“Min!”
Mingyu yang sedang fokus menulis sesuatu terkejut ketika jemari kanannya di genggam.
“Lo ngapain disini?!” Seru Chan mendapati sang kakak sudah duduk di bangku kosong sebelah Mingyu.
“Lo ga usah ikut campur. Ini urusan orang dewasa. Balik badan, kerjain apapun yang lo lagi baca.” balas Wonwoo.
“Kok tiba-tiba kesini sayang, ga kelas?”
Wonwoo menggelengkan kepalanya, “kamu pasti belum denger kan? Hari ini itu bakalan dapet pelajaran bebas. Guru-guru rapat mendadak.” balas Wonwoo.
“Tau dari mana?”
“Seungkwan ga sengaja nguping pas ke toilet. Guru kamu belum ada kasi tau apa-apa?”
Mingyu menggeleng, “kayaknya bener. Tumben sampe telat hampir sepuluh menit gini.”
Baru saja Mingyu mengatakan itu, seorang wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan masuk ke dalam kelas.
“Hari ini pelajaran bebas. Semua guru sedang mengadakan rapat yang kemungkinan selesai sampai di pelajaran terakhir. Aku akan memberikan quiz untuk kalian kerjakan dan kumpulkan saat pelajaran terakhir… Kamu, kenapa ada di kelas ini?” Ujar guru wanita itu ketika mendapati Wonwoo mengerjap-ngerjap mendengarkan pengumuman yang ia sampaikan.
“Saya penasaran apa yang kelas unggulan lakuin saat belajar mandiri seperti ini, makanya ikut gabung. Jangan diusir, janji tidak akan mengganggu.”
Guru itu menyipitkan matanya, ketika melihat anggukan dari Mingyu yang setuju dengan pernyataan Wonwoo, hanya membuatnya menggelengkan kepalanya.
“Quiz harus dikumpulkan hari ini. Saya tidak menerima pengumpulan susulan.” Lanjutnya sebelum melenggang pergi.
“Lo power abuse!” Bisik Chan ketikan guru itu keluar sembari memberikan quiz itu ke Mingyu. Guru itu adalah bibi dari Mingyu.
Wonwoo hanya mengedikkan bahunya, “Ga! Gue ga bohong. Gue ga bakal ganggu. Gue kan cuma duduk aja!” balas Wonwoo.
“Awas kalo lo berisik!”
“Ya ya.”
Tidak sampai sepuluh menit, kelas itu pun berubah sunyi, membuat Wonwoo menaikan salah satu alisnya, memperhatikan seluruh siswa yang sibuk menundukkan kepalanya mengerjakan soal di depan mereka.
Perbedaan yang sangat jauh dengan apa yang terjadi di kelasnya, buktinya saja ia bisa menyelinap ke kelas Mingyu tanpa harus berkutat dengan soal-soal.
Ia berdehem sebentar kemudian kembali melemparkan perhatiannya ke arah kekasihnya yang juga terlihat serius mengerjakan soal di depannya. Sebuah senyuman tersungging, ia menyilangkan tangannya di bangku, lalu merebahkan kepalanya sembari memperhatikan setiap detail wajah Mingyu.
“Kenapa ngeliatin gitu?” bisik Mingyu, melirik sekilas ke arah Wonwoo dengan senyuman yang semakin lebar.
“Pernah ga sih aku bilang, kalo aku suka banget liat kamu lagi serius kayak gini? Keliatan gantengnya double.”
“Tolong jangan buat aku salting disini?”
Wonwoo mengerucutkan bibirnya, “salting dari mana, buktinya kamu masih sibuk kerjain soal, ga ada keliatan salting.”
“Kan feelingnya ga keliatan. Coba deh rasain, aku berdebarnya ga normal.” balas Mingyu menunjuk dada kirinya menggunakan matanya.
Wonwoo langsung menjulurkan tangan kirinya ke arah dada Mingyu, namun jemarinya di tangkap oleh Mingyu, yang dengan cepak menggenggamnya.
“Gotcha.” bisik Mingyu tersenyum, mendapatkan kerjapan kaget dari Wonwoo, “gini bentar. Aku butuh dukungan fisik buat ngerjain ini biar cepet.” lanjutnya membawa jemari Wonwoo ke atas pahanya, mengelus-elusnya pelan.
Wonwoo terkekeh kecil, “modus banget ya kamu. Tapi, gini ya rasanya kalo kita satu kelas? Bisa diem-diem pegangan tangan di bawah meja?” tanyanya.
Mingyu menaikkan alisnya, tanda setuju, “thrilled you?”
Wonwoo menggeleng, “ga, soalnya ga mungkin kejadian.”
“Ouch.” Komentar Mingyu pura-pura terluka.
“Nanti kita coba pas kuliah ya. Pingin seharian bisa sekelas sama pacar aku.” ujar Wonwoo.
“Iya, nanti aku yang maen ke kelas kamu.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, tangan satunya yang semula menumpu wajahnya, terjulur membenarkan rambut Mingyu, “suka banget liat Min rambutnya kayak gini.” bisiknya kecil lalu kembali merebahkan kepalanya di lipatan tangannya.
Mingyu tersenyum dengan menggeleng kecil. Matanya masih terfokus pada kertas-kertas di depannya, walau ia bisa merasakan jika Wonwoo terus menatapnya lekat-lekat.
Wonwoo menurutnya itu seperti kucing, pergerakan dia itu sering penuh kejutan. Tapi Mingyu sudah terbiasa dengan hal itu bahkan ia bisa menebak jika tidak sampai sepuluh menit kedepan pria itu akan tertidur dengan posisi kepala menatap ke arahnya.
Hal ini sudah sering terjadi, seberapa lama pun Mingyu sibuk dengan tugas, studi atau hal yang tengah ia kerjakan, Wonwoo itu selalu ada di sampingnya.
Dan benar saja, tidak lagi mendengar ocehan dari orang disampingnya, Mingyu menolehkan kepalanya dan mendapati Wonwoo tertidur dengan kacamata masih bertengger di hidungnya.
Ia tersenyum sebelum meletakkan pensil miliknya, kemudian melepaskan kacamata Wonwoo dan meletakknnya dengan hati-hati di samping kotak pensilnya.
Setelahnya, ia kembali fokus ke kertas-kertas di depannya, dengan tangan masih menggenggam erat jemari Wonwoo di bawah meja. Luput dari perhatian orang-orang di kelasnya.