Narai 5
“Turun disini aja, pak.” ujar Mingyu kepada supirnya, “minta tolong buat anter gift yang di kasi kakek ke tempat aku aja ya. Aku mau jalan sama pacar aku.” ujar Mingyu mengedipkan matanya.
Pria paruh baya yang sudah bekerja belasan tahun dengan kakeknya mengangguk mengerti dan segera menepikan mobil, membiarkan Mingyu keluar melangkah lebar menuju orang di depannya.
Ketika melihat Wonwoo, ia sengaja meminta supirnya untuk memperlambat lajunya, sambil mencoba menelpon pria itu. Namun, melihat tidak ada respon, ia memutuskan untuk menghampirinya.
Sepertinya sudah lama ia tidak berjalan-jalan malam hari seperti ini.
Langkahnya sudah semakin mendekat, tapi sama sekali tidak terlihat tanda-tanda dari Wonwoo untuk sekedar menoleh ke belakang.
Ia bahkan dengan sengaja mengikuti pria itu tanpa memanggilnya—penasaran dengan reaksi yang akan Wonwoo berikan.
Namun, sudah hampir lima menit berlalu, pria itu sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Mingyu mengerutkan keningnya, dan memutuskan untuk mengimbangi langkahnya dengannya.
“Hey.”
Mingyu tidak bersuara keras, tapi reaksi Wonwoo benar-benar terlihat seperti kucing yang terkejut.
“Gue ga ngagetin lo. Gue dari tadi ada di belakang, cuma lo sama sekali ga noleh.” Ucap Mingyu cepat sambil menaikkan kedua tangannya.
“Min?” panggil Wonwoo menghentikan langkahnya.
Mingyu memiringkan kepalanya melihat reaksi pelan dari Wonwoo. Keningnya mengernyit sebelum ia mencondongkan tubuhnya ke arah Wonwoo.
Nafas milik Mingyu menerpa lehernya yang membuatnya merasa hangat.
“Lo minum?” tanya Mingyu yang mencium aroma alkohol dari Wonwoo.
“Iya hehe. Gue tadi minum dikit.”
“Sendiri? Kenapa ga minta gue temenin?” Tanya Mingyu.
“Kebetulan aja pas gue lagi keluar, terus mampir bentar ke convenience store. Maunya sih beli air, cuma gue malah ngambil soju.” balas Wonwoo.
“Kenapa lo bisa jalan kaki?” lanjutnya bertanya.
Mingyu masih menatap Wonwoo dalam diam sebelum membasahi bibirnya yang terasa kering, “gue ga sengaja liat lo. Gue ada telpon juga, cuma lo ga respon.”
Mendengar itu, Wonwoo segera memeriksa ponselnya, “sorry, silence mode.”
“Yuk?” ajak Mingyu.
Wonwoo menganggukkan kepalanya dan berjalan berdampingan dengan Mingyu. Menyusuri jalanan menuju gedung penthouse milik Mingyu.
“Lama banget sih gue ga jalan kaki kayak gini. Biasanya gue itu naik sepeda.”
“Gue malah sebaliknya. Lebih sering jalan kaki, soalnya ga punya sepeda.” balas Wonwoo sambil terkekeh pelan.
Mingyu tersenyum menanggapinya, “nanti pake sepeda gue aja kalo lo lagi pingin, gedung tempat gue tinggal luas sama privacy-nya aman banget.”
“Ok, tapi temenin. Gue takut nyasar.”
Mingyu tertawa, “siap, fiancé.”
Wonwoo mendengus mendengar jawaban dari Mingyu dan tidak membalas lagi, membuat keheningan menemani mereka.
“Seungkwan bilang kalo dia bakal anter copy kontraknya ke lo. Dia udah ada ngehubungin lo, belum?”
“Hm. Iya udah. Nanti bakal di anter setelah kita balik dari Jepang.” jawab Wonwoo singkat.
Mingyu menoleh ke arah Wonwoo, lalu mengernyitkan keningnya, “kenapa ekspresi lo gitu?”
Saat Wonwoo menolehkan kepalanya, ia bisa melihat raut wajah penasaran dari Mingyu.
“Emangnya kenapa?”
“I don’t know. You seem dejected.”
Wonwoo menggigit bibir bagian atasnya, tidak mengelak apa yang baru saja Mingyu tebak.
“Iya… sedikit.”
“Kenapa?”
Helaan nafas berat terdengar menjadi awal dari ungkapan Wonwoo, “gue baru sadar, kalo gue masih mempertanyakan keputusan gue tentang kita ini tepat ato ga."
“Lo nyesel?”
Wonwoo menyunggingkan senyuman lemah, “kalau gue jawab iya, lo bakal marah ga?”
Untuk pertama kalinya, Wonwoo tidak bisa membaca ekspresi yang diberikan oleh Mingyu.
“Seungkwan ada ngomong apa aja?”
Wonwoo mengerjapkan matanya, ternyata Mingyu kalau lagi mode serius gini terlihat sedikit menyeramkan, pikirnya.
“Hmm… dia cuma kasi reality check aja ke gue.”
“As in?”
“In case hubungan kita kebongkar sampe publik ataupun ketahuan pas kita cerai nanti… Gue beneran bakal ga bisa gerak. Gue ga kebayang aja gimana gue pas hal itu kejadian.”
Keduanya masih belum melanjutkan langkahnya, Mingyu juga terdiam sambil menatap lekat ke arah Wonwoo yang lebih memilih untuk melihat sepatunya.
“Gue ga akan biarin itu terjadi, Wonwoo.” ujar Mingyu dengan penekanan di dalamnya.
Wonwoo tersenyum masih tertunduk, “selama kita bareng nanti, ga ada yang bisa nutup kemungkinan apapun. Bisa aja lo ketemu sama Jeonghan lo. Belum lagi kita harus ngadepin keluarga lo, temen-temen lo. Sorry, tiba-tiba aja gue jadi ragu. Gue takut kalau gue yang buat semuanya berantakan.” ujarnya dengan suara yang makin mengecil.
Salah satu hal yang membuat Wonwoo enggan untuk meminum alkohol, adalah ia merasa jika perasaannya menjadi tidak terkontrol. Kadang orang-orang lebih suka saat bisa mengungkapkan perasaannya sehabis minum, tapi tidak untuk Wonwoo. Ia tidak sepenuhnya membencinya, hanya merasa tidak nyaman.
“Hey, bisa liat gue bentar ga?” Nada bicara Mingyu melembut.
Perlahan, Wonwoo mengangkat kepalanya, membiarkan pupil mata kecolkatan miliknya yang bersembunyi di balik kacatama itu bertemu dengan tatapan lembut dari pria yang lebih tinggi darinya.
Jemari Mingyu bergerak menyibak rambut yang menutupi matanya, “gue ga tau apa yang dibicarain Seungkwan ke lo. Seandainya itu buat lo ga nyaman atau nyinggung lo, gue minta maaf. Tapi, gue minta lo kasi kepercayaan sama gue. Kita emang belum kenal terlalu lama, dan mungkin itu yang buat lo nambah ragu. Sebenernya kalaupun lo mau tiba-tiba batalin kontrak, gue ga akan minta ganti rugi apapun itu. But it has been done. I’ve been talking about us to my family, my friends, and even Kak Han. Lo cukup jalanin hubungan ini kayak lo acting. Urusan lainnya, biarin bebannya ke gue aja. Gue minta maaf juga udah dragging lo ke masalah gue. Karena itu gue akan ngelakuin apapun yang gue bisa buat lindungin lo. Percaya sama gue ya, Wonwoo?”
Pria berkacamata itu menggigit pipi bagian dalamnya, matanya yang menyerupai rubah itu masih menatap datar ke arah Mingyu, seakan ia tengah membaca pria itu.
Garis wajah tegas milik Mingyu buat tatapan yang ia berikan kepada Wonwoo ini sulit untuk ia baca. Tidak ada keraguan sedikitpun yang di berikan oleh Mingyu. Tatapan itu menatapnya tulus seakan-akan Wonwoo boleh bergantung kepadanya.
Wonwoo masih belum mengatakan apapun, tapi detik berikutnya, ia bisa merasakan jika Mingyu menarik tubuhnya dan mendekapnya erat, “gue ga tau apa yang lo alamin selama gue dinner ama kakek. Tapi gue harap lo baik-baik aja ya, sayang? I like having you around, Wonwoo. It's a bit weird, but it feels like we already knew each other a long ago.”
Wonwoo membenamkan wajahnya tubuh Mingyu dan kembali menghirup aroma khas dari pria itu. “Min, mungkin kalo kita ketemu lebih awal, hidup gue bisa sedikit lebih gampang ya?”
“Hm?” Mingyu bergumam sambil mengelus pelan punggung Wonwoo.
“Kalo kita temen dari awal dan ga ada status pacaran palsu ini, lo bakal tetep bantu gue di kerjaan gue ga?”
Terdengar kekehan pelan dari Mingyu, “pasti. DK—kalo lo tau dia, sama temen gue namanya Minghao, semuanya gue bantu kok di awal-awal karir mereka. Walaupun buat agensi itu goal utamanya Kak Han, tapi ngeliat dua sahabat gue struggle di agensi mereka sebelumnya juga jadi alasan kenapa gue suggest untuk buat perusahaan di field itu.”
“Beruntung ya mereka punya lo.”
“Hm. Makanya, propose gue jadi Hoshi lo yang kedua gimana? Di terima apa ga?”
Wonwoo perlahan menarik tubuhnya dan melangkah mundur, sebuah senyuman sekarang sudah muncul di wajahnya, “kalo yang itu gue pikirin lagi.”
Mingyu mendecak, “susah banget sih mau jadi temen lo.” balasnya membuat gelak tawa dari Wonwoo yang terlebih dahulu melanjutkan langkahnya.
“Ayo, dingin.” ajak Wonwoo yang menyembunyikan kedua tangannya di saku celanannya.
“Ayo. Kakek ada kasi hadiah buat lo. Khusus, gue ga boleh minta.”