Temu Hitam
(Curcuma Aeruginosa Roxb. )
Temu Hitam
(Curcuma Aeruginosa Roxb. )
Merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk Burma dan Indonesia. Di Indonesia, tanaman ini telah dikenal sebagai bahan pengobatan tradisional, memiliki rasa yang pahit. Masyarakat sering memanfaatkannya sebagai obat penambah nafsu makan, batuk, antirematik, dan mengatasi masalah kebotakan pada pria.
Termasuk tanaman temu-temuan yang dapat dijumpai liar di hutan jati, atau padang rumput, dan daerah-daerah dengan ketinggian sekitar 400-750 m dpl.
Akar serabut, rimpang berwarna putih, dan pada tengahnya melingkar berwarna agak gelap. Beraroma khas dan menyengat.
Batang semu, basah, lunak, berwarna hijau, tersusun atas kumpulan pelepah daun.
Daun tunggal, bulat telur, pertulangan utama membujur berwarna cokelat tua.
Bunga majemuk, merah muda keunguan.
Perbanyakan dilakukan melalui rimpang ataupun memisahkan anakan dari rumpun.
Rimpang: semai rimpang lalu ditutupi tanah setinggi 10-15 cm pada tempat teduh dan lembap. Setelah muncul tunas, potong rimpang. Tiap rimpang terdiri dari 2-3 mata tunas. Angin-anginkan di tempat teduh selama 2 hari sebelum ditanam.
Anakan: pisahkan anakan dengan menggali tanah di sekitar anakan kemudian ditanam.
Mengobati penyakit kulit, batuk berdahak, sesak napas, membantu pemulihan masa nifas, pembersih darah setelah melahirkan, menyuburkan kandungan, antirematik, antihipertensi.
Flavonoid, saponin, minyak atsiri, tanin, kurkumol, kurkumenol, isokurkumenol, kurzerenon, kurdion, kurkumalakton, germakron, linderazulene, kurkumin, demethyoxykurkumin, bisdemethyoxykurkumin.
Socfindo Conservation. 2021. Temu Ireng https://www.socfindoconservation.co.id/plant/391 (24-04-2023)