CAPE TOWN AFRIKA SELATAN:
DIPICU GEMPABUMI ATAU PEMBORAN
POSISI KUBU PEMBORAN
Wakil Kepala Bapel BPLS
Oktober 2008
KUBU PEMBORAN MERUPAKAN KOLABORASI dari ahli kebumian dan perminyakan yaitu:
Davies, R (Kepala)., Brumm, M (Amerika)., Manga, M (Amerika)., Rubiandini, R (Indonesia)., Swarbrick, R. & Tingay, M (Australia).
Judul makalah dan penulis yang akan dipaparkan sebagai ‘serangan’ terhadap Kubu Gempa berturut turut adalah:
1. M. Tingay, O. Heidbach, R. Davies, R. Swarbrick: The Lusi Mud Eruption of East Java
2. R. Davies, M. Brumm, M. Manga, R. Swarbrick, R. Rubiandini, and M. Tingay: The East Java Mud Volcano (2006 to Present): An Earthquake or Drilling Trigger?
Pernyataan dari Kubu Pemboran bahwa lusi dipicu oleh kegiatan eksplorasi sumur BJP-1 yang sangat gencar di media massa, terutama menjelang Ulang Tahun ke 2 Lupsi, tanggal 29 Mei 2008, antara lain:
· Hasil penelitian baru dari gabungan akademisi menyatakan sebagai kesalahan manusia (human error): Publikasi penelitian baru asal usul, penyebab dan pemicu Lupsi dari Kubu Pemboran, oleh akademisi Inggris, Amerika dan Australia mengkonfirmasi bahwa semburan Lupsi sebagai kesalahan manusia (blames human error).
Gambar 1. War-game Kubu Pemboran yang akan offensive menyerang Kubu Gempa dengan dua jurus: 1) rasionalisasi pemicu gempabumi, dan 2) pelaksanaan Pemboran sumur BJP-1.
· Kayakinan 98% mud volcano sebagai kesalahan pemboran pada kegiatan eksplorasi: Disebutkan bahwa sekarang Para Peneliti mengatakan bahwa mereka 98 persen yakin bahwa telah terjadi kesalahan pada lokasi kegiatan eksplorasi sumur BJP-, sehingga memicu mud volcano yang saat ini telah tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat (The scientists say they're now 98 per cent certain that mistakes made at the mine site triggered the seemingly mud volcano).
· Rasionalisasi bahwa Lupsi Mud Volcano dipicu oleh pemboran sumur eksplorasi: Saat ini Kubu Pemboran dipimpin Davies telah mempunyai data baru yang rinci tentang pemboran. Sehingga sangat percaya diri menyebutnya ‘sangat pasti bahwa semburan Lupsi dipicu oleh pemboran dari sumur eksplorasi’.
1. Memperhatikan bahwa dengan sosialisasi yang telah dilakukan secara luas, komprehensif, dan integral sejak tahun 2007, maka Kubu Pemboran akan lebih bersifat menyerang (striking);
2. Kubu Pemboran diperkirakan akan menyerang terhadap 2 aspek:
a. Bahwa hasil kajian seksama antara hubungan gempa dengan tekanan (pressure) sebagaimana yang dilakukan Tangay dkk., (2008) menyimpulkan bahwa kekuatan gempa sangat kecil dan jarak pusat gempa sangat jauh. Sehingga perhitungan yang dihasilkan menunjukkan bahwa perubahan tekanan statik dan dinamik sangat kecil untuk dapat mereaktifasikan struktur yang telah ada (dalam hal ini Patahan Watukosek).
b. Dengan menggunakan data baru pemboran sebagamana dipresentasikan pada Mazzini et al., 2008, memperkuat kesimpulan sebelumnya bahwa terdapat masalah pada pelaksanaan pemboran sumur BJP-1 antara lain ‘Kick’, dengan dikombinasikan tidak dipasangnya casing pada bagian bawah sumur pemboran sehingga akhirnya terjadi underground blow out, lahirlah ‘man made mud volcano’.
3. Pada analisisnya Tangay sebagai pembicara dari Kubu Pemboran yang pertama akan menguji dua hipotesis: (1) Hipotesis pertama, Lupsi dipicu gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, dan (2) Hipotesis kedua, semburan liar, Lupsi telah dipicu oleh semburan liar (blow out), mengikuti masalah pemboran yang berlangsung di dekat sumur Banjar Panji-1. Pemilihan opsi sebagai kesimpulan adalah Hipotesis 2, Lupsi dipicu semburan liar sumur BJP-1.
Gambar 2. Even pemboran yang penting ditampilkan Kubu Pemboran, yang sampai pada kesimpulan terjadi pecahnya formasi dan Lupsi menyembur keluar dari kedalaman 1091m (dimodifikasi dari Davies dkk., 2008).
4. Davies dkk., (2008) sebagai pintu masuk pada kesimpulan akhir akan menguji 3 alternatif pembentukan Lupsi: Alternatif-1 Pemicu tanggal Gempabumi (Earthquake sole trigger), Alternatif-2 (Gambar 2) Operasi Sumur (Well operations), Alternatif-3 Kombinasi dari gempabumi dan Pemboran (Combination of earthquake and drilling). Pemilihan opsi sebagai kesimpulan dari Davies dkk., (2008) adalah Alternatif-2, Lupsi dipicu oleh operasi sumur BJP-1.
5. Dengan kepercayaan yang tinggi Davies akan menyajikan even pemboran mulai pra gempa (sebelum 27 Mei 2006), saat gempa (27 Mei), dan sampai lahirnya Lumpsi (29 Mei 2006), dengan menguraikan titik kritis seperti loss circulation, pemboran macet, penarikan bor, kick, saat kritis diasumsikan pecahnya formasi bawah permukaan, langkah mematikan sumur, dan saat-saat evakuasi anjungan BJP-1 (Lihat Tabel Matrik).
a. Pada tanggal 27 Mei 2006 di tengah malam, sampai pagi harinya tanggal 28 Mei 2006, terjadi beberapa masalah besar pada operasi pemboran.
· Operasi pemboran telah mengalami apa yang disebut suatu ‘kick’, yaitu masuknya gas dan air ke dalam lobang bor.
· Hanya ada satu cara untuk dapat menghentikan kick dari gas dan air yang mengalir ke permukaan, yaitu dengan menutup klep di permukaan.
· Catatan tekanan saat klep tersebut ditutup, berada pada titik kritis (critical points), bagian di bawah tanah mulai mengalami perekahan (fracturing).
· Sehingga terjadi rekahan-rekahan dan berpropagasi ke bawah (Formasi Kujung?) dan ke permukaan (melalui Formasi Kalibeng?).
b. Pada pagi berikutnya, 29 Mei 2006, air lumpur dan gas mulai menyembur.
Tingay dkk. (2008) menyakini bahwa tidak ada suatu metoda yang diketahui (knowing method) yang layak untuk dapat mendukung hipotesis gempabumi Yogyakarta dapat memicu semburan lumpur.
Sekaligus menyatakan bahwa semburan liar di sumur Banjar Panji-1 sangat layak dikendalikan oleh mekanisme untuk memicu semburan Lusi.
Gambar 3: Artikel Tingay dkk., (2008) pada situs Geosciences Word, Geological Society of America, Agustus 2008, yang dipilih oleh AAPG sebagai baseline Kubu Pemboran pasca paparan artikel dari Kubu Gempa (Davies dan Istadi).
· Pertama, hipotesis gempabumi.
o Semburan Lupsi telah dipicu oleh gempa bumi dengan kekuatan Mw 6,3 yang menyerang Yogyakarta (jarak 250 km dari Lusi) dua hari sebelum semburan.
o Namun, suatu pengujian terhadap perubahan tekanan statik dan tekanan dinamik (static and dynamic stress changes) serta mekanisme pemindahan tekanan (stress transfer mechanisms), menunjukkan bahwa gempabumi Yogyakarta terjadi dengan order intensitas sangat kecil.
o Sehingga sangat sedikit kemungkinannya untuk dapat mengaktifkan kembali patahan (reactivation fault) dan membuka suatu jalan keluar (berupa rekahan) bagi aliran fluida yang berada di bawah Lupsi, untuk selanjutnya berpropagasi ke permukaan.
· Kedua, Hipotesis Semburan Liar.
o Sebagai alternatif teori, dipercaya bahwa Lupsi telah dipicu oleh semburan liar (blow out), mengikuti masalah pemboran yang berlangsung di dekat sumur Banjar Panji-1.
o Semburan liar yang terjadi adalah akibat tidak mampunya mengontrol masukannya fluida pori (pore fluid intakes) ke dalam lubang bor (Gambar 2);
o Terjadi ketika jendela pemboran ‘drilling window’ (tekanan rekahan dikurangan tekanan pori mendekati nol) dan ketika tidak ada perlindungan casing yang memadai pada lubang bor.
o Data tekanan rekahan dan pore and fracture pressure data dari sumur Banjar Panji-1 mencirikan bahwa sumur telah mendekati jendela pemboran hanya pada angka 0-2,3 MPa.
o Lebih jauh lagi, dua rencana pemasangan titik casing telah dilewatkan selama pemboran, menghasilkan 1742 m lubang bor tidak terlindungi.
Tekanan yang terjadi di sumur bor karena adanya masalah pemboran di sumur Banjar Panji-1, sehingga mencapai intensitas yang lebih besar dari tekanan rekahan (fracture pressure). Akibatnya menciptakan jalan (pathway) aliran fluida di bawah permukaan.
· Gempa bumi yang terjadi itu bukan bersifat lokal. Tapi berjarak sejauh 280 km dari pusat semburan Lupsi, dengan intensitas 6,3 Mw.
· Hal tersebut telah ditunjukkan oleh Michael Manga, Profesor di Universitas Berkeley yang menyatakan bahwa gempabumi ini sangat kecil (intensitasnya) dan sangat jauh (jaraknya).
· Dalam bagian pertama dari paper makalah yang telah dipublikasikan sebelumnya (Davies dkk., 2007), telah diperlihatkan bahwa gempabumi Yogyakarta benar-benar sangat kecil dan sangat jauh lokasinya.
· Pada bagian kedua dari makalah tersebut telah dibuka semua data dan semua fakta tentang apa yang terjadi dengan pemboran pada sumur eksplorasi ini. Yang sampai pada kesimpulan Lupsi lebih dipicu oleh sumur eksplorasi BJP-1 sehingga menimbulkan man made mud volcano Lupsi yang sekarang.
Pada Artikel utama terbaru Kubu Pemboran berjudul Mud Volcano Jawa Timur (2006-Sekarang): Dipicu Gempabumi atau Pemboran dengan susunan penulis Richard J. Davies, Maria Brumm, Michael Manga, Rudi Rubiandini, Richard Swarbrick, and Mark Tingay., 2008, sebagai pintu masuk (entry points) dijajaki tiga alternatif skenario pemicu Lupsi yaitu: 1) pemicu tunggal gempabumi, 2) pemicu tunggal pemboran sumur eksplorasi BJP-1 dan 3) kombinasi dipicu oleh gempabumi dan pemboran.
Berdasarkan pada kegempaan masa lalu dan respon gempabumi yang dapat didokumentasikan, Davies et al., (2008) mengambil kesimpulan, tidak percaya dengan kesimpulan yang dibuat oleh Mazzini et al., (2007) bahwa gempabumi Yogyakarta mengaktifkan kembali zona patahan (fault zone reactivation) dengan jurus Timurlaut-Barataya, yang dikatakan melintas pada lokasi sumur, serta menyebakan terjadinya semburan.
· Membandingkan dengan gempabumi sebelumnya sebagai pemicu mud volcano, gempabumi dengan kekuatan 6,3 Mw terjadi 27 Mei 2006 sangat terlalu kecil dan berjarak sangat jauh untuk memicu semburan.
· Dalam kaitan ini terdapat gempabumi dengan intensitas yang jauh lebih besar dan pusat gempanya yang lebih dekat, tapi tidak memicu terjadinya semburan.
· Perubahan pada tekanan pori disebabkan oleh perubahan tekanan statis yang disebabkan oleh gempabumi tersebut hanya ~10 Pa, sehingga besaran tersebut dapat diabaikan.
· Perubahan tekanan Coulomb dari gempabumi Yogyakarta sangat terlalu kecil, namun telah memberikan sinyal yang salah, bila ia dapat mengaktifkan kembali sesar gerakan mengkiri (left-lateral fault).
· Pembelokan rel kereta yang menurut Mazzini et al., (2007) diuraikan sebagai bukti dari pergerakan, ternyata dibentuk beberapa bulan setelah mulai semburan. Tidak selama gempabumi Yogyakarta (dibahas pada artikel Abidin dkk., 2008).
Kesimpulan:
· Perubahan tekanan yang ditimbulkan gempabumi sebagai mekanisme tunggal adalah cukup kecil, sehingga Kubu Pemboran menyimpulkan bahwa skenario ini dapat untuk tidak diperhitungkan.
· Alasan paling kuat menentang gempabumi sebagai pemicu adalah bahwa gempa lain, dimana lebih besar, dan lebih dekat, dan menimbulkan goyangan yang lebih kuat, ternyata tidak menimbulkan semburan.
Rasionalisasi kombinasi gempa dan pemboran
· Enam jam setelah gempabumi terjadi even hilangnya lumpur secara signifikan (mud losses). Tapi hilangnya lumpur tersebut telah disebabkan oleh pemboran ke batuan yang mempunyai rekahan atau rongga-rongga di dalam batugamping seperti Formasi Kujung. Atau karena berat lumpur telah terlalu tinggi. Sebagai catatan bahwa Kubu Gempa tetap pada pandangannya bahwa BJP-1 tidak menembus Formasi Kujung.
· Diakui bahwa kejadian hilangnya lumpur sirkulasi (mud circulation losses) tersebut secara sukses dapat diatasi.
Kesimpulan:
· Tidak ada buki-buki yang mendukung untuk melemahnya lubang bor selama gempabumi atau setelah gonjangan (shaking).
· Sehingga kubu pemboran menyimpulkan bahwa sangat kecil bukti-bukti yang mendukung bahwa Lupsi dipicu oleh kombinasi dampak dari pemboran dan gempabumi.
Gambar 4. Ringkasan stratigrafi pemboran sumur Banjar Panji 1, dan rencana versus rancangan aktual casing. Sumber Davies dkk., (2008, gambar 2).
Keterangan Penting Gambar:
· Kunci kedalaman 1091m adalah kedalaman terbesar dari sepatu casing dan 1293m kedalaman pada 29 Mei 2006 dimana mata pemboan macet.
· Bagian terbawah 1734 m dari sumur eksplorasi tidak dilindungi oleh casing.
Pernyataan bahwa pemboran telah menimbulkan kebocoran formasi
· Kubu Pemboran mempunyai bukti langsung (diret evidence) terhadap terjadinya kebocoran lumpur yang masuk ke lapisan sedimen di sekitarnya (formasi).
Gambar 5: Grafik tekanan hidrostatik diplot terhadap kedalaman, Sumber Davies et al., (2008) gambar 9.
Keterangan Penting:
· grafik dari tekanan di dalam sumur bor selama masuknya cairan formasi terhadap kedalaman,
· grafik kedalaman dan tekanan di dalam sumur bor setelah masuknya air dan gas formasi, diasumsikan bahwa tiga perbedaan konsentrasi dari campuran fluida dan gas dengan lumpur pemboran diplot terhadap kedalaman.
· Leaks off test LOT sebesar 21,06 MPa dilakukan pada kedalaman 1091 m dicirikan oleh grafik dengan garis tegak abu-abu.
· Daerah lingkaran memperlihatkan bahwa tekanan di dalam lubang bor setelah masuknya fluida formasi telah melebihi dari tekanan pada LOT, selanjutnya dilakukan pengaktivan the blow out preventors pada tanggal 29 Mei 2006.
· Bocoran ini tampaknya berawal ketika operasi sumur dihentikan, dimana saat itu tekanan di dalam lubang bor telah mencapai tingkat tertinggi (critical pressure).
· Kebocoran ke batuan sekitarnya umumnya terjadi oleh suatu proses rekahan hidrolika (hydrolic fracture) dimana tekanan cairan melampaui tekanan minimum utama dan tensile strength dari batuan. Rekahan akan berpropagasi ke permukaan bila aliran yang konstan dari tekanan cairan tinggi dapat dilampaui.
· Kebocoran tersebut diperkirakan terjadi dari sejak pagi tanggal 28 Mei 2006, sampai pagi hari 29 Mei 2006, ketika air dan percampuran gas dan lumpur tampak terlihat ke permukaan (Lihat Matrik Even Pemboran).
· Arah kelurusan semburan (terhadap kelurusan struktur utama Patahan Watukosek), memberikan kepercayaan bahwa beberapa bagian dari aliran Lupsi berlangsung dari struktur yang lemah (weakness zone). Dimana mempunyai kelurusan berarah Bimurlaut-Baratdaya atau bahwa rekahan berkembang secara orthogonal terhadap arah tekanan utama.
· Tampaknya kebanyakan mekanisme untuk kick adalah lumpur tidak mampu digunakan untuk mengganti volume dari pipa pemboran yang telah diekstaksi pada 27 Mei dan 28 Mei 2006 (Gambar).
Gambar 6. Ringkasan operasi kunci (Summary of key operations), berat lumpur dan shut in tekanan di dalam pipa antara 27 mei 2006.
Gambar 7. Ringkasan operasi kunci (Summary of key operations), berat lumpur dan shut in tekanan di dalam pipa antara 27-28 mei 2006.
Gambar 8. Ringkasan operasi kunci (Summary of key operations), berat lumpur dan shut in tekanan di dalam pipa antara 28 mei dan 29 Mei 2006.
Penjelasan Gambar:
(1) A. Selama pemboran pada tanggal 27 Mei terjadi total loss of returns, material pengontrol hilang (loss control material) yang digunakan untuk menghentikan ‘losses’. Keputusan yang diambil adalah mencabut mata bor dan pipa bor (to retrieve drill bit and drill pipe).
(2) B. Selama menarik mata bor, ditafsirkan bahwa fluida dan/atau gas telah masuk kedalam lubang.
(3) C. Ketika mencapai kedalaman 1293 m mata bor macet terjadilah kick (masuknya kedalam sumur bor fluida atau gas atau keduanya kedalam lubang bor).
(4) Sumur dimatikan dan tekanan berada pada 2,41 dan 3,10 MPa diukur didalam pipa. Tekanan ini bila ditambahkan dengan perbesaran tekanan oleh fluida pemboran di bawah bagian terdalam dari titik casing adalah lebih besar daripada leak off test yang telah dilaksanakan pada kedalaman 1091 m.
(5) Catatan Gambar C: Tanggal 28 Mei 2006 tekanan pada kedalamanan 1091m sebesar 27,01 MPa. Rumus Perhitungan: Pressure=MPa m-1 X depth + exess pressure; selanjutnya perhitungan Pressure = (0,0181 MPa m-1 X 1091 m) + 7,27 MPa = 27,01 MPa
(6) Sehingga disimpulkan bahwa tekanan sebesar 27,01 MPa tersebut lebih besar dari 21,03 MPa yang merupakan fracture strength pada kedalaman 1091 m.
(7) Karena itu selama proses shut in pada tanggal 29 Mei 2006, telah berkembang rekahan di bawah kedalaman ini.
(8) Selanjutnya rekahan tersebut telah menyediakan hubungan langsung dengan batugamping Formasi Kujung, dan lumpur bertekanan lebih (overpressure) pada kedalaman 1323 m sampai 1871m (Mazzini et al., 2007) mengalir ke permukaan.
(9) Lumpur, gas, uap dan air mulai menyembur ke permukaan pada 29 Mei 2006, maka lahirlah man made Mud Volcano Lupsi!.
Rasionalisasi
Untuk meyakinkan bahwa Kubu Pemboran mempunyai informasi yang relevan, pada artikel Davies et al., 2008 dilampirkan ringkasan dari even yang terjadi setelah casing berdiameter 33, 97 cm telah ditempatkan disajikan pada Tabel 1. di bawah ini. Dibagi menjadi : 1) Even pra-semburan Lupsi 26-27 Mei 2006 sampai saat hilangnya sirkulasi lumpur diikuti mencabut mata bor, 2) Even pra semburan 28 Mei 2006 saat mencabut mata bor dan terjadinya Kick, 3) Even terjadinya semburan sampai evakuasi sumur BJP-1 29 Mei-3 Juni 2006.
Tabel 1. Even Kunci
Event 29 Mei-3 Juni (pasca semburan Lupsi)
Gambar 10: Perbedaan hasil perhitungan tekanan yang merupakan salah satu kontroversi aspek operasi pemboran BJP1.
Salah satu kontroversi yang sangat tajam antara Kubu Gempa dan Kubu Pemboran adalah sumber data dan asumsi yang digunakan untuk menghitung tekanan dalam sumur BJP-1, merupakan informasi penting untuk mengkaji apakah terbentuk rekahan pada formasi sebagai akibat dilampuinya ambang batas fracture strength.
Pada gambar di bawah ini divisualisasikan head to head debat antara Kubu Gempa (mengganggap ada kesalahan asumsi dan perhitungan) dan Kubu Pemboran, yang menganggap mempunyai data kunci baru sehingga perhitungannya pada paper Davies et al., (2008) mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi (diklaim sampai 98%).
Keterangan Penting tentang substansi head to head tekanan sumur pada Gambar 10 adalah:
1. Sanggahan yang oleh Kubu Gempa terhadap data dan asumsi yang tidak tepat oleh Kubu Pemboran.
2. Perhitungan ulang dari Kubu Gempa, menunjukkan tidak menghasilkan adanya pecahnya formasi; (Sumber 1 dan 2 Eddy, Seminar Solusi Lupsi Februari 2008., dan B. Istadi, presentasi tim deformasi BPPT, September 2008),
3. Model tekanan pada 28 Mei pada kedalaman 1091 m dengan hasil tekanan 27,1 Mpa > dari fracture strength sebesar 21,03 MPa
4. Plot perhitungan tekanan dalam casing, diasumsikan lebih besar dari Leak off test pada kedalaman 1091m (3 dan 4 sumber Sumber Davies et al. 2008)
Dengan asumsi bahwa batugamping Kujung merupakan akuifer regional (dimana tampaknya memberikan tekanan Kecepatan tinggi berlanjut pada Lupsi).
Diperkirakan tekanan berlebih ~ 21 MPa pada dasar dari sumur Banjar Panji-1 yaitu pada kedalaman 2830 m.
Sumur bor itu sendiri menyediakan hubungan tekanan dari batugamping pada akuifer lebih dangkal juga lumpur bertekanan lebih pada Formasi Kalibeng Atas.
Ditentukan bahwa tekanan pori (pore pressure) sebesar 38 MPa (5500 psi) pada kedalaman 2130 m di sumur Banjar Panji-1 (pada 2300 psi).
Diusulkan bahwa peboran pada batugamping bertekanan lebih menyebabkan masukan fluida rongga kedalam sumur bor (diketahui sebagai suatu ‘kick’). Catatan: di sini kembali penekanan bahwa BJP-1 menembus Formasi Kujung!.
Pada sumur Porong-1, digunakan tekanan 48 MPa (6970 psi) pada kedalaman 2597m untuk menghitung suatu tekanan berlebih ke 31 MPa dalam batugamping Kujung.
Semburan bermula terjadi dengan uap dan air, namun tidak keluar melalui lubang sumur. Tapi terjadi pada lokasi yang berjarak sejauh 200-1000 m.
Ditentukan bahwa rute pengangkutan uap dan lumpur tidak melalui lubang bor BJP-1, tapi melalui sekitar batuan penutup (Formasi Kalibeng Atas?).
Tekanan pori yang tinggi telah menyebabkan rekahan hidrolik (hydraulic fracture) mulai dari penutup sedimen (sediment cap), ketika tekanan rongga melebihi kekuatan rekahan (fracture strength). Kondisi ini memungkinan untuk membentuk rekahan-rekahan hidrolik yang sangat mungkin terbentuk pada strata terdangkal yang tidak dilindungi casing.
Diusulkan bahwa rekahan-rekahan terbentuk pada Formasi Kalibeng Atas dan berpropagasi dari kedalaman 1-2 km ke permukaan.
Kedalaman tersebut didukung oleh temperatur dari semburan campuran lumpur-air, yang mencapai 70-100oC, diindikasikan oleh pengangkutan yang cepat dari kedalaman 1,5 ke 3 km. Diasumsikan dengan suatu gradien panas bumi (geothermal gradient) sebesar 25o/km dan temperatur permukaan sebesar 28oC.
Gunung lumpur Lusi memperlihatkan empat tahapan pengembangan. Satu dari tiga diagram menggambarkan evolusi antara bulan Mei-Desember 2006 (A-C), dan diagram keempat diagram (D) memperlihatkan perkiraan fase evolusi yang berikutnya,
Maret sampai Mei 2006:
Sumur Banjar Panji-1 dibor kearah Formasi Kujung, melalui lapisan lumpur (Formasi Kalibeng) bertekanan lebih (overpressure) dan selingan pasir dengan lumpur;
Mei 2006:
Karbonat dari Formasi Kujung ditebus, dimana menyebabkan kick (masuknya fluida ke dalam lubang bor). Hal ini tidak sesuai dengan Mazzini dkk., (2007).
Pasca 2007:
Kawah terbentuk sekitar cerobong (vent), dan terjadi amblesan halus menyerupai keruntuhan (gentle sag-like subsidence) dari kawasan dimana aliran lumpur panas berlangsung. Puncak lumpur kecil (smaller mud cones) kemungkinan disemburkan sebagai hasil pengembangan dari saluran (conduit). Karena foundering dari stratigrafi penutup.
Masuknya air pori ke dalam lubang bor kemungkinan berasal dari batugamping Kujung, tapi suatu lumpur berat pemboran telah dipindahkan kedalam rekahan. Sehingga fluida mulai mengalir dari Formasi yang lebih berporositas dan dapat dialiri air pada batuan penutup.
Mengalirnya fluida melalui suatu media lumpur bertekanan tinggi (dan karena berada pada kondisi undercompacted), lumpur akan menggerus sedimen yang tidak terlitifikasikan (unlithified sediment). Proses ini juga akan mengkontribusikan rongga air untuk tercampur.
Proses entrainent telah diusulkan untuk mud volcano di UK. Contohnya, dimana air dari akuifer di bawahnya melewati penutup yang kaya lumpur, menyebabkan terbentuknya suatu sistem subterranean cavern.
Proses umum yang sama juga telah diusulkan oleh Deville et al. (2003) untuk gunung Lumpur di Trinidad. Diperkirakan bahwa runtuhnya lapisan lumpu dari Formasi Kalibeng Atas akan mengkontribusikan pada proses-proses percampuran air-lumpur.
Dipercaya bahwa air panas pada dimensi yang luas akan memungkinkan berkembangnya sel konveksi (convection cells), dimana akan memberikan proses percampuran (a.l., Deville et al., 2003).
Hasil dari percampuran air-lumpur adalah bergeraknya ke atas rekahan-rekahan saat sedimen mengalir dengan lumpur berada pada kondisi suspensi.
Percampuran berawal untuk menyemburkan lumpur ke permukan, yang dikendalikan oleh tekanan berasal dari fluida pori (pore fluids) dalam batugamping Kujung.
Percampuran mekanisme untuk mud volcano kemungkinan telah menyebabkan sangat dilute komposisi dari percampuran air-lumpur dan aspek rasio dari aliran.
Erosi dari dinding pada rekahan-rekahan juga tampaknya telah berperan (kasus yang juga terjadi pada mud volcano lainnya). Karena itu semburan utama akan tumbuh ke atas dan lateral, secara periodik akan runtuh ke dalam.
Bila diasumsikan terdapat suatu kolom sedimen pada kedalaman 2830m, selanjutnya semburan dari lumpur-air tercampur dan mempunyai densitas 1,3 gsm-3.
Berdasarkan rasio air:lumpur sebesar 80:20, kolom lumpur tersebut akan mencapai tekanan 36 MPa (5225 psi) pada dasar dari lubang eksplorasi Banjar Panji-1.
Tekanan diasumsikan sebesar 12 MPa kurang dari perkiraan dari tekanan di dalam batugamping (48 MPa). Karena itu tampaknya bahwa aliran yang diamati dikendalikan oleh perbedaan tekanan.
Dalam model Mud Volcano Lupsi, Formasi Kujung memegang peran sangat penting. Namun hal ini disanggah oleh Mazzini dkk., 2007 bahwa BJP-1 tidak menyentuh atau menembusnya. Arti penting Formasi Kujung dalam model mud volcano Lupsi versi Kubu Pemboran adalah:
· Kira-kira kedalaman di bawah 3000m tedapat formasi batugamping (limestone formation) yang disebut sebagai ‘Batugamping terumbu Kujung’ (Kujung Limestone – Reef).
· Kujung Limestone merupakan suatu akuifer (lapisan dengan porositas dan permeabilitas yang baik sehingga sangat ideal untuk mengalirkan fluida atau gas) yang menakjubkan (fantastic aquifer).
· Formasi Kujung mempunyai permeabilitas yang tinggi (high permeability), artinya air dapat dengan mudah mengalir.
· Batugamping Kujung tersebut telah bocor ke arah atas, masuk ke dalam batulempung yang berada pada kedudukan kurang lebih 33m lebih tinggi.
· Selanjutnya ia mengikis (erosion) batulempung dan membawanya ke permukaan.
· Mekanisme pengaliran, pengikisan, dan penyemburan ke permukaan tersebut dikendalikan oleh terdapatnya tekanan (pressure) gas di dalam campuran lumpur-air.
· Gas tersebut juga kemungkinan menyediakan mekanisme pengangkatan dengan cara yang sama seperti gunung magma (magmatic volcano).
· Semburan mud volcano telah berlangsung lebih dari dua tahun hampir tanpa terputus. Sehingga mempunyai makna bahwa ia mengalir pada suatu akuifer yang sangat baik (yang dimaksud adalah Formasi Kujung).
· Davies memperkirakan berapa lama lagi ia dapat berlanjut menyembur, dengan memperhatikan pada 3 indikator, yaitu: (1) akuifer, (2) tekanan awal (initial pressure) di dalam akuifer, dan (3) berapa lama lagi akan berlangsung dimana tekanan (overpressure) akan menurun menjadi normal (normal pressure).
· Faktanya setelah lebih dari dua tahun semburan mud volcano terus berlangsung tanpa memperlihatkan sinyal berhenti.
· Karena itu, Davies berpikir bahwa fenomena semburan mud volcano akan berlangsung terus beberapa tahun ke depan.
· Walaupun tekanan telah menipis, namun akan tetap ada gas dalam sistem. Gas menyediakan mekanisme pengangkatan seperti halnya bila kita mengocok botol Coca Cola. Gas akan menarik lumpur ke atas. Itu akan memberikan efek pengapungan.
Bencana Lupsi yang telah berlangsung dua tahun, sebegitu jaut belum/tidak dapat diatasi. Sehingga menurut Davies, mungkin semburan Lupsi akan dapat berlangsung sampai waktu dekade (probably for decades).
Pemahamanan terhadap episode semburan utama memerlukan waktu tahunan, relative lambat. Sementara itu bualan (bubbling) kemungkinan bisa berlangsung pada beberapa dekade.
· Disebutkan bahwa peluang (rasio keberhasilan) untuk menghentikan semburan Lupsi kemungkinan sudah pergi dan sekarang hal penting adalah berapa lama lagi akan terjadi dan selanjutnya dari sana membuat perencanaan ke depan. (I think the chance of stopping it are probably gone and now it's a matter of finding out how long it will last for and then planning forward from there).
· Hal yang paling signifikan dari temuan Michael Manga adalah banyak tremor gempabumi di Indonesia yang memungkinkan, tapi tidak menyebabkan menekan lumpur, air dan gas ke permukaan sumur di Jawa timur.
· Banyak gempa lebih yang besar dan lokasi lebih dekat dari Lusi tapi tidak menimbulkan semburan: Banyak gempabumi yang bisa menyebabkan semburan itu. Namun khususnya dengan gempabumi yang satu ini (Yogyakarta), cukup mengejutkan bahwa terlalu jauh dan kekuatan terlalu kecil untuk menyebabkan semburan.
· Kubu Pemboran mempunyai keyakinan (degree of confidence) lebih dari 90 persen. Karena menurut Tingay (2008) tidak dapat melihat suatu alternatif mekanisme yang tersedia, sehingga gempabumi dapat menyebabkan semburan Lupsi.
· Rekaman memberikan kepastian dan analogi dengan peristiwa semburan lainnya: Dan apa yang telah dilihat pada rekaman pemboran adalah seperti halnya yang dapat dilihat sebagai suatu hasil dari buatan manusia lainnya. Hal ini sama seperti semburan pada skala yang kecil telah terjadi dimana-mana (dimaksudkan blow out dari kegiatan eksplorasi migas, suatu hal yang bisa terjadi setiap saat).
· Semburan Lupsi dengan kecepatan aliran sangat tinggi (highly flow rate) dan berlangsung dengan durasi yang panjang (long duration of time) terjadi hampir tanpa henti (without significantly stoped). Fenomena ini dari tumbuh dan berkembangnya suatu mud volcano merupakan hal yang sangat tidak lumrah.
Gambar 12: Suatu pelajaran (lesson learn) dari mud volcano di lepas pantai Brunei pada Champion Field, dimana telah terjadi underground blow out, yang memerlukan waktu lebih dari 20 tahun untuk menghentikan, dan digunakan lebih dari 20 relief well.
· Terhadap semburan Lupsi maka Mark Tangay berspekulasi akan terus terjadi sepuluh tahun, ratusan, bahkan bisa mencapai ribuan tahun ke depan!
· Mark Tingay dalam publikasinya (lihat Kapeta Selekta) menunjukkan analogi Lupsi dengan Champion Field Blowout offshore Brunei, dimana untuk menghentikannya memerlukan waktu 20 tahun, dan telah menggunakan puluhan relief well (Gambar 12).
· Disamping itu yang menarik, Mark Tangay menggambarkan bahwa lokasi underground blow out di Champion Field tersebut terjadi di dekat lokasi pemboran. Disertai dengan rekahan-rekahan (fracture), sehingga menurutnya mempunyai analogi dengan semburan Lupsi.