DISIAPKAN UNTUK LUSI LIBRARY: Dikontribusikan Hardi Prasetyo 6 Juni 2014
Semburan Lumpur Yang Menimbulkan Bencana disebabkan Alami, Temuan Studi Baru
Catastrophic Mud Eruption Had Natural Causes, Study Finds
By Charles Choi, Contributing writer
http://m.livescience.com/38329-mud-eruption-caused-by-earthquake.html
Date: 21 July 2013
Tulisan Populer ini merupakan bagian dari Choi 2013, yang intinya mengangkat ke permukaan hasil studi ilmiah baru (tahun 2013) yang menyimpulkan Semburan Lusi mud volcano merupakan fenomena awal, sebagaimana LUPI dkk., 2013.
Perkembangan Pemahanan terkait Lusi mud volocano terkini, LUSI mempunyai hubungan yang erat dengan sistem Hidrotermal dalam Gunung Penanggungan-Welirang-Arjuno
Lupi 2013, Semburan lumpur Lusi dipicu oleh dengan geometri yang memusatkan dari gelombang gempa
(Lusi mud eruption triggerred by geometric focusing of seismic wave).
Sedangkan temun ilmiah terkini terkait LUSI mud volcano akhir 2013-2014 lebih memusatkan perhatian pada Deformasi di sekitar LUSI yang mempunyai implikasi pada Kehidupan Lusi ke depan, antara lain Andreas, Aoki, Shilston, Rudolph.
Paper ini juga ditampilkan pasca Kunjungan Prof. Dr. Miller salah satu penulis dari makalah ditulis oleh Lupi tersebut, mengunjungi Indonesia, dengan agenda:
LUSI GEYSER:
Andreas, Rudolph - Exponential Decay
Shilstone: Geological and Engineering of Lusi mud volcano disaster
Mazzini- Sudarman: Kaitan Lusi dengan Hidrotermal Gunung Penanggungan
Mengunjungi dan Menjelajah Lusi mud volcano baik jalan kaki maupun menggunakan sepeda motor
KANTOR BAPEL BPLS
Melakukan Diskusi di BPLS, baik dengan pimpinan Bapel BPLS, maupun dengan Stakeholders terkait Penanggulangan LUSI
GUNUNG BROMO
Mengunjungai Pos Pengamat Gunung Bromo, di bawah Badan Geologi, KESDM dan menikmati keindahan panorama alam, memeranken sebagai Turis Asing : LUSI-BROMO-TANGKUPAN PERAHUVOLCANO TOURISM
YOGYAKARTA MERAPI DAN KAMPUS UPN
Mengunjungi Pos Pengamat Gunung Api Merapi dan Museum Mbah Marijan
Melakukan Diskusi di Fakultas Geologi UPN, Yogyakarta
PPGL BANDUNG
Melakukan Diskusi Ilmiah di Auditorium PPPGL-Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, KESDM
Prof. Miller di Kampur UPN Yogyakarta
Maket Potensi Bahaya Merapi dijelaskan oleh Dr. Hanik
Mengunjungi Sistem pemantauan Gunung Bromo
Prof. Miller, membuka ceramah dengan Paradigma Baru Global Tektonik, termasuk Teori Pengapungan Benua (continental drift), Penebaran dasar samudera (seafloor spreading), dan konvergensi tektonik lempeng (active of tectonic plate), kasus Busur Sunda (Sunda Arc).
Pokok Makalah Geometri Pemantul Parabola Raksasa yang memusatkan gelombang gempabumi pada sumber lumpur, mengakibatkan fluidasasi.
Kunjungan Ke Museum Mbah Marijan di Gunung Merapi
Semburan Lumpur Yang Menimbulkan Bencana disebabkan Alami, Temuan Studi Baru
Bencana Lusi mud volcano dari pemboran
menjadi fenomena alam
Sebuah bencana dari semburan lumpur (A catastrophic mud eruption) di Indonesia yang sebelumya telah menyalahkan kegiatan pengeboran oleh perusahaan minyak sebagai penyebabnya adalah.
Namun penelitian baru menunjukkan mungkin penyebabnya alami penyebab
alami (instead have natural causes).
Lahirnya Lusi mud volcano terbesar di dunia
Pada tahun 2006, gunung lumpur terbesar di planet ini telah lahir (the largest mud volcano on the planet was born ).
Material yang disemburkan
Dimana uap, air dan lumpur mulai menyembur di pulau Jawa Indonesia.
Pucak semburan lumpur mendidih mencapai 180.000m3/hari
Pada puncaknya, itu memuntahkan 6,3 juta kaki kubik (180.000 meter kubik) lumpur mendidih per hari.
Angka ini cukup untuk menenggelamkan sebuah lapangan sepak bola sedalam hampir 110 kaki (34 m).
Semburan mud volcano masih terjadi dengan
pola Geyser
Gunung Lumpur masih terus menyembur dengan ledakan seperti geyser (The mud volcano still erupts with outbursts like a geyser).
Bencana dan Dampak yang dahsyat
Bencana yang dihasilkan, yang dikenal sebagai semburan lumpur Lusi, telah mengubur pabrik dan desa, menyebabkan 13.000 keluarga kehilangan rumah mereka.
Berkembang dua penyebab dan pemicu semburan Lusi
Para ilmuwan telah menyarankan dua penyebab potensial untuk terjadinya bencana(Scientists have suggested two potential causes for the calamity).
Alternatif pemicu dari kegiatan pemboran
Kemungkinan pertama adalah bahwa semburan bisa saja dipicu oleh pengeboran di sumur eksplorasi gas (drilling at a gas exploration well, Banjar-Panji-1), Banjar Panji-1-, yang berjarak sekitar 500 kaki (150 m) dari gunung lumpur.
Alternatif dipicu gempabumi Yogyakarta
Kemungkinan lain adalah bahwa semburan mungkin telah dipicu oleh gempa berkekuatan 6,3 (the outburst may have been set off by the magnitude-6.3 earthquake ) yang terjadi-sekitar 150 mil (240 kilometer) jauhnya di Yogyakarta, Pulau Jawa hanya dua hari sebelumnya, menewaskan hampir 6.000 orang.
[Countdown:
Gunung berapi Paling Merusak Sejarah ini]
Lapindo Berantas beranggapan bahwa semburan Lusi adalah disebabkan alami (natural process)
Perusahaan minyak dan gas Lapindo Brantas, yang mengoperasikan sumur, telah mengklaim bahwa semburan tersebut karena penyebab alami (the eruption was due to natural causes).
Tim Pakar lainnya tetap mengklaim Semburan Lusi dari kesalahan Pemboran
Namun, tim ilmuwan internasional memperkirakan perusahaan yang bertanggung jawab, dan pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa perusahaan bertanggung jawab secara finansial, menuntut untuk membayar dana ganti rugi $ 420.000.000 (catatan:pada hakekatnya jual beli) bagi para korban dan upaya untuk menghentikan semburan lumpur (to cover restitution for the victims and aid efforts to stop the mud flow).
Temuan Ilmiah baru memperkuat Penyebab Lusi alami (a natural cause)
Saat ini , kelompok peneliti lain menyarankan bahwa semburan lumpur Lusi sebenarnya memiliki penyebab alami (another group of researchers suggest the Lusi mud eruption may actually have had a natural cause).
Dipicu oleh gelombang seismik diperkuat dari gempa bumi sebelumnya (triggered by amplified seismic waves from the preceding earthquake).
“Aksi dari Tektonik”
Penelitian baru oleh Stephen Miller terkait data seismik di lokasi semburan Lusi
Stephen Miller, seorang Pakar Geodinamika (geodynamicist) dari Universitas Bonn di Jerman, dan rekan-rekannya telah menganalisis data seismik dari lokasi semburan lumpur.
Konsentrasi pada lapisan melengkung yang menutupi batuan sumber
Mereka terkonsentrasi pada lapisan melengkung dari batuan yang menutupi reservoir lumpur (a curved layer of rock that capped the mud reservoir).
Lapisan melengkung memperkuat dan memusatkan gelombang gempa, mencairkan sumber lumpur
Simulasi komputer kini mengusulkan bahwa lapisan melengkung dari batu akan berfungsi sebagai lensa untuk mencerminkan, memperkuat dan fokus gelombang seismik gempa (suggest the curved layer of rock would serve as a lens to reflect, amplify and focus the quake's seismic waves).
Dimana cukup untuk mencairkan lumpur dan menimbulkan semnburan tersebut(enough to liquefy the mud and set off the outburst.).
"Lusi adalah aksi dari tektonik," ("Lusi is tectonics in action) kata Miller.
Tidak semua pihak setuju bahwa semburan disebabkan oleh alami.
Gelombang Gempa terlalu lemah untuk memicu Lusi
Namun para penelitian sebelumnya mengusulkan bahwa gelombang seismik dari gempa sebelumnya terlalu lemah untuk memicu letusan lumpur (seismic waves from the preceding earthquake were too weak to trigger the mud eruption).
Davis percaya 99% Lusi disebabkan aktivitas pemboran
"Saya 99 persen yakin bahwa hal ini disebabkan oleh aktivitas pengeboran," ("I am 99 percent certain this was caused by drilling activity,") kata Richard Davies, seorang ahli geologi minyak bumi (petroleum geologist) di Durham University di Inggris yang tidak mengambil bagian dalam studi ini.
Pemanfaatan lumpur pengeboran
Ketika lubang bor dibor, digunakan lumpur, Davies menjelaskan. Lumpur pengeboran(Drilling mud) memiliki beberapa tujuan, salah satunya adalah untuk memberikan tekanan yang cukup di dalam lubang (is to provide enough pressure in the hole) untuk mencegah cairan yang terjadi secara alami di batuan dari datang ke dalam sumur dan selanjutnya naik ke permukaan (to prevent fluid that occurs naturally in the rock from coming into the well and climbing to the surface).
Kaitan antara lumpur pemboran dan terjadinya ledakan bawah tanah
Masalahnya adalah, tidak adanya cukup lumpur dalam lubang pada dinihari 28 Mei 2006, "sehingga cairan bawah tanah secara cepat masuk ke dalam lubang, selanjutnya menyebabkan terjadinya ledakan, dan lahirnya mud volcano Lusi," ("so underground fluid rushed into the hole, which led to a blowout, and the birth of the Lusi mud volcano,") Davies menegaskan.
Davies mempertanyakan mengapa sebelumnya, gempa bumi yang lebih besar tidak memicu Lusi sebelum tahun 2006 (why earlier, larger earthquakes did not trigger Lusi before 2006).
Respon Miller terhadap pertanyaan Davies terkait gempabumi sebagai pemicu Lusi mud volcano
"Tanggapan kita terhadap itu adalah bahwa gempa bumi besar - yang berarti tahun 2004 berkekuatan 9,2 dan 2005 berkekuatan 8,6 gempa Sumatra - sangat lebih jauh, sekitar 2.000 kilometer [1.200 mil] jauhnya," kata Miller.
Sehingga gelombang seismik yang mencapai Lusi, oleh karena itu, jauh lebih lemah.
Penegasan pengendali mekanisme geometri batuan melengkung memantulkan dan memusatkan gelombang pada reservoir lumpur
Mereka juga semacam gelombang yang akan berinteraksi dengan lapisan batuan melengkung di Lusi. Dimana dengan cara yang simulasi mengungkapkan bahwa akan mencegah energi seismik dari penetrasi cukup dalam untuk dapat mencapai lapisan lumpur (prevent seismic energy from penetrating deep enough to reach the mud layer).
Davies tetap berpendapat dalam kondisi apapum pemboran yang dilakukan tetap berbahaya
Meskipun Miller dan rekan-rekannya berpikir bahwa mereka telah mengesampingkan penyebab buatan untuk semburan lumpur (they have ruled out an artificial cause for the mud eruption), pengeboran perusahaan "berbahaya, dalam hal apapun," katanya.
"Kalau gempa Yogyakarta tidak terjadi, mereka mungkin akan lolos dengan itu.
Tapi gempa terjadi, dan sumur mereka buruk dirancang mencatat respon dari lapisan lumpur gempa itu. "
Temuan yang rinci temuan mereka secara online 21 Juli di jurnal Nature Geoscience.
How They Blow: Secrets of Yellowstone's Geysers
By Becky Oskin, Staff Writer | July 19, 2013 10:29am ET
http://www.livescience.com/38299-yellowstone-lone-star-geyser.html
Despite more than a century of scrutiny, the inner workings of Old Faithful and other Yellowstone National Park geysers remain a mystery.
Scientists still hash over the basics, such as how water and steam pressurizes underground before a geyser erupts. Now, a high-tech look at Lone Star Geyser, one of the park's most punctual bubblers, could finally solve some of these long-standing puzzles. The research may also help scientists better understand and predict volcanic eruptions.
"The signals we record in geysers may put better constraints on the sources that generate those signals in volcanoes," said Shaul Hurwitz, a co-author of the study and a research hydrologist with the U.S. Geological Survey in Menlo Park, Calif.
Mini volcanoes
Geysers are like miniature volcanoes, with tiny tremors that warn of coming blasts and deathly hot fluids fountaining in the air. The big differences between the two are the plumbing — water versus lava — and the punctuality. But the predictability of geysers makes them an ideal test bed for figuring out how eruptions work.
In 2010, Hurwitz corralled a baker's dozen of geoscientists from around the world for a weeklong experiment at Lone Star Geyser. They measured water discharge, ground motions, seismic waves and sound waves, and recorded high-speed visible and infrared video. Lone Star Geyser erupts every three hours. [Video: A Scenic Tour of Yellowstone National Park]
The results help explain the processes controlling a geyser's graceful jets of water and steam, as well as what's happening underground before, during and after an eruption, the researchers said. The findings were published June 19 in the Journal of Geophysical Research: Solid Earth.
Four phases
The experiment revealed Lone Star's eruption has four distinct phases, each with a unique geophysical signal, Hurwitz said. As pressure builds up underground, a "preplay" phase, with pulses of steam and water, signals the coming outburst. Then, the eruption starts, with water and steam fountaining at 36 to 63 mph (58 to 101 km/h). The researchers tracked particles in the jetting water with the high-speed cameras to calculate the speed. A quiet post-eruption phase follows, finishing with a recharge phase while the geyser cone refills.
About half of the world's 1,000 known geysers are in Yellowstone, which is an enormous volcanic field that has seen at least three giant, caldera-forming eruptions in the past. Geysers like Old Faithful and Lone Star are usually found near recently active volcanoes, where magma can heat subsurface water. They form when choke points prevent water and steam from rising underground, trapping bubbles that eventually explode into a fountaining geyser eruption.
What's underground
The total heat output of Lone Star Geyser was found to be about 1.4 megawatts, which is enough energy to power 1,000 homes for one hour. But the heat amounts to less than 0.1 percent of the total heat output from the whole Yellowstone caldera, Hurwitz said. This suggests that most of the heat trying to escape to the surface (from magma deep in the crust) radiates out through geothermal features that release steam, such as in the eastern part of the park.
"Steam can transport a lot of heat," Hurwitz said. "Even if you took all the geysers in Yellowstone, the total heat output is relatively negligible."
Hurwitz and his co-authors are now preparing another journal article on the shape of Lone Star Geyser's underground plumbing, he said.
Studies published recently on geysers in the Valley of the Geysers on Russia's Kamchatka Peninsula and Yellowstone's Old Faithful found many geyser chambers may be egg-shaped instead of long, narrow pipes, as researchers had previously thought.
Lone Star Geyser in Yellowstone National Park erupts about every three hours. It is one of the park's biggest geysers.Credit: Shaul Hurwitz
Yellowstone National Park's Old Faithful erupting a column of steam and superhot water.
Credit: Dreamstime