· Asosiasi umum mud volcano dan patahan:
Mud volcano umum diketahui berasosiasi dengan patahan di dalam kedudukan tektonik yang aktif (active tectonic settings) (e.g. Brown,1990; Kopf, 2002, 2008; Bonini, 2007).
· Implikasi umur semburan mud volcano yang pendek pada hubungan patahan dan gempabumimenjadi kurang jelas:
Karena durasi dari semburan mud volcano (duration of the mud volcano) umumnya pendek, sehingga tidak ada studi yang memperlajari bagaimana patahan dan gempabumi memberikan dampak pada semburan ini.
· Mud volcano Lusi membuka peluang untuk mempelajari hubungannya dengan patahan:
Namun pada Mei 2006 terjadi semburan Lusi di Indonesia yang masih berlangsung saat ini.
Sehingga menyediakan suatu kesempatan, untuk mempelajari hubungan antara patahan dan mud volcano.
· Lusi menyediakan informasi pemicu dan pembentukkan dari saat kelahirannya:
Lusi merepresentasikan suatu even yang eksklusif untuk dapat mempelajari pemicu dan pembentukan (triggering and formation) dari suatu semburan mulai saat kelahirannya.
· Kelahiran Lusi dan karakteristik awal semburannya:
Mud volcano tiba-tiba menyembur pada 29 Mei 2006 dengan temperatur 100oC, Terdiri dari lumpur dan gas mulai di Jawa Timur. mud (Mazzini et al., 2007).
· Penegasan kelahiran Lusi berlokasi disepanjang zona patahan Watukosek:
Even ini menandai lahirnya mud volcano disebut Lusi, berlokasi sepanjang zona patahan utama gesar Watukosek (the major Watukosek strike-slip fault zone).
· Semburan Lusi yang menerus dan bereskalasi dari waktu ke waktu:
Semburan dari mud volcano normalnya terjadi selama beberapa hari. Namun mengejutkan bahwa semburan Lusi berlangsung menerus dan dengan eskalasi meningkat (escalated).
· Fluktuatif semburan antara 50.000m3/hari sampai puncak 180.0003/hari:
Setelah tiga hari, kecepatan semburan (flowrate) Lusi mencapai 50.000m3/hari dan terus meningkat. Ahkhir September 2006 mencapai rekor tertinggi sebesar 180.000m3/hari.
· Luas daerah genangan, durasi, pengaliran saat ini ke Kali Porong, dan dampak sosial pengungsian penduduk:
Luapan lumpur saat ini menutupi daerah seluas 7 km2 walaupun jumlah besar lumpur saat ini secara konstan dialirkan ke Kali Porong.
Sekitar 40.000 orang telah mengungsi dan mud volcano tetap aktif setelah mendekati 3 tahun (sekarang 4 tahun).
· Pernyataan Semburan Lusi tidak dapat dihentikan:
Lusi tampaknya akan tidak dapat dihentikan, dan semua upaya untuk menghentikan semburan lumpur sebegitu jauh telah gagal. Lusi seems to be unstoppable, and all the attempts to halt the mud eruptions have so far failed (Mazzini et al., 2007).
· Sejak awal Lusi selalu dicari tentang pemicunya:
Sejak saat awal terjadinya semburan Lusi, telah diupayakan untuk mendapatkan tentang pemicu semburan baik aspek ilmiah dan sosial.
Mazzini et al. (2007) Mazzini et al. (2007) menyediakan pertamakali dukumen detail tentang kedudukan geologi (geological setting), stratigrafi regional (the regional stratigraphy).
Juga analisis dan penafsiran dari contoh cairan dan gas dari semburan dan di dekat sumur eksplorasi Banjar Panji-1.
· Temperatur Lusi yang tinggi dan implikasi lokasinya dekat gunung magmatik:
Temperatur dari semburan mencapai 100oC dan mungkin lebih tinggi di pusat semburan.
Walaupun lokasi Lusi berdekatan dengan busur gunung api (volcanic arc), sebegitu jauh geokimia fluida tidak mengindikasikan keterlibatan dari fluida magmatik.
· Telah dikonfirmasi asal mula padatan dan fluida kedalaman 1300-1870:
Asal usul padatan dan fluida dapat diikuti pada lapisan sedimen (sedimentary strata) antara kedalaman 1300 dan 1870m.
· Gempa bumi Yogyakarta sebagai kunci penting kelahiran Lusi:
Kunci penting untuk memahami kelahiran Lusi adalah terjadinya gempa bumi dua hari sebelum semburan. Dengan kekuatan 6,3 M yang berlangsung di selatan Jawa, Baratlaut Yogyakarta, ~250 km dari Surabaya,. (U.S. Geological Survey, 2006).
Pertanyaan adalah apakan gempabumi telah merubah sistem saluran dan tektonik (the plumbing and tectonic system) di timurlaut Jawa?
· Pernyataan gempabumi dapat memicu Lusi melalui reaktivasi patahan Watukosek dan struktur pembubungan yang sebelumnya telah terbentuk:
Penulis berdasarkan data lapangan dan geokimia percaya bahwa gempa bumi dapat memicu semburan Lusi dengan reaktivasi patahan Watukosek dan struktur pembubungan di bawah permukaan (the earthquake could have triggered the Lusi eruption by reactivating the Watukosek fault and a sub-surface piercement structure. Selanjutnya melepaskan fluida overpressure (subsequently releasing overpressured fluids) (Mazzini et al., 2007).
· Alternatif hipotes Lusi dipicu oleh semburan liar sumur BJP-1
Suatu alternatif hipotesis terkait dengan inisiasi Lusi oleh semburan liar (blow-out) di dekat sumur eksplorasi BJP-1. (Davies et al., 2008; Tingay et al., 2008).
· Makalah berfokus reaktifasi patahan Watukosek pasca gempa Mei 2006: posisi kontroversi pada pembentukan
Dalam upaya memahami secara lebih baik even lusi yang terkait kontroversi pada pembentukannya, kami menyajikan hasil pengamatan lapangan yang memperjelas aktivasi dari patahan Watukosek (the activation of the Watukosek fault) setelah gempabumi Mei 2006.
· Pendekatan dan metodologi lintas disiplin:
Data ini dikomplemen dengan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan eksperimen laboratorium dengan pemodelan matematika, mencakup reologi anggota akhir (the rheological end member).
· Penegasan konsepsi perbedaan antara penyebab dan pemicu Lusi:
Pada makalah ini penulis juga membedakan antara penyebab (semua even geologi melibatkan sistem Lusi) dan pemicu (final dari even-even terdahulu).
· Tujuan lain mengetahui hubungan antara deformasi tektonik dan tekanan fluida kritis
Dengan tujuan untuk mengembangkan suatu hubungan antara deformasi tektonik (tectonic deformation) dan tekanan fluida kritis (critical fluid pressure), dimana semburan terjadi pada kedudukan tertentu yaitu volkanisme lumpur (mud volcanism