Dinamika LUSI September 2010
UMUM
Dinamika September 2010 mencakup kurun waktu puncak musim Panas, di dalamnya mencakup HUT ke 65 RI, dimana BPLS telah menyelenggarakan dua kegiatan secara sederhana, yaitu upacara bendera dan lomba fotografi lapangan di lingkungan BPLS.
Kejadian khusus yang mempunyai implikasi luas yaitu banjir bandang lumpur di sektor baratdaya PAT (P-21 Jatirejo), dan longsor lereng bawah disertai banjir banding lumpur hanyut di sektor Reno (P25).
Kejadian ini menyebabkan kapal keruk yang beroperasi telah terseret ke selatan sejauh lebih dari 200 m dari posisi terakhirnya.
Lingkungan strategis nasional dan global masih diwarnai dengan arus keutamaan HAM, dimana telah dipersepsikan seolah-olah Pemerintah melakukan pembiaran terhadap semburan Lusi.
Serta kurang memberikan tekanan kepada Lapindo dalam menyelesaikan kewajiban untuk penuntasan pembayaran jual beli tanah dan bangunan di dalam Peta Area Terdampak tahap 20% dan 80%.
Hal lain yang telah menimbulkan suasana ketidakpastian adalah sehubungan dengan diwacanakannya oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Jawa Timur terhadap keberadaan surat dari Menteri Keuangan yang disebutkan dapat mengalokasikan Dana Talangan untuk penuntasan cash and carry.
Padahal, surat mengenai dana talangan dimaksud terkait dengan pelaksanaan mitigasi bencana oleh BPLS untuk penanganan semburan dan pengaliran Lusi ke Kali Porong.
Pasca diberlakukannya Perpres 40/2009 telah meningkatkan partisipasi masyarakat dari dalam dan luar negeri untuk memberikan kontribusi secara langsung kepada Pemerintah (BPLS).
Terkait upaya penanggulangan semburan dan penanganan lumpur tercatat tiga aspek penting, yaitu:
· Riset geologi Lusi (asal usul lumpur, air, gas, dan panas) diusulkan secara mandiri oleh Arizona State University (AS);
· Tim Kebumian Rusia, merencanakan Riset Lusi dengan fokus mendapatkan arsitektur dari struktur lumpur atau diapir lumpur, serta pengembangan system Polygon untuk pemantauan seismic-geodinamika berkelanjutan, dengan sasaran memperkirakan perilaku semburan Lusi ke depan;
· Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral telah memprakarsai suatu Forum Koordinasi dengan melibatkan secara langsung Organisasi Profesi Kebumian yaitu HAGI (Geofisika), IAGI (Geologi), dan IATMI (Perminyakan).
· Hasil pentingnya adalah bahwa untuk menentukan apakah semburan Lusi dapat dihentikan atau tidak akan dilakukan survei penampang seismik 3-D, atas usulan HAGI dan BPPT.
Gejolak sosial kemasyarakatan masih terjadi dalam wujud Demo, yang intinya bermuara dari terjadinya kemacetan pelunasan cash and carry, disamping khususnya menentang pekerjaan pembuatan tanggul yang dilaksanakan oleh BPLS di sektor Osaka-TAS.
Pada bidang relokasi infrastruktur kemajuan signifikan terkait pelaksanaan pembebasan lahan dan bangunan yang sudah mencapai angka sekitar 78%.
Sehingga secara ketentuan yang berlaku dapat segera ditindaklanjuti dengan opsi konsinyasi.
Pada dimensi kebijakan, Komisi V DPR RI menyoroti aspek-aspek:
· Perlunya Bapel BPLS melakukan penekanan ke Lapindo untuk melaksanakan kewajibannya;
· Mengharapkan revisi terhadap Perpres 48/2008, untuk percepatan penuntasannya tanpa harus menunggu penuntasan cash and carry oleh Lapindo yang terkesan pada kondisi tersendat-sendat; dan
· Demikian juga dengan revisi Perpres 40/2009 terutama terkait bantuan sosial kemasyarakatan di 9 RT dari 3 Desa di luar PAT.
Hasil penting Rakor Penanggulangan Semburan Lusi yang Dikoordinasi Badan Geologi, KESDM
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (selanjutnya BG-ESDM) telah memprakarsai suatu Rapat Koordinasi dengan tema utama tentang Dinamika LUSI dan Perspektif ke depan Upaya Penanggulangan Semburan, dilaksanakan pada Hari Jumat, 27 Agustus 2010 di kantor BG-ESDM di Jakarta.
Rakor ini dilaksanakan tidak terlepas dari kondisi lingkungan strategis, dimana akhir-akhir ini (antara lain dipicu Bencana Migas di Teluk Meksiko) telah berkembang wacana seolah-oleh Pemerintah melakukan pembiaran terhadap semburan Lusi, tanpa suatu usaha yang konkrit.
Gambar 1.1 Rakor Semburan Lusi yang diikuti Badan Geologi, Bapel BPLS dan Organisasi Profesi Kebumian & Perminyakan 27 Agustus 2010
Agenda Rapat dibagi dua: Pertama, dipimpin oleh Dr. Surono dari BG-ESDM dengan fokus Paparan Dampak Deformasi Geologi/Geohazard penekanan di pada kondisi di permukaan; Kedua, dipimpin oleh Dr. Hardi Prasetyo (Waka BPLS), membahas dinamika Semburan Lusi dan perspektif ke depan.
Kesimpulan Utama:
1) Harus didasarkan kepada pengkajian secara komprehensif dan integral
Rasionalisasi apakah Lusi dapat/tidak dapat dihentikan terlebih dahulu harus didasarkan kepada pengkajian secara komprehensif dan integral terhadap kondisi di bawah permukaan (sub-surface).
2) Usulan melakukan pengambilan data penampang seismik refleksi 3-D
Untuk itu HAGI dan BPPT telah mengusulkan suatu langkah nyata sebelum keputusan diambil.
Dengan melakukan pengambilan data penampang seismik refleksi 3-D (acquisition 3D seismic reflection profile), yang diperkirakan memerlukan pembiayaan sekitar 1,2 juta Dollar.
Setelah dipresentasikan secara singkat, mayoritas peserta Rakor telah menyepakati digunakan sebagai sasaran antara (ultimate goal) terhadap sasaran angka (1) di atas. Yaitu suatu alat bantu untuk tahap pengambilan kebijakan dan keputusan (a significant tool for decision and policy making).
3) Pemahaman arsitektur sistem mud volcano Lusi untuk meningkatkan rasio sukses dan meminimalkan dampak
Walaupun Rakor telah menangkap dan memahami bahwa teknologi Relief Well (Relief Well technology) merupakan salah satu senjata pamungkas dari serangkaian opsi lainnya yang tersedia untuk menghentikan semburan.
Namun, bila dilaksanakan tanpa disertai dengan pemahaman bawah permukaan yang baik atau jelas (clearly subsurface condition).
Dikhawatirkan rasio keberhasilannya rendah (low success ratio), dan bahkan akan dapat menimbulkan bahaya baru yang diakibatkan geohazard.
4) Kepala Badan Geologi, KESDM diharapkan menindaklanjuti terhadap kesepakatan, usulan dari Rakor untuk menggulirkan Forum Koordinasi Pakar pada Isu Semburan Lusi ke depan
Rakor juga mendorong agar dalam waktu dekat ini Kepala Badan Geologi (selaku inisiator), untuk melanjutkan langkah opsi solusi yang telah disepakati oleh Forum Koordinasi Pakar untuk Lusi (FKPL), melibatkan pimpinan Organisasi Profesi terkait.
Sehingga diharapkan semua pihak akan mempunyai persepsi dan pandangan bahkan ’sense of belonging’ yang sama sejak awal (pemahaman kondisi bawah permukaan). T
erhadap isu kritis (critical issues) apakah Lusi dapat/bisa/akan/tidak bisa dihentikan.
5) Dorongan agar BG-ESDM lebih melakukan studi bawah permukaan Lusi
Rapat juga telah mendorong agar BG-ESDM dapat lebih banyak lagi melakukan studi atau kajian terhadap kondisi bawah permukaan, daripada yang terkesan selama ini hanya fokus pada kondisi permukaan (geohazard).
6) Kontroversi terkait dengan Teknik Pemboran yang masih mengemuka diselesaikan secara internal IATMI
Terhadap berkembangnya perbedaan pendapat atau kontroversi yang sangat mengemuka di antara para ahli teknik pemboran.
Hardi Prasetyo (BPLS) selaku pimpinan rapat telah mendorong untuk dapat diselesaikan atau disalurkan kepada pihak Organisasi yang terkait, yaitu IATMI.
Kemajuan Rencana Kerjasama dengan Tim Ahli Mud Volcano Rusia
Telah disusun alur pikir dan Road Map yang terdiri dari 16 aspek yaitu:
1) Dikotomi konsep Kontroversi Penyebab dan Pemicu Lusi;
2) Paradigma Baru dan Fenomena Mud Max Lusi: (Immodiscus UK);
3) Fenomena NGO Humanitus;
4) Mei 2010, Awal pertemuan BPLS dan Rusia di Jakarta;
5) Undangan kepada Hardi Prasetyo (BPLS) ke Rusia;
6) Diskusi Utama Dinamika Lusi di Moscow;
7) Laporan Hasil Riset Rusia di Indonesia: Hardi (BPLS);
8) Penyampaian Proposal Riset Awal ke BPLS;
9) Pemaparan Hasil Studi Lusi oleh Tim Rusia;
10) Rencana Pertemuan dengan Dewan Pengarah BPLS;
11) Pemantapan Proposal Riset Lusi;
12) Pengelolaan aspek kontribusi antara Humanitus dan Rusia;
13) Finalisasi aspek Administrasi dan Rencana Strategis dan Operasional;
14) Integrasi Keterpaduan Rencana Riset Tim Amerika dan Rusia; 15) Implementasi Riset Lusi oleh Tim Rusia;
15) Output dan Outcome hasil Riset Lusi oleh Tim Rusia.
Rincian Road Map From Rusia With Lusi adalah sebagai berikut:
1) Dikotomi konsep:
Pada Tahun 2008 Kontroversi Penyebab dan Pemicu Lusi sangat mengemuka, puncaknya diselenggarakan di forum AAPG Afrika Selatan, dan sebelumnya Seminar Internasional diselenggarakan oleh London Geological Association (UK) yang telah mendeklarasikan Lusi sebagai Mud Volcano yang paling dahsyat yang terjadi di Milenium di Abad ke 21.
Hal ini mengindikasikan kompleksitas mud volcano Lusi dan meningkatnya perhatian masyarakat ilmiah/profesional Internasional.
2) Paradigma Baru:
Fenomena Mud Max Lusi di Arizona State University dan Sydney, Australia oleh Immodiscus, merupakan paradigma baru dari masyarakat internasional untuk beralih dari statis kondisi pada penyebab dan pemicu Lusi, menuju upaya menangani bencana Lusi secara lebih komprehensif, integral dan Holistik,
3) Fenomena NGO Humanitus:
Humanitus Foundation (NGO-Australia) melalui Immodiscus (Mr. Chris Fong) menyatakan minat untuk menggalang kepedulian masyarakat internasional untuk berkontribusi langsung untuk mencarikan solusi yang holistik.
4) Mei 2010, Awal pertemuan BPLS dan Rusia di Jakarta:
HSF dan Immodiscus SA memfasilitasi Pertemuan Tim Ahli Rusia dengan BP BPLS di sekretariat BP BPLS di Jakarta hadir Hardi Prasetyo (Wakil Kepala Bapel-BPLS) dan Soffian Hadi (Deputi Operasi Bapel-BPLS),
5) Undangan kepada Hardi (BPLS) ke Rusia:
OOO RINeftGaz atas nama Tim Rusia mengundang Hardi Prasetyo mengunjungi Moscow dan StPeterburg mulai merajut hubungan dengan visi bersama FROM RUSIA WITH (SOLUTION) LUSI.
6) Diskusi Utama Dinamika Lusi di Moscow:
Dilakukan diskusi utama di Moscow tentang Hasil Utama Riset Lusi (2009) dan Pengenalan SYSTEM POLYGON.
Hardi Prasetyo mengkontribusikan informasi aktual Geologi dan Geofisika dan Geodinamika Lusi saat ini.
7) Laporan Hasil Riset Rusia di Indonesia: Hardi (BPLS)
Telah melakukan kajian dan penelaahan terhadap Laporan Rusia oleh Tim Terpadu Rusia (2009) mengacu laporan bersifat public domain dan hasil diskusi di Rusia.
Laporan dikomunikasikan pada lingkungan internal BPLS dan pada Forum Koordinasi Studi Lusi yang dikoordinasikan oleh Badan Geologi, DESDM;
8) Penyampaian Proposal Riset Awal ke BPLS:
OOO RINeftgaz telah menyampaikan proposal status awal ke BPLS tentang riset Gempa-Geodinamika melalui pengembangan Sistem Polygon. Proposal telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari bahasa Russia, dan diperdalam secara komprehensif oleh Hardi (BPLS). Disertai indikasi substansi yang akan disampaikan ke Pihak Rusia.
9) Pemaparan Hasil Studi Lusi oleh Tim Rusia:
Direncanakan Diskusi Panel hasil Penyelidikan Lusi oleh Tim Terpadu Rusia tanggal 27 September di Singapura dan 30 Maret 2010 di Jakarta.
Sebagai panelis dari Indonesia telah ditetapkan Hardi Prasetyo (BP BPLS) dan Awang K (BP Migas), serta penanggap dari Badan Geologi, HAGI, IAGI, IATMI.
10) Rencana Pertemuan dengan Dewan Pengarah BPLS:
Untuk lebih memahami hasil-hasil strategis Studi Lusi oleh Tim Rusia dan perspektif ‘road map’ kerjasama Russia dengan Indonesia (BPLS).
Bapak Menteri PU selaku Ketua DP BPLS telah menyatakan minat dan kesediaannya untuk dapat berkomunikasi langsung dengan pimpinan dan anggota utama pendukung Riset Lusi tersebut.
Kerjasama dengan Rusia, tercatat sebagai yang pertama pasca Perpres 40/2009 dimana Pemerintah telah mengambil alih tugas yang sebelumnya dilaksanakan oleh pihak PT Lapindo.
11) Pemantapan Proposal Riset Lusi:
Agar rencana kerjasama penyelidikan Lusi antara Rusia dan Indonesia (BPLS) dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Dipandang perlu untuk dilakukan pertemuan di Surabaya untuk memfinalkan aspek-aspek teknis dari proposal awal.
Dimana akan dihasilkan dokumen final Proposal Akademik Studi Lusi dan Rencana Operasional.
12) Pengelolaan aspek kontribusi antara Humanitus dan Rusia:
Riset yang sedang dirancang merupakan salah satu kontribusi nyata kesepakatan yang telah dikukuhkan antara pihak Rusia selaku donor, dan Humanitus Sidoarjo Fund (HSF) selaku fasilitator dukungan dari Masyarakat Internasional untuk Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.
13) Finalisasi aspek Administrasi dan Rencana Strategis dan Operasional:
Ditetapkan secara formal Rencana Aksi Proposal Riset Lusi oleh Tim Ahli dari Rusia dengan sumber dukungan sepenuhnya/sebagian dari Rusia, yang disalurkan atau difasilitasikan oleh Humanitus Sidoarjo Fund kepada pihak BP BPLS (penerima bantuan) sebagai suatu Paket Penyelidikan Semburan Lusi oleh Tim Rusia.
Atau alternatif dukungan dapat langsung dari Pemerintah Rusia ke Pemerintah Indonesia (G-to-G).
14) Integrasi Keterpaduan Rencana Riset Tim Amerika dan Rusia:
Arizona State University (ASU) dari Amerika Serikat sudah menyampaikan secara formal Dokumen Proposal Riset, dengan dukungan pendanaan dari National Sciences Foundation.
Riset ini dirancang dengan fokus memahami sumber air, lumpur, dan gas serta panas dari mud volcano Lusi, serta justifikasi pengenal mekanisme serta perkiraan masa hidup Lusi ke depan.
Integrasi dua proposal dari Rusia dengan fokus dinamika dan arsitektur bawah permukaan dan dari Amerika Serikat fokus aspek Geologi parameter sumber dari Sistem Mud Volcano akan menghasilkan suatu baseline data dan informasi baru.
15) Implementasi Riset Lusi oleh Tim Rusia:
Diharapkan awal Tahun 2010 kegiatan lapangan sudah dapat diimplementasikan yaitu:
· Perluasan hasil GIS 3-D bawah permukaan Lusi (versi 2);
· Penyelidikan geologi dan geofisika focus pada struktur lumpur, patahan;
· Monitoring terpadu Kegempaan-Geodinamika Sistem Polygon.
· Diharapkan bulan April 2011, sudah dihasilkan hal-hal mendasar, sehingga direncanakan akan dipresentasikan secara simultan multi aspek bersamaan dengan HUT ke 4 BPLS (8 April 2011) dan HUT Lusi tahun ke-5 (29 Mei 2011).
16) Output dan Outcome hasil Riset Lusi oleh Tim Rusia: Output utama yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk hal-hal yang mendasar:
(1) Apakah Semburan Dapat Dihentikan atau Tidak;
(2) Berapa lama semburan Lusi atau skenario interval perulangan; dan
(3) Model dan Skenario Antisipasi Geohazard berdasarkan integrasi informasi bawah permukaan dan pencitraan permukaan.
17) Adapun Outcome adalah upaya pemulihan sendi-sendi kehidupan warga yang terkena dampak langsung atau tidak langsung dapat dipercepat dan mempunyai landasan ilmiah yang kokoh.
Aktualisasi Potret Lusi Saat ini dan Implikasinya
Potret dan Postur Lusi saat ini serta isu aktual kritis Dengan alur dan pola pikir yang komprehensif, integral dan holistik (Paparan yang disiapkan):
Ø Kabar Gembira, Kecepatan Semburan menurun drastis
Semburan Lusi sekitar 6 bulan yang lalu telah berubah drastis dengan kecepatan semburan (flow rate) sekitar 15.000 m3/hari didominasi oleh air, sebelumnya telah mencapai puncak sekitar 158.000-180.000 m3/hari (hanya dari satu outlet).
Angka semburan yang tinggi sebagai perbandingan atau analogi, melebihi kesetaraan dengan angka 1 juta barrel/hari (gambaran produksi minyak mentah Indonesia dengan (crude oil lifting) sekitar 980.000 barrel/hari, dihasilkan dari ribuan sumur produksi).
Ø Titik semburan dinamis dan menari serimpi (berita di internet)
Titik semburan berubah-ubah 1, 2 dan 3 dengan lokasi dari waktu-ke-waktu berubah.
Ø Pola semburan mud volcano Bleduk Kuwu
Pola semburan dicirikan uap (steam) warna putih menjulang tinggi (~25 m), dengan kick lumpur berwarna abu-abu kehitaman, maksimum tinggi ~5m, tanpa disertai ’wave’ atau luapan lumpur panas, serta intensitas berfluktuatif seperti ’geyser’ (quays hydrothermal).
Karakteristik tersebut oleh ahli ITB yang mengunjungi Lusi pada bulan Mei 2010 telah dianalogikan sebagai model mud volcano ’Bledug Kuwu’.
Suatu mud volcano telah memasuki tahap ’dormant period’ masih mempunyai tekanan, tapi tanpa ekspansi atau luapan lumpur baru.
Ø Lusi secara fisik bukan hanya virtual sebagai tubuh mud volcano
Lusi secara fisik dan bukan hanya secara virtual, telah membentuk tubuh dengan morfologi (bentang alam) sebagai suatu mud volcano.
Hal ini antara lain diperkuat dengan hasil pendakian dan penancapan Bendera Merah Putih ke Puncak Gunung Lusi (terakhir 15 Agustus 2010).
Ø Lusi sedang mengalami reorganisasi internal tahap pembentukan kaldera
Saat ini Lusi sedang mengalami reorganisasi secara internal (internal reorganization), yaitu suatu proses yang alami pada perkembangan mud volcano tahap pembentukan kaldera (caldera formation).
Ø Proses eksternalisasi longsor lereng bawah dan banjir bandang lumpur dingin
Proses internal pembentukan kaldera, secara bersamaan telah dibarengi dengan terjadinya fenomena eksternalisasi yaitu longsor lereng bawah (disertai debris flow) merupakan lumpur yang padu, dan banjir bandang lumpur dingin dan hangat (disertai sediment gravity flow).
Sebagai pengendali utama reorganisasi tersebut adalah kejadian pencairan sistem gunung lumpur dipicu karena rendahnya viskositas, produksi air di kepundan, morfologi menjadi suatu kubah (dome morphology).
Sedangkan sebelumnya membentuk tubuh yang positif dengan morfologi kerucut) karena luaran Lusi relatif lebih besar dibandingkan dengan kecepatan subsidence, serta berlangsung pada musim panas (tidak banyak influx air meteorit).
Ø Tingkat ancaman ditimbulkan langsung semburan Lusi menurun
Ancaman langsung yang mungkin ditimbulkan dari semburan Lusi yang saat ini didominasi material air (sebelumnya lumpur panas Lupsi) sebegitu jauh disimpulkan telah jauh mengecil, bila dibandingkan dengan waktu-waktu yang lalu (Lupsi).
Ø Ancaman baru akibat reorganisasi tubuh mud volcano disertai banjir bandang konsekuensi produksi air yang melimpah
Sementara itu potensi ancaman terhadap bencana geologi yang lebih signifikan disebabkan oleh dinamika atau reorganisasi dari postur mud volcano Lusi (tumbukan lereng bawah dengan tanggul dan banjir bandang lumpur dingin).
Gambar 1.2 Gambar Dampak Banjir Bandang di Kolam Renokenongo
Sedangkan dampak geohazard sebagaimana telah dibahas BG-ESDM, terutama adalah bubble aktif dengan tembusan gas metan dan subsidence.
Namun intensitas dan frekuensi sangat berfluktuatif, menurut Dr. Surono bahwa keberadaan titik-titik bubble tersebut bukan merupakan ZONA BAHAYA sebagaimana yang umum dari PETA RESIKO BAHAYA LETUSAN GUNUNG API.
Ø Posisi BPLS semburan SULIT DIHENTIKAN, waktunya belum ideal
Berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas bahwa Semburan Lusi masih SULIT UNTUK DIHENTIKAN.
Lebih jauh lagi kajian aspek strategis yang holistik menyimpulkan bahwa waktunya masih KURANG TEPAT (not yet the right time), bila dilaksanakan upaya menghentikan semburan misalnya dengan Relief Well (Perlu Pemahaman kondisi bawah permukaan terlebih dahulu, masalah sosial kemasyarakatan juga perlu ditangani secara holistik).
Ø Kajian baseline pakar kebumian manca negara mengarah Semburan Tidak Dapat Dihentikan
Berdasarkan penelaahan terhadap baseline utama pandangan/pendapat yang dipublikasikan atau dipresentasikan (termasuk pakar yang terlibat Kontroversi penyebab dan pemicu Lusi di Afrika Selatan), pakar kebumian di manca negara yang terlibat pada Lusi umumnya mengatakan Lusi sebagai mud volcano yang terbesar dan terdahsyat, serta paling menimbulkan bencana kemanusiaan (human disastrous) di milenium ke III.
Sehingga memberikan konsekuensi logis terhadap pandangan terhadap masa depan semburan yaitu TIDAK DAPAT DIHENTIKAN (UNSTOPABBLE).
Namun demikian, perlu digarisbawahi kembali bahwa BPLS masih berpendapat bahwa sampai saat ini Semburan Sulit untuk dihentikan.
Sehingga masih membuka ruang untuk menghentikannya bila saatnya telah tepat, dimana hasil pengkajian bawah permukaan (kegiatan khusus yang disiapkan untuk itu) telah memberikan kelayakan yang kuat (strongly feasible), serta yang tidak dapat diremehkan bahwa masalah sosial kemasyarakatan sudah relatif tertangani.
Ø Hasil Studi dari Ahli Kebumian Rusia yang perlu dicermati
Kunjungan kami ke Rusia Juli 2010 yang lalu, dimana 30% keberadaan mud volcano aktif telah berkembang di sana (termasuk Ukraina dan Azerbaijan), juga memperkuat hal tersebut.
Bahkan berdasarkan laporan yang telah diklarifikasi oleh Badan Riset Geologi Rusia, dinilai terdapat kejutan sehingga menimbulkan isu aktual/kritis, yaitu:
1) Mendapatkan telah berkembangnya 2 (dua) tubuh struktur lumpur yang kami sebut sebagai ’mud diapir’ dari struktur pembubungan (piercement structure) yang berlokasi di timur laut dan baratdaya dari Pusat Semburan Lusi yang sekarang;
2) Dari kajian terhadap stratigrafi telah ditafsirkan bahwa lapisan perselingan pasir dan lempung (alternating mud and sand) dari bagian atas lapisan sedimen dari sumur BJP-1, ditetapkan sebagai suatu interval perulangan terjadinya semburan mud volcano (recurrent interval of mud volcano eruption).
Ø Perhitungan Durasi (masa hidup) semburan Lusi yang menjadi tidak rasional lagi
Perhitungan durasi semburan selama ini yang menggunaka asumsi reservoir berasal dari batulempung (overpressure), Formasi Kalibeng Atas (Upper Kalibeng Formation) sekitar 1,2 Milyar M3, dan kecepatan semburan rata-rata 90.000 m3/hari telah menghasilkan perkiraan 23-30 tahun.
Dengan terjadinya perubahan mendasar saat ini, dimana flow rate semburan sudah didominasi air dan pada angka di bawah 15.000 m3/hari, sehingga perhitungan tersebut di atas disimpulkan menjadi batal demi fakta terjadinya paradigma baru di semburan Lusi (tidak dapat diberlakukan kembali).
Ø Belum jelas masa depan kehidupan Lusi
Skenario perkembangan Lusi saat ini yang cenderung menuju pada periode istirahat (dormant period), masa depan kehidupannya belum dapat dipastikan, Dengan alternatif skenario apakah akan tetap (status quo), total mati suri (totally dormant), atau bangkit kembali dengan kekuatan yang baru (new emerging forces).
Ø Upaya pemahaman bawah permukaan ke depan dari sisi alternatif kontribusi dari Bapel BPLS
Untuk memastikannya perilaku dan nasib Lusi ke depan diperlukan suatu data dan fakta baru pasca 4 tahun semburan, melalui serangkaian penyelidikan untuk memperjelas arsitektur sistem mud volcano (reservoir, feeder system, crater dan caldera).
Diikuti dengan kejelasan dari pengendali mekanismenya.
Dalam kajian ini Bapel BPLS dapat berkontribusi melalui kerjasama dengan institusi internasional yang sedang disiapkan dengan status:
1) Arizona State University (ASU), Amerika Serikat, proposal dan pendanaan siap, memasuki persiapan administrasi pemberitahuan (Deplu, DP BPLS) dan izin kegiatan di dalam wilayah dan sekitar PAT (Bapel BPLS);
2) Badan Riset Geologi Rusia, Pemetaan Permasalahan selesai (Laporan Riset), proposal awal sudah masuk, akan datang akhir September 2010 untuk pembahasan.
Ø Kapan saatnya tepat untuk proses pengambilan keputusan dan kebijakan terhadap nasib semburan ke depan?
Bila tahap pemahaman terhadap kondisi bawah permukaan yaitu arsitektur dan pengendali mekanismenya sudah jelas, serta dukungan non-teknis gejolak masalah sosial kemasyarakatan sudah dapat ditangani secara proporsional.
Maka waktunya telah tiba atau THE RIGHT TIME untuk memutuskan nasib semburan Lusi apakah dapat, perlu, layak untuk dihentikan dengan berbagai mekanisme yang tepat.
Dimana pada Rakor 27 Agustus 2010 telah disepakati hanya satu opsi yaitu teknologi Relief Well.