2009 DINAMIKA LUSI JUNI
DINAMIKA LUSI JUNI 2009
UMUM
Gambar 1.1 Kunjungan Dewan Pengarah ke BPLS
Laporan Kemajuan Bapel BPLS status Juni 2009, mencakup even ‘Peringatan Mengenang 3 Tahun Semburan Lumpur Panas di Sidoarjo’, tepatnya terjadi pada 29 Mei 2006.
Berkenaan dengan even tersebut dapat dicermati adanya peningkatan kembali perhatian masyarakat luas terutama berasal dari dalam negeri, terhadap kondisi penanggulangan Lusi yang terus berlangsung sampai pada durasi semburan bulan ke-36.
Kecenderungan ini berbeda dengan even peringatan semburan Lusi tahun 2008 yang lalu. Saat itu sangat gencar pandangan, opini, rasa simpati yang datang terutama dari luar negeri pada korban bencana Lusi.
Pandangan menjurus negatif yang banyak ditujukan kepada Pemerintah atau Bapel BPLS pada momen 29 Mei 2009 tersebut, antara lain dilatarbelakangi oleh kondisi dan isu aktual yaitu:
1) Ekspektasi masyarakat yang demikian tinggi bahwa fenomena Lusi merupakan suatu kejadian yang tidak terlalu istimewa.
2) Sehingga penyelesaiannya diharapkan dapat ditentukan secara lebih pasti, termasuk dengan peta perjalanan dan kerangka waktu secara tetap yang ditentukan sebelumnya;
3) Fakta bahwa memasuki durasi bulan ke-36 semburan dan luapan Lusi masih terus berlangsung dengan dahsyat.
Bahkan diikuti dengan dampak berganda, yaitu deformasi geologi dengan intensitas yang signifikan walaupun berfluktuatif. Sehingga terbangun suatu opini seolah-olah Pemerintah melakukan pembiaran dan tidak berupaya untuk menghentikan semburan;
4) Hasil debat Lusi dipicu antara gempa versus pemboran pada forum internasional AAPG di Cape Town, Afrika Selatan Oktober 2008 lalu, dipersepsikan masyarakat luas seolah-olah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Sehingga menempatkan Lapindo saat melakukan Pemboran Sumur Banjar Panji-1 mengalami masalah dan memicu Lusi;
5) Masih maraknya gejolak sosial kemasyarakatan, yaitu dalam bentuk Demo dengan kekuatan sampai melibatkan ribuan warga korban Lusi baik ke Kantor Bapel BPLS di Surabaya maupun di depan Istana Negara. Untuk menuntut penyelesaian penanganan masalah sosial kemasyarakatan, yaitu pembayaran tahap 80% skema cash and carry.
Dinamika Semburan Lumpur
Penanggulangan Lusi bulan Juni 2009 diindikasikan penuh dengan dinamika, sampai pada perubahan mendasar yang dapat memberikan implikasi yang luas.
Sehingga diperlukan adanya perubahan paradigma, sebagaimana disederhanakan pada Gambar 1.2, terdiri dari aspek:
1) Paradigma dan tahapan evolusi;
2) Aktualisasi status semburan saat ini;
3) Dinamika luapan dan penanganannya;
4) Gejolak sosial kemasyarakatan, dan
5) Masalah sosial kemasyarakatan dan infrastruktur lainnya.
DINAMIKA LUSI DESEMBER 2009
UMUM
Dinamika Lusi bulan Desember 2009, berada pada awal musim penghujan yang berdasarkan lesson learn and learning by doing sejak tahun 2007 mempunyai catatan tersendiri.
Khususnya dikaitkan dengan upaya untuk mempertahankan tanggul dari potensi melimpas atau jebol, merupakan tantangan BPLS agar PAT tidak meluas.
Gambar 1.1 Perbandingan citra 5 Desember dengan 29 September 2009
Pada kurun waktu tersebut, juga diwarnai dengan proses perubahan terhadap postur baru kelembagaan Bapel BPLS, pasca ditetapkannya Perpres 40/2009 tentang perubahan kedua atas Perpres 14/2007 tentang BPLS.
Selanjutnya diikuti tahap awal langkah strategis dan operasional BPLS guna meningkatkan kemandirian dalam melaksanakan misi nasional penanggulangan Lusi.
Di samping itu isu kritis yang berkembang pada kurun waktu lebih 1 bulan BPLS (serah terima Lapindo ke BPLS pada 15 Oktober 2009) sepenuhnya memegang otoritas dalam penanggulangan semburan Lusi menuju kemandirian, ditandai terjadinya deformasi geologi pola runtuh seketika dengan pola (sudden collapse radial).
Fenomena ini yang merupakan perulangan kejadian (recurrent interval) dari yang terakhir Oktober 2008, telah memberikan implikasi yang luas terhadap semakin meningkatnya tantangan untuk mempertahankan Tanggul Lingkar Utara terutama di sektor Osaka-TAS.
Gambar 1.2 Isu kritis kondisi Danau Lusi pasca terjadinya fenomena sudden collapse radial pada 21 November, berdasarkan citra satelit resolusi 5m diambil 5 Desember 2009.
Dinamika dan Isu Aktual
Dinamika dan Isu aktual yang berkembang sebagai implikasi dari perubahan paradigma penanggulangan Lusi, diidentifikasikan dalam oleh beberapa indikator, yaitu:
1) Wilayah kerja, semakin luas mencakup, di dalam dan di luar PAT;
2) Tanggung jawab, semakin besar antara lain sepenuhnya memegang otoritas (kewenangan) terhadap upaya penanggulangan semburan dan mengalirkan lumpur ke Kali Porong (pasca Perpres 40/2009). Di samping melaksanakan penanganan masalah sosial kemasyarakatan serta penanganan dampak infrastruktur di dalam dan di luar PAT (Perpres 14/2007);
3) Pengendali mekanisme bencana Lusi, yaitu semburan lumpur panas berasal dari dalam bumi (Earth interior) masih terus berlangsung dengan intensitas berfluktuatif, diliputi oleh misteri alam terhadap asal mulanya (origin), cenderung sulit untuk dihentikan, dan skenario durasi semburan sampai 24-35 tahun;
4) Luapan Lusi di permukaan bumi, telah membentuk Danau Lusi yang luas di bagian utara dari Pond Utama, dimana Pusat Semburan membentuk morfologi gunung lumpur (mud volcano). Bagian kawah dan lereng radial serta daerah depresi di bagian paling depan dari bagian lereng bawah;
5) Tanggul Lingkar Luar, dari danau Lusi terus diperkuat dan ditinggikan, untuk mengantisipasi kenaikkan permukaan lumpur agar tidak limpas. Ketinggian yang level atas tanggul saat ini telah mendekati batas-batas daya dukungnya;
6) Teknologi pengaliran Lusi ke Kali Porong, yang selama ini bertumpu teknologi pompa konvensional dan kapal keruk yang dimiliki BPLS secara mandiri, sepenuhnya belum siap di tempat (in site) untuk mengantisipasi potensi ancaman yang mungkin ditimbulkannya dalam menghadapi musim penghujan dengan intensitas yang ekstrim. Saat ini dalam tahap persiapan kedatangan peralatan baru sebagai komplemen yang telah ada;
7) Deformasi geologi, masih terus berlangsung baik di dalam (Kejadian sudden collapse radial pada 21 November 2009) maupun di luar PAT dengan intensitas dengan intensitas yang berfluktuatif. Fenomena tersebut merupakan dampak langsung atau dampak berganda dari semburan Lusi yang berasal dari dalam bumi, selanjutnya di dalam PAT terjadi akumulasi sedimen dengan total volume jutaan m3 ton. Dibarengi dengan sebab dari luar, yang signifikan diasumsikan oleh reaktivasi sistem Patahan Watukosek;
8) Gejolak sosial kemasyarakatan, masih terus terjadi dengan berbagai intensitas dipicu oleh beberapa hal yaitu:
(a) dampak sosmas di dalam PAT (cash and carry),
(b) wilayah geohazard di 9 RT dari 3 Desa di luar PAT yang dinyatakan tidak layak huni,
(c) adanya warga di utara PAT yang masih menolak untuk dilanjutkannya penanggulan, dalam rangka untuk mengamankan warga dari potensi melimpasnya Lusi ke arah utara;
9) Penanganan Infrastruktur, penahan luapan Lusi (termasuk normalisasi Kali Porong) dan infrastruktur umum yang relevan terus dibangun dan direvitalisasi mengantisipasi dinamika semburan dan luapan Lusi; dan
(10) Isu pencemaran lingkungan Kali Ketapang, masih mengemuka dimana sebagian warga masih belum sepenuhnya menerima suatu realitas terhadap betapa strategis dan urgennya BPLS untuk melakukan pembuangan air Lusi ke Kali Ketapang. Yang pada hakekatnya merupakan langkah darurat untuk menyelamatkan warga.