Fenomena LUSI merupakan suatu kesempatan yang unik (unique opportunity) untuk memantau (monitoring) dan memahami (understanding) terhadap mekanisme yang terjadi selama semburan gunung lumpur (mud volcano eruption),
Mulai dari saat ia dilahirkan (birth of mud volcano) sampai saat tumbuh dan berkembangnya (growth and development stage).
Perilaku semburan yang menakjubkan (Its pulsating behaviour) dan masih berlanjut berjangka panjang (long way continuation), menyediakan suatu data yang bernilai untuk membantu dalam menyusun evolusi erupsi vulkanik yang belum lengkap.
Data yang tersedia menunjukan bahwa selama masih berlangsungnya semburan lumpur, maka secara sistem mempunyai tingkat kekritisan, dan bila ditambahkan dengan faktor-faktor eksternal lainnya, menyebabkan lokasi Lusi dapat terinisiasi terjadinya even bencana (hazard event).
Walaupun kesimpulan ini adalah hasil dari suatu rangkaian penyelidikan, namun pengamatan para penulis telah mengkerucut bahwa gempabumi yang terjadi 27 Mei 2006 di Yogyakarta, dianggap telah memicu terjadinya semburan lumpur (triggering mud eruption).
Model konsep yang baru (new model conception) adalah bahwa terjadinya semburan lumpur diawali oleh rekahan diikuti dengan migrasi secara vertikal lumpur bertekanan tinggi (fracture following vertical migrating of overpressure mud).
Pengangkatan lumpur ke permukaan dihasilkan oleh adanya pengurangan tekanan dari keluaran dari gas yang tidak terlarut di dalam rongga air (pore fluid). Pengendali daya (driving force) ini memungkinkan lumpur mencapai permukaan bumi dengan kecepatan yang tinggi untuk menginduksi pendidihan pada kedalaman dan fluida rongga yang panas.
Fenomena volkanisme lumpur (mud volcanism phenomenon) masih sangat sedikit dipelajari di Indonesia, walaupun Lusi telah menjadi suatu bencana yang menimbulkan kerugian masyarakat berpenduduk yang banyak.
Gambar 1. (Atas) Bagian peta citra satelit memperlihatkan elevasi P. Jawa. Busur volkanik berlokasi di bagian selatan. (Bawah) Cekungan busur belakang, dimana LUSI disemburkan, terdapat di bagian utara dari busur volkanik. Sesar ‘Watukosek’ berkembang dengan arah dari gunung Penanggungan kearah timur laut. Secara rinci, citra satelit memperlihatkan adanya fenomena pembelokan aliran sungai, gawir (escarpment) Watukosek dan gunung Penanggunan dipotong oleh sesar berorientasi timur laut-baratdaya. Foto satelit dari Google Earth.
Gambar 4. Citra satelit dari daerah sekitar Lusi sebelum semburan. Bintang biru mencirikan bahwa lokasi rembesan dan semburan diamati selama minggu pertama sejak 29 Mei. Lokasi erupsi dan evolusinya tampak selaras mengikuti orientasi yang bersamaan dengan orientasi sesar SW-NE. Orientasi dari sesar ditandai oleh garis putus-putus kuning. Pada kedudukan semburan fluida dan lumpur telah diawali dengan observasi semburan dari tiga lokasi berdekatan.
Gambar 5. Pemantauan kinerja dari lokasi LUSI. Perioda semburan kuat bersamaan dengan catatan puncak kandungan H2S dan CH4. Bintang mencirikan catatan gempabumi dengan kekuatan M>3,7 dan dengan pusat gempa berjarak 300 km dari Lusi (Sumber USGS). Perlu dicatat bahwa pemantauan selama bulan Juni dan Juli telah 2007 dilaksanakan pada saat kecepatan harian dan karena itu tidak akurat untuk bagian sisa dari catatan; setelah tanggal 26 September pemantauan telah dilaksanakan kira-kira setuap 4 hari. LEL diukur dari konsentrasi CH4 pada emisi asap gas, dimana 20% setara dengan 10.000 ppm
Gambar 6. Foto memperlihatkan aktivitas semburan Lusi yang berbeda-beda: (A) Lusi pada hari pertama; (B) asap dan lumpur disemburkan pada bagian tengah dari sawah pada pagi hari; (C) perioda aktivitas tinggi selama konstruksi dari dam tanggul pelindung di sekitar kawah; (D-F) citra helikopter dari Lusi dan daerah sekelilingnya dibanjiri oleh semburan lumpur. Catatan asap tebal pada citra D dan sumur BJP-1 pada citra E. Citra F memperlihatkan rincian dari kawah selama aktivitas pada perioda rendah.