DINAMIKA LUPSI DARI WAKTU KE WAKTU (2004-2009):
BASELINE CITRA SATELIT, FOTO UDARA DAN PENGAMATAN LAPANGAN SECARA BERKELANJUTAN
https://picasaweb.google.com/hardiprasetyo9/LUPSIDYNAMICSFROMTIMETOTIME20042009#
Gambar 1. Perpaduan foto udara dari helikopter diambil 29 Mei 2008 dan Citra Satelit IKONOS-CRISP diambil Oktober 2008 merekam secara faktual dinamika yang telah membentuk wujud daerah terdapak Lupsi.
Potret daerah terdampak Lupsi pada hakekatnya mencerminkan suatu hasil resultante (resultant) atau keseimbangan (equilibrium) antara energi alami (natural energy) berasal (origin) dari dalam perut bumi (interior of the Earth), yang demikian dahsyat di satu sisi.
Sehingga pengendali mekanisme (driving force mechanism) terjadinya semburan dan luapan (selanjutnya disingkat Semlu) Lupsi, hingga kini masih sulit diprediksi sampai kapan semburan akan berlangsung.
Di sisi lain daerah terdampak Lupsi merupakan segala upaya dan daya manusia (human effort), untuk mengerahkan dan memobilisasi seluruh kemampuan dan kekuatan yang ada (SDM, IPTEK, Sarana dan Prasarana) guna mengendalikan kedahsyatan semlu Lupsi tersebut.
Sebagai contoh nyata adalah semburan yang berasal dari dalam perut Bumi (the interior Earth origin) dan luapan Lupsi di permukaan tanah (land surface) agar tidak membahayakan atau mencelakakan warga di sekitarnya.
Antara lain dikendalikan dengan mengalirkannya ke Kali Porong, dan membuat tanggul-tanggul penahan Lumpur.
Sebagaimana yang dapat diamati saat ini dari citra satelit dan foto udara di daerah terdampak (Gambar 1).
Gambar 5: Contoh pemanfaatan citra satelit CRISP 5 Desember 2008 untuk penafsiran pola aliran (drainage pattern) sedimen berbentuk kipas radial (radial fan shape) di dalam lingkungan SIG MapInfo.
Sehingga disimpulkan bahwa tekanan berlebih (overpressure) di dalam lapisan batuan reservoir yang memegang peran penting untuk membangkitkan energi (energy generation) pengaliran air, gas.
Dimana dalam perjalanan dari batuan reservoir ke permukaan, ia mengerosi batuan disampingnya (cap rocks). Terutama terdiri dari satuan batuan lempung yang masih berada pada kondisi tekanan berlebih (overpressure) di atas dari tekanan hidrostatis (hydrostatic pressure).
Diperkirakan Lupsi akan terus menyemburkan material lumpur panas untuk beberapa tahun lagi ke depan, bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun ke depan.
Hanya memerlukan waktu dua tahun saja dari saat kelahirannya (29 Mei 2009) Lupsi telah memasuki tahap deformasi geologi yaitu runtuh seketika (sudden collapse) di pusat semburan.
Sehingga memberikan indikasi bahwa di saluran (conduit) dari sistem mud volcano telah terjadi rongga kosong (empty cavern) sebagai akibat berlanjutnya proses erosi pada lapisan penutup di bawah permukaan.
Sehingga saluran yang berfungsi sebagai sistem pengumpan (feeder system) dari muda volcano diasumsikan telah melebar (wider) dan tidak beraturan (irregular). Bila dibandingkan dengan suatu bentuk silinder sempurna (ideal cylinder shape).
Sehingga secara keseluruhan akan sangat sulit atau tidak mungkin lagi semburan Lupsi untuk dihentikan (stop eruption).
Tanpa adanya upaya manusia, Semlu Lupsi yang tidak terkendali akan senantiasa memperluas danau Lupsi (Lupsi lake), dengan kecepatan ekspansi (rate of expansion) yang dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain: 1) kecepatan semburan (flow rate), 2) kecepatan subsidence (rate of subsidence), 3) topografi permukaan (surface topographic), dan 4) bangunan buatan manusia (man made building), dll.
Gambar 6 : Penafsiran Citra Satelit IKONOS-CRISP 5 Desember 2008, di dalam SIG MapInfo untuk mendapatkan Pandangan Prisma 3-D.
Tulisan berjudul ‘DINAMIKA LUPSI DARI WAKTU KE WAKTU: BASELINE CITRA SATELIT, FOTO UDARA DAN PENGAMATAN LAPANGAN SECARA BERKELANJUTAN’, merupakan satu kesatuan utuh dari buku Baseline Citra Satelit dan Foto Udara Lupsi antara tahun 2004-2008, yang telah disusun dalam format digital (Power Point dan Acrobat Reader PDF).
Dengan memperhatikan indikator dan realitas bahwa sampai durasi bulan ke 32 sejak kelahirannya 29 Mei 2006, Lupsi masih memperlihatkan kedahsyatan semburan dengan indikator: 1) kecepatan semburan 100K m3/hari, 2) temperatur di perukaan100o/C, dan 3) kekentalan (viscosity) relatif semakin tinggi.
Gambar 2. Lupsi pada 25 Januari 2009 pada skenario Tanggul Cincin Jebol sulit ditutup, terus menyembur dengan dahsyat hingga diperkirakan sudah sulit dihentikan, pengaliran Lupsi ke Selatan sudah 4 bulan tidak dapat dilakukan secara optimal.
Dalam kaitan dengan status semburan dan luapan Lupsi ke depan. Hasil kajian yang dilaksanakan oleh Tim Ahli yang dibentuk oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) tahun 2007, mendapatkan hasil dari perhitungan durasi semburan (eruption duration) selama 31 tahun (merupakan hasil pembagian antara volume reservoir Lupsi dengan kecepatan semburan).
Gambar 3. Judul Baseline Citra Satelit dan Foto Udara.
Demikian pula pandangan-pandangan pakar kebumian dan pemboran dari manca Negara, terkait semburan Lupsi menjelang even Debat Lupsi di forum internasional AAPG 28 Oktober 2008 di Cape Town, Afrika Selatan umumnya telah mengkristal sebagai pernyataan informal sampai formal (dalam artikel terkait) bahwa ‘semburan Lupsi sudah terlambat untuk dihentikan’.
Sebagai implikasi adalah suatu rasionalisasi atau argumen bahwa Lupsi akan terus menyembur selama satu, lima, sepuluh atau bahkan puluhan tahun ke depan (Analisis War-game Debat Lupsi, Prasetyo 2008). Dalam hal ini, tidak ada satu orang pun yang dapat menentukan secara pasti, kapan semburan akan berhenti.
Gambar 7. Alur pikir Sistem Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, atas penyederhanaan sistem, bawah kiri alur pikir Penganggulangan Lupsi, dan bawah kanan 4 (empat) misi BPLS.
Sejak mengemban misi nasional Penanggulangan Lupsi (8 April 2007) penulis telah memanfaatkan ketersediaan berbagai format dan resolusi citra satelit bersifat public domain.
Untuk melakukan Monevan (monitoring, evaluation and analysis) secara rutin (sistematis dan berkelanjutan), guna mendapatkan potret kondisi Lupsi yang obyektif, aktual dan akurat.
Selanjutnya informasi tersebut yang dipadukan dengan kondisi aktual di lapangan (direkam dengan fotografi), digunakan sebagai alat bantu (tool) guna memberikan masukan ke tingkat pimpinan dalam proses pengambilan kebijakan operasional dan keputusan.
Secara teknologi, dengan tersedianya Sistem Informasi Terpadu Pengelolaan Citra Satelit baik secara online dengan memanfaatkan jaringan cyber net. Maupun menggunakan secara offline, hal ini merupakan suatu terobosan teknologi informasi berbasis kebumian (earth sciences-based information), di mana pengguna dapat memanfaatkannya untuk mengelola data informasi berbagai platform.
Antara lain Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh (Remote Sensing) secara mudah (easy), sangat efektif (effective), dan terintegrasi (integration). Termasuk dilengkapi dengan fasilitas secara instan untuk mengirimkan data citra satelit melalui internet.
Gambar 11. Rangkuman Sistem Pengendalian semburan dan luapan Lupsi yang disajikan pada ‘tour photographic’ pada Hut ke 2 Lupsi 29 Mei 2009
Baseline citra satelit yang dikompilasikan, mencerminkan suatu pengelompokan even (events group) atau tahapan perkembangan (development stage) Lupsi yaitu:
Tahap I (sebelum semburan Lupsi) antara tahun 2004 dan 2005, menyajikan kondisi Kecamatan Porong sebelum terjadinya semburan Lupsi;
Tahap II (awal Lupsi) 2006-2007 menyajikan lahir (birth) dan tumbuh-nya (growth) Lupsi dengan sangat cepat; dan
Tahap III merangkum Lupsi memasuki tahap perkembangan kritis (critical development) yaitu mengalami deformasi geologi runtuh seketika di kawah dan memberikan dampak deformasi berganda (multiplier deformation) antara 2008-Sekarang (2009) termasuk pembentukan kaldera di pusat semburan, bubble yang signifikan di Pond Siring dan di Desa Siring Barat, dan subsidence radial yang dapat diamati pada citra satelit di pusat semburan dan Pond TAS.
Even khusus adalah berkenaan dengan HUT Lusi yang kedua pada tanggal 29 Mei 2008, di mana pada momen tersebut pihak Boston.Com telah mengambil foto udara dari helikopter dengan hasil yang ‘memorable’ dilihat dari apresiasi dari manca negara.
Pada waktu relatif bersamaan juga telah dilakukan pengambilan citra satelit IKONOS dan SPOT.
Sementara itu pakar kebumian juga memanfaatkan even bersejarah (historical event) dengan rangkaian publikasi ilmiah dan popular secara masal di manca Negara, termasuk untuk mengkristalkan kontroversi terkait penyebab dan pemicu (causing and triggering) Lupsi.
Penulis pada Hut ke 2 Lupsi juga telah merampungkan rangkuman Profil Lupsi pada Hut ke 2 (Prasetyo, 2008, Mei).
Hal ini sebagai bukti adanya kepedulian masyarakat dunia terhadap Lupsi, dan fenomena globalisasi yang antara lain dicirikan oleh mengemukanya pemanfaatan cyber net.
Gambar 8 : Citra Spot memperlihatkan kedudukan geografi Lupsi di Pulau Jawa dan Jawa Timur diantara jalan arteri (Sidoarjo-Malang) dan jalan Tol Porong-Gempol.
Gambar 9. Citra ASTER NASA memperlihatkan perkembangan Lupsi di daerah terdampak sampai di daerah Muara.
Dokumen Lupsi (Lumpur Panas Sidoarjo), Baselines Citra Satelit dan foto udara (2004-2008): IKONOS/CRISP, FORMOSAT-2/SPOT, ASTER-NASA, Quick bird dalam Google Earth, dan foto udara dari helikopter bertujuan untuk merangkum (compilation) baselines ketersediaan data dan informasi citra satelit tersebut.
Dalam suatu kesatuan yang utuh, dalam format peta citra digital (digital image map), baik dalam format cetakan (hard copy), maupun soft copy yang juga disediakan dalam format elektronik book (eBook) file PDF yang disusun secara interaktif.
Tujuan utama dengan terhimpunya secara sistematis, komprehensif baselines citra satelit dan foto udara menjadi suatu kesatuan yang utuh berbasis kepada time series, adalah agar dinamika yang terjadi masa lalu (past), sekarang (Present) dapat direkam dengan baik.
Selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan yang bermuara pada peningkatan penanggulangan Lupsi.
Gambar 10 . Penampilan Lupsi di Hut ke 2 tanggal 29 Mei 2009 yaitu tur fotografi (photography tour) pada lokasi penting Lupsi.
Di dalam Sistem Penanggulangan Lupsi (Lupsi management system) tersedianya data dan informasi merupakan salah satu komponen penting dari proses masukan (input proses) yang keseluruhannya terdiri dari: SDM (sumber daya manusia), Iptek (Ilmu pengetahuan dan Teknologi), Data dan Informasi, Sarana dan Prasarana, Kelembagaan/Institusi, serta Peraturan dan perundang-undangan.
Gambar 12. Momen bersejarah Penanaman Pohon di depan Tanggul Osaka berkenaan Hut pertama BPSL 8 April 2008.
Kompilasi Atlas Digital citra satelit dan foto udara dari berbagai sumber di cyber net, disusun kembali secara kilas balik berdasarkan waktu pengambilan (time series acquisition data) yaitu berawal dari Tahap III Potret kondisi mud volcano Lupsi saat ini (tahun 2008), Tahap II Pertumbuhan Lupsi) selama tahun 2007, III sebelum dan awal terjadinya semburan Lupsi (2204, 2005, 2006).
Gambar 13. Pemanfaatan citra satelit FORMOSAT-2/SPOT untuk menghitung luas genangan Lupsi dan prediksi ke depan.
Khususnya rekaman citra bersifat time series IKONOS-CRISP tahun 2008 akan dilengkapi dengan perbandingan: 1) daerah terdampak, 2) kondisi pusat semburan, 3) kondisi Mega Pond TAS, 4) perkembangan Pond Reno, dan (5) dinamika fenomena bubble di Pond Siring.
Untuk memberikan informasi tambahan terhadap Baseline utama, maka kompilasi didahului dengan bagian Pendahulan yang antara lain akan menampilkan citra satelit:
Citra SPOT memperlihatkan lokasi Lupsi pada Peta Pulau Jawa, dan rincian lokasi pada geografi Jawa Timur.
Citra satelit SPOT memperlihatkan koordinat geografis yang digunakan untuk menentukan lokasi Lupsi yaitu Geo WGS84 07 31,41S dan 112 42,46 E.
Citra Satelit regional ASTER-NASA diambil November 2008 memperlihatkan kondisi regional Lupsi di kawasan pojok Jawa Timur, termasuk kawasan muara Kali Porong dan Selat Madura.
Gambar 14: Citra Spot Maret 2007 yang mendeteksi pertama kalinya morfologi puncak gunung dari suatu mud volcano Lupsi.
Citra SPOT tahun 2006 digunakan untuk memplot T0 semburan Lupsi 29 Mei 2006, luas wilayah genangan diukur pada 7 Agustus 2006 dan prediksi untuk 29 Mei 2007 bila tidak ada penanganan.
Gambar 15. Overlay foto helikopter Pusat Semburan diambil dari sebelah timur (Renokenongo) dan citra satelit SPOT, saat mendekati HUT pertama Lupsi, 29 Mei 2007. Pada pusat semburan lihat Tanggul Cincin yang terus dipelihara dan dibangun ke atas dengan target saat itu mencapai elevasi +21 m, bagian timur Tanggul Cincin dibangun dengan overflow yang menjorok ke selatan, Lupsi mengalir di sisi cofferdam berbelok ke utara masuk ke inlet overflow di 44, selanjutnya dengan menggunakan dua pasangan pipa Lupsi dialirkan ke outlet di Pond TAS bagian selatan, pada akhirnya mengalir dan mencari topografi yang rendah (low topographic).
Citra satelit SPOT Maret 2007 sebagai hasil evaluasi yang dipublikasi, memperlihatkan Lupsi telah membentuk morfologi kawah dari suatu mud volcano dan tampak jelas puncak gunung (volcanic peak).
Foto helikopter dipadukan dengan Citra Satelit SPOT saat HUT Lupsi pertama 29 Mei 2007.
Gambar 16. penafsiran citra satelit resolusi 5 m, memperlihatlam pola dan sebaran deformasi radial collapse yang dapat diidentifikasikan di sekitara pusat semburan dan Pond TAS.