Foto Topeng Malangan
Sumber: Koleksi Etnografi Lab. Museologi Dep. Sejarah FIS UM
Topeng Malang menjadi salah satu warisan budaya yang bernilai seni tinggi di Malang. Topeng ini digunakan dalam pertunjukan wayang topeng malangan. Seni wayang ini sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing). Akar dari gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa), seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo), dan karawitan model Blambangan (Yuniwati dkk., 2016).
Topeng Malangan memiliki beragam warna, ukiran, serta simbol-simbol dalam ragam hiasnya yang sangat khas (Syahrin dkk., 2020). Topeng Malangan terdiri dari 78 figur, dimana terbagi dalam empat karakter utama yaitu panji, antagonis, abdi, dan binatang. Menurut Astrini dkk (2013) warna Topeng Malangan beraneka ragam dan masing-masing mendeskripsikan makna atau karakter tokoh yang berbeda-beda, yaitu:
Warna emas/putih melambangkan kesucian atau sifat setia,
Warna merah melambangkan karakter pemberani,
Warna kuning melambangkan keceriaan,
Warna hijau melambangkan kesuburan atau kedamaian,
Warna biru/hitam melambangkan sifat bijaksana,
RUJUKAN
Astrini, W., Amiuza, C. B., & Handajani, R. P. (2013). Semiotika Rupa Topeng Malangan (Studi Kasus: Dusun Kedungmonggo, Kec. Pakisaji, Kabupaten Malang). Ruas, 11(2), 89–98.
Syahrin, A., Subari, S., & Ramadhan, A. Z. (2020). Perancangan Video Mapping Sebagai Media Pengenalan Topeng Malangan. MAVIS: Jurnal Desain Komunikasi Visual, 2(01), 26–35.
Yuniwati, E. D., Rahayu, M., & Utami, S. (2016). Pemertahanan budaya topeng malangan. Research Report, 409–416.