Dinamika LUSI Agustus 2010
UMUM
Dinamika Penanggulangan Lusi status 9 Agustus 2010 berada pada puncak musim panas, diwarnai oleh perkembangan postur Lusi sebagai suatu gunung lumpur dalam proses pengorganisasian kembali, sehingga memberikan konsekuensi diperlukannya aktualisasi paradigma dan strategi dalam pengendalian semburan dan luapan.
Ancaman baru yang telah memberikan dampak negatif adalah yaitu: 1) longsor bagian lereng bawah dari morfologi gunung Lusi; dan 2) banjir bandang lumpur dingin disebabkan oleh mencairnya bangunan gunung lumpur.
Pada kurun waktu ini sistem pengaliran lumpur yang bertumpu pada kapal-kapal keruk dan peralatan pendukungnya telah menghadapi ujian dan tantangan yang cukup berat yang serius.
Yaitu empat kali mengalami serangan banjir bandang (barat) dan longsor lereng (timur), sehingga perlu dilakukan modifikasi dalam strategi pengoperasiannya.
Dampak geohazard terutama bubble dengan semburan gas metan, mengalami penurunan baik dalam jumlah yang aktif maupun intensitasnya.
Gejolak sosial kemasyarakatan kembali terjadi dalam bentuk unjuk rasa dalam berskala cukup besar dengan akar permasalahan belum tuntasnya pembayaran uang muka 20% di dalam PAT.
Demo di sektor Kedungbendo sebagai perwujudan penolakan warga pada saat BPLS akan melakukan peninggian tanggul.
Gambar 1.1 Demo Warga di Tanggul
Opsi peninggian Tanggul yang diambil pada kondisi darurat tersebut, sebagai dampak telah terjadinya kenaikan muka lumpur yang relatif cepat. Dipicu oleh terjadinya fenomena longsor bagian lereng gunung di zona Osaka-TAS.
Sementara itu dengan belum dapat dituntaskannya pembebasan lahan dengan status PKD yang berada pada domain Pemerintah Daerah, sehingga memperlambat kemungkinan diterapkan opsi konsinyasi khususnya bagi sisa-sisa lahan dan bangunan milik warga yang tidak dapat menyesuaikan harga yang ditentukan Tim Appraisal. Hal ini masih menjadi kendala utama penuntasan rencana pelaksanaan relokasi infrastruktur secara menyeluruh.
Lingkungan strategis nasional dan lokal yang mengemuka antara lain:
1) Komnas HAM telah mengindikasikan terjadinya pelanggaran berat pada kasus Lumpur Lapindo;
2) Wacana bahwa Pemerintah tidak mengambil langkah untuk mematikan semburan;
3) Upaya percepatan pembebasan lahan untuk relokasi infrastruktur menghadapi kendala baru dengan telah dibawanya oleh warga tertentu ke proses pengadilan; dan
4) Implementasi Perpres 40/2009 terkait penanganan sosial kemasyarakatan pada 9 RT di 3 Desa yang dinyatakan tidak layak huni berpotensi menimbulkan ketidakpastian baru sehubungan dengan dikeluarkannya usulan baru dari Pemda Jatim kepada Dewan Pengarah untuk memperluas wilayah dengan tambahan mencakup Desa Besuki Timur, Pamotan, dan Ketapang;
5) Diberlakukannya Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) mengharuskan BPLS menyesuaikan paradigma baru yang sebelumnya cenderung lebih ‘low profile’ dan menutup informasi secara lebih luas, menjadi BPLS baru yang lebih transparan, akuntabel dan kredibel dalam batas-batas koridor sebagai Badan Pelaksana yang bukan sebagai ‘super body’.
Sementara itu, perkembangan signifikan, beberapa diantara, yaitu:
1) Semakin dapat diklarifikasikan penurunan kecepatan semburan di bawah 15.000 m3/hari dan terutama didominasi air, walaupun belum dapat dipastikan apakah intensitas akan menurun total atau dapat meningkat kembali;
2) Semakin landainya morfologi gunung lumpur Lusi di sektor utara, barat dan selatan, sehingga ke depan potensi longsor bagian lereng dan banjir bandang lumpur dingin di sektor tersebut diharapkan semakin mengecil. Bila terjadi di sektor timur laut-tenggara, masih tersedia ruang untuk menampungnya;
3) Menurunnya intensitas deformasi geologi dan geohazard terutama bubble aktif;
4) Ditingkatkannya prasarana jalan dan drainase di sekitar daerah Lusi, yang sekaligus untuk mengantisipasi dalam menghadapi Hari Raya Lebaran 2010;
5) Telah disiapkannya Rencana Induk Ekowisata Pulau Lumpur, dibarengi dengan rencana peningkatan akses jalan inspeksi tanggul sampai ke kawasan muara Kali Porong;
6) Diupayakannya mencarikan solusi terhadap ketidakpastian status pegawai BPLS dengan status diperbantukan, melalui penyusunan rancangan perubahan ke tiga Perpres 14/2007.
Dilakukan peningkatan kapasitas kelembagaan melalui berbagai program pelatihan dan penyempurnaan tata kerja (termasuk memantapkan berbagai SOP), serta antisipasi diberlakukannya ‘KIP’;
7) Semakin meningkatnya minat institusi dalam negeri dan manca negara untuk berperan aktif dan berkontribusi nyata, guna membantu Bapel BPLS dalam melaksanakan misi nasional Penanggulangan Lusi; dan
8) Meningkatnya secara dramatis jumlah masyarakat luas yang mengakses web site www.bpls.go.id, hal ini sangat menggembirakan di tengah-tengah paradigma baru ‘KIP’.
Gambar 1.2 Presentasi oleh Peneliti Asal Rusia
Perubahan Postur
Citra satelit resolusi tinggi CRISP terakhir tersedia Juni 2010 dan disandingkan dengan citra selang waktu Mei, Februari 2010 dan Desember 2009 merekam postur Lusi saat ini, yang mengalami perubahan cukup mendasar pada Februari 2010.
Gambar 1.3 Citra Satelit CRISP 9 Pebruari 2010 dan 23 Juni 2010
Saat ini morfologi Lusi semakin menunjukkan reorganisasi menjadi lebih landai, dikendalikan oleh proses pencairan gunung lumpur yang sebelumnya lebih terjal.
Di zona terjadinya tumbukan (collision zone) sebagai dampak gerakan longsor ke daerah depresi maka bagian lereng gunung telah menyentuh tanggul penahan lumpur, sehingga memberikan dampak tekanan horizontal.
Hal ini menimbulkan tahap awal deformasi lokal yaitu patahan dan lipatan dengan arah relatif tegak lurus dari arah gerakan lereng.
Gambar 1.4 Pemantauan Jarak Dekat Pusat Semburan
Secara umum danau Lusi saat ini didominasi oleh lumpur padu dimana pada bagian lereng bawah lebih padu disertai kenampakan struktur internal (patahan saat lereng bergerak ke bawah), bagian lereng atas lebih beraturan, dan di sekitar Kaldera berkembang sebagai dataran disusun lumpur homogen, lembab yang dilimpasi air.
Pada sisi timur (P43) yang lebih stabil telah digunakan sebagai jalan untuk melakukan pendakian ke puncak gunung Lusi dan menancapkan bendera merah putih di dekat kaldera.
Citra satelit sangat jelas memperlihatkan bahwa daerah baratdaya gunung Lusi tidak berkembang dengan baik zona lereng bawah terdeformasi, namun disusun oleh zona aliran lumpur halus yang menerus dari lereng atas. Terbukanya ruang di dekat kaldera sehingga telah memicu 2 X terjadi banjir bandang di sekitar P25 dan Jatirejo.
Sungai atau saluran sempit berkembang umumnya berarah tegak lurus terhadap lereng yang radial, berawal di hulu daerah lereng atas, menuju daerah depresi.
Perilaku Semburan dan Aliran Lumpur
Pemaduan citra satelit dan pengamatan langsung di sekitar danau sampai ke sekitar kaldera, semakin memperkuat perkembangan aktual sebelumnya.
Dimana kecepatan semburan Lusi telah berada pada titik terendah, di bawah 15.000 m3/hari dan inipun sebagian besar adalah fluida air dengan koloid lumpur.
Semburan uap air berwarna putih dan tendangan lumpur masih terjadi intensitas berfluktuatif dengan pola ‘geyser’ dengan.
Namun tidak disertai dengan adanya luapan Lusi panas sebagaimana masa-masa sebelumnya, dimana penambahan aliran Lusi dengan viskositas yang rendah telah mengendalikan mekanisme pembentukan morfologi Lusi sebagai kubah atau kerucut agak terjal.
Gambar 1.5 Ilustrasi Tumbukan pada Tanggul
Sampai awal Agustus 2010 masih terjadi dinamika pada titik semburan baik dalam jumlah (tunggal atau ganda), dan lokasi cenderung berpindah-pindah.
Air dan koloida yang disemburkan Lusi melimpas pada sekitar kaldera dan lereng atas, pada citra satelit sebagai daerah radial berwarna keputihan dan dikonfirmasikan pada pendakian disusun oleh lumpur lebih homogen.
Masa fluida air dan koloid lumpur selanjutnya menggunakan sarana sungai atau saluran sempit untuk mengalirkan ke daerah depresi atau cekungan. Pada daerah ini koloida dan atau lumpur halus diendapkan, dan air akan berlanjut mencari jalan secara alami (gaya berat) dengan menyusur tanggul menuju pada daerah yang relatif lebih rendah, baik keluar pada overflow atau terperangkap di cekungan yang lebih besar (seperti yang ideal di Glagaharum dan Reno).
Adanya lelehan masa lumpur terakumulasi di lereng atas, bersamaan dengan ketidakstabilan lereng telah memicu terjadinya fenomena banjir bandang (seperti lahar dingin) dan longsor bagian lereng bawah.
Sebagai dampak muka lumpur pada daerah di tepi tanggul penahan lumpur sektor barat (Jatirejo-Siring-Osaka) dan sektor utara telah naik secara cepat, khususnya di sektor Osaka bagian lereng gunung dicirikan dengan sedimen kasar telah bersentuhan dengan Tanggul, sehingga penanganannya harus dilakukan antara lain dengan mengeruk dan memindahkan menggunakan alat berat.
Pengendali Mekanisme dan implikasinya
Dalam perjalanan waktu selama empat tahun, telah semakin menyatu pandangan di kalangan ahli kebumian dari dalam negeri manca negara, bahwa Lusi merupakan salah satu dari ribuan mud volcano aktif di dunia.
Dimana menjadi yang paling cepat pertumbuhan dan perkembangannya, sehingga dalam waktu dua tahun telah memasuki tahap runtuh (collapse stage) dan tahun ke tiga memasuki proses pembentukan kaldera yang semakin luas.
Walaupun indikator kecepatan semburan semakin minimal, namun beberapa indikator lainnya yaitu:
1) Titik semburan pada jumlah dan lokasi masih sangat dinamis;
2) Masih berkembangnya deformasi baik dipicu struktur geologi terutama reaktivasi Patahan Watukosek, maupun disebabkan pembebanan dan berkurangnya volume material dan tekanan di bawah permukaan;
3) Semakin dideteksi berkembangnya struktur lumpur atau diapir lumpur sebagaimana diindikasikan dari hasil laporan Badan Geologi Rusia.
Sehingga semakin memperkuat posisi yang selama ini dipegang BPLS bahwa semburan sulit untuk dihentikan.
Bahkan dapat diindikasikan bahwa pandangan sebagian besar ahli kebumian manca negara semakin mengkristal, bahwa semburan Lusi tidak dapat dihentikan (unstoppable eruption).
Sebagai konsekuensi logis maka Lusi akan mengikuti sejarah panjang yang telah dilalui oleh 14 mud volcano lainnya, yang berkembang di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan durasi yang lama.
Satu diantaranya yang disebut sebagai analogi tingkat semburan saat ini adalah mud volcano Bleduk Kuwu di Purwodadi, Jawa Tengah.
4) Perhitungan yang selama ini dilakukan untuk memprediksi durasi semburan Lusi dengan menggunakan asumsi kecepatan semburan rata-rata 90.000 m3/hari, sehingga menghasilkan potensi angka masa hidup berkisar dua puluh sampai tiga puluhan tahun menjadi tidak relevan lagi, karena realitas kecepatan semburan menjadi sekitar 15.000 m3/hari dan didominasi oleh air.
Penanggulangan Semburan & Penanganan Luapan Lumpur
Hingga akhir bulan Juli 2010, telah beroperasi 4 (empat) unit kapal keruk milik BPLS selama 24 jam dengan kapasitas masing-masing 600 lt/det.
Namun dalam pengoperasiannya masih menghadapi kendala baik internal terkait kinerjanya, maupun eksternal menghadapi serangan dari fenomena alam yaitu longsoran lereng dan banjir bandang.
Pengaliran lumpur dari kolam utama ke Kali Porong yang menggunakan pompa-pompa lumpur disalurkan melalui sistem perpipaan yang terus disempurnakan antara lain, diselesaikannya jalur pipa baru dari P25 menuju P35 menggunakan pipa besi Ø18 inch.
Hingga akhir bulan Juli 2010, volume lumpur padat yang telah terbuang ke Kali Porong mencapai 2,8 juta m3 di kedua area pengerukan (1,778 juta m3 di P25; 1,04 juta m3 diP42).
Pada periode Laporan ini terjadi beberapa kejadian penting terkait dengan operasi pengaliran lumpur ke Kali Porong, baik di area pengerukan P25 maupun P42, antara lain:
· Longsornya endapan lumpur di P42 16 Juli, 20 Juli dan 24 Juli 2010; dan
· ‘Banjir bandang’ lumpur dingin dan panas di P25, terjadi pada tanggal 1 Agustus 2010, mengakibatkan operasi pengerukan sementara harus dihentikan menunggu instalasi jalur pipa dan evakuasi kapal keruk.
Kegiatan survei dan investigasi terus dilakukan untuk memantau perkembangan situasi dan menyusun perkiraan yang cermat, mencakup: 1) Pemantauan deformasi menggunakan Global Positioning System (GPS); 2) Pengukuran Elevasi TTG (Titik Tinggi Geodesi) dan BM (benchmark); dan 3) Pengukuran data geofisika.
Berdasarkan data pengamatan GPS, penurunan elevasi terbesar antara bulan Juni – Juli 2010 sebesar ± 11,00 cm terjadi pada titik DG-20, yang terletak di Desa Sawahan.
Sedangkan penurunan elevasi terbesar mulai bulan Desember 2008 – Juli 2010 sebesar ± 40,30 cm atau sebesar ± 2,12 cm per bulan terjadi pada titik DG-03 yang terletak pada as jalan raya Porong, berdekatan dengan tugu kuning.
Berdasarkan data pengukuran elevasi TTG dan BM, pada titik VK-25 yang terletak di Desa Legok antara bulan Juni – Juli 2010 tidak mengalami perubahan elevasi. Sedangkan kenaikan elevasi terbesar antara bulan Juni – Juli 2010 sebesar 3,80 cm terjadi pada titik VK-9 yang terletak di Desa Glagaharum.
Hasil pengukuran geofisika dengan menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR) bulan Juli 2010 pada lokasi-lokasi yang menunjukkan indikasi struktur rekahan (crack), yaitu: 1) Pabrik Es PT Tirtasari Gemilang, dengan peningkatan lebar crack dari pengukuran sebelumnya sebesar 45 cm menjadi 70 cm dan mencapai kedalaman 25 m; dan 2) Jalan Flamboyan dimana crack berkembang memperkuat dugaan adanya kelurusan bidang retakan di lokasi Siring barat ini.
Berdasarkan indikasi keberadaan dan intensitas deformasi crack hasil pengukuran geofisika metoda GPR dipadukan dengan Geolistrik hingga akhir bulan Juli 2010 telah dikelompokkan menjadi 3 zona: 1) Banyak, terutama di sektor Siring Barat; 2) Sedikit, di Desa Pamotan, Ketapang timur berlokasi di utara PAT dan Kali Ketapang; dan 3) Sangat Sedikit, terutama di barat Ketapang.
Pada periode Laporan ini dilakukan kegiatan pemantauan kualitas air Kali Porong memberikan hasil terkait kondisi lingkungan, yaitu: 1) pH dan suhu air Kali Porong masih berada dalam batas baku mutu yang diperbolehkan; 2) nilai TDS pada badan air Kali Porong di bagian outlet buangan lumpur (hulu spillway) yaitu sebesar 1036 mg/l, cukup tinggi, sedangkan pada bagian badan air Kali Porong lainnya memiliki nilai TDS yang tidak terlalu tinggi; dan 3) Nilai salinitas yang cukup tinggi yaitu sebesar 0,8 g/kg (tergolong payau) pada badan air Kali Porong di bagian outlet buangan lumpur, sedangkan nilai salinitas yang tidak terlalu tinggi yaitu berkisar 0,2 – 0,5 g/kg pada bagian badan air Kali Porong lainnya.
Pemantauan terhadap bubble aktif menunjukkan penurunan yaitu sebanyak 51 (lima puluh satu) titik pada akhir bulan Juni 2010, menjadi 47 (empat puluh tujuh) titik pada akhir bulan Juli 2010 berkurang. Area di Siring Barat masih terdapat sebanyak 22 (dua puluh dua), sehingga merupakan area yang paling rentan terjadi potensi ditimbulkan oleh semburan gas metan yang tidak terkendali.
Penanganan Sosial Kemasyarakatan
Penanganan di Wilayah Peta Area Terdampak 22 Maret 2007 Perpres 14/2007 terus dilaksanakan mencakup: 1) Perkembangan Proses Verifikasi, Pembayaran Jual-Beli tanah dan bangunan yang dilakukan oleh PT MLJ; 2) Pantauan Terhadap Pembangunan Rumah Bagi Warga Eks Pengungsi Pasar Porong Baru (PPB) dan Perkembangan Pembangunan Rumah di Kahuripan Nirwana Village (KNV); dan 3) Pendidikan dan Pelatihan Teknis.
Hingga akhir bulan Juli 2010, sebanyak 87 berkas permohonan jual beli warga, masih berada di Tim Verifikasi BPLS. Hal ini menimbulkan wacana bahwa BPLS/Pemerintah masih kurang memperjuangkan kepentingan warga, menjadi perhatian Komnas HAM, dan memberikan implikasi langsung adanya penolakan terhadap penanganan tanggul penahan lumpur.
Pembayaran uang muka 20% sebanyak 13.131 jumlah berkas dengan nilai nominal Rp. 724.945.000.000,-. Sementara itupembayaran tahap 80% sebanyak 12.706 berkas, sedangkan sebanyak 7.823 berkas telah lunas dibayar 100% dengan nilai Rp. 1.074.000.000.000,-. Adapun peta perjalanan penyelesaiannya pada tahun 2010 akan dilunasi 78% dari total kewajibannya, pada tahun 2011 mencapai 87% dan pada tahun 2012 mencapai 100%, hal ini akan sangat berpengaruh terhadap upaya pada penuntasan pembayaran untuk pembelian lahan dan bangunan di 3 Desa di luar PAT (Perpres 48/2008).
Pembangunan Rumah Bagi Warga Eks Pengungsi Pasar Porong Baru (PPB) telah tersedia 475 unit rumah siap huni namun baru 40 KK yang menghuni rumahnya. Kendala yang dihadapi adalah belum tersedianya sarana listrik dan air bersih juga terlambatnya penyelesaian cicilan tahap 80%.
Adapun warga yang memesan rumah dan kavling siap bangun (KSB) di Kahuripan Nirwana Village (KNV) telah diserahkan totalsebanyak 1.956 unit terdiri 1.405 unit dari pemesanan rumah 1.543 unit dan diserahkan 391 unit KSB dari pesanan 413 unit.
Jumlah warga korban luapan lumpur yang telah mendapatkan pelatihan keterampilan hingga akhir bulan Juli 2010 sebanyak 270 orang. Di samping itu telah pula dilaksanakan pelatihan Kesiapsiagaan Penanganan Bencana kepada 30 orang.
Pada penanganan Masalah Sosial Kemasyarakatan Lainnya, tanggal 24 Juli, di wilayah Desa Kedungbendo telah terjadi unjuk rasa yang dengan intensitas cukup besar, sehingga mengakibatkan kegiatan penanggulan yang sedang dilaksanakan oleh BPLS terhenti. Unjuk rasa ini mereka menuntut agar PT. MLJ segera melunasi pembayaran atas tanah dan bangunan mereka dan menyatakan bahwa sebelum PT. MLJ melunasi, BPLS dilarang melakukan penanggulan.
Infrastruktur Penanganan Luapan Lumpur dan Relokasi Infrastruktur
Mencakup Penanganan Luapan Lumpur dan Infrastruktur Sekitar Semburan serta pembebasan lahan untuk kolam dan tanggul luar.
Selama bulan Juli 2010, tinggi jagaan tanggul luapan lumpur di sisi barat, masih selalu berada dalam kondisi Siaga Merah (tinggi jagaan kurang dari 2,00 m). Peninggian elevasi tanggul ex. Perumtas-1 (P70 – P67) dan tanggul Siring (P21 – P71) terus dilakukan agar mencapai tinggi jagaan (waking) minimal 2,00 m.
Sampai dengan akhir bulan Juli 2010 progres pembebasan lahan untuk kolam dan tanggul luar utara bagian timur) telah mencapai tahap permintaan pengukuran.
Penanganan Terpadu Infrastruktur Sekitar Semburan mencakup: Drainasi, Perbaikan Kali Ketapang, Jalan Arteri Porong, dan Jalan Lingkungan Sekitar Semburan Sisi Timur.
Pelaksanaan pekerjaan penyempurnaan drainasi masih terus dilaksanakan oleh Bapel – BPLS mencakup: a). Peninggian Saluran U-gutter di Entrance Ex Gerbang Tol Porong; b) Peninggian Saluran U-gutter di Exit Ex Gerbang Tol Porong; dan c) Peninggian Saluran U-gutter di Jalur Ketapang – Siring.
Perbaikan tanggul Kali Ketapang akan dilaksanakan mulai dari hulu jembatan entrance tol Porong sampai dengan hulu jembatan jalan arteri Porong telah mulai dilaksanakan. Sementara itu, pekerjaan peninggian jalan arteri Porong masih dilakukan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) V Surabaya dan mendekati penyelesaian
Telah dimulai pekerjaan setting-out pelaksanaan pekerjaan jalan lingkungan sekitar semburan sisi timur (ruas Gempolsari – Glagaharum – Besuki dan Besuki – Mindi). Jalan lingkungan sekitar semburan sisi timur ini, walaupun pada pertengahan September 2010 belum selesai 100%, namun diharapkan dapat membantu kelancaran arus lalu lintas mudik dan balik Lebaran Tahun 2010.
Sementara itu kegiatan Infrastruktur Pendukung Pengaliran Lumpur ke Kali Porong mencakup Pekerjaan landasan/dudukan untuk 2 (dua) unit pompa air Bidang Operasi dengan kapasitas masing – masing 0,60 m3/detik, telah dapat diselesaikan pada tanggal 3 Juli 2010 dan pompa telah terpasang pada tanggal 20 Juli 2010.
Hasil monitoring pengukuran elevasi dasar sungai Kali Porong pada bulan April – Juli 2010 memberikan informasi bahwa selama 4 bulan tersebut, dasar sungai mulai KP160 sampai dengan KP260 masih mengalami penurunan, namun mulai dari KP260 ke hilir telah nampak adanya peningkatan elevasi sedimen di muara.
Pengaman Banjir mencakup Perkuatan Tebing, Penambangan Bahan Galian Golongan C Tanpa Ijin, Penanganan Endapan Lumpur di Muara, Pengerukan Muara Kali Porong.
Pekerjaan pemasangan perkuatan tebing (revetment) pada bulan Juli 2010 berada di lokasi antara KP198+043 – KP199+150 (kiri) sepanjang 320 m dan KP187+107,5 – KP188+175,5 sepanjang 272 m.
Berkenaan dengan penambangan bahan galian C (pasir) tanpa ijin, sampai dengan akhir bulan Juli 2010 masih nampak adanya menggunakan peralatan mekanis yang melakukan kegiatan penambangan di dekat tebing sungai Kali Porong. Pada perkembangan terakhir telah ditanggulangi unsur terkait, dengan dilakukan penindakan dari aparat hukum terkait.
Peningkatan jalan inspeksi di sisi selatan Kali Porong mulai overpass tol lama (Jembatan Tol Kali Porong) sampai dengan desa Tlocor telah mulai dikerjakan pada awal bulan Agustus 2010 dengan melakukan pengukuran MC-0 dan pemasangan patok bantu pelaksanaan.
Sampai dengan bulan Juli 2010 telah dibuat plat pelindung jetty sebanyak +58.000 buah dan telah terpasang sebanyak +23.000 buah. Plat pelindung jetty tersebut telah terpasang di lokasi Ruas R9 – R40.
Pada awal bulan Juli 2010, pekerjaan pengerukan muara Kali Porong masih dilaksanakan di lokasi antara KP269 dan KP270. Hasil pengerukan dibuang di spoilbank No 7A.
Relokasi Infrastruktur terutama mencakup Pembebasan Tanah. Kemajuan pembebasan tanah / pelepasan hak adalah sebesar 72,30 % yang terdiri dari tanah warga dan Fasilitas umum / Fasum. Total pembayaran ganti rugi pada bulan Juli 2010 senilai Rp. 2.706.276.000,- dengan total luas tanah seluas 6.812 m2. Jika lahan TKD dan Ex TKD di Kab Sidoarjo telah direalisasikan pembayarannya sehingga dalam rangka percepatan pembebasan tanah untuk sisa lahan lainnya diharapkan dapat dilakukan melalui mekanisme konsinyasi.
Kelembagaan mencakup aspek Anggaran, Hukum, Kerjasama Internasional, Web site BPLS, Keterbukaan Informasi Publik.
Diharapkan mulai bulan Agustus ini ada peningkatan penyerapan dana yang cukup besar, terutama untuk pembayaran tanah dan konstruksi relokasi jalan arteri raya, dan pembangunan infrastruktur luapan lumpur.
Revisi I dan II telah selesai diproses di Kementerian Keuangan dalam bulan Agustus ini akan diproses Revisi III (terakhir untuk TA 2010) guna menampung biaya penambahan personel, sesuai Perpres 40/2009.
Perkembangan angsuran pembayaran tanah 3 Desa masih terkendala oleh tersendatnya pembayaran cicilan oleh PT. MLJ, sesuai Perpres 14/2007.
Pada aspek hukum antara lain: 1) penyiapan bahan yang diperlukan dalam penyelesaian gugatan hukum pembebasan lahan untuk relokasi jalan tol dan arteri Porong kepada Bapel-BPLS selaku Tergugat III; dan 2) Menyiapkan Draft Perubahan Peraturan Presiden nomor 14 tahun 2007.
Koordinasi antar lembaga terus dilanjutkan diantaranya: A. Rapat koordinasi, dengan : 1) Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau membahas Pengembangan Geo Ecotourism Park Pulau Buatan Sidoarjo; 2) Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Rekonsiliasi/Pemutakhiran Data BMN Semester I Tahun 2010; 3) Dinas PU Bina Marga Kabupaten Sidoarjo membahas Rencana Pembangunan Jalan Inspeksi sisi Selatan Sungai Porong mulai Over Pass Jl. Tol Surabaya – Gempol; 4) Dinas PU Bina Marga Kabupaten Sidoarjo membahas Persiapan Pelaksanaan Peningkatan Jalan. Alternatif Sisi Timur Jalan Arteri Siring – Porong; B. Gelar SATGAS Bencana bersama Pem. Provinsi Jawa Timur pada tanggal 27 Juli 2010.
Kerjasama Internasional, memperlihatkan kecenderungan peningkatan:
1) Rusia, Wakil Kepala Bapel BPLS berkesempatan memenuhi undangan peneliti asal negara Rusia pada tanggal 24 Juli – 31 Juli 2010. Pada kesempatan tersebut, selain mendapatkan paparan dari pihak Rusia terkait laporan sementara hasil survey yang telah dilakukan oleh Russian Institute of Geological Studies, juga BPLS dan pihak Rusia bersepakat untuk melanjutkan kerjasamanya di kemudian hari;
2) Amerika Serikat, BPLS telah menerima proposal penelitian lengkap dari Arizona State University, beserta resume curriculum vitae penelitinya, kegiatan lapangan direncanakan tahun 2011; dan
3) Humanitus Sidoarjo Fund terus meningkatkan aktifitas dan kinerjanya, antara lain telah memfasilitasi kemungkinan dukungan ahli dari Rusia (Badan Geologi Rusia) dan Amerika (Arizona State University).
Sementara itu kunjungan publik ke Web site BPLS dari waktu ke waktu terus menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Sampai dengan 1 Agustus 2010 dengan total sebanyak 40.345 pengunjung, khususnya selama bulan Juli 2010 (31 hari kalender) jumlah pengunjung menunjukkan angka 5.465, sehingga rata-rata jumlah pengunjung per hari mencapai 176 orang.
Dengan adanya Undang-Undang 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang mulai diberlakukan pada 1 Mei 2010, Bapel – BPLS telah menindaklanjuti melalui: 1) Penyusunan draft Surat Keputusan Kepala Badan tentang pengangkatan Pejabat Pengelola Informasi Publik (PPID); dan 2) Sosialisasi UU 14/2008 kepada seluruh pegawai.
Ø Penurunan intensitas semburan Lusi pada titik yang minimal telah sesuai dengan prediksi yang dilakukan Tim Geologi Rusia, namun belum dapat dipastikan apakah akan tetap kecil, memasuki masa istirahat sementara atau total, atau dapat membesar kembali.
Ø Ringkasan Laporan Hasil penyelidikan Tim Geologi Rusia yang telah ditempatkan pada situs internet, antara lain menunjukkan bahwa di sekitar Lusi telah dapat diindikasikan keberadaan dua struktur lumpur lainnya, yaitu di timur laut dan baratdaya.
Di samping itu juga telah dapat dipetakan pada bawah permukaan sekitar Lusi keberadaan struktur patahan baik berarah timur-barat, maupun utara-selatan (Sistem Watukosek).
Sehubungan berkembangnya struktur diapir lumpur dan patahan tersebut, telah disampaikan peringatan dini terhadap potensi terjadinya semburan lainnya pada masa-masa ke depan.
Untuk itu sangat mendesak untuk dilakukan pemantauan yang khusus, antara lain sistem Poligon yang dikembangkan oleh Badan Geologi Rusia.
Ø Walaupun semburan saat ini telah mengecil, namun dengan masih terjadi dinamika pada pusat semburan, berkembangnya sistem patahan serta struktur lumpur di bawah permukaan, terjadinya geohazard terutama subsidence dan rekahan.
Kesemuanya memperkuat posisi bahwa semburan Lusi masih tetap sulit untuk dihentikan.
Ø Bahkan berpotensi menimbulkan bahaya baru bila dilakukan dengan teknologi Relief Well.
Untuk itu perlu diprioritaskan upaya pemahaman secara lebih integral dan komprehensif terhadap kondisi bawah permukaan melalui serangkaian survei dan penelitian, sebagai alat bantu yang untuk pengambilan keputusan secara lebih bijak dan komprehensif.
Ø Perubahan mendasar yang terjadi akhir-akhir ini dipicu oleh melelehnya tubuh gunung lumpur yang sebelumnya tumbuh berkembang oleh tingkat kecepatan yang dahsyat rata-rata 100.000 m3/hari, telah menimbulkan ancaman baru yaitu longsor bagian lereng dan banjir bandang.
Sebagai konsekuensi perlu diaktualisasi strategi penanganan luapan yang selama ini terutama berfokus pada pengaliran lumpur panas ke Kali Porong, saat ini harus dibarengi dengan pemindahan dan pengangkutan material lumpur padu bagian lereng bawah, yang sudah dan akan terus menyerang ke arah Tanggul di sektor Siring, Osaka dan TAS.
Ø Masalah penanganan sosial kemasyarakatan terkait penuntasan pembayaran uang muka 20% berikut lanjutan tahap 80% menjadi semakin sangat urgen, karena dengan perkembangan baru dimana proses longsoran lereng gunung dan banjir bandang diperkirakan dapat terus terjadi.
Sehingga, BPLS ke depan cenderung harus mengambil opsi sulit dari pilihan yang tidak banyak, dengan menyediakan ruang tampungan di sektor Ketapang-Kedungbendo.
Ø Perkembangan baru sehubungan meluasnya daerah yang dinyatakan tidak layak huni di luar 9 RT dari 3 Desa yang telah ditetapkan pada Perpres 40/2009, perlu segera dilakukan klarifikasi dan penetapan posisi berdasarkan landasan hukum yang tersedia.
Keterlambatan untuk menentukan arah kebijakan terkait dapat mempersulit posisi Bapel BPLS, yang dihadapkan pada terbangunnya ekspektasi masyarakat yang tinggi, di sisi lain belum terdapat landasan kebijakan yang berlaku secara khusus (lex specialist).