DIKONTRIBUSIKAN OLEH:
PROF. DR. HARDI PRASETYO
UNTUK TIM TERPADU LUSI 2017
RENCANA MELAKSANAKAN STUDI
BAWAH PERMUKAAN LUSI MUD VOLCANO
Untuk lebih memahami Postur, Anatomi, Pengendali menkanisme semburan, deformasi dengan pembentukan kaldera, panjang umur semburan, potensi perulangan semburan dahsyat dan merusak
Sebagai alat bantu untuk pengambilan kebijakan Misi Nasional Penanggulangan Bencna Lusi ke depan.
Berdasarkan pengambilan data baru yang utama Penampang Seismik Refleksi Resolusi Tinggi 3-D,
Diintegrasikan dengan dukungan data Geologi, Geofisika, Geomatika, diantaranya:
Magnetotellerik (MT)
Magmetik (MG)
Gayaberat (G)
Resistivitas (R)
Terrestial Laser Scanner (TLS)
Citra Penginderan Jauh : Satelit, Helikopter, Drone
Kerjasama Studi Lusi mud volcano dengan berbagai institusi di dalam dan luar negeri, antara lain:
LUSI LAB, masyarakat Ekonomi Eropa, dengan focal point Oslo University, Norwegia
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, MoU 2016
Badan Geologi, Kementrian ESDM, selaku exofficio Anggota DP BPLS
ITS (MoU dalam persiapan)
UNBRA (MoU)
UNPAD (termasuk studi 2 kandidat S-3)
UPN (MoU)
Dan Lain-lain
Sebagai perwujudan:
Lusi Laboratorium Alam mud volcano terbesar, masih aktif, mudah diakses
Lusi Pusat Unggulan Studi mud volcano yang paling komplek, Penuh Misteri, Paling kontroversi terkait Penyebab dan Pemicu semburan Geyser
Lusi menjadi ajang Pengembangan Ilmu dan Teknologi terapan.
http://hotmudflow.wordpress.com/Memetakan Gunung Lumpur Secara 3dimensi
Posted on 12 Oktober 2006 by Rovicky
Preview fulled Modified Paper: wpress_SEISMIC3D_MV.pdf
Preview Figures: wpress_SEISMIC3D_MV-1.pdf
Secara kebetulan ada artikel khusus membahas Mud Volkano (Gunung Lumpur) di buletin bulanan AAPG (American Assoc of Petroleum Geologst) edisi May 2006, masih cukup hangat lah.
Pembuatan peta 3D ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam program pemboran. Iya program pemboran gunung lumpur. Sebenernya lebih tepat disebut 3d modeling, kalau peta kan hanya dalam 2d.
Disebelah ini adalah gambar yang menunjukkan lokasi penelitian serta penampang regional daerah yang akan diteliti atau dipetakan. Terlihat bagaimana batuan tergencet karena pergerakan lempeng tektonik sehingga meliuk-liuk kayak ular naik turun.
Coba deh tengok dibagian bawah batuan yg meliuk-liuk kayak ular itu. Disitu terlihat adanya batuan yang digambarkan merah ukuran ketebalannya tidak sama, batuan itu tebal tipis karena batuan ini bersifat plastis, mudah “mecotot”.
Batuan yg plastis ini ya lempung itu yang membentuk gununglumpur (Mud Volkano). Mirip seperti lempung yang keluar bersama air di Sidoarjo. Lempung ini juga diendapkan dilaut, tetapi karena terangkat sehingga naik keatas seperti pada gambar penampang seismik dibawahnya.
Dua penampang seismik disebelah ini merupakan penampaan ideal dari gunung lumpur dalam seismik. Dibawahnya interpretasi dari seismik aslinya yang ditampilkan diatasnya.
Nah apa yang menarik dari dua gambar disamping itu?
Ternyata banyak sekali sumur yang menembus lapisan gunung lumpur ini.
Apakah berarti gunung lumpur aman kalau di bor ?
Menurut saya memang bagaimanapun pengeboran dalam kondisi yang sangat kritispun masih memungkinkan untuk ditembus. Jadi pengeboran gunung lumpur bukanlah sesuatu yang mustahil, namun yang lebih penting adalah kehati-hatian dalam melakukan pengeboran.
Salah satu kehati-hatian dari segi geologi adalah “pengenalan” … ya, pengetahuan akan mud-volkano inilah yang menjadi kunci kesuksesan operasi pengeboran dari sisi geologi. Dari sisi engineering cukup banyak selain mesin pengeboran untuk bawah permukaan tertutama mengetahui tekanan yang ada dibawah.
Mengenal kondisi daerah yg akan dieksplorasi tentusaja merupakan syarat utama sebelum melakukan eksplorasi bahan mineral, bijih serta minyak bumi.
Hal yang sama sebenernya dengan usaha relief well. Kalau memang akan diusahakan menutup semburan lumpur ini, maka pengetahuan geologi bawah permukaan akan merupakan kunci dari operasi ini.
Dibawah ini diperlihatkan bagaimana memetakan bentuk gunung lumpur ini dengan seismik 3D. Seismik 3D ini sudah sangat lazim dilakuakn dalam eksplorasi migas.
Namun seismik 3D ini belum ada untuk daerah porong dan sekitarnya, sehingga sangat sulit mengetahui bagaimana karakteristik gunung lumpur di daerah ini.
Tapi seringkali dengan keminiman data banyak yang “berani” melakukan eksplorasi. Karena bagaimanapun ada sisi “gambling” (adu keberuntungan) dalam setiap tindakan eksplorasi.
Tipe-tipe gunung lumpur yang dijumpai didaerah ini memiliki tiga macam yaitu: 1. Tunggal dimana terdapat corong jalannya lumpur dan satu bukit lumpur yang terpendam. 2. Multi stack atau bertumpuk-tumpuk dan berjenjang. 3. Tunggal bertumpuk menjadi satu kesatuan. Ketiga tipe ini merupakan manifestasi tipe “erupsi” dari gunung lumpur.
Bentuk gunung lumpur seperti yang ada dalam tulisan sebelumnya disini memilki bentuk concave dan convex (cembung dan ada yang cekung). Pemetaan dilakukan untuk permukaan atas (top), dasar (base), juga corong pipa jalan keluarnya lumpur.
Dengan pemetaan seismik 3D ini tentunya akan menjadi lebih mudah dalam melakukan pengeboran. Karena pengeboransaat ini sudah lazim mengebor miring bahkan horizontal.
Malah ada looh yang berbentuk pancing, atau mengebor naik … loooh piye iki … Ini sudah bebrapa kali dilakukan oleh Shell sewaktu saya di Brunei beberapa tahun yang lalu.
Apakah ada perbedaan dan persamaan dengan gunung api biasa?
Skali lagi perhatikan seberapa luas areanya. Rata-rata awalnya hanya sekitar 1 Km saja, namun diameter area colapse sekitar 2-3 Km.
Yang perlu diperhatikan adalah luas gunungnya sendiri yang sangat tergantung dari jumlah material dan kekentalan yang menentukan tinggi dari gunung lumpur ini.
Luasnya bisa mencapai radius 5 Km. Tetapi radius 5 Km ini karena proses alam yg tidak dikontrol ulah manusia, tidak tersentuh engineering. nah kalau Lusi ini barangkali akan lebih terkontrol karena ada intervensi engineering.
Disebelah ini terlihat bentuk profil dari sebuah gunung api biasa yang berlapis. gunung api memiliki batas (dasar) yang relatif mendatar, tidak ada amblesan akibat keluarnya magma gunung api.
Karena material magma ini disuplai terus dari bawah. Lah, trus darimana sumber material ini sebelumnya ? Magma ini sumbernya dari hasil tubrukan (gencetan) antar kerak-kerak bumi. Coba deh kalau diperhatikan, sepanjang Sumatra dan Jawa terdapat rentetan gunung api.
Gunung api ini material dapur magmanya berasal dari pelelehan atau pencairan batuan dari kerak yang menunjam (subducted), jadi selama kerak tektoniknya berjalan (yang di Jawa Selatan dengan 7 cm/tahun itu), maka supply material (magma) akan selalu saja ada.
Dengan gambar diatas sepertinya cukup jelas perbedaan profil gunung lumpur dengan profile gunung api.
Pemataan gunung lumpur tentusaja tidak hanya memetakan bentuk kerucut gunungnya saja, tetapi juga perlu diketahui bentuk dari corong yang menjadi jalan keluarnya material lumpur. Disebelah kiri ini terlihat bagaimana bentuk corong yang seperti pipa yang merupakan dinding dari lubang jalan lumpur.
Selain menggambarkan lubang keluarnya juga menggambarkan patahan yang melingkar (Concentric Fault). Perhatikan betapa idealnya patahan ini.
Bandingkan dengan peta amblesan di Banjarpanji yang mirip tetapi patahannya masih lurus2. Kalau berlanjut barangkali peta di BPJ ini juga akan melingkar juga pada akhirnya.
Gambar ini menunjukkan kenampakan dari kaldera gunung lumpur. Bentuk yang berupa cone panjang seperti pipa ini merupakan lumpur yang berasal dari bawah. Juga terlihat patahan2 disekelilingKaldera.
Metode visualisasi ini sangat berguna ketika memetakan atau memodelkan gunung lumpur. Pemetaan inipun juga dapat dipakai untuk membuat model fase-fase pembentukan gunung lumpur. Seperti yang terlihat pada gambar 10.
Fase-fase pembentukan ini sangat mirip dengan yang sebelumnya, dan juga saya kira nantinya akan sangat mirip dengan gunung lumpur di Sidoarjo yang akan datang.
Untuk apa memetakan atau memodelkan dalam 3dimensi ?
Gambar yang disebelah ini bisa terlihat bagaimana well trajectory (bentuk lintasan sumur) yang berusaha sedikit mungkin menerobos lapisan material gunung lumpur yang seringkali sangat labil, namun masih dapat mencapai sasaran dengan tepat.
Lihat saja bentuk sumur yang meliuk-liuk bahkan kemudian mengebor horizontal. Iya, bener tuh ngebornya horizontal . Mengebor horizontal berarti menambah penampang reservoir atau batuan yg mengandung minyak yang terpotong, sehingga produksi dapat lebih optimum.
“Pak Dhe, yang di BPJ sudah ada 3d seismiknya belom ?”
BPJ-1 ini sumur eksplorasi. Seringkali seismic 3d ini dilakukan setelah daerah itu dinyatakan atau dipastikan memang ada minyak.
Tetapi sumur BPJ-1 merupakan sumur eksplorasi sehingga dilakukan pengeboran hanya berdasarkan data 2d seismik saja. Kalau sukses mestinya dilakukan survey seismic 3d untuk meningkatkan efisiensi pengambilan minyaknya.
Tapi sepertinya emang lagi apes. Minyak dan gas belum ketemu, eh lumpurnya nyembur duluan. Itulah konsekuensi eksplorasi dalam migas. Harus disadari adanya risiko besar yang harus ditanggung oleh perusahaan migas.
Referensi :
Simon A. Stewart,1 Richard J. Davies2, 2006, Structure and emplacement of mud volcano systems in the South Caspian Basin, AAPG Bulletin, V. 90, No. 5 (May 2006), P. 771-786.
Sebaiknya membaca artikel teori ini dulu :
Sumber luar Eksiklopedia Wikipedia
Catatan depan dari Prof. Dr. Hardi Prasetyo (Inisiator dan Pengembang Web SiteLusi Library):
Rasionalisasi penempatan paper wordpress.com di Lusi Library
Paper Memetakan Gunung Lumpur Secara 3dimensi yang telah ditempatkan di forum hotmudflow.workpress.com (bersifat public domain) dengan alamat website http:// rovicky.wordpress.com/2006/10/12/memetakan-gunung-lumpur-secara-3dimensi/, Selanjutnya telah dipilih untuk ditempatkan pada Lusi Library 2011.
Sebagai salah satu upaya untuk dapat memberikan informasi dan knowledge yang seluas-luasnya kepada publik.
Terhadap perlunya memetakan secara 3d dari postur mud volcano Lusi dengan lebih aktual.
Yaitu pada kondisi sekarang ini, dimana semburan Lusi mud volcano berada pada tahap perkembangan menuju tahap istirahat ‘dormant stage’.
Alasan nonteknis, karena kami (hardi prasetyo) sejak tahun 2007 telah menjadi bagian dari keluarga word.press.com/sidoarjo mudflow, dengan berperan aktif dalam mengkontribusikan beberapa artikel terkait Lusi.
Makalah pilihan sebagaimana diuraikan di atas tersebut, berasal dari sumber yang antara lain dalam Lusi Library referensi dari Davies, yaitu Simon A. Stewart,1 Richard J. Davies2, 2006, Structure and emplacement of mud volcano systems in the South Caspian Basin, AAPG Bulletin, V. 90, No. 5 (May 2006), P. 771-786.
Arti strategis seismik refleksi 3-D
Penampang seismik refleksi 3-d (3D seismic reflection profile), merupakan salah satu metoda unggulan (senjata pamungkas) khususnya guna mendapatkan gambaran arsitektur dalam dari reservoir migas.
Baik pada tahapan eksplorasi (menentukan keberadaan migas di reservoir) maupun tahap produksi (meningkatkan efektivitas eksploitasi).
Dalam kaitan ini kami telah berkesempatan mengikuti pengambilan data seismic 3-d untuk prospek migas di daerah Laut Jawa (utara P Madura), yang dikenal dengan teknis ‘undershoot’ (penembakan di bawah sumur produksi).
Ditujukan untuk meningkatkan produktivitas eksploitasi dari sumur-sumur produksi (production wells).
Sebelum semburan Lusi, penampang seismik refleksi yang tersedia 2-d
Selama ini yang digunakan oleh berbagai pihak terkait dalam membahas geologi bawah permukaan semburan (subsurface) Lusi mud volcano adalah penampang seismik refleksi 2-d yang umumnya dikombinasikan hasil sumur pemboran eksplorasi Banjar Panji-1, yang diambil sebelum terjadinya semburan Lusi, 29 Mei 2006.
Dalam kaitan ini juga termasuk hasil studi Struktur Lumpur (Diapir Lumpur) oleh Tim Rusia (2009, yang telah ditempatkan tersendiri pada Lusi Library 'The Russian Connection'. Dimana metoda utama GIS-3D yang diterapkan menggunakan penampang sismik refleksi 2-d analog (analog seismic reflection profile), yang diambil sebelum Lusi lahir, tumbuh dan berkembang menjadi suatu mud volcano (sebelum Mei 2006).
Disini perlu ditekankan kembali bahwa data seismik refleksi 2-d analog, telah dimodelkan dengan teknologi GIS-3d. Menghasilkan perspektif 3-d dari tubuh mud diapir (masih di bawah permukaan) dan mud volcano Lusi (telah muncul dipermukaan).
Hasil pemodalan teknologi Gis-3D berbeda secara signifikan dari pemaknaan suatu penampang seismik refleksi 3-d, yang telah menjadi standard operational procedure pada industri migas.
Peta Jalan Menuju Pengambilan 3-d dibawah Lusi Mud Volcano
Pada tahun 2011, Badan Geologi, KESDM didukung beberapa lembaga terkait (termasuk Bapel BPLS) merencanakan untuk melakukan pengambilan data seismik refleksi 3-d, dengan fokus utama mencitra postur Lusi di bawah permukaan (subsurface) dari kawah pusat semburan (crater of eruption centre) dan morfologi gunung Lusi (kawah, lereng, daerah dataran) yang berbentuk radial tidak simetri.
Data baru tersebut bila berhasil diambil (dinilai mempunyai rasio kesulitan yang cukup tinggi, mengingat daerah terdampak sekitar kawah telah digenangi lumpur padu dan cekungan air), diharapkan sebagai suatu alat bantu yang bernilai (valuable tool) untuk menjustifikasi durasi dan persprektif 'kehidupan' Lusi ke depan.
Termasuk di dalamnya anatomi dan pengendali mekanisme semburan mud volcano yang semakin ‘dormant’.
Pada 27 Agustus 2010 telah diselenggarakan suatu Rapat Koordinasi tentang Perspektif Penanggulangan Lusi ke Depan, yang diselenggarakan oleh Badan Geologi KESDM dan Bapel BPLS dengan melibatkan beberapa institusi terkait (Dirjen Migas, BP Migas, BPPT, Industri Migas) serta beberapa organisasi profesi (IAGI, HAGI, IATMI), dll.
Pada sesi pembahasan aspek ‘bawah permukaan (subsurface condition)’ yang dipimpin oleh Dr Hardi Prasetyo (Waka BPLS), sebelumnya diawali sesi kondisi permukaan (geohazard) dipimpin oleh Dr. Surono; telah disepakati beberapa hal strategis dan teknis, yaitu:
(1) Agar dapat mengambil keputusan dan kebijakan yang tepat tentang terkait perspektif kehidupan semburan Lusi ke depan, perlu didahului dengan adanya pemahaman yang komprehensif dan integral terhadap anatomi dan pengendali mekanisme semburan Lusi.
Dimana pada saat itu (Agustus 2010) mulai menunjukkan beberapa indikator yang meyakinkan (significant indicators), menuju peta jalan (roadmap) pada tahap perkembangan suatu mud volcano yang dormant;
(2) Salah satu hal yang strategis adalah disepakati bahwa diperlukan pengambilan data (data acquisition) baru penampang seismik refleksi (new seismic reflection profiles) yang dapat mencintra daerah di bawah permukaan (subsurface scanning) dari semburan Lusi dan sekitarnya;
(3) BPPT didukung organisasi profesi Himpunan Ahli Geofisika (HAGI), pada rapat tersebut telah mengusulkan suatu program untuk pengambilan data seismik. Dengan skenario umum, dimana untuk lokasi penembakan yang sebagai alternatif dengan menggunakan sumber energi menggunakan ledakan dinamit (TNT), yang akan ditempatkan di daerah pertambakan sebelah timur PAT.
(4) Sedangkan rangkaian penerima geophone (geophone receivers) akan ditempatkan disebelah barat PAT (sekitar relokasi infrastruktur);
(5) Rapat sepakat untuk mendorong agar Kepala Badan Geologi, KESDM untuk melanjutkan langkah-langkah strategis dan operasional yang dihasilkan pada Forum Koordinasi Lusi tersebut;
(6) Peserta rapat juga memahami bahwa upaya-upaya kegiatan teknis terkait upaya penanggulangan semburan sebagaimana diamanahkan oleh Perpres 14/2007, juga harus dibarengi dengan penanganan masalah sosial kemasyarakatan terkait.
Harapan kemanfaatan makalah diposted Rovicky
Mudah-mudahan makalah yang telah diposted oleh Rovicky dengan kemasan yang mengutamakan ‘gaya bahasa dan pemahaman bersifat populer’ akan dapat meningkatkan pemahaman terhadap bagaimana memetakan Mud Volcano 3-d.
Dalam hal ini khususnya bagi pembaca yang berlatar belakang non-geologis, termasuk agar dapat mengenal apa dan bagaimana metoda Seismik Refleksi pada umumnya, khususnya teknik seismik refleksi 3-d untuk studi Lusi Mud Volcano.
Baseline seismik refleksi yang tersedia di Lusi Library
Baseline seismik refleksi terkait struktur mud diapir dan mud volcanoe dari berbagai studi kasus pada umumnya, serta Lusi mud volcano pada khusunya telah terdapat secara cukup signifikan pada Lusi Library 2010-2011.
Selanjutnya akan dikembangkan pada Generasi II Lusi Library, suatu ATLAS DIGITAL Penampang Seismik Refleksi Mud Volcano mud volcano Lusi (Seismic Reflection Profiles of Lusi mud volcano, Digital Atlas).
Ketersediaan rangkuman ATLAS DIGITAL MUD VOLCANO LUSI tersebut, merupakan salah satu kontribusi yang sangat bernilai dari keseluruhan LUSI LIBRARY 2010-2011.
Secara khusus studi khasus penerapan seismik refleksi 3-D, dan 2 D untuk studi mud diapir dan mud volcano telah dilakukan oleh Shipley (3-d di Panama), Silver (Flores Basin) Reed (Costa Rica), Breen (Selatan Sumba), Barber (sekitar Timor), Prasetyo (Cekungan Bali-Flores) dan lain-lain di dalam makalah Baselines Lusi Mud Volcano (Awang, Abidin, Guntoro, Sukendar, Koesoemadinata, Istadi, Sawolo, Davies, Mazzini, Tingay, dan lain-lain.
Terima kasih dan apresiasi kami sampaikan kepada Bpk. Rovicky dengan Wordpress.comNYA yang sejak tahun 2006 secara berkelanjutan telah berupaya untuk mengedukasi dan mempopulerkan Lusi Mud Volcano.
Salam Hormat
Hardi Prasetyo
Catatan Pendukung:
Kilas Balik Penulis, dari data seismik refleksi (2&3 D) ke prospek Migas dan Pengembangan Konsepsi BENUA MARITIM INDONESIA
Waka Bapel BPLS;
Inisiator dan Penanggung jawab pengembangan LUSI LIBRARY: KNOWLEDGE MANAGEMENT (2010-2011), sebagai bagian kegiatan ilmiah berdimensi knowledge untuk proses pengembilan kebijakan dan keputusan strategis;
Profesor Riset, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL), Puslitbang ESDM, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral;
Ahli Peneliti Utama (APU) bidang Geologi dan Geofisika Kelautan;
Dianugrahi oleh Pemerintah Indonesia (DRN dan Menristek) sebagai Peneliti Terbaik Indonesia, Bidang Ilmu Kebumian, Program Riset Unggulan Terpadu (RUT), dengan orasi tema ‘Geologi, Tektonik dan Prospek Migas di kawan frontier laut dalam di KTI’ (berbasis data seismik refleksi);
Mekalili Pemerintah Indonesia sebagai co-chief scientist bersama Agso (Pemerintah Australia) pada ekspedisi pengambilan data seismik refleksi dalam (deep seismic reflection), dalam rangka lebih memahami arsitektur dalam prospek migas di Zona Kerjasama Celah Timor (Timor Gap Zone of Cooperation);
Mewakili Indonesia bersama Pemerintah Inggris (BIRP dan Cambridge University) menerapkan pertamakalinya di Asia Tenggara, pengambilan data seismik refleksi dengan penetrasi dalam (20 second twt) menembus MOHO.
Dari Laut Banda ke Tepian Benua Australia, guna memastikan geometri dari fenomena tumbukan tepian benua Australia ke Busur Banda (Australian continental margin and Banda Arc collision), yang sebelumnya dilakukan dengan pemodelan gayaberat dan magnetik (gravity and magnetic modeling) didukung dengan data kegempaan (seismicity);
Mewakili Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Amerika (University of California Santa Cruz), untuk pertama kalimnya menerapkan sistem pemetaan menyamping (swath mapping system) SEAMARC II dikombinasikan dengan penampang seismik refleksi.
Selanjutnya mengindikasikan perkembangan mud diapir dan mud volcano masing-masing di Cekungan Sumbar (Sunda Forearc), Cekungan Flores (Backarc Basin Sunda), dan Punggungan Banda (Marginal Basin);
Dianugrahi oleh Perusahaan Migas Inggris (British Petroleum) data set penampang seimik refleksi bersaluran ganda diproses sampai migrasi (migrated multichannel seismic reflection profils) di Cekungan Lombok, untuk penulisan makalah Perkembangan Tektonik dari Ekstensi ke Transpresi di Cekungan Bali-Flores. Dimana didalamnya telah diidentifikasikannya perkembangan mud diapirsm; selanjutnya dipublikasikan dan dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan pada IPA (The Indonesian Petroleum Association).
Mewakili Pemerintah Indonesia, bersama Pemerintah Amerika (University of California San Diego) pertama kalinya melakukan pengambilan data terpadu seismik refleksi bersaluran ganda (multichannel seismic reflection profiles) dipadukan dengan penampang seismik refraksi (refraction seismic) menerapkan metoda dua (2) kapal (expanding spread) untuk memperjelas anatomi, stratigrafi seismik (seismic stratigraphic), konfigurasi batuan alas (basement configuration) di Cekungan Busur Muka Sumatera Barat sektor Nias.
Sebagai co-author paper bersama Profesor Dr. J.A. Katili dipresentasikan pada pertemuan AAPG di New York (Amerika Serikat).
Paper berdimensi strategis 'Prosepek Migas di Cekungan Busur Muka Indonesia', terutama di dasarkan pada data seismik refleksi berasal dari industri dan non industri.
Diberi kehormatan oleh organisasi Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) sebagai pembicara tamu yang diundang (invited speaker), pada Pertemuan Tahunan Society Exploration Geologists (SEG) dilaksanakan di Austin Texas, USA.
Makalah berjudul Prospek Industri Migas di Indonesia pasca Undang-Undang Migas dan Undang-undang Otonomi Daerah. Antara lain menyajikan kondisi eksplorasi migas dan prosspek ke depan di daerah frontier yang sangat didukung oleh tersedianya data geofisika (seismik refleksi)
Mendapat penugasan nasional dari DESDM, BAPPENAS, dan BPPT sebagai inisiator pengembangan ATLAS DIGITAL GEOLOGI DAN GEOFISIKA KELAUTAN INDONESIA, khususnya dari hasil program kelautan nasional pemanfaatan Kapal Riset Baruna Jaya III, serta kapal riset dari manca Negara;
Mendapatkan kepercayaan dari Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) selanjutnya ditunjuk sebagai Ketua Pelaksanaan (Chairman), Pertemuan Ilmiah International 'Ahli Kebumian', dilaksanakan dalam rangka THE VISIT INDONEISAN YEARS;
Pada pertemuan tersebut diangkat dan ditonjulkan secara komprehensif dan terpadu potensi dan hasil karya Peneliti Indonesia, terutama mengungkap beberapa misteri kebumian, dikaitkan dengan Paradigma Baru Tektonik Dunia Baru (New Global Tectonics). Khususnya penerapan teori Tektonik Lempeng (Plate Tectonic) baik untuk aspek ilmiah maupun meningkatkan rasio keberhasilan dalam eksplorasi dan produksi sumber daya alam tidak terbarukan (non renewable resources) terutama migas dan mineral;
Mendapatkan kehormatan dan kepercayaan dari BAPPENAS dalam mengembangkan konsepsi Kawasan Pengelolaan Kelautan (KAPEL) untuk meningkatkan kinerja Pembangungan Kelautan Jangka Panjang;
Identifikasi kawasan KAPEL dan Prioritas pengembangan berbasis Kewilayahan, antara lain mengoptimalkan informasi dan knowledge, yang sangat didukung oleh ketersediaan data seismik refleksi dipadukan pemboran eksplorasi;
Sebelumnya ditunjuk untuk menyiapkan naskah akademik kajian rancangan REPELITA VII SEKTOR KELAUTAN, diawali sebagai anggota Tim Penyusun rancangan REPELITA VI SEKTOR KELAUTAN NASIONAL;
Mendapatkan kesempatan merangkum aspek kebumian berdimensi strategis dengan menulis tugas akhir KSA LEMHANNAS dengan topik 'Meningkatkan Eksplorasi Migas di Wilayah Lautan Nasional dan Yurisdiksi Indonesia';
Ditunjuk Menristek dan Menko Polkam sebagai ketua tim teknis penyusunan KONSEPSI BENUA MARITIM INDONSIA (BMI) SEBAGAI AKTUALISASI DARI WAWASAN NUSANTARA.
Diawali dengan Penugasan dari MENRISTEK DAN BAPPENAS untuk menerbitkan buku (2 Edisi Indonesia dan Inggris) berjudul PROFIL KELAUTAN NASIONAL: PARADIGMA BARU MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL.
Pada acara peluncuran buku PROFIL KELAUTAN NASIONAL (Edisi 1) oleh Bapak Menko Polkam (Soesilo Sudarman), dilanjutkan dengan Pembentukan Organisasi Masyarakat Kelautan Indonesia (MKI).
Pada Sidang Pleno dipimpin secara kolektif oleh Prof. Hasyim Djalal (Dutabesar Hukum Laut Internasional), Prof. MT Zen (BPPT), Prof. Soegiarto (LIPI), dan Dr. Triono Sundoro (BAPPENAS) kami (Hardi Prasetyo) secara aklamasi telah dipilih sebagai Ketua Umum organisasi MASYARAKAT KELAUTAN INDONESIA (MKI).