Dypsis lutescens atau palem kuning adalah sejenis palma yang berasal dari Madagaskar. Palma ini memiliki daun yang lentikular, lebar dan berbentuk pita dengan panjang mencapai 2-3 meter. Pada batangnya tumbuh bunga yang terdiri dari beberapa tandan dan setiap tandan terdiri dari beberapa rumpun bunga. Buahnya berwarna merah muda, kecil, dan berdaging tipis. Dalam budidaya hortikultura, palem kuning sering digunakan sebagai tanaman hias indoor maupun outdoor karena tumbuh dengan cepat dan mudah dirawat. Selain itu, tanaman ini juga memiliki nilai estetika yang tinggi dengan warna daun yang hijau cerah dan batang yang elegan.
KLASIFIKASI
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae
Genus : Dypsis
Species : Dypsis lutescens
NAMA LAIN
Dypsis lutescens atau palem kuning memiliki banyak nama umum dan lokal di berbagai daerah dan negara. Berikut adalah beberapa di antaranya:
Golden cane palm atau areca palm (Inggris)
Palma amarilla (Spanyol)
Areca de jardin (Perancis)
Arecastruik (Belanda)
Kin nak (Thailand)
Kipas emas (Indonesia)
MORFOLOGI
Dypsis lutescens atau palem kuning adalah jenis tanaman palem yang berasal dari Madagaskar. Morfologi dari Dypsis lutescens adalah sebagai berikut:
Batang: Batang palem kuning tunggal, tumbuh tegak dan tinggi mencapai 6-12 meter. Batang berwarna hijau muda pada saat masih muda, kemudian berubah menjadi kecoklatan saat menua. Permukaan batang dilapisi oleh serat-serat halus yang membentuk pola spiral.
Daun: Daun palem kuning tunggal, memiliki panjang 1-2 meter. Daun berbentuk pinnate (menyerupai bulu ayam) dengan ujung daun tajam dan garis tengah sekitar 2,5 cm. Daun berwarna hijau tua dan tumbuh secara spiral di atas batang.
Bunga: Bunga palem kuning berukuran kecil, berwarna kuning terang, dan tumbuh dalam kelompok yang terletak di ujung cabang.
Buah: Buah palem kuning berwarna oranye, berukuran sekitar 1,5-2 cm dan berbentuk bulat.
HABITAT
Dypsis lutescens atau palem kuning biasanya tumbuh di daerah tropis dengan kondisi iklim yang lembap. Berikut ini adalah ciri habitat/ekologi dari Dypsis lutescens:
Tanah: Dypsis lutescens dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, namun lebih cocok pada tanah yang gembur dan subur dengan pH netral hingga asam.
Suhu: Tanaman ini membutuhkan suhu yang hangat antara 20-30°C dan toleran terhadap suhu rendah hingga 10°C.
Cahaya: Dypsis lutescens membutuhkan cahaya yang cukup, tetapi tidak langsung terkena sinar matahari.
Kelembapan: Tanaman ini membutuhkan kelembapan yang tinggi, namun tidak tahan terhadap genangan air.
Habitat: Dypsis lutescens dapat ditemukan di hutan tropis, tepi sungai, dan lahan basah
Potensi Tanaman
Potensi sebagai Tanaman Obat : Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Dypsis lutescens memiliki kandungan senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, dan fenolik yang dapat digunakan sebagai bahan obat. Ekstrak daun Dypsis lutescens telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang cukup tinggi dengan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) dan ABTS (2,2'-azino-bis(3-ethylbenzthiazoline-6-sulphonic acid)) (Pramono & Wibowo, 2022). Selain itu, ekstrak daun Dypsis lutescens juga memiliki potensi sebagai inhibitor korosi baja karbon (Lestari & Maulina, 2021).
Potensi sebagai Tanaman Pangan: Pada daerah asalnya, buah dari Dypsis lutescens telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan oleh masyarakat setempat. Buah ini memiliki rasa manis dan sering digunakan untuk membuat jus atau dimakan langsung. Namun, di Indonesia penggunaan buah Dypsis lutescens sebagai bahan makanan masih sangat terbatas.
Potensi sebagai Bahan Industri : Selain sebagai tanaman hias, Dypsis lutescens juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan industri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun Dypsis lutescens dapat digunakan sebagai bahan alami pewarna tekstil (Suprapti & Kustiawan, 2021). Selain itu, batang Dypsis lutescens yang sudah tua dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti kayu untuk pembuatan mebel dan bahan konstruksi.
Etnobotani
Dypsis lutescens atau palem kuning telah dipelajari di beberapa daerah di Indonesia. Tumbuhan ini memiliki beragam penggunaan dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat setempat. Di Bali, daun palem kuning digunakan untuk mengobati sakit kepala, sakit gigi, dan batuk. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur, getah palem kuning digunakan untuk mengobati bisul dan luka. Di Jawa Barat, daun palem kuning dihancurkan dan digunakan untuk mengobati kulit yang gatal atau iritasi.
Kandungan Fitokimia
Penelitian mengenai kandungan fitokimia pada Dypsis lutescens atau palem kuning telah dilakukan di beberapa negara, termasuk Indonesia. Beberapa senyawa fitokimia yang ditemukan pada palem kuning antara lain alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid.
Penelitian oleh Irawati dan tim di Universitas Tanjungpura, Pontianak menunjukkan adanya kandungan alkaloid pada ekstrak daun palem kuning. Selain itu, senyawa flavonoid dan tanin juga ditemukan pada daun dan batang palem kuning. Penelitian ini menunjukkan bahwa palem kuning memiliki potensi sebagai sumber senyawa fitokimia yang berguna dalam pengobatan tradisional dan farmasi modern.
Peta persebaran
Referensi
Saragih, R. 2017. Karakteristik morfologi dan fisiologi Dypsis lutescens (palem kuning) pada berbagai tingkat intensitas cahaya. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 22(1), 1-9.
Pramono, A. A., & Wibowo, A. 2022. Analisis fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun palem kuning (Dypsis lutescens) dengan metode DPPH dan ABTS. Jurnal Farmasi Galenika (Galena Pharmacy Journal), 8(1), 31-38.
Lestari, D. A., & Maulina, D. 2021. Potensi ekstrak etanol daun palem kuning (Dypsis lutescens) sebagai inhibitor korosi baja karbon. Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi, 24(2), 33-38.
Suprapti, N. W., & Kustiawan, W. 2021. Pemanfaatan ekstrak daun palem kuning (Dypsis lutescens) sebagai bahan alami pewarna tekstil. Jurnal Tekstil dan Industri, 5(1), 1-6.
Irawati, R., Gustini, D., & Ulfa, M. 2018. Kandungan senyawa metabolit sekunder daun dan batang palem kuning (Dypsis lutescens) sebagai obat tradisional. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 5(1), 1-10.
The Plant List. (2013). Excoecaria cochinchinensis Lour. Diakses pada 29 April 2023, dari http://www.theplantlist.org/tpl1.1/record/kew-79652.
Amalia, R., Ratih, D., & Kartini, N. 2019. Etnobotani tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat sekitar Taman Nasional Bali Barat, Bali. Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Hayati, 4(1), 25-32.
Pujasari, I., Kusuma, H. S., & Suhardiyanto, H. 2015. Identifikasi tumbuhan obat yang digunakan untuk pengobatan tradisional oleh masyarakat di Desa Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya, 1(1), 19-28.
Radjasa, O. K., & Wahyudianingsih, R. 2017. Kajian etnobotani tanaman obat di Desa Umutnana, Kecamatan Soa, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Journal of Applied Biology & Biotechnology, 5(2), 41-50.