DINAMIKA LUSI JUNI 2010
Benang Merah Lusi Tahun ke 4
Dinamika Penanggulangan Lusi antara bulan Juni 2010 berada pada peralihan musim hujan-panas, di dalamnya mencakup even Peringatan durasi Lusi tahun ke 4 (selanjutnya disebut Lusi-4).
Sebagaimana dengan even tersebut pada tahun-tahun sebelumnya, telah terjadi peningkatan wacana publik.
Dimana pada umumnya mengkritisi terhadap sejauh mana Pemerintah termasuk BPLS telah dapat menyelesaikan permasalahan mendasar yang ditimbulkan oleh bencana Lusi.
Pada kurun waktu Mei-Juni telah dapat direkam kelanjutan perubahan perilaku khusus semburan Lusi yang diawali 8 April 2010 yang lalu.
Kondisi dramatis di lapangan digambarkan seolah-olah ‘Lusi sedang menari Serimpi’, dimaknai Lusi senantiasa terus bergerak dengan lambat namun pasti mengikuti pola tertentu.
Dinamika yang baru kali ini terjadi, mempunyai implikasi pada rasionalisasi teknis serta opsi kebijakan bahwa semburan semakin sulit untuk dihentikan.
Sementara itu hal yang membesarkan hati, bahwa pernyataan Presiden RI saat berkunjung ke Lusi bahwa kecepatan semburan semakin menurun pada level yang minimum telah dapat lebih dikonfirmasikan (antara lain Badan Geologi DESDM, Tim ITB).
Sementara itu kapal-kapal keruk generasi baru yang telah mulai beroperasi sebagai tindak lanjut Perpres 40/2009, terus ditingkatkan kinerjanya melalui proses learning by doing.
Namun pasca terjadinya banjir bandang di P25, sehingga telah menambah rasio kesulitan, terutama dengan ketersediaan air.
Sebaliknya di Reno P42, dua kapal keruk beroperasi pada kondisi yang lebih baik dengan masih berlimpahnya air yang dipasok dari Pond Glagah dari Kali Porong.
Gambar 1.1 Daerah operasi kapal keruk P25
Dalam skenario ganda pemanfaatan fungsi Kali Porong baik untuk mengalirkan Lusi secara alami ke laut, maupun mencegah terjadinya banjir, semakin menunjukkan kehandalannya.
Pada bulan Mei 2010 Kali Porong yang terus dinormalisasikan, pernah menghadapi arus dengan kekuatan optimal di atas 1.500 m3/hari.
Penanganan deformasi geologi, utamanya bubble dan subsidence kembali mendapat tantangan dengan kejadian rumah yang ambles berlokasi di rumah Bpk. Mirdasy dekat jalan raya Porong.
Di sisi lain sebagai kabar gembira adalah telah berhasilnya dilakukan uji coba pemanfaatan gas bubble untuk pembangkit listrik 1.500 W dan kompor masak tunggal, dengan hasil yang cukup memuaskan. Saat ini digunakan secara rutin di Pos Pantau.
Relokasi infrastruktur memasuki tahap yang penting dengan dikeluarkannya surat terkait penyelesaian TKD dari Mendagri (Dewan Pengarah) yang selama ini mengalami kebuntuan. Demikian pula telah terpasang 5 girder konstruksi jembatan akses masuk relokasi jalan arteri yang memotong jalan tol Sidoarjo-Porong.
Penanganan masalah sosial kemasyarakatan masih dihadapi belum dapat dituntaskannya proses jual beli di dalam PAT (Perpres 14/2007) yaitu uang muka 20%. Hal ini walaupun tersisa dalam jumlah relatif kecil dibandingkan total yang telah terselesaikan.
Disamping itu juga fakta bahwa pembayaran tahap 80% dengan skema cicilan sebesar Rp. 15 juta per bulan, namun pelaksanaannya masih tersendat.
Sementara itu penanganan 9 RT dari 3 Desa yang dinyatakan tidak layak huni (Perpres 40/2009), masih terus berjalan dengan segala dinamikanya, antara lain semakin meningkatnya tuntutan warga yang didukung Pemda dan DPRD Kabupaten Sidoarjo, agar daerah tersebut dapat dimasukkan ke dalam PAT.
Salah satu argumen adalah bahwa fakta lapangan menunjukkan kondisi wilayah tersebut sudah lebih parah dibandingkan dengan 3 Desa sebelumnya yang telah dimasukkan ke dalam PAT (Perpres 48/2008).
Pada aspek kelembagaan hal yang menonjol adalah pasca Perpres 40/2009 hubungan kelembagaan BPLS baik dengan pihak nasional maupun internasional.
Hal ini tercermin dengan semakin meningkatnya minat dan perhatian masyarakat luas di dalam dan luar negeri untuk bahu membahu dengan BPLS memberikan kontribusinya pada misi penanggulangan lumpur di Sidoarjo.
Salah satu yang perlu diangkat adalah Humanitus Foundation (HF), sebuah LSM dari Australia. Dimana berkenaan dengan usia Lusi yang ke-4 telah mendeklarasikan pembentukan Humanitus Sidoarjo Fund (HSF), dibarengi dengan peluncuran Website HSF.
Untuk itu pada tanggal 13 April Direktur HF telah melakukan koordinasi dengan BPLS di Surabaya termasuk mengunjungi Lapangan Lusi.
Sebagai langkah nyata pasca kunjungan ke BPLS, pihak Humanitus Foundation telah memfasilitasi pertemuan antara Ahli Kebumian BPLS dengan Ahli Kebumian dan Industri Migas dari Rusia, guna menjajaki kerjasama berbasis ilmiah dalam penyelidikan mencitra postur semburan Lusi bawah permukaan.
Sementara itu kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi dan institusi lainnya yang dikukuhkan, antara lain: 1) MoU dengan Fakultas Kebumian ITB, 2) MoU dengan Balitbang, Kementerian Kelautan dan Perikanan, 3) Pra MoU pembentukan Kelompok Studi Lusi di Jurusan Geologi, UPN, Yogyakarta, dan 4) komitmen dukungan Survei Geologi Kelautan di sekitar Muara Kali Porong serta hibah uji coba pembangkit listrik dan kompor masak berbahan bakar gas dari bubble.
Isu Kritis Mengapa Semburan Mud Volcano Lusi Sulit atau Tidak Bisa dihentikan?
Wacana publik yang pada HUT Lusi ke-4 kembali mengemuka adalah terkait upaya penanggulangan semburan dengan opsi mematikannya, sehingga sampai pada wacana terkesan Pemerintah melakukan pembiaran.
Evaluasi terhadap pandangan para ahli kebumian dunia yang secara formal dipublikasi di jurnal ilmiah terpandang, menunjukkan kecenderungan:
1) Karakteristik:
Semburan Lusi termasuk yang paling dahsyat dan paling cepat tumbuh dari ribuan mud volcano yang eksis di seluruh dunia.
Disamping itu masih penuh dengan misteri tentang asal usulnya;
2) Postur dan Perilaku:
Semakin mengkristal pendapat bahkan diterima secara universal bahwa postur Lusi dengan perilaku sebagai mud volcano.
Hal ini berlaku baik penyebabnya ditafsirkan sebagai buatan manusia (man made mud volcano) atau pemicunya oleh proses alam (natural mud volcano);
3) Konsekuensi logis sebagai mud volcano:
Dari penentuan Lusi sebagai mud volcano, maka umumnya alur dan pola pikir sebagai kesatuan sistem mud volcano adalah sulit atau yang ekstrim tidak dapat dihentikan (unstoppable);
4) Hanya satu mud volcano yang dapat dihentikan memerlukan 20 tahun:
Satu fakta lapangan dari Prof. Mark Tingay dari Australia, bahwa di dunia sejauh ini hanya ada satu mud volcano yang dapat dihentikan, yaitu fenomena semburan lumpur (tidak panas) di lapangan migas lepas pantai Champion di Brunei Darusalam.
Untuk mematikannya memerlukan waktu 20 tahun dengan menggunakan 20 unit Relief Well.
Gambar 1.2 Hasil identifikasi lokasi perpindahan Pusat Semburan 9 Feb. Ke 31 Mei 2010
Kemajuan Yang Bermakna
Pemanfaatan gas bubble untuk pembangkit listrik dan masak
Pusat Pengembangan Geologi Kelautan (PPGL), Balitbang ESDM, Kementerian ESDM telah berkontribusi dengan menghibahkan satu unit mesin pembangkit listrik kapasitas 1.500 W dan kompor untuk memasak yang telah disesuaikan untuk dapat menggunakan gas sumber bubble yang muncul di sisi barat Pos Pantau.
Sebegitu jauh kedua peralatan pemanfaatan energi bersih (clean energy) tersebut telah berfungsi, sehingga dapat digunakan sebagai contoh nyata (proto-tipe) ke depan, khususnya untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan dampak geohazard keluarnya gas metan dengan intensitas di atas 100% LEL.
Suatu catatan bahwa intensitas deformasi dalam hal ini bubble dengan kandungan LEL gas metan sangat berfluktuatif dan interval perulangan meningkat pada musim penghujan dengan puncak bulan April-Mei.
Tahap penting Relokasi Infrastruktur
Relokasi infrastruktur jalan arteri dan jalan tol telah memasuki tahap penting, antara lain dengan dikeluarkannya surat Mendagri terkait tukar guling tanah kas desa (TKD) yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam penuntasan penyediaan lahan.
Disamping itu pada tanggal 5 Juni telah berhasil dipasang 5 unit girder sebagai bagian badan Jembatan di akses masuk relokasi jalan, yang memotong arah utara-selatan jalan tol Sidoarjo-Porong.
Diharapkan kemajuan tersebut dapat memberikan efek berganda, terhadap penyelesaian menyeluruh dari pembangunan relokasi jalan tersebut, mengingat kondisi jalan raya Porong-Malang di sektor Siring pasca terjadinya subsidence dan bubble disertai gas, serta terakhir terjadinya rumah ambles yang telah semakin meningkatkan potensi ketidaklayakan untuk berfungsi pada jangka panjang.
LSM Humanitus Sidoarjo Fund (HSF)
Sebagai kelanjutan penjajakan kerja sama antara Humanitus Foundation (HF) suatu LSM asal Australia dengan Bapel BPLS, pada pertengahan Mei 2010 HSF telah meluncurkan website sebagai pertanda formalitas awal kegiatannya.
HSF bertujuan untuk menghimpun donasi dari masyarakat dunia dalam upaya ikut berempati terhadap bencana mud volcano Lusi yang sampai tahun ke 4 masih menjadi perhatian dunia, karena semburan Lusi masih berlangsung disertai deformasi geologi terutama keluarnya gas metan dari bualan yang dinilai melampaui batas ambang kelayakan kesehatan bagi warga.
Sementara itu penanganan masalah sosial kemasyarakatan yang utama yaitu cash and carry, tidak dapat dimengerti oleh masyarakat luas sampai saat ini masih belum juga dapat diselesaikan.
Motivasi keberadaan HSF adalah pasca dilaksanakannya even diskusi Lusi ’Living with the Earth’ dibarengi pemutaran film perdana Mud Max: Exploratory Sidoarjo Mud Flow pada 18 Februari 2010 di Museum Pelabuhan Sydney, Australia. Hadir pada pertemuan tersebut dari BPLS Hardi Prasetyo dan Soffian Hadi.
Sesuai kesepakatan awal dengan Bapel BPLS pihak Humanitus Foundation akan menggalang dana masyarakat dunia, yang antara lain untuk digunakan bagi pelaksanaan riset oleh para ahli dunia terkait upaya penanggulangan semburan dan penanganan luapan Lusi.
Termasuk aspek solusi yang holistik permasalahan sosial kemasyarakatan. Dalam kaitan ini bantuan pada Bapel BPLS tidak dalam bentuk dana segar (fresh money), tapi dalam bentuk program riset dan ekspert, termasuk kemungkinan pengadaan peralatan.
Sebagai langkah lanjutan, HSF telah melakukan kontak-kontak terhadap institusi kebumian di dunia yang mempunyai keahlian terkait Lusi.
Salah satu yang mulai digulirkan adalah pemberdayaan ahli mud volcano dari Rusia. Untuk itu pertengahan Mei 2010 HSF telah memfasilitasi pertemuan Bapel BPLS dengan Tim ahli kebumian dan perminyakan Rusia bertempat di Kantor BPLS di Jakarta.
Pada pertemuan tersebut pihak Rusia telah mendemonstrasikan suatu inovasi teknologi yang berdedikasi untuk menyediakan pencitraan bawah permukaan (subsurface imaging) secara 3-D. Sebagai proses masukan, telah dilakukan kompilasi terhadap data seismik refleksi dari berbagai sumber.
Untuk mengetahui lebih lanjut pihak Rusia akan mengundang Bapel BPLS ke Rusia pada awal Juli 2010.
Postur Mud Volcano Lusi-4
Penyusunan Baseline
Dalam rangka mengkonsolidasikan pemahaman terhadap Postur mud volcano Lusi dan pengendali mekanisme serta dinamikanya, sebagai alat bantu dalam proses pemilihan kebijakan dan keputusan.
BPLS secara berkelanjutan telah melakukan proses penyusunan baseline informasi kebumian terkait pandangan-pandangan para ahli dari manca negara.
Ke dalam baseline ini mencakup pengamatan di lapangan terutama pada permukaan oleh BPLS, diintegrasikan dengan penelaahan dari data dan informasi yang tersedia dari berbagai sumber di manca negara.
Proses reorganisasi pertumbuhan Lusi
Evaluasi yang obyektif Postur keseluruhan Mud Volcano Lusi didasarkan pada citra satelit CRISP bulanan beresolusi 4 m yang dirilis 31 Mei 2010, yang mempunyai tenggang waktu hampir 3 bulan dari yang terakhir 9 Februari 2010.
Secara umum morfologi gunung Lusi pasca musim hujan memperlihatkan bentuk kubah melingkar yang semakin landai semakin luas dengan permukaan halus (akibat proses erosi permukaan selama musim hujan), berekspansi secara melingkar ke arah daerah depresi.
Pusat semburan tunggal dimana dua hari sebelumnya 28 Mei masih terdapat semburan ganda, dikelilingi oleh bagian dinding kawah yang memperlihatkan adanya gerakan ke dalam (ambles).
Sehingga berbentuk elips yang memanjang ke arah baratlaut-tenggara.
Gambar 1.3 Indikasi sangat minimnya aliran Lusi dari kawah ke arah lereng bawah
Pengamatan terhadap citra resolusi tinggi (4 m) pada daerah kawah dan kaldera memperlihatkan indikasi terdapatnya beberapa morfologi dengan kerucut (cone) dan depresi melingkar, kenampakan tersebut merupakan jejak (remnant) dari semburan yang telah mati suri.
Dapat diindikasikan beberapa kelurusan (lineaments) berarah baratlaut-tenggara, dimana secara umum semburan yang istirahat (dormant eruption) dan yang aktif saat ini mengikuti pola tersebut.
Analisis membandingkan lokasi semburan dari citra CRISP 9 Februari dengan 31 Mei, mengkonfirmasikan bahwa posisi semburan telah bergerak ke arah barat laut.
Searah dengan kelurusan yang semakin diduga kuat sebagai patahan yang mempengaruhi dinamika kawah semburan.
Reorganisasi semburan kecil tapi deformasi masih signifikan
Diawali 8 April 2010 hingga minggu ke tiga Mei dilaporkan bahwa kondisi semburan Lusi sangat dinamis, sehingga berubah dalam jumlah dari tiga ke dua, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Pada posisi 28 Mei dikonfirmasikan terdapat 2 semburan ganda (double eruptions) yang keberadaannya telah didokumentasikan secara baik, yaitu dipantau secara melingkar dari Danau Lusi.
Pada citra satelit CRISP diambil berselang tiga hari (21 Mei 2010), hanya dapat diamati satu semburan dengan kawah yang berbentuk elips ke arah baratlaut, dan memperlihatkan indikasi patahan-patahan yang mengontrol lokasi bekas semburan.
Indikasi terjadinya longsoran (sliding) ke arah dalam kawah dan melebar, memberikan indikasi bahwa postur gunung lumpur pada pertumbuhannya tidak positif (meninggi) tapi negatif (menurun).
Gambar 1.4 Pemetaan karakteristik citra daerah aktif Danau Lusi
Pemantauan secara berkelanjutan pada semburan memperlihatkan masih terjadinya kick (warna abu-abu kehitaman) dari padatan lumpur cair dengan ketinggian maksimum mencapai 5m.
Namun kick Lusi bersamaan dengan semburan uap putih tidak dibarengi dengan ’wave’ yang biasanya terjadi pada kondisi ketika kecepatan semburan Lusi pada skenario yang besar (~100.000 m3/hari).
Pengamatan pada lereng bawah juga mengindikasikan bahwa tidak terjadi atau sangat minim aliran Lusi dari kawah ke daerah bawah, kecuali pasca banjir bandang ke arah Jatirejo.
Fakta lapangan dan analisis semi kuantitatif tersebut memperkuat perkiraan bahwa kecepatan semburan telah mengalami penurunan yang drastis sampai pada angka di bawah 15.000 m3/hari (Laporan Badan Geologi, Maret 2010).
Disimpulkan bahwa rate of subsidence di kawah Lusi masih lebih besar dari rate of flow, hal ini mengindikasikan terjadinya pendalaman kawah relatif terhadap level puncak bibir kawah.
Indikasi keberadaan patahan berarah baratlaut-tenggara yang berkembang di selatan dari semburan, diperkirakan mempengaruhi dinamika tersebut. Walaupun kejadiannya sendiri masih spekulatif.
Implikasi dan Rasionalisasi Semburan Masih Sulit Dihentikan
Dinamika semburan yang berlangsung sejak 8 April 2010 sampai 31 Mei 2008 semakin mengindikasikan sedang berlangsung proses reorganisasi arsitektur dan perilaku mud volcano Lusi memasuki tahap kedewasaan (mature) yang ditandai oleh penurunan kecepatan semburan sampai pada titik rendah, walaupun masih terdapat kick dengan ketinggian maksimum ~5 m.
Hal tersebut menjadi suatu rasionalisasi bahwa hanya menggunakan fakta perilaku semburan Lusi di permukaan saja tanpa parameter bawah permukaan dan keteknikan lainnya, upaya untuk menghentikan semburan (killed eruption) saatnya masih belum layak untuk dilakukan.
Walaupun menggunakan senjata pamungkas seperti Relief Well sekalipun. Karena kawah Lusi masih terus ’menari serimpi’ sehingga merupakan sasaran yang bergerak (moving target).
Disamping itu dan deformasi geologi ambles seketika (sudden collapse), patahan (fault), retakan (cracks), longsoran (slide) di sekitar pusat semburan dan tubuh mud volcano Lusi masih terus berlangsung.
Hal Patut Mendapat Perhatian
Pemberdayaan Wacana Publik tentang penanggulangan Lusi
Sampai durasi semburan Lusi tahun ke 4, wacana publik terhadap penanggulangan Lusi secara menyeluruh cenderung semakin menurun (Hasil Kajian Institut Komunikasi Surabaya 2008).
Secara tradisional peningkatan ini akan terjadi secara seporadis sehubungan dengan peristiwa khusus, yaitu berkenaan dengan peringatan peristiwa Lusi setiap tahunnya.
Sehubungan dengan hal tersebut BPLS tidak perlu responsif, namun memanfaatkan momentum untuk proses evaluasi internal disertai menentukan langkah-langkah strategis untuk perbaikan ke depan.
Suatu hal yang patut diterima bahwa berita bagus (good news) bagi BPLS selama ini bukan merupakan hal yang sama bagi media massa, yang saat ini telah berkembang menjadi suatu industri yang penuh dengan suasana persaingan.
Salah satu langkah penting adalah BPLS harus lebih membuka diri dan mendinamisasikan posisi dan strategi low profile selama ini. Termasuk terus membangun dan melestarikan hubungan yang baik dan wajar dengan pihak media massa, dengan ujung tombak Humas dan Website BPLS.
Komitmen dan langkah-langkah nyata terkait peningkatan peran website melalui reaktualisasi tata kelola merupakan jawaban dari tantangan terhadap wacana dan citra kelembagaan BPLS.
Tersendatnya penuntasan Cash and Carry masih sulit dipahami dan diterima publik
Dari semua permasalahan yang diangkat baru-baru ini maka penyelesaian pembayaran cash and carry terutama yang 20%.
Walaupun secara kuantitatif kecil dari total yang terselesaikan, namun dari sudut pandang kewajaran, kepatutan dan HAM, sehingga masyarakat luas sulit untuk dapat memahami apa lagi menerimanya apapun argumennya.
Ke depan sudah tiba saatnya titik rawan/lemah ini dapat dicarikan solusi yang holistik. Akan menjadi ironi bila upaya penanggulangan semburan yang bisa memakan biaya ratusan miliar diupayakan. Namun untuk penanganan sosial kemasyarakatan bagi masyarakat terkena dampak dengan permasalahan bernilai belasan miliar rupiah tidak dapat dilakukan.
Perilaku Lusi masih mereorganisasi postur dan perilakunya
Fakta lapangan akhir-akhir oleh BPLS menunjukkan bahwa keberadaan dan perilaku Lusi sedang berada pada pengorganisasian kembali, sehingga sejak 8 April 2010 mengalami dinamika yang luar biasa.
Titik penting dari perubahan mendasar adalah pusat semburan lama (lahir 29 Mei 2009) masuk tahap mati suri atau istirahat total (dormant period), selanjutnya sistem mud volcano Lusi diperbarui semburan baru yang jumlah dan lokasinya terus berubah.
Bersamaan dengan itu juga dibarengi dengan pertumbuhan yang negatif (negative growth) dimana kecepatan semburan lebih kecil dari tingkat subsidence, bersamaan itu semakin nyata peran deformasi di kawah dan lereng yaitu patahan dan longsoran.
Sebagaimana yang dapat diindentifikasikan pada citra satelit generasi baru resolusi 4 m dari CRISP (31 Mei 2010).
Sehingga fakta lapangan ini sendiri sebelum ditambah indikator yang selaras lainnya dari pandangan dan pendapat para ahli kebumian manca negara kebanyakan, bahwa sejauh ini Lusi semakin sulit dihentikan. Pandangan Bapel BPLS ini perlu diakomodasikan dan dikoordinasikan lebih lanjut dengan para ahli kebumian dari berbagai sudut pandang.
Gambar 1.5 Dua semburan diambil dari tenggara (Pond Reno)
Lusi Memasuki Tahap Perkembangan Mud Volcano Bleduk Kuwu
Mengingat fakta lapangan menunjukkan bahwa selama 6 bulan belakangan ini kecepatan semburan turun drastis, sehingga berada pada tingkat level yang rendah sekitar 15.000 m3/hari.
Sehingga diperkirakan pada tahap perkembangan selanjutnya Lusi akan mengikuti model Mud Volcano Bleduk Kuwu di Purwodadi yang telah berkembang ribuan tahun di Jawa Tengah (dikonfirmasikan dengan Tim Geologi ITB).
Dimana semburan dengan Kick mengikuti pola geyser tidak disertai terjadinya gelombang (wave) dan aliran lumpur panas yang signifikan ke luar daerah kawah. Sehingga tidak terjadi perluasan luapan lumpur panas baru, yang ada hanya terbatas Lumpur padu dari morfologi gunung lumpur.
Mengingat bahwa permukaan lumpur di danau bagian barat telah demikian tinggi, karena lokasi Tanggul Siring relatif paling dekat dengan kawah semburan.
Sebagai konsekuensi dapat terjadi penambahan tekanan dari dalam Danau Lusi pada tanggul pada sektor baratlaut PAT yaitu dari Tugu Kuning-Putul dan di pojok TAS barat-Osaka.
Sedangkan ekspansi lumpur (panas atau dingin) dalam waktu dekat bila terjadi yang paling mungkin adalah menuju ke arah Jatirejo dan bagian barat Pond Utama.
Berdasarkan fakta dan rasionalisasi di atas, perkiraan keadaan dan resiko bencana adalah memasuki musim panas 2010 (Juni–Oktober 2010), maka potensi bahaya yang mungkin dikendalikan oleh semburan dan luapan Lusi semakin minimal.
Potensi Tekanan pada Sektor Siring-Osaka
Tekanan dari lereng bawah gunung lumpur di sektor Tugu Kuning-Osaka terhadap daya dukung tanggul, dalam perspektif resiko bahaya relatif kecil mengingat pada musim panas lumpur semakin padu dan akumulasi air dan lumpur encer di sektor itu minimal.
Potensi tekanan tanggul di Sektor Glagaharum
Potensi bencana yang masih mungkin terjadi adalah kejenuhan Tanggul di Sektor Glagaharum menahan akumulasi air yang belum pernah surut.
Disamping telah pernah terjadi tiga kali sudden collapse pada Tanggul Glagah disertai fenomana pembentukan prisma akrasi, sebagai indikasi carrying capacity tanggul dilalui.
Upaya antisipasi perkuatan counterweight di sektor Glagah harus dilakukan pada musim panas 2010 ini.
Potensi geohazard
Potensi deformasi subsidence yang diakibatkan pembebanan dan reaktivasi struktur geologi masih mungkin terjadi, karena belum ada pengurangan lumpur padu secara signifikan. Perkuatan dan peninggian jalan raya yang juga berperan sebagai counterweight alami dapat mengurangi potensi deformasi seperti rekahan dan bubble dengan gas.
Karena proses learning by doing selama ini menunjukkan intensitas deformasi akan memuncak pada musim penghujan dimana permeabilitas tanah meningkat.
Sehingga interval intensitas bubble yang meningkat signifikan pada puncak April-Mei telah dilalui.
Sehingga momen ini digunakan untuk memperkokoh upaya penanganan dari bubble aktif yang sampai saat ini masih ada.
Kelanjutan Studi Pengaliran Lusi ke Laut
Kali Porong yang telah dinormalisasi selama Mei-Juni, telah berhasil menahan puncak aliran air sampai pada batas yang tinggi di atas 1500m/detik.
Pada kurun waktu yang sama walaupun telah dikerahkan 4 kapal keruk baru, namun pembuangan lumpur (padu dan panas) masih dalam skala yang relatif kecil.
Penelitian sementara dari DK menunjukkan model bahwa masih berada di daerah sekitar mulut muara Kali Porong, sehingga perlu diklarifikasi laporan tersebut, dan diantisipasi agar sesuai tujuan dapat masuk ke Palung Dalam.