SERI PENELAAHAN : SEMBURAN LUSI
DAMPEK GEOHAZARD, SUBSIDENCE
CHRIS ROWAN
HUT 2 LUSI 29 MEI 2008
OLEH: Chris Rowan
Ditelaah Oleh: Hardi Prasetyo
5 Juni 2008 (Pasca sudden collapse di pusat semburan)
Lusi sinking into its own caldera : Highly Allochthonous
30 May 2008 ... Chris Rowan is a geologist specialising in the dark arts of .... The collapse will continue until the pressure in the aquifer falls below ...
scienceblogs.com/.../lusi_sinking_into_its_own_cald.php - Tembolok - Mirip
http://scienceblogs.com/highlyallochthonous/2008/05/lusi_sinking_into_its_own_cald.php
The Authors
Chris Rowan is a geologist specialising in the dark arts of paleomagnetism, and getting people to pay him to travel to exotic destinations for fieldwork. Having drilled up New Zealand during his PhD, and South Africa in his first post-doc, he now works at the University of Edinburgh.
· Berita aktual dan isu kritis mengemukan tentang Subsidence
Setelah dua tahun dari saat pertama terjadinya semburan Lumpur Sidoarjo (29 Mei 2008), saat ini fenomena Penurunan amblesan (subsidence) di sekirat pusat semburan kembali mendapatkan perhatian baik dari media massa, para pakar kebumian, maupun masyarakat luas.
Citra Satelit IKONOS-CRISP Mei 2008
http://www.crisp.nus.edu.sg/coverages/mudflow/index_IK_p28.html
· Lusi ditetapkan sebagai suatu gunung lumpur yang tumbuh paling cepat di dunia
Lusi Mud volcano yang tumbuh paling cepat di dunia (the World’s fastest-growing mud volcano) telah mengalami amblesan (subsidence) lebih dari tiga meter (April).
Publikasi Mud Volcano Collapse
http://www.dur.ac.uk/news/newsitem/?itemno=6575&rehref=%2Fnews%2Farchive%2F&resubj=%20Headlines
· Selama 2 tahun Lusi telah mengalami penenggelaman mencapi 140 m
Pada ulang tahunnya semburan yang ke dua di pulau Jawa, Indonesia, ilmuwan telah mendapatkan bahwa gunung (Lusi) dapat tenggelam sampai kedalaman 140 meter yang akan memberikan dampak pada lingkungan di sekelilingnya.
· Implikasi terjadinya runtuhan 3 m
Dengan runtuhnya pusat semburan sebesar 3 meter dalam satu malam, disebutkan tahap berikutnya akan mengawali suatu wujud sebagai kaldera. Merupakan suatu daerah depresi (depression region) dari volkanik, sebagaimana dikemukakan oleh Abidin (ITB) dan Davis (Durham University)
· Temuan Abidin dan Davies tersebut dipublikasikan:
Temuannya berdasarkan pengukuran Global Positioning System (GPS) dan citra satelit, diterbitkan di Journal Environmental Geology.
· Fenomena subsicence bukan hal yang mengejutkan tapi sebagai bagian daripada perkembangan semburan Lusi
Suatu fakta bahwa amblesan terjadi sebenarnya bukan merupakan suatu yang mengejutkan; Karena hal tersebut merupakan konsekuensi dari semburan itu sendiri.
Lusi sebagai hasil dari suatu akuifer bawah permukaan (subsurface aquifer)– mempunyai porositas (porosity), merupakan suatu horizon batuan yang mengandung air, dimana telah di peras oleh adanya beban berat dari batuan-batuan yang berada di atasnya.
· Pembentukan tekanan ekstrim tinggi (overpressure)
Karena batuan penutup (cap rocks) merupakan batuanlumpur yang tidak memiliki permeabilitas, sehingga air tidak dapat bergerak kemana-mana sebagai respon dari pemerasan tersebut. Sehingga air dalam akuifer akan berada pada tekanan yang ekstrim tinggi (overpressure condition).
· Terjadinya semburan ke permukaan
Saat terjadi breach, semua tekanan mempunyai jalan keluar, menyebabkan tekanan menyempur ke atas, bercampur dengan batulempung dimana pada saat bergerak ke atas membentuk lumpur Lusi
· Hubungan antara Semburan dan Penurunan
Sangat jelas bahwa semburan Lusi menyebabkan terjadinya pengurangan tekanan air di dalam akuifer; sejak tekanan telah bertambah oleh berat dari batuan-batuan penutup- karena adanya pengurangan berat dari lumpur yang disemburkan ke permukaan.
Pengurangan volume dari batuan lumpur akan menyebabkan tekanan pada akuifer, dan memicu terjadinya penurunan di daerah dimana terjadi semburan.
· Pengamatan Penurunan oleh Abidin dkk., 2008
Paper Abidin et al., 2008, Subsidence and Uplift of Sidoarjo (East Java) due to the eruption of the Lusi mud volcano (2006-present)
http://www.springerlink.com/content/n4134l74471rw572/
Abidin et al., mengamati fenomena penuruntan dan Pengangkatan Lusi secara seksama.
Data GPS yang dipresentasikan dikumpulkan antara Juni 2006 dan September 2007, telah mencirikan adanya fenomena penurunan antara 2-4 cm per hari pada empat atau lima bulan pertama setelah semburan, dan setelah itu kecepatan penurunan melambat menjadi 0,1-0,3 cm per hari.
· Hasil pengukuran terakhir dan fakta amblesan terbaru
Pengukuran terbaru memperlihatkan pergerakan vertical sampai 10 cm – sampai yang pernah terjadi 3 m (April), 4-11m (Juni 2008), hal ini mengindikasikan bahwa penurungan sekarang berlangsung oleh adanya sesar ekstensi (extensional faulting) sekitar saluran (vent).
· Identifikasi penurunan dan pangangkatan dari Citra Satelit Insar
Citra satelit Lidar yang digunakan untuk mengamati kondisi deformasi secara regional mencirikan adanya daerah yang mengalami penurunan (subsidence), namun juga mengalami pengangkatan (uplift).
· Peran Sesar Watukosek pada Penurunan dan Pengangkatan
Adanya batas daerah pengangakatan dan penurunan regional mengikuti arah sesar regional (Watukosek Fault). Pertanyaan kritis adalah apakah sesar tersebut memicu terjadinya Lusi, sebagaimana diusulkan oleh Mazzini dkk. 2007.
· Konfirmasi bahwa aktivitas Patahan Watukosek terjadi pasca semburan
Paper tersebut mengatakan tidak, bahwa deformasi berasosiasi dengan gerakan sesar ini mulai Juli 2006, dua bulan atau tiga sesudah semburan pertama. Paper ini menegaskan tidak adanya keterlibatan pada proses inovasi pertama.
Ilustrasi di kompilasi oleh Hardi (dari sekuen di atas)