Mud volcano yang termasuk struktur pembubungan umumnya berasosiasi dengan struktur patahan
Struktur pembubungan (piercement structures) seperti komplek saluran panas bumi (vent complexes) dan mud volcano, terdapat pada beberapa kedudukan geologi (geological settings).
Namun umumnya berasosiasi dengan struktur patahan (fault structure), atau ciri-ciri pengakumulasian fluida (fluid-focussing features).
Tujuan makalah antara lain menyelidiki peran patahan geser sebagai pemicu fluidasasi
Artikel ini bertujuan untuk menyelidiki dan memahami mekanisme yang bertanggungjawab dalam pembentukan struktur pada cekungan sedimen (sedimentary basin).
Dan peran dari patahan geser (strike-slip fault) sebagai pemicu mekanisme untuk pencairan (fluidization).
Empat Pendekatan penyelidikan yang diterapkan
Untuk tujuan ini empat pendekatan yang berbeda telah dikombinasikan, yaitu: kerja lapangan, eksperimen analogi, dan pemodelan matematika dan reologi duktil (ductile reology).
Hasil dari studi ini mungkin bisa diaplikasikasikan pada beberapa kedudukan, termasuk mud volcano Lusi di Indonesia, yang baru terbentuk.
Signifikan dari mud volcano Lusi
Munculnya kontroversi pemicu Lusi:
Lusi menjadi aktif pada 29 Mei 2006 di Pulau Jawa. Debat pada pemicu semburan (trigger of eruption) bermunculan sesaat kemudian.
Pemicu reaktifasi patahan yang sebelumnya sudah ada:
Apakah Lusi dipicu oleh reaktivasi suatu patahan (reactivation of a fault) setelah terjadinya gempabumi yang kuat dua hari sebelumnya (yang dimaksud Gempabumi Yogyakarta 27 Mei, 2006)?
Pemicu semburan liar yang masif (massive blow-out) pada kegiatan eksplorasi:
Atau apakah lubang bor eksplorasi yang lokasinya bertetangga mengindusi suatu semburan liar yang massif (exploration borehole Indus a massive blow-out).
Pernyataan patahan Watukosek di aktifkan kembali pasca gempabumi:
Observasi lapangan memperjelas bahwa patahan Watukosek yang memotong mud volcano Lusi telah diaktifkan kembali (direaktivasi) setelah gempabumi 27 Mei 2006.
Kaitan kegempaan dengan aktivitas patahan dan kecepatan aliran di kawah:
Pada pemantauan di lapangan memperlihatkan bahwa secara periodik kegempaan (seismicity periodically) mengaktifkan patahan ini dan selaras dengan puncak dari kecepatan aliran kawah (frequent seismicity periodically reactivate this fault synchronous peaks of flow rates from the crater).
Implikasi patahan geser pada fluidasasi:
Studi terintegrasi memperlihatkan bahwa tekanan fluida kritis (critical fluid pressure) yang dibutuhkan untuk terjadinya deformasi sedimen dan pencairan (fluidization) secara dramatis berkurang selama patahan geser aktif.
Hipotesa bahwa struktur pembubungan umum berlokasi sepanjang sona patahan:
Diusulkan bahwa mekanisme fluidasasi dipengaruhi geseran (shear-induced fluidization) untuk menjelaskan mengapa struktur-struktur pembubungan seperti mud volcano selalu berlokasi sepanjang bidang patahan (piercement structures such as mud volcanoes are often located along fault zones).
Pernyataan bahwa pergerakan patahan Watukosek memicu semburan Lusi:
Hasil studi ini mendukung suatu skenario bahwa pergerakan dari patahan geser Watukosek (the strike-slip movement of the Watukosek fault), memicu semburan Lusi dan sinkron dengan aktivitas rembesan yang dapat dilihat pada mud volcano lainnya sepanjang patahan yang sama.
Posisi hipotesa Lusi dikontribusikan oleh Pemboran, tidak membunyai bukti kuat untuk menjelasakan sistem saluran sampai durasi lebih tiga tahun masih berlanjut:
Kemungkinan bahwa pemboran mengkontribusikan pemicu semburan tidak dapat dikesampingkan.
Namun, sejauh ini, tidak ada satupun yang mendukung hipotesis pemboran, dan skenario blow-out (a blow-out scenario) yang dapat menjelaskan perubahan dramatis yang mengefektifkan sistem saluran (plumbing system) atau dari beberapa sistem rembesan di Jawa setelah gempa bumi. Dimana sampai April 2008 semburan Lusi masih berlanjut.