Myanmar, Cina selatan (termasuk provinsi Guangdong, Guangxi, Hainan), serta Asia Tenggara dan Papua Nugini. Di HABITAT alaminya, Heptapleurum emarginatum tumbuh pada kawasan hutan lembap, baik di dataran rendah maupun perbukitan, pada ketinggian hingga 1.400 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan ini menyukai tempat yang hangat dan lembap, dengan paparan sinar matahari penuh hingga setengah teduh. Tanah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman ini adalah tanah gembur dengan drainase yang baik.
KANDUNGAN FITOKIMIA
Penelitian spesifik mengenai kandungan fitokimia pada Heptapleurum emarginatum masih terbatas, berdasarkan studi pada genus Schefflera (yang merupakan genus induk sebelumnya), diketahui bahwa tanaman ini kemungkinan besar mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder seperti triterpenoid, saponin, seskuiterpen, fenilpropanoid, lignan, dan flavonoid. Senyawa-senyawa ini diketahui memiliki aktivitas farmakologis seperti antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, antimalaria, dan antikanker. Beberapa spesies dalam kelompok ini juga mengandung senyawa antioksidan yang tinggi, sehingga memiliki potensi sebagai bahan obat herbal.
POTENSI
Heptapleurum emarginatum memiliki potensi besar sebagai tanaman obat, terutama karena kandungan fitokimia yang beragam. Senyawa triterpenoid dan saponin yang mungkin terkandung dalam tanaman ini telah banyak dikaji dalam dunia medis sebagai agen antiinflamasi dan imunomodulator. Potensi lainnya termasuk sebagai tanaman hias karena struktur daunnya yang menarik dan habitus pohonnya yang cocok ditanam di taman tropis. Selain itu, karena aromanya yang khas dan kemampuannya untuk bertahan di berbagai kondisi lingkungan, tanaman ini juga cocok untuk reklamasi lahan atau konservasi tanaman lokal.
MANFAAT
Secara tradisional, beberapa masyarakat Asia menggunakan tanaman kerabat Heptapleurum emarginatum untuk mengobati nyeri, demam, gangguan pencernaan, dan penyakit rematik. Tanaman ini juga digunakan sebagai tonik untuk meningkatkan vitalitas tubuh, serta sebagai obat luar untuk mengatasi gatal, peradangan, dan luka ringan. Karena aktivitas antibakteri dan antiinflamasi dari senyawa aktifnya, ekstrak daunnya kadang digunakan untuk mencegah infeksi pada luka. Di beberapa negara Asia, tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai tanaman penghias taman atau halaman rumah karena bentuk daunnya yang eksotis dan mudah dirawat.
PETA SEBARAN