MODEL: PENYUSUNAN EDISI KHUSUS 'MUD VOLCANO AND MUD DIAPIRSM IN THE INDONESIAN OFFSHORE REGION: IMPLICATION FOR NON-RENEWABLE RESOURCES AND GEOHAZARD MITIGATION, CONTRIBUTED TO LUSI LIBRARY, 6 YEAR LUSI (2006-2012)
UPAYA MEMECAHKAN MISTERI DAN MENUNTASKAN KONTROVERSI PENYEBAB DAN PEMICU TERJADINYA SISTEM LAUT BANDA: ANALOGI LUMPUR PANAS SIDOARJO
Dikontribusikan Oleh: Hardi Prasetyo (Waka BPLS)
Profesor Riset Bidang Kebumian
PROLOG PROSES KOMPREHENSIF, INTEGRAL UNTUK MEMCAHKAN KONTROVERSI FENOME ALAM YANG KOMPLEK DAN RUMIT
Makalah ini merupakan suatu contoh aktual bahwa Kontroversi dan Perdebatan yang sangat mengemuka TENTANG SUATU FENOMENA KHUSUS YANG RUMIT dan telah berkembang lebih dari sepuluh tahun, diantara ahli kebumian sejagat (geoscientists over the World) terhadap asal-usul pembentukan dan perkembangan tektonik Sistem Laut Banda, satu per satu mulai dapat diungkapkan.
Penulis mendapatkan kepercayaan dan kehormatan untuk memainkan peran (play role) dalam proses memecahkan MISTERI PENYEBAB DAN PEMICU LAUT BANDA.
Untuk itu penulis telah menkombinasikan antara: 1) aktualisasi konsep-konsep modern global tektonik dunia baru (new global modern tectonic conceptio) sebagai suatu paradigma baru (new paradigm), 2) menerapkan state of the art technology yang tersedia saat itu, yang sampai hari ini belum banyak berubah, dan 3) melakukan terobosan baru (inovasi) kombinasi konsepsi baru dan teknologi dengan penarapan pendekatan step by step approach.
Inovasi baru yang telah diterapkan antara lain:
1) Menerapkan pertama kali di Asia tenggara Penampang Seismik Dalam (Deep Seismic Profiling) sampai menembus MOHO (25 detik twt); 2) Menerapkan pertama kalinya Sistem Pemetaan Dasar Laut Swath Mapping SEAMARC II; 3) Berhasil pertama kalinya mengambil contoh batuan dasar (basement rock dredge) dari kedalaman dasar laut 2000m, sehingga dapat menyakinkan bahwa Punggungan Banda berasal dari keratan tepian Benua Australia (Australian continental slivers) bukan deai pemekaran di busur belakang (backarc spreading), 4) Inovai memadukan semua data geofisika yang ada saat itu antara lain seismic relection and refraction, gravity, magnetic, heatflow, 5) Memadukan dan mengintegrasikan data geologi dari daratan yaitu dari pekerjaan lapangan di Pulau-pulau Misool, Buton, Timor, Sawu, Sumba, dan 6) pertamakalinya dilakukan analisis geohistori (geohistory analysis) dengan menerapkan backstripping dan backtracking selanjutnya dihasilkan kurva penggelaman tektonik (tectonic subsidence curve).
Sasaran strategis dari makalah ilmiah ini adalah bagaimana Kontroversi dan Perdebatan asal usul kejadian Laut Banda akan dituntaskan dengan melakukan Pemboran Ocean Drilling Program pada 3 Lokasi.
Salah satu hasil bernilai dari makalah ini adalah disimulasikan 3 Lokasi Pemboran Laut Dalam yang telah diusulkan pada kegiatan Internasional Ocean Drilling Program.
Proposal pemboran laut dalam di Laut Banda sebagaimana diungkapkan pada dokumen ini telah diterima oleh National Sciences Foundation (NSF), namun tidak mendapatkan izin dari Pemerintah Indonesia saat ini karena pertimbangan Geopolitik. Namun, akhirnya dialihkan ke Laut Sulawesi (Sulawesi Sea), yang dipimpin langsung oleh Profesor Eli Silver (promotor PhD dari University of California Santa Cruz, USA).
Success story ini merupakan suatu modal knowledge dan dan motivasi guna Menyibak Misteri Penyebab dan Pemicu Semburan Lumpur Sidoarjo, sebagai alat bantu (significan tool) dalam upaya untuk pengendalian Semburan dan Luapan Lusi.
Kata kuci:
Kontroversi terhadap fenomena alam tertentu (komplek, rumit) yang telah terjadi puluhan sampai ratusan juta tahun yang lalu merupakan suatu bagian dari tahapan yang harus dilalui.
Sehingga sampai pada suatu titik terseleksi alternatif yang paling mendekati, apalagi setelah dapat dilaksanakan Pemboran untuk mengambil batuan, sebagai pembuktian penafsiran-penafsiran dengan metoda remote sensing (geofisika).
Dari awal munculnya kontroversi dan perdebatan fenemena geologi yang rumit, akhirnya para ahli kebumian akan gembira ketika saatnya tiba sumber daya alam tak terbarukan minyak gas bumi, mineral, dapat dibuktikan atau ditemukan keberadaannya dan selanjutnya adalah tugas ahli pertambangan untuk mengeksploitasinya.
Makalah ini dikontribusikan untuk semua pihak yang memegang tanggung jawab guna melaksanakan misi nasional yang rumit dan komplek PENANGGULANGAN SEMBURAN LUMPUR PANAS SIDOARJO sebagaimana diamanahkan pada Perpres 14/2007 tentang BPLS dan Perpres 48/2008 tentang perubahan Perpres 14/2007.
Surabaya, 17 Agustus 2008
Hardi Prasetyo
AKTUALISASI KONSEP PEMBENTUKAN DAN Perkembangan LAUT BANDA:
PASCA SURVEI PENAMPAnG SEISMIK DALAM (deep seismic profiling) DAN PRA PEMBORAN LAUT DALAM
(Ocean Drilling Program odp)
SARI
Sistem Laut Banda (Banda Sea System) yang terletak pada bagian paling timur dari hagian dalam (inboard) Benua Maritim Indonesia (The Indonesian Maritime Continent), merupakan rangkaian cekungan tepi (marginal basin) yang terbentuk di kawasan Pasifik Barat. Pembentukan Laut Banda tidak mengikuti mekanisme yang umum dari cekungan tepian baik pemekaran di busur belakang (backarc spreading) maupun pemerangkapan kerak samudera (trapped oceanic crust).
Pemahaman terhadap asal-usul dan perkembangan Laut Banda merupakan hal penting, tidak saja sebagai salah satu contoh ideal pemerangkapan cekungan tepian di belakang zona tumbukan, namun juga sebagai contoh modern beberapa proses geologi.
Termasuk diantaranya: (1) mekanisme pemindahan lateral (lateral movement) dari beberapa terrane tektonostratigrafi (tectono-stratigraphic terrane); (2) mode dari pemerangkapan kerak samudera (trapped old oceanic crust) dan deformasi akhir secara tumbukan, dapat dianalogikan dengan transisi dari tipe Aleutian ke Karibia dari cekungan tepian.
Padamana merupakan transisi dari pemerangkapan Lempeng Kerak tua berasosiasi dengan pembentukan Busur Aleutian (Aleutian Arc) dengan deformasi terakhir dari lempeng Karibia (Caribian Plate) dibelakang zona tumbukan; (3) deformasi saat ini yang terdapat di Cekungan Banda dapat di analogikan terhadap bagian dari tumbukan Himalaya (Himalaya collision); dan (4) proses penyebaran sedimen yang terdapat sepanjang bagian utara Laut Banda (Cekungan Sula) dapat dianalogikan dengan di Bengal Fan sepanjang Samudera Hindia bagian timur.
Pengendali mekanisme TEKTONIK KARATE (CARATE TECTONICS) yang melibatkan proses pengeratan dan pemindahan lempeng tepi Benua Australia diusulkan untuk menjelaskan pembentukan Banda Ridge Terrane yang merupakan Terrane komposit (composite terrane). Sedangkan pemerangkapan Proto-Cekungan Banda ke posisi busur belakang modern merupakan Terrane Bandasian dan Terrane Sulasian.
Penampang seismik dalam (deep seismic profiling) dengan penetrasi mencapai 20-40 detik yang diambil dari Cekungan Banda sampai tepi benua Australia menunjukkan bukti-bukti baru bahwa kegiatan vulkanismedi Laut Banda, antara lain yang membentuk Gunung Api, berkaitan dengan mekanisme leaky transform berarah relatif baratlaut-tertggara, yang dipicu oleh adanya reaktivasi struktur rift (rift structural reactivation) di Laut Timor setelah mengalami tumbukan sepanjang Palung Timor.
Paradigma Baru asal-usul Laut Banda akan diuji secara lehih nyata dan diaktualisasikan kembali berdasarkan hasil-pemboran dalam dari program Ocean Drilling Program (ODP) pada tiga lokasi yang di usulkan.
PENDAHULUAN
Dalam konsepsi Benua Maritim Indonesia (BMI) (Prasetyo dkk., 1996) Laut Banda menempati bagian dalam (inboard) dari Kawasan Timur Indonesia, dipisahkan dengan Laut Jawa oleh Laut Bali-Flores (Gambar 1). Bagian luar dari kawasan timur BMI merupakan zona konvergensi aktif (active convergence zone), dari Selatan ke Utara ditempati oleh: Laut Timor-Arafura, Laut Karolina (Samudera Pasifik), Laut Filipina Barat, dan Laut Sulawesi.
Sampai saat ini asal-usul pembentukan Laut Banda masih menjadikan bahan perdebatan dikalangan ahli kebumian di dunia. Kontroversi khususnya berkembang berkaitan dengan umur kerak samudera yang mendasari sistem cekungan tepian (marginal basin). Hasil penafsiran metoda geofisika selama ini misalnya aliran panas (heatflow), liniasi magnet (magnetic lineation) dan pemodelan kedalaman versus umur (depth versus age) telah memberikan umur yang berbeda-beda. Fenomena ini hanya dapat dipecahkan secara tuntas dengan melakukan pemboran untuk mendapatkan batuan dasar cekungan tersebut.
Pertama kalinya Silver dan Prasetyo (1986) telah mengusulkan untuk melakukan pemboran laut dalam (deep ocean drilling proposal) melalui program pemboran samudera (Ocean Drilling Program). Proposal tersebut telah diterima untuk diimplementasikan dengan dukungan dari National Sciences Foundation (NSF) Amerika Serikat. Namun karena pertimbangan non teknis (nontechnical justification) usulan ini tidak dapat diimplementasikan, selanjutnya pemboran dipindahkan pada dua lokasi di Cekungan Sulawesi (Silver dan Rangin; 1988, Prase.tyo, 1997).
Memasuki abad ke 21 di mana pembangunan kelautan telah mcmasuki paradigma baru menuju kemandirian (Prasetyo, 1996, 1997), kegiatan ilmiah aspek geosain kelautan (marine geoscientific) di Benua Maritim Indonesia, harus senantiasa mengoptimalkan keberadaan aset nasional (Gambar 2) mencakup SDM (pakargeosain kelautan), Iptek Geosain, sarana dan prasarana, serta data dan informasi yang relevan. Kegiatan perekonomian mencakup pertambangan dan energi, perlu didukung oleh kegiatan inventarisasi dan evaluasi (Inev) melalui kegiatan survei (penelitian) dan pemetaan di laut.
Mengingat bahwa pemboran di dasar samudera harus menggunakan teknologi yang sangat canggih dan hanya satu-satunya di dunia (Gambar 3), maka gagasan tersebut harus dilaksanakan dengan melakukan kerjasama yang saling menguntungkan (cooperation with mutual benefit) dengan pihak Ocean Drilling Program. Untuk itu Prasetyo (1997) telah mengangkat kembali usulan pemboran batuan dasar (proposal for drilling oceanic crust basement) pada tiga lokasi di Laut Banda untuk diperjuangkan oleh Pemerintah Indonesia.
Proposal pemboran laut dalam tersebut ditujukan untuk memperkuat landasan pemahaman (strengthen for basic understanding) terhadap kerangka zona tumbukan tepian benua Australia dengan Busur Banda (australian continental margin with Banda Arc collision). Untuk itu, pada tahun 1993 telah diimplementasikan survei yang pertama kalinya dilakukan di kawasan Asia, dengan menerapkan teknologi penampang seismik dalam (deep seismic profiling), yang antara lain mencakup Cekungan Banda.
Makalah ini membahas aktualisasi konsep asal-usul dan perkembangan Sistem Cekungan Tepi Laut Banda (the origin and developing the Banda Sea Marginal Sea concept actualization), pasca survei penampang seismik dalam (deep seismic profiles) dan Pra-Program Pemboran Samudera yang diharapkan dapat dilaksanakan pada Sistem Laut Banda.
Sasaran yang ingin dicapai di samping mengangkat ke permukaan masalah ilmiah (scientific problems) yang masih berkembang di kawasan timur Benua Maritim Indonesia, juga menyediakan dasar pemahaman ilmiah (provide basic knowledge for policy and decission making) untuk pengambil kebijaksanaan dan keputusan berkaitan dengan perspektif kerjasama ilmiah internasional datam kerangka Program Pemboran Samudera(international cooperation perspective for Ocean Drilling Program). Dengan demikian diharapkan pakar geosain kelautan (marine geoscientists) dan khususnya pemerintah Indonesia mempunyai "bargaining position" yang lebih baik dalam melakukan penjajakan (negotiation) dengan pihak asing. Sehingga semboyan "untuk dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri" dapat menjadi kenyataan.
METODOLOGI DAN BASIS DATA
Untuk mendapatkan suatu kelayakan ilmiah bagi perencanaan pemboran kerak samudera di Laut Banda (Gambar 4), telah dilakukan pemaduan antara data dan informasi geofisika dan geologi kelautan, yang dihasilkan dari beberapa ekspedisi Geosain Kelautan.
Data-data Geofisika yang dihasilkan sampai tahun 1993 dari berbagai ekspedisi kelautan telah dihimpun dalam berbagai format Atlas (Prasetyo 1984, 1993, 1997), termasuk batimetri (bathymetry), mosaik citra dasar laut (seafloor mozaic image) SeaMARC 2 dan GLORIA, gayaberat (gravity), magnet (magnetic), aliran panas (heat flow), seismik refleksi dan refraksi (reflection and refraction seismic profiling), kegempaan (seismicity). Pemodelan kedalaman versus umur kerak samudera (oceanic crus deep versus age modelling) telah dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan analisis backstripping dan backtracking (backstripping and backtracking analysis), ditujukan untuk menguji umur kerak Cekungan Banda yang telah ditentukan sebelumnya menggunakan metoda aliran panas dan liniasi magnet (heatflow and magnetic lineation methods).
Tahun 1993 telah dilakukan ekspedisi BIRPS-93 (Gambar 5) yang pertama di Indonesia, menerapkan teknologi penampang seismik dalam (deep seismic profiling) yang mampu menembus ke bagian dalam bumi (penetrating the interior of the Earth) dengan maksimum sedalam 40 detik (dua arah) atau kira-kira 60 km nmncapai MOHO (Prasetyo dkk., 1992). Data geologi utama berasal dari program pengambilan contoh batuan dasar (basement rocks sampling) terutama di kawasan Punggungan Banda (Banda Ridge) pada ekspedisi Kana Keoki tahwi 1983 (Silver dkk., 1983, Prasetyo, dkk., 1985), di samping itu dari kerjasama Indonesia-Perancis menggunakan K/R Baruna Jaya III.
Untuk menguji hipotesa terhadap alternatif umur serta mekanisme kejadian dari masing-masing usulan lokasi pemboran, dilakukan studi perbandingan dengan hasil ODP di Cekungan Sulawesi (Silver dan Rangin, 1988; Prasetyo, 1997).
SISTEM LAUT BANDA DALAM KERANGKA CEKUNGAN TEPIAN (BANDA SEA SYSTEM IN THE MARGINAL BASIN FRAMEWORK)
Sebagian besar cekungan tepian di kawasan baratdaya Pasifik telah terbentuk dengan mekanisme ekstensi kerak (extentional crust mechanism) berkaitan dengan proses penunjaman litosfera samudera (subduction oceanic lithospheric), umumnya disebut sebagai pemekaran busur belakang (backarc spreading) (Karig, 1971).
Proses ini mempunyai analogi terhadap pemekaran kerak samudera di punggungan tengah samudera (mid ocean ridge spreading centre). Namun, beberapa cekungan tepian terbentuk tidak berkaitan langsung dengan proses penunjaman, tapi oleh ketidak teraturan dan pergerakan yang komplek dari lempeng berukuran kecil yang dipengaruhi oleh pergerakan lempeng utama di luar sistem (misalnya Laut Andaman dan Teluk Kalifornia (Curray dkk., 1979). Namun beberapa kasus cekungan tepian terbentuk berkaitan pemerangkapan samudera tua oleh mekanisme penunjaman (trapped old oceanic crust with subduction mechanism), disebut sebagai cekungan tepian terperangkap (misalnya Laut Aleutian-Bering, Laut Karibia). Dengan demikian terdapat dua konsep utama berkaitan dengan perkembangan cekungan tepian, yaitu: pemisahan di tempat (in situ separation) dan pemerangkapan dari cekungan samudera secara alohton (pemindahan keratan lempeng litosfera dari tempat lain).
Sistem cekungan tepi Laut Banda merupakan bagian dari rangkaian cekungan tepian yang berkembang di kawasan Pasifik Barat, dari selatan ke utara mencakup: Laut Banda (Banda Sea), Laut Sulawesi (Sulawesi Sea), Laut Sulu (Sulu Sea), dan Laut Cina Selatan (South China Sea). Busur Banda sendiri telah diterima secara universal sebagai hasil tumbukan tektonik antara tepian benua Australia dengan Busur Indonesia Timur (Australian continental margin with Banda Arc collision tectonics), di mana proses tumbukan ini berawal kurang lebih pada 3-5 juta tahun yang lalu (Gambar 6). Prasetyo (1985) telah membagi kawasan Laut Banda menjadi tiga morfo-tektonik dari selatan ke utara: Cekungan Laut Banda (Banda Sea Basin), Punggungan Lucipara (Lucipara Ridge), Cekungan Laut Sula (Sula Sea Basin).
Dengan menggunakan data penampang seismik refleksi (seismic reflection profiling), pemetaan dasar laut Sea MARC lI, dan data batuan dredge (dredged rocks sampling), Silver dkk., 1985, Prasetyo dkk. 1985 & 1988 menunjukkan bahwa Laut Banda merupakan suatu cekungan tepian yang komplek (complex marginal basin) terbentuk oleh kombinasi proses pemerangkapan kerak samudera tua, pemekaran dasar samudera oleh pergerakan lateral (pulled apart), dan pengeratan (slivering) dan pemindahan fragmen tepi benua (continental margin displaced fragment). Prasetyo (1985) menyebutnya sebagai cekungan tepi tipe "Indo-Borderland". Istilah "IndoBorderlond marginal sea" selanjutnya disebut sebagai "Indo-Borderland", digunakan untuk seluruh Sistem Laut Banda (Banda Sea System).
CEKUNGAN BANDA (BANDA BASIN): BUKTI PEMERANGKAPAN KERAK SAMUDERA TUA (TRAPPED OF OLD OCEANIC CRUST EVIDENCS)
Strukfur KeraK (Crustal structure)
Data geofisika yang tersedia dari Cekungan Banda mencirikan topografi tidak rata dari alas akustik (acoustic basement irregularity), terdiri dari kerak samudera, pada beberapa tempat dimodifikasi oleh kegiatan volkanisme di cekungan (basin volcanism activities). Bukti-bukti adanya kerak samudera yang mengalasi Laut Banda (oceanic crust underlain Banda Sea) pertama kali ditunjukkan oleh Curray dkk.. (1977) berdasarkan eksperimen seismik refraksi dengan metoda dua kapal (two ship seismic refraction methods) di bagian selatan Cekungan Banda, di timurlaut Wetar. Purdy dan Detrick (1978) dan Bowin dkk., (1980) mendukung hasil terdahulu dari Cekungan Banda, tepatya di bagian timur. Namun ketebalan lapisan dan kedalaman MOHO berbeda antara dua penampang tersebut. Curray dkk. (1977) mendapatkan lapisan tebal 1,49 km dan kecepatan yang relatif tinggi 5,1 km/dt (lapisan 2), menutupi Lapisan 3 dengan ketebalan 3,38 km dengan kecepatan rendah (low velocity), 6,6 km/dt. Ini menunjukkan bahwa selubung (mantle) sangat dangkal (10,28 km) atau hanya 6,8 km di bawah dasar laut. Di Cekungan Banda Bagian timur, Purdy dan Detrick (1978), menggunakan Ocean Bottom Seismographs (OBS) telah mendapatkan bahwa struktur kerak mendekati normal dari penampang kerak samudera dengan kecepatan dari masing-masing lapisan adalah 4,98; 6,47; 7,18; dan 7,97 km/detik. Di sini selubung dicirikan dengan kecepatan 7,97 ktn/detik pada kedalaman 7-9 km di bawah dasar laut.
Anomali Magnetik
Bowin dkk., (1980) telah menemukan anomali di Cekungan Banda berarah timurlaut yang relatif sejajar tchadap kelurusan magnetik (magnetic lineations) Argo Abyssal Plain (di timurlaut Samudera Hindia). Berdasarkan temuan tersebut dan didukung oleh data kedalaman dasar laut dan aliran panas, ia berpendapat bahwa Cekungan Banda merupakan panerangkapan kerak samudera tua dari samudera Hindia. Lapouille dkk., (1987) mendukung kesimpulan Bowin dkk., tersebut. Lebih jauh mereka mendapatkan kelurusan magnetik berkisar dari M-14 sampai M-8 (130-122 juta tahun) di Laut Banda atau lebih tepatnya pada Sub-cekungan Damar, dan M10-M7 (122-125 juta tahun) di utara Wetar. Prasetyo (1988) dan Rehault (1994) meragukan kebenaran dari beberapa liniasi magnet tersebut, namun mrndukung keberadaan sesar transform (transform fault) yang salah satu diantaranya berasosiasi dengan Sesar Hamilton (Hamilton Fault) di tepian timur Tukang Besi.
Aliran Panas (Heat flow)
Nilai Aliran panas pada cekungan tepian dapat digunakan sebagai suatu alat bantu untuk menduga umur kerak yang mendasari cekungan. Enam pengukuran aliran panas telah dikumpulkan selama ekspedisi SEATAR tahuur 1976 (Bowin dkk., 1980), dan dua dari Ekspedisi Snellius. Namun hanya empat pengukuran diantaranya diambil dari Cekungan Banda. Rata-rata pengukuran adalah 1,15 HFU dengan pengukuran berkisar dari 0,8 HFU sampai 1,7 HFU. Rata-rata aliran panas di Laut, Banda mendekati nilai rata-rata dari aliran panas di cekungan samudera, dimana berkisar dari 1,0 sampai 1,5 HFU.
Dalam hubungan ini aliran panas dari Laut Banda lebih kecil daripada nilai di Cekungan Aleutian (1,44 HFU), lebih rendah dari aliran panas rata-rata di Cekungan Celebes (1,59), Laut Sulu (2,12) dan Laut Filipina (2,44 HFU). Pemplot dari nilai aliran panas terhadap kurva teoritis (heat flow versus age) Parson Sclater, 1977, menunjukkan bahwa nilai aliran panas yang selaras terhadap model cekungan samudera yang normal, berumur Mesosoikum.
Kedalaman dasar laut versus umur
Parsons dan Sclater (1977) telah memperkenalkan konsep yang menghubungkan data kedalaman cekungan samudera dengan umur pembentukkannya. Prasetyo (1988) telah melakukan pemodelan menggunakan konsepsi tersebut terhadap di Cekungan Banda. Hasil pemodelan tersebut memperlihatkan bahwa umur rata-rata di Cekungan Damar 64,5 juta dengan maksimum 95 juta tahun. Hasil ini menunjukkan umur yang lebih muda bila dibandingkan dengan hasil pemodelan kelurusan magnetik. Dalam hubungan ini hasil pamodelan sekuen isokron M (Mesosoik) dari Cekungan Banda lebih dalam sebesar 500 m dari pemodelan kedalaman dasar laut. Adapun alternatif penyebabnya antara lain: (1) Cekungan Banda telah mengalami pemanasan (reheating) oleh adanya vulkanisme di cekungan; (2) standar kurva kedalaman versus umur (depth versus age standard curve) tidak berlaku di Laut Banda; (3) umur kerak dari pemodelan magnetik kurang bermakna.
Seismik Refleksi
Data seismik refleksi memperlihatkan terdapatnya dua satuan seismik di Cekungan Banda yang terdiri dari stratigrafi Proto-Banda dan pengisi Cekungan Banda. Stratigrafi Proto-Banda terdiri dari dua interval, yaitu sejajar dan transparan pada bagian bawah. Interval seismik ini dapat dikorelasikan dengan satuan di Cekungan Wharton (Wharton Basin) di Samudera Hindia timurlaut. Karakteristik ini tidak berlaku di Cekungan Wetar karena adanya peningkatan ketebalan sedimen pengisi cekungan yang menutupi endapan Proto-Banda Basin.
Model stratigrafi untuk Cekungan Banda telah dibangun dan dikorelasikan dengan Kurva Geohistori (geohistory curve) dari lokasi DSDP 260 di bagian timur Samudera Hindia. Analisis backstripping dan backtracking berdasarkan model stratigrafi menunjukkan bahwa penurunan kecepatan dari penenggelaman tektonik (tectonic subsicence) bersamaan dengan waktu dari episode volkanisme (7 jt.). Selanjutnya Busur Banda telah membentuk penghalang (barrier) sepanjang sayap selatan dari cekungan dan juga sebagai sumber sedimen hasil kegiatan gunungapi.
Penampang seismik refleksi dan data sedimen hasil piston core menunjukkan bahwa sejak akhir Neogen Cekungan Wetar-Damar dipisahkan menjadi beberapa cekungan. Pengendapan dari cekungan tersebut dikontrol antara lain oleh: (1) topografi dasar laut; (2) jarak dari sumber sedimen klastik (Sulawesi dan busur gunungapi Banda); (3) jarak dari upwelling utama yang merupakan sumber utama sedimen biogenik (biogenic sediments sources); dan (4) tektonik dari masa daratan disekelilingnya. Komposisi fraksi kasar contoh sedimen piston core dari Cekungan Banda memperlihatkan indikasi bahwa sedimen berasal dari sumber busur volkanik Banda (Banda Violcanic arc source of sediments) dan juga berasal dari pengendapan kembali komplek tumbukan dan fragmen benua.
Punggungan Lucipara (Lucipara Ridge) memisahkan bagian utara Cekungan Banda dengan Cekungan Sula di utaranya. Sementara itu zona sesar geser (Hamilton Fault) telah membentuk penghalang (dam) berarah baratlaut-tenggara dan memisahkan Cekungan Banda menjadi Cekungan Wetar dan Cekungan Damar. Banyaknya volkanisme cekungan di Cekungan Wetar ditafsirkan dikendalikan oleh dua mekanisme, yaitu tumbukan tubuh plateau dengan busurmuka berasosiasi dengan perubahan geometri penunjaman oleh terobosan sepanjang zona sesar memungkinkan volkanisme berkembang di dasar samudera, atau berhubungan dengan mekanisme "leaky transform", melalui zona sesar.
Penampang Seismik dalam (deep seismic profiling)
Sepasang penampang seismik refleksi dalam (dengan penetrasi maksimum 40 detik) berarah relatif utara-selatan telah diambil dalam Ekspedisi BIRPS-1992 (Prasetyo, 1992; 1994) yang mencakup Cekungan Banda sampai ke tepian Benua Australia (Gambar 5), dengan sasaran untuk mendapatkan geometri struktur dari litosfera.
Kawasan busur belakang Banda di sektor Cekungan Banda dicirikan oleh terdapatnya seamount yang memanjang relatif utara-selatan dan muncul ke permukaan sebagai gunungapi aktif, salah satu yang signifikan adalah Gunung Api yang berkedudukan 400 km di atas zona Wadati Benioff. Penampang seismik refleksi dalam yang diambil baik melintang dan searah deretan seamount mencirikan adanya kedalaman MOHO (dikorelasi dengan hasil seismik refraksi) yang mengalami underplating.
Di samping itu juga telah dideteksi keberadaan sesar yang tampaknya telah berperan sebagai media penyalur erupsi basal ke permukaan. Secara umum pengamatan tersebut mengindikasikan adanya fenomena penebalan dan pengambangan kerak di bawah busur Banda (di sektor timur dari P. Timor). Fenomena ini ditafsirkan dikontrol oleh dua altenatif mekanisme, yaitu: (1) berhubungan dengan kelanjutan dari ketidakteraturan kraton Australia yang terlibat di dalam konvergensi di bawah busur gunung api dan busur muka yang mencapai kedalaman 50-70 km; dan (2) Cekungan Bonaparte (Bonaparte Basin) berumur Paleosoikum yang mengalami under-thrust dan struktur awalnya telah dimodifikasi menjadi struktur intversi disertai dengan pembentukan penebalan kerak yang relatif mengambang.
Data seismik refleksi dalam juga telah melokalisasi adanya kerak yang relatif tebal sebagaimana didukung oleh anomali gayaberat, selanjutnya dapat diindikasikan adanya perekahan pada zona fracture di Gunung Api (Snyder dkk. 1994). Secara regional Zona fraktur telah berlanjut (propagating) ke utara dari pembajian (wedge) serta penebalan kerak benua Australia pada sistem busur muka di sektor Timor (Gambar 7).
Deformasi cekungan tepian
Deformasi yang terjadi pada Pliosen dan khususnya proses penenggelaman bagian selatan Cekungan Wetar terhadap busur gunungapi mengidentifikasikan adanya keterkaitan dengan proses konvergensi (convergence processes) yang melibatkan tepi benua Australia dengan busur kepulauan. Zona ini berasosiasi dengan nilai negatif dari anomali gayaberat udara-bebas sebagai hasil flexure pembusuran arah bawah (downbowing) dari kerak Cekungan Banda terhadap Busur Banda.
Bentuk deformasi yang terjadi sepanjang zona sesar naik Wetar dikontrol oleh ciri-ciri geologi sepanjang busurmuka antara lain lebar dan sempitnya cekungan busur muka, keberadaan morfologi plateau pada sona konvergensi. Hubungan ini mencirikan bahwa tumbukan antara tepian benua Australia bagian baratlaut dengan belakang.
Sintesis Perkembangan Tektonik
Cekungan Banda (Banda Basin) merupakan elemen utama dari sistem cekungan tepian "Indo-Borderland" berbentuk memanjang (elongated) dengan arah timurlaut-baratdaya. Bukti-bukti dari penyelidikan geofisika (pemodelan kedalaman batuan dasar, seismik refraksi, aliran panas, kemagnetan, gayaberat) mendukung bahwa Laut Banda dialasi oleh kerak samudera yang pembentukkannya jauh lebih tua dari sistem busur kepulauan Banda.
Studi seismik refleksi, contoh dredge, dan sediment dari percontohan piston core sepanjang Cekungan Banda memperlihatkan adanya variasi dari ciri-ciri geologi dari barat ke timur. Berdasarkan ciri-ciri morfologi, seismik stratigrafi, ketebalan sedimen, dan jenis struktur, Cekungan Banda secara tidak resmi dibagi menjadi dua kawasan atau Sub-basin: (1) Damar Basin di bagian timur, dan (2) Wetar Basin di bagian barat. Kedua cekungan dipisahkan oleh deretan Seamount berarah baratlaut-tenggara, yang utama adalah Gunung Api.
Beberapa ciri yang unik lainnya, antara lain: (1) merupakan fragmen alohton dari kerak samudera Cekungan Wharton; (2) pemendekan (shortening) sepanjang tepian selatan cekungan, berasosiasi dengan penenggelaman struktur palung (structural trough); (3) volkanisme di cekungan (basinal volcanism) berasosiasi dengan pengangkatan dasar laut; (4) adanya fase awal dari tumbukan antara seamount dan busur; (5) mekanisme kegempaan dangkal jenis kompresi; (6) mempunyai ketebalan sedimen yang tipis bila dibandingkan dengan cekungan-cekungan lainnya yang terbentuk secara pemerangkapan.
Cekungan Banda dapat dijelaskan pembentukannya sebagai suatu pemerangkapan fragmen kerak samudera tua tipe Aleutian (Aleuthian Basin trapped old oceanic crust), selanjutnya mengalami deformasi berkaitan dengan tumbukan benua-busur tipe Karibia (Caribbean arc continent collision).
Seismik refraksi dan model gayaberat memperlihatkan bahwa Cekungan Banda dialasi oleh kerak samudera dan dimodifikasi oleh volkanisme sebagaimana yang dapat ditafsirkan dari seismik dangkal dan dalam (deep seismic profiling).
Perhitungan dari kedalaman Cekungan Damar memperlihatkan bahwa umur rata-rata dari batuan dasar samudera (oceanic basement) adalah 64 juta tahun dan umur maksimum 90 Jt. Hasil ini mencirikan basement yang lebih muda dan lebih dangkal dari anomali magnet yang diusulkan oleh (Lapouille dkk., 1987; Lee dan McCabe.,1985). Beberapa bukti-bukti mendukung bahwa Cekungan Banda merupakan pemerangkapan kerak Cekungan Wharton.
Perkiraan umur dari batuan dasar setelah dikoreksi kedalaman dasar laut, aliran panas versus umur, dan penafsiran liniasi magnet memperlihatkan kisaran umur 64-120 Jt. Umur ini sangat beda dengan umur batuan gunungapi dari Busur Banda dan Punggungan Banda (antara 0,7 - 10 Jt.).
Mekanisme gempabumi dangkal yang tersedia menunjukkan bahwa Cekungan Banda tertutup (closing) dan tidak membuka (opening), hal ini sangat berbeda dengan yang umum terjadi di cekungan tepian busur belakang. Liniasi magnet berarah timurlaut yang terdapat baik di Cekungan Banda dan Cekungan Wharton serta rekonstruksi tektonik lempeng (antara lain Maruyama et. al. 1987; Silver dan Prasetyo.,1986) mendukung mekanisme pemerangkapan.
Data penampang seismik refleksi dalam memperlihalkan dua tipe seismik dari stratigrafi pengisi dasar laut dan pengisi cekungan. Sekuen seismik yang lengkap dari Cekungan Banda terdiri dari empat satuan interval seismik (Banda-1 sampai Banda-4). Cekungan Damar merupakan salah satu contoh yang baik untuk stratigrafi dasar cekungan yang dicirikan oleh kecepatan sedementasi yang rendah, morfologi halus dan bergelombang, dan tidak adanya deformasi yang intensif dari alas akustik dan sedimen yang menutupinya. Stratigrafi pengisian cekungan yang didapatkan di Cekungan Wetar mencapai ketebalan maksimum 1,2 km. Terdapatnya pengurangan kedalaman dasar laut ke arah barat sepanjang Cekungan Banda (dari Cekungan Damar ke Cekungan Wetar) tidak disebabkan oleh tingginya kecepatan pengendapan sedimen, namun oleh pendangkalan dari alas akustik.
Model tektonostratigrafi dari Cekungan Banda diusulkan sesuai model proto-Banda Basin yang merupakan fragmen alohton relatif terhadap sistem Busur Banda, sedangkan sedimen Cekungan Banda sendiri merupakan "overlap assemblage unit".
Variasi model struktur yang dapat diamati sepanjang tepian Wetar (dari Adonara ke kawasan Wetar) memberikan indikasi variasi deformasi sepanjang tepian selatan cekungan dicirikan oleh: a) morfologi palung (trough morphology) yang berkembang baik tanpa prisma akrasi (accretionary prism); b) lereng yang progradasi (progradation) tanpa tektonik akrasi (accretion tectonic); c) palung yang berkembang baik dengan cekungan lereng prisma akrasi; d) seamount dan palung dalam (deep through) seperti parit (trench) yang berkembang baik; e) seamount (punggungan luar) dengan sedikit prisma akrasi.
Enam tahap diusulkan untuk Pembentukan Banda Basin (1) tahapan proto-Banda Basin (pra-Miosen): pembentukan kerak samudera di Samudera Hindia baratlaut; (2) tahap awal Banda Basin (19 jt.), pembentukan sistem Busur Banda intra-samudera (intra oceanic); (3) tahap lanjut atau lengkap Laut Banda (7 jt.) dengan menghubungkan sayap utara Cekungan Banda dengan sistem Punggungan Banda (Banda Ridge); (4) tahapan tumbukan (collision stage) antara 3-0 jt.. (5) Tektonik aktif penenggelaman dan deformasi yang terjadi pada bagian sclatan dari Cekungan Wetar termasuk volkanisme cekungan yang banyak terjadi secara ekstensif di Cekungan Wetar.
SISTEM PUNGGUNGAN BANDA: FENOMENA PEMINDAHAN TEPI BENUA AUSTRALIA PADA BUSUR BELAKANG
Karakteristik
Peta batimetri Punggungan Banda telah dikembangkan berdasarkan data geofisika, yang dikompilasi dari rekaman 3,5 kHz dikontrol oleh mosaik side-scan SeaMARC II (Gambar 8).
Beberapa geomorfologi dari selatan ke utara mencakup Banda Basin, Palapa Ridge, Palapa Trough, Rama Trough, Lucipara Basin, Sinta Ridge, Ambalau-Ambon Trough, dan Ambalau Ridge. Peta batimetri dengan interval kontur 200 m memperlihatkan bahwa Punggungan Banda merupakan suatu komplek morfologi punggungan dan tinggian dan selingan palung. Empat topografi punggungan utama adalah Lucipara ridge, Rama ridge, Sinta ridge dan Pisang ridge. Dari kesemua punggungan tersebut hanya Punggungan Lucipara yang terletak di bagian tengah muncul ke permukaan air laut dan membentuk gugusan kepulauan Lucipara dan Penyu. Kebanyakan dari punggungan ini memanjang, bebarapa diantaranya berbentuk kurva, dan hampir keseluruhannya mempunyai lereng yang terjal.
Beberapa cekungan dan palung terdapat pada bagian dalam kawasan Punggungan Banda, dengan kedalaman air laut lebih dari 4000 m. Termasuk Palung Rama, Palung Palapa, Cekungan Pisang, Palung Rama Utara, Cekungan Citra, dan Arjwna Palung Arjuna. Cekungan I_ucipara suatu daerah depresi sempit yang memanjang memisahkan komplek punggungan selatan (terdiri dari Punggungan Lucipara, Palapa, Rama, Pisang) dan Punggungan Sinta. Pada daerah depresi ini merupakan topografi dengan kelurusan berarah timurlaut memanjang dari Plateau Tukang Besi. Timurlaut dari Punggungan Banda terdapat suatu depresi berarah timur-barat yang relatif sejajar terhadap Busur Banda bagian utara, dan breaker pada Palung Ambalau-Ambon. Ciri ini berimpit antara Punggungan Banda dengan sistem parit Busur Banda utara.
Pembagian Zona Geologi
Punggungan Banda merupakan suatu ekspresi morfologi yang menonjol di dalam "Indo-Borderland"; yang memisahkan dua cekungan dalam, yaitu Cekungan Banda dan Cekungan Sula detigan kedalaman mencapai lebih dari 5000 m. Sebagian besar dari Punggungan Banda memanjang timurlaut dengan kekecualian Cekungan Lucipara yang berarah Baratlaut, tampaknya dikontrol oleh struktur. Lima mandala geologi utama terdapat di sistem Punggungan Banda dibagi berdasarkan morfo-geologi : 1) Lucipara Ridge; 2) Palapa Ridge; 3) Rama Ridge; 4)Lucipara Basin; and 5) Sinta Ridge.
Contoh batuan yang di keruk dari alas akustik Punggungan Banda (Gambar 9) termasuk bagian dari tepi benua terdiri dari batuan metasedimen yaitu batusabak, pilit, marmer, sedangkan batuan sedimen antara lain batulempung, greywackes, rijang, breksi lempung, dan konglomerat. Kumpulan batuan ini menunjukkan kesamaan asal usul dengan batuan yang didapatkan di sekitar kepulauan Busur Banda Utara (Misool, Buru, Tukang Besi) dan khususnya dari satuan batuan yang didapatkan di Kepala Burung Irian Jaya. Terdapatnya fosil-fosil dalam batugamping yaitu Nummulites sp, Discocyclina sp. di Punggungan Sinta mencirikan lingkungan laut dangkal. Fenomena ini kemungkinan berhubungan dengan kegiatan Orogen berumur Paleogen Kapur-Tersier yang diamati di Irian Jaya.
Sistem sesar di Banda Ridge dapat dibagi menjadi empat tipe: a) Sesar utama Pra-Miosen Atas berasosiasi dengan sesar-sesar yang membatasi punggungan utama, seperti Zona Sesar Lucipara, Sesar Rama, Sesar Rama Utara, Zona Sesar Sinta Selatan dan Sesar Hamilton; b) Sesar-sesar Pliosen yang berkembang di Cekungan Lucipara kemungkinan berhubungan dengan proses deformasi 'pulled apart"; c) struktur sesarnaik dan diapir pasca Pliosen berasosiasi dengan pembentukan di palung di Punggungan Banda; d) Sesar naik Ambon (Ambon Thrust) yang menunjukkan kesatuan secara tektonik dengan Jalur Utara Busur Ambon-Ambalau.
Struktur gealogi yang berhubungan dengan deformasi kompresif berumur muda (Pasca-Pliosen) ditafsirkan sebagai hasil dari tumbukan antara kontinen-busur sepanjang Busur Banda selatan dan utara. Sementara itu data seismik refleksi dan contoh batuan dredging memperlihatkan bahwa beberapa topografi tinggian dari Sistem Punggungan Banda merupakan perwujudan dari struktur antiklin.
Secara umum cekungan yang berkembangnya di Punggungan Banda Cekungan, dan ditafsirkan terbentuk oleh mekanisme lateral shearing dianalogikan dengan struktur yang berkembang di Californian Borderland. Aktivitas lanjutan kemungkinan tumbukan antara Australia dan Indonesia Timur.
Sedangkan Asal usul daerah depresi di bagian tengah (Lucipara Basin) masih menjadi hal yang fenomena. Namun, data geologi dan geofisika memberikan kepercayaan bahwa cekungan dialasi oleh kerak samudera muda (atau rifted stage crust). Proses pull-apart berasosiasi dengan perputaran blok (rotated block) tampaknya telah memainkan peranan penting dalam membentuk depresi bagian tengah.
Sintesis Asal Usul dan Perkembangan Tektonik Punggungan Banda
Ujud dan asal-usul Punggungan Banda telah lama menjadi suatu teka-teki? Sebelum 1983 (Ekspedisi Kana Keoki), hadirnya topografi positip (menonjol) di Laut Banda umumnya dihubungkan dengan mekanisme pemekaran busur belakang (Hamilton, 1979). Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, punggungan harus terikat secara langsung dengan tepian samudera di utara dan selatannya. Bowin dkk. (1980), berdasarkan studi anomali magnet mengusulkan Cekungan Banda kemungkinan merupakan pemerangkapan kerak samudera dari Wharton Basin di Samudera Hindia. Namun, pandangan ini tidak memecahkan ujud dan kejadian Punggungan Banda, terutama karena tidak terdapat contoh batuan yang dapat diambil dari kawasan ini. Smith (1982) berspekulasi bahwa Punggungan Banda kemungkinan mempunyai suatu kesamaan kejadian dengan Terrane Buton dan Terrane Sula. Terrane ini telah ditentukan sebagai peregangan dari keratan atau fragmen tepi benua Australia yang selanjufiya mengalami tumbukan dengan sistem busur kepulauan Sulawesi.
Studi yang dilakukan di Banda Ridges (Schwartz dkk., 1984; Silver dkk.,1985; Prasetyo dkk., 1985) memperlihatkan bahwa Punggungan memperlihatkan sebagai mendala yang berbeda baik terhadap Cekungan Banda di selatan maupun terhadap Cekungan Sula di utaranya.
Telah semakin jelas bahwa bagian dari morfologi plateau atau punggungan dari Sistem Laut Banda terbentuk oleh mekanisme pemindahan dan penenggelaman dari continental Borderland (displaced and submerged continental borderland). Sejarah tektonik dari Sistem Punggungan Banda dipandang mempunyai perbedaan dengan keterdapatan plateau samudera di kawasan Pasifik Barat, dan melibatkan pemindahan lateral dari tepi keratan dan berkaitan dengan deformasi tumbukan (Prasetyo et al., 1985; McCafrey, 1986) yang terjadi setelah penenggelaman.
Dalam konsep tektonostratigrafi, Sistem Punggungan Banda ditentukan sebagai "Banda Ridges Terrane"; ditutupi oleh sedimen pelagik gampingan dan distal turbidit, dan batuan gunungapi Miosen Atas, yang keseluruhannya sebagai satuan autohton.
Sejarah ini memperlihatkan kompleknya kedudukan tektonik lempeng dari kawasan ini.
USULAN PEMBORAN DALAM DI LAU'T BANDA
Lokasi BB-1:
ODP BB-l terletak di bagian Utara Cekungan Banda, di selatan Punggungan Lucipara. Sasaran pemboran adalah untuk menentukan petrologi kerak samudera, sekaligus menguji umur yang sebelumnya telah ditentukan berdasarkan pemodelan dengan metoda geofisika. Hasil yang diharapkan adalah memilih hipotesa asal-usulnya apakah pemerangkapan kerak samudera tua dari Wharton Basin, pemekaran busur belakang, atau mekanisme yang lain.
Lokasi ODP LB-1, Cekungan Lucipara bagian dari Sistem Punggungan Banda
ODP-LB1 berlokasi di Cekungan Lucipara yang memisahkan Punggungan Lucipara (selatan) dan Pungguagan Sinta. Sasaran adalah untuk menguji apakah kelurusan struktur berarah baratlaut-tenggara (Gambar 10) yang relatif tegak lurus terhadap kelurusan utama sistem Punggungan Lucipara (timur-barat), berkaitan dengan proses 'pulled-apart', berasosiasi dengan pembentukan kerak transisi (transitional crust) atau kerak samudera muda?
Pemboran batuan dasar diharapkan mendapatkan batuan dasar tipe kerak samudera atau kerak transisi, menentukan umumya, dan membandingkan nilai aliran panas dari Ekspedisi Snellius.
Lokasi ODP SB-1
Cekungm Sula berbentuk segitiga dengan sudut runcing di bagian baratlaut, berdasarkan data kelurusan, kemagnitan Lapuille dkk. (1985) telah memberikan umur M-0. Silver dkk. (1985), Prasetyo, (1985 dan 1988) menekankan bahwa Cekungan Laut Banda juga merupakan pemerangkapan kerak samudera tua, namun tidak harus dari Samudera Hindia. Di samping itu pada Cekungan Sula juga berkembang sistem Punggungan (Tampomas Ridge), dimana kejadiannya masih belum jelas apakah vulkanis? keratan tepian benua seperti Punggungan Lucipara? atau "oceanic plateau" seperti yang banyak terdapat di Samudera Hindia? Hasil temuan Rehault dkk. (1993) terhadap contoh batuan dredge pada sistem punggungan di sekitar Punggungan Tampomas, menunjukkan terdapatnya kerak samudera berumur muda, namun masih sulit untuk menempatkan skenario teknon ikoya.
ODP-SB1 terletak di Cekungan Sula, kira-kira di tepian Punggungan Sinta bagian Barat. Sasaran pemboran ,adalah imtuk mendapatkan batuan dasar kerak samudera yang mendasari-Cekungan Sula, untuk disebandingkan dengan Cekmrgan Banda dan Cekungan Lucipara. Pemboran batuan dasar diharapkan dapat menguji sekurang-kurangnya tiga hjpotesa pembentukannya: (1) berasal dari Samudera Hindia (Lapouille dkk. 1985; Lee dan McCabe, 1986); (2) berasal dari kerak Laut Maluku termasuk mendala Pasifik (Silver dkk: 1985; Prasetyo dkk. 1985); (3) berasal dari pembukaan muda Cekungan Sula (Miosen Atas) berasosiasi dengan pembentukan West Buru Fracture Zone (Malod, dkk. 1993).
Data dan informasi kebumian di Laut Sulawesi yang berlokasi di utara sistem Laut Banda telah samakin meningkat sehubungan dengan dilaksanakannya dua pemboran (Site 767 dan 770), program pemboran laut dalam (ODP) tahun 1988.
Data pemboran ODP (Silver dan Ranging, 1991) menunjukkan bahwa Laut Sulawesi merupakan cekungan tepi (marginal basin) terbentuk pada Eosen Tengah (Middle Eocene), saat awalnya merupakan bagian dari samudera terbuka (open ocean) seperti yang terlihat dari pengendapan sedimen pelagik. Data kemagnetan purba (Paleomagnetism) memperlihatkan batas perubahan lintang purba (paleolatitude). Kecepatan pemekaran (spreading rate) dari Laut Sulawesi kira-kira setengah dari Cekungan Filipina Barat, dan tidak memperlihatkan kesamaan dengan sejarah perkembangan Samudera Hindia.
Batuan alas (basement) Laut Sulawesi memperlihatkan komposisi yang normal dari basal pematang tengah samudera (N-MORB). Komposisi sedimen turbidit (turbidite sediment) berumur Miosen Awal menunjukkan kecenderungan yang dapat dikorelasikan dengan kemungkinan batuan sumber yang berasal dari Kalimantan dan Filipina. Penafsiran tersebut memberikan implikasi terhadap mode pengkeratan kerak Cekungan Sulawesi (Sulawesi sliver plate) dari cekungan samudera tua sesaat setelah pembentukkannya. Lebih jauh lagi kemungkinan ia terkerat dari ujung tepi daratan Cina (China margin).
Inklinasi data magnet pada sedimen di Laut Sulawesi sangat konsisten terhadap asal-usul berasal dari tepi daratan Cina. Namun, bukti-bukti dari rotasi pada Eosen dan Oligosen atau rotasi keseluruhan Eosen-Oligosen lebih mudah divisualisasikan sebagai suatu fragmen dari lempeng yang besar (major plate), daripada lempeng yang berasal dari fase pembukaan tepi hasil peregangan (rifted margin).
Hasil ODP di Sulawesi menyanggah hipotesa dari Lapuille dkk. (1985); Lee dan McCabe, (1986) berdasarkan analisa keturusan magnet, mengusulkan Laut Banda, Laut Sulawesi, Laut Sulu, dan Laut Cina Selatan berasal dari satu sumber di selatan katulistiwa (Samudera Hindia).
AKTUALISASI KONSEP PEMBENTUKAN LAUT BANDA
Laut Banda tidak mengikuti asal-usul yang umum dari pembentukan cekungan tepian (marginal basins). Baik merupakan pemekaran muda di busur belakang (young spreading basin) atau pemerangkapan kerak samudera tua, baik Cekungan Sula di utara dan Cekungan Banda di selatan tampaknya merupakan pemerangkapan kerak samudera tua (Paleogen-Kapur). Laut Banda merupakan cekungan tepian tipe IndoBorderland.
Bagian tengah (Banda Ridges) terdiri dari tepian benua (Continental Borderland), terbentuk di Irian Jaya, dan dipindahkan pada posisi yang sekarang pada Miosen Atas. Mendala punggungan terdiri dari punggungan berarah timurlaut yang dibatasi oleh sesar di bagian utaranya. Bagian tengah merupakan cekungan peregangan (rift basin) dengan morfologi abyssal hills berarah Utara-Baratdaya dan struktur graben, dan 4 punggungan berarah timurlaut dipisahkan oleh cekungan sempit memanjang di selatannya. Struktur sesar-sesar telah dipetakan memperlihatkan aktivitas yang sekarang.
Batuan dasar dikeruk dari punggungan dapat dikorelasikan dengan litologi dari batuan yang terdapat di Irian Jaya, Misool, Buru, and Papua New Guinea. Pengendali mekanisme untuk tektonik modern di Punggungan Banda dan Laut Banda merupakan hasil tumbukan benua baik dari busur Banda di selatan dan utara, disebut sebagai "Himalayan Structural-Style".
Mekanisme yang berperan dalam mengerat tepian benua Australia selanjutnya memindahkan keratan lempeng (sliver plate) tersebut ke dalam Sistem Laut Banda disebut sebagai TEKTONIK KARATE INDONESIA BAGIAN TIMUR (Gambar 11).
Cekungan Banda (Banda Basin) merupakan elemen utama dari sistem cekungan tepian "Indo-Borderland". Perkembangan tektoniknya telah ditafsirkan oleh Prasetyo (1988) merupakan transisi dari tipe 'Aleutian" menjadi lebih "Caribbean type". Cekungan ini mempunyai beberapa ciri yang unik, diantaranya: merupakan fragmen alohton dari kerak samudera Cekungan Wharton; pemendekan (shortening) sepanjang tepian selatan cekungan, berasosiasi dengan penenggelaman struktur palung (structural trough); volkanisme di cekungan (basinal volcanism) berasosiasi dengan pengangkatan dasar laut; adanya fase awal dari tumbukan antara seamount dan busur; mekanisme kegempaan dangkal jenis kompresi; mempunyai ketebalan sedimen yang tipis bila dibandingkan dengan cekungan-cekungan tepian lainnya yang terbentuk secara pemerangkapan.
Terdapatnya Punggungan Banda dalam laut tepian Laut Banda dapat dianalogikan terhadap keberadaan punggungan atau plateau samudera yang tersebar di cekungan samudera (Howell, 1985). Punggungan Banda dengan arah timurlaut terdiri dari punggungan yang sempit memanjang dipisahkan oleh cekungan antar punggungan (intro-ridge basins) dan punggungan, pada Cekungan Lucipara berkembang abyssal hill dengan arah baratlaut. Ciri-ciri geomorfologi tersebut tampaknya dikontrol oleh struktur.
Komposisi batuan memperlihatkan bahwa Punggungan Banda terdiri dari fragmen tepi benua, batuan gunungapi dan kemungkinan kerak samudera muda. Khususnya contoh batuan metasedimen dan sedimen tepi benua juga diketemukan pada pulau-pulau di sekitarnya, antara lain Misool, Buru, Tukang Besi dan khususnya pada batuan yang tersingkap di Irian Jaya.
Keberadaan fosil Nummulites sp., Discocyclino.sp dari punggungan Sinta juga memperlihatkan bahwa pada Paleogen Punggungan Banda relatif dangkal. Fragmen ini tampaknya telah dipindahkan dari timur Irian Jaya pada Miosen Atas, skenario terhadap mode dan kejadian batuan busur kepulauan dan pemindahan kerak samudera muda tetap memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Punggungan Banda mempunyai suatu karakteristik yang selaras terhadap konsep tecrane tektonostratigrafi dan diusulkan Sistem Punggungan Banda sebagai "Banda Ridge Terrane". Terrane ini dapat dianalogikan dengan Cagayan Ridge Terrane di Sulu Sea (McCabe., 1985). Dengan demikian Cekungan Banda dan Sula merupakan fragmen alohton relatif terhadap Busur Banda, sebagai konsekuensi cekungan tersebut juga merupakan terrane dan disebut sebagai Bandasian dan Sula Basin Terrane. Terrane ini mempunyai analogi terhadap Aleutian Terrane di Laut Bering (Scholl dkk., 1987). Terrane Punggungan Banda ditutupi oleh sedimen Miosen Atas dan lebih muda terdiri dari biosilicous-biocalcareous.
Di utara tepi dari Punggungan Banda dibatasi oleh Sesar Sinta bagian baratlaut mendala punggungan, sesar memanjang ke timur dari bagian selatan Cekungan Sula ke Cekungan Buru. Bagian timurlaut batuan dasar Punggungan Banda mengalami pembusuran ke bawah terhadap busur gunungapi Busur Banda Utara sepanjang Ambalau-Ambon palung struktur. Bagian selatan Punggungan Banda dibatasi oleh Sona Sesar Lucipara yang merupakan punggungan dibatasi oleh sesar yang merupakan sentuh antara Cekungan Banda dan Punggungan Lucipara. Sedangkan pada bagian baratdaya batas sesar terdapat sepanjang Sesar Hamilton yang merupakan sentuh antara Tukang Besi Platform dengan Banda Ridge. Terdapatnya batas punggungan yang mempunyai urutan stratigrafi tersendiri memperkuat dasar Punggungan Banda sebagai suatu Terrane Composite.
Posted 1 week ago by Lusi: Dari Bencana ke Manfaat