Foto Fosil Kerang kelas Bivalvia
Sumber: Koleksi Lab. Museologi Dep. Sejarah FIS UM
Fosil kerang acapkali digunakan sebagai indikator signifikan dalam merekontruksi lingkungan lampau pada situs arkeologi. Storch (1997) dalam Rahmayani dan Satria (2017) menyatakan bahwa fosil kerang berkontribusi terhadap penggambaran kondisi ekonomi di suatu situs, iklim dan habitat, serta umur radiokarbon pada suatu endapan. Simplifikasinya, penemuan fosil kerang menjadi penanda lingkungan dimana kerang itu hidup, baik di laut (marine) maupun air tawar (freshwater).
Penemuan kerang banyak ditemui pada tumpukan sampah dapur (kjokkenmoddinger), yakni tumpukan kulit kerang dan siput yang tingginya bisa mencapai 7 meter (Noor & Mansyur, 2015). Kjokkenmoddinger banyak ditemui di sepanjang pantai timur Sumatra, yakni Langsa dan Medan. Dari temuan sampah dapur ini juga tersingkap adanya pebble culture dari masa Mesolitikum. Selain fungsi ekonomis, kerang-kerang yang temuan tersebut juga ada yang dijadikan sebagai perhiasan atau fungsi sosial. Dari bekas-bekas temuan ini, dapat diindikasikan bahwa manusia purba kala itu mulai hidup menetap.
Rahmayani, D. N. A., & Satria, D. Y. (2017). Keanekaragaman fosil kerang (Bivalvia dan Gastaropoda) di situs Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Jurnal Sangiran, 6.