LUSI LIBRARY:KNOWLEDGE MANAGEMENT (LLKM)
LUSI RESEARCH NETWORK (LRN)
Dikontribusikan oleh Dr. Hardi Prasetyo
Atas Kontribusi Dr Loyd Vander Kluysern, dalam kerangka LUSI RESEARH NETWORK
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/2014GC005275/abstract
Komposisi dan pancaran dari semburan gas dilepaskan oleh LUSI mud volcano,
JawaTimur, Indonesia
Composition and flux of explosive gas release
at LUSI mud volcano (East Java, Indonesia)
Loyd Vanderkluysen Michael R. Burton, Amanda B. Clarke, Hilairy E. Hartnett and Jean-Francois Smekens
POKOK-POKOK BAHASAN DAN KATA KUNCI
Abstrak
Awal semburan dan Dampak
Kecepatan Senburan (20.000-180.000M3/hari)
Karakteristik semburan akhir2 ini
Geyser Lusi:
Pengamatan siklus semburan menggunakan open-path FTIR, dan thermal infra red imagery
Komposisi Gas: uap air 98%, karbon dioksida 1,5%, dan metana 0,5%.
Mekanisme semburan: Pecahnya gelembung memicu terjadinya lumpur air mancur (mud fountains)
Periode Tenang: tidak terjadi hembusan gas dalam jumlah yang besar
Prediksi Total Volume Gas: metana 2.300, CO2 30.000 ton/tahun, uap air 800.000 ton/tahun
Kedalaman inti gelembung Gas metana dan CO2: > 4000 m dan 600 m
Mekanisme bersiklus semburan: pendidihan air yang memulai beberapa puluh meter di bawah permukaan
Keluaran Lumpur-air tertinggi 100.000 m3/hari.
Abstrak
Awal semburan dan Dampak:
LUSI mud volcano telah menyembur sejak Mei 2006 di Kabupaten Sidoarjo (Jawa Timur, Indonesia) yang berpenduduk padat.
Sehingga telah menyebabkan 40.000 warga dievakuasi, serta merusak industri, lahan pertanian, dan lebih dari 10.000 rumah.
Kecepatan Senburan:
Lumpur yang keluarkan atau diekstrusikan sebesar 180.000 m3/hari yang diukur pada beberapa bulan dari saat pertama kali terjadi semburan (2006).
Tahun 2012 kecepatan semburan mengalami penurunan signifikan, telah didokumentasikan menjadi <20.000 m3/h.
Karakteristik semburan akhir2 ini
Beberapa tahun terakhir kegiatan semburan telah ditandai dengan semburan berperiodik berumur pendek (periodic short-lived eruptive bursts). Selanjutnya lebih dikenal sebagai semburan Geyser Lusi.
Pengamatan siklus semburan menggunakan open-path FTIR, and thermal infra red imagery
Pada bulan-bulan Mei dan Oktober 2011, telah didokumentasikan kegiatan di lapangan Lusi dengan menggunakan fotografi resolusi tinggi time-lapse, open path, dan citra inframerah termal.
Komposisi Gas
Gas terdiri dari uap air 98%, karbon dioksida 1,5%, dan metana 0,5%.
Mekanisme semburan
Secara berkala dengan pecahnya gelembung berukuran diameter sekitar 3 m yang memicu terjadinya lumpur mancur (mud fountains) di atas lubang semburan ~ 10 m dimana dirilis gas plume hingga ratusan meter.
Periode Tenang
Selama periode tenangan (sekitar 1-3 menit), tidak terjadi hembusan gas dalam jumlah yang besar.
Jadi saat Geyser Lusi pada posisi istirahat atau berhenti, tidak menunjukkan adanya emisi gas.
Prediksi Total Volume Gas dihasilkan per tahun
Diperkirakan bahwa LUSI melepaskan gas metana sekitar 2.300 ton/tahun, CO2 30.000 ton/tahun, dan uap air 800.000 ton/tahun.
Kedalaman dari inti gelembung Gas metana dan CO2
Kedalaman dari sumber inti gelembung Gas untuk metana > 4000 m dan untuk karbon dioksida sekitar 600 m.
Namun, fraksi masa gas-gas ini tidak cukup untuk menjelaskan dinamika diamati.
Mekanisme bersiklus semburan
Pendorong utama kegiatan yang memecahkan gelembung bersiklus adalah pendidihan air decompresional (cyclic bubble-bursting activity is decompressional boiling of water).
Yang memulai beberapa puluh meter di bawah permukaan, menyiapkan aliran slug di saluran atas (setting up slug flow in the upper conduit).
Perkiraan Keluaran masa gas-air
Pengukuran terhadap fluks gas dan model konseptual cenderung dapat estimasi untuk fluks masa lumpur-air tertinggi sebesar 100.000 m3/hari.
Abstract
The LUSI mud volcano has been erupting since May 2006 in the densely populated Sidoarjo regency (East Java, Indonesia), forcing the evacuation of 40,000 people and destroying industry, farmland, and over 10,000 homes.
Mud extrusion rates of 180,000 m were measured in the first few months of the eruption, decreasing to a loosely documented<20,000 m in 2012.
The last few years of activity have been characterized by periodic short-lived eruptive bursts.
In May and October 2011, we documented this activity using high-resolution time-lapse photography, open-path FTIR, and thermal infrared imagery.
Gases (98% water vapor, 1.5% carbon dioxide, 0.5% methane) were periodically released by the bursting of bubbles approximately 3 m in diameter which triggered mud fountains to 10 m and gas plumes to hundreds of meters above the vent.
During periods of quiescence (1–3 min), no appreciable gas seepage occurred.
We estimate that LUSI releases approximately 2300 t yr of methane, 30,000 t yr of CO2, and 800,000 t yr water vapor.
Gas bubble nucleation depths are>4000 m for methane and approximately 600 m for carbon dioxide; however, the mass fractions of these gases are insufficient to explain the observed dynamics.
Rather, the primary driver of the cyclic bubble-bursting activity is decompressional boiling of water, which initiates a few tens of meters below the surface, setting up slug flow in the upper conduit.
Our measured gas flux and conceptual model lead to a corresponding upper-bound estimate for the mud-water mass flux of 10 5m3/d.
Kesimpulan
Perilaku semburan Lusi didominasi oleh pecahnya gelembung memicu lumpur mancur diselingi masa diam:
Komposisi gas telah dilepaskan selama semburan terdiri dari 98 % uap air, 1,5% karbon dioksida, dan 0,5 % mol metana:
Total Gas yang dilepaskan pertahun: 2.300 CH4, 30.000 CO2, dan 800.000 H20 Ton/tahun:
Model batas atas aliran slug lumpur-air 100.000m3/h:
Model berlaku adalah pendidihan decompressional air berawal puluhan meter di bawah permukaan:
Sistem perubahan fluk gas dasar mententukan fluk fluida maksimum:
Perilaku semburan Lusi didominasi oleh pecahnya gelembung 3m, memicu lumpur mancur ~tinggi 10m diselingi masa diam (1-3menit):
Komposisi gas telah dilepaskan selama semburan terdiri dari 98 % uap air, 1,5% karbon dioksida, dan 0,5 % mol metana:
Total Gas Yang dilepaskan pertahun: 2.300 CH4, 30.000 CO2, dan 800.000 H20 Ton/tahun:
Model batas atas aliran slug lumpur-air 100.000m3/h:
Mekanisme pengendali pemecahan gelembung bersiklus adalah pendidihan air decompressional berawal puluhan meter di bawah permukaan:
Sistem flug gas untuk membatasi fluk cairan maksimum:
Perilaku semburan Lusi didominasi oleh pecahnya gelembung memicu lumpur mancur diselingi masa diam:
Kegiatan gunung lumpur LUSI telah diamati pada tahun 2011, dimana secara periodik telah didominasi oleh fenomena pecahnya gelembung dengan diameter sekitar 3 m (periodic bursting of bubbles).
Sehingga telah memicu air mancur lumpur (trigger mud fountains) dengan tinggi 10 m, dan memiliki panjang periode diam reguler (regular quiescent periods) sekitar 1-3 menit.
Komposisi gas telah dilepaskan selama semburan terdiri dari 98 % uap air, 1,5% karbon dioksida, dan 0,5 % mol metana:
Spektrometri serapan inframerah (Infrared absorption spectrometry) mengungkapkan bahwa gas telah dilepaskan selama semburan terdiri dari 98 % mol uap air, 1,5% mol karbon dioksida, dan 0,5 % mol metana.
Disamping itu tidak ada fluks gas yang terjadi selama interval diam.
Total Gas Yang dilepaskan pertahun: 2.300 CH4, 30.000 CO2, dan 800.000 H20 Ton/tahu
LUSI melepaskan sekitar 2.300 ton/tahun metana, 30.000 ton/tahun CO2, dan 800.000 ton/tahun uap air.
Model batas atas aliran slug lumpur-air 100.000m3/h:
Aliran dapat digambarkan sebagai suatu aliran slug (slug flow) dan pengukuran terhadap gas-fluks menempatkan batas atas fluks lumpur-air pada tingkat 100.000 m3/h.
Model berlaku adalah pendidihan decompressional air berawal puluhan meter di bawah permukaan.
Meskipun gelembung karbon dioksida dan metana berada pada sistem dalam (ratusan hingga ribuan meter).
Namun mekanisme pengendali utama untuk aktivitas pemecahan gelembung bersiklus yang diamati (the primary driving mechanism for the observed cyclic bubble-bursting activity).
Adalah pendidihan decompressional air dalam sistem (is decompressional boiling of the water in the system), yang berawal pada puluhan meter di bawah permukaan.
Sistem flug gas
Mengingat rezim peta dari sistem yang disajikan di sini, adanya perubahan dari fluks gas (changes in gas flux) ketika masih menunjukkan kondisi aliran slug.
Sehingga dapat digunakan untuk membatasi fluks cairan maksimum (can be used to constrain maximum liquid flux).
Selain itu, perubahan yang signifikan dalam fluks gas itu saja bisa mengganggu rezim aliran slug (a significant change in gas flux alone could disrupt the slug flow regime).
Conclusion
The activity at LUSI mud volcano observed in 2011 was dominated by the periodic bursting of bubbles approximately 3 m in diameter which trigger mud fountains 10 m in height, and have regular quiescent periods of 1–3 min long.
Infrared absorption spectrometry reveals that the gas released during explosions consists of 98 mol % water vapor, 1.5 mol % carbon dioxide, and 0.5 mol % methane, and that there is nodetectable gas flux during quiescent intervals.
LUSI releases approximately 2300 t yr of methane, 30,000 t yr of CO2, and 800,000 t yr of water vapor. The flow can be described as slug flow and our gas-flux
measurements place an upper-bound on orresponding mud-water flux at 10 5 m3d.
Although carbon dioxide and methane bubbles ucleate deep in the system (hundreds to thousands of meters deep), the primary driving mechanism for the observed cyclic bubble-bursting activity is decompressional boiling of the water in the system, which initiates tens of meters below the surface.
Given the regime map of the system presented here, changes in gas flux while still exhibiting slug flow can be used to constrain maximum liquid flux. Furthermore, a significant change in gas flux alone could disrupt the slug flow regime.
Pendahuluan
Pemahaman umum muud volcano
Mud Volcano umum di dunia, mud volcanism, kaitan cekungan hidrokarbon pada kedudukan kompresif
Gunung Lumpur sebagai Struktur Pembubungan (piercement structure) berakar pada sedimen dalam pada kondisi overpressure
Kompleksitas sumber cairan dari suatu mud volcano dari beberapa alternatif dari permukaan sampai kerak
Kontributor mud volcano terhadap pelepasan fluida yang signifikan pada hidrosfer dan atmosfer
Fenomena semburan berulang terdapat di barbagai lokasi namun masih jadi subyek penelitian
Umumnya atau Biasanya semburan bersiklus dari mud volcano terjadi beberapa hari lanjut dormant
LUSI Mud Volcano
Pemahaman istilah LUSI
Lusi merupakan salah satu dari sekumpulan gunung lumpur aktif dan gunung lumpur purba di Jawa dan Madura
Awal Semburan, tidak ada aktivitas volkanik lumpur, yang terdekat berjarak 25 km
Beberapa aspek keunikan Lusi mud volcano dari Ribuan lainnya di dunia
Puncak kecepatan semburan 180.000m3/h merupakan terbesar dari seluruh mud volcano di dunia
Dampak Lusi yang luar biasa pada sendi kehidupan warga dan infrastruktur
Daerah terdampak Lusi dibatasi tanggul tinggi 12m, Luas 6,2km2 merupakan terbesar mud volcano yang dikenal di bumi ini
Pandangan baru bahwa Lusi bukan merupakan mud volcano yang umum, sedimen sebagai tuan rumah dari sistem hidrotermal
Evolusi semburan menjadi perilaku Geyser Lusi
Mei-Agustus 2006: semburan rendah < 40.000/hari
September-Desember 2006: 120.000-180.000 m3/hari.
Identifikasi awal perilaku Geyser-Lusi: 2006-2007 dengan periode sekitar 30 menit -1,5 jam sebagai indikasi semburan quasi-hydrothermal
Juni2007-Oktober 2011: 110.000 m3/hari menjadi <20.000 m3/hari hingga Oktober 2011
2012 Indikasi perubahan gas yang dipancarkan dari sejak awal semburan
Pada sebelum semburan kandungan hidrogen sulfida (H2S) 500 turun menjadi 35ppm pada awal semburan
Pada tahun 2007 H2S menurun drastis 0,5 ppm
Dominasi dari gas karbon dioksida spesies karbon volatil
Meningkat rasio volume CO2/CH4 dari 2-4 (2006-2007) menjadi 7-11 tahun 2010
Dominasi CO2 di Kawah Utama, dan bubble gas metan
Tujuan Penelitian,
menentukan komposisi dan fluks gas harian yang dipancarkan oleh gunung lumpur LUSI dan
mengembangkan model konseptual dari mekanisme yang mengendalikan semburan periodik.
Metoda
spektrometer inframerah (open-path FTIR)
Konstrain karena itu sangat penting untuk menghubungkan pengukuran di permukaan dengan dinamika bawah permukaan (is critical to linking surface measurements to subsurface dynamic).
Pendahuluan
Umum Mud Volcano
Volkanisme Lumpur merupakan fenomena di seluruh dunia (Mud volcanism is a worldwide phenomenon).
Yang biasanya kejadiannya berhubungan dengan cekungan-cekungan yang mengandung hidrokarbon, pada kedudukan tektonik kompresi (hydrocarbon-bearing basins in compressional tectonic settings).
Gunung Lumpur sebagai Struktur Pembubungan (piercement structure) dan pada kondisi overpressur
Gunung lumpur secara klasik dipahami sebagai ekspresi permukaan (Mud volcanoes are classically understood as the surface expression).
Dari struktur pembubungan (piercement structures), yang berakar pada sedimen dengan kedududukan yang dalam.
Yang berada pada kondisi bertekanan lebih (rooted in deep-seated overpressured sediments)
[misalnya, Bishop, 1978; Brown, 1990; Kopf, 2002].
Kompleksitas sumber cairan dari suatu mud volcano
Pada skala global, kisaran dalam komposisi kimia dan isotop diukur dalam cairan yang dirilis dari gunung lumpur (the range in chemical and isotopic compositions measured in fluids released at mud volcanoes).
Hal ini dapat mencerminkan berbagai kompleksitas dari sumber cairannya (reflects the complex variety of their fluid sources).
Sumber cairan ini sering melibatkan kombinasi antara beberapa alternatif sumber, yaitu:
· air permukaan dan air laut,
· cairan sedimen pori,
· gas termogenik dan biogenik,
· hidrotermal dan masukan vulkanik, dan
· selubung dengan kedudukan dalam atau volatil kerak
(a combination of surface waters and seawater, sediment pore fluids, thermogenic and biogenic gases, hydrothermal and volcanic inputs, and deep-seated mantle or crustal volatiles).
[misalnya, Dimitrov, 2002; Kopf dan Deyhle, 2002; Kopf et al, 2003.; Anda et al, 2004.; Mazzini et al, 2007, 2012.; Lichtschlag et al., 2010].
Kontributor mud volcano terhadap pelepasan fluida yang signifikan pada hidrosfer dan atmosfer
Pada konteks yang lebih luas, pelepasan cairan dari volkanisme lumpur diperkirakan menjadi kontributor yang signifikan (the release of fluids from mud volcanism is estimated to be a significant contributor):
· baik untuk fluks cairan dari litosfer ke hidrosfer (to fluid flux from the lithosphere to the hydrosphere), dan
· kandungan dari atmosfer beberapa gas rumah kaca, terutama metana (to the atmospheric budget of some greenhouse gases, particularly methane)
[misalnya, Henry et al., 1996; Kopf dan Behrmann, 2000; M € Orner dan Etiope, 2002; Etiope et al, 2002.; Kopf, 2003; Etiope, 2005].
Fenomena semburan berulang masih jadi subyek penelitian
Pelepasan cairan di gunung lumpur selama episode semburan berulang telah didokumentasikan di berbagai lokasi.
[misalnya, Higgins dan Saunders, 1974; Guliev, 1992; Chigira dan Tanaka, 1997; Hovland et al, 1997.; Mellors et al, 2007.; Deville dan Guerlais, 2009; Manga et al, 2009.; Mazzini et al, 2009.; Deville et al, 2010].
Meskipun asal mula dari semburan bersiklus masih menjadi bahan dari penelitian yang dilakukan (the origin of the explosive cyclicity is a matter of ongoing study )
[misalnya, Murton dan Biggs, 2003.; Zoporowski dan Miller, 2009].
Biasanya, semburan gunung lumpur berlangsung beberapa hari sebelum kembali ke fase dormansi (mud volcano eruptions last several days before returning to a phase of dormancy)
[misalnya, Shnyukov et al, 1986.; Aliyev et al, 2002.; Deville dan Guerlais 2009].
LUSI Mud Volcano
Umum Pemahaman istilah LUSI
Nama gunung lumpur LUSI (LUSI mud volcano) berasal dari kependekan lumpur-Sidoarjo, dalam bahasa Indonesia, yang berarti ''lumpur Sidoarjo”,' yaitu, nama Kabupaten di mana gunung lumpur berkembang (Gambar 1).
Lusi merupakan salah satu dari sekumpulan gunung lumpur aktif dan gunung lumpur purba di Jawa dan Madura
Lusi adalah bagian dari sekumpulan gunung lumpur baik yang aktif dan gunung lumpur purba ((Lusi is part of a cluster of active and ancient mud volcanoes).
Yang tersebar di Jawa Timur dan di Pulau Madura (scattered over eastern Java as well as on the island of Madura) (Gambar 1).
Awal Semburan
Semburan lumpur di LUSI dimulai pagi hari 29 Mei 2006, pada lokasi di mana tidak ada sejarah aktivitas vulkanik lumpur yang sebelumnya telah didokumentasikan.
Meskipun gunung lumpur lainnya telah didokumentasikan di dekat lokasi, semburan lumpur yang saat ini sedang berlangsung berada pada jarak 25 km dari LUSI.
Keunikan Lusi mud volcano dari Ribuan lainnya di dunia
LUSI dalam berbagai aspek adalah unik (LUSI is unique in multiple aspects).
· Puncak kecepatan semburan 180.000m3/h merupakan terbesar di dunia
Puncak dari kecepatan semburannya mencapai 180.000 M3/hari, diukur pada bulan September 2006 (peak flow rates of 180,000 m3/d, measured in September 2006).
Angka 180K m3/hari ini merupakan yang tertinggi yang pernah tercatat dari suatu gunung lumpur dimanapun (are the highest ever recorded at a mud volcano).
[misalnya, Mazzini et al, 2007; . Davies et al, 2007, 2011];
· Dampak Lusi yang luar biasa pada sendi kehidupan warga dan infrastruktur
Pada tahun 2011, diperkirakan 40.000 orang telah direlokasi sebagai akibat luapan lumpur yang menggenangi daerah yang dihuni, dan sekitar $ 300 juta USD (2,7 triliun rupiah Indonesia) telah dibayar sebagai kompensasi atas hilangnya tanah, bangunan, dan infrastruktur [Richards 2011];
· Daerah terdampak Lusi dibatasi tanggul tinggi 12m, Luas 6,2km2 merupakan terbesar di seluruh dunia
Daerah yang terkena dampak aliran lumpur, sebagian besar dibatasi oleh sistem tanggul buatan.
Yang mencapai tinggi 12 m di sisi barat, luas 6,2 km2 (per Februari 2012; Gambar 2).
Hal ini membuat LUSI menjadi salah satu yang terbesar dari mud volcano yang dikenal di Bumi ini (making LUSI one of the largest known mud volcanoes on Earth).
· Pandangan baru bahwa Lusi bukan merupakan mud volcano yang umum
Mazzini et al. [2012] mendalilkan bahwa fitur yang unik ini sebagai hasil dari fakta bahwa LUSI bukan merupakan suatu gunung lumpur yang umum (the fact that LUSI is not a mud volcanosensu stricto).
Melainkan LUSI merupakan suatu sedimen yang menjadi tuan rumah dari sistem hidrotermal (LUSI instead represents a sediment-hosted hydrothermal system).
Evolusi semburan menjadi perilaku Geyser Lusi
Mei-Agustus 2006:
Mazzini et al. [2007] menunjukkan bahwa fluks masa yang relatif rendah (<40.000 m3/hari) terjadi pada awal semburan, dari 29 Mei - 1 Agustus 2006 .
September-Desember 2006:
Selanjutnya diikuti oleh “perilaku seperti geyser yang kuat'' pada semester kedua tahun 2006 dan tingkat aliran mencapai puncak 120.000-180.000 m3/hari.
Identifikasi awal perilaku Geyser-Lusi
Para pakar ini juga melaporkan perilaku bersiklus pada bulan Agustus dan September 2006, dengan periode sekitar 30 menit.
Selanjutnya terjadi lagi lagi pada bulan Februari 2007, dengan jangka waktu 1,5 jam.
Hal ini ditafsirkan sebagai indikasi perilaku sistem semburan quasi-hydrothermal ‘‘(a quasi-hydrothermal behavior of the eruptive system.’’).
Juni-Oktober 2011
Pada Juni 2007, laju aliran volume yang masih sekitar 110.000 m3/hari;
Selanjutnya secara umum telah menurun menjadi <20.000 m3/hari hingga Oktober 2011
[Mazzini et al, 2007, 2012.; saat dilaksanakan Penelitian ini].
Indikasi perubahan gas yang dipancarkan
Percontohan langsung oleh Mazzini et al. [2007, 2012] terhadap gas yang dipancarkan LUSI
Mengungkapkan bahwa komposisi volatil dilepaskan dari kawah utama mungkin telah berubah sedikit dibandingkan yang dikeluarkan sejak awal kejadian.
Pada awal semburan tingginya kandungan hidrogen sulfida (H2S) 500 menjadi 35ppm
Pada awal semburan, dicirikan oleh konsentrasi yang sangat tinggi dari hidrogen sulfida (H2S).
Dimana diukur sampai 500 ppm/hari, khususnya saat sebelum terjadinya semburan di rig pengeboran didekatnya (yang memaksa evakuasi sementara),
Menjadi 35 ppm pada hari inisiasi letusan [Mazzini et al, 2007.; Sawolo et al., 2009].
Pada tahun 2007: H2S menurun drastis 0,5 ppm
Konsentrasi H2S telah menurun drastis di bawah tingkat minimal deteksi (0,5 ppm).
Dominasi dari gas Karbon dioksida spesies karbon volatil
Gas didominasi CO2, adalah spesies karbon volatil.
Lainnya dengan jumlah yang lebih kecil dari gas-gas metana, CH4, dan lebih tinggi hidrokarbon LUSI.
Meningkat rasio volume CO2/CH4 dari 2-4 (2006-2007) menjadi 7-11 tahun 2010
Dilaporkan untuk tahun 2006 dan 2007 Rasio volume CO2/CH4 adalah 2-4.
Selanjutnya rasio meningkat menjadi 7-11 pada tahun 2008 dan 2010 [Mazzini et al., 2007, 2012].
Gas dari bubble didominasi metana
Sementara itu publikasi yang sama melaporkan bahwa, dari 2006-2011, gas yang merembes dari bualan (bubble) LUSI ini didominasi metana [Mazzini et al., 2007, 2012].
Dominasi CO2 di Kawah Utama, dan bubble gas metan:
Dengan demikian, dari beberapa pekerjaan lapangan [Mazzini et al., 2007, 2012] menunjukkan bahwa:
Pada kawah utama secara umum didominasi karbon dioksida, sedangkan semburan atau bubble sekunder didominasi gas metana.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah dua hal:
(1) Menentukan, pada resolusi temporal yang tinggi, komposisi dan fluks gas harian yang dipancarkan oleh gunung lumpur LUSI (Jawa Timur, Indonesia, Gambar 1).
Baik selama dan antara semburan-semburan yang periodik; dan
(2) Menggunakan pengukuran ini dari pelepasan gas pada permukaan untuk memperoleh model konseptual dari mekanisme yang mengendalikan semburan periodik.
Berdasarkan sifat termodinamika spesies cairan diukur dan perilaku yang dikenal sistem multiphase jenis ini.
Metoda
Untuk tujuan tersebut, 15-18 Oktober 2011 telah digunakan spektrometer inframerah (open-path FTIR) di LUSI, dalam modus jalan terbuka menggunakan sumber inframerah portabel
Meskipun konsentrasi spesies gas dapat sering ditentukan dengan lebih akurat dari percontohan langsung, namun jalan terbuka FTIR memiliki tiga keunggulan utama lebih dari metode lain:
(1) Dengan ukuran setiap beberapa detik, ia memiliki resolusi temporal yang sangat tinggi;
(2) Dari panjang jalan puluhan meter, dapat mengukur transek, memberikan pengukuran yang lebih representatif. Pada individu-titik sampel yang diambil dari media berpotensi heterogen; dan
(3) Pengukuran dilakukan dari jarak jauh, memberikan peningkatan faktor keselamatan (measurements are done remotely, providing increased safety).
Sementara pemantauan yang aktif atau langsung (while monitoring an active natural hazard) dapat menimbulkan bahaya.
Resolusi temporal yang tinggi sangat penting untuk menangkap rincian aktivitas bersiklus.
Mengingat skala waktu karakteristik pada urutan menit dan variasi cepat dalam peristiwa semburanindividu.
Oleh karena itu sangat penting untuk menghubungkan pengukuran di permukaan dengan dinamika bawah permukaan (is critical to linking surface measurements to subsurface dynamic).