Posting Awang 27 Maret 2015:
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=678116509001640&id=100004098920754&comment_id=678151548998136¬if_t=mentions_comment
LUSI-KALANG ANYAR-GUNUNG ANYAR OIL FIELDS”
“Memandang sesuatu jangan hanya pada satu sisi dan satu waktu.” - Awang Satyana
-----------------------------------------------
Semua hal itu selalu ada dua sisi: positif-negatif, untung-rugi, peluang-tantangan, kekuatan-kelemahan, dll. Begitu juga yang namanya bencana. Begitu juga yang namanya LUSI – Lumpur Sidoarjo, sebuah semburan lumpur dan air panas yang juga membawa gas, material batuan, dan fosil, yang terjadi sejak hampir sembilan tahun yang lalu di sebuah area di utara Kali Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Dalam lima tahun pertama sejak kelahirannnya pada 29 Mei 2006 ramai dan heboh sekali kita: masyarakat, aparat Pemerintah, pengusaha, kepolisian, para ahli, LSM-LSM, media, dll. membicarakan LUSI. Mereka berdebat dan bergunjing tentang asal-muasal kejadiannya, beberapa orang diseret ke pengadilan, meskipun akhirnya mentah kembali kasus hukumnya karena perbedaan pendapat. Tiga kecamatan yang dihuni oleh hampir 9500 warganya harus keluar dari wilayah tempat kelahiran LUSI sebab ia membanjiri dan menenggelamkan semua yang ada di permukaan.
Sebagian besar orang menyebut LUSI sebagai LULA (lumpur Lapindo) sebab sebagian besar orang percaya (entah tahu dengan detail atau hanya tahu dari teman atau media) bahwa sumur Banjarpanji-1 yang dibor oleh Lapindo (Maret-Mei 2006), sebuah kontraktor migas di Jawa Timur, penyebab semburan lumpur itu. Pendapat ini makin kuat sebab banyak ahli menyokongnya (entah para ahli itu tahu dengan detail atau tidak). Beritanya makin heboh sebab Lapindo adalah sebuah anak perusahaan Bakrie Group yang dimiliki Aburizal Bakrie, tokoh politik yang tak jarang sensasional yang sekarang pun sedang bertempur di dalam partainya. Maka LUSI pun masuk ke dalam arus politik. Dan sekali masuk ke arus itu, kehebohanlah yang terjadi.
Saya, sebagai seorang geolog dan bekerja di BPMIGAS (SKK Migas sekarang) yang ikut mengawasi operasi Lapindo, terseret juga dalam arus perdebatan besar tentang asal-muasal LUSI tersebut. Dan saya telah terlibat baik dalam perdebatan di pertemuan-pertemuan ilmiah dalam negeri maupun luar negeri, di jurnal-jurnal, di milis-milis, maupun secara nyata dipanggil untuk dimintai keterangan-keterangan atau sebagai saksi ahli oleh DPR, DPD, Komnas HAM, Kepolisian, dan terakhir oleh Mahkamah Konstitusi terkait UU revisi APBN untuk ganti rugi LUSI dari anggaran Pemerintah. Tetapi kembali ke kalimat awal bahwa semua hal selalu ada dua sisi, LUSI memang cukup merepotkan saya selama bertahun-tahun dan mungkin menambah lawan, tetapi ia juga menambah banyak pengetahuan saya soal mud volcano dan menambah kawan juga.
-----------------------------------------------
Ketika beberapa minggu lalu kawan-kawan saya di Divisi Pengkajian dan Pengembangan SKK Migas meminta saya untuk berbicara soal “overpressure” dalam sebuah lokakarya/workshop yang diadakan mereka bersama tim studi yang menamakan diri INOV – Indonesia Overpressure (gabungan beberapa perguruan tinggi), saya menyetujui permintaan itu dan mengajukan bahwa saya akan berbicara soal gunung-gununglumpur di Jawa, kejadiannya, sifatnya dan manfaatnya untuk eksplorasi hidrokarbon. Gununglumpur adalah manifestasi permukaan untuk overpressure release di bawah permukaan
Maka dua hari kemarin, 25-26 Maret 2015, kawan-kawan ini berhasil mengadakan lokakarya itu yang dihadiri oleh hampir 200 orang profesional migas (geosaintis dan engineers serta profesi lain yang terkait) dengan judul lokakarya “1st Indonesian Geopressure, Drilling Hazard, & Petroleum System Workshop”. Sebanyak 19 makalah dibahas dalam dua hari itu yang bertempat di gedung pertemuan SKK Migas (City Plaza Lt. 9) dari pagi-sore. Saya mengamati para peserta antusias, banyak belajar, dan sekitar 80 % peserta masih bertahan sampai acara penutupan kemarin sore.
Panitia dengan cepat mengadakan survei di antara peserta, dan dari hasil survei diketahui bahwa pengetahuan peserta bertambah signifikan dalam dua hari lokakarya ini dibandingkan sebelumnya. Menutup acara ini ada presentasi dari Tim Studi INOV untuk menawarkan kepada para peserta yang datang dari banyak oil company itu untuk melanjutkan studi ini dengan fase berikutnya. Tujuan akhir studi ini adalah untuk memelajari masalah overpressure di Indonesia baik untuk keperluan keamanan pengeboran maupun untuk prospektivitas migas yang berhubungan dengan overpressure.
Ini memang workshop pertama tentang overpressure. Prof. Lambok Hutasoit dan Dr. Agus Ramdhan dari ITB, penggerak utama INOV berpendapat Indonesia punya kekhasan overpressure di dunia yang tak termasuk blok-blok pemikiran overpessure di dunia yang selama ini berlaku. Benar, saya sepakat, karena itu lokakarya ini menjadi begitu penting.
-----------------------------------------------
Presentasi saya mengakhiri serangkaian presentasi semua makalah dalam dua hari kemarin. Dalam presentasi ini saya menunjukkan “hukum-hukum” geologi yang mengendalikan kejadian gununglumpur, yang saya sebut saja “hukum elisional” (Kartzev et al., 1969, Kholodov, 2002; Akhmanov & Mazzini, 2007) , yang menyatakan bahwa gununglumpur akan terjadi di area:
• Young tectonic depression
• Relatively quick and stable tectonic submergence of a basin
• Deposition of ultrathick (up to 15 km) sedimentary series
• Younger deposits entirely cover underlying series
• With a depth of burial it causes fluid overpressure and sediment undercompaction
• Positive tectonic movements are very recent
• Permeable rocks do not outcrop at the surface even at the perpheral parts. Clastic and clayey sediments serve as gas and water source, conserving initial pore waters and producing diagenetic fluids at depth
• A pressure gradient and fluid migration from central part of basins to their peripheries
• Main source of diagenetic waters is buried clayey series where as sandy intervals serve as passive repositories
• Usual high geothermal gradient encourages these processes
Kondisi ini dengan ideal dipenuhi oleh sebuah depresi dalam di tengah Pulau Jawa sampai Selat Madura: Palung Bogor-Serayu Utara-Kendeng-Selat Madura. Dan di situlah memang berkumpul hampir semua gununglumpur atau gejala diapirisme di Jawa dan Madura.
Secara khusus, saya juga membahas bagaimana gunung-gununglumpur ini berpengaruh kepada petroleum system. Lempung atau serpih yang kaya zat organik, yang tenggelam dengan cepat ke kedalaman tertentu, khususnya di temperatur antara 90-130 C akan mengalami dua hal, bila lempung kaya mineral smektit ia akan mengalami transfomasi menjadi ilit, produk perubahan ini adalah air hasil diagenesis/transformasi lempung tersebut. Kandungan air ini akan membuat kompleks batuan tidak kompak dan bertekanan overpressure. Tekanan ini, bersama dengan tekanan overburden batuan di atasnya akan menekan kompleks di sekitarnya, dan bila nanti melewati ambang batas tekanan kritis yang bisa ditahan, lebih-labih lagi bila ada patahan, maka tekanan abnormal overpressure ini akan lepas menjadi diapir baik melalui patahan atau pembobolan tekanan overburden (breaching), dan bila diapir sampai permukaan maka akan menjadi erupsi gununglumpur.
Pada kedalaman temperatur yang sama, 90-130 C, itu juga merupakan kedalaman generasi minyak (oil window), maka minyak dihasilkan dari lempung kaya organik ini, dan pada saat terjadi diapirisme seperti dijelaskan di atas, atau erupsi gununglumpur di permukaan, minyak pun terbawa bersama lumpur dan air hasil perubahan diagenetik lempung smektit ke ilit. Di samping minyak, gas metana pun bisa terbentuk dan terbawa ke permukaan.
Apakah minyak yang digenerasikan itu bisa terperangkap di bawah permukaan dan kelak menjadi lapangan? Tentu saja, sebab minyak yang disemburkan gununglumpur itu hanya sebagian kecil sekali, sebagian besarnya masih di bawah permukaan, itulah yang kelak kemudian hari menjadi lapangan minyak. Ini bukan khayalan geologi, sebab banyak lapangan minyak di South Caspia, di wilayah Azerbaijan, Kazakhstan, ditemukan di area gununglumpur lama, juga di beberapa tempat lain seperti di Trinidad, sebelah selatan Laut Karibia, Amerika Tengah. Beberapa gambar dan foto menunjukkan hal ini.
Kompleks gununglumpur lama yang membuat kelurusan BD-TL dengan LUSI, antara lain Kalang Anyar dan Gunung Anyar, masih mengeluarkan rembesan minyak, LUSI pun mengandung rembesan minyak dan banyak gas metana di sekelilingnya. Saya menafsirkan ada dapur minyak/gas aktif (active kitchen) di bawah kompleks gununglumpur ini. Bisakah kita kelak mengeksplorasinya untuk menemukan lapangan minyak/gas di area gunung-gununglumpur ini? Mengapa tidak. Itu sudah terjadi di South Caspia yang sama-sama dengan di Depresi Jawa-Madura ini memenuhi hukum elisional.
“Lusi oil field”, “Kalang Anyar oil field”, “Gunung Anyar oil field” bukan sebuah khayalan geologi yang keterlaluan. Mereka pada masanya memang menjadi bencana sebab bersentuhan dengan wilayah hunian manusia. Semua proses geologi yang akut (longsoran, gempa, erupsi) bila bersentuhan dengan manusia kita sebut bencana. Gunung Anyar adalah bencana buat Majapahit seperti disebutkan di Kitab Pararaton. Tetapi siapa tahu kelak pada masa yang lain mereka adalah lapangan-lapangan minyak (!).
Memandang sesuatu jangan hanya pada satu sisi dan satu waktu.
SUATU PENCERAHAN DARI Awang Satyana (beberapa saat yang lalu) terhadap Lusi masa lalu, Sekarang dan Kedepan, dengan banyak memberikan contoh ideal dari mud volcano di Azerbaijan dan Laut Kaspia
Kita jangan terpaku pada kondisi saat ini, juga seyogyanya melihat ke depan.
Di Azerbaijan dan Laut Kaspia lapangan-2 minyak berada di dekat dari Paleo mud volcano,
Quick Response:
From Russian With Lusi 2010, Kunjungan ke Rusia
Saat even from Russian to Lusi, mendapatkan Informasi dari ahli Kebumian Rusia:
1) Mud volcano sebagai alat bantu dalam mengindikasikan Dapur Migas;
2) Mud volcano dengan struktur pembubungan (piecerment structure) sehingga membentuk struktur antiklin, pada sayap merupakan perangkap struktur.
3) Banyak mud volcano di Rusia yang mempunyai hubungan aktivitasnya dengan kegempaan;
4) Tidak pernah terpikir oleh ahli Kebumian suatu mud volcano yang perlu atau dapat dibunuh semburannya;
5) Tim Rusia menemukan 2 tubuh mud diapir, yang disebutnya bisa berkembang menjadi semburan mud volcano bila di picu gempabumi.
6) Tim Rusia berdasarkan stratigrafi bagian atas Lusi terdiri dari selang seling pasir lumpur, menyebutnya sebagai bukti adanya perulangan semburan mud volcano yang berulang;
7) Tim Rusia beranggapan bahwa Kejadian Lusi awalnya sebagai struktur diapir (struktur lumpur) selanjutnya dipicu oleh Gempabumi yang terjadi November 2005, sedangkan Gempabumi Yogyakarta 29 Mei sebagai Kickoff pemicu semburan;
8) Tim Rusia berpendapat dengan pandangan bahwa sumber air utama dari Lempung Formasi Kalibeng yang mengalami transformasi mineral lempung. Jadi antara sumber lumpur overpressure sama dengan sumber air' Kurang sependapat sumber air dari reservoir Formasi Kalibeng.