DINAMIKA LUSI APRIL 2010
UMUM
Laporan Kemajuan Bapel BPLS periode awal bulan Maret-April 2010 diwarnai oleh hal-hal khusus yang diharapkan akan memberikan dampak positif terhadap pencapaian sasaran strategis dan operasional pada masa-masa ke depan. Beberapa diantaranya yaitu:
1) Periode laporan berada pada puncak musim hujan, dimana sebegitu jauh BPLS dapat mempertahankan agar PAT tidak meluas;
2) Kedatangan mesin perang baru (terutama kapal keruk dan booster) yang akan memegang peran penting dalam pencapaian sasaran strategis maupun operasional, guna mengalirkan Lusi ke laut melalui Kali Porong;
3) Kunjungan kerja Presiden RI dan Dewan Pengarah BPLS ke lapangan Lusi, disertai dengan lima arahan kebijakan, guna optimalisasi misi penanggulangan Lusi ke depan;
4) Aspek kelembagaan, BPLS berpartisipasi pada Seminar Internasional Kebencanaan yang dilaksanakan di kampus UGM, dimana secara konseptual disampaikan solusi bencana Lusi ke depan secara lebih komprehensif, integral dan holistik;
5) Dilaksanakannya kajian dan permodelan distribusi sedimen dan morfologi dasar laut, kerjasama BPLS dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, diharapkan dapat memperkecil dampak negatif terhadap pengaliran Lusi ke Laut melalui Kali Porong; dan
6) Beberapa kegiatan menjelang peringatan HUT ke 3 BPLS, yang lebih difokuskan pada pencerahan pada internal BPLS dan bakti sosial kemasyarakatan.
1.1. Isu Aktual/Kritis Hut BPLS ke 3 dan Lusi ke 4 Tahun
Dalam perjalanan waktu, sampai mendekati usianya 4 tahun (29 Mei 2010) ditinjau dari aspek multidimensi, fenomena Lusi baik dari aspek ilmiah maupun Kebencanaan Geologi (Geohazard) telah dikukuhkan sebagai salah satu mud volcano yang unik dan memiliki daya tarik yang luar biasa. Bila dibandingkan dengan ribuan mud volcano aktif lainnya yang saat ini eksis di seluruh dunia.
Beberapa isu aktual dan kritis yang terkait fenomena Lusi, antara lain:
1) Semburan dan luapan lumpur panas di Sidoarjo merupakan salah satu bencana geologi. Yang telah menimbulkan korban manusia, memberikan dampak pada sendi-sendi kehidupan warga (sosial, ekonomi, keamanan dan kenyamanan, lingkungan) di sekitarnya serta memporakporandakan infrastruktur vital.
2) Fenomena Lusi menjelang durasi tahun ke 4 (29 Mei 2010) masih terus berlanjut dan tidak ada kepastian kapan semburan akan berhenti, disamping telah memberikan dampak deformasi geologi. Sehingga tahapan untuk menangani bencana harus dilaksanakan secara simultan.
3) Dari segi kebencanaan geologi, merupakan yang pertama di dunia dimana semburan lumpur dari mud volcano di darat (on shore) sebagai fenomena geologi yang dahsyat ditangani oleh manusia modern, termasuk upaya untuk menghentikan semburan dan mengendalikan luapannya. Sehingga belum tersedia suatu referensi yang relevan, sebagai konsekuensi banyak inovasi yang harus dilakukan dari proses learning by doing.
4) Tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi harus dilaksanakan pada waktu bersamaan, dimana pengendali mekanisme bencana yaitu semburan, luapan lumpur panas, dan deformasi geologi masih terus berlanjut. Sehingga masih berpotensi mengancam keamanan jiwa bagi warga dan dampak sosial kemasyarakatan dan infrastruktur.
5) Walaupun penyebab dan pemicu semburan Lusi masih terus diperdebatkan di dalam dan di luar negeri, dimana saat ini cenderung meningkat. Namun telah mengerucut pemahaman bahwa wujud Lusi merupakan salah satu mud volcano aktif yang paling dahsyat, paling cepat tumbuh dari lebih dari seribu lainnya yang eksis di seluruh dunia.
6) Dalam perjalanan waktu mud volcano Lusi telah tumbuh dengan sangat cepat, saat ini pasca memasuki tahapan deformasi runtuh seketika, selanjutnya telah membentuk suatu Danau Lusi yang luas. Danau Lusi merupakan harmonisasi antara semburan Lusi dikendalikan oleh daya geologi dari bagian dalam bumi dengan upaya manusia untuk menanganinya. Antara lain dengan membangun benteng tanggul lingkar luar dan mengalirkan Lusi ke laut melalui Kali Porong.
7) Fakta terhadap kondisi dan potret Lusi saat ini serta indikator lainnya, sehingga pakar kebumian umumnya berpendapat bahwa semburan mud volcano Lusi sulit sampai tidak dapat dihentikan, dengan skenario durasi semburan dapat 25-35 tahun.
8) Upaya penanggulangan semburan terus dilanjutkan sebagaimana salah satu misi BPLS disesuaikan dengan dinamika di lapangan. Walaupun sebelumnya beberapa teknologi tercanggih seperti Relief Well sebagai senjata pamungkas telah diterapkan, namun sebegitu jauh belum berhasil sebagaimana yang diharapkan oleh semua pihak.
9) Penanganan luapan sebagai prioritas utama untuk mencegah meluasnya PAT telah dilandasi dengan Pola Tetap yang berkelanjutan. Pada intinya, adalah: 1) Memperkuat tanggul-tanggul penahan lumpur dari ancaman subsidence dan meningkatnya muka lumpur; 2) Mengalirkan Lusi ke laut melalui Kali Porong, dengan memberdayakan berbagai metoda dan teknologi, antara lain kapal keruk dan pompa-pompa lumpur dan air; dan 3) Kali Porong dari hulu ke muara dilakukan normalisasi, sehingga sedimen Lusi dapat diangkut secara lancar sampai ke laut, serta mengurangi dampak lingkungan.
10) Penanganan masalah sosial kemasyarakatan yang menjadi bagian penting, terus diimplementasikan dengan skema bantuan sosial maupun pembelian lahan dan bangunan dalam rangka meningkatkan efisiensi pengaliran Lusi ke Kali Porong, serta skema bantuan sosial sebagai dampak deformasi geologi di luar PAT.
11) Penanganan dampak infrastruktur yang signifikan antara lain dengan semakin meningkatnya realisasi pembangunan relokasi infrastruktur ke arah barat daerah terdampak.
12) Harapan ke depan adalah sendi-sendi kehidupan masyarakat dapat dipulihkan dengan indikator, antara lain: 1) Luapan Lusi dapat dikelola secara berkelanjutan, sehingga PAT dapat dipertahankan. Disamping itu dampak lingkungan yang berpotensi terjadi dapat diminimalkan; 2) Berbagai skema penanganan masalah sosial kemasyarakatan dapat dituntaskan, sehingga gejolak sosial dapat minimalkan; 3) Relokasi infrastruktur terwujud, sehingga roda perekonomian dapat berputar kembali; 4) Lusi sebagai salah satu pusat keunggulan studi dan sebagai cagar mud volcano di dunia. Sekaligus sebagai lokasi wisatawan asing atau domestik; dan 5) Sarana dan prasarana yang tersedia secara alami dan dibangun, maupun kondisi tertanganinya semburan dan luapan. Merupakan aset yang bernilai sebagai mesin penggerak menuju realita dari Bencana ke Manfaat.
1.2. Kunjungan Kerja Presiden Lokasi Pusat Semburan di Sidoarjo
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada hari Senin tanggal 29 Maret 2010 telah melakukan kunjungan kerja terkait BPLS dengan 2 agenda utama, yaitu: 1) menerima pemaparan ’laporan kemajuan’ oleh Kepala Bapel BPLS di ruang VIP Bandara Juanda, dan 2) peninjauan langsung ke lapangan Lusi yang dipusatkan di P25.
Dalam kunjungan tersebut Presiden RI didampingi beberapa Menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II, yaitu: Menkopolhukam Djoko Suyanto, Menko Kesra Agung Laksono, Mensesneg Sudi Silalahi, Menseskab Dipo Alam, Menteri PU Djoko Kirmanto, Menkeu Sri Mulyani, Menteri Pertanian Suswono, Mensos Salim Segaf Al’jufrie, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Mendiknas Mohammad Nuh, Meneg Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Meneg LH Gusti Muhammad Hatta, Meneng Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng serta beberapa pejabat lainnya.
Maksud dan tujuan adalah untuk: 1) memastikan bahwa Peraturan Presiden terkait (yang paling aktual Perpres 40/2010) dilaksanakan dengan baik, dan 2) mengetahui secara langsung apakah ada kendala dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut.
Kunjungan Presiden SBY ke lapangan Lusi dipusatkan di titik 25 dengan rasionalisasi, yaitu: 1) Dapat melihat langsung perkembangan Danau Lusi dan kedahsyatan semburan Lusi dengan pola ’geyser’ yang masih disertai dengan ’kick’ yang relatif tinggi, 2) Menyaksikan beroperasinya kapal-kapal keruk dan teknologi pendukung lainnya; 3) Mengklarifikasi keterkaitan antara komplek gunung magmatik Pananggungan, dan bukit Watukosek dengan tumbuh dan berkembangnya Lusi sebagai mud volcano serta deformasi geologi pasca semburan; dan 4) Dari aspek keamanan, P25 merupakan daerah terlindung (protected area) yang hanya dapat dicapai melalui pintu utama di selatan (P35).
Pada bagian akhir dari kunjungan ke lapangan Lusi, Presiden RI telah menyampaikan 5 arah kebijakan, yang menyangkut aspek-aspek: 1) Pengamanan keselamatan warga; 2) Penanganan masalah sosial kemasyarakatan di dalam dan di luar PAT; 3) Penuntasan pembangunan infrastruktur; 4) Lingkungan hidup; dan 5) Perspektif ke depan fenomena Lusi dari Bencana ke Manfaat.
Adapun uraian dari 5 aspek arah kebijakan Presiden RI tersebut adalah:
1) Penyelamatan jiwa masyarakat: 1) Tanggul pengaman terus disiapkan agar dapat mengatasi kemungkinan luapan lumpur yang masih berpotensi terjadi; dan 2) Pengaliran lumpur ke laut melalui Kali Porong harus berlangsung dengan efektif.
2) Sosial kemasyarakatan: 1) Bantuan sosial dan pembayaran pembelian lahan dan bangunan warga baik yang menjadi kewajiban Lapindo maupun pemerintah melalui APBN dapat dilaksanakan secara tepat waktu; 2) Dilaksanakannya penelitian ilmiah dan kajian secara komprehensif untuk memastikan adanya kawasan lainnya di sekitar PAT yang memang patut diberi ganti rugi, sebagaimana daerah di dalam PAT dan di luar PAT); 3) Menteri PU dan Gubernur Jatim, bersama tim dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan lain-lain, diharapkan melakukan kajian serta melaporkan hasilnya kepada Presiden RI; 4) Selama proses tersebut berjalan diberikan bantuan sosial, terutama untuk mencegah kerusakan lahan pertanian.
3) Infrastruktur: 1) Penanganan infrastruktur baik yang langsung ataupun tidak langsung, terkait menanggulangi dampak semburan lumpur Sidoarjo, sebegitu jauh dinilai sudah berjalan baik; 2) Perlu ditingkatkan kerjasama dan kesadaran dari masyarakat luas terkait proses penggantian tanah; 3) Dilaksanakan dengan pendekatan tanpa merugikan warga, namun sebaliknya masyarakat juga diharapkan dapat bekerja sama;
4) Lingkungan Hidup: Dilakukan penelitian dan pengkajian terhadap dampak lingkungan yang mungkin muncul, baik di daerah asal luapan Lusi, sepanjang Kali Porong, maupun di muara yang berhadapan langsung dengan wilayah laut.
5) Masa depan kawasan Lusi: 1) Arahan kepada menteri terkait dan gubernur untuk memikirkan masa depan kawasan Lusi, dengan konsep dan tata ruang yang baik, agar dapat menjadi tempat yang berguna bagi masyarakat; dan 2) Sebagai alternatif untuk aktivitas wisata geologi, perikanan, dan bisnis.
Adapun hal-hal yang menjadi perhatian khusus Presiden RI:
1) Semburan dan luapan lumpur: 1) Presiden RI menyampaikan kabar baik (good news) bahwa saat ini, kecepatan luapan (flow rate) lumpur berkurang drastis dari sebelumnya pernah mencapai 170.000 m3/hari telah berkurang dan menjadi sekitar 70.000 m3/hari, bahkan terus cenderung menurun lagi. Hal tersebut dimungkinkan oleh adanya keseimbangan; dan 2) Sebagai implikasi berkurangnya luapan, sehingga diharapkan deformasi tidak akan mengganggu keselamatan dan keamanan dari kawasan terdampak Lusi. Dalam kaitan ini Presiden mengadopsi bahwa deformasi mempunyai kaitan erat dengan intensitas semburan.
2) Normalisasi Kali Porong: Reklamasi pulau seluas 83 hektar (disebut oleh BPLS sebagai Tanjung Lumpur) diharapkan harus mempunyai konsep yang jelas dan tidak menimbulkan dampak baru.
3) Deformasi Geologi: Dalam kaitan dengan fenomena pergerakan tanah ke bawah (subsidence) atau deformasi di daerah lumpur Sidoarjo dengan intensitas mencapai 20-30 cm, Presiden RI minta laporan lebih lanjut.
1.3. Partisipasi Bapel BPLS dalam Seminar Internasional Tentang Kebencanaan
Bapel BPLS yang diwakili Waka dan Sesba, pada 8 Maret 2010 bertempat di kampus UGM, Yogyakarta, telah berpartisipasi pada ”International Workshop on Multimodal Sediment Disasters Triggered by Heavy Rainfall and Earthquake and Countermeasures”, dengan mengkontribusikan makalah lengkap dan memaparkannya dengan judul
’Fenomena Bencana Lumpur Panas di Sidoarjo: Fakta, Pelajaran, dan Solusi yang Holistik’. Workshop ini dihadiri oleh para ilmuwan dan praktisi berasal dari luar dan dalam negeri. Dimana dari Indonesia termasuk Dr. Basuki H. mantan Kepala Pelaksana TIMNAS PSLS.
Momen ini telah digunakan sebagai suatu sarana pemasyarakatan terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan Bapel BPLS (2007-2010) dalam menanggulangi Bencana Lusi. Dimana pada terminologi bencana alam/geologi belum banyak acuannya, sehingga telah dilakukan inovasi dan pendekatan learning by doing.
Fenomena Lumpur Sidoarjo sehingga menjadi daya tarik kalangan internasional:
1) Kontroversi tentang penyebab dan pemicu (causing and triggering) Lusi akhir-akhir ini cenderung semakin mengemuka. Secara umum pandangan dan pendapat terbelah menjadi dua kelompok besar, yaitu: 1) Lusi sebagai fenomena geologi, dipicu gempa bumi Yogyakarta tanggal 27 Mei 2006; dan 2) Lusi sebagai ledakan bawah permukaan (underground blow out) dipicu oleh kesalahan saat pelaksanaan pemboran sumur eksplorasi Banjar Panji-1.
2) Walaupun masih terjadi kontroversi terkait asal usulnya (origin). Namun berdasarkan penilaian terhadap postur dan kondisi secara keseluruhan saat ini, umumnya telah diterima secara universal bahwa Lusi merupakan suatu mud volcano aktif (active mud volcano). Dengan intensitas semburan yang dahsyat dan pertumbuhan paling cepat, dibandingkan dengan lebih dari seribu mud volcano lainnya yang eksis di dunia.
3) Fakta di lapangan terkait kedahsyatan dari semburan Lusi, yang belum ada tandingannya di seluruh dunia. Dipadukan dengan beberapa parameter teknis dan non-teknis lainnya yang relevan, umumnya digunakan sebagai dasar pertimbangan dan pemilihan skenario bahwa semburan Lusi sulit (difficult) sampai tidak bisa dihentikan (unstoppable).
4) Sebagai implikasi, berdasarkan hasil perhitungan yang umum antara parameter volume reservoir dan flow rate semburan yang konstan, sehingga sampai pada perkiraan keadaan bahwa durasi semburan Lusi dapat berlangsung lama. Dengan skenario bervariasi antara 23-35 tahun. Namun tidak ada seorangpun yang dapat menentukan secara pasti, kapan Lusi akan tidur sementara atau selamanya.
5) Masalah mendasar yang dihadapi dalam mengemban misi penanggulangan Lusi, dapat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya: 1) Belum ada referensi yang tersedia untuk digunakan dalam penanggulangan suatu bencana yang ditimbulkan oleh semburan mud volcano, sebagaimana halnya dengan Lusi; 2) Semburan dan luapan lumpur panas sebagai pengendali mekanisme (driving force mechanism) kebencanaan Lusi, yang terus berlangsung dengan relatif tanpa henti dan dapat berlangsung dalam waktu yang panjang di satu sisi. Gejolak sosial kemasyarakatan yang berkepanjangan di sisi lainnya, harus ditangani secara simultan; dan 3) Di lapangan dari waktu ke waktu terjadi dinamika yang sangat cepat, sampai pada tingkat perubahan cukup mendasar terhadap arah kebijakan dan rencana operasional. Sehingga landasan hukum yang tersedia, yaitu Perpres 14/2007 tentang BPLS telah 2 (dua) kali telah diaktualisasikan yang terakhir adalah Perpres 40/2010.
6) Pada Rencana Strategi BPLS tahun 2010-2014 yang merepresentasikan suatu paradigma baru, telah ditetapkan visi penanggulangan bencana yang diakibatkan oleh mud volcano Lusi. Guna memulihkan sendi kehidupan masyarakat terdampak.
7) Bertolak dari tantangan faktual di lapangan yang menuntut dilakukannya respon cepat (quick respon), sehingga banyak pilihan yang diambil (terkadang merupakan pilihan pahit dari alternatif yang tidak banyak tersedia) diperoleh dari proses learning by doing.
8) Penanganan luapan di Danau Lusi sebagai medan perang utama (main battlefield), menjadi fokus untuk mencegah meluasnya Peta Area Terdampak (PAT). Untuk itu telah ditetapkan strategi, yaitu: 1) Membangun dan memperkuat Tanggul Lingkar Luar (outer ring dikes), sebagai antisipasi terjadinya deformasi geologi, terutama subsidence yang berkelanjutan serta masukan air hujan yang ekstrim; dan 2) Mengalirkan Lusi ke laut melalui media Kali Porong, dengan menerapkan berbagai metoda dan teknologi.
1.4. Alur Pikir Impian dari Bencana ke Manfaat
Dari kondisi yang diharapkan, berkembanglah suatu ’impian’ terhadap perwujudan outcome yaitu pulihnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, yang disusun dengan alternatif skenario sebagai berikut:
1) Lusi menjadi pusat keunggulan studi ilmiah mud volcano di dunia, merupakan suatu laboratorium alami (natural laboratory) dimana berbagai kalangan akan dapat mengamati Lusi dari berbagai aspek, termasuk:
a. Perkembangan dan pertumbuhan mud volcano sejak saat kelahirannya (museum dan simulasi), saat berusia muda, hingga memasuki tahap tumbuh dan berkembang menjadi Danau Lusi yang sekarang. Hampir semua studi mud volcano dilakukan pada masa istirahat (dormant period);
b. Mendalami keberadaan Patahan Watukosek, yang memegang peran penting dalam proses tumbuh dan berkembangnya Lusi termasuk mengendalikan deformasi geologi saat ini;
c. Postur semburan dengan pola ’geyser’ disertai ’kick’ terdiri dari uap putih dan Lusi yang menakjubkan;
d. Karakteristik dan aliran Lusi di dalam PAT dikendalikan oleh mekanisme aliran gaya berat (density current) membentuk pola kipas radial, sampai ke daerah Muara Kali Porong mengikuti sistem pengangkutan sedimen dengan mekanisme arus traksi (traction current);
e. Deformasi dan geohazard terutama subsidence, dan bubble di luar PAT;
f. Pemanfaatan gas dari bubble sebagai contoh ideal skala kecil energi fosil alternatif yang bersih (alternative and clean fossil energy); dan
g. Penjajakan potensi energi terbarukan panas bumi (geothermal renewable energy), berdasarkan kemungkinan keterkaitan sumber panas berasal dari Gunung Penanggungan, dll;
2) Lusi menjadi salah satu obyek wisata internasional dengan situs mud volcano sebagai salah satu fenomena keajaiban di dunia, yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah daerah permukiman yang padat. Sekaligus merupakan kawasan pertumbuhan ekonomi. Dengan obyek khusus yang mempunyai nilai pemahaman ilmiah yang tinggi antara lain:
Gambar 1.1 wisata mud volcano
a. Panorama dari timur TAS ke barat laut, mencerminkan harmonisasi Gunung Penanggungan (gunung magmatik), mud volcano Lusi, dan Gawir Watukosek sebagai perwujudan dari Sistem Patahan Regional (regional fault system);
b. Dari P25 dengan obyek Danau Lusi dan Pusat Semburan disertai ’kick’ dengan pola geyser, ditempatkan sebagai suatu ’Lusi Mud Volcano Park’. Dimana secara visual wisatawan dapat melihat kedahsyatan semburan lumpur panas yang relatif menerus, satu-satunya di dunia. Dapat dianalogikan dengan mud volcano yang dikendalikan oleh geothermal yaitu Yellow Stone National Park di Amerika dan di New Zealand;
c. Di P 25 dan P42 dengan menyaksikan satu-satunya di dunia dimana kapal keruk, excavator-pontoon dan tanggul-tanggul sebagai benteng Danau Lusi, digunakan untuk mengendalikan luapan lumpur untuk menjamin keamanan masyarakat;
3) Melakukan wisata air dengan menyusuri Kali Porong sambil menikmati keindahan panorama daerah aliran dari hulu, meander sampai ke muara. Juga menyaksikan satu-satunya fakta bahwa luapan mud volcano telah dialirkan melalui sungai ke laut. Namun dengan tetap melindungi serta bersikap ramah terhadap lingkungan hidup (protection and environmental friendly);
4) Pengunjung dapat memanfaatkan lumpur untuk keperluan kesehatan, pengobatan penyakit kulit (mandi lumpur), juga untuk kecantikan (spa) sebagaimana di negara-negara lainnya terkait; dan
5) Keberadaan Taman mud volcano Lusi beserta tanggul-tanggul penahan lumpur dengan panjang lebih 10 km, danau-danau yang luas (Glagaharum dan Besuki), Kali Porong beserta tanggul-tanggul yang telah dinormalisasikan sampai ke muara sepanjang 20 km, menyediakan sarana bagi arena hiburan dan olah raga yaitu speed boat, lomba lari (10 K) sepeda lintas alam, lomba kano dan lain-lain.
1.5. Mulai beroperasinya Kapal Keruk generasi baru
Salah satu perubahan mendasar pasca Perpres 40/2010 adalah BPLS melaksanakan upaya penanggulangan semburan serta mengalirkannya ke Kali Porong. Misi ini sebelumnya dilaksanakan oleh Lapindo (Perpres 14/2007), dimana BPLS hanya melaksanakan pengawasan dan pengendalian di bawah Deputi Bidang Operasi.
Karena dalam Perpres 40/2010 tidak terdapat substansi yang mengatur tentang masa transisi, sehingga terdapat kekosongan (gap). Dalam kaitan ini terutama ketersediaan sarana dan prasarana yang diperlukan guna pelaksanaan misi strategis untuk mengalirkan Lusi ke Kali Porong.
Karena itu pengadaan alat perang utama kapal keruk, pompa booster dan pompa air merupakan suatu yang vital dan strategis. Mengingat bahwa semburan Lusi berlangsung terus tanpa henti dan Danau Lusi sudah mendekati batas-batas daya tampung dan daya dukungnya.
Pada saat kunjungan Presiden RI ke Lusi (29 Maret 2010) sistem alat perang baru sudah menempati posisi (wilayah operasi) dan mulai beroperasi dengan berbagai status kinerja.
Gambar 1.2 Kapal Keruk mulai beroperasi
Wilayah kerja sistem pengaliran Lusi yaitu: 1) Prioritas atas di P25 untuk mengamankan sektor barat (Jatirejo-Siring-Osaka), ditempatkan 2 kapal keruk baru (Arjuno dan Watukosek), didukung oleh pompa booster; 2) Di sektor timur yaitu Pond Reno selatan P42, terdapat 2 kapal keruk baru (Penanggungan dan Welirang), diperkuat oleh satu KK lama. Di selatan tanggul terdapat pompa booster yang telah beroperasi sejak tahun 2008; 3) Outlet pengaliran Lusi di Kali Porong secara tersebar (distributed outlet) berada di sisi barat (Spill way), sisi barat dan sisi timur jembatan tol lama. Dan pompa injek untuk memasok air dari Kali Porong di sisi paling barat.
Hal signifikan dari kondisi pengaliran Lusi ke Kali Porong sebagaimana digambarkan di atas adalah mulai terwujudnya kemandirian dan kemampuan BPLS dalam melaksanakan misi yang diamanatkan Perpres 40/2009.
Diharapkan dalam perjalanan waktu ke depan, kinerja alat-alat perang di atas yang pada hakekatnya sebagai alat bantu (tool) dari keseluruhan konsep dan strategi pengaliran yang cerdas (smart conception and strategy) akan dapat mengantisipasi realitas akumulasi lumpur padu dan Lusi baru, sehingga pada akhirnya dapat mengurangi bahaya melimpasnya Lusi serta mengurangi intensitas deformasi geologi pada daerah sekitarnya.
1.6. Kerjasama BPLS dan Kementerian Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kelautan dan Perikanan, sejak tahun 2007 telah memberikan dukungan pada BPLS secara berkelanjutan, yang dinilai sangat bermanfaat terhadap pengelolaan khususnya kawasan Muara Kali Porong, maupun daerah pesisir dan laut di sekitarnya yang dipengaruhinya, mencakup aspek-aspek: 1) Pemahaman kondisi umum untuk ‘site survey’ pengerukan dan reklamasi, 2) Masukan keteknikan untuk rancang bangun agar meminimalkan dampak, dan 3) Perlindungan lingkungan wilayah laut dan pesisir di sekitarnya.
Studi yang dilakukan BPLS bekerjasama dengan KKP tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasio keberhasilan, dan mengurangi dampak baik fisik maupun lingkungan yang mungkin terjadi.
Pelaksanaan studi dan permasalahan mendasar
Pada bulan Maret 2010, telah dilaksanakan pembahasan terhadap hasil studi yang dilakukan oleh Tim KKP dengan metoda pemodelan pada sedimentasi dan morfologi, terdiri dari empat komponen penting yaitu: 1) penentuan parameter-parameter sebagai input, 2) penentuan asumsi-asumsi, 3) proses pemodelan dengan alat bantu perhitungan matematika, statistik dan lain-lain, dan 4) luaran baik sebagai hasil akhir atau perspektif berdasarkan kisaran waktu.
Pertanyaan mendasar terkait studi ilmiah ini adalah: 1) Apakah sedimen Lusi sudah dapat dialirkan sesuai sasaran ke palung dalam di Selat Madura; 2) Apakah sedimen Lusi dalam perjalanan di Kali Porong sudah dapat mengalir sesuai harapan, yaitu di jalur selatan percabangan Kali Porong di muara; 3) Apakah dengan terbangunnya Tanjung Lumpur dapat mempengaruhi kondisi oseanografi dan geologi wilayah pesisir di sekitarnya? 4) Apakah kondisi long shore current, pasang surut yang bermakna dan iklim terutama angin berpengaruh pada proses pengaliran sedimen ke palung dalam; dan 5) Apakah hasil pemodelan dapat memprediksi zona-zona dimana permukaan dasar sungai mengalami pendangkalan atau abrasi pada dinding sungai?
Arti strategis Pengelolaan Wilayah Tanjung Lumpur
Pengaliran Lusi ke Laut dengan menggunakan media Kali Porong, merupakan sub-sistem dari keseluruhan Sistem Penanganan Luapan lumpur (Pasal 15, Ayat 5, Perpres14/2007) yang diaktualisasikan menjadi Sistem Pengaliran Lusi ke Kali Porong (Perpres 40/2009).
Memasuki tahun ke 3 dari kiprah BPLS dalam melaksanakan misi nasional Penanggulangan Lusi, kemajuan signifikan telah dicapai, terkait implementasi normalisasi Kali Porong dari hulu ke muara. Dengan tolok ukur, sebegitu jauh sampai dengan puncak musim hujan 2010, dapat mencegah terjadinya potensi banjir (sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Presiden RI pada kunjungan ke Lusi 29 Maret 2010).
Reklamasi di muara K. Porong yang telah menghasilkan Tanjung Lumpur (83 ha) dilakukan dengan dua sasaran strategis: 1) membuka mulut sistem Delta Porong (Porong Deltaic system), yang sebelumnya mengalami pendangkalan disebabkan oleh adanya sedimentasi sebagai implikasi progradasi atau pertumbuhan delta (seaward progradation delta); 2) sebagai alat bantu yang alami, guna membantu agar sedimen lumpur yang mengalir dari hulu ketika sampai di hilir dapat melalui jalur hingga masuk ke bagian morfologi palung dalam.
Di dalam kondisi kebencanaan dan kedaruratan, sebagai konsekuensi dipilihnya opsi pengaliran Lusi ke laut melalui Kali Porong, BPLS harus melaksanakan secepatnya penanganan kawasan muara yang akan memberikan implikasi kepada zona pesisir (coastal zone). Karena itu pelaksanaan pengelolaan kawasan muara pada awalnya tidak dimulai dengan Amdal yang komprehensif, integral, dan holistik. Namun selanjutnya telah dimasukkan pada bagian SEA (Strategic Environmental Assessment), diperkuat oleh masukan ilmiah antara lain dari DKP dan PPGL DESDM.
Pasca tumbuh dan berkembangnya Tanjung Lumpur sampai dengan tahun 2010, walaupun belum ada laporan dampak negatif yang bermakna. Namun belum ada proses monitoring yang berlanjut (continuous monitoring) untuk memberikan gambaran nyata, baik terhadap tercapainya sasaran strategis dan operasional terkait pengaliran Lusi ke Selat Madura, postur kondisi alami (geografi, geomorfologi, dan sedimentasi), serta potensi dampak yang mungkin terjadi baik jangka pendek, menengah dan panjang.
Atas dasar pemikiran tersebut, maka dipandang perlu agar penyelidikan awal (tahun 2009-2010) dapat dilanjutkan secara ‘multi years’, dibarengi dengan sistem monitoring yang berkelanjutan atau permanen.
Hasil awal
Bagi BPLS sebagai pengguna akhir, aspek masukan, penetapan asumsi, dan khususnya luaran akan menjadi hal yang sangat penting, karena sebagian besar di bawah kendali BPLS.
Secara umum kegiatan penelitian tersebut memberikan hasil awal sebagai lesson learn untuk disempurnakan pada tahap lanjutan, dan bagi BPLS perlu mencermati secara lebih seksama pada hasil dari metoda pemodelan untuk dikorelasikan dengan dunia nyata dan sasaran strategis.
Untuk kegiatan studi pertama tersebut maka hal yang perlu diperhatikan adalah aspek parameter dan asumsi yang sangat dinamis dikontrol oleh kompleksitas pada sumber sedimen di daerah hulu, media transportasi sedimen pada sistem sungai, dan dinamika di daerah hilir (coastal and marine system). Termasuk di dalamnya faktor perubahan musim/iklim.
Jawaban terhadap permasalahan mendasar yang telah diidentifikasi sebelumnya, akan ditindaklanjuti dengan klarifikasi kondisi aktual di lapangan dan langkah-langkah aktualisasi strategi dan operasional pengelolaan lusi di sekitar Tanjung Lumpur.
1.7. Kegiatan HUT BPLS ke 3
Pada tanggal 8 April 2010 BPLS yang dilahirkan melalui Perpres 14/2007 akan genap berusia 3 tahun. Pada tahun ini peringatan akan lebih difokuskan untuk lebih memberikan pemaknaan dan pencerahan di internal BPLS terhadap pelaksanaan misi nasional Penanggulangan Lusi.
Ragam kegiatan antara lain: 1) Renungan, Bersyukur dan Berdoa bagi kesuksesan keseluruhan misi BPLS ke depan, termasuk keselamatan bagi petugas-petugas lapangan. Disamping itu juga doa bagi 13 Pahlawan Lusi yang telah mengorbankan jiwa dan raganya; 2) Bakti sosial, sebagai perwujudan rasa kesetiakawanan, kepedulian terhadap masyarakat yang terkena dampak langsung atau tidak langsung dari Bencana Lusi; dan 3) Lomba fotografi Penanggulangan Lusi, untuk memicu kepedulian warga BPLS mengekspresikan hal-hal yang dipandang barmakna, mempunyai arti yang menakjubkan, melalui teknologi fotografi.
Kegiatan utama akan dilaksanakan di P25, lokasi utama yang telah digunakan selama kunjungan Presiden RI ke Lusi, dimana selanjutnya akan dikondisikan sebagai salah satu anjungan ’Lusi mud volcano Park’.