“Lo sama boss lo juga udah tau?”
Jihoon bukan pertama kalinya melihat Mingyu marah. Ia sudah hafal bagaimana kebiasaan ketika pria itu sedang marah. Tapi saat ini, ia merasakan ketenangan yang ditunjukkan Mingyu jauh lebih mengerikan. Ia tahu jika pria itu tengah murka, namun sikapnya membuat Jihoon merasa tertekan.
“Kita juga baru tau. Lead-nya gue dapet dari adik tiri Jung Eunrim yang kirim email ke gue. Dia minta ketemu sama gue dan Bapak ikut."
Tidak ada reaksi untuk beberapa saat.
“Okay,” jawabnya singkat dan tidak ada lagi kalimat yang keluar setelah itu. Seakan percakapan mereka berakhir begitu saja.
Jihoon mengira saat Mingyu memintanya datang ke kantornya, pria itu akan menuntut jawaban dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Wonwoo dan Kim Jaemin. Tapi, hanya seperti ini?
Ia benar-benar dibuat bingung dengan sikap Mingyu sekarang.
“Bapak akan sue Baek Rion tentang rumor yang dia buat sama Wonwoo. I think Wonwoo will do the same too.”
“Wonwoo? Why now? For what? Gue yakin dia udah tau itu ulah orang itu. Kenapa ga dari awal?”
Mingyu tahu pertanyaan itu hanya akan bisa dijawab oleh Wonwoo. Namun ia tidak kuasa untuk mengatakannya.
“Gue ga tau.”
“Did he know Rion did all of this to my company?”
“Dia pasti tau,” jawab Jihoon sambil mengangguk-anggukakn kepalanya.
“Apa lo pikir mereka kerjasama?”
“No.”
“Why? Lo tau sendiri kalau dia datengin kakek dan minta uang kan?”
Jihoon menatap Mingyu dalam diam, sebelum membuka suara, “lo udah tau kalau cerita yang sebenernya, Mingyu.”
Mingyu mengedikkan bahunya, “gue ga tau harus percaya siapa lagi. He and Baek Rion seemed close in that launch event.”
“They don’t. Bapak ngelarang gue kasi tahu ini ke lo karena dia masih cari tahu,” Jihoon menyalakan tab miliknya membuka beberapa folder dan memberikannya kepada Mingyu.
“Kejadiannya waktu charity dinner. Lo bisa nilai sendiri gimana hubungan dia sama keluarganya.”
Jihoon melihat bagaimana kening Mingyu mengernyit melihat CCTV menangkap bagaimana perlakuan Jung Eunrim kepada Wonwoo dan bagaimana akhirnya pria itu terhuyung mencoba untuk melarikan diri dari kedua orang itu.
Video itu hanya berdurasi beberapa detik, namun Mingyu melihat layar itu cukup lama, membuat suasana menjadi hening di ruangan yang hanya ada mereka berdua.
“Sejauh mana yang lo tau tentang Wonwoo, Mingyu?”
Mingyu mengedikkan bahunya, sambil meletakkan tab milik Jihoon di atas meja.
“Like I said. I don’t know who I should trust.”
Mingyu menghela nafas cukup panjang, sebelum memejamkan matanya sesaat. Ia lelah, bingung… entah. Mingyu juga sulit mendeskripsikan bagaimana perasaannya sekarang.
Yang jelas, ia merasakan jika sekelilingnya terasa hampa. Ia masih melakukan rutinitasnya, bangun, makan, tidur, bekerja seperti yang ia lakukan biasanya. Namun, entah mengapa semuanya terasa kosong. Pikirannya saat ini penuh, tapi Mingyu tidak mengerti mengapa ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa kosong.
Mingyu benar-benar ingin merasa menghilang saja. Ia memiliki banyak orang di sekelilingnya. Tapi, ia tidak bisa memungkiri jika ia merasa sendiri.
“Gyu, lo harus ngomong sama Wonwoo.”
Mingyu membuka matanya perlahan dan menatap Jihoon tanpa ada niat untuk membalasnya.
Lelah.
“Sampe detik ini, gue ngerasa bersalah sama lo dan juga Wonwoo dengan apa yang terjadi sama kalian. Mungkin kalau gue kasi tau lo dari awal kakek mau ngajak ketemu Wonwoo, semuanya ga akan berakhir kayak gini. Lo sendiri tau gimana kakek lo, dia itu cuma mau gertak. Dan reaksi yang di kasi Wonwoo beda dari orang-orang yang deket sama lo sebelumnya. Gue rasa lo udah bisa liat kalau kakek lo udah attached sama Wonwoo. Dia udah rencanain ngomong sama Wonwoo untuk batalin kontrak mereka tapi—”
“Then what? Semuanya udah kejadian. Lo mau gue ngapain lagi Jihoon? Apa yang harus gue omongin sama dia? Ini yang boss lo minta juga? Dia mau gue ngapain lagi?”
“Mingyu…”
“I'm tired, Jihoon. I really am. It feels suffocating. Gue ga tau harus ngapain. Kepala gue penuh mikirin kenapa bohong. Kenapa dia milih pergi dan kenapa dia berusaha buat gue benci dia. Gue masih cari jawaban itu dan sampe sekarang gue masih lost.”
Jihoon meletakkan sebuah benda persegi panjang di atas meja itu, “ini rekaman waktu gue ketemu sama adik tiri Jung Eunrim. Mungkin lo bisa dapet lead sedikit dengan apa yang menuhin kepala lo sekarang. Tapi yang bisa jawab pertanyaan-pertanyaan itu cuma Wonwoo, Gyu.”
Mingyu menatap nanar ke arah perekam suara itu.
“Kedepannya, entah lo mau tetep ikutin kemauan Hong Mira atau balik lagi jadi diri lo sendiri—keputusannya itu ada di tangan lo. Tapi, sekarang gue ngeliat lo kayak orang lain. Gue ngerasa versi lo yang suka ngelawan kakek lo itu jauh baik.”
Mingyu tidak memberikan respon apapun, “Gyu, kadang lo harus kehilangan terlebih dahulu, sebelum lo nemuin sesuatu yang berharga. Yang bisa decide cuma lo, entah lo mau kehilangan dulu, atau dapetin sesuatu itu tanpa harus kehilangan apapun.”
・・・・・
“Hey, we've met before while you two were filming the commercial, but I never got the chance to introduce myself properly. My name is Joshua Hong. You can call me Shua or Joshua, either one works for me.”
Joshua yang berhasil menarik Mingyu untuk ikut menghampiri Wonwoo dan Dokyeom, kemudian menjulurkan tangannya ke arah Wonwoo dengan menyunggingkan senyuman terbaiknya.
“Ga usah ngomong formal ya,” lanjutnya masih dengan menjabat jemari Wonwoo yang juga tersenyum ke arahnya.
“Gue Wonwoo, salam kenal Joshua.”
Senyuman Joshua bertambah lebar, “gue juga nonton drama lo. Mama gue juga suka. Movie lo out awal bulan depan kan? Gue beruntung banget bisa jadi plus one Mingyu buat nonton premiere-nya.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “iya, jangan sampe ga dateng ya, Joshua.”
Joshua menganggukkan kepalanya, dan beralih menatap Dokyeom yang juga menatapnya malas, “gue Joshua, lo temennya Mingyu kan?”
Kalimat dingin itu berhasil membuat Mingyu bergeming dan menatap pria yang lebih pendek darinya itu dengan tatapan kebingungan.
“Iya, gue Dokyeom.”
“Ok.”
“Wonwoo, table lo dimana?” lanjut Joshua mengalihkan tatapannya dari Dokyeom dan memilih berjalan ke samping Wonwoo.
“Gue di sana,” jawabnya sambil menunjuk sebuah meja di tengah depan.
“Oh, bareng sama kita. Lo ga capek berdiri? Acaranya juga udah mau mulai, duluan ke sana ya? Igyu, yuk?”
Mingyu kembali bergeming, ia benar-benar merasakan bulu kuduknya berdiri mendengar nama itu keluar dari mulut Joshua. Belum sempat ia membalas, Joshua sudah menarik tanganya lalu menariknya berjalan menuju meja mereka.
Dengan santainya ia menggandeng Mingyu di sebelah kanan dan Wonwoo di sebelah kiri, meninggalkan Dokyeom yang hanya bisa mendengus melihat sikap kekanakannya.
・・・
“Do you like the view I choose for you?” bisik Joshua mencondongkan badannya ke arah Mingyu, membuat kalimatnya hanya terdengar oleh pria itu.
Mingyu berdeham, tiak berniat untuk membalas.
“Lo liatin Wonwoo dari tadi kayak mau ngajak berantem. Anaknya keliatan ga nyaman, Gyu. Kalau lo mau nyapa, harusnya lo barengan gue tadi.” bisiknya lagi melihat ke arah Wonwoo yang menyibukkan dirinya dengan membaca menu dinner malam ini.
“Gue bisa nyapa dia kalau gue mau.”
Joshua memutar bola matanya, “bullshit. PA lo juga, ngapain ngeliatin ke meja ini dari tagi?” tanya Joshua melihat Seungkwan berusaha mencari perhatian Mingyu.
“Kasi aja, dia mau baikan sama DK. Tapi anaknya masih belum mau ngobrol.”
Joshua mendecak, “jelek banget sifat temen lo itu kalo lagi ngambek.”
“Jelek-jelek gitu lo juga suka.”
“Hehe.”
Mingyu menggelengkan kepalanya dengan menghembuskan nafas kecil. Saat ia mengalihkan tatapanya, kedua matanya berkedip ketika tatapannya dan Wonwoo bertemu. Hanya beberapa detik, sebelum pria itu kembali menundukkan kepalanya.
Tatapan Mingyu melembut, melihat bagaimana pria itu yang bisa ia tebak sekarang sedang memainkan taplak meja dengan kedua jemarinya.
“So you two are a thing now?”
Wonwoo mengira Mingyu mengalihkan pandangannya ke arah orang yang tengah bertanya itu, namun nyatanya ketika ia kembali mengangkat kepalanya, tatapan mereka kembali bertemu.
Letupan kecil bisa ia rasakan di jantungnya melihat tatapan membuatnya merasa seakan ditarik untuk tidak bisa berpaling.
“You could say that.” jawab Mingyu.
“Well, I knew it. The rumor that you have a secret lover must be right. Did people keep guessing the wrong person until you made it public now?”
“Yeah.”
Pria yang entah siapa namanya itu terlihat bertambah antusias. Ia menarik kursi di sebelah Mingyu dan duduk dengan badan mengarah ke arahnya.
Mingyu tidak terlalu mengenal siapa orang itu, saat ini fokusnya masih ke arah Wonwoo yang belum mengalihkan tatapannya. Orang lain pasti akan mengira jika ia bosan meladeni pertanyaan orang dan memilih untuk menatap sembarang—pemandangan di belakang Wonwoo.
“Kapan kalian berdua ketemu?”
“Honestly we have known each other since we were kids. Kita kenal karena Mingyu sering ke London dan somehow ended up at the same school and college after he moved abroad.”
Kali ini Joshua menimpali, jemari lentiknya memutar-mutar gelas wine diatas meja dengan senyuman terbaiknya.
Mingyu tidak lagi mendengar apa yang Joshua dan orang itu bicarakan. Pemandangan di depannya lebih menarik perhatiannya. Ekspresi datar yang diperlihatkan Wonwoo membuatnya tergelitik untuk merubahnya.
Turns out, he’s a terrible actor. The more he tries to hide his feelings, the more expressionless he becomes.
Sampai detik ini, setiap kebiasaan baru yang ia temukan tentang Wonwoo, ia catat rapi di pikirannya. Mengumpulkan satu demi satu kepingan puzzle pertanyaannya mengenai Wonwoo yang mulai terjawab.
Kata puas masih sangat jauh dengan beberapa keping puzzle yang ia punya. Ada masih banyak kepingan yang masih Mingyu cari dan ia tidak tahu kapan bisa mengumpulkan secara utuh.
Yang bisa Mingyu simpulkan—baginya, Wonwoo adalah labirin berjalan. Ia memiliki banyak tembok sembarang yang terpasang mengelilingi hatinya. Tembok yang siap untuk mengacak-acak niat seseorang yang ingin masuk ke dalamnya.
Dan hari ini, saat ia kembali bertemu dengan Wonwoo, tidak ada lagi api kemarahan yang menyulutnya. Mungkin Mingyu benar-benar lelah, atau mungkin dari awal ia tidak pernah marah. Hanya kekecewaan mendalam yang sudah ia lampiaskan kepada pria berkacamata itu.
Kalimat-kalimat menyakitkan yang diucapkan Wonwoo di malam Mingyu mengusirnya, walau masih terngiang, tapi itu tidak lagi memiliki arti apapun. Ia tidak lagi merasa sakit hati dengan kalimat yang mungkin tidak memiliki kebenaran satu pun. Wonwoo membuatnya terkecoh dan dia pikir Mingyu akan mempercayainya sepenuhnya.
Saat itu, emosi menguasai Mingyu dan ketika bertemu lagi dengan Wonwoo dengan semua pertanyaan yang belum terjawab membuat emosinya tersulut dengan semua perasaan dan pikiran negatif yang ia rasakan, berakhir membuatnya memperlakukan Wonwoo cukup kejam. Dan hal itu akan terus menghantui Mingyu dengan perasaan bersalah yang terus menyiksanya.
Namun, hari ini berbeda. Ini pertemuan keduanya dengan Wonwoo setelah malam dimana hubungan mereka berakhir. Setidaknya itu yang Wonwoo tahu.
Mingyu mengetuk-ngetuk meja di depannya dengan jari telunjuknya, memperhatikan setiap gerak-geriknya. Wonwoo sudah mengalihkan tatapannya sekitar dua menit yang lalu, bingung dengan tatapan yang terus di berikan olehnya. Mingyu bisa melihat Dokyeom berbisik ke arah Wonwoo yang di balas dengan senyuman kecil sebelum ia kembali tertunduk memainkan taplak meja di depannya.
・・・
Wonwoo menghela nafas cukup berat dengan kedua tangan bertumpu pada pagar kayu di tempat itu. Private dinner investor Haon Atelier kali ini dilakukan di salah satu villa milik Mingyu. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia harus berada di sini. Makan malam sudah berakhir sekitar satu jam lalu, namun mereka menahan seluruh tamu untuk tidak pulang terlebih dahulu.
Ia dengar Kim Jaemin sengaja mengundang orkestra untuk menghibur seluruh tamu undangan. Tidak terlalu banyak memang, tapi Wonwoo tau semua itu adalah orang-orang penting. Tidak memiliki alasan untuk pergi dari awal, Wonwoo hanya bisa diam dan mengikuti arahan.
Sejak ia sampai disini, Wonwoo sudah berusaha menghindari Kim Jaemin dan Jihoon dengan menempel bersama Dokyeom dan Hoshi. Namun, akhirnya ia harus terpisah dengan sahabatnya yang sibuk menyapa rekan kerjanya dan hanya bisa bergantung pada Dokyeom. Ketenangannya tidak berlangsung lama saat mengetahui jika ia harus duduk satu meja dengan dengan Mingyu dan tunangannya.
Sampai acara makan malam selesai, Wonwoo terus terjebak dengan Joshua yang terus mengajaknya berbicara. Entah mengenalkannya dengan beberapa rekan kerjanya dan mengajaknya menghampiri Kim Jaemin.
Melihat bagaimana sikap Joshua, Wonwoo menebak jika pria itu tidak tahu hubungannya dengan Mingyu. Karena itu, yang ia lakukan hanya kembali mengarang saat ia membalas setiap kalimat-kalimat Joshua ataupun Kim Jaemin yang sempat berbincang dengannya sesaat.
Wonwoo tidak merasa nyaman dengan semua itu, tapi ia tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti alur yang ada. Beruntung Dokyeom membantunya kabur dari perkumpulan orang yang dimana ada Mingyu dan juga kakeknya yang akhirnya bisa membuatnya berdiri di depan sebuah taman yang dipagari oleh kayu yang mengelilinginya. Cahaya lampu taman menerangi deretan bedengan dengan tunas-tunas kecil yang baru tumbuh. Ada sedikit rasa penasaran dengan apa yang di tanam di sana. Namun, Wonwoo tidak tahu harus bertanya kepada siapa.
“Lo belum ganti baju gue yang lo rusak.”
Wonwoo terperanjat mendengar suara tidak asing itu yang sudah berdiri di dekatnya. Ia menolehkan kepalanya ke arah kiri dan mendapati Mingyu merogoh saku celananya sambil melihat ke arah taman kecil itu.
Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari Mingyu untuknya di malam ini.
“Maaf, gue masih cari. Bajunya limited, gue ga bisa langsung beli.”
Mingyu tidak membalas, ia lebih memilih untuk menyisipkan sebatang rokok di bibirnya, sambil memantik zippo-nya.
Wonwoo tertegun, ini pertama kalinya ia melihat Mingyu merokok. Ia tidak tahu jika pria merokok.
Mingyu melirik ke arah kanan dan mendapati ada sedikit rasa terkejut di ekspresi datar milik Wonwoo, berhasil membuatnya menaikkan ujung bibirnya sekilas, “why? Kaget gue ngerokok?”
Wonwoo tidak membalas. Ia mengalihkan tatapan cepat, ke arah taman itu lagi.
“Thanks to someone, I started doing this.”
Tidak ada jawaban. Bibir Wonwoo tertutup rapat.
“Lo inget sama apa yang lo bilang malam itu ke gue? The thing you said about being ready to spread your legs to get what you wanted—I feel like I need to fuck someone right now. Are you available? I can give you whatever you want. I don’t want to sleep with my fiancé before we’re engaged, but I need to satisfy this need somehow.”
Sambil menghembuskan asap rokok, Mingyu bisa melihat cengkraman Wonwoo semakin kuat di pagar itu.
“I don’t do that anymore.”
“Lo bilang lo suka uang. Lo cuma perlu rebahan, I will do the rest.”
“Uang gue udah cukup. Gue ga perlu uang lebih.”
Mingyu mengedikkan bahunya, “what a shame, I guess I’ll have to look for someone else tonight.”
Ujung jarinya mengetuk batang rokok, membuat abu yang tersisa berjatuhan.
Wonwoo masih tidak memberikan reaksi yang membuat suasana keduanya larut dalam keheningan malam. Suara musik orkestra sayup-sayup terdengar.
Namun suara tembakau terbakar dengan bau yang khas terasa lebih jelas untuk Wonwoo. Ia tidak tahu apakah Mingyu masih menatapnya atau tidak, tapi ia bisa merasakan jika ujung telinganya terasa sedikit panas.
Ia tidak pernah merasa segugup ini berada di dekat Mingyu. Wonwoo tidak tahu mengapa sekarang ia merasa enggan. Ada rasa takut yang ia rasakan. Tapi, ia tidak bisa menafsirkan mengapa ia takut.
Apakah ia takut Mingyu mengetahui semuanya?
—mungkin.
Namun… apa yang harus Mingyu ketahui?
—tidak ada.
Untuk apa ia harus merasa takut?
—tidak tahu.
Wonwoo tanpa sadar kembali menggigit pipi bagian dalamnya. Ia tidak menyukai keadaan seperti ini. Ketika keraguan kembali menyelimutinya, Wonwoo merasa jika pertahanannya selama ini perlahan mulai runtuh.
Jika Hoshi melihat ini, ia pasti akan meminta Wonwoo untuk mengatakan semuanya kepada Mingyu mengenai apa yang selama ini ia sembunyikan. Meminta maaf kepadanya karena sudah berbohong, dan meminta agar ia diberikan kesempatan untuk bisa memperbaiki hubungan mereka. Dan mengungkapkan perasaanya sudah lama berbalas.
Namun, Wonwoo memilih diam.
“Hey.”
Mendengar suara yang semakin berjarak dekat dengannya, Wonwoo mengerutkan keningnya. Aroma parfume yang Mingyu kenakan kini bercampur dengan bau rokok yang sedikit membuat hidungnya geli.
“Gue ga terlalu suka penolakan, lo tau itu. Look here.”
Wonwoo menolehkan bersamaan dengan tangan Mingyu yang menarik tengkuk lehernya.
“Don’t fight me. Just open your lips.”
Tanpa menunggu respon Wonwoo, Mingyu mendaratkan kecupan yang perlahan berubah menjadi lumatan saat Wonwoo menuruti permintaannya.
Wonwoo bisa melihat jika Mingyu tengah memejamkan matanya sambil melumatnya dalam. Lenguhannya sengaja ia tahan agar tidak keluar merasakan ciuman Mingyu yang tergesa-gesa.
Entah, mungkin karena ia takut jika tunangannya datang tiba-tiba dan melihat pemandangan ini.
Suara kecupan yang terlepas menyisakan saliva yang di bibir Wonwoo yang terbuka untuk membiarkan udara masuk ke paru-parunya. Namun, belum ada dua helaan nafas, Mingyu kembali meraup bibirnya, menghisap lidahnya dan memperdalam kembali ciuman mereka.
Wonwoo tidak akan berbohong jika kakinya sudah terasa lemas, beruntung tangannya bertumpu pada pagar itu dan jemari Mingyu melingkar di tubuhnya yang juga ikut menahannya.
Mungkin jika mereka masih berpura-pura menikah, sekarang Mingyu akan menggendongnya, menciumnya sampai mereka tiba di living room dan melanjutkan kegiatan panas mereka.
Hanya saja, ia baru saja menolak tawaran itu dan hanya menerima ciuman dari Mingyu yang sejujurnya memberikan efek yang sama terhadap perasaannya.
Wonwoo merindukan Mingyu. Dan Mingyu tidak akan pernah tahu hal itu.
Deru nafas dari keduanya memenuhi taman itu. Saat Mingyu melepaskan ciumannya, jemarinya masih berada tengkuk leher Wonwoo, menahan agar ia tidak terhuyung.
Matanya yang terbuka perlahan bisa melihat bibir tipis itu terlihat membengkak dengan sisa saliva miliknya. Baru saja ia ingin membersihkannya, Wonwoo sudah mengelap bibirnya dengan lengan baju yang ia kenakan sambil mundur satu langkah ke bekalang. Memberikan sebuah jarak di antara mereka.
“Lo ga perlu balikin baju gue. Anggep apa yang kita lakuin tadi ganti ruginya.”
Wonwoo masih terengah, enggan untuk membalas.
“Yakin ga mau terima tawaran gue? Gue bisa bayar berapapun yang lo mau. Sebelum gue cari orang lain sekarang.”
Wonwoo menggeleng, “ga.”
“Well, bye then.” balas Mingyu singkat sebelum ia berbalik meninggalkan Wonwoo yang sibuk menata perasaanya.
・・・
“Lo kemana aja!? Gue dari tadi nyariin lo!”
Suara Joshua yang terdengar jauh itu membuat Wonwoo mengangkat kepalanya. Ia bisa melihat punggung Mingyu yang perlahan pergi menjauh, berjalan ke arah Joshua yang terlihat kesal.
Ia tidak mendengar apa yang Mingyu katakan, tapi dari tempatnya berdiri ia melihat ekspresi Joshua terlihat heran. Lalu, saat melihat jemari Mingyu melingkar ke pinggang pria itu, membuat rasa nyeri di dadanya kembali muncul.