Suatu semburan yang lumpur dan fluida yang tidak diduga sebelumnya, telah terjadi tanggal 29 Mei 2006, di daerah Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang berjarak sekitar 200 m jauhnya dari sumur eksplorasi hidrokarbon Banjar Panji-1 (BJP-1), yang saat kejadian dilaporkan mencapai total kedalaman (total depth) sebesar 2833 m.
Semburan ini selanjutnya dinamakan sebagai Lusi (Lumpur ’mud’ – Sidoarjo), dan sejak 29 Mei 2007 daerah sekitar pemboran eksplorasi telah digenangi oleh luapan lumpur yang mencapai luas sekitar 630 hektar atau 6,3 km persegi.
Sekitar 8800 kepala keluarga (sekitar 30,000 orang) telah diungsikan, sementara jaringan tenggul-tanggul terus dibangun, dan diisi dengan lumpur.
LUSI menyediakan suatu kesempatan yang unik untuk mempelajari kelahiran dan evolusi dari gunung lumpur (birth and evolution of mud volcanoe), dimana sebagian besar studi telah dilaksananakan selama perioda tenang (quit periode) antara semburan dari struktur yang telah ada sebelumnya.
Erupsi gunung lumpur umumnya hanya berlangsung beberapa hari, dan sangat sedikit diketahui tentang dinamika semburannya (Jakubov et al., 1971). Namun, Lusi memperlihatkan keberlanjutan semburan.
Pengamatan umum dari sebagian besar gunung lumpur yang ada selama ini menunjukkan bahwa temperatur di daerah sumber sekitar 75oC walaupun beberapa lainnya ada yang melebihi (Mukhtarov et al., 2003).
Dalam kedua hal ini, erupsi lumpur Lusi mempunyai kekecualian, setelah satu tahun dari kemunculannya ia terus aktif menyemburkan air panas dan lempung.
Makalah ini menyajikan data yang dihimpun dari dua kali studi lapangan yang diintegrasikan dengan suatu basis data yang diambil sebelum dan selama kegiatan pemboran dari sumur eksplorasi BJP-1, yang berlokasi sekitar 200 m jauhnya dari pusat semburan gunung lumpur.
Tujuan dari makalah ini adalah untuk menguraikan dinamika semburan Lusi dan mengidentifikasikan kemungkinan penyebab erupsi yang mendadak.