POTRET LUSI NOVEMBER 2010
Umum
Dinamika November 2010 berada pada beberapa kondisi atau tahapan dalam eskalasi lingkungan strategis lokal dan nasional terkait penanggulangan lumpur panas di Sidoarjo, dengan beberapa hal yang signifikan antara lain:
a. Musim Hujan:
Berada pada awal musim hujan, yang mempunyai implikasi terhadap ancaman meluasnya PAT, sehingga diperlukan langkah dan upaya khusus untuk mengantisipasinya;
b. Eksistensi BPLS:
Durasi 3 tahun 8 bulan eksistensi BPLS berdasarkan Perpres 14/2007 sejak 8 April 2008, dan kurang lebih 14 bulan Bapel BPLS secara khusus bertanggung jawab penuh dalam pengendalian semburan dan Luapan Lusi berdasarkan Perpres 40/2010;
c. Tahap perkembangan Lusi:
Durasi 4 tahun 5 bulan dari semburan Lusi (29 Mei 2006), saat ini berada pada tahap menuju istirahat (dormant period) dari keseluruhan proses tumbuh dan perkembangan suatu mud volcano;
d. Suasana Kebencanaan Nasional:
Diwarnai oleh suasana kebencanaan nasional pasca terjadinya tanah longsor (land slide) di Wasior, tsunami dipicu gempa bumi di Mentawai, dan erupsi-eksplosif gunung api Merapi yang sampai saat ini masih berlangsung.
Kejadian tersebut meningkatkan perhatian masyarakat terhadap kebencanaan alam secara umum dan khususnya bencana mud volcano Lusi;
e. Menuju Solusi Permanen:
Bapak Presiden telah memberikan arah kebijakan ke depan untuk mencari solusi permanen terhadap Penanggulangan Lusi.
Sehingga Bapel BPLS mengaktualisasikan road map dari solusi permanen terkait; dan
f. Ekspektasi masyarakat meningkat:
Meningkatnya ekspektasi masyarakat yang demikian tinggi terhadap potensi dimasukkannya wilayah 9 RT dari 3 Desa yang telah dinyatakan tidak layak huni ke dalam PAT.
Sedangkan untuk wilayah lainnya di luar PAT, yang oleh Tim Independen bentukan Pemprov Jatim dinyatakan tidak layak huni, mendapatkan bantuan sosial kemasyarakatan.
Kondisi ini sangat berpotensi menimbulkan gejolak sosial kemasyarakatan baru.
Perkembangan Signifikan pada aspek operasional
Beberapa kemajuan yang signifikan antara lain:
(1)Pada musim penghujan yang masih berlangsung pada tahap awal, sebegitu jauh kali Porong yang terus dinormalisasi dapat mengalir dengan baik dan tidak ada akumulasi sedimen lusi dalam jumlah yang berarti;
(2)Pekerjaan konstruksi relokasi infra di selatan jembatan Kali Porong yang baru dapat mulai dilanjutkan kembali setelah beberapa waktu sebelumnya mendapatkan halangan (blokade) dari warga setempat, terkait pembebasan lahan;
(3)Akses jalan pemantauan Kali Porong di sisi selatan sedang dalam tahap perbaikan, diharapkan dapat mendukung terhadap upaya dan langkah pemanfaatan Pulau Lumpur ke depan; dan
(4)Proses hukum terkait pengadaan tanah terus berlanjut dan mendekati tahap keputusan dari majelis hakim, diharapkan dapat menghasilkan suatu keputusan hukum positif, guna mempercepat jadwal pembangunan fisiknya yang telah direncanakan sebelumnya.
Gambar 1.1 Lintasan Relokasi Infrastruktur Utara - Selatan
Kerjasama BPLS dan Badan Geologi ESDM Mengenai Durasi Semburan Lusi
Badan Geologi telah menindaklanjuti pertemuan 27 Agustus (Waka BPLS sebagai Ketua Rapat) tentang solusi Lusi ke depan yang intinya apapun kebijakan terhadap durasi Lusi ke depan harus terlebih dahulu diawali dengan penyelidikan geologi bawah permukaan, terutama didukung oleh pengambilan data penampang seismik refleksi 3-D.
Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, antara lain ditempuh dengan mengundang pihak Lapindo untuk penjelasan ulang terhadap kondisi bawah permukaan yang diketahui.
Disamping itu ada kesepakatan dari penting dari BP Migas, untuk dapat mengkontribusikan data seismik refleksi sebelum semburan Lusi tahun 2006.
Pada posisi terakhir, Badan Geologi KESDM telah menindaklanjutinya dengan rencana melakukan survei penampang seismik 3-D melalui RAPBN 2011.
Perencanaan dan persiapan Even BPLS 4 tahun dan Lusi 5 Tahun
Dalam rangka momen BPLS 4 tahun dan Lusi 5 tahun telah dipersiapkan even-even khusus yang terkait pada implementasi Solusi Permenen Semburan Lusi, dan kerjasama ilmiah dengan pihak luar negeri, antara lain:
a. Pertemuan saresehan pakar:
Even Saresehan terkait Lusi dirancang berkenaan 5 tahun Lusi 29 Mei 2011, yang akan dipusatkan di sarana sekitar P.25, dengan tujuan membangun kebersamaan dalam implementasi paradigma baru dari kontroversi ke solusi permanen.
Termasuk lebih jauh memperkenalkan Pulau Lusi yang ke depan akan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Even ini bekerjasama dengan beberapa institusi dalam dan luar negeri, dengan prinsip sukarela (voluntership);
b. Seminar Internasional:
Dengan tema utama mud volcano Lusi telah diagendakan pada akhir bulan November 2010, diharapkan dapat mengkristalkan paradigma Lusi dari kontroversi menuju solusi permenen, serta presentasi hasil-hasil nyata dari BPLS pada aspek pengendalian semburan dan luapan dan pengelolaan kebencanaan mud volcano Lusi, termasuk presentasi hasil kerjasama ilmiah Bapel BPLS dengan institusi luar negeri sebagaimana arah kebijakan Presiden.
Demikian pula dimasukkan agenda pengelolaan bencana mud volcano Lusi, yang merupakan pertama di dunia dimana suatu fenomena mud volcano telah ditangani oleh manusia.
c. Peluncuran dari LUSI LIBRARY:
Baik secara electronic book di cybernet maupun wujud fisik, merupakan perwujudan paradigm baru dari kontroversi ke solusi, dan dari bencana ke manfaat.
Materi LUSI LIBRARY yang saat ini terus berkembang, merupakan akomodasi kontribusi karya dan karsa dari para pakar atau institusi tentang Lusi, yang selama ini keberadaannya tersebar di manca negara yang selanjutnya dihimpun menjadi suatu kesatuan utuh LUSI LIBRARY.
Fasilitas ini merupakan suatu rekaman learning proses pada aspek kebencanaan, dan pemacuan IPTEK kebumian terkait fenomena geologi mud volcano.
Hal-hal signifikan berdimensi strategis
A. Aktualisasi Solusi Permenen
Salah satu hal signifikan yang berdimensi strategis adalah Bapel BPLS telah memiliki ‘doktrin’ Solusi Permanen Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, sebagai landasan guna mengimplementasikan terhadap misi Bapel BPLS secara lebih komprehensif, integral dan holistik.
Selanjutnya pada 4 November 2010 sebagai sosialisasi dan aktualisasi, telah disampaikan secara tertulis kepada Ketua Dewan Pengarah BPLS dengan tembusan kepada seluruh anggota DP BPLS.
Adapun alur dan pola pikir sebagaimana diuraikan di bawah ini.
· Identifikasi Lusi sebagai mud volcano:
Semburan lumpur panas di Sidoarjo merupakan suatu fenomena mud volcano, sehingga memiliki konsekuensi sulit atau tidak layak (feasible) untuk dihentikan.
· Penetapan Sistem:
Sejak 25 Oktober 2007 telah ditetapkan sistem pangaliran lumpur ke laut melalui kali Porong.
Dengan penekanan bahwa kali Porong bukan sebagai sasaran akhir tapi sebagai media menggunakan energi bebas yang dimilikinya secara alami.
· Implementasi pangaliran Lusi ke laut:
Upaya dan langkah pengaliran Lusi ke laut diimplementasikan dengan membangun sarana dan prasarana, yaitu:
· Tanggul penahan lumpur di sekitar PAT untuk menampung luapan;
· Sistem pangaliran lumpur ke Kali Porong menggunakan kapal keruk; dan
· Peningkatan kondisi dan fungsi Kali Porong.
· Keluaran (Output):
Sebegitu jauh hasil yang dicapai antara lain:
1. Luapan lumpur dapat dicegah ke luar PAT;
2. Kapasitas Kali Porong tidak mengalami banjir; dan
3. Endapan lumpur telah terbawa sampai ke laut.
· Road Map Pengembangan Sistem:
Untuk peningkatan sistem utama, terus dibangun sistem pendukungnya (sebagai proses masukan), sehingga pada tahun anggaran 2011 diupayakan pembangunan seluruh sistem pengaliran lumpur ke laut melalui Kali Porong selesai.
Untuk itu mulai tahun Anggaran 2011 diharapkan hanya diperlukan biaya untuk operasi dan pemeliharaan.
B. Perubahan Mendasar Terhadap Anatomi dan Perilaku Lusi
· Kristalisasi Lusi sebagai mud volcano:
Walaupun masih berkembang kontroversi terhadap penyebab dan pemicu semburan Lusi, namun semakin mengkristal pandangan diantara ahli kebumian, bahwa Lusi merupakan suatu mud volcano yang masih diliputi oleh beberapa misteri alam.
· Tahap Perkembangan Lusi:
Saat ini mud volcano Lusi sedang menuju tahap istirahat (dormant period), sehingga tingkat ancaman yang mungkin ditimbulkannya menjadi semakin berkurang.
Hal ini didukung oleh beberapa parameter (anatomi) utama, yaitu volume semburan, kekentalan fluida, laju amblesan, populasi bubble, dan konsentrasi gas H2S:
- Volume semburan (flow rate):
Sekitar 10.000 m3/hari didominasi oleh air, temperatur diukur di lereng bawah gunung ~40oC;
- Laju amblesan (rate of subsidence):
Di sektor barat sekitar 5 cm/bulan, sebelumnya mencapai 25 cm/bulan;
- Populasi bubble:
Walaupun secara kuantitatif populasi bubble bertambah, namun durasi hidup umumnya pendek.Sehingga jumlah bubble aktif cenderung akan menurun;
- Konsentrasi gas H2S:
Relatif kecil yaitu 5 ppm, sebelumnya mencapai sekitar 35 ppm.
· Penanganan Masalah Sosial Kemasyarakatan
- Di dalam PAT:
Pembayaran jual beli tanah dan bangunan warga terdampak (Perpres 14/2007) yang dibiayai Lapindo telah mencapai 70%;
- 3 Desa di luar PAT:
Pembayaran sesuai (Perpres 48/2008) diharapkan akan mencapai 70%;
- 9 RT dari 3 Desa tidak layak huni:
Wilayah yang ditetapkan sebagai tidak layak huni (Perpres 40/2009), telah diberikan bantuan sosial kemasyarakatan untuk selama 2 tahun, dengan peta jalan selanjutnya menunggu kebijakan terkait;
- Wilayah lainnya di luar PAT:
Terhadap usulan wilayah lainnya di luar PAT dan 9 RT untuk mendapatkan penanganan sosial kemasyarakatan masih belum ada keputusan akhir.
Potret dan Kondisi Semburan Lusi Saat ini
A. Pendalaman anatomi dan perilaku Lusi pada tahap menuju dormant
Pengamatan citra satelit yang berselang waktu (time series) dibarengi pengamatan di lapangan secara berkelanjutan (hampir setiap hari), sehingga dapat menyediakan informasi yang terkini (up to date) terhadap anatomi dan perilaku mud volcano Lusi di permukaan.
Perilaku semburan Lusi (Lusi eruption behavior) sebagai suatu mud volcano yang perkembangannya telah memasuki awal tahap istirahat (initial of dormant period) terus berlanjut dan semakin mantap (telah berlangsung lebih 10 bulan).
Awalnya kondisi tersebut juga telah diklarifikasi antara lain dari Badan Geologi, KESDM dan pihak kampus ITB, UPN dll.
Gambar 1.2 Memastikan air diproduksi oleh mud volcano yang dormant hanya hangat tidak panas
Untuk mendapatkan pandangan pendamping (second opinion) dari publik umum, bahwa semburan Lusi benar-benar telah masuk pada tahap dormant, pada 3 November 2010 BPLS telah menerima tamu yaitu Mr. Chris Fong dari Immodiscus (UK), sebagai produser film Mud Max Lusi, untuk menyaksikan fakta dan realitas tersebut di langsung lapangan.
Anatomi Lusi pada tahap dormant telah dapat semakin diperjelas dari citra satelit resolusi tinggi CRISP (26 September 2010), sedangkan perilaku kawah Lusi saat ini, secara mekanisme dapat dianologikan dengan perkembangan bubble P42 (Bubble Mary) yang eksis di tenggara titik semburan, dimana juga telah menunjukkan tahap dormant.
Beberapa kesimpulan mengenai anatomi Lusi yaitu:
1) Kawah Lusi tidak beraturan dengan arah utama barat laut dan tenggara, dikontrol oleh struktur patahan;
2) Kawah sangat jelas diisi air di permukaan jernih, dengan riak ditimbulkan oleh adanya tiga titik hembusan utama, yang berada paling tenggara merupakan titik semburan utama dengan hembusan uap dan kick lumpur menganut pola ‘geyser’ (tekanan berfluktuatif);
3) Bagian lereng atas tidak beraturan dan cenderung disusun oleh lumpur yang basah; Dan
4) Luapan air terjadi bila moda semburan geyser dengan intensitas yang tinggi, air mengalir melalui sistem jaringan ngarai (canyon) atau saluran (channel) atau sungai (river) berdimensi kecil, yang paling signifikan diindikasikan berada di P.43, pengukuran 3 November debit sekitar 5.000 m3/hari.
Lainnya mengalir di selatan (P25), barat (siring-osaka) masuk ke Overflow dan di Utara pada Zona tumbukan.
Gambar 1.3 Anatomi Lusi
B. Dinamika Morfologi gunung lumpur dan implikasinya
· Hal yang mempengaruhi:
Pertumbuhan gunung Lusi di dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal (termasuk intervensi manusia).
Faktor internal yaitu: Kecepatan semburan (flow rate), kecepatan amblesan (rate of subsidence), pencairan material lumpur yang mempunyai viskositas rendah, deformasi dipicu reaktivasi patahan watukosek, deformasi dipicu runtuh seketika (sudden collapse) di sekitar kawah, dan longsoran bagian lereng bawah gunung.
· Intervensi manusia (man made):
Upaya untuk menangani luapan lumpur meliputi, pembangunan tanggul-tanggul penahan lumpur, pengaliran lumpur ke Kali Porong, dan hal yang relatif baru adalah memindahkan (mengeruk) lumpur padu pada bagian lereng bawah terutama di zona tumbukan (sektor Osaka).
· Morfologi:
Tipe gunung lumpur dengan morfologi berbentuk kubah halus yang semakin landai, dengan geometri asimetri, bagian utara dan barat lebih lebar.
Hal ini sebagai dampak telah terjadinya longsoran lereng bawah dibarengi dengan mekanisme banjir bandang lumpur dingin, dipicu oleh pencairan tubuh lumpur oleh masa air berasal dari Lusi ditambah air hujan.
· Tumbukan Lereng Gunung dan Tanggul:
Tumbukan lereng bawah berlanjut di baratlaut dan utara, yang sudah memberikan implikasi terhadap daya dukung tanggul.
Penanganan secara khusus harus dilakukan yaitu dengan memindahkan lumpur padu di zona tumbukan, untuk mencegah tekanan horizontal berlebihan pada tanggul.
Gambar 1.4 Dinamika Zona Tumbukan Lereng Bawah Lusi dan Tanggul
· Ekspansi gunung bersamaan dengan proses subduksi: Berlanjutnya amblesan ke arah pusat semburan bagian utara dari Pond Utama, bersamaan dengan terjadinya ekspansi gunung Lusi ke selatan. Dalam waktu dekat akan terjadi suatu fenomena menarik, dimana bubble berdiameter cukup besar di timur P.25 akan masuk ke bawah lereng bawah gunung Lusi, yang saat ini terus berpropagasi ke selatan. Bahkan, Kanal Barat di Pond Utama saat ini telah menerima pasokan air dengan lumpur encer berasal dari utara, mengalir ke selatan menuju intake.
· Perluasan morfologi gunung lumpur: Perluasan gunung lumpur terjadi terutama dipicu oleh terjadinya longsor bagian lereng bawah, ke arah daerah depresi atau cekungan, yaitu yang dominan di timur laut (Glagaharum) dan tenggara (Pond Reno).
Gambar 1.5 Kawah Mud Volcano Lusi
C. Pasokan dan Konsumsi sumber daya air
· Sumber dan volume air: Pasokan air di dalam Danau Lusi bersumber dari: 3 alternatif: (1) Pasokan alami (natural water supply) yang diproduksikan oleh semburan Lusi; (2) Pasokan dari luar PAT, sebagai air injeksi untuk mendukung pengoperasian kapal keruk dan hasil pemompaan air drainase untuk pengamanan banjir di luar PAT, dan (3) Masukan langsung dari air hujan ke dalam PAT.
Dengan masih diperlukannya pasokan tambahan air dari sumber luar PAT, terutamanya dari Kali Porong, hal ini mengindikasikan bahwa pasokan air alami yang merupakan daur ulang (recycle) dengan volume sekitar 10.000-15.000 m3/hari masih tidak mencukupi kebutuhan (demand) untuk mendukung pengoperasian sekitar 6 kapal keruk pada kapasitas yang optimal.
· Pola aliran air:
Air sebagai hasil langsung dari kawah pusat semburan, awalnya terakumulasi sebagai kantong-kantong genangan di bagian lereng atas, selanjutnya dari bagian hulu mengalir melalui sungai atau saluran berukuran kecil (narrow river or channel).
Sebagai titik luaran utama saat ini adalah: 1) P.43 ke Pond Reno (tenggara), 2) P.25 ke Pond Jatirejo (barat daya), 3) Pond Siring-Osaka, dan Siring selatan (barat), 4) Overflow di Osaka (barat laut), 5) TAS (utara), dan 6) Pond Glagaharum (timur laut).
D. Perubahan Kondisi lingkungan hidup khususnya di dalam PAT
Seiring perilaku Lusi yang telah mengalami perubahan cukup mendasar dari sebelumnya suatu mud volcano yang tumbuh dengan sangat progresif, dicirikan oleh tingginya kecepatan semburan lumpur panas, saat ini menjadi mud volcano Lusi yang mendekati tahap dormant, dengan material yang dierupsikan terutama air dengan temperatur hangat.
Kondisi ini telah memberikan implikasi terhadap daya dukung lingkungan hidup. Fakta lapangan menunjukkan, bahwa khususnya satwa burung-burung semakin dapat beradaptasi, sebagai cerminan hidup harmoni dengan semburan Lusi generasi baru.
Gambar 1.6 Kawanan Burung “Living Harmony with Lusi Mud Volcano”
E. Penanganan Khusus Bubble Jatirejo dan Bubble Mary
Bulan Oktober BPLS telah melakukan penanganan khusus terhadap 2 bubble masing-masing:
1) Bubble di Jatirejo:
Untuk pertama kalinya Bapel BPLS melakukan penutupan (menimbun) kolam bubble Jatirejo. Keputusan ini diambil, karena bubble tersebut telah aktif kembali dengan cepat.
Dalam waktu sekitar 3 hari saja telah membentuk sumur berdiameter ~ 3m terisi air, dengan bualan gas, yang lokasinya sangat berdekatan infrastruktur penting yaitu jalan kereta api, jalan raya dan tanggul penahan luapan lumpur;
Gambar 1.7 Penimbunan Kolam Bubble di Jatirejo
2) Bubble Mary di P 42:
Merupakan yang pertama kalinya Bapel BPLS melakukan pengurasan terhadap air pengisi bubble, dengan tujuan untuk lebih mengetahui geometri kolam (berbentuk corong), sumber dan intensitas pasokan air, lokasi dan intensitas titik hembusan.
Selanjutnya kolam bubble Mary telah diisi dengan ikan hidup, untuk meyakinkan bahwa air tidak beracun.
Hasil penting adalah bahwa pasokan pada bubble berasal dari sumber air dangkal yang tidak bersifat artesis (bertekanan tinggi), masa hidup yang pendek. Saat ini sudah pada tahap dormant, dicirikan air di permukaan jernih tidak ada kick dan hanya ada riak dipicu oleh 2 titik hembusan gelembung gas tanpa kandungan metan.
Kondisi bubble Mary yang dormant ini digunakan sebagai analogi untuk memahami kondisi kawah Lusi, walaupun terdapat perbedaan dalam dimensi dan intensitasnya.
Gambar 1.8 Analogi anatomi dan pengendali mekanisme semburan mud volcano Lusi dan Bubble Marry dalam tahap dormant
Gambar 1.9 Meyakinkan bahwa air di Bubble Marry segar, jernih dan tidak beracun
Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian
A. Arah kebijakan Presiden Tentang Solusi Permanen
Bapak Presiden RI telah memberikan arah kebijakan sehubungan dengan kejadian bencana alam di Indonesia akhir-akhir. Pokok-pokok arah kebijakan khusus untuk Lusi adalah:
(a) Dicarikan solusi yang permanen; dan
(b) Perlu ada kajian berbasis ilmiah untuk kehidupan Lusi ke depan, bila dipandang perlu melibatkan pihak asing.
Atas arah kebijakan Presiden tersebut yang umumnya diketahui dari sumber surat kabar, di lapangan masih terdapat multi tafsir, antara kata kunci solusi permanen dan melibatkan peneliti asing.
B. Ikatan Ahli Perminyakan Indonesia (IATMI) Usulkan Mematikan Semburan
Dengan menyimak arahan Presiden RI tentang solusi permanen, telah dilakukan brainstorming di lingkungan internal IATMI, dengan sasaran strategis untuk menyusun proposal ditujukan langsung mematikan semburan (kill eruption) menggunakan teknik Relief Well.
Pada proposal yang akan disampaikan ke Pemerintah tersebut di dalamnya termasuk sasaran antara pengambilan data seismik refleksi 3-D, dengan sasaran untuk mendukung operasi penghentian semburan Lusi dengan pemboran Relief Well.
Tahap pengambilan data seismik refleksi 3-D tersebut berbeda dengan sasaran rencana dari Badan Geologi didukung BPLS untuk lebih memahami anatomi bawah permukaan, guna memantapkan pengendali mekanisme semburan Lusi saat ini.
Kondisi semburan Lusi yang cenderung dormant dianggap IATMI sebagai peluang, namun juga disadari bisa menimbulkan dampak negatif antara lain membangunkan kembali interval semburan besar (recurrent big eruption).
Atau dapat memicu lahirnya semburan baru, melalui bidang-bidang patahan (fault planes).
Bila tidak dilakukan pemaknaan yang tepat terhadap arahan Presiden tentang Solusi Permanen semburan Lusi, dan dilakukan koordinasi yang baik diantara institusi terkait (Badan Geologi, KESDM), dikhawatirkan pada tataran pelaksanaannya menjadi kurang produktif.
C. Mendesak Dikeluarkan Keputusan dan Kebijakan Terkait Status Wilayah Dinyatakan Tidak Layak Huni
Kondisi di lapangan mengindikasikan bahwa warga yang wilayahnya diusulkan sebagai wilayah tidak layak huni, sudah mempunyai ekspektasi yang tinggi.
Bahkan tuntutan skenario optimal dari warga semakin mengkristal wilayahnya dimasukkan ke dalam PAT.
Hal ini semakin kuat dengan adanya dukungan antara lain dari Kementerian LH selaku anggota Dewan Pengarah, didasarkan atas data batas ambang kandungan gas ‘beracun’.
Sementara itu Badan Geologi, KESDM telah menyampaikan analisis geohazard sebagai alat bantu penentuan zona atau wilayah dari tingkat bahaya geologi.
Terkait wilayah 9 RT dari 3 Desa di luar PAT yang wilayahnya ditentukan tidak layak huni (Perpres 40/2009) dan telah diberikan paket bantuan sosial kemasyarakatan untuk durasi 2 tahun, perlu ada kepastian peta jalan selanjutnya.
D. Perhatian dan Tindak Lanjut Temuan Tubuh Struktur Lumpur dan Perilaku Lusi ke Depan
Hasil presentasi dari Tim Rusia yang signifikan adalah didefinisikannya dengan teknologi GIS-3D keberadaan 2 struktur lumpur atau umum disebut sebagai mud diapir, telah berkembang di timur laut dan barat daya dari mud volcano Lusi yang sekarang.
Seperti diketahui bahwa struktur mud diapir masih berada di bawah permukaan bumi.
Apabila adanya pemicu tertentu, sehingga dikhawatirkan dapat ke luar ke permukaan bumi, yang selanjutnya bisa berkembang menjadi suatu mud volcano seperti Lusi.
Peringatan dini dari Tim Rusia tersebut kiranya harus ditindaklanjuti antara lain:
· Melakukan klarifikasi dan pandangan kedua (second opinion) untuk memastikan apakah keberadaan struktur diapir lumpur tersebut dapat dibenarkan; dan
· Melakukan pengelolaan resiko bencana, apakah peringatan dini dari Tim Rusia bahwa daerah di sekitar indikasi keberadaan mud diapir tersebut harus dikosongkan mempunyai rasionalisasi yang kuat.
Gambar 1.10 Analisa Peneliti Rusia Tentang Adanya Mud Diapir
E. Kirka durasi Lusi ke depan
Kondisi aktual Lusi yang telah menunjukkan tahap perkembangan sebagai mud volcano yang dormant, sehingga memberikan implikasi terhadap kirka durasi Lusi ke depan yang selama ini telah ditentukan.
Sebelumnya para ahli telah menghitung durasi Lusi berdasarkan perhitungan volume reservoir sumber lusi dari Formasi Kalibeng Atas, tepatnya dari satuan batu lempung yang ‘overpressure’.
Selanjutnya dibagi dengan rate of flow rata-rata semburan Lusi pada tingkat 90.000-100.000 m3/hari, menghasilkan perkiraan durasi skenario pendek – panjang berkisar pada 20 - 30 tahun.
Dengan fakta bahwa saat ini flow rate Lusi hanya 15.000 m3/hari dengan sedikit atau tanpa material padatan lumpur, sehingga perhitungan di atas menjadi tidak layak untuk digunakan.
Pertanyaan mendasar adalah: Bagaimana perspektif ke depan setelah lusi masuk ke periode dormant?
Sebegitu jauh belum ada pihak-pihak yang dapat memastikannya, dari 3 skenario:
1) tetap dormant seperti sekarang,
2) akan mati suri, dan
3) kembali ke interval semburan dengan intensitas tinggi.
Para ahli sependapat bahwa Lusi akan mati suri bila tekanan ‘overpressure’ telah setara dengan tekanan hidrostatik di permukaan, atau sumber air dan padatan sudah minimum.
Kirka terhadap durasi Lusi cukup strategis untuk memperkaya penyusunan road map penanggulangan semburan dan luapan Lusi ke depan.
Pihak Rusia yang telah mengusulkan kepada BPLS sistem pemantauan dinamika bawah permukaan Lusi disebut Poligon, diharapkan sebagai langkah nyata untuk menjawab pertanyaan tersebut.