POTRET LUSI DESEMBER 2010
Dikontribusikan oleh Dr. Hardi Prasetyo
Untuk Pendahuluan Laporan Bulanan Bapel BPLS
Benang Merah
Benang merah situasi dinamis yang dihadapi Bapel BPLS, pada menjelang akhir tahun 2010 dan menginjak usia ke - 4 (8 April 2011) dalam mengemban misi nasional strategis dirangkum sebagai berikut:
· Perubahan mendasar semburan dan luapan serta implikasinya
Postur dan perilaku semburan Lusi sebagai mud volcano yang berada pada tahap istirahat ‘dormant’, volume semburan relatif kecil sekitar 15.000 m3/hari, dan material dihasilkan sebagian besar merupakan fluida (air).
Titik semburan masih sangat dinamis, jumlahnya bervariasi 1, 2 dan 3. Lokasinya berpindah-pindah atau titik semburan senantiasa bergerak.
Perkiraan masa hidup Lusi ke depan ditinjai dari titik saat ini (‘dormant’), apakah akan mati, atau akan meningkat kembali seperti kondisi sebelumnya, belum dapat ditentukan.
Ancaman baru terhadap keberadaan struktur lumpur (mud diapir) yang masih berada di dalam bumi, sebagaimana yang telah dilaporkan secara tertulis oleh Tim Rusia, juga belum dapat dapat ditindaklanjuti untuk tahap klarifikasi kebenarannya.
· Masih dihadapkan pada situasi yang sulit diperkirakan sebelumnya
Sampai saat ini BPLS masih terus dibayang-banyangi oleh suatu realita yang dihadapkan pada situasi yang tidak terduga sebelumnya (unpredictable), dan belum ada referensi sebelumnya yang berlaku secara khusus.
Pada bulan Desember tahun lalu (2009), potensi ancaman bahaya, terutama ditimbulkan oleh semburan Lusi di Pusat Semburan yang dikendalikan daya dari dalam bumi.
Kecepatan semburan yang tinggi (~100.000 m3/hari pada bulan Desember 2009) selanjutnya menyebabkan potensi luapan lumpur panas di permukaan.
· Implikasi reorganisasi postur gunung Lusi
Saat Lusi berada pada tahap istirahat, dengan tidak menyemburkan lumpur panas lagi dalam jumlah yang berarti, suatu hal yang tidak terduga bahwa pada musim hujan, ancaman baru yang berpotensi ditimbulkan sebagai implikasi dari proses reorganisasi dari gunung lumpur. Lereng gunung Lusi yang disusun oleh lumpur padu bergerak secara radial. Pada tahap perkembangan selanjutnya dapat menimbulkan tumbukan (collision) dengan tanggul penahan lumpur.
· Interval perulangaan peningkatan Geohazard
Pada musim hujan awal akhir November-Desember 2010, intensitas bubble dengan hembusan gas metan cenderung mengalami perulangan interval dengan intensitas tinggi.
· Kendala pada penanganan sosial kemasyarakatan
Pelaksanaan penanganan masalah sosial kemasyarakatan khususnya terkait kelanjutan implementasi pembelian tanah dan bangunan warga di 3 desa di luar PAT (Perpres 48/2008), masih mendapatkan kendala dan masalah.
Hal ini terutama dikaitkan dengan adanya tuntutan warga kepada BPLS, yang timbulkan oleh adanya perbedaan status kepemilikan. Pada skenario terburuk, warga terkait akan menempuh proses/jalur hukum (pengadilan).
Demikian pula potensi gejolak sosial, dengan belum adanya kejelasan langkah ke depan dikaitkan dengan penanganan masalah sosial kemasyarakatan terhadap 9 RT dari 3 desa, yang sebelumnya telah dinyatakan tidak layak huni.
Ekspektasi masyarakat sudah demikian tinggi agar wilayah huniannya dapat dimasukkan ke PAT.
Sementara itu, pelaksanaan cash and carry di dalam PAT (Perpres 14/2007) yang menjadi tanggung jawab Lapindo masih menyisakan permasalahan baik untuk tahap uang muka (20%) atau tahap 80% yang dilakukan skema ‘cicilan’.
· Penanganan dampak infrastruktur
Khususnya konstruksi relokasi infrastruktur di sisi barat PAT, masih terkendala dengan pembebasan lahan.
Di sisi lain para stakeholder dan pengguna akhir, mempunyai ekspektasi yang tinggi, bahwa relokasi jalan nasional akan dapat dituntaskan pada tahun 2011.
· Upaya peningkatan kinerja kelembagaan
Menjelang umur BPLS tahun ke 4 terus dituntut untuk dapat ditingkatkan guna mengantisipasi kendala dan tantangan yang senantiasa berkembang secara dinamis. Untuk itu aspek SDM dengan dibekali Iptek, data dan informasi sebagai pilar utama, sangat disadari kebutuhan untuk ditingkatkan kualitasnya.
Struktur organisasi dengan pilar miskin struktur kaya fungsi, harus disempurnakan guna menuju optimalisasi efektivitas dan kinerjanya.
Demikian pula peraturan perundang-undangan (payung hukum) dipandang perlu untuk diaktualisasikan, sebagai implikasi Perpres 14/2007 telah dikaji dan disarankan BPLS untuk dapat diaktualisasikan yang ketiga kalinya.
Peta Perjalanan Penanggulangan Semburan dan Penanganan Luapan Lusi
Koordinasi dengan kelembagaan terkait:
· Awal Maret 2010, Badan Geologi, Kementrian ESDM telah menyampaikan hasil kajian ilmiah, yang menyimpulkan bahwa kecepatan Lusi saat itu, telah menurun drastis dari sebelumnya antara 70.000-100.000 m3/hari menjadi sekitar 15.000 m3/hari.
Hal ini merupakan angka resmi yang tersedia untuk selanjutnya digunakan sebagai benchmarcking. Sementara itu BPLS secara rutin melakukan monitoring hari demi hari.
· Mei 2010 Tim Geologi dari ITB telah mengunjungi lapangan Lusi. Selanjutnya menyimpulkan bahwa tahap perkembangan dari Lusi, dapat dianalogikan dengan mud volcano Bleduk Kuwu, di Purwodadi, Jawa Tengah.
Ciri khususnya adalah masih ada erupsi uap disertai ‘mud kick’, tanpa luapan lusi panas dalam jumlah yang signifikan;
· Juni 2010, berdasarkan pemantauan terhadap perilaku di lapangan dan analogi perkembangan Lusi di seluruh dunia, BPLS telah menetapkan bahwa Lusi mud volcano cenderung memasuki tahap 'istirahat' (dormant stage).
Disamping itu juga diposisikan, bahwa walaupun intensitas erupsi lumpur panas telah menurun drastis, namun Lusi masih tetap dinamis, titik semburan silih berganti berjumlah 1, 2, dan 3.
· Agustus 2010, pertemuan institusi terkait difasilitasikan Badan Geologi, telah menetapkan harus dilakukan penyelidikan komprehensif terhadap anatomi mud volano Lusi saat ini, sebagai basis pertimbangan untuk pengambilan keputusan dan kebijakan penanganan semburan Lusi ke depan.
· Parameter semburan pada akhir November 2010, yaitu:
Kecepatan semburan berkisar 10.000-15.000 m3/hari;
Perbandingan material dierupsikan antara fluida-padatan adalah 90/10; dan
Serta air sebagai produk utama di titik pengamatan (di daerah lereng) suhu hangat (35-40oC).
Morfologi semburan di permukaan:
· Postur berbentuk radial asimetris, bagian utara dan timur lebih luas,
· Morfologi kawah dinamis pada bulan September memanjang dan tidak beraturan, pada bulan November menjadi radial dan beraturan,
Gambar 1. (Atas)17 November 2010, berbentuk radial dan beraturan, (Bawah) 26 September 2010, elip dengan sisi tidak beraturan, kawah jelas diisi air dan 3 titik semburan.
· Dimensi gunung mengalami organisasi dari bentuk kerucut agak landai menjadi kubah radial dengan lereng semakin datar,
· Ekspansi lateral (melebar dan meluas) ke daerah depresi (basin) merupakan proses 'pencairan gunung lumpur’, sebagai dampak masuknya air hujan ditambah produksi air sendiri dari kawah,
· Sungai-sungai, saluran, atau ngarai sempit berkembang dari bagian hulu di daerah lereng atas, mengalirkan luapan air dari kawah ke arah daerah depresi (selanjutnya disebut Sistem Sungai Lusi).
· Diindikasikan berkembangnya 4 sungai major yaitu: Sungai-sungai TAS (utara), P43 (tenggara), P25 (barat daya), dan Siring (barat). Sebagian besar air tersebut telah digunakan sebagai imbuhan untuk operasi kapal-kapal keruk.
Proses geologi yang terjadi di permukaan sebagai konsekuensi reorganisasi postur/morfologi Lusi:
· Perubahan bentuk dan gometri kawah, lereng atas yang makin lebar,
· Longsor radial bagian lereng (slope radial sliding), disertai 'debris flow',
· Terjadi perulangan banjir bandang lumpur dingin dari lereng atas melalui saluran sempit atau bagian lereng yang terbuka, dengan permukaan lebih halus (bagian baratdaya),
Gambar .2 Identifikasi Sungai di Kolam Lumpur
· Tumbukan (collision) yang melibatkan bagian lereng bawah gunung Lusi yang bergerak, dengan tanggul penahan lumpur yang relatif statis. Khususnya pada zona-zona TAS (utara), Osaka (baratlaut), dan Siring barat,
· Subduksi bagian uara Pond Utama disusun lumpur padu, terus mengalami amblesan ke arah utara ke arah titik eurpsi. Sedangkan bagian selatan danau Lusi berekspansi secara radial (radial expansion), di atasnya ke arah selatan. Pada batas subduksi saat ini berkembang parit (trench) atau palung (trough) yang sempit, sehingga air dari lereng atas dialirkan secara horisontal ke arah timur, selanjutnya menyatu ke dalam aliran sungai di lokasi P43.
Gambar 3. Morfologi Lusi
Tiga skenario semburan Lusi ke depan, yaitu:
· Kondisi tahap 'dormant' berlanjut atau 'status quo', sampai dengan waktu yang tidak dapat ditentukan sebelumnya;
· Semburan berhenti, mati atau menjadi pasif; dan
· Skenario terburuk, erupsi meningkat kembali, diperkirakan intensitas semburan terkuat maksimum sebesar ~50.000 m3/hari.
Walaupun Lusi telah memperlihatkan perubahan pada intensitas dan postur semburan (kecepatan rendah dan jenis luaran terutama air), namun perilakunya yang masih terus dinamis.
Dengan demikian ditetapkan Lusi sebagai suatu mud volcano yang dikendalikan oleh daya geologi dari dalam bumi, sulit untuk dihentikan oleh kemampuan manusia dan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tersedia saat ini.
Perhitungan durasi Lusi berdasarkan pemodelan masa hidup Lusi yang telah dipublikasi selama ini, terutama menggunakan perhitungan dari volume sumber lumpur overpressure (ditentukan Formasi Kalibeng) dibagi dengan kecepatan semburan yang diasumsikan sebesar 90.000 m3/hari.
Disampulkan skenario hidup Lusi antara 20-30 tahunan. Karena secara realita saat ini semburan 90% adalah air dan bukan lagi lumpur panas, dengan kecepatan semburan fluida sebesar 15.000 m3/hari, sehingga disarankan bahwa hasil pemodelan tersebut untuk tidak diberlakukan.
Penyamaan persepsi tentang pentingnya pemahaman anatomi bawah permukaan
Telah berkembang suatu pemahaman yang universal terutama di kalangan para ahli kebumian dan institusi kebumian terkait, bahwa untuk dapat mempertimbangkan dan memutuskan terhadap keberlanjutan kehidupan Lusi mud volcano ke depan.
Harus didahului dengan pemahaman terhadap anatomi dan pengendali mekanisme, terhadap posisi Lusi mud volcano yang sekarang.
Untuk itu langkah aksi ke depan, dimana BPLS berperan aktif, yaitu:
· Pada APBN 2011, dibawah koordinasi Badan Geologi KESDM akan dilakukan pengambilan data Seismik Refleksi 3-D, untuk dapat mencitra sampai kedalaman 3 km atau lebih.
· Sebagai pendukung, Bapel BPLS masih menjajaki kerjasama dengan pihak Rusia, dalam penyelidikan GIS 3-D untuk melanjutkan dan mengklarifikasi keberadaan struktur mud diapir di sekitar Lusi, dan penyelidikan sistem Poligon untuk monitoring memperkirakan perilaku semburan Lusi ke depan.
· Pada tahun 2011 Bapel BPLS bekerjasama dengan Arizona State University merencanakan suatu survei dengan fokus utama untuk mengungkapkan asal-usul dari anatomi Lusi yang masih menjadi misteri dan perbedaan pendapat selama ini, yaitu:
- Sumber air dengan 3 skenario (dari sumber lapisan dalam batugamping, lapisan lebih dangkal batulempung, dan imbuhan dari sistem gunung magmatik;
- Sumber Panas, walaupun salah satu hasil awal penelitian terbaru (2010) telah menyebutkan Lusi sebagai Geo-pressure dari sistem panas bumi bertemperatur rendah, (low temperature geothermal system), namun hal tersebut belum dapat diterima secara universal; dan
- Sumber gas, terutama pada erupsi utama dan semburan mikro dalam daerah tergenang lumpur. Demikian pula kemungkinan Lusi berkontribusikan pada volume gas rumah kaca, (greenhouse gas) yang mempunyai implikasi pada perubahan iklim global (global climate change).
Selama ini telah banyak dibahas secara faktual terhadap kejadian dan penafsiran geohazard, terutama amblesan (subsidence) dan bubble dengan erupsi gas metan.
BPLS telah memposisikan bahwa anatomi dan mekanisme kejadian semburan utama dan sekunder di daerah tergenang Lusi (dari dalam dikendalikan overpressure sedimen, panas, dengan kandungan H2S).
Sangat berbeda dengan keberadaan bubble terutama di luar PAT, dicirikan dengan erupsi air lebih dangkal, dingin, sedikit lumpur, dan gas terutama metan.
Salah satu hasil penyelidikan deformasi yang dipublikasikan pada forum ilmiah internasional, antara lain oleh Andreas dan Abidin (2010), menunjukkan hal penting yaitu:
· bahwa kedepatan amblesan (rate of subsidence) sudah menurun secara signifikan bila dibandingkan dengan kondisi anara tahun 2006-2009;
· pola rekahan dan patahan adalah radial, yang ditafsirkan sebagai konsekuensi perkembangan dari kaldera Lusi. Hal ini sangat relevan dengan postur dan dinamika mud volcano Lusi saat ini, pada tahap ‘dormant’
Potensi Bahaya dan analisis resiko
Potensi bahaya dalam kondisi kebencanaan yang akan memasuki tahun ke- 5, yang masih mungkin ditimbulkan oleh mud volcano Lusi, telah berubah dari waktu-ke waktu.
Analisis resiko dikaitkan dalam misi kebencanaan, berangkat dari paradigma baru berdasarkan fakta di lapangan, bahwa Lusi sebagai mud volcano Lusi cenderung memasuki tahap istirahat 'Dormant', dengan produksi air dan gas, namun perilakunya masih dinamis.
Eskalasi potensi bahaya, berturut-turut adalah:
(1) Pergerakan lereng dan banjir bandang,
(2) Potensi ancaman semburan, interval semburan besar terjadi mendadak, dan
(3) Geohazard.
1) Bahaya terutama dikendalikan oleh pergerakan lumpur padu dan ‘banjir bandang lumpur dingin’
Beberapa tahun ke belakang potensi bahaya luapan lumpur terutama disebabkan oleh aliran lumpur panas, yang dikendalikan oleh tanggul-tanggul dan kolam penampung lumpur.
Saat ini telah terjadi perubahan cukup signifikan, karena penyebabnya adalah oleh dinamika dari postur mud volcano Lusi yang sedang mengalami reorgaisasi.
Hal tersebut mengakibatkan terjadi pergerakan dari masa lereng bawah gunung secara massif secara berkelanjutan secara radial ke arah tanggul.
Pergerakan lereng gunung ini akan terus berlangsung selama masih terdapat ketidakstabilan lereng, dan dan proses pencairan gunung lumpur dicirikan dengan viskositas yang rendah.
Potensi bahaya yang ditumbulkan oleh gerakan lereng bawah terutama adalah tumbukan dengan tanggul selama musim hujan, dan masih terdapat 'slope instability', khususnya sektor Siring (barat), Osaka (barat laut) dan TAS (utara).
Tumbukan dapat memberikan dampak terhadap tekanan horisontal dan vertikal, sehingga daya dukung tanggul dilalui (scenario runtuh), atau akumulasi dari lumpur padu secara masif, serta mengurangi beda tinggi lumpur dengan tanggul;
2) Potensi ancaman semburan
Potensi ancaman langsung dari semburan lusi pada tahap dormant ditentukan dengan eskalasi yang lebih mengecil.
Hal yang belum dapat dipastikan adalah pada skenario terburuk bila terjadi perulangan intensitas semburan lumpur panas yang tinggi secara tiba-tiba atau mendadak (tidak gradual) sebesar 100.000 m3/hari, sebagaimana tahun 2008-2009 yang lalu.
3) Geohazard
Geohazard yang berlangsung di dalam daerah terdampak sebagai kelanjutan proses pembentukan kaldera dari sistem mud volcano Lusi, reaktivasi patahan watukosek.
Di luar Lusi baik disebabkan oleh kompaksi, pembebanan sedimen yang mengalami de-pressurize, atau reaktivasi struktur patahan yang telah ada.
BPLS terus meningkatkan kinerja pada aspek monitoring dan penanganan langsung terhadap dampak geohazard.