Gunung Lumpur dan EvolusiNYA
Mud Volcano and Its Evolution
Bambang P. Istadi1,*, Handoko T. Wibowo2, Edy Sunardi3, Soffian Hadi4 and Nurrochmat Sawolo1
1Energi Mega Persada
2Independent geologist
3Universitas Padjajaran
4Sidoarjo Mudflow Mitigation Agency Indonesia
TINJAUAN TAHAP AWAL (EVALUASI CEPAT)
Oleh: Hardi Prasetyo
Didedikasikan Untuk Lusi Library: Knowldge Management
Membangun Pemahaman Lusi mud volcano secara komprehensif integral dan holistik
Original:
List of Contents:
1. Introduction
2. Evolution of LUSI Mud volcano
2.1 Stratigraphic setting of the LUSI Mud volcano
2.2 Controversy on the trigger
2.3 The underground blowout hypothesis
2.4 The fault reactivation hypothesis
2.5 Response to earthquake
2.6 Horizontal displacement
2.7 Subsidence and uplift
2.8 InSAR data
2.9 Fracture orientation
2.10 Gas bubbles
2.11 Source of mud, water, gas and heat
2.12 Geomorphology of the area
2.12.1 Under the volcanic slopes unit
2.12.2 Foot volcanic plateau unit
2.12.3 Cuesta unit
2.12.4 Alluvial plain unit
2.12.5 Mud volcano unit
2.13 Forming of the Crater
2.14 Morphological changes
3. Geohazard
4. Other Mud volcanoes in East Java
4.1 Kalanganyar
4.2 Gunung Anyar
4.3 Pengangson
4.4 Bujel Tasek
4.5 Bleduk Kuwu
5. Conclusions
6. Acknowledgement
7. References
Sub-laman (6): 1. Introduction 2. Evolution of LUSI Mud volcano 3. Geohazard 4. Other Mud volcanoes in East Java 5. Conclusions 6. REFERENCES
MAKALAH TINJAUAN CEPAT (MASIH DALAM PENGEMBANGAN)
Daftar Isi:
1. Pengantar
2. Evolusi LUSI Mud volcano
2.1 Tatanan stratigrafi dari gunung lumpur LUSI
2.2 Kontroversi terhadap pemicu
2.3 Hipotesis underground blowout
2.4 Hipotesis reaktivasi Patahan
2.5 Respon terhadap gempa
2.6 Pergerakan Horizontal
2. 7 Subsidence dan pengangkatan
2.8 Data InSAR
2.9 Orientasi Fracture
2.10 Gelembung Gas
2.11 Sumber lumpur, air, gas dan panas
2.12 Geomorfologi daerah
2.12.1 Satuan lereng bawah gunung lumpur
2.12.2 Satuan kaki dataran volkanik
2.12.3 Satuan Cuesta
2.12.4 Satuan datan Aluvial
2.12.5 Satuan Gunung Lumpur
2.13 Pembentukan kawah
2.14 Perubahan morfologi
3. Geohazard
4. Gunung lumpur lain di Jawa Timur
4.1 Kalanganyar
4.2 Gunung Anyar
4.3 Pengangson
4,4 Bujel Tasek
4.5 Bleduk Kuwu
5. Kesimpulan
6. Ucapan Terima Kasih
7. Referensi
Kesimpulan
• Pemahaman Mud diapir and mud volcano sebagai struktur pembubungan: Diapir lumpur dan gunung lumpur (Mud diapir and mud volcano) adalah struktur pembubungan (piercement structure) menunjukkan adanya pelepasan sedimen overpressured yang membumbung ke atas (the release of overpressured sediments piercing upward) dari bawah permukaan bumi karena daya apung dan tekanan diferensial (due to buoyancy and differential pressure).
• Karakeristik cekungan elisional Zone Kendeng-Madura Strait dan implikasinya pembentukan mud diapir dan mud volcano: Zona Kendeng-Madura Strait adalah suatu sumbu daerah depresi purba dari Pulau Jawa ke Madura dengan karakteristik sbagai suatu cekungan elisional.
Sedimen berumur Mio-Pliosen dan Pleistosen telah diendapkan dengan cepat pada daerah depresi dan mengalami kompresi ketika ia berada did epan dati batas lempeng konvergen dengan aktivitas seismik yang tinggi (the front of converging plate boundaries with high seismic activity).
Hal ini mengakibatkan terbentuknya banyak diapirs lumpur dan lumpur gunung berapi di daerah tersebut.
Sejauh ini teleh didokumentasikan sebanyak enam belas gunung lumpur di Jawa Timur dengan enam gunung lumpur diantaranya diketemukan sepanjang patahan Watukosek (Watukosek fault).
• Peran penting Sistem Patahan Watukosek dalam pembentukan LUSI: LUSI, suatu gunung lumpur yang baru, telah dilahirkan di sekitar patahan Watukosek.
Fenomena geologi ini serta yang lainnya yang terjadi di daerah ini seperti munculnya gelembung gas, retak, ambles, dan perpindahan vertikal dan horizontal (gas bubbles, cracks, subsidence, and vertical and horizontal displacement) diyakini karena adanya reaktivasi sesar yang telah ada sebelumnya di daerah ini.
Sistem Patahan Watukosek (The Watukosek fault system) tampaknya memainkan peran dalam keberadaan gunung lumpur enam lainnya di sekitarnya.
• Pernyataan sumur tidak memicu trjadinya gunung lumpur LUSI: Makalah teknis seblumnys, seperti Davies et al. (2007, 2008), Rubiandini et al. (2008) dan Tingay et al. (2008) telah menyatakan adanya hubungan antara sumur Banjarpanji-1 dengan gunung lumpur.
Makalah ini didasarkan banyak pada dataset belum diverifikasi dan parsial. Ketika keseluruhan dataset diintegrasikan seperti dalam Sawolo et al. (2008, 2009 dan 2010), terbukti bahwa sumur tidak memicu gunung lumpur LUSI.
Analisis masa depan pada pemicu semburan lumpur harus mempertimbangkan perangkap ini dan mengintegrasikan semua dataset yang tersedia.
Satu harus menguraikan dan memanfaatkan seluruh mud logger Data Real Time sebagai itu adalah dataset yang paling dapat diandalkan, yang bekerja secara otomatis, terus menerus dan data kuantitatif yang menangkap beberapa parameter kunci dari operasi rig.
• Peran penting komplek gunung api Arjuno-Welirang terhadap perkembangan LUSI: Jarak terdekat dengan kompleks vulkanik, gunung berapi Arjuno - Welirang, dengan LUSI adalah 10 km.
Kedekatan lokasi ini mungkin telah mempengaruhi sifat panas bumi dari LUSI dan mempengaruhi suhu dan geokimia.
• Kemungkingan semburan Lus akan berlangsung lama dan implikasinya ke depan: Studi ini menunjukkan bahwa LUSI kemungkinan akan terus mengalir selama bertahun-tahun yang akan datang.
Pemahaman yang lebih baik sistem saluran (plumbing system) dan studi bawah permukaan rinci harus dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana (hazard mitigation effort).
Lebih dari 16 Jawa Timur lumpur gunung di sekitarnya harus digunakan sebagai analogi terhadap proses-proses gunung lumpur dan morfologiNYA.