Dr. Hardi Prasetyo
ANATOMI SEMBURAN ‘LUSI’ DI JAWA TIMUR
Anatomy of the ‘Lusi’ Mud Eruption, East Java
Mark Tingay 2010
Tectonics, Resources and Exploration (TRaX), Australian School of Petroleum
University of Adelaide, SA 5005, Australia
Mark.tingay@adelaide.edu.au
Dikaji, dianalisis dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia
Oleh: Dr. Hardi Prasetyo
Inisiator ‘LUSI LIBRARY’
PREVIEW NASKAH ASLI View Download PDF View Download
PREVIEW NASKAH TINJAUAN (DOC) View Download PDF View Download
ANATOMI SEMBURAN
‘LUSI’ DI JAWA TIMUR
Anatomy of the ‘Lusi’ Mud Eruption, East Java
Mark Tingay 2010
Tectonics, Resources and Exploration (TRaX), Australian School of Petroleum
University of Adelaide, SA 5005, Australia
Mark.tingay@adelaide.edu.au
Dikaji, dianalisis dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia
Oleh: Dr. Hardi Prasetyo
Inisiator ‘LUSI LIBRARY’
RIGKASAN
SUMMARY
Pada pagi hari tanggal 29 Mei 2006, lumpur panas (hot mud) mulai menyembur dari lahan persawahan di daerah yang padat penduduk di Kecamatan Porong, di Sidoarjo, Jawa Timur.
Kecepatan semburan awalnya (initial flow rates) sekitar 5.000 m3/hari, lumpur dengan cepat telah menenggelamkan desa-desa yang berdekatan. Setelah mendekati empat tahun, semburan Lusi (‘Lusi’ eruption) telah memuntahkan lumpur lebih dari 73 juta m3 dengan kecepatan rata-rata mendekati 64.000 m3/hari dan kecepatan maksimum (maximum rates) 170.000 m3/hari.
Luapan lumpur telah menggenangi daerah seluas 700 hektar dan kedalaman lebih dari 25 meter, memporakporandakan lusinan desa dan menyebabkan sekitar 40.000 orang harus diungsikan. Sebagai tambahan dari daerah yang tergenang (inundated areas), daerah lainnya juga beresiko terhadap penurunan dan semburan dari gas (subsidence and distant eruptions of gas).
Namun, upaya untuk mengendalikan aliran lusi (to stem the mud flow) atau memantau evolusinya terhalang secara keseluruhan oleh tidak adanya pemahaman dan kesepakatan pada anatomi bawah permukaan dari sistem mud volcano Lusi (efforts to stem the mud flow or monitor its evolution are hampered by an overall lack of knowledge and consensus on the subsurface anatomy of the Lusi mud volcanic system).
Secara khusus, yang paling terbesar dan paling tidak ada kepastian adalah sumber dari air yang disemburkan yaitu serpih versus karbonat dalam (shales versus deep carbonates), jalan keluar dari aliran fluida antara sepenuhnya melalui rekahan-rekahan versus percampuran rekahan dan lubang bor (purely fractures versus mixed fracture and wellbore), serta ketidaksepakatan terhadap geologi bawah pemukaan (subsurface geology) wujud dari karbonat dalam, satuan litologi antara serpih dan karbonat (nature of deep carbonates, lithology of lithological unit between shales and carbonates).
Studi ini akan menyajikan tinjauan pertama yang seimbang dari anatomi sistem mud volcano Lusi (present the first balanced overview of the anatomy of the Lusi mud volcanic system) dengan penekanan khusus terhadap ketidak jelasan yang kritis tersebut serta hubungannya terhadap bencana.
Kata Kunci: Luapan Lumpur Sidoarjo (Sidoarjo Mudflow), Lumpur Sidoarjo (Lusi), Gunung Lumpur (Mud volcano)
ANATOMI SEMBURAN ‘LUSI’ DI JAWA TIMUR
Anatomy of the ‘Lusi’ Mud Eruption, East Java
Mark Tingay, 2010
SUMMARY
Early in the morning of the 29th of May 2006, hot mud started erupting from the ground in the densely populated Porong District of Sidoarjo, East Java.
With initial flow rates of ~5000 cubic meters per day, the mud quickly inundated neighboring villages. After almost four years, the ‘Lusi’ eruption has expelled over 73 million cubic meters of mud at an average rate of approximately 64000 cubic meters per day and at maximum rates of 170000m3/day.
The mud flow has now covered over 700 hectares of land to depths of over 25 meters, engulfing a dozen villages and displacing approximately 40000 people. In addition to the inundated areas, other areas are also at risk from subsidence and distant eruptions of gas.
However, efforts to stem the mud flow or monitor its evolution are hampered by an overall lack of knowledge and consensus on the subsurface anatomy of the Lusi mud volcanic system.
In particular, the largest and most significant uncertainties are the source of the erupted water (shales versus deep carbonates), the fluid flow pathways (purely fractures versus mixed fracture and wellbore) and disputes over the subsurface geology (nature of deep carbonates, lithology of lithological unit between shales and carbonates).
This study will present the first balanced overview of the anatomy of the Lusi mud volcanic system with particular emphasis on these critical uncertainties and their influence on the disaster.
Key words: Sidoarjo Mudflow, Lusi, Mud volcano.
PENDAHULUAN DAN LATAR BELAKANG
INTRODUCTION AND BACKGROUND
Luapan lumpur Sidoarjo, yang juga dikenal sebagai 'Lusi' (kependekan dari Lumpur Sidoarjo) adalah bencana geologi unik yang telah menyulut terjadinya kontroversi ilmiah dan politik yang meluas (a unique geological disaster that has ignited widespread scientific and political controversy).
Aliran lumpur pertama kali diamati di persawahan padi pada Kecamatan Porong sekitar 05:00 pada tanggal 29 Mei 2006, dan sejak itu terus menyembur (hampir 4 tahun di saat menulis makalah ini).
Lumpur telah menimbulkan kerugian korban jiwa 17 orang, pengungsian sekitar 40.000 orang, membanjiri seluas 7 km2 dari sebuah kota besar,
dan telah menyebabkan kerugian lebih dari US$ 550 juta (Gambar 1; Cyranowski, 2007).
Lusi adalah contoh mud volcano, fitur geologi yang relatif umum dimana lumpur di bawah permukaan diekstrusi ke permukaan (Lusi is an example of a mud volcano, a relatively common geological feature in which subsurface mud is extruded at the surface).
Namun, Lusi tidak lumrah dalam hal merupakan yang pertama dicatat dari kelahiran sebuah gunung lumpur baru di dalam daerah perkotaan, dengan demikian merupakan jenis baru dari bencana geologi (Davies et al, 2006).
Selain itu, telah ada pengakajian yang mendalam pada aspek ilmiah dan politik atas pemicu Lusi, dimana beberapa peneliti menyarankan bahwa luapan lumpur dihasilkan dari ledakan di sumur Banjar Panji-1 (mudflow resulted from a blowout in the Banjar Panji-1 well ) yang terletak 150m jauhnya (Davies et al, 2008; Tingay et al, 2008).
Sementara teori yang berlawanan tetap mempertahankan bahwa bencana diawali oleh gempa Mw6,3 pada 27Mei 2006 diYogyakarta (disaster was initiated by the Mw6.3 May 27th 2006 Yogyakarta earthquake Mazzini dkk, 2007;. Sawolo et al, 2009).
Namun, meskipun telah banyak makalah dan perdebatan publik, kontroversi tetap tidak terselesaikan. Terutama disebabkan oleh banyak hal yang tidak diketahui anatomi gunung lumpur di bawah permukaan, ketidakpastian sekitar kejadian dalam minggu-minggu sebelumnya (However, despite numerous papers and public debates, the controversy remains unresolved, primarily due to the many unknowns in the subsurface anatomy of the mud volcano, the uncertainties surrounding events in the weeks).
Serta perbedaan atas interpretasi data teknik perminyakan dari Sumur Banjar Panji-1 (and discrepancies over interpretation of petroleum engineering data from the Banjar Panji-1 well (Davies et al, 2010;. Sawolo et al, 2010.).
Masalah pemicu semburan lumpur tidak hanya dilihat dari
aspek akademis atau hukum, namun juga memiliki implikasi yang signifikan terhadap 40000 korban pengungsi dari bencana ini, yang sebagian besar belum menerima secra penuh kompensasi atau bantuan.
Perusahaan yang bertanggung jawab atas pengeboran Banjar Panji-1 (Lapindo Brantas) telah memberikan sebagian kompensasi bagi penduduk dari empat desa yang terkena dampak semburan lumpur, sementara itu pemerintah Indonesia telah memberikan bantuan bagi masyarakat lainnya yang terkena dampak dan telah diasumsikan telah memegang kendali penuh terhadap zona bencana (has assumed control of the disaster zone).
Gambar 1.
Foto udara dari semburan lumpur Lusi dilihat dari barat daya (foto yang diambil mungkin akhir 2007). Aliran lumpur telah menutupi 7km2 dari kota Sidoarjo dan menimbulkan pengungsi sekitar 40000 orang. Kawah utama telah menyembur terus menerus sejak tanggal 29 Mei 2006 dengan kecepatan aliran (flow rate) sampai di tingkat 170.000 m3/hari. Sekitar 73 juta m3 aliran lumpur dalam 3 tahun pertama, volume mendekat sekitar 1/7th pelabuhan Sydney.
Namun, Lapindo Brantas telah menghentikan kompensasi lebih lanjut kepada korban bencana (mengklaim karena bencana alam sehingga mereka tidak bertanggung jawab), sementara lembaga bantuan internasional juga tidak akan memberikan bantuan dan dukungan yang diperlukan (mengklaim bencana adalah buatan manusia dan dengan demikian harus dibiayai oleh Lapindo Brantas).
Sehingga sementara isu pemicu terus diperdebatkan, banyak korban bencana yang telah hidup di desa pengungsian dan kota-kota yang kumuh dibangun berdekatan dengan zona bencana.
Lebih jauh lagi, pengetahuan tentang anatomi bawah permukaan semburan lumpur Lusi adalah penting untuk: (1) memprediksi kemungkinan panjangya umur bencana, (2) kemungkinan evolusi daerah (Khususnya penurunan terus-menerus wilayah tersebut, dari reaktivasi patahan dan kemungkinan runtuhnya kaldera) dan (3) apakah mungkin ada solusi keteknikan terhadap potensi untuk membunuh atau mengendalikan semburan lumpur (Furthermore, knowledge of the subsurface anatomy of the Lusi mudflow is essential for predicting the likely longevity of the disaster, the possible evolution of the region (in particular the ongoing subsidence of the area, the reactivation of faults and possibility of caldera collapse) and whether there may be potential engineering solutions to kill or control the mudflow).
GEOLOGI REGIONAL
REGIONAL GEOLOGY
Lusi mud volcano volcano (koordinat 7º 31’ 37.8”S, 112º 42’ 42.4”T) berlokasi di kota Sidoarjo, kira kira 25 km arah selatan dari kota Surabaya di Jawa Timur, merupakan kota terbesar ke dua di Indonesia.
Lusi berlokasi di dalam Cekungan Jawa Timur (Lusi is located within the East Java Basin), suatu cekungan busur belakang yang mengalami inversi berarah timur-barat, dimana telah mengalami tektonik ekstensi selama Paleogen. serta telah direaktivasi selama Miosen Bawah-Resen (E-W trending inverted back-arc basin that underwent extension during the Paleogene and was reactivated during the early Miocene-Recent (Kusumastuti et al., 2002; Shara et al., 2005).
Cekungan Jawa Timur berumur Miosen-Resen yang berada di sekitar daerah Lusi disusun oleh sedimen-sedimen klastik laut dan karbonat dangkal, lumpur marin (marine muds), klatistik volkanik (volcaniclastic), dan satuan volkanik dari komplek gunung api Penanggungan yang berada didekatnya, berlokasi 15 km pada SB dari Lusi (of shallow marine clastics and carbonates, marine muds, volcaniclastic sediments and volcanic units from the nearby Penanggungan volcanic complex ).
Geologi bawah permukaan Lusi awalnya telah dilaporkan dari banyak studi (Davies et al., 2006; Mazzini et al., 2007; Davies et al., 2008; Tingay et al., 2008; Sawolo et al., 2009) terdiri dari satuan-satuan.
1. Resen Aluvium (Recent alluvium), selang seling pasir dan serpih (alternating sands and shales), tebal 0-290m;
2. Pleistosen (Pleistocene), Formasi Pucangan (Pucangan Formation) terdidi dari perselingan pasir dan serpih (alternating sands and shales), kedalaman 290-900m;
3. Pleistosen (Pleistocene), Formasi Kalibeng Atas, lumpur smektit-ilit berada pada kondisi di bawah kompaksi (Upper Kalibeng undercompacted) smectite-illite muds; kedalaman 900-1870m;
4. Pleistosen, batupasir volkanoklastik Kalibeng Atas (Pleistocene Upper Kalibeng volcaniclastic sands); kedalaman 1870-≈2833m; dan
5. Oligosen , karbonat terumbu Formasi Kujung (Oligocene Kujung reefal carbonates); kedalaman sekitar ≈2833-≈3500m).
SISTEM SALURAN BAWAH PERMUKAAN LUSI
LUSI’S SUBSURFACE PLUMBING SYSTEM
Model wujud atau anatomi bawah permukaan dan daya pengendali semburan Lusi
Salah satu isu utama sekitar aliran lumpur Lusi adalah wujud (nature) dari sistem saluran bawah permukaan dan daya pengendali dari semburan.
Dua model yang satu dengan lainnya berbeda telah diusulkan untuk anatomi bawah permukaan Lusi, dan hal ini akan terkait dengan dua teori yang bersaing terhadap pemicu aliran lumpur.
Model Lusi dipicu pemboran sumur BJP-1
Model pertama, dianut dari mereka yang percaya pada teori ‘Lusi dipicu pemboran’, yang mengusulkan bahwa aliran lumpur Lusi berakar dalam (deep rooted) dan terutama dikendalikan oleh lepasnya fluida berasal dari karbonat dalam (Davies et al., 2008; Tingay et al., 2008).
Model Lusi dipicu gempabumi Yogyakarta
Model altrnaif, dipercaya oleh pendukung teori ‘Lusi dipicu gempabumi’, yang mengusulkan bahwa Lusi berakar dangkal (shallow-rooted) dan dikendalikan oleh fluida yang keluar dan likuifeksi (liquefaction) dari lumpur Kalibeng Atas (Mazzini et al., 2007; Istadi et al., 2009; Sawolo et al., 2009).
Penentuan dari anatomi bawah permukaan Lusi tersebut mempunyai kendala yang signifikan, untuk menentukan mekanisme yang lebih mungkin dari mekanisme pemicu semburan Lusi.
Namun untuk mendiskusikan terhadap setiap model yang diusulkan untuk anatomi Lusi, perlu kiranya untuk pertamakalinya mendiskusikan aspek-aspek anatomi bawah permukaan Lusi (subsurface Lusi) dimana informasi dari sumur dipadankan dari hasil pengukuran di permukaan.
Ketidakjelasan utama disekitar anatomi dari aliran lumpur adalah sumber (atau sumber-sumber) dari komponen air dari semburan lumpur dan pengendali tekanan dari aliran lumpur.
Namun, asal usul dari padatan yang dierupsikan Lusi dan dominan dari sistem saluran dangkal (<1200m) sudah mendapatkan rasionalisasi dan dengan konstrain yang baik, didapatkan dari pengukuran permukaan selanjutnya diuraikan pada bab ini.
Lumpur yang disemburkan dari Lusi sangat mempunyai variasi terhadap kehidupan dari mud volcano, tapi secara luas dapat dicirikan dari:
· Lumpur panas cair (temperatur 70-100o C) berwarna abu-abu menengah terdiri dari air (awalnya air 60-80% air, tapi berkurang seiring waktu dan saat ini air 30%-50% air), dan
· Fraksi padatan terutama keseluruhannya terdiri dari lumpur (fraksi padat adalah 80-90% lempung dengan sedikit lanau dan butiran berukuran pasir).
· Lumpur dengan asal usul densitas keseluruhan 1,3-1,4 g/cm3, tapi secara lambat telah meningkat jumlah padatannya (Mazzini et al., 2007).
· Air yang disemburkan kira-kira mempunyai salinitas 61% terhadap komposisi air laut (11300 ppm chloride, 7300 ppm sodium; Mazzini et al., 2007), kaya di dalam O18 (δ18O=9,0‰), dan deplesi pada deuterium (and depleted in deuterium) selotar δD of -1,7‰ sampai-14,4‰ bila dibandingkan terhadap air laut.
· Temperatur dan geokimia dari air dicirikan sebagai sumber yang berasal dari kedalaman > 1700m (Mazzini et al., 2007).
· Fraksi padatan dari lumpur yang disemburkan pada Lusi terutama terdiri dari mineral ilit, smektit dan beberapa klorit (of illite, smectite and some chlorite). Hal ini konsisten dengan sedimen yang berasal dari kedalaman antara 1341-1828m di sumur Banjar Panji-1 (Mazzini et al., 2007).
· Lebih jauh lagi, semburan dari lumpur memperlihatkan vitrinite reflectances sebesar 0,55-069% Ro, hal ini berkorelasi dengan kematangan organik (organic matter maturations) dari Ro>0,65% yang diamati dari kedalaman >1700m pada sumur Banjar Panji-1 (Mazzini et al., 2007).
· Akhirnya analisis biostratigrafi (biostratigraphical analysis) dari semburan lumpur memperjelas adanya fosil foraminifera dan fosil nano sebagaimana yang diamati dari cutting dikumpulkan pada dari kedalaman 1219-1828m pada sumur Banjar Panji-1.
Sehingga, fraksi padatan dari lumpur yang disemburkan oleh Lusi dapat disepakati dengan baik terutama hasil penanggalan (dating) terhadap lempung dari Formasi Kalibeng Atas (Upper Kalibeng Clays) antara kedalaman 1219-1828 m (Mazzini et al., 2007).
Semburan lumpur dari Lusi didominasi dari satu kawah (vent); Istilah yang digunakan untuk Kawah Utama ‘main vent’ atau Lubang Besar or ‘big hole’.
Suatu kawah utama yang melingkar (circular main) dengan diameter sekitar 100m dan telah menyemburkan Lusi dengan kecepatan aliran di atas 170.000 m3/hari, dengan rata-rata sebelumnya 90.000-100.000 m3/hari (Davies et al., 2006; Mazzini et al., 2007; Istadi et al., 2009).
Namun Bapel BPLS pada awal Juni 2009 menghitung bahwa volume lumpur yang berada atas di pond waktu itu sekitar 65 juta m3, dan sekitar 8 juta m3 diantaranya telah dipompakan dari kolam penampungan lumpur ke Kali Porong.
Disini total lumpur yang telah disemburkan oleh Lusi pada tiga tahun pertama mendekati 73 juta m3 (dengan mengabaikan potensi kesalahan karena penambahan volume dari air hujan, pengurangan karena penguapan dan awal tidak dimonitornya pemompaan lumpur dan sluicing lumpur ke sungai.
Besaran untuk kecepatan semburan per hari menunjukkan bahwa tiga tahun pertama rata-rata sebesar 64.000m3/hari, dan sangat berkurang dari rata-rata estimasi yang selama ini digunakan untuk mengukur durasi hidup ke depan dan evolusi Lusi (average estimates that have been used in estimates of Lusi longevity and evolution, Istadi et al., 2009; Swarbrick et al., under
review).
Disamping itu, kecepatan semburan, dari hari ke hari berfluktuatif, secara gradual telah berkurang sejak September 2006 and, pada saat menulis, diperkirakan pada kecepatan 20.000-30.000m3/hari.
Geometri permukaan dangkal di kawah utama dari permukaan lempung Formasi Kalibeng Atas, menjadi tidak jelas. Pencitraan seismik refleksi dari mud volcano utama di Azerbaijan umumnya memberikan kepercayaan bahwa pipa pengumpan lumpur berbentuk conical (Stewart and Davies, 2006).
Namun, analisis dari sistem pergerakan serpih berumur Miosen-Pleiosen dari Brunai mencirikan indikasi bahwa sistem pengumpan mud volcano (mud volcano feeder system) kemungkinan terutama terdiri dari terobosan bidang serpih (planar shale dykes) yang menembus ke atas melalui patahan-patahan atau rekahan tarik (entrained up faults or tensile fractures) (Morley et al., 1998; Tingay et al., 2003).
Kawah utama dengan lebar 100 m dan dengan kecepatan aliran yang ekstrim tinggi, memberikan kepercayaan bahwa sistem pengumpan di bawah Lusi berbentuk conical atau terdiri dari beberapa rekahan besar yang terbuka serta perpotongan pada bidang rekahan.
Saluran pengumpan dangkal (shallow feeder channel) berbentuk seperti pipa terbuka ini, sangat konsisten dengan hasil pengukuran dalam upaya untuk menghentikan semburan Lusi selama tahun 2007. Dengan menjatuhkan bola-bola beton yang dirangkai menjadi satu kesatuan oleh rantai yang kuat ke dalam kawah utama.
Walaupun upaya untuk menjatuhkan cincin bola beton tersebut masuk ke kawah gagal untuk menghentikan atau mengurangi aliran lumpur, kabel yang menempel pada beberapa bola-bola beton memperlihatkan bahwa rangakaian dapat dijatuhkan ke bawah sampai pada kedalaman antara 800-1000m.
Hampir pada semua aliran lumpur telah disemburkan dari kawah utama. Namun, di beberapa lokasi juga terdapat semburan sekunder minor. Tiga yang berukuran agak besar (moderately-sized), tapi dengan kehidupan yang hanya pendek mungkin satu minggu, semburan pasir dan lumpur terjadi ke atas 1000, dari saat awal semburan pada kawah utama dan berlanjut pada hari-hari selanjutnya.
Sejak saat itu sejumlah semburan kecil (<10m3/hari) dengan istilah ‘bubblelers’ dengan air, lumpur atau gas telah terjadi sampai 4,5 km jauhnya dari kawah utama.
Jumlah semburan sekunder telah bervariasi dari 23 pada minggu ke tiga Agustus 2006, menjadi maksumum 155 bubblers pada tahun 2009, pada saat menulis, 39 bubbles aktif pada jarak maksimum 1,2 km dari kawah (sumber BPLS).
Lebih jauh lagi, terdapat sebaran geometri dari bubblers, dengan kebanyakan terjadi pada dua kecenderungan yang linier memotong kawah utama (BPLS).
Dominasi arah kira-kira UT-SB, dan telah diusulkan sebagai patahan ekstensi yang terbentuk di dekat Gawir Watukosek, dimana arah sekunder berorientasi UB-ST (Mazzini et al., 2007).
Dua arah dominan semburan sekunder mencirikan bahwa terjadinya jaringan patahan aktif berarah UT_SB dan arah UB-ST di bawah mud volcano Lusi (active NE-SW and NW-SE trending fault network underneath the Lusi mud volcano).
Davies et al. (2006) awalnya mengusulkan bahwa sistem pengumpan dangkal (shallow feeder system) di bawah Lusi terdiri dari suatu rekahan tensial utama yang baru terbentuk (a major newly initiated tensile fracture).
Namun, hal ini tidak konsisten dengan orientasi maksimum tekanan horizontal lokal berarah UUT-SSB (present-day maximum horizontal stress orientations) untuk daerah yang ditentukan dari mekanisme solusi gempabumi (earthquake focal mechanism solutions Tingay et al., 2010).
Rekahan tensi membuka terhadap tekanan utama minimum (Tensile fractures open against the least principal stress) dan ekspektasi dengan arah jurus UUT-SSB di dekat Lusi.
Namun, arah tekanan horizontal maksimum saat ini, dan mekanisme solusi pusat gempa (earthquake focal mechanism Ssolution) memperkirakan suatu rezim patahan geser (a strike-slip faulting stress regime), yang konsisten dengan arah rekahan berarah UT-SB dan UB-ST kira-kira merupakan ‘conjugate sub vervical strik-slip fault zones’.
Model 1: Cairan terutama dari Karbonat dalam (Fluids Primarily from Deep Carbonates)
Model pertama untuk sistem pengumpan bawah permukaan lusi (model for Lusi’s subsurface plumbing system) diusulkan bahwa sumber utama fluida, dan tekanan utama yang mengendalikan semburan (main source of fluid for Lusi, and primary pressure drive of the eruption), berasal dari satuan karbonat dalam berumur Miosen (sepertinya Formasi Tuban).
Model ini terutama telah diusulkan oleh penulis-penulis yang mendukung hipotesis bahwa Lusi dipicu oleh suatu ledakan di sumur Banjar Panji-1 (the hypothesis that Lusi was triggered by a blowout in the Banjar Panji-1 well) seperti Davies et al., 2008; Tingay et al., 2008.
Di bawah model ini, air berada pada kondisi overpressure yang difasilitasi oleh karbonat telah menyembur ke atas melalui bagian lubang bor Banjar Panji-1, yang tidak diberi selubung (overpressured waters hosted by the carbonates escape upwards via the uncased section of the Banjar Panji-1 wellbore).
Dan tampaknya yang paling mungkin, juga melalui pengaktifan kembali patahan dan rekahan yang saat ini dibentuk pada kedalaman (via deep recently created or reactivated faults and fractures.).
Dimana fluida yang bergerak melalui lempung dari Formasi Kalibeng Atas, telah sangat tiksotroik (highly thixotropic), dan siap mengalir membentuk lumpur cair yang menyembur ke permukaan melalui sistem pengumpan dangkal, yaitu kawah kerucut dari perpotongan zona patahan (conical vent of intersecting conjugate fault zones).
Model ini mempunyai beberapa bukti-bukti pendukung. Pertama, stratigrafi disekitar Lusi, dan identik dengan kondisi di sumur Porong dan satuan carbonat mounds Kodeco-11C yang berlokasi pada arah TUT dari Lusi. Keduanya terdiri dari struktur runtuh melingkar yang ekstensif dengan patahan yang propagasi ke luar dari puncak pertumbuhan (gundukan) karbonat (both contain extensive circular collapse structures with faults propagating out of the crest of the carbonate mounds (Kusumastuti et al., 2002).
Struktur runtuh yang besar ini dengan, lebar lebih 1 km dan dalam 300m, belum dipelajari secara rinci terhadap keberadaan Lusi. Yang kemungkinan merupakan semburan lumpur tipe Lusi (are possibly Lusi type mud eruptions) yang terjadi selama Kuarter dan telah bersumber dari pertumbuhan terumbu yang relatif dangkal (shallower reefal Mounds).
Pendukung lainnya untuk karbonat dalam, sebagai sumber utama untuk air disemburkan oleh Lusi berasal dari fluida pori bertekanan sangat tinggi (very high pore fluid pressures) sebesar 18,5 MPa/km dan dari porositas dan permeabilitas yang tinggi (high porosity and permeability), yang diamati dari karbonat tersebut di sekitar sumur Porong-1. Sehingga karbonat tampaknya sangat ideal dan paling sesuai sebagai sumber utama air yang disemburkan pada Lusi (carbonates appear to bethe ideal and best suited primary source of water erupted at Lusi).
Juga terdapat beberapa isu yang membuat model ini menjadi tidak jelas. Pertama, tidak diketahui apakah sumur Banjar Panji-1 telah menembus memotong karbonat dalam (Sawolo et al., 2009).
Tidak ada keratan (cuttings) yang kembali beberapa meter dari dasar sumur bor ketika terjadi kejadian total hilangnya sirkulasi dan sumur dihentikan (a complete loss of circulation and drilling was halted), walaupun terdapat sejumlah besar H2S, dimana secara rutin dilepas dari pemboran, diperkirakan berasal dari pertumbuhan terumbu di daerah semburan dari Banjar Panji-1 ketika ditendangkan dan dari kawah utama pada beberapa hari pertama.
Dimana hilangnya sirkulasi ini, dan keluarnya H2S (loss of circulation and H2S release) mencirikan penetrasi dari atau koneksi dengan karbonat (may indicate penetration of, or connection with, the carbonates) tidak adanya tendangan yang seketika menunjukkan sangat tingginya besaran overpressure (there was no instantaneous kick suggesting very high magnitude overpressures).
Lebih jauh lagi, itu tidak jelas apakah sumur bor dengan diameter 12,25 inci akan dapat menerima semburan dengan kecepatan lebih dari 170.000m3/hari sebagaimana yang diamati pada Lusi (Sawolo et al., 2009).
Namun, di bawah model sumber karbonat dalam, menjadi tidak penting untuk semua fluida mengalir via lubang sumur, Lusi tiba-tiba meningkat dari <50.000m3/hari menjadi lebih besar dari 100.000m3/hari pada tanggal 1 September pada 2006.
Dimana kemungkinan mencirikan adanya perubahan pada sistem saluran terutama mengalir ke atas patahan-patahan dan rekahan-rekahan, dan lobang sumur tampaknya telah dierosi menjadi lebih besar terhadap waktu (the wellbore is likely to have been eroded larger over time).
Lebih jauh lagi, dan sangat signifikan, semua diskusi dari model ini menghilangkan kontribusi tambahan dari lumpur Kalibeng Atas. Besarnya volume muntahan dari lempung (lumpur awalnya terdiri 20-40% lempung dan telah menebal terhadap, waktu porsi lempung berkisar 50-70%), juga keterlibatan tambahan dari fluida pori di dalam lempung ke dalam lumpur yang disemburkan ke permukaan.
Pada model ini fluida yang disemburkan terutama akan bersumber dari karbonat, tapi juga mengandung (dan meningkat menjadi dominan) jumlahnya secara signifikan air pori dari lumpur Kalibeng Atas.
Model 2: Fluida dari Lumpur Kalibeng Atas (Fluids from Upper Kalibeng Clays)
Model kedudukan diusulkan untuk geometri dan daya pengendali aliran lumpur Lusi berasal dari lumpur Formasi Kalibeng Atas.
Di bawah model ini semburan Lusi sebagai hasil pencairan dari lumpur Formasi Kalibeng Atas disebabkan oleh reaktifasi sona patahan dengan orientasi UT-SB umum dikenal sebagai Patahan Watukosek (Lusi eruption was the result of liquefaction of the Upper Kalibeng clays caused by reactivation of a pre-existing NE-SW oriented fault zone (often termed the Watukosek Fault). Dengan reaktivasi dipicu oleh gempabumi 27 Mei 2006 Mw6,3. Gempabumi Yogyakarta berjarak 250 km (Mazzini et al., 2007; Sawolo et al.,2009).
Sifat yang sangat thixotropic dari lumpur Kalibeng Atas membuatnya ia sangat rentan terhadap likuifaksi jika tergangu oleh gerakan gempa atau patahan.
Lebih jauh lagi, zona-sona patahan selalu ekstrim permeable selama momen dari pemecahan (moment repture) menyediakan suatu jalan keluar untuk likuifaksi serpih bergerak ke permukaan (liquefied and mobile shales to escape to the surface).
Sebagai tambahan, log sonik dan densitas (sonic and density logs) dari Banjar Panji-1 mencirikan bahwa Lempung Formasi Kalibeng Atas sangat signifikan di bawah kompaksi (significantly undercompacted) dan mempunyai porositas sekitar 5-12% lebih besar daripada yang diprediksi di bawah kompaksi normal (normal compaction).
Di bawah kompaksi pada lempung mencirikan tipe bahwa serpih berada pada tekanan berlebih (Undercompaction in clays typically indicates that the shales are overpressured) dalam arti berada pada kompaksi yang tidak seimbang (disequilibrium compaction, Osborne and Swarbrick, 1997) dan tekanan fluida yang tinggi bisa menambah daya pengendali dari sistem mud volcano.
Mazzini et al., 2007 mengusulkan bahwa walaupun overpressure lebih besar (greater overpressures) mungkin telah terbentuk pada Lempung Kalibeng Atas oleh pelepasan dari air pada antar lapisan (release of inter-layer bound
Water) selama diagenesis dari smektit ke ilit (during the diagensis of smectite into illite).
Namun, transisi dari smektit ke ilit telah sebagian menghilangkan pembangkitan mekanisme overpressure (largely dispelled as an overpressure generation mechanism, Osborne and Swarbrick,1997) dan karena itu tidak tampak untuk menyediakan lebih jauh peningkatan tekanan fluida pori pengenali Lusi (and thus is unlikely to provide any further increase thepore fluid pressures driving Lusi).
Model ini didukung oleh model-model analogi bahwa patahan aktif dapat menyebabkan thixotropic shales untuk menjadi bergerak dan disemburkan sepanjang sona patahan (Mazzini et al., 2009).
Lebih jauh, gempa yang besar (>Mw7.5) telah secara jarak jauh memicu peingkatan kecepatan semburan mud volcano di Iran dan Azerbaijan (Kopf, 2002; Mellors et al., 2007). Ditambahkan di sini, tidak ada bukti langsung terhadap keterlibatan fluida dari karbonat dalam pada sistem mud volcano.
Sebagai contoh, tidak ada fragmen dari batugamping Miosen atau batuan-batuan volkanik berumur Plio-Plesitosen yang telah diketemukan di dalam semburan lumpur (walaupun litologi ini kurang bermakna pada erosi dan frakmen yang besar dari litologi tersebut tidak diangkut ke permukaan).
Lebih jauh lagi tiga bulan survei kegempaan mikro (micro-seismicity survey) melaporkan hanya satu even dari lebih dalam dari kedalaman 2km. Hanya beberapa lusin even seismic micro direkam dan mencirikan tidak ada kecenderungan spasial dan gagal untuk menyediakan suatu bukti yang konklusif dari suatu jaringan patahan bawah permukaan aktif (though only a few dozen micro-seismic events were recorded and these indicated no spatial trend and failed to provide conclusive evidence of an active subsurface fault network; source: BPLS).
Akhirnya, sumur Banjar Panji-1 mengalami kerusakan mengalami ‘loss’ kecil (20 barrels) saat tujuh menit setelah gempabumi Yogyakarta, menunjukkan bahwa bagian dari gelombang gempa telah membuka bebarapa rekahan pada perpotongan dari lubang bor (the passage of seismic waves may have opened up some fractures intersecting the wellbore Sawolo et al., 2009).
Terdapat beberapa isu terkait model dimana semua dari lumpur berasal dari lempung Kalibeng Atas. Pertama, itu tidak diketahui bagaimana gempabumi Yogyakarta dapat memicu pengaktifan kembali patahan di bawah Sidoarjo yang berjarak 250 km jauhnya
Analisis dari semua metoda yang tersedia untuk pemicu pengaktifan patahan dan pencairan lempung via kegempaan yang jauh (Analysis of all known methods for triggering of fault reactivation and clay liquefaction via remote seismicity) dimana dinamika perubahan tekanan karena ayakan langsung dari gelombang seismik kedua dapat menginduksi perubahan tekanan statik (dynamic stress changes due to direct shaking, co-seismically induced static stress changes) relaksasi pasca gempa dari perubahan tekanan statik, dan efek elastik ayunan (post-seismic relaxation of static stress changes, and; poroelastic rebound effects) mencirikan bahwa gempabumi Yogyakarta pada maknitut yang sangat kecil untuk dapat memicu pengaktifan kembali patahan di awah Sidoarjo (earthquake was at least an order of magnitude too small to have triggered fault reactivation under Sidoarjo.)
Ditambahkan bahwa perubahan tekanan maksimum (the maximum stress changes) disebabkan oleh gempabumi ini pada orde +33 kPa (lebih kecil daripada daya pasang surut (smaller than tidal forces), sedangkan perubahan tekanan disebabkan tendangan di lubang sumur Banjar Panji-1 magnitut lebih besar daripada tiga orde (were over three orders of magnitude greater, Tingay et al., 2008; Davies et al., 2008).
Lebih jauh lagi, terdapat beberapa rekaman gempabumi yang lebih besar dan lebih dekat dari Sidoarjo daripada gempabumi Yogyakarta pada 27 Mei 2006 dan itu tidak jelas bagaimana hanya gempabumi Yogyakarta telah memicu aliran lumpur (Tingay et al., 2008; Davies et al., 2008).
Juga terdapat ketidakmungkinan untuk serpih tidak permeabel (for largely impermeable shales), walaupun di bawah likuifaksi, untuk menghasilkan kecepatan semburan di atas 170.000 m3/hari dan dapat berlangsung dengan kecepatan rata-rata 64.000 m3/hari untuk selama tiga tahun.
Tidak ada mekanisme yang diketahui bagaimana jumlah yang banyak dari serpih dapat berlanjut secara kotinyu dibawah likuifeksi selama suatu perioda waktu yang panjang.
Akhirnya, Lusi hanya satu-satunya mud volcano yang tidak ada lainnya di mana tercatat dengan kecepatan semburan yang besar untuk bertahan pada perioda waktu (Lusi is the only mud volcano ever recorded that has had such large flow rates for a sustained period of time Kopf, 2002; Davies et al., 2006).
Umumnya sistem mud volcano belum ada yang melaporkan mempunyai sifat seperti tersebut.
Umumnya sistem mud volcano di seluruh dunia cenderung kecepatan semburan hanya beberapa puluh sampai ratusan kubik meter per hari, tapi umumnya hanya mempunyai kehidupan semburan yang pendek 1-14 hari (Natural mud volcano systems worldwide tend to flow at rates of only a few tens to hundreds of cubic metres per day, but can occasionally have eruptions that are short-lived, 1-14 days) dan yang ekstrim liar sekitar (100.000-1.000.000 m3/hari).
Namun, semburan lumpur utama tersebut hanya tercatat pada sistem mud volcano yang berakar dalam (deep-rooted mud volcanic systems) yang terutama dikendalikan oleh sumber overpressured yang besar sehingga yang diamati kecepatan semburan di Lusi tidak konsisten dengan mekanisme likuifaksi dengan akar dangkal (shallow-rooted liquefaction mechanism).
IMPLIKASI UNTUK MEREVISI LUSI ANATOMI
IMPLICATIONS OF REVISED LUSI ANATOMY
Studi ini menyediakan suatu tinjauan pemutahiran dari aspek geologi luapan lumpur Lusi dan juga makalah pertama yang menyediakan suatu ringkasan secara seimbang, disertai harapan agar tidak bias terhadap model anatomi utama dari model-model untuk bencana geologi yang unik ini (summary of the main manatomical models for this unique geological disaster).
Sehingga aspek debat terhadap pemicu Lusi yang lebih rinci tidak tercakup di sini. Dilakukan revisi stratigrafi, ringkasan geologi di ekstrapolasi dari pengukuran di permukaan dan diskusi kedua model untuk sistem saluran bawah permukaan Lusi (subsurface plumbing system) yang mempunyai implikasi terhadap debat pemicu dan untuk kemungkinan evolusi dan durasi dari bencana ini (have implications for the triggering debate and for the possible evolution and longevity of this disaster.)
Revisi dari stratigrasi di bawah Lusi mempunyai beberapa implikasi yang luas.
Semua studi yang tertuju pada aliran lumpur Lusi telah menentukan satuan batuan karbonat dalam sebagai Formasi Kujung, dan telah dibuat asumsi terhadap sifat-sifat yang diketahui (known properties) dari satuan ini.
Lebih jauh lagi, secara teori untuk sumur Banjar Panji-1 bahwa sasaran dari karbonat diasumsikan mild overpressure, sebagaimana yang rutin yang dapat diamati pada reservoir karbonat Kujung di daerah lepas pantai.
Namun, di derah yang berdekatan tumpukan karbonat (carbonate mound) yang ditembus oleh sumur Porong-1, berjarak 7 km jauhnya menunjukkan kondisi overpressure yang sangat tinggi (very high overpressures).
Baru-baru ini, Swarbrick et al. (under review) berupaya untuk menghitung durasi yang mungkin dari aliran Lusi dengan mengasumsikan sumur dikembangkan, kecepatan semburan (flow rate), porositas dan permeabilitas dari karbonat Kujung tapi sekarang tidak memadai lagi.
Ditentukan signifikan secara sosial dan hukum dari bencana Lusi, yang sebelumnya menggunakan informasi dari karbonat Kujung dinyatakan sudah tidak dapat berlaku lagi (cannot be considered as valid).
Penafsiran yang baru dari satuan yang menutupi karbonat dan yang membawahi lempung Formasi Kalibeng Atas (of the unit overlying the carbonates and underlying the Upper Kalibeng clays) terdiri dari batuan-batuan ekstrusi dengan prosositas rendah, daripada sedimen volcanoklastik yang permeabel yang telah mempunyai implikasi pada hidrodinamika terhadap daerah ini (being comprised of low porosity and tight extrusive igneous rocks, rather than permeable volcaniclastic sediments has major implications for the hydrodynamics of the region).
Model dimana fluida terutama berasal dari karbonat dalam tidak layak kecuali karbonat disekat, dan menjadi tidak layak dari usulan stratigrafi yang diusulkan pada tahap awal (The model in which the fluids are primarily derived from the deep carbonates is not feasible unless the carbonates are sealed, and thus was not likely under the initially proposed stratigraphy).
Lebih jauh lagi, pada model pencairan lempung (clay liquefaction model), telah diusulkan bahwa kecepatan aliran yang tinggi merupakan pada jangka panjang sebagai hasil penambahan dari akuifer yang sebelumnya berasal dari pasir klastikvolkanik (the long term high flow rates are the result of additional aquifer drive from the previously considered volcaniclastic sands). Teori ini tidak tampak di bawah stratigafi yang direvisi.
RANGKUMAN
SUMMARY
Studi ini menyediakan suatu pembaruan tinjauan terhadap geologi dari luapan lumpur Lusi and juga makalah pertama yang menyediakan suatu ringkasan yang seimbang dan tidak bias dari model anatomi dari suatu bencana geologi yang unik ini.
Sehingga debat terhadap pemicu tidak tercakup secara rinci disini, revisi stratigrafi, ringkasan geologi ektrapolasi dari pengukuran permukaan dan diskusi kedua model untuk sistem saluran (plumbing system) mempunyai implikasi untuk debat pemicu dan untuk kemungkinan evolusi dan durasi dari bencana ini (have implications for the triggering debate and for the possible evolution and longevity of this disaster).
Isu utama dan keseimpulan dari studi ini diringkas sebabagai berikut:
· Kedalaman karbonat di bawah Lusi (The deep carbonates underneath Lusi) berumur Miosen dan tampaknya adalah Formasi Tuban, jadi bukan karbonat Kujung berumur Oligosen (not the Oligocene Kujung carbonates)
· Karbonat dalam ditutupi oleh batuan beku ekstrusi (extrusive igneous rocks) terdiri dari dasit, andesif, dan ‘welded tuffs’ yang mempunyai porositas sangat rendah (have very low porosities ) yaitu <5% dan tampaknya juga mempunyai pemealitas rendah (low permeabilities), jadi bukan pasir klastik volkanik (not permeable volcaniclastic sands).
· Fraksi padat dari lumpur yang disemburkan oleh Lusi bersumber dari lempung Formasi Kalibeng Atas (the Upper Kalibeng clays) pada kedalaman antara 1219-1828m (Mazzini et al., 2007).
· Rata-rata kecepatan aliran Lusi adalah sangat signifikan lebih rendah dari yang dilaporkan oleh publikasi ilmiah dan pada media (Average flow rate for Lusi is significantly lower than what has been previously reported by scientific publications and in the media).
· Rata-rata kecepatan aliran pada tiga tahun pertama diperkirakan 64.000m3/hari (daripada 90.000-10.000 m3/hari) dan terhadap waktu telah berkurang (saat ini 20.000-30.000 m3/hari).
· Sistem pengumpan lumpur (mud feeder system) pada kawah utama, (main vent) dimana berlanjut ke bawah sekurang-kurangnya pada lempung Kalibeng Atas, adalah apakah mendekali suatu bentuk pipa mengkerucut (conical pipe) atau dibentuk oleh perpotongan antara dua sistem sona patahan (intersection of two main fault zone) and sekurang-kurangnya lebar 30 cm sampai kedalaman 1000m.
· Terdapat banyak lokasi semburan kecil atau sekunder (large number of minor secondary eruption sites ) yaitu air, lumpur dan gas yang disalurkan oleh sistem patahan geser berarah UT_SB dan UB-ST, dengan dua zona patahan berpotongan di dekat kawah Lusi (feed by a currently active NE-SW and NW-SE conjugate strikeslip fault system, with the two fault zones intersecting near the main Lusi vent). Ketidakjelasan utama terhadap anatomi dari mud volcano Lusi (the anatomy of the Lusi mud volcano) adalah sumber air komponen dari lumpur yang disemburkan. Temperatur dan kimia dari air mencirikan kedalaman labih besar dari 1700m.
· Dua models untuk anatomi Lusi telah diusulkan, masing-masing secara genetic mempunyai keterkaitan dengan usulan pemicu dari bencana. Model pertama mengusulkan bahwa fluida utamanya dipisahkan dari karbonat dalam overpressure (overpressured deep carbonates), dimana mengalir ke atas pada lubang sumur Banjar Panji-1 dan mengaktifkan kembali patahan-patahan (reactivated faults), menembus lumpur Kalibeng Atas (dan berlanjut pada air fluida pori) pada perjalanan ke permukaan.
· Model yang disusulkan sebagai altrnatif adalah lumpur keseluruhan berasal dari lempung Kalibeng Atas, dimana telah digerakkan kembali karena dipicu oleh patahan-patahan yang sebelumnya telah ada di Sidoarjo (the mud is entirely derived from the Upper Kalibeng clays, which have been remobilised due to remote triggering of preexisting faults underneath Sidoarjo).
· Dataset yang ada sebelumnya tidak memadai untuk membenarkan atau tidak membenarkan (unequivocally prove or disprove) model yang ada. Masing-masing model mempunyai bukti yang mendukungnya, dan juga kritik yang belum dapat dijelaskan.
Menentukan geologi bawah permukaan dan sistem saluran dari aliran lumpur Lusi merupakan langkah ke depan yang sangat mendasar untuk memperkirakan evolusi dari mud volcano, durasi yang mungkin dari semburan dan untuk menyelesaikan debat yang telah berlangsung brkepanjangan pada pemicu dari bencana geologi yang unik ini (Determination of the subsurface geology and plumbing system of the Lusi mud flow is an essential first steptowards predicting the evolution of the mud volcano, likely duration of the eruption and for resolving the long-running debate on triggering of this unique geological disaster).
CATATAN PENULIS
AUTHORS NOTE
Semburan lumpur Lusi (Lusi mud eruption) dan, khususnya perdebatan pada pemicu dari bencana telah menjadi isu sosial, politik dan aspek legal.
Penulis telah mempublikasikan beberapa publikasi sebelumnya mengarah bahwa Lusi tampaknya lebih dipicu oleh ledakan bawahtanah di sumur Banjar Panji-1.
Namun, tujuan dari tulisan ini adalah menyediakan suatu tinjauan yang seimbang dan tidak bias (a balanced and unbiased overview) terhadap geologi dan sistem saluran (geology and plumbing system) di bawah Lusi.
Sehingga, Saya (penulis), sejauh mungkin meniadakan diskusi pada teori untuk pemicu dari aliran lumpur.
Daftar Pustaka
REFERENCES
Cyranoski, D., 2007, Indonesian eruption: Muddy waters: Nature, 445, 812–815.
Davies, R.J., Swarbrick, R.E., Evans, R.J., and Huuse, M., 2007, Birth of a mud volcano: East Java, 29 May 2006: GSA Today, 17, 4–9.
Davies, R., Brumm, M., Manga, M., Rubiandini, R., Swarbrick, R., and Tingay, M., 2008, The east Java mud volcano (2006 to present): an earthquake or drilling trigger?: Earth and Planetary Science Letters, 272, 627-638.
Davies, R.J., Manga, M., Tingay, M., Lusianga, S., and Swarbrick, R., 2010 (in press), DISSCUSSION: Sawalo et al. (2009) The LUSI mud volcano controversy: Was it caused by drilling?: Marine and Petroleum Geology, 27, d oi:10.1016/j.marpetgeo.2010.01.019.
Istadi, B.P., Pramono, G.H., Sumintadireja, P., and Alam, S., 2009, Modeling study of growth and potential geohazard for Lusi mud volcano: East Java, Indonesia: Marine and Petroleum Geology, 26, 1724-1739.
Kopf, A.J., 2002, Significance of mud volcanism: Reviews of Geophysics, v. 40, doi: 10.1029/2000RG000093.
Kusumastuti, A., van Rensbergen, P., and Warren, J., 2002, Seismic sequence analysis and reservoir potential of drowned Miocene carbonate platforms in the Madura Strait, East Java, Indonesia: AAPG Bulletin, 86, 213-232.
Mazzini, A., Svensen, H., Akhmanov, G.G., Aloisi, G., Planke, S., Malthe-Sørenssen, A., and Istadi, B., 2007,
Triggering and dynamic evolution of LUSI mud volcano, Indonesia: Earth and Planetary Science Letters, 261, 375–388.
Mazzini, A., Nermoen, A., Krotkiewski, M., Podladchikov, Y., Planke, S., and, Svensen, H., 2009, Strike-slip faulting as a trigger mechanism for overpressure release through piercement structures. Implications for the Lusi mud volcano, Indonesia: Marine and Petroleum Geology, 26, 1751-1765.
Mellors, R., Kilb, D., Aliyev, A., Gasanov, G., and Yetirmishli, G., 2007, Correlations between earthquakes and large mud volcano eruptions: Journal of Geophysical Research, 112, B04304.
Morley, C.K., Crevello, P., and Ahmad, Z.H., 1998, Shale tectonics and deformation associated with active diapirism: the Jerudong Anticline, Brunei Darussalam: Journal of the Geological Society, London, 155, 475-490.
Osborne, M. J., and Swarbrick, R.E., 1997, Mechanisms for generating overpressure in sedimentary basins: a reevaluation: AAPG Bulletin, 81, 1023-1041.
Sawolo, N., Sutriono, E., Istadi, B.P., and Darmoyo, A.B., 2009, The LUSI mud volcano triggering controversy: Was it caused by drilling?: Marine and Petroleum Geology, 26, 1766- 1784.
Sawolo, N., Sutriono, E., Istadi, B.P., and Darmoyo, A.B., 2010 (in press), Was LUSI caused by drilling? – Authors reply to discussion: Marine and Petroleum Geology, 27, doi:10.1016/j.marpetgeo.2010.01.018.
Shara, E., Simo, J.A., Carol, A.R., and Shields, M., 2005, Stratigraphic evolution of Oligiocene-Miocene carbonates and siliciclastics, East Java basin, Indonesia: AAPG Bulletin, 89, 799-819.
Stewart, S.A., and Davies, R.J., 2006, Structure and emplacement of mud volcano systems in the South CaspianBasin: AAPG Bulletin, 90, 771-786.
Swarbrick, R.E., Mathias, S.A., Davies, R.J., and Tingay, M., under review, Probabilistic longevity estimate for the LUSI mud volcano, East Java:
Geophysical Research Letters.
Tingay, M., Hillis, R., Morley, C., Swarbrick, R., and, Okpere, E., 2003, Pore pressure/stress coupling in Brunei Darussalam implications for shale injection. In: Van Rensbergen, P., Hillis, R.R., Maltman, A.J., and, Morley, C.K. (eds.) Subsurface Sediment Mobilization. Geological Society of London Special Publication, London, 216, 369-379.
Tingay, M., Heidbach, O., Davies, R., and Swarbrick, R.E., 2008, Triggering of the Lusi mud eruption: earthquake versus drilling initiation: Geology, 36, 639-642.
Tingay, M., Morley, C.K., King, R.E., Hillis, R.R., Hall, R., and, Coblentz, D., 2010, The Southeast Asian Stress Map: Tectonophysics, 482, 92-104.