PROSIDING 2011
Amblesan dan Pengangkatan Sidoarjo (Jawa Timur):
sebagai hasil semburan mud volcano Lusi (2006-Sekarang)
Subsidence and uplift of Sidoarjo (East Java)
Due to the eruption of the Lusi mud volcano (2006–present)
H. Z. Abidin., M. A. Kusuma H,. Andreas., R. J. Davies, Deguchi School
Springer-Verlag 2008
Analisis Kata Kunji Judul Makalah:
AMBLESAN DAN PENGANGKATAN (SUBSIDENCE AND UPLIFT): Fenomena deformasi geologi berupa pergerakan tanah vertikal (vertical land displacement)
SIDOARJO (JAWA TIMUR): Lokasi kejadian di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur
SEBAGAI HASIL SEMBURAN MUD VOLCANO LUSI: Menekankan bahwa fenomena penurunan dan pengangkatan sebagai hasil langsung atau berganda dari semburan mud volcano Lusi
(2006-SEKARANG): Cakupan waktu dari kejadian penurunan dan pengangkatan antara tahun 2006 pasca semburan Lusi sampai tahun 2008 saat makalah diterbitkan.
Tata urut Kata Kunci dari Tinjauan Sari Makalah
· Pengukuran fenomena amblesan dan pengangkatan pada daerah disebabkan oleh mud volcano dengan GPS dan citra satelit InSAR:
· Data subsidence merupakan yang pertama pasca semburan:
· Besarnya subsidence Juni 2006-September 2007 yaitu 0,1-4cm/hari:
· Kecepatan maksimum vertikal di pusat semburan dan horisontal maksimum di baratlaut sebesar 0,03-0,9cm/h:
· Terjadinya pengangkatan (uplift) diluar Pusat semburan sebesar 0,09 cm/hari:
· Citra satelit InSAR mengindikasikan penurunan dan pengangkatan regional:
· Subsidence tipe sag-like terjadi sejak saat awal semburan sedangkan uplift 3-4 bulan kemungkinan terkait pergerakan Patahan Watukosek:
· Pengendali mekanisme subsidence karena efek pembebanan lumpur dan tanggul dan runtuhan disertai erosi bawah permukaan:
· Prediksi total subsidence 3 dan 10 tahun sebesar 44m dan 146m di pusat semburan:
· Mud volcano Lusi pada kondisi reorganisasi sendiri
Kata Kunci: Mud volcano Sidoarjo, Penurunan Lusi, Runtuhnya Kaldera
· Terjadi pergerakan tanah secara vertikal dan horizontal dipicu semburan mud volcano:
· Amblesan berlangsung secara stabil dan berlanjut dengan intensitas 0,1-4cm/hari:
· Dengan intensitas stabil pada 3-10 tahun total subsidence antara 44 dan 146m.
· Sesar menurun dari suatu kaldera terjadi di pusat semburan:
· Pengendali mekanisme subsidence yaitu pembebenan lumpur, runtuhnya penutup, dan pekerjaan di permukaan:
· Citra InSAR dapat mengidentifikasikan pengangkatan yang terjadi 3-4 bulan pasca semburan:
· Tidak ada bukti-buki patahan Watukosek terjadi sebagai aktivasi saat awal semburan:
· Mekanisme gerakan horizontal minor tidak jelas, alternatif dipicu sesar-sesar normal kearah pusat semburan:
· Collapse dengan intensitas 1-3 m terjadi pada Maret 2008, sejalan terbentuknya kaldera dan patahan normal
· Waktu hidup (time life) mud volcano akan mempengaruhi perluasan deformasi:
· Bila semburan berlanjut sampai 2 tahun, sehingga harus diperhatikan propagasi pergerakan tanah secara lateral dan dampak lingkungannya:
· Perlu adanya estimasi terhadap semburan berlangsung dalam jangka panjang:
Telah dilakukan pengukuran penurunan atau amblesan dan pengangkatan (subsidence and uplift)pada daerah yang berpenduduk padat di Sidoarjo, Jawa Timur, yang mengalami bencana disebabkan oleh semburan mud volcano Lusi (2006-sekarang).
Dengan menerapkan sistem penentuan posisi global (Global positioning system GPS) dan satelit berbasis InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar).
· Data subsidence merupakan yang pertama pasca semburan:
Data set tersebut merupakan suatu pengukuran secara kuantitatif langsung yang pertama dilakukan, terhadap deformasi tanah (land deformation) yang disebabkan oleh semburan mud volcano.
· Besarnya subsidence Juni 2006-September 2007 yaitu berkisar 0,1-4cm/hari:
Data GPS yang direkam dengan perioda beberapa jam sampai beberapa bulan, menunjukkan bahwa antara bulan Juni 2006 dan September 2007, permukaan bumi telah mengalami penurunan dengan kecepatan 0,1 sampai 4 cm/hari.
· Kecepatan maksimum vertikal di pusat semburan dan horisontal maksimum di baratlaut sebesar 0,03-0,9cm/h:
Kecepatan maksimum penurunan terjadi di daerah sebelah baratlaut dari pusat semburan mud volcano.
Sedangkan pergerakan horisontal sebesar 0,03–0,9 cm/h, juga dengan arah yang sama.
· Terjadinya pengangkatan (uplift) diluar Pusat semburan sebesar 0,09 cm/hari:
Secara umum pengangkatan sebesar 0,09 cm/hari juga tercatat terjadi di luar pusat semburan.
· Citra satelit InSAR mengindikasikan penurunan dan pengangkatan regional:
Perubahan pada elevasi yang diukur menggunakan citra satelit (teknik InSAR) menyediakan suatu dataset penurunan dan pengangkatan regional (regional subsidence and uplift).
· Subsidence tipe sag-like terjadi sejak saat awal semburan sedangkan uplift 3-4 bulan kemudian terkait pergerakan Patahan Watukosek:
Dikonfirmasikan bahwa selama tahun pertama sejak awal terjadi semburan Lusi, daerah tersebut telah mengalami subsidence tipe ambles (sag-like subsidence) di pusat semburan dan di sebelah baratlaut; serta pengangkatan terjadi 3–4 bulan setelah awal terjadinya semburan, disebabkan pergerakan sistem patahan Watukosek (Watukosek fault system movement).
· Pengendali mekanisme penurunan karena efek pembebanan lumpur dan tanggul dan runtuhan disertai erosi bawah permukaan:
Penurunan terjadi karena :
1) bobot lumpur(mud loading) dan tanggul-tanggul buatan manusia dan
2) runtuhnya penutup karena adanya pemindahan(removal) lumpur di bawah permukaan.
· Prediksi total subsidence 3 dan 10 tahun sebesar 44m dan 146m di pusat semburan:
Diasumsikan bahwa bila penurunan dengan kecepatan yang konstan sebesar 4 cm/hari, maka pusat semburan akan mengalami total penurunan sebesar 44 m dalam waktu 3 tahun, dan lebih dari 146 m selama 10 tahun ke depan.
· Mud volcano Lusi pada kondisi reorganisasi sendiri
Mud volcano sekarang berada pada suatu kondisi pengorganisasiannya sendiri (The mud volcano is now in a self-organizing state), dengan suatu saluran fluida yang baru dibentuk sebagai hasil dari keruntuhan (collapse).
Kata Kunci: Mud volcano Sidoarjo, Penurunan Lusi, Runtuhnya Kaldera
· Terjadi pergerakan tanah vertikal dan horizontal dipicu semburan mud volcano:
Semburan mud volcano Lusi telah memicu terjadinya pergerakan tanah secara vertikal dan horizontal (vertical and horizontal ground displacements).
· Subsidence berlangsung secara stabil dan berlanjut dengan inensitas 0,1-4cm/hari:
Subsidence terjadi secara stabil dengan kecepatan 0,1 dan 4 cm/hari menghasilkan perkembangan suatu runtuhan berbentuk gerowongan (avoid-shaped sag).
· Dengan intensitas stabil pada 3-10 tahun total subsidence antara 44 dan 146m.
Bila kondisi ini berlanjut 3-10 tahun, diperkirakan pusat semburan di Sidoarjo akan mengalami total penurunan(total subsidence)antara 44 dan 146m.
· Sesar menurun dari suatu kaldera terjadi di pusat semburan:
Penurunan di bagian pusat semburan terjadi oleh adanya sesar menurun dari suatu kaldera (downfaulting of a caldera).
· Pengendali mekaniseme penurunan yaitu pembebenan lumpur, runtuhnya penutup, dan pekerjaan di permukaan:
Diusulkan bahwa penurunan terjadi karena:
1. pembebanan lumpur (mud loading),
2. runtuhnya penutup karena adanya pemindahan lumpur dari bawah permukaan, dan
3. perkejaan di permukaan (seperti pembangunan tanggul-tanggul) yang menyebabkan pemampatan tanah.
· Citra InSAR dapat mengidentifikasikan pengangkatan yang terjadi 3-4 bulan pasca semburan:
Data InSAR juga mencirikan terjadinya fenomena pengangkatan tanah (land uplift), disebabkan pergerakan sistem patahan Watukosek (Watukosek fault system), yang terjadi 3-4 bulan setelah awal semburan bermula yaitu 29 Mei 2006.
· Tidak ada bukti-buki patahan Watukosek terjadi sebagai aktivasi saat awal semburan:
Tidak ada bukti adanya pergerakan patahan Watukosek pada bulan-bulan sebelumnya, sebagai hasil reaktifasi selama gempabumi Yogyakarta.
· Mekanisme gerakan horizontal minor tidak jelas, alternatif dipicu sesar-sesar normal kearah pusat semburan:
Kejadian dari pergerakan horizontal yang kecil tidak jelas, salah satu mekanisme adalah sesar-sesar normal terbentuk dan bergerak ke bawah menuju pusat mud volcano.
· Collapse dengan intensitas 1-3 m terjadi pada Maret 2008, sejalan terbentuknya kaldera dan patahan normal:
Bukti-bukti dari pengukuran yang baru diambil pada bulan Februari dan Maret 2008 mengindikasikan bahwa intensitas penenggelaman terjadi antara 1-3 m dalam satu malam.
Hal ini sebagai suatu indikasi bahwa terjadinya struktur patahan, merepresentasikan tahap awal pembentukan kaldera (start of caldera formation).
· Waktu hidup (time life) mud volcano akan mempengaruhi perluasan deformasi:
Perluasan dari deformasi yang berasosiasi dengan mud volcano akan tergantung kepada waktu hidup dari semburan.
· Bila semburan berlanjut sampai 2 tahun, sehingga harus diperhatikan propagasi pergerakan tanah secara lateral dan dampak lingkungannya:
Katakan semburan akan berlanjut sampai 2 tahun tanpa perioda berhenti yang signifikan.
Sehingga studi ke depan harus berfokus kepada suatu pemodelan dan pemantauan terghadap propagasi pergerakan tanah secara lateral dan dampak lingkungannya.
· Perlu adanya estimasi terhadap semburan berlangsung dalam jangka panjang:
Fokus jangka menengah yang penting adalah melakukan estimasi jangka panjang terhadap terjadinya semburan.