Mud volcano (debate) still hot nearly four years later
Gunung Lumpur (perdebatan) hampir empat tahun kemudian, masih panas
Oleh Marci Wills, Feb 19, 2010
TIJNAUAN OLEH PROF. DR. HARDI PRASETYO,
Untuk LUSI LIBRARY:
Artikel berjudul ‘Gunung Lumpur (perdebatan) hampir empat tahun kemudian, masih panas’ ditulis oleh Merci Wills secara poluler.
Dengan dimotivasi oleh keterkejutannya ketika mengetahui fenomna Lusi terjadi saat ia masih duduk di duduk Universitas dan ternyata, sampai empat tahun kemudian, masih belum ada penyelesaian baik aspek mud volcano sebagai fenomena alam maupun penyelesaian dampak sosial kemasyarakatan. Bahwkan disebutnya masih menjadi kontroversi yang panas.
Dalam mengungkapkan kondisi semburan Lusi pada status Februari 2010 (empat tahun Lusi), penulis masih menggunakan kondisi atau perilaku semburan (eruption behavior) sebagai semburan masih liar dan dahsyat.
Digambarkannya dengan intensitas tertinggi yang selanjutnya memberikan peringatan (warning stage), yaitu sebesar 160.000m3/hari, temperature 100oC/hari.
Dianalogikan besarnya semburan tersebut akan dapat mengisi 50 kolam renang berukuran standar Olimpiade, dan menggenani kawasan seluas 7km2, dan ketebalan maksimum 20m.
Hal penting dari tinjauan artikel ini adalah (Prasetyo), pada saat yang hampir bersamaan, pada Maret 2010 saat kunjungan Presiden RI ke Lusi, Badan Geologi KESDM telah menyampaikan bahwa intensitas semburan telah menurun drastis pada level 15.000m3/hari, dan material yang dikeluarkan terutama air, sangat sedikit lumpur. Perubahan mendasar adalah saat itu sudah tidak ada keluaran lumpur panas, sebagaimana yang terjadi pada tahun 2006-2009.
Keingintahuan Wills terhadap fenomena Lusi memuncak dilandasi oleh pemahaman saat itu (19 Februari 2010) bahwa tidak ada tanda-tanda penurunan intensitas semburan, upaya untuk menghentikan semburan sebegitu jauh tidak berhasil, termasuk diantaranya insersi bola-bola beton.
Dalam kaitan ini (Prasetyo) Willis tidak memasukkan dua senjata pamungkas Relief Well-2, yang telah dilaksanakan dan ternyata gagal. Dan sekali lagi tidak mengetahui pada saat menulis makalah telah terjadi perubahan perilaku dari semburan Lusi. Disamping itu Willis juga memaknai dari pandangan para ahli sebelumnya, bahwa semburan dapat berlangsung berabad-abad.
Selanjutnya Wills mencoba meninjau fenomena Lusi sebagai suatu mud volcano. Disebutkannya Lusi merupakan satu dari 700 mud volcano aktif di dunia, namun jumlahnya tergantung dari definisi yang digunakan (misalnya grypon atau salsa yang sebenarnya kurang tepat dimasukkan kedalam pengertian morfologi ‘gunung’).
Dari 700 mud volcano aktif di dunia ini kebanyakan terdapat di Azerbaijan, Turkmenistan, dan di lepaspantai Laut Kaspia. Ditambahkan bahwa keberadaan mud volcano pada tiga lokasi tersebut, mempunyai kaitan dengan keberadaan lapangan minyak dan gas bumi.
Penulis menyederhanakan pembentukan mud volcano sebagai terjadinya akumulasi air, lumpur dan gas yang terjebak pada kantong di bawah permukaan bumi. Selama kurun waktu jutaan tahun telah mengalami peningkatan tekanan yang sangat tinggi. Selanjutnya dengan adanya sarana tertentu (dimaksudkan rekahan atau patahan), material dari kantong tersebut keluar ke permukaan bumi.
Penulis sampai pada bagian kontroversi terkait pemicu Lusi, dimana terdapat dua alternatif yaitu gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, dan kegiatan pemboran sumur eksplorasi BJP-1.
Kontroversi terhadap pemicu Lusi tersebut dari sisi ilmiah telah memberikan kemanfaatan, yaitu meningkatnya penyelidikan mud volcano di seluruh dunia sebanyak 400%.
Perdebatan secara formal pada awal tahun 2010 masih meningkat, sebagaimana ditampilkan pada media internasional Marine Petroleum Geology. Secara khusus antara Sawolo dkk., dengan argumen tidak ada kaitan Lusi dengan sumur BJP-1 dan sebaliknya dan Davies dkk., (2010) memperkuat bukti dipicu oleh kegiatan pemboran tersebut.
Sawolo mengkombinasikan argument pengendali gempabumi Yogyakarta (awalnya diusulkan Mazzini dkk., 2007), dan data keteknikan pemboran yang tidak memperlihatkan adanya kaitan semburan dengan pemboran.
Sebaliknya Davies dkk., tetap berkukuh bahwa gempabumi Yogyakarta intensitasnya terlalu kecil dan jaraknya terlalu jauh untuk menginisiasi semburan Lusi. Disamping itu menggunakan data catatan harian pemboran, yang menyimpulkan ada keterkaitan antara pelaksanaan pemboran dengan inisiasi semburan Lusi.
Penulis mengakhiri artikel populer ini, bahwa bila tidak ada solusi dari kontroversi terhadap pengendali mekanisme semburan Lusi, maka ke depan semua akan bermunculan pernyataan yang berlumpur (Lusi will surely continue to make its own muddy statement for years to come).
Sebagai catatan penting adalah bahwa telah terjadinya perubahan mendasar dari postur dan perilaku semburan Lusi, serta padigma baru penanggulangan bencana Lusi mud volcano, belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, baik diluar maupun di dalam negeri.
Hal ini dapat disebabkan keterlambatan informasi terkait pada masyarakat luas (public domain), sehingga sumber data-informasi yang ada masih diwarnai oleh kondisi perilaku Lusi pada tahun 2009 dan sebelumnya.
Disamping itu masih mengemukanya kontroversi atau perdebatan terkait penyebab dan pemicu Lusi. Namun salah satu kemanfaatan dari sisi ilmu pengetahuan adalah, misteri dari semburan Lusi telah memicu meningkatnya penelitian mud volcano diseluruh dunia sebesar 400%.
Tulisan ini juga memberikan proses belajar bahwa keterbukaan informasi yang obyektif dan berimbang dilandasi norma akademis, sangat diperlukan agar masyrakat luas mempunyai persepsi yang terkini (actual) terhadap kondisi di lapangan dan pemahaman (knowledge) yang berkembang sangat dinamis.
· Kesan pertama tentang istilah mud volcano, dengan ilusi suatu yang tidak menyenangkan
· Awal Lahirnya Lusi, dan berlanjutnya semburan sampai tahun ke empat. Keterkejutan semburan Lusi tidak dapat dihentikan
· Kondisi semburan durasi tahun ke empat, 160.000m3/hari, dapat mengisi 50 kolam renang olimpiade, menggenangi daerah 7km2
· Upaya untuk menganggulanginya sebegitu jauh telah gagal, termasuk sistem bendungan, tanggul dan inseri bola-bola beton
· Semburan tidak memperlihatkan perlambatan, kecil peluang untuk dihentikan, akan berlangsung berabad, meningkatkan keingintahuan berbagai pihak mengapa bisa terjadi?
· Pernyataan Lusi sebagai salah satu dari 700 mud volcano yang diketahui di dunia (jumlah tergantung definisi yang digunakan)
· Mud volcano terutama terkonsentrasi di Azerbaijan, Turkmenistan, dan Laut Kaspia, ada kaitan dengan terjadinya jebakan minyak
· Penyederhanaan terbentuknya mud volcano material terjebak di bawah permukaan, kantong cairan dalam kondisi tekanan sangat tinggi selama jutaan tahun tiba-tiba ada jalan keluar, ke permukaan
· Dua kemungkinan pemicu Lusi yaitu gempabumi Yogyakarta atau kaitan dengan pemboran sumur eksplorasi BJP-1
· Perdebatan tersebut telah menyebabkan meningkatnya penelitian mud volcano sebanyak empat kali lipat, namun disisi lain masih belum tuntasnya masalah sosial kemasyarakatan (cash and carry)
· Perdebatan masih memuncak tahun 2010 pada media Marine and Petroleum Geology antara Sawolo dkk., dengan argument tidak ada kaitan Lusi dengan sumur BJP-1 dan sebaliknya dan Davies dkk., (2010) memperkuat bukti dipicu oleh kegiatan pemboran tersebut
· Davies dkk., beranggapan gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2010 intensitasnya terlalu kecil dan jaraknya sangat jauh
· Memperkuat bukti dari laporan harian kegiatan pengeboran terhadap terjadinya ‘awal semburan’, bukti ada keterkaitan antara semburan lusi dan pemboran
· Diharapkan bahwa pernyataan keterkaitan tersebut secara sepihak dapat menyelesaikan perdepatan, diikuti dengan aspek hokum pada masa mendatang
· Penulis mengingatkan bila tidak ada solusi dari perdebatan tersebut maka Lusi akan membuat pernyataan yang berlumur pada tahun-tahun mendatang
By (Oleh) Marci Wills, Feb 19, 2010
When I first heard the highly scientific term “mud volcano” I thought it sounded awfully lame, but those in Indonesia would likely argue otherwise.
Ketika saya pertama kali mendengar istilah yang sangat ilmiah dari "gunung lumpur" (“mud volcano”), saya telah pikir bahwa hal tersebut kedengarannya sangat tidak menyenangkan, tapi masyarakat di Indonesia kemungkinan akan beralasan sebaliknya?.
On May 29, 2006, a mass of boiling mud unexpectedly erupted from beneath the densely populated Sidoarjo district of Java. The “Lusi mud volcano” (a conjunction of Lumpur, the Indonesian word for mud, and Sidoarjo) killed 13 people in 2006 due to ruptured gas pipelines and displaced an estimated 30,000 more. I vaguely remember hearing about this back when I was graduating from high school.So I was rather shocked when I learned this week, in my senior year of college, that the Lusi eruption hasn’t stopped!
Pada tanggal 29 Mei 2006, material lumpur yang mendidih tiba-tiba menyembur di Kabupaten Sidoarjo, dengan kepadatan penduduk di Jawa.
Gunung lumpur Lusi (kependekan kata Indonesia untuk lumpur, dan Sidoarjo) pada tahun 2006 telah menyebabkan orang 13 meninggal dunia, disebabkan oleh pecahya pipa gas, serta mengakibatkan terjadinya pengungsian sekitar lebih dari 30.000 orang.
Aku (Penulis) samar-samar teringat kembali ketika mendengar tentang itu pertama kalinya ketika baru lulus dari Sekolah Lanjutan Atas. Sehingga sangat terkejut ketika saya ketahui pada minggu ini (19 Februari 2010), saat saya berada pada tahun tingkat senior saya perguruan tinggi, bahwa semburan Lusi tidak dapat berhenti!
Fig: The Lusi mud volcano erupting two days after its birth. From Mazzini et al (2007).
Gamb: Semburan gunung lumpur Lusi dua hari setelah kelahirannya. Dari Mazzini et al (2007).
Nearly four years later, the mud volcano continues to ooze at an alarming rate of 160,000 cubic meters of 100°C mud every day (enough to fill 50 Olypmic-sized swimming pools!) It covers an area of 7 square kilometers (~3 square miles) up to 20 meters (65 feet) deep.
Hampir empat tahun kemudian, mud volcano terus menyemburkan cairan pada tingkat yang mengkhawatirkan, yaitu 160.000 meter kubik lumpur dengan temperatur 100o/C setiap harinya (jumlah ini, cukup untuk mengisi 50 kolam renang berukuran Olimpiad) Lusi lumpur letusan gunung berapi dua hari setelah kelahirannya.
Luapan ini telah menutupi daerah seluas 7 kilometer persegi (~ 3 mil persegi) dengan kedalaman lebih 20 meter (65 kaki).
The muck has defeated all efforts to thwart it, including dams, levees, drainage channels, and even attempts at plugging the center with large concrete balls.
The volcano shows no signs of slowing, much less stopping, and researchers estimate it could continue to erupt for several decades. Naturally, a lot of people want to know why it happened.
Limbah lumpur tersebut telah menggagalkan semua upaya untuk menanggulanginya, termasuk bendungan, tanggul, saluran drainase, dan bahkan usaha untuk memasukkan untaian bola-bola beton yang besar ke pusat semburan.
Gunung lumpur menunjukkan tidak ada tanda-tanda perlambatan, lebih kecil peluangnya untuk dihentikan, dan para peneliti memperkirakan bahwa hal tersebut dapat terus menyembur selama beberapa dekade ke depan. Karena hal tersebut, sehinga secara alami, banyak pihak atau perorangan yang ingin tahu mengapa hal tersebut terjadi.
Lusi is one of the largest examples of about 700 recognized mud volcanoes throughout the world. (Although the number varies depending on definition).
Do you name a 1 meter high mound that seeps every so often a mud volcano too?. In addition to Indonesia, they are concentrated in Azerbaijan, Turkmenistan and the South Caspian Sea, often in regions associated with petroleum deposits.
Lusi adalah salah satu contoh yang terbesar dari sekitar 700 gunung lumpur yang diketaui keberadaaannya di seluruh dunia. (Meskipun jumlahnya sangat bervariasi tergantung pada definisi yang digunakan).
Apakah anda akan memberikan nama terhadap gundukan dengan tinggi 1 meter dengan rembesan yang sangat sering juga dari suatu gunung lumpur?.
Sebagai tambahan dari apa yang ada di Indonesia, maka mud volcano lebih terkonsentrasi di Azerbaijan, Turkmenistan dan Laut Kaspia Selatan, serta sering berkembang di daerah yang berhubungan dengan terjadinya jebakan minyak bumi.
Mud volcanoes form when a large volume of water, mud, clay and gas becomes trapped underground. These liquid chambers can sit under very high pressures for millions of years until until they suddenly find a pathway to the surface.
Gunung lumpur terbentuk ketika air, lumpur, tanah liat dan gas dengan volume yang besar dari terjebak di bawah permukaan tanah. Kantong cairan bisa berada di bawah tekanan yang sangat tinggi yang berlangsung selama jutaan tahun, sampai pada suatu saat, bahwa mereka secara tiba-tiba menemukan jalannya menuju ke permukaan (These liquid chambers can sit under very high pressures for millions of years until until they suddenly find a pathway to the surface).
Fig: Homes in Sidoarjo flooded by the mud
Gamb: Permukiman yang dibanjiri oleh lumpur
Two possible triggers have been identified for the Lusi mud volcano; a magnitude 6.3 earthquake which occurred 2 days earlier on May 27th, 2006, 250 km away in Yogyakarta, and a gas exploration well located only 150 m from the eruption.
The drilling firm Lapindo Brantas has desperately refuted claims that poor drilling practices in their well lead to the eruption, while many other independent scientists try to prove them wrong.
Dua kemungkinan sebagai pemicu Lusi mud volcano; suatu gempabumi dengan kekuatan 6,3 yang terjadi dua hari sebelumnya (27 Mei 2006), di kota Yogyakarta yang berlokasi 250km jauhnya, dan sumur ekslorasi gas yang terletak hanya 150 m dari semburan. Perusahaan Lapindo Brantas yang melakukan pemboran sangat menyangkal terhadap klaim, bahwa praktek-praktek pengeboran yang tidak baik berlangsung pada sumur pemboran mereka, sehingga menyebabkan semburan; sementara banyak ilmuwan independen lain mencoba untuk membuktikan bahwa mereka bersalah.
The resulting debate has seemingly quadrupled research on mud volcanoes, while delaying the establishment of liability and compensation to thousands of people affected.
The dispute culminated just this last month (February, 2010) in two studies from the opposing sides. Nurrochmat Sawolo, senior drilling advisor to Lapindo Brantas, and his colleagues asserted their claims in the journal Marine and Petroleum Geology, blaming the Yogyakarta earthquake for the eruption.
Hasil perdebatan tersebut telah menyebabkan meningkatnya hasil penelitian tentang gunung lumpur sebanyak sekitar empat kali lipat; sementara disisi lain masih terjadi keterlambatan dalam pemberian kewajiban dan kompensasi untuk ribuan orang yang mengalami dampak.
Perbedaan pendapat ini memuncak pada bulan lalu (Februari 2010) di dalam dua penelitian dari dua pihak yang berseberangan tersebut. Nurrochmat Sawolo, penasehat senior pengeboran dari Lapindo Brantas Inc., dan rekan-rekannya di satu pihak telah menegaskan klaim mereka yang dimuat di dalam jurnal Kelautan dan geologi minyak bumi (Marine and Petroleum Geology), bahwa gempa Yogyakarta adalah sebagai penyebab semburan.
An international team of scientists from the UK, USA, Australia and Indonesia, lead by Michael Davies of the Durham Energy Institute, responded with a paper in the same journal, providing the most definitive evidence yet that the well was the source of the drilling.
Di pihak lain, Tim internasional ilmuwan dari Inggris, Amerika Serikat, Australia dan Indonesia, dipimpin oleh Michael Davies dari Institut Energi Durham, merespon pada jurnal yang sama, dengan memberikan bukti yang paling menyakinkan dari sebelumnya bahwa sumur adalah sumber dari pemboran (yang dimaksud mungkin adalah sumber erupsi)?.
The Davies team found that the Yogyakarta earthquake was too small and distant to have triggered the Lusi mud volcano; the forces felt from the earthquake 250 km away in Sidoarjo were less than those felt there normall
They also cite an on-site daily drilling report which states that Lapindo Brantas successfully pumped drilling mud back into the well immediately after the eruption to slow it. “The observation that pumping mud into the hole caused a reduction in eruption rate indicates a direct link between the wellbore and the eruption”, Davies says.
y simply by weather and the tides.
Tim Davies menemukan bahwa gempa Yogyakarta tersebut terlalu kecil dan jaraknya terlalu jauh untuk dapat memicu mud volcano Lusi; Kekuatan yang dirasakan dari gempa sejauh 250 km jauhnya dari Sidoarjo lebih kecil dari yang dirasakan orang-orang yang merasa ada biasanya berasal dari cuaca dan pasang surut (tides).
Mereka juga mengutip dari laporan harian kegiatan pengeboran yang menyatakan bahwa Lapindo Brantas berhasil memompakan lumpur pengeboran kembali ke dalam sumur sesaat setelah terjadinya semburan untuk memperlambatnya.
"Pengamatan bahwa memompa lumpur ke lubang yang telah menyebabkan penurunan dalam tingkat semburan menunjukkan adanya keterkaitan langsung antara lubang bor (wellbore) dan semburan", sebagaimana Dikatakan oleh Davies.
Such definitive evidence that the well caused the Lusi volcano is expected by many to resolve the debate, but what will legally come of the disaster remains to be determined. Either way, Lusi will surely continue to make its own muddy statement for years to come.
Bukti definitif tersebut bahwa sumur telah menyebabkan gungung Lusi (Lusi volcano) diharapkan oleh banyak pihak untuk menyelesaikan perdebatan, tapi apa aspek hukum yang datang pada bencana masih harus ditentukan. Atau jalan lainnya, Lusi secara menyakinkan akan membuat pernyataan yang berlumpur sendiri untuk tahun-tahun mendatang (Either way, Lusi will surely continue to make its own muddy statement for years to come).
Fig: The area covered by the Lusi Volcano seen from the air in May, 2009.
Gamb: Daerah tercakup dari Lusi Volcano diilihat dari udara pada Mei 2009.
Sources (sumber):
· Sawolo, N., Sutriono, E., Istadi, B.P., and Darmoyo, A.B., 2009, The LUSI mud volcano triggering controversy: was it caused by drilling?: Journal of Marine and Petroleum Geology, v. 26, p. 1766-1784.
· Mazzini, A., Svensen, H., Akhmanov, G.G., Aloisi, G., Planke, S., Malthe-Sørenssen, A., and Istadi, B.P., 2007, Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud volcano, Indonesia: Earth and Planetary Science Letters, v. 261, p. 375-388.
· http://www.eurekalert.org/pub_releases/2010-02/uoc–set021110.php
· http://www.sciencedaily.com/releases/2010/02/100211211442.htm
· http://www.nce.co.uk/mud-wrestling/5209733.article