Ø Gunung lumpur merupakan fenomena geologi penting (important geological phenomena), dihasilkan oleh adanya aliran fluida secara vertikal (vertical fluida flow) dan semburan lumpur (mud eruption).
Ø Fenomnna tersebut umum terjadi pada cekungan-cekungan sedimentasi (sedimentation basins) di seluruh dunia.
Ø Pembentukan gunung lumpur umumnya merupakan pelepasan sedimen lempung yang kaya dengan unsur organik dan mempunyai tekanan tinggi atau tekanan berlebih (overpressure).
Ø Kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya suatu bangunan gunung lumpur yang impresif, baik di bawah permukaan bumi (subsurface) maupun di bawah dasar laut (submarine).
Ø Tulisan ini disusun berdasarkan serangkaian data (data set) dan hasil kerja lapangan, pada suatu gunung lumpur yang relatif baru menyembur di Jawa Timur (Indonesia), yang selanjutnya diberi nama sebagai LUSI.
Ø Lokasi semburan terletak pada cekungan sedimentasi di busur belakang (backarc sedimenary basin) Indonesia, berdekatan dengan komplek magmatik (magmatic complex) yang merupakan bagian dari busur muka (forearc region).
Ø Lokasi yang sepesifik tersebut dengan latar belakang gradien temperatur yang tinggi (high gradient temperature), telah memicu terjadinya transformasi mineralogi (mineralogy transformation) dan reaksi geokimia (geochemical reaction), pada kedalaman yang dangkal (shallow deep).
Ø Tahun 2006 sampai Juli 2007 volume semburan berkisar antara 120.000-180.000 m3/h,
Ø Volume semburan pada periode Agustus-September 111.000 m3/h, sedangkan angka penenggelaman rata-rata sebesar 11m.
Ø Tahun 2006, volume semburan berkisar antara 0 sampai 120.000 m3/hari, selanjutnya meningkat secara dramatis, dipicu oleh fenomena gempabumi yang terjadi pada bulan September 2006.
Ø Desember 2006 debit semburan meningkat mencapai angka tertinggi, yaitu sekitar 180.000 m3/h.
Ø Sampai pada bulan ke limabelas dari sejak awal semburan (saat penulisan makalah), LUSI masih terus menyembur dengan debit puncak (peak eruption) sekitar 111.000 m3/h.
Ø Sedangkan rata-rata penenggelaman tanah (land subsidence) di daerah luapan mencapai 11m.
Ø Penampang seismik refleksi (seismic reflection profile) memotong sumur eksplorasi BPJ-1 memperlihatkan bahwa sebelum terjadinya semburan, telah diidentifikasikan adanya aktivitas struktur (diapir lumpur membentuk pembubungan ’piercement’).
Ø Berdasarkan data geokimia dan pengamatan lapangan, penulis mengusulkan mekanisme semburan (mud eruption mechanism) bermula saat setelah terjadinya gempabumi 27 Mei di Yogyakarta,
Ø Proses berikutnya adalah membentuk rekahan yang berasosiasi dengan depressurization fluida pori, dengan temperatur > 100 derajat Celcius dari kedalaman > struktur yang telah berada pada kondisi kritis.
Ø Kondisi di atas menghasil pembentukan suatu sistem panas bumi (geothermal system), dengan ekspresi permukaan menyerupai geyser, dan berhubungan dengan terjadinya aktivitas yang terkait dengan kegempaan regional.