DINAMIKA LUSI DARI TAHUN KE TAHUN: 2011
LINK DINAMIKA LUSI BULANAN 2011
PILIH BLOG DI BAWAH INI:
2011Dec-Otc Dec_Oct Jun-Jan Sep_July
TRANSISI DARI DESEMBER 2010-JANUARI 2011
Pada akhir tahun 2010, kondisi semburan Lusi sebagai suatu mud volcano telah semakin mantap menunjukkan kondisi perkembangan yang menuju pada tahap istirahat (dormant stage). Dicirikan oleh beberapa indikator, yaitu:
· Kecepatan semburan berfluktuatif antara 5.000-15.000 m3/hari, komposisi terus didominasi oleh air dan sedikit koloid lumpur (rasio air-lumpur 90:10), temperatur semakin dingin (sekitar 300C), sebagian telah dimanfaatkan untuk mendukung operasi kapal keruk di P43 (timur) dan P25 (barat).
· Deformasi berupa patahan geser (strike slip fault) berarah baratlaut-tenggara, memotong arah radial dari lereng gunung sangat jelas dapat diindikasikan terjadi di utara P 43.
Keberadaannya dapat dibedakan dengan deformasi berupa longsoran ke bawah lereng (downslope sliding) disertai patahan radial ke arah bawah lereng.
Hal ini mengindikasikan bahwa secara umum deformasi di sekitar kawah gunung masih berlangsung.
Dinamika luapan lumpur saat ini lebih menjadi titik kritis (critical point) ditinjau dari eskalasi potensi bencana yang dapat ditimbulkannya, bila dibandingkan dengan dampak semburan Lusi, pada waktu-waktu sebelumnya (2007-2009).
Implikasi Reorganisasi Gunung Lumpur di musim hujan
Pada musim hujan yang sampai pada awal Januari ini terus berlangsung, bersamaan dengan produksi air dari kawah.
Sehingga proses reorganisasi sistem gunung lumpur (anatomi dan pengendali mekanisme semburan) pada umumnya, serta khususnya postur atau morfologi gunung lumpur di permukaan.
Dimana telah memberikan implikasi cukup serius antara lain:
· Terjadinya ambles pada tanggul penahan lumpur di timur Basin Glagaharum (P 80 dan 81). Saat kejadian berisi air dengan volume yang cukup signifikan.
Sehingga luapan air telah melimpas dan menggenangi wilayah desa Gempolsari (2 RT), Glagaharum (2 RT), Sentul (4 RT), Plumbon dan Penatarsewu.
· Kejadian ambles tanggul dan melimpas air (bukan lumpur panas seperti masa lalu), pada akhirnya telah berdampak terjadinya gejolak sosial kemasyarakatan yang baru.
· Pada 6 Januari 2011, bagian lereng bawah dari gunung Lusi sebelah timur laut (Timur TAS) telah longsor disertai dengan aliran material kasar (debris flow) dan arus pekat (density current).
Sehingga dalam waktu singkat telah meningkatkan muka lumpur secara lokal, yaitu di sebelah timur dari zona tumbukan TAS. Namun kejadian ini tidak memberikan dampak yang berarti.
· Sebagai konsekuensi dari proses tumbukan (collision processes) di sektor barat (Siring), dampaknya makin terlihat, dengan adanya kenaikan muka lumpur padu yang relatif sangat cepat.
Sehingga tanggul penahan lumpur terutama di P 21c terpaksa terus ditinggikan. Sampai mendekati angka kritis yang ditetapkan, yaitu 11 m.
Di sekitar daerah tumbukan ini waking minimal mencapai 120cm, lumpur di sisi dalam tanggul mulai digali, untuk mengurangi potensi kenaikan muka lumpur yang ekstrim.
· Di sektor Osaka (barat laut), dua excavator secara berkelanjutan telah digunakan untuk memindahkan lumpur padu, dari bagian lereng bawah gunung Lusi yang telah menumbuk tanggul.
Fakta lapangan menunjukkan bahwa setiap pagi, kanal sempit yang telah dikeruk sehari sebelumnya, telah diisi kembali oleh lumpur padu.
Hal ini mengindikasikan bahwa gerakan lereng bawah gunung lumpur terutama ke arah daerah depresi masih terus berlangsung.
· Pond Mindi yang pada musim hujan telah terisi air, dan masih dilakukan pekerjaan konstruksi tanggul di bagian selatan.
Pada tanggal 30 Desember 2010, bagian dari dasar bronjong yang sedang dikerjakan, telah mengalami ‘sliding’, namun dengan intensitas yang minor.
Kejadian ini telah mendapatkan perhatian khusus, untuk mencegah potensi bencana yang lebih besar lagi (pasca ambles tanggul Glagaharum, yang telah menimbulkan masalah sosial kemasyarakatan baru).
Even Pertemuan dengan Pelaku Utama LUSI
Pada TA 2011 BPLS telah merencanakan untuk melaksanakan suatu Seminar Internasional denganTema Fenomena Mud Volcano LUSI : Solusi yang Holistik, pada 9-10 November 2011, di Surabaya.
Pada pertemuan ini diharapkan dapat ditentukan hal-hal mendasar dengan fokus utama terkait Semburan dan Luapan Lusi, serta penanganan bencana yang ditimbulkan oleh suatu fenomena mud volcano Lusi sebagai salah satu proses belajar (lesson learn).
Atas dorongan berbagai pihak, sehubungan durasi LUSI 5 tahun (29 Mei 2011), BPLS telah mengakomodasi untuk mendukung fasilitas bagi dilaksanakannya forum saresehan Lusi atau (Lusi 5thYear Gathering).
Kegiatan akan dipusatkan di titik P25. Pada tahun-tahun sebelumnya baik warga atau masyarakat umum baik di Indonesia atau di manca Negara, menggunakan momentum durasi tahunan semburan Lusi sebagai suatu proses ‘perenungan’ sampai ke konsolidasi upaya mencari solusi terhadap Bencana Lusi, yang terasa telah menjadi milik bersama warga dunia.
Even ini mempunyai nilai strategis mengingat:
1) akan membangun kesamaan ‘knowledge’ dan persepsi terhadap suatu fakta lapangan terkait perubahan cukup mendasar. Bahwa perkembangan Lusi saat ini telah menuju tahap‘dormant’, sehingga potensi yang mungkin ditimbulkan semburan semakin berkurang;
2) mud volcano Lusi masih terus melakukan reorganisasi, termasuk dinamika deformasi, sehingga masih relevan posisi kebijakan yang dianut selama ini. Bahwa semburan Lusi sebagai suatu mud volcano, sulit dihentikan oleh teknologi yang tersedia saat ini;
3) Rekonsiliasi para pemangku kepentingan Lusi, dari posisi masa lalu yang penuh dengan kontroversi dan perbedaan pendapat terkait penyebab semburan. Untuk selanjutnya lebih realistis melihat ke depan menuju suatu solusi yang holistik.
Dinamika Dan Perubahan Paradigma Semburan Dan Luapan Lusi
Mengingat fenomena Lusi telah menjadi suatu milik masyarakat umum, disamping perkembangan lingkungan strategis (Lingstra) baik nasional maupun internasional.
Sehingga dipandang perlu untuk menyamakan ‘knowledge’ dan persepsi umum terhadap esensi dari Perubahan Paradigma Semburan dan Luapan mud volcano Lusi.
Pada awal tahun 2011 dinamika semburan dan Luapan Lusi dapat diringkas dengan alur dan pola pikir sebagai berikut.
Fenomena kebencanaan Lumpur Sidoarjo, telah menjadi milik dari masyarakat dunia
Sehingga perhatian, pandangan, usulan dari berbagai sudut pandang, baik formal atau informal terus mengalir.
Daya tarik dari fenomena Kebencanaan Lusi, yaitu:
1) Telah menimbulkan korban manusia, dan dampak terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat, dan lingkungan;
2) Penuh dengan misteri alam baik terkait anatomi (arsitektur, sumber air, sumber gas, sumber panas) dan pengendali mekanisme semburan lumpur yang pernah mencapai angka spektakular 180.000 m3/hari (2006) dihasilkan dari satu pusat semburan
Bila dikonversi lebih dari 1 juta barrel minyak bumi yang dihasilkan dari ribuan sumur produksi(production well);
3) Telah menimbulkan kontroversi baik dari sisi keteknikan dan ilmiah, yang sampai pada ranah hukum dan politik;
4) Satu-satunya aspek kebencanaan di dunia, dimana fenomena mud volcano telah ditangani oleh manusia di Millenium ke III.
Pada umumnya dari ribuan mud volcano yang aktif lainnya di dunia telah berkembang di daerah terpencil (remote area), dan tidak dilakukan upaya oleh manusia untuk menghentikannya;
5) Semakin mengkristal pandangan bahwa Lusi merupakan salah satu dari ribuan mud volcano aktif lainnya di dunia.
Dan secara regional Lusi mud volcano merupakan salah satu dari keseluruhan keluarga besar mud volcano, total berjumlah 15, yang eksis di Jawa Timur dan Jawa Tengah (Sangiran dan Bleduk Kuwu).
6) Semakin dipahami dan diterima sebagai suatu fakta lapangan bahwa Lusi mud volcano cenderung memasuki perkembangan mud volcano tahap istirahat ‘dormant stage’.
Mempunyai analogi perkembangan dengan mud volcano Bleduk Kuwu di Jawa Tengah. Kondisi luapan pada Januari 2011 dimana luaran material semburan di kawah terutama didominasi air, temperatur dipantau di lereng yang semakin dingin. Sehingga posisi dormant menjadi semakin mantap.
7) Walaupun dari sisi kecepatan semburan, serta komposisi material (air, lumpur, gas), dan temperatur telah berubah mendasar dari sebelumnya yang berada pada domain Lumpur Panas.
8) Namun titik semburan masih dinamis (perubahan posisi, disertai kick lumpur, tanpa flow lumpur), dikomplemen dengan masih terjadinya deformasi terutama amblesan dan patahan. Sehingga BPLS tetap menentukan bahwa semburan Lusi masih sulit dihentikan oleh teknologi yang tersedia saat ini.
9) Berdasarkan evaluasi dari fakta lapangan, dipadukan dengan informasi perbandingan dari keberadaan mud volcano di dunia.
Sehingga perkiraan keadaan semburan lusi ke depan dari titik saat ini (titik Nol 1 Januari 2010) Lusi memasuki tahap ‘dormant’, dengan tiga alternatif skenario, yaitu:
1) Semburan terus seperti saat ini dengan ‘kick lumpur’, namun luapan didominasi air yang semakin dingin;
2) Semburan terutama ‘kick’ berhenti atau mengecil berubah menjadi rembesan air ‘water seep’, model ideal dari Bleduk Kuwu; dan
3) Semburan kembali pada perilaku Lusi Panas (2006-2009) dengan kick tinggi, flow rate di atas 50.000 m3.
10) Dalam kaitan ini, Bapel BPLS belum dapat memastikan durasi kehidupan ke depan.
Oleh karena itu akan ditempatkan sebagai obyek penelitian ilmiah tahun 2011, yang akan bekerjasama dengan berbagai instansi terkait di dalam dan luar negeri.
Disamping itu BPLS telah menyiapkan antisipasi bila memasuki kasus skenario terburuk (the worst case scenario), yaitu kasus scenario ke III (Hot LUSI recurrent interval).
11) Telah ditentukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Badan Geologi, KESDM.
Bahwa untuk pengambilan keputusan terhadap peri kehidupan semburan Lusi ke depan apakah dengan opsi perlu dihentikan (man made process) atau apakah dibiarkan hidup secara alami sehingga akan berhenti dengan sendirinya secara gradual.
Harus terlebih dahulu diawali dengan tahap studi ilmiah yang lebih komprehensif.
Ditujukan untuk mengetahui anatomi di bawah permukaan (subsurface) dari lokasi kawah pada pusat semburan yang saat ini.
Karena semua informasi dan knowledge selama ini terutama didasarkan pada informasi diambil sebelum terjadinya semburan (2006);
12) Badan Geologi, dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, telah merencanakan pada APBN 2011 ini untuk melakukan survei pengambilan data penampang seismik 3-D.
Dalam pelaksanaannya akan melibatkan beberapa institusi yang relevan, termasuk diantaranya Bapel BPLS dan ITS (di Jawa Timur).
13) Makalah ilmiah terkait Lusi mud volcano yang diterbitkan pada tahun 2010 dan 2009, menunjukkan kecenderungan semakin berkurangnya fokus pada aspek kontroversi terhadap penyebab dan pemicu semburan Lusi. Namun, lebih mengarah pada aspek-aspek:
1) Pengungkapan misteri anatomi di bawah permukaan dari pusat semburan Lusi, serta asal mula(origin) sumber air, gas dan panas,
2) Pemantauan dan analisis geohazard baik sebagai dampak berganda semburan Lusi atau reaktivasi dari sistem Patahan Watukosek; dan
3) Model pertumbuhan dan perkembangan Lusi serta implikasi pada pengembangan wilayah dan lingkungan ke depan;
14) Reorganisasi postur mud volcano Lusi telah memberikan implikasi yang dapat diamati dengan fakta lapangan:
a. Bentuk morfologi berubah dari gunung dengan kerucut (cone shape volcano) menjadi bentuk kubah (dome shape) dengan kawah dan lereng yang lebih landai;
b. Bentuk geometri yang asimetris radial, melebar terutama ke arah utara dan timur;
c. Ekspansi lereng bawah gunung terjadi ke timur laut-timur, tenggara dan selatan, dipicu oleh proses ‘pelelehan lumpur’ karena viskositas rendah.
Terakhir pergerakan lereng dan lumpur dining yang signifikan terjadi awal Januari di sebelah timur TAS.
Fenomena ini merupakan suatu rangkaian dari efek domino (impact domino) yang terjadi beruntun dengan sekuen searah kebalikan perputaran jam (counter clock).
Berturut-turut diawali di P 25 (baratdaya), P 43 (tenggara), Reno utara (timur);
d. Produksi air, dialirkan melalui empat sistem Sungai Lusi yang utama, dengan intensitas yang sangat berfluktuatif, yaitu:
a) Paling dominan, Sungai P43 (timur) masuk ke Pond Reno,
b) Sungai P25 (baratdaya) masuk ke Pond Jatirejo,
c) Sungai Siring (barat), masuk ke depresi Siring selanjutnya masuk ke Pond Jatirejo; dan
d) Sungai TAS (utara), pada zona tumbukan TAS, masuk ke Pond Glagaharum;
e. Lereng bawah telah mengalami tumbukan dengan tanggul penahan luapan lumpur di sektor Osaka (baratlaut), TAS (utara), dan barat (Siring);
f. Terjadi fenomena subduksi dari sistem Pond Utama ke utara, berbarengan dengan ekspansi Lereng bawah gunung ke selatan (P 25);
15) Secara umum dan makro intensitas deformasi terutama amblesan tanah (subsidence) di pusat semburan dan sekitarnya, akhir-akhir ini menunjukkan adanya kecenderungan pengurangan.
Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya (2007-2009).
Di sisi lain efek reorganisasi mud volcano pasca ‘dormant’ dengan deformasi yang cenderung dengan pola radial diidentifikasikan meningkat, sebagai konsekuensi berlangsungnya proses pembentukan kaldera (caldera formation).
Merupakan bagian tidak yang tidak dapat dipisahkan dari mekanisme perkembangan suatu mud volcano.
Hal ini cenderung menentukan bahwa aspek pembebanan lumpur (loading) dan hilangnya masa di bawah permukaan (mass removal) sebagai pengendali utama, yang dikomplemen dengan reaktivasi sistem Patahan Watukosek (Watukosek Fault System).
16) Bubble aktif terutama di luar PAT dengan jumlah dan intensitas yang berfluktuatif, namun pada posisi 1 Januari 2011 cenderung menurun.
KONDISI YANG DIHARAPKAN
Memasuki tahun 2011 merupakan partisipasi kami pada misi nasional BPLS tahun keempat (8 April 2011), dan durasi semburan tahun ke lima (29 Mei 2011) kondisi yang diharapkan dapat diringkas sebagai berikut:
1) Proses masukan dari sistem Penanggulangan Lusi Optimal:
Kinerja Bapel BPLS (maki merupakan salah satu bagian) dengan seluruh komponen yang merupakan proses masukan (input process) dari keseluruhan Sistem Penanggulangan Lusi dapat dioptimalkan.
Proses masukan terdiri dari: a) Sumber Daya Manusia (SDM); b) Penguatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terapan; c) Data dan Informasi; d) Organisasi; e) Peraturan dan Perundang-undangan sebagai Landasan Hukum;
2) Potensi bahaya dari semburan diminimalkan atau sebagai anugerah dapat dieliminir:
Semburan Lusi dapat bertahan pada posisi tahap perkembangan mud volcano yang semakin‘dormant. Atau sebagai suatu anugerah bila sampai pada tahap ‘berhenti secara alami’.
Sehingga potensi resiko yang ditimbulkan langsung oleh semburan dapat diminimalkan atau ditiadakan sama sekali;
3) Paradigma baru semburan Lusi dari kontroversi ke solusi menjadi realitas:
Paradigma baru dari kontroversi menuju solusi yang holistik dapat diterima secara universal.
Dalam arti melihat suatu realitas saat ini Lusi sebagai mud volcano menuju tahap dormant, sehingga fokus ke depan lebih ditujukan menuju solusi yang permanen dan holistik.
Daripada mengembangkan kontroversi terkait penyebab (causing) dan pemicu (triggering) sebagai warisan masa lalu.
Yang sangat ideal untuk dijadikan sebagai suatu materi penelitian ilmiah di Pendidikan Tinggi, untuk strata S2 atau S3.
4) Anatomi dan pengendali semburan semakin jelas, misteri dapat diungkap, durasi hidup Lusi menjadi realistis:
Seiring perjalanan waktu, melalui berbagai upaya sehingga anatomi bawah permukaan Lusi dapat diperjelas, dan misteri asal usul dari air, gas, dapat diketahui.
Sehingga perkiraan durasi semburan Lusi semakin dapat diperkirakan secara realitas, sebagai konsekuensi model durasi semburan Lusi yang selama ini dianut 23-35 tahun harus ditinggalkan.
Demikian pula pertumbuhan gunung di permukaan dapat dipantau secara berkelanjutan dari hari ke hari.
Sehingga adanya anomali yang berdampak negatif, secara cepat dapat dideteksi.
Hal ini sebagai suatu sistem peringatan dini (early warning), terhadap potensi bahaya yang terjadi di luar perkiraan sebelumnya.
5) Pola tetap dan grand strategy pengaliran lumpur ke laut, semakin mantap. Disertai aktualisasi terhadap realitas bahwa semburan didominasi air dan genangan terutama lumpur padu yang dingin:
Dengan Pola Tetap dan ‘grand strategy’ penanganan luapan Lusi yang diaktualisasi karena adanya perubahan mendasar dari mengalirkan Lusi fluida dan Panas menjadi Lumpur padatan dan dingin,
Sehingga dapat mengantisipasi:
a) reorganisasi tubuh gunung lumpur padu yang berekspansi horizontal,
b) mengantisipasi tumbukan lereng di tiga zona (Osaka, TAS dan Siring),
c) antisipasi akumulasi air dingin di daerah cekungan yang luas (Glagaharum dan Mindi), dan
d) mengurangi secara bertahap volume dan atau ketinggian permukaan lumpur padu dan dingin, baik mengantisipasi daya dukung tanggul dan daya tamping kolam, maupun mengurangi dampak berganda geohazard dipicu oleh efek pembebanan lumpur;
6) Fenomena geohazard dipantau, ditangani secara komprehensif, lebih mendukung kawasan layak huni:
Dampak geohazard terutama bubble dengan semburan gas metan, amblesan, patahan dan rekahan dapat dipantau secara seksama.
Sehingga potensi geohazard yang berpotensi ditimbulkan dapat segera ditangani, yang pada akhirnya dapat mengurangi resiko bencana khususnya wilayah tidak layak huni.
Harapan terintegrasi dengan menurunnya intensitas semburan dan amblesan, berhasilnya mengurangi volume lumpur padu di dalam PAT, dan intensitas geohazard dapat diminimalkan.
Sehingga kawasan dapat bertahan menjadi layak huni.
7) Gejolak sosial kemasyarakatan dapat ditangani secara holistik:
Gejolak sosial kemasyarakatan yang secara umum sebagai dampak berganda dari proses pembelian, pembebasan lahan dan bangunan serta ketidaklayakan hunian dapat diredam atau dieliminir, mencakup: 1) Di dalam PAT (Perpres 14/2007), 2) 3 Desa di luar PAT (Perpres 48/2008); (3) 9 RT dari 3 Desa di luar PAT yang ditetapkan sebagai wilayah tidak layak huni (Perpres 40/2009); (4) Wilayah di luar PAT lainnya yang telah diusulkan dan dalam pengkajian sebagai tidak layak huni; (5) Pembebasan lahan dan bangunan untuk relokasi infrastruktur jalan arteri dan jalan Tol; dan (6) Pembelian lahan dan bangunan di sekitar Pond Glagaharum.
8) Relokasi infrastruktur jalan arteri dan jalan Tol terwujud, sendi kehidupan ekonomi semakin bergulir:
Pembangunan relokasi infrastruktur jalan nasional dan jalan Tol dapat dirampungkan sehingga dapat memulihkan roda perekonomian lokal dan regional, serta mengantisipasi kejadian fatal terhadap potensi kerusakan Jembatan melintas Kali Porong yang telah dilalui dengan kapasitas beban kendaraan angkutan barang yang luar biasa.
Sebagai harapan antara, pembangunan dan revitalisasi jalan alternatif di sekitar PAT, akan dapat mengurangi beban pada saat terjadinya ‘traffic jam’ yang telah membudaya.
9) Keberadaan Pulau lumpur meningkatkan pengembangan ‘water front resort’, memicu pertumbuhan ekonomi dan membuka keterisolasian kawasan:
Pulau Lumpur beserta aset pendukungnya jalan di selatan Tanggul Kali Porong, dan pelabuhan nelayan tradisional dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai bagian dari perubahan paradigm dari Bencana ke Manfaat.
Diwujudkan dalam kawasan perkembangan ekonomi baru berbasis ‘water front resort’ yang berwawasan lingkungan.