Mazzini 2007
Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud volcano,Indonesia
Earth and Planetary Science Letters, Volume 261, Issues 3–4, 30 September 2007, Pages 375-388
A. Mazzini, H. Svensen, G.G. Akhmanov, G. Aloisi, S. Planke, A. Malthe-Sørenssen, B. Istadi
SARI
Gunung lumpur merupakan fenomena geologi penting, terkait dengan aliran fluida secara vertikal dan semburan lumpur
Pembentukan gunung lumpur oleh sedimen lempung kaya unsur organik dengan tekanan berlebih (Overpressure):
Pengintegrasian data baru dan lama untuk penulisan makalah Lusi, yang berkembang di cekungan di busur belakang (backarc sedimentary basin) dekat dengan busur magmatik (magmatic arc):
Lokasi yang berdekatan busur magma (magmatic arc) memicu transformasi mineralogi dan reaksi geokimia pada kedalaman dangkal (shallow deep):
Sebelum terjadinya semburan Lusi, telah diindikasikan telah berkembang struktur pembubungan (piercement structure).
Pengendali mekanisme Lusi dipicu gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, membentuk rekahan, depressurization fluida pori:
Pembentukan sistem panas bumi dan ekspresi permukaan seperti geyser:
Mud volcanoes are geologically important manifestations of vertical fluid flow and mud eruption in sedimentary basins worldwide.
Their formation is predominantly ascribed to release of overpressure from clay- and organic-rich sediments, leading to impressive build-up of mud mountains in submarine and subaerial settings.
Here we report on a newly born mud volcano appearing close to an active magmatic complex in a backarc sedimentary basin in Indonesia.
The location of the mud volcano close to magmatic volcanoes results in a high background temperature gradient that triggers mineralogical transformations and geochemical reactions at shallow depth.
The eruption of 100 °C mud and gas that started the 29th of May 2006 flooded a large area within the Sidoarjo village in Northeast Java.
Thousands of people have so far been evacuated due to the mud flood hazards from the eruption. Since the initial eruption, the flow rate escalated from 5000 to 120,000 m3/d during the first eleven weeks.
Then the erupted volume started to pulsate between almost zero and 120,000 m3/d in the period August 14 to September 10, whereas it increased dramatically following swarms of earthquakes in September, before reaching almost 180,000 m3/d in December 2006.
Sampling and observations were completed during two fieldwork campaigns on the site. The eruption of boiling water is accompanied by mud, aqueous vapour, CO2 and CH4.
Based on geochemical and field results, we propose a mechanism where the eruptions started following the 27th of May earthquake due to fracturing and accompanied depressurization of > 100 °C pore fluids from > 1700 m depth.
This resulted in the formation of a quasi-hydrothermal system with a geyser-like surface expression and with an activity influenced by the regional seismicity.
Makalah Ini Ditinjau dan dialihbahasakan ke Indonesia, Semata Untuk Pendidikan Publik
Penulis telah mendapatkan naskah asli dari Prof. Dr. Andriano Mazzini tahun 2011.
Pemicu dan Evolusi Dinamika gunung lumpur Sidoarjo
(LUSI)
Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud
volcano, Indonesia
Mazzini, A., Svensen, H., Akhmanov, G.G., , Aloisi, G., Planke S., Malthe-Sørenssen, A., and Istadi,B.
Juli 2007
Baseline Knowledge Asal Mula dan Perkembangan LUSI
Dikaji kontekstual oleh: Dr. IR. Hardi Prasetyo
Disusun kembali 24 Mei 2008
Dalam Rangka Memperingati
2 Tahun Lumpur Sidoarjo
Dipersembahkan kepada Para Pahlawan LUSI
Preview Keseluruhan Naskah
TATA URUT DAN KATA KUNCI
PROLOG
KESIMPULAN
Peluang mempelajari gunung lumpur sejak awal kelahirannya:
Lusi memiliki perilaku yang menakjubkan dan masih berlanjut dalam waktu jangka panjang:
Potensi skenario bencana:
Semburan lumpur di picu gempa bumi 27 Mei di Yogyakarta:
Rekahan yang terbentuk menyebabkan migrasi lumpur bertekanan tinggi:
Pengangkatan lumpur didorong oleh pengurangan tekanan dalam rongga pori:
Volkanisme lumpur masih langka dipelajari di Indonesia:
PENDAHULUAN
Awal semburan terhadap sumur eksplorasi BJP-1:
Lusi dan luas luapannya:
Dampak sosial dan upaya penanganan luapan:
Lusi membuka peluang untuk mempelajari evolusi gunung lumpur sejak kelahirannya:
Keunikan Lusi, semburan terus berlangsung:
Keunikan Lusi temperatur di permukaan jauh lebih tinggi daripada tempat lain di dunia:
Semburan terus berlangsung terdiri dari air panas dan lumpur:
Sumber pengamatan di lapangan dan data kegiatan eksplorasi BJP-1:
Tujuan dinamika semburan Lusi dan alternatif penyebabnya:
METODA
Studi Lapangan:
Geokimia:
Estimasi besaran volume semburan:
Survei subsidence:
Komposisi gas:
Kandungan LEL gas metan:
Komposisi gas:
Hidrokarbon:
Komposisi isotop karbon:
Akuntabilitas lembaga pelaksana:
Kation:
Komposisi ä18 O air:
Komposisi äD:
Komposisi mineral lempung:
Reflektivitas vitrinit (Vitrinite reflectivity)
Pengamatan biostratigrafi:
Kedudukan Geologi dan Stratigrafi
Tektonik P. Jawa sebagai busur kepulauan dari penunjaman kerak samudera aktif:
Tektonik busur muka (prisma akrasi dan busur magmatik):
Tektonik cekungan busur belakang (backarc basin):
Jarak terdekat Lusi dengan G. Pananggungan:
Terdapatnya indikasi sesar reginonal:
Ada tiga gunung lumpur yang telah terbentuk sebelumnya:
Stratigrafi Sidorajo sampai pada ketebalan 3000m berumur Pleistosen:
Perbandingan dengan stratigrafi sumur pemboran Porong-1:
Umur mutlak batugamping Formasi Kujung:
Bagian bawah pemboran BJP-1 menembus pasir turbidit (laut dalam?):
Sanggahan bahwa sumur tidak menembus Formasi Kujung:
Bukti tidak adanya batuan karbonat dari bagian terdalam pemboran:
Bukti kecepatan sedimen yang tinggi dan lapisan bertekanan tinggi:
Analogi dengan volkanisme lumpur di tempat lain:
Data survei dan hasil
Sejarah semburan dan dinamika (Eruption history and dynamics):
Awal kejadian rembesan air di permukaan, 29 Mei 2006:
Komposisi air dan tinggi sembura uap:
Perkembangan cepat kawah:
Hadirnya semburan pasir:
Kaitan semburan dan pola rekahan dan sesar regional NE:
Bubble sebagai bukti sistem pengaliran telah terbentuk:
Fluktuatif volume semburan 2006-Juni 2007:
Bukti-bukti penenggelaman:
Anatomi kaldera dan struktur runtuhan dari gunung lumpur:
Kaitan orientasi daerah tenggelam dengan arah sesar regional:
Pembacaan dan temperatur gradient:
Hasil pengukuran termperatur:
Bukti tingginya gradien panas bumi (geothermal gradient) dalam lubang sumur BJP-1:
Faktor pengontrol busur gunung api pada gradient geothermal:
Komposisi erupsi gas dan air:
Komposisi erupsi gas:
Kandungan gas metan, H2S, dan CO2:
Hasil pengukuran gas:
Kandungan CO2 dan CH4:
Kandungan ä13C:
Indikasi kandungan klorin lebih rendah dari air laut:
Indikasi kandungan SO4 dan Mg jauh lebih rendah dari air laut:
Indikasi kandungan B dan Ca lebih tinggi dari air laut:
Kandungan 18O dalam air:
Sumber dari semburan lumpur:
Kandungan mineral lempung dan bukti sedimentasi pada lingkungan marin:
Kondisi mineral lempung smektit dan ilit:
Perkiraan sumber lumpur dari interval 1615-1825 m:
Indikasi sumber lumpur dari lapisan volkanoklastik:
Bukti biostratigrafi sumber interval lumpur 1219-1829m:
Korelasi kandungan vitrinit reflektivitas:
Prediksi sumber lumpur pada interval 1219 dan 1828m:
Diskusi
Asal usul semburan padat dan fluida:
Bukti biostratigrafi, mineral lempung, vitrinit reflektivitas sumber utama lumpur berasal dari interval 1615-1828m:
Alternatif kombinasi dari kedalaman 1871 m dengan tiga alternatif mekanisme fluidasasi (fluidization):
Bukti-bukti adanya percampuran fluida dalam dan dangkal:
Hipotesis yang mendukung bahwa gas Lusi berasal dari percampuran biogenik dan termogenik:
Sumber gas biogenik lempung overpressure (1223-1871m):
Sumber gas termonegik dari formasi yang lebih dalam:
Kemungkinan H2S dikontribusikan dari gas dalam:
Kecepatan dan komposisi semburan yang komplek:
Tingginya kandungan CO2 cukup mengejutkan:
Fluida dalam lumpur lebih kecil dari nilai air laut:
Fluida LUSI diperkaya dalam B, Ca, Li, Na, Sr dan Br dan deplesi dalam K, Mg and SO4:
Bukti lain reaksi alterasi silikat:
Perkiraan sumber dari pasir volkanoklastik:
Bukti tambahan dominasi mineral lempung dari isotop pengkayaan 18O:
Besarnya semburan air dari proses dehidarasi lempung:
Lapisan 1109-1828 mengalami dampak transformasi smektit-ilit:
Daerah pengenggelaman 3,5 X 2 km sebagai daerah sumber:
Hasil perhitungan total air dihasilkan transformasi smektit-ilit 1,2 milyar M3:
Kontribusi tekanan dari diagenesis:
Apakah kejadian Lusi dipicu oleh gempabumi?
Even gempa bumi 27 Mei 2006:
Hubungan semburan Lusi dan Gempabumi:
Bukti-bukti adanya hubungan tersebut di bagian dunia lain:
Faktor pendukung struktur diapir terkait dengan struktur sesar dan lipatan:
Fenomena struktur pengkubahan dan tektonik aktif relevan dengan pemicu Lusi:
Aktivitas sesar Watukosek:
Bukti-bukti adanya sesar Watukosek:
Bukti-bukti terdapatnya gunung lumpur lainnya yang membentuk orientasi yang seragam:
Bukti-bukti adanya struktur diapir, sebagai bukti sejarah adanya aliran vertikal:
Sesar memicu terbentuknya rekahan atau reaktivasi struktur yang telah ada:
Adanya bukti tambahan dari fenomena loss tanggal 27 Mei:
Bukti pengurangan produksi gas dari sumur Carat:
Peningkatan aktivitas semburan gunung lumpur di tempat lain:
Model semburan
Pemicu dari gempabumi terhadap awal semburan Lusi:
Fenomena gempabumi memicu kenaikan intensitas gunug api:
Penulis beranggapan bahwa rekahan dan sesar yang telah ada mengalami tekanan berlebih akibat gempa bumi:
Naiknya fluida bertekanan tinggi dari interval 1323-1871 melalui rekahan yang baru terbentuk:
Mekanisme aliran fluida secara vertikal:
Bersamaan terjadi mobilisasi dari lumpur.
Pulsanisasi akibat pendidihan pada kedalaman 200m:
Sumber pendidihan dan keluarnya CO2 dan CH4:
Vulume lumpur 27 m3 yang dikeluarkan dari Mei 2006-Maret 2007:
Penjelasan adanya waktu jeda 2 hari antara gempa dan awal semburan:
Tidak ada tendangan (kick) dan semburan melalui lubang bor BJP-1:
Bukti sepatu pemboran yang masih menempel, tidak ada semburan bersentuhan dengan sumur bor:
Sangatlah tidak mungkin untuk menentukan pemicu semburan dari LUSI:
Perulangan (Pulsations):
Terjadinya fase fluktuatif semburan:
Fenomena runtuhan gradual dan kaitan dengan pengurangan tekanan:
Model semburan berulang seperti sistem hidrotermal:
H2S membuktikan fluida muncul dari satuan yang lebih dalam:
Belum ada cukup bukti sistem saluran (plumbing system) berkaitan dengan busur gunung api:
Semburan Lusi memperlihatkan perilaku quasi-hydrothermal:
Lebih satu tahun LUSI terus aktif:
Lusi pasca setahun masih dahsyat yaitu semburan dan penenggelaman:
Berkurangnya kadar air:
Perulangan semburan semakin pendek (1,5-0,5 jam)
Adanya indikasi terjadinya pengurangan secara gradual energi, namun karena jumlah sedimen padat besar akan menimbulkan bencana:
Indikasi peningkatan viskositas, implikasinya penanganan luapan dan mengalirkannya ke selatan:
Insersi bola-bola beton dan kendala yang dihadapi:
Sampai saat ini asal mula (origin), penyebab (causing) dan pemicu (trigerring) semburan lumpur Sidoarjo masih menjadi hal yang diperdebatan di kalangan para ahli kebumian (Earth Scientists), ahli pemboran (Drilling Expert) dan lain-lain.
Secara spesifik telah dapat dikelompokkan dua pandangan yang saling bertolak belakang yaitu:
Lumpur Sidoarjo sebagai hasil dari kegiatan manusia (man made activity), dipicu oleh terjadinya under gruond blow out (UGBO) saat berlangsungnya kegiatan eksplorasi gas alam (natural gas exploration activity); dan
Lumpur Sidoarjo, merupakan fenomena alam (natural alam) atau atau fenomena geologi (geological phenomenan) yang dipicu oleh terjadinya gempa bumi.
Walaupun terdapat perbedaan pandangan yang sampai berkembang menjadi kontroversi yang berkepanjangan.
Namun secara universal Lumpur Sidoarjo telah ditempatkan sebagai salah satu dari seluruh keberadaan mud volcano di seluruh dunia yang berjumlah ribuan.
Makalah ilmiah ini dengan judul Pemicu dan Dinamika Evolusi gunung lumpur Sidoarjo (LUSI), telah dipublikasikan oleh Andrio Manzzini dkk., Juli 2007.
Selanjutnya telah ditetapkan sebagai salah satu makalah ilmiah mendasar (base scientific paper). Dari kelompok yang memandang Lusi sebagai suatu mud volcano, dipicu oleh terjadinya gempa bumi.
Makalah ini ditulis, sebagai respon terhadap pemikiran dan hipotesa yang beranggapan Lusi dipicu oleh kesalahan pada kegiatan pemboran eksplorasi Banjar Panji-1 sebagaimana yang diusulkan oleh Davies dkk., Maret 2007.
Makalah yang terkait dengan lahir dan berkembangnya Lumpur Sidoarjo (telah umum ditetapkan sebagai mud volcano), baik terkait pandangan Lusi sebagai proses alami (natual process) atau buatan manusia (man made).
Akan menyediakan suatu alat bantu yang bernilai (valuable tool) dalam mengimpelemantasikan upaya Penanggulangan Semburan Lusi mud volcano.
Sebagaimana yang diamanatkan oleh Peraturan Presiden No. 14/2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).
Disamping itu makalah mendasar tentang Lusi ini, sangat kaya dengan hasil laboratorium terhadap analisis contoh-contoh fluida, padatan lumpur dan gas.
Sehingga dapat memotret kondisi geologi dari dimensi regional – lokal yang terjadi pada saat itu (2006-2007), alternatif pemicu semburan lumpur yang ditawarkan, serta dampak geohahard.
Disamping itu pada makalah ini Mazzini sudah mulai membuka wawasan hubungan semburan Lusi, bersiklus, seperti geyser.
Alternatif kaitannya dengan sistem gunung api magmatik Penanggungan yang berkembang di selatannya. Namun dalam makalah ini belum dapat didefinitifkan.
Hardi Prasetyo
8 April 2008
SARI
Gunung lumpur merupakan fenomena geologi penting (important geological phenomena), dihasilkan oleh adanya aliran fluida secara vertikal (vertical fluida flow).
Yang terjadi bersamaan dengan semburan lumpur (mud eruption).
Fenomena tersebut umum terjadi pada cekungan-cekungan sedimentasi (sedimentation basins) yang terdapat di seluruh dunia.
Pembentukan gunung lumpur umumnya merupakan pelepasan sedimen lempung yang kaya dengan unsur organik dan mempunyai tekanan tinggi atau tekanan berlebih (overpressure).
Kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya suatu bangunan gunung lumpur yang impresif, baik di bawah permukaan bumi (subsurface), maupun di bawah dasar laut (submarine).
Tulisan ini disusun berdasarkan serangkaian data (data set) dan hasil kerja lapangan yang dihimpun pada suatu gunung lumpur ,yang relatif baru menyembur di Jawa Timur (Indonesia). Selanjutnya diberi nama sebagai LUSI.
Lokasi semburan terletak pada cekungan sedimentasi di busur belakang (backarc sedimenary basin) Indonesia, berdekatan dengan komplek magmatik (magmatic complex) yang merupakan bagian dari busur muka (forearc region).
Lokasi yang berdekatan busur magma (magmatic arc) memicu transformasi mineralogi dan reaksi geokimia pada kedalaman dangkal (shallow deep):
Lokasi yang sepesifik tersebut dengan latar belakang gradien temperatur yang tinggi (high gradient temperature).
Sehingga telah memicu terjadinya transformasi mineralogi (mineralogy transformation) dan reaksi geokimia (geochemical reaction), pada kedalaman yang dangkal (shallow deep).
Tahun 2006 sampai Juli 2007 volume semburan berkisar antara 120.000-180.000 m3/h:
Volume semburan pada periode Agustus-September 111.000 m3/h, sedangkan angka penenggelaman tanah (land subsidence) rata-rata sebesar 11m.
Tahun 2006, volume semburan berkisar antara 0 sampai 120.000 m3/hari, selanjutnya meningkat secara dramatis, dipicu oleh fenomena gempabumi yang terjadi pada bulan September 2006.
Desember 2006 debit semburan meningkat mencapai angka tertinggi, yaitu sekitar 180.000 m3/h.
Sampai pada bulan ke limabelas dari sejak awal semburan (saat penulisan makalah ini), LUSI masih terus menyembur dengan debit puncak (peak eruption) sekitar 111.000 m3/h.
Sedangkan rata-rata penenggelaman tanah di daerah luapan mencapai 11m.
Penampang seismik refleksi (seismic reflection profile) memotong sumur eksplorasi BPJ-1, memperlihatkan bahwa sebelum terjadinya semburan, telah diidentifikasikan adanya aktivitas struktur (diapir lumpur membentuk pembubungan ’piercement’).
Berdasarkan data geokimia dan pengamatan lapangan, penulis mengusulkan mekanisme semburan (mud eruption mechanism) bermula saat setelah terjadinya gempabumi 27 Mei 2006 di Yogyakarta.
Proses berikutnya adalah membentuk rekahan yang berasosiasi dengan depressurization fluida pori, dengan temperatur > 100 derajat Celcius dari kedalaman struktur yang telah berada pada kondisi kritis.
Kondisi di atas menghasil pembentukan suatu sistem panas bumi (geothermal system), dengan ekspresi permukaan menyerupai geyser, dan berhubungan dengan terjadinya aktivitas yang terkait dengan kegempaan regional.
Fenomena LUSI merupakan suatu kesempatan yang unik (unique opportunity) untuk memantau (monitoring) dan memahami (understanding).
Terhadap mekanisme yang terjadi selama semburan gunung lumpur (mud volcano eruption).
Mulai dari saat ia dilahirkan (birth of mud volcano) sampai saat tumbuh dan berkembangnya (growth and development stage).
Perilaku semburan bersiklus yang menakjubkan (Its pulsating behaviour) dan masih berlanjut berjangka panjang (long way continuation).
Sehingga menyediakan suatu data yang bernilai untuk membantu dalam menyusun evolusi erupsi vulkanik yang belum lengkap.
Data yang tersedia menunjukan bahwa selama masih berlangsungnya semburan lumpur, maka secara sistem mempunyai tingkat kekritisan.
Bila ditambahkan dengan faktor-faktor eksternal lainnya, menyebabkan lokasi Lusi dapat terinisiasi terjadinya even bencana (hazard event).
Walaupun kesimpulan ini adalah hasil dari suatu rangkaian penyelidikan, namun pengamatan para penulis telah mengkerucut bahwa gempabumi yang terjadi 27 Mei 2006 di Yogyakarta.
Selanjutnya dianggap telah memicu terjadinya semburan lumpur (triggering mud eruption).
Model konsep yang baru (new model conception) adalah bahwa terjadinya semburan lumpur diawali oleh rekahan.
Diikuti dengan migrasi secara vertikal lumpur bertekanan tinggi (fracture following vertical migrating of overpressure mud).
Pengangkatan lumpur ke permukaan dihasilkan oleh adanya pengurangan tekanan, dari keluaran gas yang tidak terlarut di dalam rongga air (pore fluid).
Daya pengendali (driving force) ini memungkinkan lumpur mencapai permukaan bumi dengan kecepatan yang tinggi, untuk menginduksi pendidihan pada kedalaman dan fluida rongga yang panas.
Gambar 1. (Atas) Bagian peta citra satelit memperlihatkan elevasi P. Jawa. Busur volkanik berlokasi di bagian selatan. (Bawah) Cekungan busur belakang, dimana LUSI disemburkan, terdapat di bagian utara dari busur volkanik. Sesar ‘Watukosek’ berkembang dengan arah dari gunung Penanggungan kearah timur laut. Secara rinci, citra satelit memperlihatkan adanya fenomena pembelokan aliran sungai, gawir (escarpment) Watukosek dan gunung Penanggunan dipotong oleh sesar berorientasi timur laut-baratdaya. Foto satelit dari Google Earth.
Gambar 4. Citra satelit dari daerah sekitar Lusi sebelum semburan. Bintang biru mencirikan bahwa lokasi rembesan dan semburan diamati selama minggu pertama sejak 29 Mei. Lokasi erupsi dan evolusinya tampak selaras mengikuti orientasi yang bersamaan dengan orientasi sesar SW-NE. Orientasi dari sesar ditandai oleh garis putus-putus kuning. Pada kedudukan semburan fluida dan lumpur telah diawali dengan observasi semburan dari tiga lokasi berdekatan.
Gambar 5. Pemantauan kinerja dari lokasi LUSI. Perioda semburan kuat bersamaan dengan catatan puncak kandungan H2S dan CH4. Bintang mencirikan catatan gempabumi dengan kekuatan M>3,7 dan dengan pusat gempa berjarak 300 km dari Lusi (Sumber USGS). Perlu dicatat bahwa pemantauan selama bulan Juni dan Juli telah 2007 dilaksanakan pada saat kecepatan harian dan karena itu tidak akurat untuk bagian sisa dari catatan; setelah tanggal 26 September pemantauan telah dilaksanakan kira-kira setuap 4 hari. LEL diukur dari konsentrasi CH4 pada emisi asap gas, dimana 20% setara dengan 10.000 ppm
Gambar 6. Foto memperlihatkan aktivitas semburan Lusi yang berbeda-beda: (A) Lusi pada hari pertama; (B) asap dan lumpur disemburkan pada bagian tengah dari sawah pada pagi hari; (C) perioda aktivitas tinggi selama konstruksi dari dam tanggul pelindung di sekitar kawah; (D-F) citra helikopter dari Lusi dan daerah sekelilingnya dibanjiri oleh semburan lumpur. Catatan asap tebal pada citra D dan sumur BJP-1 pada citra E. Citra F memperlihatkan rincian dari kawah selama aktivitas pada perioda rendah.
Suatu semburan lumpur dan fluida yang tidak diduga sebelumnya, telah terjadi tanggal 29 Mei 2006.
Di daerah Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang berjarak sekitar 200 m jauhnya dari sumur eksplorasi hidrokarbon Banjar Panji-1 (BJP-1).
Dimana saat kejadian dilaporkan mencapai total kedalaman (total depth) sebesar 2833 m.
Semburan ini selanjutnya dinamakan sebagai Lusi (Lumpur ’mud’ – Sidoarjo).
Sejak 29 Mei 2007 daerah sekitar pemboran eksplorasi telah digenangi oleh luapan lumpur yang mencapai luas sekitar 630 hektar atau 6,3 km persegi.
Sekitar 8800 kepala keluarga (sekitar 30,000 orang) telah diungsikan.
Sementara itu jaringan tenggul-tanggul terus dibangun, dan diisi dengan lumpur.
LUSI menyediakan suatu kesempatan yang unik untuk mempelajari kelahiran dan evolusi dari gunung lumpur (birth and evolution of mud volcano).
sebelumnya, umumnya telah dilaksananakan selama perioda tenang (quit periode) semburan.
Semburan gunung lumpur umumnya hanya berlangsung beberapa hari, dan sangat sedikit diketahui tentang dinamika semburannya (Jakubov et al., 1971). Namun, Lusi memperlihatkan keberlanjutan semburan.
Pengamatan umum dari sebagian besar gunung lumpur yang ada selama ini, menunjukkan bahwa temperatur di daerah sumber sekitar 75oC.
Walaupun beberapa lainnya ada yang melebihi (Mukhtarov et al., 2003).
Dalam kedua hal ini, erupsi lumpur Lusi mempunyai kekecualian.
Setelah satu tahun dari saat terbentuknya, ia terus aktif menyemburkan air panas dan lumpur.
Makalah ini menyajikan data yang dihimpun dari dua kali studi lapangan.
Diintegrasikan dengan suatu basis data yang diambil sebelum dan selama kegiatan pemboran dari sumur eksplorasi BJP-1.
Yang berlokasi sekitar 200 m jauhnya dari pusat semburan gunung lumpur.
Tujuan dari makalah ini adalah untuk menguraikan dinamika semburan Lusi.
Selanjutnya mengidentifikasikan kemungkinan penyebab erupsi yang mendadak tersebut.
Dua studi lapangan telah dilaksanakan pada daerah semburan.
Masing-masing pada bulan September 2006 dan Februari 2007.
Analisis geokimia dilengkapi dengan contoh lumpur, gas, dan air.
Yang berasal dari dalam dan di sekitar lokasi semburan Lusi.
Enam survei pemantauan penurunan tanah (land subsidence) di daerah Sidoarjo telah dilaksanakan sejak terjadinya semburan Lusi.
Sekitar 20 stasion GPS telah digunakan sebagai acuan dan dasar analisis.
Komposisi gas telah dianalisis menggunakan perlengkapan HewlettPackard 5890 Series II GC.
Yang dilengkapi dengan kolom Porabond Q, alat flame ionisation detector (FID), alat satuan thermal conductivity detector (TCD) and a methylization.
Kandungan gas hidrokarbon telah diukur dengan FID, CO2 yaitu methylization (to CH4).
Selanjutnya FID dan N2 dan O2 dengan TCD.
Komposisi isotop karbon dari gas komponen hidrokarbon telah dideteksi menggunakan suatu sistem GC-C-IRMS.
Analisis pengulangan dari standar mencirikan bahwa dari produksibilitas nilai ä13C lebih baik dari 1‰ PDB (2 sigma).
Komposisi Isotop hidrogen:
Komposisi Isotop hidrogen dari metan telah ditentukan dengan sistem GC-C-IRMS.
Standar Internasional NGS-2 dan standar in-house telah digunakan untuk menguji keakurasian.
Nilai dari NGS-2 dilaporkan sebagai 172,5‰V-SMOW.
Pengulangan analisis dari standar mengindikasikan, bahwa reproduksibilitas nilai äD lebih baik dari 10‰ PDB (2 sigma).
Semua analisis isotop telah dilakukan di Institut Teknologi Energi (Institute for Energy Technology, Kjeller), Norwegia.
Kation (Cations) telah dianalisais menggunakan Dionex ion chromatograph dan anion (anions) telah dianalisis pada suatu Varian Vista ICPMS.
Nilai rata-rata GISP dari IAEA selama tahun 2003–2004 adalah ä18OVSMOW=−24.80±0,10‰ (one standard deviation).
Komposisi äD telah ditentukan menggunakan Micromass Optima isotope mass spectrometer.
Rata-rata nilai untuk GISP dari IAEA selama 2003–2004 adalah äDVSMOW=−189,71±0.89‰ (one standard deviation).
Nilai yang sebenarnya “True” adalah − 189,73±0.9‰.
Orientasi lempung (b 1 ìm) contoh-contoh telah diukur menggunakan radiasi berdasarkan Cu (Cu-based radiation) dan metoda laboratorium standar XDR.
Vitrinite reflectivity diukur pada material organik pada semburan lempung dan batulumpur dari semua sumur bor yang dilaksanakan oleh Lemigas di Indonesia.
Pengukuran telah dibuat untuk asam dan contoh yang menggunakan mikroskop pemantulan cahaya (reflective light microscope), dan dilaporkan sebagai standar relative % Ro.
Keakurasian pengukuran sampai pada orde 0,05% Ro.
Pulau Jawa, seperti kebanyakan dari Indonesia lainnya, merupakan suatu busur kepulauan (island arc).
Sebagai hasil dari penunjaman lempeng kerak samudera aktif (active oceanic-plate subduction).
Bagian selatan dari pulau Jawa, terutama terdiri dari prisma akrasi yang tenggelam (submerged accretionary prism) dan busur gunung api (volcanic arc).
Di bagian utara dari Jawa Timur membentuk cekungan busur belakang (backarc basin) dengan rezim tektonik ekstensi.
Dibarengi dengan proses sedimentasi yang cepat (Willumsen and Schiller, 1994; Schiller et al., 1994).
Situasi LUSI berada pada busur belakang, yang berjarak 10 km arah timur laut dari gunung Penanggungan.
Walupun sebagian diantaranya ia ditutupi oleh sedimen aluvial (Gambar. 1).
Beberapa kemunculan gunung lumpur berlokasi dekat Lusi.
Tiga diantaranya diperlihatkan pada gambar 1, tapi kedua sejarah semburannya dan kemungkinan aktivitas yang baru-baru ini belum didokumentasikan sebagaimana lainnya.
Sebagaimana yang sebelumnya telah dilakukan seperti penyelidikan di Timor (Barber et al., 1986).
Stratigrafi daerah Sidoarjo secara lokal diperlihatkan pada gambar (Gamb. 2) dari atas ke bawah yaitu:
Sedimen aluvial,
Formasi Pucangan, berumur Pleistosen terdiri dari selang seling batupasir dan serpih, tebal lebih dari 900 m,
Formasi Kalibeng Atas, berumur Pleistosen, terdiri dari lempung abu-abu kebiruan pada kedalaman 1871 m, dan
Pasir volkanoklastik dengan ketebalan sekurang-kurangnya 962 m.
Sumur Porong#1 yang telah dibor, berlokasi sekitar 6,5 km arah timurlaut dari kota Sidoarjo.
Memperlihatkan bahwa sedimen berumur Plio-Pleistosen secara langsung menutupi puncak batugamping koral, berumur Miosen.
Isotop strontium mencirikan umur mutlak batugamping Formasi Kujung berumur sekitar 16 juta tahun, (Kusumastuti et al. 2002).
Pemboran BJP-1 pada bagian lebih bawah menembus formasi pasir turbidit.
Namun berbeda dengan asumsi sebelumnya (Davies et al., 2007), yang dilakukan dengan pengukuran well logging.
Gambar 2. Kolom stratigrafi dan gradien temperatur-tekanan di sumur BJP-1.
Catatan bahwa tidak tersedia data pada bagian dasar sehingga tidak ada buki yang mendukung bahwa paling dalam dari sumur BJP1 telah telah menembus formasi batugamping.
Sekuen sedimen regresif terdiri dari sedimen lempung dan pasiran. Satuan tekanan berlebih (overpressure unit) yang tercatat selama pemboran diperlihatkan pada interval 762-914, 1323-1457, 16790-1740, 1822-1871. T=100oC dicapai pada kedalaman 1700 m.
Nilai vitrinite reflectance diukur dari klastik semburan lumpur pada angka dihasilkan di bawah 1700 m pada lobang bor.
Suatu hiatus kira-kira 14,4 juta tahun berada pada bagian paling dalam dari satuan pasiran ditutupi oleh fasies karbonat Miosen (Formasi Kujung).
Estimasi tekanan pori didasarkan pada pengukuran pemboran.
Estimasi tekanan rongga sebesar 12,8 ppg berdasaran atas pengisian volume atas hilangnya sirkulasi.
Memperlihatkan tidak ada bukti-bukti bahwa lobang bor telah menembus Formasi Kujung (Fig. 2).
Potongan terhadap batuan hasil pemboran yang terdalam, ternyata tidak menunjukkan keberadaan batuan karbonat.
Data kalsimetri mengindikasikan kandungan kalsit hanya 4%, tidak ada peningkatan atau perubahan yang signifikan.
Pemboran terhadap batulempung berumur Pleistosen pada kedalaman 600–1830 m, mengindikasikan pengendapan sedimen yang cepat (Willumsen and Schiller, 1994).
Pengamatan menunjukkan sekuen berada di bawah kompaksi dan tekanan berlebih (undercompacted and overpressured).
Khususnya pada satuan serpih yang berada pada kedalaman antara 1323–1871 m.
Pada tanggal 29 Mei 2006 telah dideteksi adanya rembesan air (di permukaan) yang berukuran kecil dan tersebar.
Selanjutnya beberapa jam kemudian telah berkembang menjadi semburan Lusi.
Disini, lumpur yang mendidih mengandung air sekitar 60% telah diangkat beberapa puluh meter di atas kawah, bersamaan dengan semburan dari uap setinggi 50 m (Gamb. 3(A)).
Perkembangan cepat kawah:
Kawah yang melingkar (ring crater) dengan cepat berkembang.
Beberapa erupsi pasir yang terjadi di dekat semburan utama telah muncul beberapa hari setelah awal semburan. Gamb. 3(B)).
Beberapa hari setelah semburan juga telah dapat diamati terjadinya rekahan di daerah yang berdekatan dengan sumur eksplorasi BJP-1 (Fig. 3 (C)–(D)).
Dengan panjang ratusan meter dan lebar puluhan sentimeter.
Pola rekahan dan lokasi erupsi baru berkembang di daerah tersebut dan menerus ke komplek volkanik Arjuno–Welirang kearah pantai di tirmur laut (Gamb. 1 (A)–(B)) dengan arah Timurlaut.
Arah ini relatif sejajar dengan orientasi sesar yang melintang dengan arah timurlaut-baratdaya (Figs. 4 and 1).
Terdapatnya sesar ini diperkirakan dari penafsiran seismik refleksi regional dan dari pengamatan lapangan (Fig. 3(F)).
Satu lokasi semburan kecil tampak pada bulan November 2006, yang kira-kira berjarak 1 km kearah baratdaya dari pusat kawah.
Observasi ini mencirikan bahwa sistem pengaliran di bawah permukaan telah terus berlangsung.
Volume semburan lumpur meningkat, dari sekitar 5000 m3/h pada tahap awal (29 Mei 2006), meningkat sangat cepat menjadi sebesar 120.000m3/h (Augustus 2006) (Fig. 5).
Puncak kecepatan semburan (rate of mud eruption) mencapai 160.000 dan 170.000 m3/h.
Pada kondisi dimana semburan material yang besar mengikuti terjadinya gempabumi yang terjadai pada September 2006 (Fig. 5).
Pada bulan Desember 2006 semburan tercatat mencapai tingkat tertinggi yaitu sebesar 180,000 m3/h.
LUSI terus aktif sampai bulan Juni 2007 (makalah ditulis), dengan debit lebih dari 110.000 m3/h.
Disamping itu juga berkemang bualan (bubble) yang berjumlah keseluruhan 44 yang telah dipetakan sekitar daerah Lusi.
Penenggelaman (subsidence) sekitar daerah LUSI telah dipantau sejak tahap awal semburan.
Himpunan data mencirikan bahwa daerah seluas sekitar 22 km2 telah menurun dengan rata-rata 1–4 cm/h.
Pembentukan kaldera dan struktur runtuhan (formation of a caldera and collapse structures) sekitar pusat semburan.
Merupakan suatu tipe fenomena terkait dengan kawah gunung api (e.g. Cita et al., 1996; Planke et al., 2004).
Sangat menarik, karena di sekitar LUSI daerah tenggelam mempunyai bentuk seperti elip (sumbu panjang 7×4 km), memanjang dengan orientasi sejajar dengan arah sesar baratlaut-timurlaut.
Temperatur diukur dari aliran lumpur pada jarak 20 m dari kawah Lusi menunjukkan temperatur tinggi sekitar 97 °C (Februari 2007).
Temperatur dari kawah tidak dapat diukur secara langsung, namun tampaknya mencapai 100 °C, tercatat sebagai temperatur yang mendidihkan air dan mengerupsi uap.
Temperatur yang tinggi dari erupsi fluida sebagai cermin dari tingginya temperatur gradien dalam lubang sumur BJP1.
Pengukuran ke dalam lobang memperlihatkan bahwa temperatur sebesar 100 °C dicapai pada kedalaman 1700 m dan temperatur 138 °C pada kedalamanan 2667 m.
Hasil pengukuran di atas mendemonstrasikan suatu gradien panasbumi yang tidak lumrah (42 °C/km).
Hal ini kemungkinan dipicu oleh kedekatannya dengan lokasi busur gunung api (Gamb. 2).
Sejak awal semburan keseluruhan erupsi gas, komposisi keseluruhan terdiri dari asap air (aqueous vapour).
Disamping aqueous vapour tersebut, pengukuran dengan instrumen portable memperlihatkan kandungan gas metan sebesar (LEL=20% ~10.000 ppm) dan H2S (35 ppm).
Contoh lebih lanjut dan analisis gas memperlihatkan bahwa metan dan karbon dioksida merupakan komponen utama dari semburan gas, sebagai tambahan adalah uap air water vapour (Table 1).
Secara lebih rinci, contoh gas diambil pada bulan Juli dari lokasi yang berdekatan dengan kawah.
Memperlihatkan kandungan CO2 antara 9,9% dan 11,3%, CH4 antara 83% dan 85,4%, dan sedikit hidrokarbon.
Bulan September, uap dikumpulkan dari kawah memperlihatkan kandungan CO2 lebih dari 74,3% dan tambahan CH4.
Secara bersamaan, contoh gas diambil dari rembesan dengan temperatur 30,8 °C yang berjarak 500 m dari kawah mempunyai CO2 rendah yaitu sebesar (18,7%).
Empat contoh gas yang dikumpulkan pada kegiatan bulan September telah dianalisis untuk kandungan δ13C di dalam CO2 dan CH4.
Nilai δ13C untuk CO2 dan CH4 bervariasi dari − 14,3‰ sampai − 18,4‰ dan dari − 48,6‰ sampai − 51,8‰, (Tabel 1).
Komposisi dari air di dekat kawah memperlihatkan komposisi klorin (chloride) sebesar 39%.
Nilai ini lebih rendah dari air laut, dimana konsentrasi klorin sekitar 11.300 ppm dan sodium 7.300 ppm (Tabel 2).
Konsentrasi larutan lainnya seperti SO4 dan Mg jauh lebih rendah daripada kandungan air laut.
Namun unsur seperti B dan Ca cukup tinggi. Gelembung dan penguapan kawah bisa meningkatkan salinitas terhadap waktu.
Tapi fluida terus dierupsi secara konstan dengan kecepatan tinggi (high rate).
Air yang dikumpulkan terkayakan pada 18O (δ18O=9,‰ di kawah dan 3,7‰ jauh dari kawah) dibandingkan dengan air laut dan fluida pori yang normal dari cekungan sedimen (normal pore fluids from sedimentary basins), sedangkan nilai δD (− 12.7‰ − 14.4‰) merupakan diprediksi bila dibandingkan dengan air laut.
Mineral lempung yang dianalisis dari tigabelas contoh yang dikumpulkan dari lobang bor memperlihatkan kesamaan litologi sedimen dan asal usulnya (showed very similar sediment lithology and origin).
Kecuali untuk satuan tipis yang asli batulempung smektit (smectite claystone), yaitu pada kedalaman 1341–1432 m.
Menunjukkan adanya suatu periode kecepatan pengendapan sedimen volkanoklastik yang tinggi pada lingkungan marin.
Semua contoh terdiri dari campuran kaolinit (kaolinite), smektit (smectite) dan ilit (illite).
Tiga interval utama diidentifikasikan dan memperlihatkan suatu perubahan kumpulan mineral lempung selama penguburan (upon burial).
· 1109–1341 m:
Meluas fase smectite–illite yang tidak beraturan terdiri dari 35–45% lapisan ilit, pengkristalan ilit yang rendah, klorit tidak terdeteksi;
· 1432–1615 m:
Lapisan ilit terdiri dari 45–55% smektit-ilit, terdapat fase subreguler dan reguler seperti rektorit (rectorite-like), kaolinit kehilangan kristalisasinya, dan terdapat sedikit klorit;
· 1615–1828 m:
Lapisan ilit sampai lebih dari 65% dari smektit-ilit, dan kandungan klorit meningkat dalam jumlah dan pengkristalannya.
Semburan lumpur LUSI mempunyai kesamaan mineralogi lempung pada contoh dari interval 1615–1828 m.
Dimana lapisan-lapisan ilit dengan kandungan ilit 65% dari smektit-ilit, dan klorit dengan pengkristalan lebih tinggi didapatkan lebih sedikit.
Lumpur LUSI mengandung lebih banyak smektit daripada kebanyakan contoh dari lubang bor.
Hal ini menunjukkan bahwa mungkin sebagai suatu sumber adalah lapisan volkanoklastik atau percampuran dengan material dari interval yang kaya smektit.
Yaitu pada kedalaman 1341–1432 m, saat ia bergerak menuju permukaan.
Perbandingan biostratigrafi dengan potongan sumur, memerlihatkan bahwa semburan lumpur berasal dari interval lumpur yang berada antara kedalaman 1219–1828 m.
Korelasi dari data vitrinit reflektifitas (vitrinite reflectivity) dari semburan lumpur dengan data lubang bor antara 0,55 sampai 0,69% Ro (a maturity of N 0.65% Ro) adalah dari unsur organik pada kedalaman sekitar 1700 m. (Gamb. 2).
Di sini semburan lumpur mempunyai asal usul yang dalam dan bermigrasi dari kedalaman sekurang-kurangnya 1219 m dan kemungkinan sedalam 1828 m.
Berdasarkan kombinasi dan biostratigafi, mineral lempung, hasil vitrinit reflektivitas.
Sehingga sumber utama semburan lumpur dapat diduga berasal dari lapisan antara interval kedalaman 1615–1828 m.
Terdapatnya pasir volkanoklastik (umumnya bersumber dari Formasi Pucangan atau dari kedalaman 1871 m) setelah fase awal semburan dari aktivitas awal LUSI (Gamb. 3(B)) dapat berhubungan dengan faktor-faktor kombinasi.
Usulan alternatifnya adalah:
1. Pencairan (fluidization) dari lapisan pasiran Pucangan selama fluida kaya air naik,
2. Pencairan sebagian (partial fluidization) pada bagian paling atas dari satuan turbidit, karena volume air meningkat selama terjadinya dehidarasi dari mineral lempung,
3. Sebagian pasir mengalami pencairan mengikuti adanya aktivitas seismik atau kegempaan (partial sand fluidization following seismic activity),
4. Kemungkinan masukan dari naiknya fluida pada kedudukan yang lebih dalam dari Formasi Kujung.
Hasil geokimia konsisten dengan pengamatan geologi menunjukkan adanya percampuran dari fluida dalam dan fluida dangkal (a mixture of deep and shallow fluids).
Komposisi isotop gas mendukung hipotesis bahwa gas yang disemburkan pada LUSI berasal dari percampuran asal usul biogenik dan termogenik (the hypothesis of a mixed biogenic and thermogenic origin of the gases erupted (e.g. cfr. Bernard et al., 1978; Whiticar, 1999)).
Relatif rendahnya δ13C CH4 (dibawah dari − 51,8‰) mencirikan bahwa gas biogenik bercampur dengan kontribusi termogenik (thermogenic contribution). Sebagaimana didukung oleh adanya kandungan hidrokarbon berat (heavier hydrocarbons).
Dalam kasus ini, satuan lempung bertekanan berlebih (overpressured clayey units) dengan kedalaman 1323–1871 m merupakan kandidat sebagai sumber gas biogenik.
Sedangkan secara isotop gas termogenik harus bermigrasi dari formasi yang lebih dalam (antara lain Formasi Ngimbang yang berada pada kedalaman yang lebih besar,Wilson et al., 2000).
Terdapatnya H2S yang konstan sejak awal semburan, juga memberikan dugaan suatu kontribusi dari gas dalam (deep gas).
Atau lebih mungkin, H2S sebelumnya dibentuk pada lapisan yang lebih dangkal kaya dengan SO4 dan atau metan atau material organik.
Cepatnya variasi komposisi dari semburan gas (Tabel 1) juga mengindikasikan suatu sistem yang komplek.
Terdiri dari sumber dan reaksi sebelum dan selama berlangsungnya semburan.
Sementara asal mula dari gas metan dijajaki terhadap material organik, tingginya jumlah CO2 dalam fase gas sangat mengejutkan.
Asal usul CO2 diperkirakan berasal dari mikroba pada LUSI diindiksikan oleh nilai δ13C CO2 (yang rendah sebesar 18,4‰).
Perbandingan nilai yang dideteksi pada cekungan sedimen yang kaya organik dimana CO2 diproduksi dalam jumlah yang signifikan dan normalnya terlarut dalam pori air.
Pada kasus ini CO2 solubility dalam rongga air dari interval bertekanan berlebih pada orde 47 g/L (pada 300 bar, 1 M NaCl, dan temperatur 100 °C) (Duan and Sun, 2003).
Selama pengurangan tekanan dan naik ke permukaan. Solobilitas CO2 di dalam air berkurang sampai 0,1 g/L (at 1 bar, 1 MNaCl dan 100 °C), dan CO2 setrerusnya dilepaskan pada fase gas.
Fluida yang terkandung dengan lumpur mempunyai salinitas (~ 20 g/kg). Dimana nilai tersebut jauh lebih kecil daripada salinitas air laut (~ 35 g/kg).
Komposisi tersebut memberikan kepercayaan bahwa ia telah dibentuk dengan delusi dan modifikasi diagenitik dari air laut yang berasal dari air pada formasi larut di bawah Lusi.
Diasumsikan bahwa klorin berperan secara konservatif selama penguburan dan volkanisme lumpur (burial and mud volcanism), telah dihitung bahwa komposisi air laut dilusi dengan klorinitas sebesar 325 mol l− 1 (Tabel 2).
Bila dibandingkan ini dengan air laut yang segar (freshened Seawater), fluida LUSI diperkaya dalam B, Ca, Li, Na, Sr dan Br dan deplesi dalam K, Mg and SO4. Ia juga diperkaya 18O dan deplesi dalam 2H.
Bagian dari penyegaran adalah karena adanya percampuran dengan air meteorit dangkal (shallow meteoric waters).
Kimia fluida, memberikan kepercayaan bahwa penyebaran juga dapat dihasilkan dari proses-proses diagenetik (diagenetic processes).
Bukti adanya femomena dehidrasi mineral lempung:
Perkayaan dari B dan Li dan 18O dan deplesi di dalam 2H merupakan tipe yang dibutuhkan bila mineral lempung yang telah dehidrasi dan telah diamati pada cairan gunung lumpur lainnya (Dahlmann and de Lange, 2003; Hensen et al., 2004).
Pada proses ini, mineral lempung kaya 18O, miskin 2H-berlapisan dengan air, Li dan B dilepaskan pada rongga fluida pada temperatur antara 60 dan 160 °C (Ishikawa and Nakamura, 1993; Chan and Kastner, 2000; Dahlmann and de Lange, 2003) menghasilkan pada perubahan kimia dan pada penyegaran rongga air.
Sebagai tambahan untuk dehidrasi mineral lempung, deplesi dalam Mg and K dan pengkayaan pada Ca dan Sr.
Memberikan dugaan bahwa reaksi-reaksi alterasi silikat telah berlangsung (Egeberg, 1990; Martin et al., 1996).
Kemungkinan sumber dari reaksi silikat adalah pasir volkanoklastik berumur Pleistosen.
Karena reaksi alterasi silikat mengkonsumsi air yang kaya 18O, ia menghasilkan peningkatan salinitas dan pengurakan rongga pori δ18O.
Tabel 2. Komposisi air dan isotop dari fluida yang deemburkan pada lokasi yang berbeda Lusi dibandingkan dengan nilai air laut (SW) dan llusi airlaut (Dil, SW)
Pengamatan penyegaran dan pengkayaan 18O dari fluida LUSI memberikan implikasi bahwa mineral lempung dehidrasi didominasi selama reaksi alterasi dari silikat dalam mendifinisikan komposisi kimia isotopik dari fluida rongga.
Adalah sangat mungkin bahwa bagian air disemburkan sangat besar jumlahnya yaitu 15 juta m3 (i.e.March 2007) berasal dari dehidrasi mineral lempung sebagaimana dicirikan oleh analisis air?
Lapisan 1109-1828m mengalami dampak transformasi smektit-ilit:
Dalam rangka merespon pertanyaan ini, perhitungan konservatif jumlah air yang dihasilkan dari dehidrasi mineral lempung dapat dilakukan.
Diketahui bahwa sekurang-kurangnya interval kedalaman1109–1828 m mengalami dampak transformasi dari smektit-ilit (smectite–illite transformation).
Berdasarkan pemantauan fenomana penenggelaman di permukaan, diperkikakan bahwa daerah yang berpotensi berbentuk elip dengan 2 sumbu berukuran 3,5×2 km di sekitar saluran yang berperan sebagai suatu daerah sumber.
Diperkirakan akan menghasilkan lebih dari 1,2 milyar m3 air dengan asumsi-asumsi, bila:
Volume 1 m3 smektit dapat menghasilkan lebih dari 0,35 m3 dari air selama dehidrasi (Perry and Hower, 1972; Kholodov, 1983), bahwa, 1. Rata-rata smektit terkandung dari studi lempung sebesar 35%,
65% dari smektit telah ditransformasikan menjadi ilit.. Angka ini harus ditambahkan dengan air laut yang berasal pada satuan lempung marin yang belum terkompakkan undercompacted marine clayey units dan konservasi didalam satuan impermeabel yang sangat tipis karena penguburan yang cepat.
Suatu kesimpulan penting bahwa semburan air dan mineral lempung mendemonstrasikan, bahwa diagenis pada kedalaman 1109 m mengkontribusikan tekanan pada sekuen sedimen.
Tanggal 27 Mei tahun 2006 pada jam 5:54 waktu setempat terjadi fenomena gempabumi dengan kekuatan 6,3 skala Richter, yang telah mengguncangkan bagian selatan dari Pulau Jawa.
Diikuti dengan gempa susulan berkekuatan 4,8 dan 4,6 SR yang terjadi 4 dan 6 jam dari saat gempa utama (U.S. Geological Survey, 2006).
Episentrum telah direkam 25 km baratlaut Yogyakarta, dan menyebabkan lebih dari 6.000 orang meninggal dunia dan sekitar 1,5 juta orang kehilangan rumah.
Pertanyaan adalah apakah ada hubungan antara gempabumi 27 Mei dengan semburan LUSI?
Dalam kaitan ini penulis berpendapat bahwa ada dokumentasi yang baik terhadap geysers, emisi metan, dan dinamika gunung lumpur (mud volcano dynamics) dikaitkan dengan aktivitas tektonik (tectonic activity) (e.g. Guliev and Feizullayev, 1997; Kopf, 2002; Hieke, 2004;
Manga and Brodsky, 2006; Mellors et al., 2007; Mau et al., 2007), menyatakan bahwa semburan dapat diakibatkan oleh suatu gempabumi, walaupun jaraknya beberapa ribu kilometer (e.g.Husen et al., 2004).
Dimana terdapat suatu tenggang waktu beberapa hari antara terjadinya gempabumi dan inisiasi semburan.
Kesamaan variasi pada tekanan dan permeabilitas yang telah dicatat pada sumur berlokasi ratusan hingga ribuan kilometer dari pusat gempa (Brodsky et al., 2003).
Lebih jauh lagi, struktur pembubungan vertikal di bawah gunung lumpur juga tekadang dikontrol oleh faktor-faktor lain seperti sesar dan antiklin (e.g. Jakubov et al., 1971; Planke et al., 2004).
Kedua pengendali adanya tektonik aktif yaitu sesar dan struktur piercement sangat relevan dengan lokasi LUSI.
Intensias gempabumi tanggal 27 Mei terekam di Surabaya dengan kekuatan 2–3 MMI sampai 4 MMI di bagian utara dari komplek volkanik Arjuno–Welirang yang dekat dengan lokasi semburan LUSI (U.S. Geological Survey, 2006).
Suatu patahan memotong gunung Pananggungan dan singkapan dari escarpment Watukosek melebar dengan arah timur laut kearah LUSI.
Dimana sesar ini memotong rel kereta api yang bengkok yang terjadi sesat setelah gempa bumi 27 Mei (Gamb 3(F)) mengindikasikan aktivitas lateral yang kuat.
Data pendukung lainnya Sungai Porong yang memperlihatkan pembelokan (Gamb. 1(B)) mengindikasikan sejarah yang panjang dari ciri sesar tersebut.
Kesamaan arah sesar juga diakomodasikan dengan kelurusan berkembangnya gunung lumpur lainnya di daerah tersebut.
Yaitu Gunung Anyar, Pulungan, Kalang Anyar, dan Bangkalan, Gamb. 1.
Dalam penampang seismik refleksi (seicmic reflection profile) yang dihasilkan sebelum semburan 26 Mei, memperlihatkan bukti adanya stuktur pembumbungan vertikal (diapir), dengan lapisan miring ke atas sekitar zona corong Lusi (Gamb. 3(G)).
Ini dapat ditafsirkan sebagai suatu bukti untuk sejarah yang panjang, terhadap adanya pergerakan lumpur kearah vertikal di bawah LUSI.
Kemungkinan erupsi yang sebelumnya atau gangguan sinyal dari sesar yang memotong daerah ini.
Tampaknya bahwa even gempa bumi 27 Mei 2006 mendistribusikan tekanan (stress distribution) pada beberapa bagian di Jawa.
Khususnya dikontribusikan oleh reaktivasi rekahan pada sesar yang sebelumnya telah eksis.
Sehingga memberikan dampak tekanan fluida (fluid pressure) dan permeabilitas (e.g. Elkhoury et al., 2006) dan dipicu oleh tekanan berlebih di bawah permukaan yang telah ada dari struktur pembubungan.
Kemungkinan ini juga didukung oleh fakta bahwa kehilangan (loss) sebagian telah dicatat pada cairan pemboran, yang terjadi kira kira 10 menit setelah gempa bumi 27 Mei.
Rekaman ini dapat menjadi fakta keterkaitan pergerakan sepanjang sesar, bersamaan dengan hilang kapasitas penutup (lost its sealing capacity) dan menjadi lebih permeabel.
Pengurangan secara simultan dari produksi gas dari sumur Carat yang berlokasi didekat lokasi.
Hal ini mengindikasikan bahwa sistem saluran regional (regional plumbing system) telah difektifkan oleh even seismik (gempa bumi).
Sangat menarik, bahwa terjadinya peningkatan aktivitas dari semburan-semburan kecil di tetangga gunung lumpur juga bersamaan dengan even seismik yang Resen (i.e. 27 Mei).
Hal ini memperlihatkan bahwa jalur aliran fluida telah diefektifkan.
Semburan yang paling signifikan diamati di gunung lumpur Purwodadi (Jawa tengah) yang telah mendidihkan lumpur dan air.
Antara Desember 2006 dan Januari 2007 semburan baru dengan ciri yang sama dengan LUSI terjadi di Jawa Tengah (Bojonegoro mud eruption) dan Jawa Barat (Serang mud eruption) setelah gempa bumi.
Data yang tersedia mendukung hipotesis bahwa aktivitas awal dari Lusi, terutama telah dipicu oleh energi yang dilepaskan oleh gempabumi tanggal 27 Mei, dan bukan oleh kegiatan pemboran.
Telah didokumentasikan bahwa beberapa even gempa instan (termasuk gempa 27-Mei 2006) telah memicu dan meningkatkan aktivitas gunung api di Pulau Jawa (e.g. Walter et al., 2007).
Penulis percaya bahwa patahan dalam berasosiasi dengan sesar.
Yang sebelumnya telah ada di dalam dan di atas satuan lempung yang telah mengalami tekanan berlebih (fault occurred within and above the already overpressured clayey units), sebagai konsekuensi dari gempabumi.
Fluida dalam interval overpressured (1323–1871 m) mulai naik sepanjang rekahan yang baru terbentuk.
Pemicu aliran dihasilkan sebagian oleh adanya pengurangan tekanan yang memungkinkan melepaskan CO2 dari pori air.
Turunnya tekanan pada nilai hidrostatik pada kedalaman 1700 m akan menghasilkan pengurangan tekanan kira-kira 11 MPa (Fig. 2).
Suatu tekanan berkurang pada besaran temperatur 100 °C akan menghasilkan pengurangan solubilitas dari CO2 dalam air sebesar 6 g/L (cf. Duan and Sun, 2003).
Proses depresurisasi dan pelepasan gas menyebabkan suatu eskalasi aliran fluida vertikal.
Sekali aliran fluida panas mencapai kedalaman yang dangkal (~200 m), tekanan hidrosatatik dari fluida mulai mendidihkan.
Menghasilkan erupsi dari air dan lumpur yang terus diperbarui dengan sifat-sifat pulsanisasi.
Volume semburan lumpur sejak 29 Mei diperkirakan harus lebih besar dari 27 juta m3 (i.e. data diperbarui Maret 2007).
Catatan waktu antara gempa bumi dan erupsi dapat dijelaskan dengan mekanisme sebagaimana yang dijelaskan oleh Miller et al. (2004).
Penulis tersebut menguraikan gempa bumi menginisiasikan gerakan fluida secara lokal, dan sebagai konsekensi, lebih memicu gempabumi setelah waktu jeda.
Sistem fluida gempa dapat berlanjut untuk beberapa saat setelah even utama.
Sebagai salah satu alternatif hipotesis untuk menjelaskan semburan yang seketika yang keluar sebagai semburan liar pada lokasi semburan.
Hipotesis ini akan memberikan implikasi bahwa sirkulasi lumpur di dalam sumur telah diinterupsi selama pemboran, diikuti olah suatu kenaikan tekanan pori.
Hal ini dapat berpotensi untuk menciptakan suatu aliran yang tidak terkontrol dari fluida reservoir ke dalam lubang bor dan menyembur liar.
Sebagai contoh semburan liar dari pemboran pada lokasi yang tidak diketahui (e.g. blow-out in the North Sea at Ekofisk field Bravo platform in April 1977, and in Brunei, Tingay et al., 2005).
Namun, tidak ada tendangan ‘kicks’ tercatat pada dasar lobang bor BJP-1, dan tidak ada semburan melalui sumur.
Lebih jauh lagi sepatu dari sumur BJP-1 yang umumnya sebagai titik lemah, dengan pahat bor masih pada posisi yang menempel.
Karena itu disimpulkan bahwa saluran semburan utama tidak bersentuhan dengan sumur.
Pengujian lubang bor memperlihatkan bahwa tidak ada hubungan antara sirkulasi fluida di dalam sumur dan semburan lumpur ke permukaan.
Namun, berdasarkan data dan bukti yang ada, hipotesis bahwa semburan seluruhnya dikontribusikan pemboran, adalah tidak dapat disimpulkan. ‘
However, based on the available data and evidences, the hypothesis of an eruption entirely attributed to drilling (e.g. Davies et al., 2007), is inconclusive’.
Pemantauan perilaku LUSI memperlihatkan bawa fase pulsa up and down terjadi setelah periode 10 Agustus sampai 10 September, dimana kecepatan aliran secara bertahap berkurang.
Hal ini memberikan argumen bahwa:
Setelah suatu aktivitas yang dahsyat tekanan yang dilepaskan, maka sistem beralih berhenti secara lebih alami.
‘the flow ate was gradually reduced suggesting that after an initial powerful activity and pressure release the system switched off naturally’.
Fenomena runtuhan gradual dan kaitan dengan pengurangan tekanan:
Interpretasi ini didasarkan pada pemikiran adanya runtuh gradual (gradual collapse) dari sistem penghubung.
Selama pengurangan tekanan berlebih yang progresif, dan perkembangan dari perilaku seperti geyser.
Namun, reaktifnya kembali semburan, dengan kecepatan yang tiba-tiba meningkat sampai 160,000 m3/h.
Terjadi bersamaan dengan gempabumi pada September 6 dan 8 (i.e.; Fig. 5).
Pemantauan pada bulan September 2006 memperlihatkan bahwa semburan yang lebih dahsyat terjadi dengan periode sekitar 30 menit.
Perulangan harian juga diuraikan pada gunung lumpur lainnya (e.g.Jakubov et al., 1971), namun durasi total semburan jarang lebih dari beberapa hari.
Analogi yang terbaik untuk perulangan dari LUSI adalah sistem panas bumi (hydrothermal systems).
Dimana fluida disemburkan setelah siklus pendidihan dan seketika melepaskan tekanan.
Jumlah gas H2S yang dideteksi selama fase awal dari erupsi dan secara sistematik meningkatkan aktivitas puncak.
Hal ini mendukung hipotesis bahwa fluida mencul dari satuan yang lebih dalam.
Belum ada indikasi bahwa sistem pengaliran Lusi (the LUSI plumbing system) langsung.
Berkaitan dengan busur gunung api yang berlokasi di selatannya.
Walaupun secara umum mempunyai gradien geothermal di daerah yang tinggi, bisanya berhubungan dengan proses magmatisme.
Belum terdapat bukti untuk menjelaskan pergerakan fluida pada kedalaman yang besar sebagai daya pengendali erupsi (cf. Hovland et al., 2006).
Berdasarkan data yang tersedia, dipercaya bahwa perulangan aktivitas LUSI dan temperatur yang tinggi mencerminkan perilaku quasi-hydrothermal dari sistem semburan.
Satu tahun setelah terjadinya awal semburan, LUSI masih terus menyembur dengan dahsyat.
Pada bulan Juni 2007 semburan gunung sebesar 111.042 m3/h dan rata-rata penenggelaman mencapai 10,7 m.
Salah atu hal yang menarik bahwa kandungan air secara gradual berkurang menjadi 30%.
Dengan sisanya terdiri dari lumpur dan klastik membulat baik (well rounded clasts) dari lempung abu-abu berasal dari Formasi Kalibeng Atas (i.e. tipe breksi lempung dierupsikan dari gunung lumpur).
Kebundaran dari klastik breksi lumpur diuraikan sebagai hasil litifikasi yang sangat buruk, dari formasi ini dan adanya naiknya material.
Pada Februari 2007 perulangan dari semburan yang kuat terjadi setiap 1,5 jam.
Dimana merupakan interval yang lebih tinggi yang direkam pada September 2006 (i.e. setiap 30 menit).
Walaupun observasi kunci ini menunjukan bahwa gunung telah menunjukan secara lambat berkurang energinya (Although these key observations might suggest that the volcano is slowly reducing its energy ,
Secara gradual berhenti (and gradually switching off,)
Namun suatu jumlah besar material padat Lusi, akan dihadapkan pada kondisi bencana untuk kawasan ini (a large amount of erupted solid material poses hazardous conditions for the area).
Karena terjadi peningkatan viskositas dan komponen klastik.
Sehingga puluhan armada excavators secara berkelanjutan harus menyerok breksi lumpur dan menggerakannya kearah selatan.
Dalam upaya untuk mengurangi tenaga semburan, bulan Maret 2007 proyek baru mulai memasukkan bola beton ke dalam kawah.
Bentuknya melingkar (densitas 2,4 g/cc) dengan diameter antara 20–40 cm, dihubungkan dengan suatu gabungan empat bola (two of 20 cm and two of 40 cm in diameter) dan telah diberi lapisan kimia dalam upaya untuk mengurangi disolusi kimia.
374 rangkaian telah diinsersi dan 24 keluar dari 500 yang direncanakan pada fase kedua.
Bola-bola tampaknya telah mencapai kedalaman 300 m dan beberapa mencapai kedalaman 1000 m.
Namun, tampaknya kecepatan aliran tidak nampak menurun secara signifikan dengan insersi tersebut.
Proyek terakhir adalah upaya membangun tanggul pemanen disekitar kawah, dengan diameter 120 m dengan ketingian 50 m dan tebal 10 m.
http://lusibencanamanfaat.blogspot.com/2012/01/mazzini-2007-figures-caption-modified.html