LUMPUR SIRING 2007: Menuju Peta Jalan Penanggulangan Semburan dan Luapan yang Holistik
Dikontribusikan Oleh: Prof. Dr. Ir. Hardi Prasetyo
Wakil Kepala Badan Pelaksana (Bapel),
Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS)
Seminar Nasional Lumpur Sidoarjo
Diselenggarakan oleh ITS, Desember 2007
DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF
· Kegiatan eksplorasi sumber daya alam antara harapan dan realita
· Fenomena Lusi tumbuh dengan cepat
· Misi Nasional Bapel BPLS
· Lusi sebagai suatu bencana yang unik
· Lusi dalam khazanah ilmu kebumian sebagai mud volcano
· Empat alternatif pembentukan Lusi
· Kondisi Lusi saat ini dari Citra Satelit Resolusi Tinggi
· Perilaku semburan lumpur dan dampak ikutannya
· Tantangan dan Kendala
· Komitmen Bapel BPLS
PENDAHULUAN
· Latar Belakang
· Lusi sebagai Fenomena alam atau geologi dan implikasinya
· Pakar kebumian mancanegara menentukan Lusi sebagai gunung lumpur yang dahsyat
· Pembandingan Kebencanaan Lusi dengan Bencana Nasional NAD dan Yogyakarta
· Potensi kecelakaan pada kegiatan eksplorasi migas dan antisipasinya
· Awal Terjadinya Semburan
· Semburan lumpur terjadi bukan di sumur BPJ-1 tapi didekatnya
· Gempabumi Yogyakarta 26 Mei 2006 diperdebatkan memicu semburan Lusi
· Lumpur Siring sebagai salah satu gunung lumpur yang paling dahsyat dan unik
· Hambatan, Tantangan dan Kendala Menghadapi Fenomena Alam
· Tantangan dan Kendala
· Geohazard sebagai dampak berganda dari semburan lumpur
· Lingkup Makalah
· Metodologi dan teknologi
· Inovasi Pemanfaatan Citra Satelit berdedikasi untuk publik
· Komitmen Pemerintah untuk Meningkatkan Penanggulangan Lusi
· Apa yang terjadi bila Lusi tidak dilakukan upaya apapun?
· Pembentukan BPLS dan empat misi yang diamanahkan
· Kiprah dan tantangan Bapel BPLS mengemban Misi Nasional Kebencanaan
· Kendala dan Tantangan
KONDISI SAAT INI DAN PERMASALAHAN
· Kedudukan Geologi dan Tektonik Regional
· Lusi sebagai gunung lumpur dan kontroversi kejadiannya
· Anatomi dan Sistem Pengendalian Semburan dan Luapan
· Perilaku Lusi dan Dampak Ikutannya
· Monev Perkembangan Lusi dari Citra Satelit IKONOS-CRISPS
· Pengaliran lumpur panas ke utara Pond PerumTAS dan implikasinya
· Pengaliran Lusi ke Selatan
· Pengaliran Lusi Ke laut melalui K. Porong: Antara harapan dan tantangan
· Hasil Normalisasi Sampai Pertengahan Desember 2007
UPAYA PENANGGULANGAN SEMBURAN DAN PENANGANAN LUAPAN
· Posisi terhadap upaya penanggulangan semburan lumpur
· Strategi dan Skala Prioritas Penanggulangan
· Peta Perjalanan Lumpur Siring
· Kriteria Basic Design Penanganan Luapan Lumpur
· Enam prinsip penanganan Luapan Lumpur
KOMITMEN DAN HARAPAN
· Tidak Menjanjikan Kapan Semburan Akan Berhenti
· Komitmen Bekerja Keras dan Mengerahkan Sepenuhnya (All Out)
·Membangun Kebersamaan dalam menghadapi Musibah/Bencana
· Peluang Lusi sebagai topik Tugas Akhir sampai Disertasi
LUMPUR SIRING 2007: Menuju Peta Jalan Penanggulangan Semburan dan Luapan yang Holistik
Dikontribusikan Oleh: Prof. Dr. Ir. Hardi Prasetyo
Wakil Kepala Badan Pelaksana (Bapel),
Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS)
Seminar Nasional Lumpur Sidoarjo
RINGKASAN EKSEKUTIF
Kegiatan eksplorasi sumber daya alam antara harapan dan realita
Tidak ada seorangpun yang membayangkan sebelumnya, bahwa suatu kegiatan eksplorasi sumber daya tidak terbarukan (nonrenewable resources exploration activities), guna meningkatkan cadangan dan produksi minyak dan gas bumi (oil and gas reserve and production) di Indonesia pada umumnya.
Yang diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah (added values) bagi masyarakat disekitarnya, pada akhirnya telah berubah menjadi suatu MUSIBAH atau BENCANA.
Namun MUSIBAH tersebut belum dapat dipastikan, apakah disebabkan langsung oleh kegiatan eksplorasi Migas, atau merupakan suatu fenomena alam, misalnya dipicu oleh gempabumi.
Fenomena Lusi tumbuh dengan cepat
Fenomena alam atau geologi (natural or geological phenomena) Lumpur Siring di Kabupeten Sidoarjo (Lusi), sejak awal terjadinya 29 Mei 2006 hingga mendekati durasi selama sekitar 19 bulan, terus tumbuh dan berkembang dengan pesat (fast development).
Yang pada akhirnya telah menyebabkan kerugian terhadap korban jiwa (17 pahlawan Lusi) serta memberikan implikasi yang luas terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Misi Nasional Bapel BPLS
Badan Pelaksana (Bapel), Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No. 14 tahun 2007 tentang BPLS, mengemban empat misi nasional (national mission) yaitu:
1) penanggulangan semburan lumpur,
2) pengendalian luapan lumpur,
3) penanganan dampak sosial kemasyarakatan, dan
4) pembangunan, pemeliharaan, dan pengamanan infrastruktur.
Lusi sebagai suatu bencana yang unik
Ditinjau dari kebencanaan maka Lusi merupakan salah fenomena alam yang unik.
Karena pengendali mekanismenya dari bencana itu sendiri yaitu semburan lumpur panas (hot mud eruption) masih terus berlangsung relatif tanpa jeda.
Sementara itu upaya penanganan dampak, terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat (sosial, ekonomi dan kemasyarakatan) harus dilaksanakan secara simultan.
Lusi dalam khazanah ilmu kebumian sebagai mud volcano
Dalam khazanah ilmu kebumian (Earth sciences) pada khususnya, maupun wacana yang berkembang di masyarakat umum (general public), fenomena alam dan perilaku semburan Lusi telah diterima secara universal (universal accepted) sebagai suatu gunung lumpur (mud volcano).
Namun sampai saat ini asal usul (origin) serta pengendali mekanisme pembentukan dan perkembangannya (driving force mechanism formation and development) masih menjadi bahan perdebatan sengit.
Bahkan menjurus pada kontroversi, sehingga belum ada satupun kesimpulan akhir(final conclusion) yang bulat dan utuh.
Empat alternatif pembentukan Lusi
Berkaitan dengan pembentukan Lusi, maka dari berbagai pendapat dan pandangan yang berkembang, sekurang-kurangnya dapat disaring empat alternatif, yaitu:
(1) terkait dengan pembentukan sumber daya tidak terbarukan minyak dan gas bumi (nonrenewable oil and natural gas resources);
(2) adanya tekanan berlebih (overpressure) sebagai implikasi dari kerangka tektonik yang kompresif;
(3) ada kaitan dengan terjadinya gempa bumi (Earth quake);
(4) dipengaruhi oleh fenomena panas bumi(geothermal), merupakan hasil dari tektonik lempeng (plate tectonic) yang diantaranya membentuk kantong magma (magma chamber).
Kondisi Lusi saat ini dari Citra Satelit Resolusi Tinggi
Citra satelit resolusi tinggi bulanan (Monthly high resolution satellite image) 5 m IKONOS-CRISP yang terbaru dengan pengambilan 22 November 2007.
Yang telah digunakan Bapel BPLS sebagai alat bantu Monev secara sistematik dan berkelanjutan, memperlihatkan bahwa semburan lumpur yang dilokalisir di tanggul cincin (big hole) masih terus berlangsung dengan intensitas tinggi (highly intense).
Dengan aliran lumpur terkini terutama pada Kolam Utama (Selatan), Kolam Utara (PerumTAS), dan juga K. Porong di selatan Spill way.
Citra satelit juga memperlihatkan adanya pengaliran lumpur yang berlangsung secara berlanjut dan dominan ke utara dari pusat semburan.
Sebagai implikasi dari pengaliran lumpur ke utara telah menyebabkan tanggul-tanggul di lingkar dalam sisi barat mendapatkan tekanan berlebih.
Sehingga saat ini terpaksa dikondisikan untuk ’pasrah dilimpasi Lusi’ dan perannya dialihkan pada Tanggul Permanen di sisi luar.
Perilaku semburan lumpur dan dampak ikutannya
Pengamatan di lapangan terhadap perilaku semburan dan dampak ikutannya, selanjutnya dapat dianalogikan sebagai suatu perkembangan gunung lumpur yang ideal (ideal mud volcano development).
Namun morfologi atau geometri bentang alam dikontrol oleh tanggul dan kolam buatan manusia. Beberapa indikator dari perilaku Lusi yaitu:
1) telah memperlihatkan kecenderungan perilaku semburan tipe geyser (geyser-like eruption) yaitu dicirikan sekurang-kurangnya 5 kali perulangan interval semburan berhenti (recurrent interval stop eruption),
2) semburan besar dan kecil silih berganti,
3) penurunan tanah umum (land subsidence) sampai pada penurunan seperti runtuh (sag-like subsidence) dengan kecepatan (rate subsidence) yang ekstrim sekitar 1,5m per minggu (awal Desember 2007),
4) terbentuknya bubble baru, sehingga total mencapai 74, 41 diantarany bubble aktif dan
5) data teknologi GPR (ground penetration radar) memperlihatkan aktivitas rekahan (crack), sesar(fault), perlipatan (fold) di permukaan dan dekat permukaan.
Tantangan dan Kendala
Tantangan dan kendala antara lain:
1) Semburan lumpur panas masih terus terjadi dengan debit yang tinggi (high rate eruption) dan terdapat skenario terburuk akan berdurasi lama (long way duration),
2) kolam-kolam penampungan utama telah semakin penuh (batas permukaan lumpur sangat peres),
3) Tanggul-tanggul telah mendekati ketinggian yang kritis (elevasi +11 menuju +14),
4) Pengaliran dari pusat semburan ke K Porong semakin mempunyai rasio kesulitan (higly ratio handicap) yang tinggi baik dikontrol oleh mekanisasi maupun secara alami mengandalkan perbedaan topograpi (topographic gradient); dan
5) Untuk mengamankan tanggul cincin pada skenario semburan tinggi maka pengaliran lumpur dilakukan ke utara, selanjutnya telah memberikan implikasi yang cukup serius.
Peta jalan penanggulangan semburan dan penanganan luapan Lusi yang terpadu dan holistik
Peta jalan penanggulangan semburan dan penanganan luapan Lusi yang terpadu dan holistik (Lusi Road Map), yaitu:
1) Prioritas utama upaya penanggulangan Lusi adalah menyelamatkan masyarakat dari potensi luapan baru dari peta area terdampak (22 Maret 2007);
2) Semburan lumpur di dikendalikan dan diharapkan dapat dikurangi kecepatannya melalui pembangunan dan perkuatan tanggul cincin dengan konstruksi fleksibel denga sasaran ketinggian +21m (saat ini +17), untuk mendapatkan efek ‘counter hydrostatic pressure impact’;
3) Lumpur akan dialirkan ke laut (Selat Madura) melalui Kali Porong sebagai media antara sekaligus menggunakan potensi energi yang dimililiki sendiri oleh K. Porong pada musim penghujan;
4) Pengaliran dan pengurasan Lusi dari dalam Pond Utama dilakukan pada musim penghujan, sedangkan pada musim panas terutama akan disimpan dalam kolam penampungan;
5) Normalisasi K. Porong yaitu pada musim penghujan dengan pengerahan kapal keruk dari hulu sampai ke muara dan Selat Madura;
6) Bila luapan lumpur telah dapat dikendalikan secara aman, nyaman dan berkelanjutan tahap selanjutnya berbagai upaya penanggulangan yang bertujuan untuk menghentikan total semburan (total stop eruption) atau mengurangi debit semburan dengan memilih metoda atau penerapan teknologi yang paling memadai (realible).
7) Bersamaan dengan pengendalian luapan lumpur dan upaya penanggulangan semburan dilakukan penanganan masalah sosial kemasyarakatan, antara lain mempercepat proses jual beli lahan masyarakat (cash and carry) serta merelokasi infrastruktur umum (jalan nasional, jalan tol, rel kereta api, pipa PDAM, Jaringan listrik, dll).
Komitmen Bapel BPLS
Bapel BPLS tidak dalam posisi untuk menjanjikan kapan semburan Lusi yang sudah menjadi fenomena alam yang dahsyat dan komplek ini dapat segera atau akan berhenti.
Namun Bapel BPLS berkomitmen untuk bekerja keras dan all out, disertai dengan permohonan doa restu dari Tuhan YME, serta mengajak kepada semua pihak terkait untuk bahu-membahu guna menganggulanginya secara terpadu dan holistik, agar Musibah dan Bencana ini dapat segera diatasi.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lusi sebagai Fenomena alam atau geologi dan implikasinya
Fenomena alam atau geologi (natural or geological phenomena) Lumpur Siring di Kabupeten Sidoarjo (Lusi), sejak awal terjadinya tanggal 29 Mei 2006 hingga mendekati durasi selama 19 bulan, terus tumbuh dan berkembang dengan pesat (fast development).
Sehingga fenoma alam ini telah memberikan implikasi yang luas terhadap sendi-sendi kehidupuan masyarakat, termasuk terjadinya 17 korban jiwa (menjadi pahlawan Lusi).
Pakar kebumian mancanegara menentukan Lusi sebagai gunung lumpur yang dahsyat
Berdasarkan kecepatan, durasi, dan luas genangannya, pakar kebumian (Earth Sciences) dari manca negara dan publik terkait telah menetapkan Lusi sebagai suatu gunung lumpur yang dahsyat(spectacular mud volcano).
Pembandingan Kebencanaan Lusi dengan Bencana Nasional NAD dan Yogyakarta
Umumnya dalam suatu bencana nasional, seperti contoh yang berskala internasional seperti gempa bumi dan tsunami di NAD (Desember 2005) dan Yogyakarta (27 Mei 2006), setelah pemerintah mencanangkan sebagai Bencana Nasional
Selanjutnya dilakukan tahap tanggap darurat (search and resque), dilanjutkan tahap-tahap pemulihan dan rehabilitasi (recovery and rahabilitation).
Ditinjau dari kebencanaan maka Lusi merupakan salah fenomena alam yang unik. Karena pengendali mekanismenya dari bencana itu sendiri yaitu semburan lumpur panas (hot mud eruption) masih terus berlangsung relatif tanpa jeda.
Sementara itu upaya penanganan dampak terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat (sosial, ekonomi dan kemasyarakatan) harus dilaksanakan secara simultan.
Potensi kecelakaan pada kegiatan eksplorasi migas dan antisipasinya
Kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi (oil and gas exploration) mempunyai resiko kecelakaan(accident), yang paling umum adalah adanya semburan liar (blow out) baik minyak, air, atau gas.
Karena itu standard operation procedure (SOP) dari suatu kegiatan pemboran eksplorasi, telah disiapkan upaya-upaya untuk mengantisipasi semburan liar yang tidak dikehendaki, atau suatu sistem pencegahan semburan liar (blow out preventer system).
Di Indonesia khususnya dan di seluruh dunia, terjadinya semburan liar pada kegiatan eksplorasi dan produksi migas, umumnya dapat diatasi yang memakan waktu antara 1 sampai 3 bulan (rata-rata 2 bulan).
Awal Terjadinya Semburan
Semburan lumpur terjadi bukan di sumur BPJ-1 tapi didekatnya
Tanggal 29 Mei 2006 saat masih dilakukan kegiatan pemboran eksplorasi gas alam pada sumur BJP-1 (PT Lapindo Brantas selaku Operator KKS Blok Brantas) telah terjadi semburan gas air dan lumpur liar.
Namun yang unik atau tidak umum adalah semburan utama terjadi pada lima lokasi dengan jarak 150-500m dari lobang bor BP-1.
Salah satunya adalah yang sekarang telah tumbuh dan berkembang menjadi suatu semburan yang dahsyat (super eruption) Lumpur Panas di pusat semburan (eruption centre) Lumpur Siring.
Gempabumi Yogyakarta 26 Mei 2006 diperdebatkan memicu semburan Lusi
Dua hari sebelum terjadinya semburan liar tersebut (tepatnya tanggal 27 Mei 2006) di Yogyakarta telah terjadi bencana alam (natural disaster) gempa bumi yang telah menimbulkan korban meninggal dunia, memporakporandakan sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Walaupun sebelumnya di beberapa tempat semburan lumpur dapat terjadi dipicu oleh gempa bumi, masih diperdebatkan apakah gempa bumi Yogyakarta terkait langsung atau tidak dengan semburan Lumpur Siring.
Lumpur Siring sebagai salah satu gunung lumpur yang paling dahsyat dan unik
Berdasarkan debit (volume), durasi (duration), kecepatan (rate), panas (temperature) dan luas (area)semburannya, para ahli kebumian (earth scientist) dari manca negara telah menyebutnya sebagai suatu fenomena gunung lumpur (mud volcano) yang paling besar atau dahsyat dan unik dari yang telah pernah terjadi di seluruh dunia.
Namun, walaupun telah memperlihatkan kecenderungan baru yaitu perioda semburan berhenti selama lima kali selama dua bulan ke belakang ini, namun belum ada tanda-tanda bahwa fenomena alam tersebut akan berhenti dalam waktu dekat ini.
Hambatan, Tantangan dan Kendala Menghadapi Fenomena Alam
Tantangan dan Kendala
Tantangan dan kendala antara lain:
1) Semburan lumpur panas masih terus terjadi dengan debit yang tinggi (high rate eruption) dan terdapat skenario terburuk akan berdurasi lama (long way duration),
2) Kolam-kolam penampungan utama telah semakin penuh (batas permukaan lumpur sangat peres),
3) Tanggul-tanggul telah mendekati ketinggian yang kritis (elevasi +11 menuju +14),
4) Pengaliran dari pusat semburan ke K Porong semakin mempunyai rasio kesulitan (higly ratio handicap) yang tinggi baik dikontrol oleh mekanisasi maupun secara alami mengandalkan perbedaan topograpi (topographic gradient); dan
5) Untuk mengamankan tanggul cincin pada skenario semburan tinggi maka pengaliran lumpur dilakukan ke utara, selanjutnya telah memberikan implikasi yang cukup serius.
Geohazard sebagai dampak berganda dari semburan lumpur
Disamping semburan lumpur yang belum memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti tersebut.
Yang menambah kekomplekan dari fenomena Lusi adalah terdjadinya dampak berganda (multiplier effect) termasuk bagian dari fenomena bencana geologi (geological hazard) yaitu:
· penurunan tanah (land subsidence),
· rekahan (crack) sampai patahan (fault),
· munculnya gelembung atau semburan mikro(bubble) yang telah berjumlah 76, dan
· keluarnya gas metana dan H2S yang terkadang daerah pusat semburan mencapai di atas ambang batas aman.
Semua hal di atas menjadi kendala, hambatan sekaligus tantangan.
Dalam upaya menanggulangi semburan dan menangani luapan lumpur agar tidak meluber ke luar dari peta area terdampak, yang pada akhirnya dapat menambah korban dan permasalahan sosial baru.
Lingkup Makalah
Makalah ini akan memberikan fokus terhadap perkembangan faktual semburan dan luapan, grand strategy serta peta perjalanan (road map) penanggulangan Lusi.
Yang mencerminkan komitmen Pemerintah untuk meningkatkan penanggulangan Lumpur Siring.
Disisi lain Peta Perjalanan Lusi dengan memperhatikan lingkungan strategis yang senantiasa berkembang secara dinamis, sehingga menuntut senantiasa reposisi dan aktualisasi secara terpadu dan holistik.
Metodologi dan teknologi
Data dan informasi bawah permukaan (subsurface) dan permukaan (surface) telah diintegrasikan sebagai alat bantu dalam mengikuti perkembangan Lusi yaitu:
1) Memantau perilaku dan karakteristiknya di pusat semburan (eruption center) termasuk kedalamnya besarnya ‘kick’ dan gelombang, tinggi asap, kepadatan, temperatur;
2) Menafsirkan citra satelit resolusi tinggi (high resolution satellite image) 5 m bulanan dari IKONOS-CRISP selanjutnya memadukannya SIG MapInfo dan Google Earth;
3) Lintasan Ground Penetration Radar (GPR) dengan penetrasi maksimum 20m untuk memantau kemungkinan deformasi yang terjadi dekat permukaan; dan
4) Rangkaian data dan informasi baru terkait parameter, yang antara lain dilaksanakan oleh Badan Geologi, DESDM, yaitu:
· geofisika,
· potensi sumber daya
· geologi lingkungan
· bencana geologi (geological environment and hazard),
Inovasi Pemanfaatan Citra Satelit berdedikasi untuk publik
Citra satelit (satellite image) IKONOS dalam situs CRIPS bersifat public domain yang khusus berdedikasi untuk bencana Lusi (terakhir halaman 24, diambil tanggal 22 November 2007).
Telah menyediakan alat bantu yang bermanfaat (significant tool) bagi masyarakat di seluruh dunia (the world community).
Yang peduli (concern) dan ingin mengikuti perkembangan dan dinamika secara aktual secara berkelanjutan bulanan (monthly satellite image time series).
Integrasi citra satelit CRIPS dengan SIG MapInfo dan cyber net Google Earth telah digunakan oleh Badan Pelaksana (Bapel), Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) sebagai Peta Kerja (Working Satellite Image).
Khususnya sebagai alat bantu dalam proses pemantauan dan evaluasi(Monitoring and evaluation processes) secara lebih aktual dan obyektif .
Komitmen Pemerintah untuk Meningkatkan Penanggulangan Lusi
Apa yang terjadi bila Lusi tidak dilakukan upaya apapun?
Berdasarkan simulasi di komputer (computer simulation) dengan memperhatikan parameter kecepatan semburan (rate eruption), debit (volume), kecepatan penurunan (rate of subsidence), dan waktu(duration)
Bila tidak dilakukan upaya penanggulangan yang signifikan, maka dalam kurun waktu tiga tahun dari saat kejadian (29 Mei 2006) Lusi sudah akan jauh meluap ke luar dari daerah terdampak saat ini.
Pembentukan BPLS dan empat misi yang diamanahkan
Memperhatikan suatu realita bahwa Bencana yang diakibatkan oleh semburan Lusi semakin meluas, pada tanggal 8 April 2007, BPLS dibentuk melalui Peraturan Presiden No. 14/2007
Dengan 4 (empat) misi utama (main mission):
(1) Upaya penanggulangan semburan,
(2) Penanganan luapan,
(3) Penanganan dampak sosial kemasyarakatan, dan
(4) Penanganan dampak infrastruktur.
Kiprah dan tantangan Bapel BPLS mengemban Misi Nasional Kebencanaan
Sesuai dengan Peraturan Presiden No. 14/2007, selama 8 bulan Bapel BPLS telah eksis dan berkembang dalam mengemban misi nasional strategis.
Guna mengamankan serta memulihkan sendi-sendi kehidupan masyarakat sebagai dampak BENCANA Lumpur di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo.
Selama kurun waktu tersebut Bapel BPLS yang baru dibentuk (walaupun secara misi merupakan kelanjutan Timnas PSLS) mengawali kiprahnya dituntut untuk membangun kelembagaan (institutional building).
Sebagai proses masukan (input process) dalam keseluruhan sistem Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.
Namun bersamaan dengan itu Bapel BPLS juga sudah harus menghadapi permasalahan yang cukup pelik (complex problem).
Karena harus segera ‘berperang’ terhadap aspek-aspek sosial kemasyarakatan, pengendalian semburan dan luapan lumpur, serta penanganan dampak infrastruktur.
Kendala dan Tantangan
Terkait dengan misi nasional yang diemban Bapel BPLS, maka kendala dan tangtangan yang dihadapi senantiasa berkembang sangat dinamis.
Hal ini antara lain karena pengendali mekanisme (driving force mechanism) dari bencana Lusi (Lusi disaster) yaitu semburan lumpur panas (hot mud eruption)masih terus berlangsung.
Walaupun selama kurun waktu dua bulan belakangan ini telah pernah memasuki interval perulangan semburan berhenti (recurrent interval).
Namun sebegitu jauh belum menunjukkan tanda-tanda bahwa semburan akan berhenti secara permanen dalam waktu dekat.
Kondisi ini yang menjadikan alasan sehingga Lumpur Siring oleh pakar kebumian dari manca negara telah ditempatkan sebagai salah satu gunung lumpur (mud volcano).
Yang terunik dan terumit dari yang telah berkembang ribuan jumlahnya di dunia, dimana yang terbanyak tercatat di Azerbaijan.
Dalam kaitan ini, Bapel BPLS dihadapkan pada suatu realita yaitu menghadapi fenomena alam (natural phenomena) yaitu lahir dan berkembangnya (birth and growth) suatu gunung lumpur (selanjutnya disingkat GL).
Dimana para pakar kebumian (earth scientists) sendiri masih terus memperdebatkan dan belum sampai kepada satu kesimpulan yang bulat terhadap asal mula kejadiannya (origin).
Serta metoda dan teknologi apa yang dapat menghentikan semburan Lusi yang demikian dahsyat itu.
Namun bersamaan dengan adanya ketidakpastian (dispute) tentang kejadian GL dan upaya menghentikan semburannya.
Maka masalah sosial kemasyarakatan terus mengemuka serta muncul silih berganti.
Sehingga sedikit banyak akan sangat berpengaruh terhadap segala upaya untuk mengendalikan semburan dan luapan lumpur itu sendiri.
Hal ini pada akhirnya telah mengganggu keamanan dan kenyamanan bagi Bapel BPLS dalam mengoptimalkan segala daya, tenaga dan fikiran dalam melaksanakan misi nasional terkait.
KONDISI SAAT INI DAN PERMASALAHAN
Kedudukan Geologi dan Tektonik Regional
Walaupun sampai saat ini asal-usul (origin) dan pengendali mekanisme (driving force mechanism)masih menjadi hal yang misteri bahkan kontroversi.
Namun telah umum diterima bahwa fenomena gunung lumpur terjadi pada suatu kawasan yang mempunyai kerangka geologi dan teknonik tipe kompresif (compressive tectonic framework).
Lusi terletak dalam Cekungan Jawa Timur (Eastern Jawa Basin) salah satu dari 60 cekungan sedimen Tersier (Tertiary sedimentary basin) di Indonesia.
Yang awal perkembangannya merupakan bagian pojok tenggara dari sistem Paparan Sunda (Sunda Shelf).
Lusi di dalam teori tektonik lempeng (plate tectonic) yang merupakan suatu revolusi dari ilmu kebumian (Earth sciences), sebagai perwujudan dari konsepsi tektonik dunia baru (new global tectonic conception).
Telah menempati busur belakang (backarc) atau foreland dari sistem busur-parit Sunda (Sunda arc-trench system).
Sejarah geologi kawasan ini menunjukkan adanya transisi dari rezim tektonik ekstensi (extensional tectonic) pada jaman Paleogen, dicirikan dengan berkembangnya struktur patahan (fault structure) tipegraben dan half graben.
Selanjutnya struktur tersebut pada jaman Neogen dimodivikasi telah menjadi tektonik kompresif (compressive tectonic), dimana struktur horst dan graben yang terbentuk sebelumnya telah diinversi (inversion) membentuk struktur lipatan-lipatan (fold structures) dan patahan naik (reverse fault).
Secara regional intensitas deformasi kompresif secara berangsur meningkat ke arah timur yaitu sepanjang Cekungan Bali-Lombok-Flores, di beberapa tempat terjadi fenomena diapir lumpur (mud diapir).
Lusi sebagai gunung lumpur dan kontroversi kejadiannya
Walaupun Lusi di dalam khazanah ilmu kebumian maupun masyarakat umum (general public) antara lain di dalam situs internet (internet web references) telah diterima secara universal (universal knowledge) sebagai gunung lumpur.
Dari alternatif lainnya antara lain semburan liar bawah permukaan dari dunia eksplorasi migas (oil exploration).
Namun asal usul (origin) serta pengendali mekanisme pembentukan dan perkembangannya (driving force mechanism formation and development), masih menjadi bahan perdebatan sengit yang menjurus pada kontroversi. Sehingga belum ada satu kesimpulan akhir yang bulat dan utuh.
Sekurang-kurangnya empat alternatif terkait pembentukan Lusi yaitu:
(1) Terkait dengan pembentukan sumber daya tidak terbarukan minyak dan gas bumi (non-renewable oil and gas resources);
(2) Sebagai konsekuensi sejarah tektonik kompresif;
(3) Dipicu oleh terjadinya gempa bumi;
(4) Dipengaruhi oleh keberadaan panas bumi.
Anatomi dan Sistem Pengendalian Semburan dan Luapan
Anatomi dan pengendali mekanisme luapan Lumpur Siring dapat disederhanakan menjadi suatu sistem semburan mud volcano terintegrasi, sekurang-kurangnya terdiri dari 12 komponen, yaitu:
1) Sumber air dan panas:
Mengontrol kejadian dan intensitas semburan di bawah permukaan;
2) Sumber semburan:
volume, tekanan, temperatur, dan komposisi;
3) Media pembawa Lusi atau sistem pengumpan (feeder system):
Menghubungkan sumber dengan pusat semburan. Sekaligus berlangsungnya proses erosi batuan lempung dengan tekanan berlebih;
4) Pusat semburan (eruption centre):
Lokasi munculnya erupsi lumpur di permukaan bumi, mengandung air dan uap panas;
5) Media pengaliran Lusi ke selatan melalui Kanal Barat:
Salah satu mekanisme utama, disamping pengaliran ke intake melambung ke arah timur;
6) Pond Utama (Selatan):
Penampungan Lusi yang sebagian telah dalam kondisi membeku (padu);
7) intake:
Pengumpulan lusi panas berasal dari Kanal Barat atau Tanggul Timur, sebelum dialirkan ke K. Porong;
8) spillway:
Lumpur panas mengalami proses pengenceran, pendinginan sebelum dipompa ke K. Porong;
9) K. Porong:
Sebagai media antara pembuangan akhir ke Laut;
10) Overflow di tanggul 44:
Sebagai wahana pengaliran Lusi ke utara (PerumTAS);
11) Pond PerumTAS (Utara):
Wahana penampungan Lusi yang dialirkan melalui overflow 44.2 dari pusat semburan dan
12) Tanggul-tanggul di lingkar luar (outer ring):
13) Sebagai benteng terluar dari peta area terdampak 22 Maret 2007.
Kondisi aktual luapan Lumpur Siring, akan ditentukan oleh parameter:
(1) Besarnya debit di pusat semburan (flow rate) versus besarnya amblesan (subsidence)
(2) Keseimbangan pengaliran ke selatan (sasaran utama) dan ke utara (bersifat darurat atau sementara);
(3) Konfigurasi morfologi buatan manusia; dan
(4) Proses pengaliran secara mekanik (dengan berbagai peralatan).
Perilaku Lusi dan Dampak Ikutannya
Pengamatan di lapangan terhadap perilaku semburan dan dampak ikutannya, selanjutnya dapat dianalogikan sebagai suatu perkembangan gunung lumpur yang ideal (ideal mud volcano development).
Namun morfologi atau geometri bentang alam dikontrol oleh tanggul dan kolam buatan manusia.
Beberapa indikator dari perilaku Lusi yaitu:
1) Telah memperlihatkan kecenderungan perilaku semburan tipe geyser (geyser-like eruption)yaitu dicirikan sekurang-kurangnya 5 kali perulangan interval semburan berhenti (recurrent interval stop eruption),
2) Semburan besar dan kecil silih berganti,
3) Penurunan tanah umum (land subsidence) sampai pada penurunan seperti runtuh (sag-like subsidence) dengan kecepatan (rate subsidence) yang ekstrim sekitar 1,5m per minggu (awal Desember 2007),
4) Terbentuknya bubble baru, sehingga total mencapai 74, 41 diantarany bubble aktif, dan
5) Data teknologi GPR (ground penetration radar) memperlihatkan aktivitas rekahan (crack), sesar (fault), perlipatan (fold) di permukaan dan dekat permukaan.
Monev Perkembangan Lusi dari Citra Satelit IKONOS-CRISPS
Citra satelit tanggal 22 November 2007, secara umum memperlihatkan semburan yang aktif (active eruption) di tanggul cincin (big hole).
Dicirikan dengan asap dari uap panas berwarna putih, selanjutnya di dalam kolam penampungan utama (main pond).
Selanjutnya Lusi dialirkan ke selatan sepanjang kanal barat (west canal), dengan menggunakan alat berat menuju ke daerah penampungan (intake).
Disamping itu, Lusi juga dialirkan ke arah tenggara dengan mengandalkan adanya perbedaan ketinggian (topographic gradient).
Citra satelit IKONOS memperlihatkan adanya intensitas pengaliran lumpur secara berkelanjutan ke Pond PerumTAS di utara pusat semburan (eruption centre).
Melalui mekanisme tanggal buka tutup (cofferdam), untuk selanjutnya dialirkan melalui overflow yang berlokasi di sebelah timurnya.
Overflow tersebut selanjutnya berperan sebagai pengendali mekanisme (driving force mechanism)terjadinya proses sedimentasi (sedimentation processes) dengan pola aliran lumpur (drainage pattern)berbentuk kipas radial (fan radial).
Karakteristik tersebut secara umum dapat dianalogikan (modern analogy) dengan proses aliran sedimen gaya berat (sediment gravity flow), yang bertanggung jawab membentuk sedimentasi turbidit (turbidite sedimentation) di lingkungan laut dalam (deep sea environment).
Hal ini merupakan perwujudan dari konsep geologi yang klasik yaitu ‘saat ini merupakan kunci masa lalu (the present is the key to the past)’.
Bagian depan (frontal) dari sedimen kipas tersebut mendesak air dalam jumlah yang signifikan, sehingga walaupun di musim kering (Juni-Desember), akumulasi air yang terpisah dari lumpur terutama di barat laut Pond PerumTAS dan bagian timur Pond Siring (saat ini mulai tenggelam).
Walaupun tanggul-tanggul di sekitar kolam penampungan yang tersedia saat ini terus ditinggikan hingga mencapai elevasi +11 m.
Namun sebagai implikasi semburan dalam jumlah yang spektakuler berkisar 100.000 dan 60.000 m3 per hari (walaupun pernah 5 kali semburan mendekati debit 0 m3) daya tampungnya telah semakin kecil.
Hal ini dapat dilihat dari batas permukaan air/lumpur dengan tanggul sangat dekat, bahkan tanggal Siring Timur (T11-13) kini mulai tenggelam.
Pengaliran Lusi ke luar daerah genangan (dibatasi oleh Peta Area Terdampak 22 Maret 2007) dari intake dilakukan dengan mekanisasi kapal keruk (dredger) dan pompa-pompa lumpur (slurry pump) ke selatan K. Porong.
Pada citra satelit November juga dapat diamati terjadi sedimentasi Lusi yang lebih padu (compacted sediment) di sekitar luaran (outlet) lumpur (spillway).
Sehingga pada bagian proximal dari sistem sedimentasi (sedimentation system) yang membentuk pola kipas (fan sediment), disamping itu terlihat dua kapal keruk dan enam exca- ponton sebagai upaya mengurangi dampak sedimen padu, sekaligus menormalisasi aliran K. Porong.
Kearah timur kali Porong yang menjauh dari sumber sedimentasi yang telah dipengaruhi sistem arus traksi (traction current system) atau system aliran sungai (river current system) merupakan bagian(distal), terdapat lensa-lensa sedimen (sediment lenses) dan menjadi pita-pita (tape sediment) dengan arah memanjang, sampai ke arah jembatan jalan tol lama.
Pengaliran lumpur panas ke utara Pond PerumTAS dan implikasinya
Peraturan Presiden No. 14/2007 tentang BPLS khususnya Pasal 15 (5) telah memberikan arah kebijakan (policy direction) terhadap berbagai upaya penanggulangan semburan lumpur dibarengi dengan penanganan luapan lumpur dengan mengalirkannya ke selatan ke Kali Porong melalui sarana tanggul utama.
Citra satelit terbaru yang diambil tanggal 22 November 2005 mengindikasikan bahwa pengaliran Lusi ke utara telah membentuk pola aliran (drainage pattern) sedimen kipas (fan sediment) semi radial. Dengan bagian apek merupakan outlet dari overflow 44 di sebelah timur pusat semburan (big hole).
Di bagian depan dari sedimen kipas (front of fan sediment) diindikasikan genangan air, yang paling banyak berada di bagian baratlaut.
Hal ini menunjukkan adanya topografi yang relatif lebih rendah (topographic low), dari suatu geometri GL.
Hal yang menarik bahwa sebelum diputusnya pipa gas yang menempati posisi memanjang arah barat-timur di utara pusat semburan
Saat terjadinya pengaliran lumpur ke utara beberapa bagian dari aliran sedimen gaya berat (sediment gravity flow), telah dibelokkan ke arah barat.
Sehingga memberikan dampak terhadap tekanan atau dorongan sedimen horizontal (sediment push).
Sehingga memberikan dampak pada tanggul di Siring Timur, yang akhirnya terpaksa harus direlakan untuk digenangi luapan dari Pond PerumTAS bagian barat.
Namun, setelah pipa gas tersebut diputus, dimana saat ini posisinya melintang arah utara-selatan sejajar dengan arah memanjang tanggul Renokenongo (1-5).
Ternyata pola aliran ke barat (westward drainage pattern) masih terus berkelanjutan (continuing) dengan mengikuti jalur lama (existing track).
Kondisi ini telah memberikan implikasi serius, antara lain:
(1) Tanggul 10-13 sebagai pertahanan lingkar dalam (inner defense) telah bocor, diikuti melimpas.
Akhirnya terpaksa diambil keputusan yang sulit dari opsi yang tidak banyak tersedia, yaitu harus ditinggalkan selama-lamanya (the end of the game);
(2) Pond Siring di sisi barat jalan arteri dan rel kereta api yang baru dibangun (saat ini mendekati elevasi +11) telah dihubungkan dengan Pond PerumTAS melalui overflow yang permanen.
Namun kecepatan pengaliran air ke dalam Pond Siring tersebut telah berlangsung dengan kecepatan yang relatif tinggi (high rate of flow);
(3) Akses jalan tanggul dari sisi Siring yaitu Koramil-Pos R1, pada hakekatnya merupakan salah satu infrastruktur kritis (critical infrastructure) sebagai sub-sistem pengendalian semburan dan luapan lumpur di ring dalam.
Namun akses jalan tanggul tersebut kini harus terus ditinggikan, seiring dengan terjadinya kenaikan muka air di Pond Siring;
(4) Tanggul di timur di utara Reno (T 67) kembali jebol dan Pond Glagaharum yang baru selesai di bangun juga mulai terisi air mengikuti jejak Pond Siring; dan
(5) Telah terjadi rembesan di permukaan dan kenaikan muka air sumur gali penduduk di Siring Barat, yang dipersepsikan terjadi karena adanya pengisian Pond Siring yang baru selesai pembuatannya.
Keresahan warga tersebut, telah menjadi perhatian Bapel BPLS antara lain dengan melakukan investigasi terhadap penyebabnya serta mengerahkan pompa.
Disamping itu agar mendapatkan solusi yang rasional, Bapel BPLS telah mengundang Badan Geologi DESDM untuk mengirimkan tim dari Pusat Geologi Lingkungan, yang mempunyai kompetensi untuk menangani hal tersebut.
Dengan demikian realita yang dihadapi sekaligus sebagai isu kritis adalah konsekuensi pengaliran Lusi ke utara secara berkelanjutan dapat memberikan implikasi:
(1) Pond Siring dan berikutnya Pond Ketapang (sedang di bangun) merupakan satu-satunya benteng terakhir untuk mengamankan infrastruktur vital jalan nasional dan rel kereta api;
(2) Belum memasuki musim penghujan, kolam penampungan di utara sudah menghadapi krisis daya tampungnya.
Sehingga pertanyaan adalah bagaimana bila menghadapi musim penghujan dengan skenario curah hujan tinggi; dan
(3) Kecepatan membangun tanggul permanen di ring luar sektor utara, bisa kalah cepat dengan kecepatan luapan lumpur.
Hal ini antara lain karena juga dihadapkan pada permasalahan sosial yang mengemuka.
Pengaliran Lusi ke Selatan
Citra satelit Ikonos 22 November 2007, bila dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya (Oktober dan September 2007), memperlihatkan indikasi kurang terbentuknya suatu pola aliran yang berkelanjutan (continous drainage pattern) ke arah selatan melalui jalur timur.
Sebagaimana yang dapat dibandingkan dengan hal yang terjadi pada aliran ke utara di Pond PerumTAS (membentuk pola aliran sedimen kipas).
Aliran yang dimaksud sangat diharapkan terjadi secara alami (natural process), yang hanya dimungkinkan bila terdapat adanya perbedaan ketinggian topografi yang cukup signifikan (significance topographic gradient).
Sementara itu, pengaliran lumpur ke selatan dari daerah pusat semburan yang selama ini telah berlangsung secara berkelanjutan.
Sejak masa Mei 2007 (titik awal Bapel BPLS menerima pengalihan dari Timnas PSLS) adalah dengan mengandalkan jalur kanal barat.
Dimana kondisi sangat tergantung pada ketersediaan (avaibility) dan kinerja (performance) mekanisasi dari alat-alat berat, yaitu clam cell, long arm excavator, dan excavator ponton.
Dengan kondisi di atas suatu realita bahwa rasio kesulitan (handicap ratio) terhadap pengaliran ke Selatan bila dibandingkan ke utara menjadi semakin meningkat.
Hal ini disamping karena faktor teknis menyangkut sistem mekanisasi pengaliran dan pemompaan, juga dipengaruhi faktor alami.
Faktor alami ini tidak terlepas dari dinamika perkembangan geometri Gununt Lumpur serta terjadinya proses geologi (geological processes). Yaitu hadirnya penurunan tanah (land subsidence), dan deformasi struktur geologi (patahan).
Pengaliran Lusi Ke laut melalui K. Porong: Antara harapan dan tantangan
Peraturan Presiden No. 14/2007 telah memberikan arah kebijakan terhadap pengaliran lumpur dari pusat semburan ke selatan. Namun tidak memperinci lebih lanjut terkait dengan implementasinya.
Diasumsikan bahwa pengaliran lumpur ke selatan dimaksud adalah ke K. Porong, untuk selanjutnya secara alami akan di kendalikan oleh sistem arus sungai (river current system) menuju jalur (track line)ke muara, kawasan pesisir dan akhirnya ke Laut (Selat Madura).
Sehubungan dengan hal tersebut Presiden pada bulan Oktober 2007 telah memberikan arah kebijakan dengan memilih pengaliran ke K Porong sebagai alternatif Konsep Tetap Penanganan Luapan Lumpur.
Sebagai konsekuensi maka mengantisipasi dampak negatif kemungkinan penurunan daya dukung K Porong yang berfungsi sebagai banjir kanal, maka secara terintegrasi K. Porong harus terus normalisasikan.
Sehubungan dengan pemilihan opsi pembuangan lumpur ke laut melalui K. Porong maka pakar geologi, antara lain Prof. Dr. Koesoemadinata dalam berbagai kesempatan telah memperkuat rasionalisasi dengan fakta sejarah geologi (geological history fact).
Bahwa Lumpur Siring menunjukkan lingkungan pengendapan di Selat Madura purba (paleo Madura Strait), sehingga pangaliran tersebut pada hakekatnya mengembalikannya ke tempat asalnya di Selat Madura yang sekarang (modern Madura Strait).
Hasil Normalisasi Sampai Pertengahan Desember 2007
Berdasarkan pemantauan secara periodik selama satu bulan terakhir ini terlihat adanya kemajuan yang cukup bermakna pada upaya yang dilakukan untuk menormalisasikan K. Porong.
Hasil yang cukup di satu sisi membesarkan hati terutama sedimen kipas (fan sediment) yang selama berkembang di selatan Spill Way. Sebagi hasil luaran pompa Toyo dan Dredger di intake.
Di sisi lain dan memberikan keprihatinan pada semua pihak, terutama dikaitkan dengan skenario banjir pada musim penghujan.
Namun, melalui upaya keras yang serius dengan mengerahkan dua kapal keruk dan enam excavator ponton, setelah terdapat gelontoran aliran K. Porong.
Sehingga secara umum sedimen kipas telah dapat dihancurkan (dihanyutkan ke hilir), dan khususnya dasar sungai telah memperlihatkan kondisi yang mendekati kedalaman rencana.
Dilematis yang sekaligus sebagai tantangan yang dihadapi BPLS terkait pengaliran Lusi ke K. Porong adalah:
(1) Pembuangan lumpur selama musim kering tahun 2007, telah memicu proses sedimentasi dengan pola sedimen kipas (fan sediment) di arah hulu (proximal) dan berangsung menjadi bentuk pita mamanjang (long tape) ke arah hilir (distal).
Sehingga untuk megembalikan daya dukung K Porong telah dikerahkan mekanisasi (kapal keruk dan excavator ponton) untuk menormalisasinya bersamaan dengan daya alir dari sistem sungai sendiri;
(2) Sampai awal bulan Desember 2007, ternyata besarnya debit aliran K. Porong masih jauh dari angka normal yang diharapkan, agar upaya penghancuran konsentrasi sedimen kipas yang padu (compacted fan sediment) di daerah hulu dapat optimal;
(3) Normalisasi K. Porong tidak dapat dilakukan secara parsial, namun harus terintegrasi termasuk pengelolaan kawasan muara zona pesisir (coastal zone management) dengan memperhatikan potensi dampak lingkungan yang terkecil;
(4) Diperlukan pengarahan alat bantu (tool) yaitu kapal keruk dan excavator ponton dalam jumlah yang memadai
Agar upaya pengaliran sedimen di daerah hulu, tidak sekedar memindahkannya pada daerah ke hilirnya.
Namun lebih jauh lagi, terjadi suatu proses normalisasi Kali Porong yang menyeluruh, secara estafet berkelanjutan hulu-hilir; dan
(5) Masih terdapat ketidak sepakatan dari berbagai kalangan (Pemerintah daerah, Pakar, dan Masyarakat setempat), bahkan telah terjadi demo penolakan berkekuatan cukup besar dari kelompok masyarakat dari Kabupaten Pasuruan.
Yang berpotensi dapat menghalangi keberhasilan misi pembuangan lumpur ke K Porong.
Hal ini merupakan opsi satu-satunya untuk mengamankan agar lumpur dapat tetap dikelola secara aman di dalam daerah peta terdampak 22 Maret 2007.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa keberhasilan pengaliran lumpur pada bagian proximal di Kali Porong yaitu outlet buangan Pompa dan Dredger dari intake di Pond Utama dan baru-baru ini diperkuat dengan pengerahan Pompa Toyo di depan titik 41, merupakan salah satu bagian penting untuk mengamankan keseluruhan skenario penanganan luapan lumpur.
Sebagai titik kritis (critical point) adalah tanggul-tanggul di lingkar dalam telah mencapai ketinggian yang mendekati optimal dari daya dukungnya.
Sedangkan tanggul utama di lingkar luar berpacu dengan tingkat kenaikan permukaan air/lumpur, disamping kendala non-teknis dalam pembuatan tanggul-tanggul baru (yang aktual adalah Tanggul Renokenongo).
UPAYA PENANGGULANGAN DAN PENANGANAN SEMBURAN
Posisi terhadap upaya penanggulangan semburan lumpur
Upaya penanggulangan semburan lumpur merupakan salah satu misi Bapel BPLS, yang diamanahkan Peraturan Presiden No. 14/2007. Namun dengan berbagai rasionalisasi , sehingga strategi dan konsep implementasinya telah diaktualisasikan.
Setelah berbagai upaya penanggulangan semburan yang telah dilakukan sebelumnya oleh Timnas PSLS.
Antara lain telah menerapkan teknologi-teknologi: snubbing unit, relief well 1&2, dan insersi bola-bola beton (status ditunda untuk redefinisi sasaran dan alat bantu).
Namun sebegitu jauh, upaya dan langkah tersebut belum membuahkan hasil, sebagaimana ekspektasi semua pihak yang demikian bedar.
Pertanyaan mendasar yang berkembang saat ini adalah, mengapa Bapel BPLS belum menentukan secara tegas langkah dan metoda tertentu untuk mematikan semburan?
Pada posisi terakhir berbagai mekanisme yang telah diusulkan dan mendapatkan respon sampai pada tingkat Dewan Pengarah BPLS, antara lain double cofferdam dengan pipa baja ganda (Takhahira), dan penerapan teori ‘Bournalli’, yang pada hakekatnya keduanya menerapkan konsep ‘counter hydrostatic pressure’.
Strategi dan Skala Prioritas Penanggulangan
Grand Strategy Bapel BPLS dalam Penanggulangan adalah memprioritaskan untuk menyelamatkan penduduk dan memulihkan sendi-sendi kehidupannya yang bermukim di sekitar pusat semburan, guna mencegah potensi meluasnya luapan, dari area terdampak saat ini.
Hal tersebut dilakukan melalui pembangunan dan revitalisasi tanggul-tanggul untuk memperluas daya tampung kolam lumpur, mengoptimalkan pengaliran Lusi ke Kali Porong.
Serta mengalirkan Lusi Ke Laut dibarengi dengan menormalisasikannya.
Pada musim kering luapan lumpur di tampung pada kolam-kolam lumpur utama. Sedangkan pada musim penghujan, disamping Lusi dari pusat semburan dialirkan langsung ke Kali Porong secara optimal, namun juga Lusi yang telah berada di kolam penampungan untuk dikuras ke Kali Porong.
Pusat semburan terus dipelihara (maintain) pada level yang optimal (saat ini sekitar 17 m) dari daya dukungnya (carrying capacity), dengan menggunakan konstruksi yang fleksibel (flexible construction).
Agar dapat lebih tahan menghadapi fenomena penurunan tanah dengan intensitas yang sangat tinggi dan deformasi geologi, yaitu menerapkan konsep tekanan hidrostatik berlawanan (counter hydrostatic pressure).
Setelah luapan lumpur benar-benar telah terkendali, maka berbagai alternatif upaya mematikan semburan yang rasional dan diperkirakan mempunyai rasio keberhasilan yang tinggi (high success ratio) dapat dijajaki dan dipertimbangkan.
Terkait dengan grand strategy penanggulangan Lusi tersebut, Presiden RI telah memberikan arah kebijakan sekaligus sebagai program percepatan (fast tract programs).
Yaitu dengan memilih alternatif untuk mengalirkan Lusi ke laut (Selat Madura) menggunakan media antara (bukan sasaran akhir) K. Porong.
Bersamaan dengan itu, kebijakan operasional yang ditempuh adalah mengoptimalkan langkah dan kegiatan normalisasi K. Porong.
Antara lain dengan mengerahkan kapal-kapal keruk dari titik outlet di selatan Spillway sampai ke daerah muara K. Porong.
Dari sudut pandang ilmu kebumian, memperhatikan bahwa Lusi berasal dari batuan sedimen penutup (cap rock) yang telah dibentuk jutaan tahun lalu di Delta Selat Madura purba (paleo Madura Strait Delta).
Sehingga pemilihan alternatif yang komplek dari opsi yang tidak banyak tersedia tersebut, pada hakekatnya Lusi dikembalikan ke tempat pembentukan awalnya, yaitu di Selat Madura yang sekarang (from paleo to modern Madura Strait).
Selain dampak sekunder bahwa telah menggenangi lahan dan bangunan penduduk di daerah terdampak, Lusi juga telah memberikan dampak tersier pada infrastruktur umum antara lain:
1) jalan tol telah terputus,
2) jalan nasional Porong-Gempol-Malang melebihi kapasitas dan nyaris bersebelahan dengan Kolam Lumpur yang terus dialirkan Lusi,
3) jaringan pipa gas alam, yang mengalirkan ke konsumen industri telah dihentikan,
4) jaringan listrik SUTT, terganggu,
5) rel kreta api Surabaya-Malang terus mengalami kerusakan, dan
6) jaringan distribusi air bersih PDAM, belasan kali rusak.
Untuk itu agar roda-roda kehidupan perekonomian secara bertahap dipulihkan. Khususnya daerah terdampak dan umumnya berada di daerah disekitarnya.
Dengan memperhitungkan faktor potensi bencana geologi (geological hazard potential) relatif terhadap pusat semburan yang seminimal mungkin
Disamping faktor pengembangan wilayah (regional development) dan aspek ekonomi (economical aspect) maka Bapel BPLS telah menetapkan relokasi infrastruktur (infrastructure relocation) ke arah barat dari Peta Area Terdampak 23 Maret 2007 (PAT).
Memperhatikan kondisi saat ini (actual condition), bahwa luapan lumpur (mud flow) masih terus memberikan ancaman terhadap keamanan masyarakat disekitarnya.
Sehingga Bapel BPLS telah menempatkan prioritas atas (highly priority) untuk penanganan luapan lumpur, sebagaimana diamanahkan dalam Perpres 14/2007.
Upaya penanggulangan semburan di daerah pusat semburan, antara lain diimplementasikan dengan membangun tanggul permanen dengan konstruksi yang fleksibel (sirtu, sebagai mana selama ini) dengan sasaran mencapai elevasi + 21 (saat ini sekitar 17 m).
Sasaran yang diharapkan semburan dapat dikelola dan terkendali dan bila mungkin memperkecil kecepatan semburannya (rate of eruption), sebagaimana konsep counter hydrostatic pressure diuraikan di atas.
Strategi pemilihan opsi upaya penanggulangan semburan ini juga diperkuat oleh fakta bahwa sebagai konsekuensi perkembangan Lusi saat ini yang telah umum diterima sebagai suatu Gunung Lumpur (GL), bersamaan dengan masih terjadinya semburan dengan dahsyatnya.
Namun secara bersamaan dengan itu diindikasikan telah terjadi beberapa fenomena geologi lainnya, yaitu:
(1) Penurunan atau amblesan tanah (land subsidence),
(2) Deformasi struktur geologi (rekahan, patahan) masih berlangsung di sekitar pusat semburan,
(3) Terus terjadinya semburan kecil atau gelembung (bubble) yang saat ini secara keseluruhan telah mencapai 74, dari jumlah itu 44 diantaranya dengan status aktif, dan
(4) Tanggul cincin pada awalnya tidak dirancang sebagai struktur tanggul permanen, sehingga terus memerlukan pemeliharaan dan revitalisasi.
Sehingga segala upaya yang bertujuan untuk penghentian semburan (killed eruption), dengan menerapkan teknologi apapun, yang terkait langsung dengan struktur tanggul cincin, patut dilakukan dengan ekstra kehati-hatian.
Didalam operasi hari ke hari (day by day operation), maka setelah semburan dapat dikendalikan. Sebagai tahap selanjutnya agar benteng daerah peta terdampak 22 Maret 2007 dapat dipertahankan, adalah dengan mengoptimalkan sistem pengaliran lumpur (mud flowing).
Yang dimulai dari saat disemburkan di big hole dengan melalui dua rute yaitu:
1) melalui kanal barat sampai ke daerah pengumpul di intake; dan
2) melalui jalur timur berakhir daerah pengumpul di muka Tanggul 41.
Tahap terakhir dari proses penanganan luapan lumpur dapat optimal adalah dengan meningkatkan kinerja dredger dan pompa lumpur (slurry pump), guna dapat memompa lumpur dari sisi barat dan timur Pond Utama bagian selatan secara tersebar di sepanjang K. Porong.
Peta Perjalanan Lumpur Siring
Peta jalan (road map) pengangendalian semburan dan luapan Lusi yang terpadu dan holistik, menggambarkan arah yang dituju dan tahapan penanggulangannya, yaitu:
Prioritas utama upaya penanggulangan Lusi adalah menyelamatkan masyarakat dari potensi luapan baru dari peta area terdampak (22 Maret 2007).
Karena:
a) Semburan lumpur panas masih terus terjadi dengan debit yang tinggi (high rate eruption) dan terdapat skenario terburuk (the worst scenario) akan berdurasi lama (long way duration),
b) Kolam-kolam penampungan utama (main pond) telah semakin penuh (batas permukaan lumpur sangat peres),
c) Tanggul-tanggul telah mendekati ketinggian yang kritis (elevasi +11 beberapa menuju +14),
d) Pengaliran ke K Porong dari pusat semburan melalui kanal barat di Kolam Utama (Selatan) semakin mempunyai rasio kesulitan yang tinggi (higly ratio handicap), baik dikontrol oleh mekanisasi maupun secara alami mengandalkan perbedaan topograpi (topographic gradient);
Semburan lumpur di dikendalikan dan diharapkan dapat dikurangi kecepatannya melalui pembangunan dan perkuatan tanggul cincin dengan konstruksi fleksibel.
Dengan sasaran ketinggian +21m (saat ini +17), untuk mendapatkan efek ‘counter hydrostatic pressure impact’yang optimal;
Lumpur akan dialirkan ke laut (Selat Madura), melalui Kali Porong sebagai media antara sekaligus menggunakan potensi energi yang dimililiki sendiri oleh K. Porong pada musim penghujan;
Pengaliran dan pengurasan Lusi dari dalam Pond Utama dilakukan pada musim penghujan, sedangkan pada musim panas terutama akan disimpan dalam kolam penampungan.
Bersamaan dengan itu dilakukan normalisasi K. Porong antara lain pasca musim penghujan dengan pengerahan kapal keruk dari hulu sampai ke muara dan Selat Madura.
Bila luapan lumpur telah dapat dikendalikan secara aman, nyaman dan berkelanjutan, tahap selanjutnya akan dilakukan berbagai upaya penanggulangan yang bertujuan untuk menghentikan total semburan (total stop eruption) atau mengurangi debit semburandengan memilih metoda atau teknologi yang paling memadai (realible).
Kriteria Basic Design Penanganan Luapan Lumpur
Dalam Lusi Road Map tersebut dalam penyusunan basic design penanganan luapan pumpur memperhatikan kriteria sebagai berikut:
1) Merupakan sebuah sistem yang diyakini efektif, efisien, dapat cepat memberikan dampak dan berkelanjutan (quick yielding and sustainable);
2) Konsep dapat dilaksanakan dalam jangka waktu pendek, mengantisipasi kondisi kedaruratan (emergency stage);
3) Mampu mengatasi luapan lumpur dengan kecepatan semburan 100 ribu m3/hari dan efektif dalam janga waktu lama, termasuk upaya pemanfaatannya antara lain sebagai reklamasi;
4) Mengoptimalkan fungsi dan prasarana dan potensi sumber daya disekitar semburan untuk menghemat pengeluaran uang negara;
5) Menghindari pengadaan tanah dalam skala besar yang prosesnya memerlukan waktu lama dan harganya terkadang tidak ’rasional’; dan
6) Menghindari perubahan drastis rona lingkungan dan pemindahan permukiman dan atau mangganggu mata pencarian warga secara besar2an.
Enam prinsip penanganan Luapan Lumpur
Sebagai konsistensi kriteria penanganan luapan lumpur disusun Basic Design dengan media kali Porong untuk membawa luapan lumpur ke laut adalah sebagai berikut:
1) Membangun waduk penampunan lumpur dengan tanggul penahan lumpur berbahan galian golongan C, bersifat plastis fleksibel agar dapat menerima perubahan atau geohazard termasuk land subsidence sampai sag-like subsidence, rekahan dan patahan;
2) Menguras waktu musim hujan untuk ruang tampungan pada musim kemarau, semburan berjalan terus sehingga fungsi waduk harus dapat didayagunakan secara berkelanjutan;
3) Pengaliran ke kali Porong agar didistribusikan mengisi palung dengan menerapkanoutflow tersebar (distributed outflow) yang berperan meratakan dasar sungai sehingga aliran tetap lancar baik pada waktu air tinggi dan terutama pada waktu air rencah;
4) Memanfaatkan potensi daya air Porong yang melimpah dan murah untuk menghanyutkan lumpur ke laut, Kali Porong dengan design 1600 m3/det sudah ada dan siap digunakan.Sehingga tidak memerlukan investasi besar yang membutuhkan waktu lama dan investasi besar.
Menghindari pembebasan tanah yang rawan masalah sosial dibanding bila membangun kanal baru perlu 1541 Ha, di musim hujuan K Porong sebagai floow way dilalui banjir merupakan energy untuk gelontor;
Biaya operasi dan pemeliharaan jauh lebih kecil dibanding via kanal harus dilakukan mekanisasi 24 jam sehari selama setahun, dan Lusi bukan material beracun;
5) Normalisasi kali porong sebagai flood way, kondisi K Porong sebagai sumber air atau wadah maupun sumber daya air memenuhi kebutuhan sebagai pembawa endapan lumpur ke laut, perbaikan terutama pada pengerukan di bagian muara dan pembuatan alur ke palung laut;
6) Reklamasi pesisir pantai muara Porong, secara alami delta porong telah mengalami akrasi sekitar 5 m/tahun, memanfatkan hasil pengerukan untuk reklamasi menambah luas wilayah pesisir.
KOMITMEN DAN HARAPAN
Tidak Menjanjikan Kapan Semburan Akan Berhenti
Memcermati realita bahwa Lusi sebagai mud volcano yang oleh beberapa ahli disebut sebagai tandem atau hibrida (hybrid) antara mud volcano yang konvensional dengan panas bumi (geothermal).
Disamping besarnya sumber reservoir lumpur dan air di bawah permukaan bumi (subsurface earth), sehingga terdapat prediksi perhitungan reservoir versus volume rasio semburan menghasilkan angka durasi skenario terburuk (20-30 tahun).
Sehingga Bapel BPLS dalam posisi untuk tidak menjanjikan kapan dan dengan teknologi apa semburan Lusi akan/dapat dihentikan atau akan berhenti dengan sendirinya.
Komitmen Bekerja Keras dan Mengerahkan Sepenuhnya (All Out)
Bapel BPLS berkomitmen untuk bekerja sekeras-kerasnya (work hard) dan mengerahkan sepenuh daya, tenaga dan fikiran (all out), disertai dengan doa restu dari Tuhan YME dan seluruh masyarakat Indonesia, agar fenomena alam yang telah menimbulkan bancana/musibah Lusi dapat segera berakhir.
Untuk itu segala UPAYA PENANGGULANGAN akan ditempuh dengan memperhatikan resiko lingkungan seminimal mungkin.
Keberhasilan Bapel BPLS menanggulangi Lusi yang komplek (sosial dan teknik), juga akan ditentukan oleh peran serta masyarakat baik local, regional dan nasional.
Membangun Kebersamaan dalam menghadapi Musibah/Bencana
Dalam menghadapi Musibah atau Bencana Lusi perlu memposisikan untuk melihat ke depan (looking fore ward), dengan membangun kebersamaan dan bahu membahu diantara seluruh komponen masyarakat (termasuk masyarakat kampus).
Sehingga fenomena gunung lumpur Lusi yang telah mengglobal ini namun masih penuh misteri ini kiranya dapat dijadikan sebagai suatu proses belajar (learning process)
Baik dikaitkan dengan kegiatan eksplorasi sumber daya alam tidak terbarukan (non-renewable resources), khususnya di daerah yang memiliki tatanan geologi/tektonik kompresif (geological and tectonics framework).
Maupun dalam menanggulangi suatu bencana atau musibah disebabkan fenomena alam, khususnya sebagai dampak semburan lumpur yang tidak terkendali, secara komprehensif (comprehensive), integral dan holistik.
Peluang Lusi sebagai topik Tugas Akhir sampai Disertasi
Bagi dunia pendidikan tinggi (higher education level) mengingat fenomena gunung lumpur masih langka dan khususnya Lusi masih penuh misteri dan kontroversi, terbuka kesempatan yang seluas-luasnya sebagai wahana topik obyek penelitian S1, S2 dan S3.