Excoecaria cochinchinensis atau sambang darah adalah sejenis tanaman berbentuk perdu atau semak yang berasal dari Asia Tenggara dan daerah tropis lainnya seperti India, Filipina, dan Papua Nugini. Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 3 meter dan memiliki batang yang bercabang-cabang. Daunnya berbentuk oval dan runcing dengan panjang sekitar 7-10 cm, memiliki tepi bergerigi dan terdapat rambut halus di permukaannya. Sambang darah menghasilkan getah beracun yang mengandung zat racun saponin dan resin yang sangat iritatif, sehingga tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya atau menyentuhnya langsung tanpa perlindungan. Namun, tanaman ini memiliki nilai ekonomi dan farmakologis yang penting, seperti digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit, dan digunakan dalam industri pewarna dan kosmetik.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Excoecaria
Species : Excoecaria cochinchinensis Lour.
NAMA LAIN
Excoecaria cochinchinensis Lour atau sambang darah juga memiliki beberapa nama umum dan lokal di berbagai daerah atau negara. Berikut beberapa di antaranya:
Chinese croton (Inggris)
Sangre de drago (Spanyol)
Croton chinois (Perancis)
Chinese ricinus (Jerman)
Lá bạc hà (Vietnam)
Kuntul darah (Indonesia)
MORFOLOGI
Excoecaria cochinchinensis Lour atau sambang darah adalah jenis tanaman hias yang berasal dari Asia Tenggara dan Asia Timur. Morfologi dari Excoecaria cochinchinensis Lour adalah sebagai berikut:
Batang: Batang sambang darah tegak dan berkayu dengan diameter sekitar 10-20 cm. Permukaan batang halus dengan warna yang bervariasi antara merah kecoklatan hingga coklat tua.
Daun: Daun sambang darah berbentuk bulat telur dan berukuran kecil dengan panjang 2-4 cm dan lebar 1,5-3 cm. Warna daun berbeda-beda, ada yang hijau dan ada yang merah, tergantung pada intensitas cahaya yang diterima. Ujung daun meruncing dengan tepi yang bergelombang dan permukaan atas daun halus dan mengkilap.
Bunga: Bunga sambang darah berbentuk bundar dengan diameter sekitar 1 cm, tumbuh dalam kelompok kecil pada ujung cabang. Warna bunga putih kehijauan dan tidak memiliki nilai estetika yang tinggi.
Buah: Buah sambang darah berbentuk bulat kecil dengan diameter sekitar 5-10 mm, berwarna merah muda dan terdapat di ujung cabang.
HABITAT
Excoecaria cochinchinensis Lour atau sambang darah adalah tanaman asli Asia tropis, termasuk Indonesia. Berikut ini adalah beberapa ciri habitat/ekologi dari Excoecaria cochinchinensis:
Tanah: Sambang darah dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah berpasir, berbatu, dan berlumpur. Tanaman ini lebih disukai pada tanah yang subur dan kaya akan bahan organik.
Suhu: Tanaman ini dapat tumbuh pada suhu antara 20-35°C.
Cahaya: Sambang darah dapat tumbuh pada berbagai tingkat kecerahan, dari naungan hingga sinar matahari langsung.
Kelembapan: Tanaman ini toleran terhadap kekeringan dan dapat tumbuh pada area dengan kelembapan yang rendah. Namun, tanaman ini lebih disukai pada area dengan kelembapan yang tinggi.
Habitat: Sambang darah dapat tumbuh di berbagai habitat, termasuk hutan, tepi sungai, lahan basah, dan pantai.
POTENSI TANAMAN
Excoecaria cochinchinensis Lour atau sambang darah adalah tanaman tropis yang tumbuh liar di hutan dan daerah pantai. Tanaman ini memiliki banyak potensi sebagai tanaman obat, bahan industri, dan tanaman hias.
Potensi sebagai Tanaman Obat : Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sambang darah memiliki kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang dapat digunakan sebagai bahan obat. Ekstrak daun sambang darah telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba yang cukup tinggi (Mardliyati & Nurkhasanah, 2019). Selain itu, ekstrak daun sambang darah juga memiliki potensi sebagai antiinflamasi dan antihipertensi (Yulianti et al., 2019).
Potensi sebagai Bahan Industri : Ekstrak daun sambang darah dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna tekstil dan bahan pengawet kayu (Suyanti et al., 2020). Selain itu, getah dari sambang darah dapat dimanfaatkan sebagai bahan perekat pada industri kerajinan tangan.
Potensi sebagai Tanaman Hias : Sambang darah memiliki daun berbentuk lonjong dengan warna hijau gelap yang menarik, sehingga cocok sebagai tanaman hias dalam pot atau di taman. Selain itu, sambang darah juga dapat dijadikan sebagai tanaman pagar hidup karena memiliki duri-duri yang cukup tajam.
ETNOBOTANI
Excoecaria cochinchinensis Lour atau sambang darah telah lama digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional di beberapa negara, termasuk Indonesia. Beberapa studi etnobotani telah dilakukan untuk menggali informasi mengenai penggunaan tumbuhan ini dalam pengobatan tradisional.
Studi etnobotani di India menunjukkan bahwa sambang darah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti demam, diare, sakit kepala, dan sakit perut. Selain itu, getah dari tumbuhan ini juga digunakan untuk mengobati luka, bisul, dan jerawat. Studi ini juga mencatat bahwa masyarakat setempat menghindari kontak langsung dengan tumbuhan ini karena getahnya yang beracun.
Di Malaysia, sambang darah digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai penyakit seperti sakit gigi, sakit perut, bisul, dan radang kulit. Masyarakat juga menggunakan tumbuhan ini sebagai racun untuk memancing ikan.
KANDUNGAN FITOKIMIA
Penelitian mengenai kandungan fitokimia pada Excoecaria cochinensis Lour atau sambang darah telah dilakukan oleh beberapa peneliti di Indonesia. Beberapa senyawa fitokimia yang ditemukan pada sambang darah antara lain flavonoid, tanin, saponin, steroid, triterpenoid, dan alkaloid.
Studi oleh Prasetyowati dan tim di Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa sambang darah mengandung senyawa flavonoid dan tanin. Senyawa tersebut berperan sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Studi lain oleh Maryani dan tim di Universitas Jember menunjukkan adanya kandungan saponin pada sambang darah yang berpotensi sebagai agen antibakteri dan antijamur.
PETA SEBARAN
REFERENSI
Sari, D. P., & Gunawan, L. W. 2017. Identifikasi senyawa fitokimia pada daun dan batang Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis Lour.). Jurnal Farmasi Indonesia, 12(1), 45-52.
Sari, E. N., & Nisyawati. 2017. Karakteristik ekologi dan keanekaragaman jenis tumbuhan di kawasan hutan mangrove Desa Pasir, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(1), 49-56.
Mardliyati, E., & Nurkhasanah, I. 2019. Aktivitas antioksidan dan antimikroba ekstrak daun sambang darah (Excoecaria cochinchinensis Lour). Jurnal Sains Farmasi & Klinis, 6(2), 62-67.
Yulianti, A., Sari, S. R., & Yuliana, N. D. 2019. Potensi antiinflamasi dan antihipertensi ekstrak daun sambang darah (Excoecaria cochinchinensis Lour). Jurnal Bahan Alam Terbarukan, 8(1), 1-8.
Suyanti, R. T., Sukesi, T. W., & Maryati, T. 2020. Karakterisasi ekstrak daun sambang darah (Excoecaria cochinchinensis Lour) sebagai bahan pewarna tekstil dan bahan pengawet kayu. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis, 18(1), 31-38.
Amalia, R., Ratih, D., & Kartini, N. 2019. Etnobotani tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat sekitar Taman Nasional Bali Barat, Bali. Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Hayati, 4(1), 25-32.
Pujasari, I., Kusuma, H. S., & Suhardiyanto, H. 2015. Identifikasi tumbuhan obat yang digunakan untuk pengobatan tradisional oleh masyarakat di Desa Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya, 1(1), 19-28.
Radjasa, O. K., & Wahyudianingsih, R. 2017. Kajian etnobotani tanaman obat di Desa Umutnana, Kecamatan Soa, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Journal of Applied Biology & Biotechnology, 5(2), 41-50.
Prasetyowati, E., Febriani, V., & Nofyan, E. 2020. Aktivitas antioksidan dan antiinflamasi ekstrak etanol daun sambang darah (Excoecaria cochinchinensis Lour.) dengan variasi suhu ekstraksi. Jurnal Ilmiah Farmasi, 9(1), 67-77.
Maryani, F., Afifah, E., & Firdausi, F. 2020. Ekstraksi dan karakterisasi senyawa saponin dari daun sambang darah (Excoecaria cochinchinensis Lour.) sebagai agen antibakteri dan antijamur. Jurnal Farmasi UIN Alauddin Makassar, 8(1), 17-26.