Narasi 7
“Halo, gue Jeonghan, ini Seungcheol—kakaknya Igyu.”
“Ha-halo, Kak Han. Duh, bolehkan gue manggilnya gitu… halo juga Pak Seungcheol.” ujar Wonwoo gugup.
Keringat dingin benar-benar keluar dari kedua tangannya sekarang.
Bertemu dengan Jeonghan sedekat ini benar-benar membuatnya salah tingkah. Melihatnya secara nyata tanpa halangan dari layar ponsel membuat degupan jantungnya bertambah dua kali lipat.
Wonwoo tidak bisa mendeskripsikan bagaimana Jeonghan. Tidak heran jika ia memiliki begitu banyak penggemar dan juga membuat Mingyu tidak bisa berpaling.
Bahkan suaranya pun sangat halus… lembut…
“Kenapa Jeonghannya di panggil Kak dan gue jadi Pak?”
“Hah… duh, maaf kak…”
Wonwoo benar-benar kikuk dan salah tingkah dan Mingyu yang duduk di sebelahnya pun tidak kuasa menahan tawanya.
“Dari tadi Wonu tu ngeluh nervous banget mau ketemu Kak Han sama lo. Anaknya jangan di tease lagi nanti dia pingsan beneran.”
“Mingyu apaan sih. Aku ga ada bilang gitu!” protes Wonwoo yang membuat gelak tawa muncul dari dua pasangan yang baru saja tiba itu.
“Biasain aja ya. Kan ntar lagi kita juga bakal sering ketemu… Kalian udah pesen?”
Wonwoo tersenyum, “belum pesen, cuma udah tau mau mesen apa. Tadi Mingyu bantu buat bacain menunya.”
“Pesen yang banyak ya, nanti dibayarin sama Seungcheol.” balas Jeonghan.
Awalnya Wonwoo berniat untuk memesan beberapa makanan, namun ia sedikit merasa malu karena ini pertama kalinya ia bertemu dengan keluarga Mingyu.
Walau Mingyu sudah menceritakan jika tidak ada hubungan darah antara dia dan Seungcheol, tapi ayah pria itu adalah anak angkat dari Kim Jaemin dan itu artinya dia adalah salah satu keluarga besar Mingyu.
Mendengar cerita dari mereka tentang Mingyu, hunch yang dirasakan Wonwoo ketika mengenal Mingyu memang benar.
Mingyu itu orang baik, bahkan sulit bagi Jeonghan dan Seungcheol mencari apa kenakalan yang pernah dilakukan Mingyu dulu.
“Waktu sekolah dulu, Mingyu itu ga pernah bolos. Dia paling taat banget kalo urusan akademis. Otaknya emang encer banget sih, selalu jadi juara. Gue aja ampe heran kok bisa idupnya penuh sama belajar.”
“Gue pernah ya bolos, beberapa kali. Pas kuliah.”
“Ya tapi kan ga sesering gue. Sekolah aja sampe bosen manggil wali gue tiap bulan.” celetuk Jeonghan.
“Nakal banget sih kamu waktu dulu, By. Sekarang juga masih sih.”
Jeonghan mendecak, “kamu harusnya bela aku. Kan aku kadang males kalo production teamnya yang ngaret. Ya sekalian aja aku telat duluan ketimbang nunggu.”
Wonwoo melirik ke arah Mingyu saat Jeonghan dan Seungcheol saling bercengkrama.
Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya atau sekedar ingin berbaur dengan percakapan keduanya.
Ia lebih memilih untuk meminum gelas kedua bir yang baru ia pesan.
“Ini pertama kalinya Mingyu ga cerita kalo dia punya pacar. Biasanya sama gebetan yang ga bakal pacaran aja dia udah dipamerin.” celetuk Jeonghan yang mengalihkan kembali perhatian Wonwoo.
Ia terlihat berpikir sebelum menjawabnya, “gue yang minta sih. Gue ga tau seberapa banyak yang Mingyu ceritain tentang gue ke kalian, tapi awalnya gue bener-bener ga tau dia itu siapa. Gue orangnya itu jarang banget ngecek sns urusan bisnis. Waktu kita deket pun yang gue tau dia itu kerja kantoran. Sebatas itu aja, sampe akhirnya gue ga sengaja liat dia ada di TV, baru gue tanya dia sebenernya siapa. Waktu itu kita belum jadian sih, cuma pas tau dia cucunya Kim Jaemin, nyali gue jadi ciut.”
Mingyu tersenyum, “gue ama Wonu, agak tarik ulur. Pas dia tau gue siapa, ini anak sempet ga bisa gue contact beberapa waktu. Agak susah buat gue ngeyakinin dia awalnya. Katanya kakek serem. Takut kalo dia tinggal nama pas ketauan jadian.” lanjut Mingyu yang membuat Jeonghan tertawa terbahak-bahak.
“Image kakek di bayangan kamu gitu ya, sayang?” tanyanya membuat Wonwoo mengerjapkan matanya.
Ia sekuat tenaga menahan tawanya ingin mengejek Mingyu, ‘gue baru ketemu udah dipanggil sayang, lo kenal dari kecil kena brother-zoned,’ batin Wonwoo.
“Apaan sih lo kak, sayang-sayang segala.”
“Wonwoo kan adek gue.”
“Gue juga kan adek lo.”
Jeonghan mendecak, “kan gue udah kasi lo panggilan kesayangan. Gue mau ikutan manggil Wonu ga boleh! Maunya lo apaan.”
Pembiaraan itu pun berakhir dengan berdebatan Mingyu dan Jeonghan.
“Mereka sering kayak gini ya kak?” tanya Wonwoo kepada Seungcheol.
Pria itu menggeleng, “jarang. Biasanya Mingyu suka ngalah salah Hannie, tapi sekarang dia—” Seungcheol menunjuk dua orang itu sambil menggelengkan kepalanya.
“Igyu, Seungkwan minta lo cek message. Katanya urgent.” sahut Jeonghan setelah ia memeriksa ponselnya yang terus bergetar.
“Gue lupa bawa HP, pinjem punyamu sebentar ya, sayang? Mau nelpon si Boo.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya sambil memberikan ponselnya. Sebelumnya mereka telah sepakat untuk memberi akses ponsel satu sama lain jika keadaan mengharuskan mereka saling meminjam ponsel seperti sekarang ini.
Saat Mingyu mengatakan ini, Wonwoo sama sekali tidak keberatan. Ia tidak memiliki apapun yang harus ia tutupi di dalam ponselnya. Dan dirinya? Ia sama sekali tidak penasaran dengan isi ponsel Mingyu.
Melihat pemandangan itu, Jeonghan dan Seungcheol saling menoleh.
“Lo udah berapa lama jadian sama Igyu?” tanya Jeonghan.
“Kita jadian Agustus tahun lalu. Belum setahun.” jawab Wonwoo malu-malu.
Seungcheol menganggukkan kepalanya, “menurut lo Mingyu gimana?”
Mendengar pertanyaan itu, tatapan Wonwoo menuju ke arah Mingyu yang masih sibuk dengan teleponnya.
Kedua jemarinya yang saling bertautan di atas meja mencuri perhatian Jeonghan. Matanya mimicing melihat benda berwarna perak itu melingkar di jari manis Wonwoo.
“Mingyu orangnya baik banget. Gue merasa beruntung banget bisa ketemu sama dia. Mingyu bilang sama kalian kalau dia ngejar gue, tapi dia ga tau kalo gue suka ama dia duluan, jauh sebelum dia mulai deketin gue. Jangan bilang ke Mingyu ya, nanti dia bakal teasing gue terus.” cerita Wonwoo, dengan sipuan malu di wajahnya.
“Kayaknya gue harus balik ke kamar. Ada yang harus gue selesain,” celetuk Mingyu yang kembali dengan wajah sedikit kesal.
“Sayang, kamu disini dulu sama Kak Han ama Seungcheol ya? Nanti kalau kelar cepet, aku balik kesini lagi.” sahut Mingyu meletakkan ponsel Wonwoo di atas meja.
“Ga apa, take your time,”
Mingyu mendecak dengan wajah merengut, “jangan makan dessert lagi. Nanti kumat perutnya.”
“Iya, iya. Udah sana.” kata Wonwoo sambil mendorong tubuh Mingyu.
“Gue naik dulu. Awas kalo kalian aneh-aneh.” ucapnya sebelum melenggang pergi, namun langkahnya terhenti lagi lalu berbalik, “kunci kamar udah di bawa?”
“Udah, kalo ketinggalan juga aku bisa telpon ato minta lagi. Sana deh, kayaknya urgent banget.”
Mingyu menangguk dan segera melangkah cepat menuju kamar hotelnya.
“Naggy ya, si Ingyu?” tanya Jeonghan sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
“Banget. Kadang semuanya di complaint. Gue suka pusing. Apalagi kalo abis pulang kantor, ngeluhnya banyak banget. Tapi kalo udah serious mode beneran keliatan kayak overbearing CEO gitu, hehe.” sahut Wonwoo.
Jeonghan tersenyum mendengar jawaban dari Wonwoo. Satu hal yang tidak pernah Mingyu tunjukkan kepada orang lain adalah sikap naggy-nya.
Sejak orang tuanya meninggal, ia lebih terlihat berusaha untuk menjadi dewasa.
“Jagain Mingyu ya, sayang?”
Wonwoo mengerjapkan matanya mendengar kalimat Jeonghan, “udah lama banget gue ga liat Igyu kayak tadi. Igyu beneran kelihatan happy banget ngenalin lo sama kita.”
Wonwoo menyunggingkan senyumannya dan mengangguk pelan, “iya, Kak. Mingyu juga ga tau ini. Tapi, gue ngerasa kalau kehidupan gue berubah jauh lebih mudah karena ada dia. Agak nyesel kenapa gue ga ketemu Mingyu lebih awal.”
“Sekarang kan udah ketemu. Nanti jangan di lepas ya Igyu-nya. Aslinya dia itu golden retriever yang punya separation anxiety.”
Wonwoo terkekeh, “iya, gue ga bakal lepasin Mingyu.”