DINAMIKA LUSI DESEMBER 2009
UMUM
Dinamika Lusi bulan Desember 2009, berada pada awal musim penghujan yang berdasarkan lesson learn and learning by doing sejak tahun 2007 mempunyai catatan tersendiri.
Khususnya dikaitkan dengan upaya untuk mempertahankan tanggul dari potensi melimpas atau jebol, merupakan tantangan BPLS agar PAT tidak meluas.
Gambar 1.1 Perbandingan citra 5 Desember dengan 29 September 2009
Pada kurun waktu tersebut, juga diwarnai dengan proses perubahan terhadap postur baru kelembagaan Bapel BPLS, pasca ditetapkannya Perpres 40/2009 tentang perubahan kedua atas Perpres 14/2007 tentang BPLS.
Selanjutnya diikuti tahap awal langkah strategis dan operasional BPLS guna meningkatkan kemandirian dalam melaksanakan misi nasional penanggulangan Lusi.
Di samping itu isu kritis yang berkembang pada kurun waktu lebih 1 bulan BPLS (serah terima Lapindo ke BPLS pada 15 Oktober 2009) sepenuhnya memegang otoritas dalam penanggulangan semburan Lusi menuju kemandirian, ditandai terjadinya deformasi geologi pola runtuh seketika dengan pola (sudden collapse radial).
Fenomena ini yang merupakan perulangan kejadian (recurrent interval) dari yang terakhir Oktober 2008, telah memberikan implikasi yang luas terhadap semakin meningkatnya tantangan untuk mempertahankan Tanggul Lingkar Utara terutama di sektor Osaka-TAS.
Gambar 1.2 Isu kritis kondisi Danau Lusi pasca terjadinya fenomena sudden collapse radial pada 21 November, berdasarkan citra satelit resolusi 5m diambil 5 Desember 2009.
Dinamika dan Isu Aktual
Dinamika dan Isu aktual yang berkembang sebagai implikasi dari perubahan paradigma penanggulangan Lusi, diidentifikasikan dalam oleh beberapa indikator, yaitu:
1) Wilayah kerja, semakin luas mencakup, di dalam dan di luar PAT;
2) Tanggung jawab, semakin besar antara lain sepenuhnya memegang otoritas (kewenangan) terhadap upaya penanggulangan semburan dan mengalirkan lumpur ke Kali Porong (pasca Perpres 40/2009). Di samping melaksanakan penanganan masalah sosial kemasyarakatan serta penanganan dampak infrastruktur di dalam dan di luar PAT (Perpres 14/2007);
3) Pengendali mekanisme bencana Lusi, yaitu semburan lumpur panas berasal dari dalam bumi (Earth interior) masih terus berlangsung dengan intensitas berfluktuatif, diliputi oleh misteri alam terhadap asal mulanya (origin), cenderung sulit untuk dihentikan, dan skenario durasi semburan sampai 24-35 tahun;
4) Luapan Lusi di permukaan bumi, telah membentuk Danau Lusi yang luas di bagian utara dari Pond Utama, dimana Pusat Semburan membentuk morfologi gunung lumpur (mud volcano). Bagian kawah dan lereng radial serta daerah depresi di bagian paling depan dari bagian lereng bawah;
5) Tanggul Lingkar Luar, dari danau Lusi terus diperkuat dan ditinggikan, untuk mengantisipasi kenaikkan permukaan lumpur agar tidak limpas. Ketinggian yang level atas tanggul saat ini telah mendekati batas-batas daya dukungnya;
6) Teknologi pengaliran Lusi ke Kali Porong, yang selama ini bertumpu teknologi pompa konvensional dan kapal keruk yang dimiliki BPLS secara mandiri, sepenuhnya belum siap di tempat (in site) untuk mengantisipasi potensi ancaman yang mungkin ditimbulkannya dalam menghadapi musim penghujan dengan intensitas yang ekstrim. Saat ini dalam tahap persiapan kedatangan peralatan baru sebagai komplemen yang telah ada;
7) Deformasi geologi, masih terus berlangsung baik di dalam (Kejadian sudden collapse radial pada 21 November 2009) maupun di luar PAT dengan intensitas dengan intensitas yang berfluktuatif. Fenomena tersebut merupakan dampak langsung atau dampak berganda dari semburan Lusi yang berasal dari dalam bumi, selanjutnya di dalam PAT terjadi akumulasi sedimen dengan total volume jutaan m3 ton. Dibarengi dengan sebab dari luar, yang signifikan diasumsikan oleh reaktivasi sistem Patahan Watukosek;
8) Gejolak sosial kemasyarakatan, masih terus terjadi dengan berbagai intensitas dipicu oleh beberapa hal yaitu:
(a) dampak sosmas di dalam PAT (cash and carry),
(b) wilayah geohazard di 9 RT dari 3 Desa di luar PAT yang dinyatakan tidak layak huni,
(c) adanya warga di utara PAT yang masih menolak untuk dilanjutkannya penanggulan, dalam rangka untuk mengamankan warga dari potensi melimpasnya Lusi ke arah utara;
9) Penanganan Infrastruktur, penahan luapan Lusi (termasuk normalisasi Kali Porong) dan infrastruktur umum yang relevan terus dibangun dan direvitalisasi mengantisipasi dinamika semburan dan luapan Lusi; dan
(10) Isu pencemaran lingkungan Kali Ketapang, masih mengemuka dimana sebagian warga masih belum sepenuhnya menerima suatu realitas terhadap betapa strategis dan urgennya BPLS untuk melakukan pembuangan air Lusi ke Kali Ketapang. Yang pada hakekatnya merupakan langkah darurat untuk menyelamatkan warga.
Kemajuan Signifikan
Dalam kondisi umum serta isu aktual yang berkembang sebagaimana diuraikan di atas, beberapa hasil capaian dan kemajuan signifikan yang mempunyai implikasi luas antara lain:
Dalam pendekatan Sistem Penanggulangan Lusi di dalamnya mencakup aspek proses masukan, aset dasar, proses perubahan, luaran dan outcome.
Dengan asumsi bahwa peningkatan proses masukan dari keseluruhan Sistem Penanggulangan Lusi pada akhirnya akan dapat meningkatkan luaran dan outcome.
Peningkatan proses masukan dari Sistem Penanggulangan Lusi yang komprehensif, integral dan holistik, mencakup:
a) Sumber Daya Manusia (SDM), termasuk motivasi kerja dan profesionalismenya;
b) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, knowledge dan penerapan teknologi penanggulangan Lusi yang tepat guna;
c) Data dan Informasi, secara internal (tertutup) terus dikembangkan jaringan pulau-pulau informasi. Sedangkan untuk eksternal dengan akses terbuka sebagai informasi public domain melalui situs internet www.bpls.go,id yang saat ini telah dikunjungi oleh 15.723 pemakai;
d) Sarana dan Prasarana, kuantitas dan kualitasnya untuk mendukung keseluruhan kinerja operasi;
e) Kelembagaan dan Organisasi, postur BPLS baru terus disempurnakan dengan prinsip miskin struktur kaya fungsi;
f) Peraturan perundang-undangan, sebagai tindak lanjut Perpres 40/2009 termasuk penuntasan penyusunan Renstra 2009-2014, dan SOP, dll.;
g) Perlindungan lingkungan, salah satu diantaranya penyusunan dokumen Kajian Lingkungan Strategis (SEA Strategic Environmental Assessment) yang pada hakekatnya berada di bagian hulu bila dibandingkan dengan Analisis Dampak Lingkungan (Environmental Impact Assessment); dan
h) Keamanan dan kenyamanan wilayah, baik aspek keamanan operasi yang merupakan bagian Health Safety and Environment (HSE), maupun pembentukan baru Satuan Pengamanan Internal (internal security) sebagai konsekuensi terjadinya peralihan Penanggulangan Semburan dan Luapan Lusi dari Lapindo ke BPLS, yang saat ini penempatannya baru difokuskan di dalam PAT pada lokasi yang strategis .
Aset dasar, semakin luas di dalam dan di luar PAT, mencakup wilayah (geografi), demografi, geologi di dalamnya termasuk Sumber Kekayaan Alam (SKA) dan bencana geologi.
Proses perubahan, dalam keseluruhan sistem Penanggulangan Lusi adalah aktualisasi PPP (policy, plan, program) kebijakan, Rencana, Program yang terus diaktualisasikan. Mencakup empat aspek utama yaitu:
a) upaya semburan dari bawah permukaan,
b) pengaliran lumpur di permukaan ke Laut menggunakan sarana Kali Porong,
c) penanganan masalah sosial kemasyarakatan, dan
d) penanganan dampak infrastruktur.
Luaran, adalah meningkatnya keseluruhan kinerja Bapel BPLS, sehingga keamanan masyarakat di sekitar wilayah operasi terutama di dalam PAT dapat ditingkatkan.
Outcome, yang dihadapkan adalah dapat dipulihkannya kembali sendi-sendi kehidupan masyarakat, sebagai dampak bencana diakibatkan oleh semburan Lusi.
Pada tanggal 21 November 2009 telah terjadi peristiwa ’banjir bandang’ Lusi di wilayah di dalam Danau Lusi sebelah baratlaut Pusat Semburan TAS Barat-Osaka.
Dipicu oleh fenomena deformasi sudden collapse radial, yang berbarengan membentuk bidang patahan bertangga. Kejadian ini tercatat sebagai interval perulangan (recurrent interval) yang terakhir terjadi pada Oktober 2008, saat Tanggul Cincin masih ada.
Gambar 1.3 Foto kondisi Danau Lusi bagian utara diambil 5 Desember 2009 memperlihatkan gambaran umum pasca terjadinya deformasi collapse radial, serta gambaran pengisian Lusi baru di TAS barat
Selanjutnya secara seketika memicu terjadinya pergerakan masa sedimen yang sebelumnya terakumulasi di bagian lereng dari gunung lumpur.
Sehingga dalam waktu satu malam saja ketinggian muka lumpur telah meningkat drastis mencapai sekitar 1 m.
Sebagai konsekuensi, jarak muka lumpur dengan puncak tanggul (waking) telah menurun drastis, sampai pada angka puluhan centimeter yang merupakan indikator Siaga Merah.
Peristiwa yang terjadi pada malam hari tersebut dengan cepat dapat ditangani secara fungsional sesuai SOP. Sehingga Lusi tidak sampai melimpas ke luar dari Pond TAS-Osaka.
Kondisi Kali Porong dari hulu ke hilir yang dipantau pada tanggal 3 Desember 2009 menunjukkan adanya peningkatan daya tangkal terhadap skenario terjadinya banjir. Dengan indikator yaitu:
1) Akumulasi sedimen terutama di sekitar outlet pompa di Jembatan jalan Tol lama, volumenya jauh lebih sedikit. Bila dibandingkan dengan kurun waktu yang sama, pada dua tahun ke belakang (2007 dan 2008); dan
2) Kinerja program normalisasi Kali Porong telah meningkat drastis. Hal ini karena konstruksi beton utama pada sisi utara dan selatan dinding Kali Porong sepanjang kurang lebih 1,2 km hampir dituntaskannya.
Gambar 1.4 Kondisi Kali Porong (2 Desember 2009) awal interval pengaliran Kali Porong, Tanggul di sisi utara dan selatan direvitalisasi dengan konstruksi beton, endapan sedimen minimal, air mengalir secara alami
Sementara itu kegiatan pengerukan sedimen di muara sistem delta Kali Porong bersamaan dengan reklamasi sedimen hasil pengerukan telah membentuk Pulau BPLS dengan seluas lebih dari 60 hektar.
Pulau BPLS nantinya akan berfungsi untuk memperlancar laju masuknya sedimen Lusi ke daerah dasar laut Palung Selat Madura, sarana perlindungan kawasan pesisir (costal zone protection), dan pemanfaatan lainnya dengan memperhatikan pelestarian lingkungan hidup.
Gambar 1.5 Perkembangan pengerukan dan reklamasi di Muara Kali Porong, dengan struktur kantung-kantung pasir geotekstil, bakau tumbuh secara alami menunjukkan adanya adaptasi lingkungan hidup
Sebagai tindaklanjut Perpres 40/2009, BPLS secara proaktif telah melaksanakan penanganan masalah sosial kemasyarakatan di luar PAT yaitu:
a) Terkait proses pembayaran tahap 30% sebagaimana kelanjutan tahap 20% (Perpres 48/2008);
b) Mengatasi gejolak sosial kemasyarakatan yang dipicu oleh implementasi penanganan sosmas di 9 RT dari 3 Desa yang dinyatakan tidak layak huni (Perpres 40/2009); dan
c) menuntaskan verifikasi penanganan sosial kemasyarakatan melalui skema cash and carry yaitu tahap pembayaran 20%, khususnya pada warga di sekitar Desa Pamotan, Glagaharum dan Ketapang (Perpres 14/2007), dimana mempunyai nilai strategis untuk dapat berlanjutnya pembangunan Tanggul Ketapang.
Kelanjutan pengerjaan Tanggul Ketapang mempunyai nilai strategis dalam rangka pengamanan terhadap potensi meluasnya Lusi ke arah utara, sehubungan kondisi Tanggul Lingkar Utara dari Danau Lusi yang terus mengalami deformasi dengan pola efek domino yang propagasi ke barat (Glagaharum ke Osaka).
Gambar 1.6 Kawanan burung bermain di sawah sebelah utara zona deformasi Glagaharum, air merupakan rembesan dari dalam Pond Glagah, banyak didapatkan ikan menjadi sasaran burung. Bukti lingkungan hidup mulai bersinergis dengan fenomena semburan mud volcano Lusi
Dengan ditetapkannya paradigma baru bahwa semburan Lusi sulit dihentikan dan sebagai konsekuensi akan dapat berlangsung lama, sedangkan skenario durasi antara 25-35 tahun.
Sehingga Bapel BPLS telah meningkatkan kepedulian terhadap dampak lingkungan dalam arti yang seluas-luasnya, baik untuk jangka pendek, menengah dan maupun panjang.
Untuk itu salah satu yang mempunyai arti strategis adalah telah disiapkan suatu laporan Kajian Lingkungan Strategis (dikenal dengan SEA Strategic Environmental Assessment) Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.
SEA pada hakekatnya merupakan suatu proses analitik yang komprehensif dan holistik. Dengan memasukkan aspek perhatian aspek dampak lingkungan yang mungkin terjadi di dalam proses penyusunan PPP (Policy, plan, program) atau kebijakan, perencanaan, dan program.
Pada hakekatnya SEA secara hirarki berbasis pada pendekatan keluarga (a family approach) menggunakan berbagai alat bantu (a variety tool) serta berada pada tataran yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) yang menggunakan pendekatan tunggal (single), tetap (fixed) dan preskriptif (prescriptive).
Diharapkan dengan disusunnya SEA tahap lanjutan (advance stage) mencakup keseluruhan Sistem Penanggulangan Lusi, sehingga diharapkan ke depan akan dapat mempertajam usulan-usulan kebijakan, perencanaan dan program secara integral dan holistik.
Termasuk menyediakan opsi dalam proses pengambilan keputusan pimpinan BPLS untuk merespon isu aktual dan kritis lingkungan. Contoh isu lingkungan yang mengemuka dan belum mendapatkan solusi yang permanen antara lain:
a) Pilihan pahit saat ini dari alternatif yang terbatas untuk mengalirkan air Lusi ke utara; dan
b) Pola pikir dan pola tindak untuk mengkondisikan masyarakat yang masih tetap bermukim di sekitar Lusi (PAT) termasuk keberadaan pengungsi lingkungan (environmental refugee.
Dalam rangka mengatasi dampak yang mungkin ditimbulkan baik langsung (semburan dan luapan), maupun tidak langsung sebagai dampak berganda geohazard berupa bubble dengan semburan gas metan, retakan, patahan, dan amblesan.
Arus utama reformasi yaitu demokratisasi di Indonesia antara lain telah membangkitkan pemahaman baru terhadap keterbukaan informasi yang dikaitkan dengan implementasi kaidah pengelolaan yang baik dan good practices.
Beberapa hal terkait hal tersebut adalah:
a) BPLS telah secara bersinergi melakukan koordinasi dan sinkronisasi secara fungsional kepada stakeholders. Antara lain dengan Komisi V DPR RI, institusi Dewan Pengarah BPLS Pusat dan Jatim; dan
b) Menyampaikan tantangan dan arah kebijakan ke depan pada komunitas internasional, yang khususnya peduli terhadap aspek bencana Lusi dan dampaknya pada infrastruktur transportasi.
Atas penunjukkan Pemda Provinsi Jatim, tanggal 18 November 2009, Bapel BPLS (diwakili Waka BPLS) telah berpartisipasi sebagai nara sumber pada forum pertemuan internasional ahli-ahli perhubungan Asia Tenggara, yang dilaksanakan di Surabaya, dimana Pembukaan dilakukan oleh Bapak Wakil Presiden RI.
Hal-Hal yang Perlu Mendapat Perhatian
Sebagai konsekuensi logis terjadinya perubahan paradigma Penanggulangan Lusi, utamanya menghadapi realitas bahwa pengendali mekanisme dari bencana Lusi, yaitu semburan yang sulit dihentikan, dapat berlangsung pada durasi waktu yang lama.
Sehingga dalam Rencana stratejik BPLS 2009-2014 tersirat bahwa dalam kurun waktu 5 tahun ke depan akan difokuskan guna membangun postur dan kapasitas kelembagaan BPLS yang lebih profesional, dan mandiri.
Sehingga diharapkan mampu untuk mengantisipasi skenario pasca lima tahun ke depan secara lebih alami dan berkelanjutan. Selanjutnya bila waktunya telah tiba, pengelolaan Kebencanaan Lusi pada tahun 2014 pada tataran nasional diusulkan untuk dievaluasi kembali, disesuaikan dengan dinamika yang terjadi.
Agar sasaran strategis dan road map yang telah ditetapkan sebelumnya dapat dicapai, sehingga pada tahap awal (tahun 1 dari program 5 tahun) diperlukan adanya konsistensi dukungan yang memadai terhadap kebutuhan yang mendesak pada proses masukan dari keseluruhan Sistem Penanggulangan Lusi.
Dalam hal ini yang prioritas den mendesak adalah aspek Iptek, Sarpras, dan Pendanaan yang mamadai.
Sebagai contoh guna menuju kemandirian dalam penanggulangan semburan dan luapan Lusi saat ini diperlukan secara mendesak keberadaan sistem pompa dan kapal keruk baru guna mengurangi secara drastis endapan Lusi di dalam PAT, yang akan dioperasikan dalam kurun waktu 5 sampai puluhan tahun ke depan.
Sampai saat ini baru tersedia 1 Kapal Keruk dan 3 pompa booster yang beroperasi penuh di Pond Renokenongo, dan 1 Kapal Keruk dalam kondisi kinerja tidak optimal di P43.
Pada kurun waktu mendekati usia 4 tahun, semburan Lusi yang telah membentuk tubuh gunung lumpur (mud volcano).
Dimana pakar kebumian telah bersepakat menetapkan semburan mud volcano Lusi sebagai salah satu mud volcano yang paling terdahsyat di Abad Modern (Milenium ke 3) ini.
Walaupun asal mulanya semburan Lusi masih terus diliputi misteri alam, sedangkan penanggulangan bencana Lusi yang dipicu oleh semburan mud volcano sebegitu jauh belum ada padanan atau suatu referensi lainnya di seluruh dunia.
Sebagai konsekuensi dari hal tersebut semakin mendekati realitas, bahwa Lusi dalam waktu dekat ini akan menjadi salah satu cagar geologi yaitu semburan yang aktif mud volcano dari yang eksis di seluruh dunia.
Atau menjadi pusat studi mud volcano di Indonesia atau bahkan di dunia, dengan pertimbangan hanya di Lusi dapat diikuti tahapan saat lahir, berkembang, memasuki tahap collapse membentuk Kaldera-Danau yang luas, disertai dampak berganda geohazard yaitu bubble, subsidence, patahan, dan retakan di daerah sekitarnya.
Dengan telah menghilangnya Tanggul Cincin, selanjutnya berkembang Danau Lusi yang luas dimana Pusat Semburan masih memperlihatkan ’kick’ disertai hembusan uap putih, hal ini merupakan suatu daya tarik yang luar biasa bagi turis baik domestik maupun manca negara.
Agar dapat mandiri atau ’menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri’ dalam memahami knowledge mud volcano Lusi, sehingga Bapel BPLS harus meningkatkan penguasaan Iptek terkait mud volcano Lusi, didukung oleh tersedianya data dan informasi serta sarana dan prasarana yang memadai.
Seiring perjalanan waktu, luapan Lusi secara kewilayahan telah membentuk suatu Danau Lusi yang luas, dengan bagian pusat semburan dan kawah dengan morfologi gunung lumpur.
Menurunnya kinerja pengaliran Lusi ke Kali Porong yang tercatat mulai terjadi sejak bulan Oktober 2008 yang lalu, telah memberikan implikasi bahwa pengisian danau telah berlangsung kecepatan aliran (rate of flow) yang relatif cepat, bila dibandingkan dengan kurun waktu 2 tahun sebelumnya (2007 dan 2008).
Sehingga elevasi muka lumpur di alam danau telah semakin tinggi (lebih 6 m dari baseline jalan raya).
Sebagai konsekuensi logis, hal ini harus diantisipasi dengan menaikkan ketinggian Tanggul Lingkar Luar.
Sehingga mengakibatkan tanggul yang ada telah semakin mendekati batas daya dukung alami serta daya tampung kolam.
Pengisian Danau Lusi yang berlanjut telah memicu semakin meningkatnya intensitas tekanan horisontal dan vertikal baik di dalam dan di luar PAT, sehingga terjadi dampak yang sampai pada tingkat geohazard yang cukup intensif terutama di Siring Barat.
Sejak Juni 2009 sampai pada 21 November 2009 telah terjadi rangkaian fenomena deformasi khususnya pada Tanggul Lingkar Luar bagian utara.
Kejadian tersebut bermula di bagian timur (Glagaharum) dan cenderung berpropogasi ke arah barat (TAS barat).
Pengamatan lapangan tanggal 5 Desember 2009 secara menyeluruh di sektor utara Danau Lusi menunjukkan bahwa secara umum kondisi puncak tanggul sulit untuk rata (flat shape) dan cenderung bergelombang.
Pada bagian belakang dari bagian counterweight tanggul mulai berkembang deformasi dengan intensitas yang bervariasi antara tingkat dahsyat dengan membentuk struktur prisma akrasi di bagian timur (Glagaharum), sampai ada tahap awal deformasi s di sektor Tanggul TAS barat.
Upaya meninggikan terus puncak tanggul untuk mengantisipasi kenaikan permukaan lumpur, tanpa dibarengi dengan pembangunan counterweight yang memadai, akan berakibat semakin meningkatnya potensi ancaman terjadinya kegagalan tanggul (subsidence, sliding, sudden collapse).
Gambar 1.7 Hubungan antara tatanan deformasi baru di Danau Lusi bagian utara dengan pola collapse/subsidence radial, dan implikasi pada daya dukung Tanggul Osaka-TAS yang terus mendapatkan tekanan horisontal, dan telah mengalami dampak.
Pada saat Tanggul Cincin masih ada, tepatnya pada bulan Agustus-September 2008 telah diindikasikan fenomena subsidence melingkarnya yang terjadinya di sebelah luar dari Tanggul Cincin. Keberadaan deformasi radial dapat dilihat secara visual dengan mata.
Pasca hilangnya tanggul cincin tepatnya pada bulan Mei 2009, selanjutnya telah terbentuk morfologi Danau Lusi (pasca lenyapnya Tanggul Reno barat diawali terbentuknya Celah Reno), deformasi geologi umumnya terjadi pada tanggul-tanggul lingkar luar.
Sebagai contoh aktual adalah runtuhnya 3 kali beruntun Tanggul Glagaharum (Juni – Agustus 2009).
Pada tanggal 21 November 2009 telah terjadi fenomena deformasi baru yang penyebab atau pemicunya sampai saat ini masih ditelaah lebih lanjut, dengan fakta lapangan yaitu:
1) Terjadi deformasi di permukaan lumpur Danau Lusi di dalam PAT, membentuk suatu bidang yang memanjang melingkar (relatif timur-barat) dengan pergerakan relatif bagian utara menurun, dan utara-selatan di bagian timur (Glagaharum). Sehingga bila dilihat dari utara kenampakan tersebut berbentuk patahan normal (normal fault);
2) Terjadinya deformasi pada posisi lereng atas dari morfologi gunung lumpur bagian utara (Osaka-TAS) dan timur (Glagah) tersebut, telah memicu terjadi aliran lumpur yang pekat (density current) dengan kecepatan relatif tinggi serta mengalir secara gaya berat (gravity flow) mencari daerah yang relatif lebih rendah (terutama di utara). Selanjutnya sedimen Lusi telah diendapkan secara signifikan di sisi timur Tanggul Osaka-TAS Barat;
3) Dalam kurun waktu hanya satu malam saja kenaikan muka lumpur di lokasi tersebut meninggi dengan menakjubkan, tercatat sekitar 1 m Sehingga untuk mengamankan agar lumpur tidak melimpas, tanggul-tanggul terus ditinggikan;
4) Lumpur yang menumpuk telah membentuk daerah topografi tinggian, sehingga membendung aliran air di Cekungan Osaka, di baratlaut PAT; dan
5) Pada saat yang relatif bersamaan telah direkam adanya pengaliran Lusi dari Pusat Semburan ke arah barat, selanjutnya berbelok ke utara ke arah Osaka.
Fakta lapangan tersebut memperkuat skenario bahwa daerah sekitar Osaka dan Glagah menjadi pusat penurunan terdalam (depocentre).
Sebagai implikasi maka perlu disiapkan secara khusus sistem pompa untuk mengantisipasi bila terjadi hujan yang ekstrim dimana volume air yang besar akan terperangkap di Cekungan Osaka.
Pemantauan lapangan secara seksama di sepanjang Tanggul Glagaharum (timur) sampai TAS-Osaka (barat) menunjukkan bahwa tanggul-tanggul tersebut sudah mengalami dampak deformasi yang secara runtunan waktu (time series) dengan memperlihatkan efek domino cenderung berpropagasi ke arah barat .
Khususnya Pond Glagaharum saat ini merupakan daerah dengan akumulasi air terbanyak, sehingga pada skenario bila terjadi akumulasi hujan dengan intensitas ekstrim, dikhawatirkan akan terjadi penambahan volume air di dalam danau secara signifikan.
Apabila tidak dapat dikelola secara baik dikhawatirkan akan dapat memberikan ancaman baik melimpas atau yang ekstrim menyebabkan daya tahan tanggul dilampaui (tanggul jebol).
Meningkatnya akumulasi di Danau Lusi baik pada musim kering dari sumber Lusi di bawah permukaan, apalagi diasumsikan bahwa pada musim penghujan akan ada tambahan air hujan dengan volume yang cukup signifikan.
Adanya fakta lapangan bahwa ketinggian air terus meninggi bahkan sampai pada titik kritis (indikator kondisi darurat), khususnya di Pond Glagaharum (barat) dan Cekungan Osaka (barat).
Sehingga Bapel BPLS harus berupaya secepatnya untuk mengamankan masyarakat di sekitarnya, dengan pilihan harus segera menurunkan elevasi air di dalam danau.
Sampai saat ini terus dilakukan pengaliran air dari bagian utara dan tambahan di baratdaya Danau Lusi ke arah utara melalui mekanisme overflow.
Yang akhirnya bermuara ke dalam sistem Kali Ketapang.
Gambar 1.8 Kondisi bagian luar Tanggul Glagah pasca mengalami Sudden Collapse, membentuk zona prisma akrasi, lokasi overflow mengalirkan air dari Pond Glagah, tanggul terus mengalami deformasi dengan intensitas berfluktuatif.
Kondisi yang berkembang adalah pembuangan air tanpa lumpur dari PAT ke Kali Ketapang telah mendapatkan penolakan, khususnya petambak di hilir Kali Ketapang.
Dengan alasan yang substantial bahwa air Lusi telah mencemari tambak, sehingga beberapa jenis ikan di dalam tambak mati.
Fenomena ini ke depan harus menjadi bagian dari Pengkajian Lingkungan Strategi (SEA) dampak aliran air pada sistem Ketapang, yang belum dilengkapi dengan ketersediaan payung hukum (sebelum sistem pengaliran baru beroperasi efektif).
Perpres 14/2007 sebagaimana yang telah diaktualisasikan dua kali menjadi Perpres 40/2009 memberikan landasan hukum bahwa Lusi dialirkan ke Kali Porong.
Isu kritis yang mengemuka ke depan adalah (saat sistem pengaliran Lusi ke Kali Porong belum optimal) bila di satu sisi akumulasi air di dalam Danau Lusi bagian utara terus meningkat sangat signifikan, khususnya bila ditambah dari debit air hujan yang ekstrim, sehingga berpotensi menimbulkan bahaya yang sampai pada skenario kegagalan Tanggul Lingkar.
Di sisi lain kelompok masyarakat petambak yang disasumsikan bermukim di hilir Kali Porong menolak pengaliran air Lusi ke Kali Ketapang, bahkan sampai pada skenario untuk menghentikan secara sepihak pengaliran melalui overflow.
Dalam kondisi tersebut perlu ditetapkan langkah-langkah yang menjurus pada lex specialist kedaruratan terhadap pilihan keputusan yang harus diambil.
Antara pencemaran lingkungan sistem aliran Kali Ketapang versus mengamankan masyarakat dari ancaman langsung luapan Lusi. Penyusunan SEA ke depan diharapkan dapat mencakup aspek tersebut.
LAMPIRAN GAMBAR-GAMBAR: