DINAMIKA LUSI Juli 2010
UMUM
Gambar 1.1 Titik Semburan Lusi dilihat dari Tanggul Siring ke Pompa Barata
Dinamika penanggulangan Lusi status bulan Juli 2010 mencakup kurun waktu awal musim kering, yang mempunyai makna tersendiri dalam pelaksanaan penanggulangan Lusi.
Dari sisi positif adalah berkurangnya potensi ancaman terhadap meluasnya PAT, dikendalikan oleh melimpasnya air dipicu oleh turunnya hujan yang ekstrim.
Di sisi negatif, musim kering berkepanjangan dan dengan intensitas yang ekstrim dapat menimbulkan permasalahan terhadap pasokan air yang sangat dibutuhkan untuk operasi kapal-kapal keruk guna memindahkan lumpur lunak dan padu dari Danau Lusi.
Kurun laporan ini juga diwarnai beberapa hal yang dinilai positif dan memberikan implikasi signifikan, antara lain:
1) Perolehan opini dari BPK dengan tingkat WAJAR TANPA PENGECUALIAN (WTP);
2) Kesepakatan diantara komunitas ilmu kebumian, bahwa intensitas semburan Lusi yang telah sampai pada level yang minimal. Disamping itu juga telah dianalogikan dengan fenomena mud volcano Bleduk Kuwu di Purwodadi, Jawa Tengah;
3) Realitas di lapangan bahwa Titik Semburan Lusi masih terus bergerak dengan pola tertentu yang dapat didramatisasi sebagai ‘Lusi menari serimpi’. Hal tersebut digunakan sebagai rasionalisasi bahwa Semburan Lusi masih sulit untuk dihentikan. Sementara itu sebagian besar ahli kebumian manca Negara umumnya berpendapat mud volcano Lusi tidak dapat dihentikan (unstoppable);
4) Sebagai dampak positif dari Perpres 40/2009 adalah semakin meningkatnya keinginan berpartisipasi dan berkontribusi berbagai institusi baik berasal dari manca Negara maupun dari dalam negeri, untuk terlibat secara lebih nyata pada upaya penanggulangan Bencana Lusi; dan
5) Fakta dari Pulau Lumpur terkait aspek pengembangan wilayah pesisir yang ramah lingkungan, yaitu semakin tumbuh suburnya pohon bakau generasi baru serta bermigrasinya koloni satwa burung dalam jumlah ratusan sampai ribuan, untuk melanjutkan kehidupannya di Pulau Lumpur yang ke depan dengan harapan baru.
Gambar 1.2 Operasi Kapal Keruk di P.25
Opini WTP
Suatu hal yang membesarkan hati, di tengah berkembangnya paradigma keterbukaan dan demokrasi, yaitu dengan ditetapkannya opini hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap laporan keuangan BPLS pada Tahun Anggaran 2009 yang memperoleh peringkat WAJAR TANPA PENGECUALIAN (WTP) DENGAN PARAGRAPH PENJELASAN.
Opini WTP ini, merupakan tertinggi dan berada satu tingkat lebih baik dari perolehan opini untuk Laporan Keuangan BPLS Tahun 2008, yaitu WAJAR DENGAN PENGECUALIAN (WDP).
Gambar 1.3 Penyerahan LHP BPK-RI Kepada Kepala Bapel - BPLS
Semburan Lusi pada level minimal dan mirip model mud volcano Bleduk Kuwu
Telah dikonfirmasikan dengan oleh institusi terkait dengan aspek ilmu kebumian, dimana pada pertemuan khusus yang dilaksanakan bulan Juni 2010 di kota-kota Surabaya dan Bandung, terhadap fakta di lapangan, bahwa kecepatan semburan Lusi sampai pada status Juni 2010 berada pada level minimal (minimum level).
Secara lebih kuantitatif kecepatan semburan berada pada posisi di bawah angka 10.000 m3/hari.
Gambar 1.4 Ilustrasi Identifikasi Pola Aliran dan Genangan Lumpur di Dalam Kolam
Disamping itu dari material yang dihasilkan, saat ini keluaran semakin didominasi oleh air dan sedikit koloid lumpur.
Air tersebut mengalir secara alami, dari daerah sumber di zona atas (kaldera) ke daerah tangkapan (catchment area) yaitu daerah depresi, dengan sarana berupa saluran atau ngarai sempit (narrow channel/ canyon) yang memotong bagian lereng gunung dengan dimensi yang radial.
Berdasarkan fakta di lapangan lainnya para ahli kebumian juga telah menganalogikan semburan Lusi dengan mud volcano Bleduk Kuwu di Jawa Tengah.
Semburan dicirikan berupa uap berwarna putih disertai dengan tendangan (kick) lumpur yang mengikuti pola ‘geyser’, yaitu adanya interval perulangan tekanan uap.
Namun kick ini tidak disertai dengan terjadinya luapan atau gelombang lumpur panas, dalam jumlah yang signifikan;
Semburan mud Volcano Lusi Sulit dihentikan
Berkenaan dengan terjadinya dinamika dari Titik Semburan Lusi’ yang masih berkembang terkadang berjumlah dua (kembar) atau satu (tunggal), dan lokasinya berpindah-pindah (bergerak posisinya).
Sehingga secara keseluruhan dapat dinilai bahwa Lusi sebagai suatu mud volcano sulit untuk dihentikan, walaupun menggunakan senjata pamungkas seperti Relief Well sekalipun.
Gambar 1.5 CRISP 23 Juni 2010 Zona Tumbukan Lereng di Danau Utara
Pengembangan Pulau Lumpur yang ramah lingkungan (environment friendly)
Pemantauan pimpinan Bapel BPLS bulan Juni 2010 ke Pulau Lumpur memperlihatkan bahwa pohon bakau generasi baru baik yang sengaja ditanam atau tumbuh alami, telah tumbuh dan berkembang dengan cukup subur.
Demikian pula koloni satwa burung berjumlah ratusan sampai ribuan telah bermigrasi, untuk menetap secara lebih permanen di sebelah timur Pulau Lumpur.
Sehingga Pulau Lumpur telah menjadi satu wilayah baru yang penuh harapan bagi keragaman hayati guna melanjutkan kehidupannya.
Gambar 1.6 Kawanan Burung di Pulau Lumpur
Hal penting lainnya dapat direkam fakta bahwa kegiatan pengerukan di muara Kali Porong oleh beberapa kapal keruk yang dioperasikan Bapel BPLS, telah diikuti dengan peningkatan jumlah bagan bambu untuk penangkapan ikan.
Fakta ini menyanggah pandangan beberapa pihak bahwa operasi normalisasi Kali Porong telah memberikan dampak negatif pada masyarakat nelayan di sekitarnya.
Meningkatnya perhatian, kontribusi nyata pihak luar negeri dan dalam negeri untuk terlibat pada mencari solusi yang holistik pada bencana Lusi
Semakin meningkatnya perhatian dan keinginan berbagai pihak terutama di luar negeri untuk berkontribusi atau berpartisipasi pada upaya penanggulangan semburan.
Hal ini tidak terlepas dari adanya aspek efek psikologis pasca Perpres 40/2009, dimana Bapel BPLS telah diberi kewenangan penuh dalam menangani kegiatan operasi lapangan di dalam PAT, khususnya terkait upaya penanggulangan semburan dan penanganan lumpur ke laut melalui Kali Porong.
Selama bulan Juni telah dikoordinasikan rencana aksi terkait upaya penanggulangan semburan, khususnya aspek potret, anatomi, dan knowledge bawah permukaan mud volcano Lusi.
Selanjutnya akan dilaksanakan kerjasama dengan pihak-pihak Amerika Serikat (USGS dan Arizona State University), Imodiscus (UK), Humanitus Sidoarjo Fund (Australia), dan Konsorsium Institut Geologi dan Industri Migas (Rusia).
Sementara itu dari dalam negeri telah ditandatangani dan disiapkan MoU Bapel BPLS antara lain dengan pihak-pihak ITB, Badan Geologi KESDM, Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan, UPN, dan lain-lain.
· Perilaku baru Semburan pada level rendah dan Implikasinya
Semburan mud volcano Lusi telah berada pada titik terendah, namun posisi titik Semburan terus bergerak dari waktu ke waktu. Kondisi tersebut tetap konsisten pada posisi bahwa Lupsi masih sulit dihentikan.
Sementara itu beberapa pihak masih beranggapan bahwa semburan Lusi dapat dihentikan, yang antara lain menggunakan senjata pamungkas yaitu Relief Well, yang sebelumnya (tahun 2006) pernah diterapkan. Namun sebegitu jauh tidak berhasil sesuai dengan ekspektasi semua pihak saat itu;
Gambar 1.7 Skema Evolusi Tumbukan Lereng Tanggul dan Dampak Potensinya
· Perubahan paradigma baru memindahkan lumpur padu dari bagian lereng mud volcano
Telah terjadi perubahan mendasar pada penanganan luapan lumpur, pasca aktualisasi kondisi saat ini.
Dengan realitas yang ada dan berkembang bahwa semburan telah masuk pada tahapan yang semburan kecil atau minimal dan didominasi air.
Hal ini, sebelumnya selalu dipersepsikan bahwa tantangan utama adalah berhadapan dengan lumpur panas (Lusi).
Sehingga, tantangan utama bagi BPLS adalah bagaimana secara efektif dengan langkah dan inovasi baru agar dapat mengangkut lumpur yang sangat padu (keras).
Terutama merupakan bagian dari lereng bawah sistem gunung Lusi.
· Fenomena Baru Tumbukan Lereng Bawah dengan Tanggul Lingkar Luar
Suatu fenomena baru adalah terjadinya tumbukan (collision) antara masa bagian lereng bawah gunung Lusi yang bergerak dipicu keberadaan air hujan dan faktor lainnya, dengan tanggul lingkar luar.
Gambar 1.8 Ilustrasi Tumbukan Tanggul
Kejadian tumbukan tersebut telah berlangsung di Tanggul Osaka, mulai berlangsung di Tanggul TAS tengah, dan dalam waktu dekat ini diprediksi akan menyusul di Tanggul Siring-Putul.
Sehingga paradigma baru adalah BPLS harus memindahkan (moving) dan mengangkut (transporting) lumpur padu dari bagian lereng mud volcano Lusi ke tempat pembuangan akhir.
Paradigma lama selalu difokuskan pada mengalirkan Lusi ke laut melalui Kali Porong. Fenomena baru lainnya yang sebelumnya telah terjadi adalah banjir bandang lumpur, dengan even terakhir direkam terjadi pada 10 April 2010.
Pada kejadian tersebut, dalam waktu satu malam saja lumpur dingin yang sebelumnya berada di daerah Kaldera telah mengalir dengan cepat/ Sehingga dalam 1 malam saja, permukaan Cekungan P25 yang sebelumnya digenangi air berubah drastis dibanjiri lumpur dengan ketinggian mencapai lebih dari 1 meter.
Hal ini mengakibatkan dua kapal keruk telah karam dan terjebak di lautan lumpur. Untuk mengevakuasi dan memulai operasi diperlukan waktu yang cukup lama.
Perbedaan mendasar antara banjir bandang dengan tumbukan lereng bawah adalah, bagian lereng bawah berbentuk radial disusun oleh lumpur sangat padu yang bergerak dengan mekanisme longsor ke arah lembah dan basin di bawahnya.
Bila ia mendekati, menyentuh atau sampai menabrak tanggul lingkar luar. Selanjutnya berakibat kenaikan muka lumpur yang cepat, di samping dapat menggoyahkan kestabilan struktur tanggul.
Gambar 1.9 Penanganan Cepat di Tanggul Guna Mengurangi Tekanan Lumpur
Fenomena tumbukan yang relatif baru yang terjadi pada bulan Juni-Juli 2010 ini dipadukan dengan minimalnya semburan Lusi panas, sehingga menuntut BPLS untuk dapat berinovasi untuk mencari solusi terhadap masalah bagaimana agar memindahkan lumpur padu yang relatif keras, terutama pada daerah yang telah terjadi tumbukan (saat ini di sektor Osaka-TAS).
Pengalaman ini selanjutnya digunakan sebagai acuan untuk mengantisipasi berlanjutnya dan semakin luasnya zona tumbukan tersebut.
· Penanganan 9 RT dari 3 Desa, telah masuk babak baru yang menuntut dimasukkan ke dalam PAT
Warga di 9 RT dari 3 desa yang sebelumnya telah dinyatakan sebagai tidak layak huni, saat ini terus menuntut agar daerahnya bukan hanya mendapatkan bantuan sosial kemasyarakatan, namun juga dapat dimasukkan ke dalam PAT.
Titik kritis dari kasus ini, hasil penilaian Tim Independen yang difasilitasi Pemda Provinsi Jawa Timur, sampai saat ini belum dapat dilanjutkan dengan keputusan melalui mekanisme suatu payung hukum, agar sampai pada tingkat skenario wilayah ‘tidak layak huni’ dimasukkan ke dalam PAT.
Namun Bapel BPLS telah mengantisipasi dengan penyusunan Renstra dan Rencana Program Kerja, dengan mekanisme APBN.
Kondisi di atas bila ditambah dengan adanya peningkatan eskalasi lingkungan strategis, sehingga menyebabkan fenomena sosial kemasyarakatan yang populis tersebut, cenderung diangkat pada ranah politis.
· Penyelesaian pembebasan lahan untuk relokasi infrastruktur berpotensi komplek masuk ke ranah pengadilan
Kelanjutan relokasi infrastruktur jalan raya dan jalan tol masih terkendala dengan masalah pembebasan lahan.
Walaupun telah ada kemajuan yang signifikan dengan telah terdapatnya solusi yang mendasar terhadap mekanisme tukar guling pada bagian tanah berstatus TKD, yaitu dengan dikeluarkannya surat terkait dari Mendagri.
Namun, suatu perkembangan baru yang sebelumnya tidak terduga adalah ketika penyelesaian pembebasan lahan yang tersisa sedang disiapkan dengan mekanisme konsinyasi.
Namun, baru-baru ini sebagian kecil warga telah mengajukan kasus pembebasan tanah ini ke proses hukum di pengadilan.
Untuk kasus tersebut Bapel BPLS telah mengantisipasi, antara lain dengan menunjuk kuasa hukum untuk mengkoordinasikan proses-proses hukum, yang diperkirakan dapat memakan waktu dan tenaga.
· Potensi ancaman Gas Amonia dari Pabrik Es ditetapkan sebagai peringkat atas
Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana (BKPB) sebagai hasil evaluasi yang dilaksanakan dengan jajaran institusi terkait di Jawa Timur, telah menetapkan potensi bahaya tertinggi yaitu bersumber dari potensi kebocoran gas ammonia dari Pabrik Es, yang saat ini masih beroperasi di Desa Siring Barat.
Gambar 1.10 Tanki Amonia di Pabrik Es
Pada skenario terburuk, diperkirakan dapat menimbulkan bencana yang masif. Diakibatkan oleh gas ammonia tersebut menyembur tidak terkendali.
Untuk itu Bapel BPLS telah melakukan langkah-langkah antisipasi, antara lain dengan melakukan pemantaun secara khusus pada lokasi Pabrik Es di Siring Barat (membuat Pos Aju).
Agar secara berkelanjutan dapat memantau fenomena geohazard yang di ditimbulkan baik oleh bubble disertai dengan kandungan gas metan yang mudah terbakar, maupun dari deformasi geologi berupa rekahan dan patahan yang dapat memicu terjadinya kebocoran atau bahkan rusaknya tangki berisi ammonia.
Disamping itu BPLS juga telah menghimbau kepada pihak Pemda Sidoarjo agar Pabrik Es tersebut dapat segera dihentikan operasinya.
Pada bulan Juni 2010 telah dapat diintegrasikan data dan informasi terkait postur dan perilaku Lusi, pasca terjadi perubahan mendasar berlangsung sejak 8 April 2010. Bersamaan dengan HUT ke 3 BPLS, dengan benang merah uraian sebagai berikut:
· Fakta pengamatan lapangan secara bekelanjutan sejak tahun 2007
Diperkuat dengan tersedianya citra satelit resolusi tinggi dari CRISP 23 Juni 2010 yang diintegrasikan pada Google Earth, dikombinasi dengan SIG Mapinfo, telah digunakan sebagai baseline untuk mengindikasikan terjadinya perubahan mendasar terkait semburan dan luapan Lusi.
· Semakin diterima secara universal Lusi sebagai mud volcano
Para ahli kebumian dari manca negara termasuk yang masih mempermasalahkan penyebab dan pemicu mud volcano Lusi, telah semakin mengkristal untuk menempatkan realitasnya bahwa Lusi merupakan salah satu mud volcano aktif dari ribuan yang ada di dunia.
Dimana keberadaanya masih diliputi misteri, terkait asal usulnya maupun perkembangannya.
· Morfologi gunung lusi di dalam Danau Lusi (di dalam PAT) terus berekspansi:
Lusi yang dicirikan oleh tubuh gunung lumpur berbentuk radial yang terutama disusun oleh lumpur padu, dimana pasca musim hujan tahun 2009-2010 telah berubah membentuk geometri gunung yang lebih landai, meluas secara radial terutama ke arah utara dan timur.
Bagian kaldera dan lereng gunung semakin luas, dan sistem saluran atau ngarai sempit terutama berkembang di sektor barat (Siring-Osaka) dan sedikit di utara TAS dan timur (Glagaharum) sebagai media untuk mengalirkan material air dan koloid lumpur dari daerah sumber di kaldera.
· Lusi dianalogikan dengan Mud Volcano Bleduk Kuwu
Perubahan pola semburan Lusi saat ini telah dianalogikan dengan model mud volcano Bleduk Kuwu di Purwodadi.
Bila pada saat kunjungan Bapak Presiden RI ke Lusi pada bulan Mei 2010 yang lalu, telah disampaikan bahwa semburan berkurang signifikan. Saat itu data resmi disampaikan Badan Geologi, DESDM memberikan angka volume semburan sekitar 15.000 m3/hari.
Sampai awal Juli 2010 kondisi tersebut semakin kokoh dan konsisten, bahwa volume semburan telah bertahan cukup lama pada nilai minimal. Disamping itu material yang disemburkan didominasi air dan hanya sedikit koloidal.
Pola semburan semakin nyata mengikuti mekanisme ‘geyser’ (berfluktuatif) yaitu semburan uap berwarna putih yang relatif tinggi, disertai tendangan lumpur berwarna hijau kehitaman sampai pada ketinggian sekitar 5m.
Namun semburan dan tendangan tersebut tidak dibarengi dengan adanya luapan lumpur panas yang biasanya membentuk gelombang (wave).
· Perilaku Lusi yang masih ‘energik’ atau dinamis
Sejak 8 April 2010 tercatat bahwa perilaku semburan mud volcano Lusi telah menunjukkan dinamika baru.
Saat itu Pusat Semburan Lusi yang lama (lahir 2006) telah memasuki periode mati suri (dormant period). Selanjutnya digantikan oleh semburan baru (new eruption) dengan Titik Semburan (Eruption Point) yang sangat dinamis.
Dalam jumlah semburan berubah antara dua (semburan ganda) atau kembali yang normal sebagai semburan tunggal.
Disamping itu lokasi Titik Semburan masih terus berpindah-pindah, sehingga hal tersebut digambarkan sebagai ‘Lusi menari serimpi’. Perpindahan Titik Semburan yang signifikan telah terjadi antara 9 Februari 2010 sampai 31 Juni 2010 sebesar sekitar 150m ke arah baratlaut (Arah Sidoarjo).
· Konsistensi posisi Semburan Lusi Sulit Dihentikan
Fakta lapangan yang obyektif di atas terhadap kondisi semburan mud volcano Lusi yang telah mengecil, namun masih terus energik dinamis, menjadikan dasar rasionalisasi terhadap isu upaya penanggulangan semburan.
Diposisikan bahwa sampai saat ini Lusi sebagai suatu mud volcano masih sulit untuk dihentikan.
Hal ini konsisten dengan fakta di seluruh dunia, bahwa hanya satu-satunya terjadi dimana mud volcano di lapangan migas Champion di lepas pantai di Brunei Darusalam dapat dihentikan.
Namun untuk menghentikannya memakan waktu lebih 20 tahun dan menggunakan 20 Relief Well.
Disamping itu lumpur menyembur dari lokasi sumur pemboran sebelumnya, dan tidak seperti halnya Lusi awalnya tidak keluar langsung dari sumur eksplorasi Banjar Panji-1 dan lokasinya terus berpindah-pindah.
· Bagian Lereng Gunung terus bergerak dan mengalami tumbukan dengan Tanggul Lingkar Luar
Lusi memasuki tahapan baru dimana lereng bawah dari bagian morfologi gunung lumpur, telah bergerak ke arah depan (lembah) selanjutnya mengalami tumbukan dengan Tanggul Lingkar Luar di sektor utara (Osaka-Tas) dan dapat berlanjut ke sektor barat (Siring).
Perhitungan awal dari pergerakan masa lereng selama periode Februari-Mei 2010 diperkirakan sekitar 50 cm/hari dengan angka tertinggi di sektor Siring-Putul. Tumbukan ini telah memberikan implikasi terhadap kestabilan struktur tanggul dan menaikkan muka lumpur secara signifikan dalam waktu yang relatif cepat.
Perilaku pergerakan masa lumpur yang sangat padu dan bergerak ke depan secara radial, sangat berbeda dengan sistem pengendapan lumpur panas yang konvensional.
Dimana lumpur panas umumnya dialirkan dengan mekanisme arus pekat secara gaya berat dari daerah sumber di kaldera. Selanjutnya mengalir ke arah daerah yang relatif rendah. Dalam perjalanannya pada daerah di dekat kaldera umumnya diendapkan fraksi yang lebih kasar, dan menjadi lebih halus sampai koloid dan air di daerah depresi (lembah).
· Karakteristik pergerakan lereng bawah
Masa sedimen padu ketika bertumbukkan dengan Tanggul Lingkar Luar akan terjadi penyatuan atau persekutuan, sehingga memberikan efek terhadap kenaikan muka lumpur yang sangat signifikan.
Disamping itu energi horizontal yang dibentuk sebagai pengendali mekanisme akan mendorong ke arah Tanggul di depannya.
Sehingga dampaknya seperti yang telah terjadi saat ini di Osaka (muka lumpur dan tanggul hampir sama tinggi) dan di TAS (tanggul mengalami penurunan dan pemiringan) yaitu waking berkurang sangat signifikan.
· Deformasi geohazard masih berpotensi berlangsung
Pasca masuk masa tenang selama pada Juni 2010, pada awal Juli 2010 telah diindikasikan bahwa intensitas deformasi terutama bubble di luar PAT, kembali menunjukkan kenaikan intensitasnya.
Hal ini terekam pada dua lokasi bubble berdimensi besar yang digunakan sebagai baseline, yaitu di Pabrik Es dan Pabrik Kerupuk, keduanya di Siring Barat.
Terkait dengan deformasi hampir semua ahli kebumian di dunia umumnya berpijak pada asumsi terutama disebabkan oleh adanya pengurangan masa sedimen dan tekanan di bawah permukaan, adanya efek pembebanan dari akumulasi sedimen di PAT, termasuk implikasinya untuk menekan lapisan aquifer dan kantong-kantong gas metan dangkal. Disamping itu faktor struktur geologi, termasuk reaktivasi keberadaan Patahan Watukosek.
· Prognosis Eskalasi Potensi Baru terhadap Ancaman Semburan dan Luapan Lumpur
Berdasarkan evaluasi dinamika baru yang berkembang, selanjutnya perkiraan potensi ancaman dari semburan Lusi dinilai semakin kecil.
Posisi paling atas dari potensi bahaya dari dalam PAT, melimpasnya secara mendadak akumulasi air di Basin Glagaharum yang dapat dipicu oleh terlampauinya daya dukung tanggul yang sebelumnya telah 3 (tiga) kali mengalami runtuh seketika (sudden collapse).
Selanjutnya potensi luapan lumpur, semakin terbatas pada zona yang telah dan akan mengalami tumbukan antara lereng dan tanggul (Osaka-Tas dan Siring).
Permukaan lumpur di daerah tersebut yang akan terus menaik, sehingga bila berlangsung hujan ekstrim fluida berpotensi untuk melimpas.
Namun intensitasnya hanya terbatas limpasan air, karena bagian lapisan lumpur telah semakin padu, sehingga sulit untuk melimpas pada jarak jauh.