Oleh:
Hardi Prasetyo
Wakil Kepala Bapel BPLS
Makalah dikontribusikan pada acara:
Sosialisasi Hasil-hasil Pembangunan Bidang Pertambangan dan Energi di Jawa Timur tahun 2007
yang dilaksanakan pada tahun Anggaran 2008
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Provinsi Jawa Timur
7 Agustus 2008, Pandaan, Kabupaten Pasuruan
Latar Belakang
Tidak ada seorangpun yang membayangkan sebelumnya, bahwa Semburan Lumpur Panas Sidoarjo (hot mud eruption and flow) yang dilahirkan pada tanggal 29 Mei 2006 di Kabupaten Sidoarjo, akan terus tumbuh subur dan berkembang sedemikian dahsyat.
Gambar 1: Transisi dari Timnas PSLS ke BPLS, acara bedah buku Sempuran Lumpur Panas Sidoarjo, penulis Basuki. H., (2008) ditelaah oleh Prasetyo (2008).
Sampai saat melewati umur dua tahun (29 Mei 2008), LuSi masih terus menimbulkan implikasi yang sangat luas terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat di daerah sekitar Bencana tersebut.
Atas dasar hal tersebut diperlukan suatu kepedulian, komitmen dan dorongan yang kuat dari seluruh komponen bangsa Indonesia, untuk berkontribusi baik langsung atau tidak. Guna menanggulangi bencana (disaster management)secara lebih komprehensif, integral dan holistik. Baik oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Masyarakat setempat, dan pihak-pihak lainnya yang terkait secara langsung.
Sejak awal terjadi semburan lumpur Sidoarjo (Sidoarjo mud eruption), telah dilakukan berbagai upaya untuk menanggulanginya baik langsung ditujukan untuk mematikan semburan (stopping eruption), maupun untuk mengurangi kecepatan luapan lumpur (mud flow rate). Namun sebegitu jauh masih belum mencapai hasil yang memadai, sebagaimana ekspektasi masyarakat yang demikian tinggi.
Oleh karena itu dipandang perlu adanya peningkatan pengendalian terhadap semburan dan luapan lumpur, guna menyelamatan penduduk beserta harta bendanya, serta penanganan masalah sosial dan infrastruktur.
Terdapat perbedaan mendasar dalam aspek kebencanaan (disaster aspect) yang ditimbulkan Lusi, bila dibandingkan dengan bencana nasional lainnya yang telah terjadi, antara lain Tsunami di NAD dan Gempabumi Yogyakarta. Pada kedua bencana nasional tersebut pengendali mekanismenya sebagai fenomena geologi yaitu gempabumi yang memicu tsunami telah berlalu. Sehingga penanganan ‘bencana’ selanjutnya dapat terfokus pada pemulihan dan normalisasi(recovery and normalization) kehidupan masyarakat serta infrastruktur.
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan yang terjadi pada fenomena Lumpur Sidoarjo, dimana sebagai pengendali mekanisme bencana yaitu semburan dan luapan lumpur panas (eruption and flowing of hot mud) masih terus berlangsung. Bahkan banyak para ahli kebumian (Earth Scientists), memberikan pandangan yang pesimisme terhadap upaya manusia untuk dapat menghentikan semburan (stopping eruption). Atau bila dapat berhenti dengan sendirinya(self stop eruption) akan memerlukan durasi antara 20-30 tahun ke depan.
Bersamaan dengan itu terjadi geohazard (patahan, rekahan, penurunan tanah dan amblasan, bubble dengan air dan gas metan dan H2S), bencana ikutan ini juga terjalin erat dengan fenomena dampak lingkungan hidup (environmental impact).
Perhatian Fenomena Lusi oleh Masyarat Internasional
Sejak awal kejadiannya dan berlanjut seiring perjalanan waktu, Lumpur Sidoarjo (Lusi) oleh international communitytelah ditempatkan pada literatur (terutama yang menonjol di cybernet) sebagai salah satu fenomena aliran lumpur(mud flow), atau semburan lumpur (mud eruption), atau secara lebih khusus lagi ditetapkan sebagai salah satu dari ribuan gunung lumpur (mud volcano) yang berkembang di planet bumi (the Earth Planet). Baik di daratan (onshore), maupun di lepas pantai (offshore).
Gambar 2. Skematik diagram memperlihatkan kontroversi antara mudvolcano dipicu gempabumi atau dipicu Underground blowout, acara bedah buku Sempuran Lumpur Panas Sidoarjo, penulis Basuki. H., (2008) ditelaah oleh Prasetyo (2008).
Penempatan Lusi sebagai fenomena geologi (natural phenomenon) ditentukan baik dengan memperhatikan faktor-faktor penyebab maupun pemicu (causing or triggering). Atau yang semata-mata hanya melihat dari wujud dan karakteristik akhir (the end of shape and characteristics), yaitu kedahsyatan seluruh sistem semburan lumpur panas(spectacular hot mud eruption) yang mencakup karakteristik fisik, intensitas semburan dan luapan, serta kenampakannya di permukaan bumi (surface of the Earth).
Suatu hal yang patut mendapatkan perhatian kita bersama adalah Fenomena Lusi dengan Misteri yang menyelubunginya tersebut pada bulan Oktober 2008 di Cape Town, Afrika Selatan akan dibawa pada forum Debat Internasional (international debate) yang diselenggarakan oleh AAPG (Asosiasi Ahli Geologi Perminyakan), dimana akan menghadirkan 5 panelis (2 dari Indonesia) yang dipilih dari kedua pihak pengusul terkait (gempabumi & pemboran).
Gambar 3. Memperlihatkan posisi Lumpur Sidoarjo oleh Davies et al., 2007 di sebut sebagai mud volcano yang tumbuh dengan cepat, di-overlay dengan gunung Pananggungan di selatan diperkirakan menginduksi gradient panas (thermal gradient), serta gawir (escarpment) yang ditafsirkan sebagai Patahan Watukosek (Mazzini et tal., 2008) yang berperan sebagai pengendali mekanisme Lusi diaktifkan kembali oleh adanya gempabumi Yogyakarta. Foto (Prasetyo 2007) diambil dari Tanggul Perumtas di sebelah Pond Glagaharum.
Diposkan 11th January 2012 oleh Lusi: Dari Bencana ke Manfaat