Melinjo
(Gnetum gnemon L.)
Melinjo
(Gnetum gnemon L.)
Melinjo atau Gnetum gnemon merupakan tanaman dari keluarga Gnetaceae yang sebaran alaminya meliputi Timur Laut (NE) India hingga Fiji. Melinjo telah dibudidayakan di banyak bagian dunia terutama untuk buahnya yang lezat. Di Indonesia dan Malaysia, melinjo telah dikonsumsi sebagai bahan makanan selama berabad-abad dan dibudidayakan sebagai salah satu tanaman naungan umum dalam sistem agro-forestry, juga banyak ditanam sebagai pohon pekarangan rumah dan tujuan perbaikan tanah di banyak tempat di Asia Tenggara. Daun muda, pucuk berbunga dan buahnya dapat dimasak sebagai sayuran, serta bijinya dibuat menjadi kerupuk (emping). Secara tradisional, melinjo juga telah digunakan masyarakat dalam beberapa pengobatan tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Berdasarkan hasil studi, diketahui bahwa melinjo mengandung kandungan senyawa bioaktif, dimana turunan dari bijinya memiliki sifat antimikroba, antioksidan, antibakteri, antipenuaan dan aktivitas penghambatan tirosinase. Tanaman melinjo menghasilkan kayu yang biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk membuat kotak dan alat pegangan. Serat kulit kayunya dapat dimanfaatkan dalam pembuatan tali, jaring ikan dan produk kertas yang bermutu tinggi. Kulit bagian dalamnya digunakan untuk membuat Tali busur Sumba.
Tanaman melinjo dapat tumbuh baik di tempat terbuka maupun sebagian situasi teduh pada iklim tropis dan subtropis, hutan hujan, hutan pesisir, tepian sungai, pulau berbatu, dan tanjung, hingga ketinggian 1.200 m dpl. Tanaman ini menyukai posisi dengan sinar matahari penuh. Menyukai kondisi tanah yang mengalir bebas atau berdainase baik dengan tingkat keasaman tanah sedikit masam hingga netral atau sedikit basa.
Batang tunggal, lurus, silinder, berdiameter hingga 40 cm. Permukaan luar batang berwarna abu-abu, ditandai dengan cincin yang mencolok. Batangnya dibalut dengan banyak lingkaran cabang sampai ke dasar. Cabang menebal di pangkalan.
Daun sederhana, unifoliate, bertangkai, berbentuk bulat telur-lonjong atau elips, panjangnya sekitar 10 sampai 20 cm dan lebarnya sekitar 4 sampai 7 cm, ujung daun runcing (acute) sampai sub acuminate, tepi daun rata, pangkal daun runcing (acute) dan susunan daun (filotaksi) berlawanan atau berhadapan, berurat menjala (reticulate), permukaan daun gundul dan mengkilap, berwarna hijau tua dan daun muda berwarna ungu kemerahan.
Bunga dioecious dan menghasilkan kerucut jantan dan betina pada pohon yang berbeda di ketiak daun. Kerucut jantan bercabang atau tidak bercabang memiliki panjang 2,5–7,6 cm dan menghasilkan lingkaran mikrosporofil kecil dan ovula yang gugur pada setiap buku. Kerucut betina memiliki panjang 5–13 cm, mengandung 5–8 ovula di setiap buku. Perbungaan ditanggung oleh tunas muda dan cabang tua. Perbungaan kekuningan, panjang 3-6 cm, lebar kerah 3 mm.
Buah memiliki lapisan berdaging kemudian sekam keras yang mengelilingi bagian dalam bertepung. Buah berbentu elips, apikulasi pendek, hampir seperti beludru. Buah muda berwarna hijau, berubah menjadi warna kuning kemudian menjadi oranye dan akhirnya berwarna merah ketika matang.
Biji berjumlah satu perbuah, berbentuk lonjong, glaucous. Kulit biji tipis dan rapuh, mudah terpisah dari bijinya.
Perbanyakan tanaman melalui biji dan stek batang, dimana sebelumnya stek direndam selama satu jam dalam perangsang akar.
Benih membutuhkan waktu beberapa bulan hingga 1 tahun untuk berkecambah. Fase remaja berlangsung 5-8 tahun.
Antidiabetes, antibakteri, obat diare, infeksi saluran cerna, infeksi jamur di kulit, pegal linu, menurunkan demam, hipertensi, mengobati batuk darah, sariawan, rematik, radang, dan pembengkakan.
Saponin, tanin, flavonoid, resveratrol (stilbenoid) terutama dalam bentuk dimer (gnetin C, gnemonoside A, gnemonoside D), lima senyawa turunan stilben (isorhapontigenin, gnetin D, gnetifolin K, gnetol) dan satu senyawa lignan ((+)-lirioresinol B).
Socfindo Conservation. 2023. Melinjo. https://www.socfindoconservation.co.id/plant/1115 (29-04-2023)