Narasi 12
“Mingyu ga cerita banyak tentang kamu, jadi saya cuma tau sebatas nama kamu saja,” ujar Kim Jaemin membuka percakapan mereka.
Mingyu mencibir, “kakek boong, dia udah background checking kamu. Kan aku liatin chatnya pas si reptil ngadu.”
“Mingyu!”
Wonwoo tersenyum kikuk, “ga apa, Pak. Saya juga kalau jadi Bapak bakal ngelakuin hal yang sama…”
“Jangan panggil saya itu. Kan kamu pacaran sama cucu saya, bukan dia bukan anak saya.”
“Oh…”
Mingyu tertawa, “panggil kakek aja. Bilang dari tadi kan harusnya, jadi Wonu ga bingung harus addressing kakek gimana. Tch.”
“Kamu ini! Diam sebentar bisa?”
“Ga bisa…” balas Mingyu sambil menjulurkan lidahnya.
Wonwoo hanya tersenyum melihat keduanya, ternyata Mingyu sama saja seperti anak pada umumnya. Suka jahil.
Makanan yang Wonwoo siapkan satu per satu di keluarkan oleh pelayan milik keluarga Mingyu. Wonwoo tidak akan berbohong, ketika mereka sampai di kediaman Kim Jaemin, hal pertama yang ia lakukan saat menginjak ruang tamu adalah menelan ludahnya.
Kediaman Kim Jaemin jauh dari kerumanan. Hanya ada beberapa bangunan yang terletak di kompleks perumahan elit ini, dan rumah ini terletak di paling ujung. Sepanjang perjalanan, Mingyu bercerita mengenai masa kecilnya di tempat ini. Bagaimana rumah ini adalah kenangan yang ditinggalkan oleh kedua orang tuannya.
Rumah yang menyimpan kebahagiaan Mingyu.
Wonwoo masih bisa melihat foto keluarga terpajang indah, memamerkan sebuah keluarga yang harmonis. Mingyu memang tampan sejak ia kecil.
Meraka mengabadikan tahun ke tahun pria itu tumbuh, sampai akhirnya hanya menyisakan satu foto terakhir sebelum Mingyu kehilangan kedua orang tuanya.
Sangat disayangkan, kedua orang tuanya tidak bisa melihat jika anaknya tubuh menjadi seroang pria yang semakin tampan dan di kagumi.
Bagi Wonwoo, melihat bagaimana Mingyu bersama keluarganya, adalah sebuah definisi keluarga harmonis yang diimpikan orang-orang. Termasuk dirinya.
“Makan dulu ya, udah laper banget Igyu.” seru Mingyu yang sudah memegang alat makannya.
“Okay.” balas Wonwoo. Diam-diam ia melirik ke arah Kim Jaemin yang mulai menyantap makanannya. Ia merasa gugup, tentu. Walau bagaimanapun ia memasak untuk salah satu orang penting di negara itu. Dan artinya, ia mempertaruhkan hidupnya di setiap potongan daging yang ia masak.
Tanpa sadar, Wonwoo menahan nafas.
“Kamu belajar masak dimana?” tanya pria paruh baya itu.
“Enak kan Pops, masakannya Wonu.” celetuk Mingyu sambil menyantap satu sendok penuh nasi.
“Aku pernah kerja di restaurant, waktu itu aku bantu di kitchen. Chefnya suka ngajarin, aku jadi kebagian diajarin. Dari saja jadinya suka masak juga.” cerita Wonwoo.
“Oh ya? Di restaurant mana dulu?”
“Restorannya kecil, namanya Areum Table. Sekarang udah tutup soalnya, ownernya pindah ke China.” jawab Wonwoo.
Kim Jaemin terlihat menganggukkan kepalanya, Wonwoo pun menghela nafas lega melihat jika setengah dari makanannya sudah hampir habis. Sepertinya kakek Mingyu bisa menerima makanannya.
“Selama ga dapet project kegiatan kamu ngapain aja?”
Wonwoo nampak berpikir dan menjawab sealami mungkin. Ia sama sekali tidak membiarkan celah bahkan untuk dirinya sendiri untuk gagal menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh Kim Jaemin.
Bahkan ketika ia bertanya mengenai bagaimana hubungannya dengan Mingyu, jawaban yang dilontarkan Wonwoo terdengar nyata, seperti bagaimana pasangan pada umumnya.
Mingyu sendiri pun sedikit terkejut dengan bagaimana cara Wonwoo menanggapi pertanyaan dari kakeknya. Makan malam mereka pun berjalan dengan mulus.
“Gugup ya?” tanya Mingyu saat Wonwoo kembali dari toilet.
“Iyalah? Jantung gue belum balik normal. Kenapa kakek lo jarang senyum?”
Mingyu yang sedang membuka minuman pesanan kakeknya hanya terkekeh, “dia emang gitu, suka ga liatin ekspresi. Gengsinya gede tuh.” balas Mingyu.
“Menurut lo gimana? Reaksi kakek lo liat gue itu gimana? Aman ga?”
“Aman sayang. Sejauh ini kakek masih chill. Lo ga keliatan gugupnya. Pantes lo mau jadi actor ya? Acting lo bagus banget.”
“Hehehe, ya kan? Nanti gue bakal buktiin kalo LumiDAL ga nyesel undah mau nerima gue. Sekarang kita mau ngapain?”
Mingyu menunjuk minuman di tangannya, “minum ama kakek. Udah tradisi, ga boleh di lewatin. Bantu bawa gelasnnya ya sayang…”
“Okay!” seru Wonwoo mengambil sebuah nampan berisikan tiga buah gelas dan cemilan ringan.
Ia berjalan di sebelah Mingyu menuju tempat biasa orang itu minum bersama dengan kakeknya.
“Rumah lo gede banget. Yang bersihin berapa orang?”
Mingyu tertawa mendengar pertanyaan Wonwoo. Belum pernah ada orang yang bertanya seperti itu sebelumnya, “jujur gue ga tau. Soalnya ada orang yang ngurus itu.”
Dari ekor matanya Mingyu bisa melihat Wonwoo tengah mengerucutkan bibirnya—salah satu kebiasaan saat ia merasa tidak puas.
“Nanti gue tanyain kakek deh kalo lo penasaran.”
“Ga usah! Jangan tanyain!” hardik Wonwoo yang kembali mendapatkan kekehan dari Mingyu, “iya, sayang.”
Wonwoo menatap takjup ke arah Mingyu yang dengan telaten memahat es batu sebelum menaruhnya di dalam gelas dan menuangkan minuman kesuakaan kakeknya.
“Ga pernah liat Mingyu motong es?”
Wonwoo menggeleng, “aku soalnya ga terlalu suka minum. Semisal pun pingin minum, cuma soju sama bir aja.” jawabnya jujur.
“Mingyu kuat minum kayak saya sama papanya. Dulu sebelum Mingyu gede, biasanya saya di temenin papanya buat minum-minum. Tapi sekarang dia. Dipikir lagi, dia cepet sekali gedenya. Tapi masih nakal.” komentar Kim Jaemin setelah menyesap minuman yang menghangatkan tubuhnya.
“Mingyu kayak gimana kalo di rumah?”
Kim Jaemin mengehela nafas berat dan menggeleng kecil, mendapatkan cibiran dari Mingyu yang duduk di sebelah Wonwoo, “over banget reaksinya.”
“Saya angkat tangan ngurus dia, untung waktu itu dia sekolah di luar.” balas Kim Jaemin
Wonwoo tersenyum mendengarnya, selanjutnya kakek dan cucu itu berdebat mengenai mereka yang saling rindu sama lain selama Mingyu sekolah di luar negeri.
Ada desiran aneh ketika Wonwoo melihat bagaimana hubungan Mingyu dan kakeknya. Sama seperti bagaimana ia menyaksikan Hoshi dan keluarganya setiap kali ia berkunjung.
Ada rasa iri. Dia hadir di antara mereka, tapi Wonwoo merasa jika dia tidak ada di bagian mereka.
Namun, senyumannya tidak pernah luput. Ia sudah berada di posisi ini tidak sekali. Wonnwoo sudah terbiasa. Menutupi kesepiannya dengan memasang topeng seperti sekarang.
Mingyu memang benar, berakting adalah keahlianya.
“Mingyu bilang kalau kalian mau daftarin pernikahan kalian dulu, baru nanti resepsinya menyusul. Kamu benar mau seperti itu?”
Wonwoo mengerjapkan matanya mendengar kalimat itu, Mingyu belum memberikan brief untuk hal yang ini. Ia tahu jika mereka akan menikah, tapi Mingyu belum memberikan informasi jika ini akan di bicarakan sekarang?
“Iya. Kita mau resmiin dulu secara hukum.” celetuk Mingyu.
“Saya ga tanya kamu. Saya bertanya sama Wonwoo.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “iya. Sebelumnya, aku juga mau minta maaf udah pacaran diem-diem sama cucu kakek. Ketemu sama Mingyu itu hal yang ga bisa aku duga. Pacaran sama dia pun sampe sekrang masih buat aku ga percaya. Dulu waktu aku tau siapa Kim Mingyu ini, aku langsung ngerasa ciut. Tapi Mingyu ngeyakinin aku kalau kita akan baik-baik saja. Tapi, aku kemakan omongan publik yang bilang kakek itu galak, makanya aku minta sama Mingyu untuk kita backstreet aja.” cerita Wonwoo.
“Mungkin karena kita udah pacaran, aku mulai sedikit greedy waktu liat Mingyu terus nerima kencan blind date yang di arrange keluarganya, aku ga suka. Aku mulai ngerasa kalau Mingyu punya aku. Kita sempet berantem karena hal itu, sering. Tapi tetep salahnya aku, karena aku yang mau kita backstreet. Dan waktu Mingyu bilang kalau kakek akhirnya tau hubungan kita. Rasa takut aku itu berubah jadi lega.
Mingyu menatap Wonwoo, jemarinya meraih tangan Wonwoo dan menautkannya.
“Jadi hari ini, aku mau minta ijin buat nikahin cucu kakek.”
“Hey! Kamu nyuri start aku! Aku yang harusnya minta ijin buat nikahin kamu sama kakek!”
Wonwoo mendecak dan memukul paha Mingyu, “diem dulu, ini lagi serius.”
Mingyu mengerucutkan bibirnya sambil memutar bola matanya, membuat Kim Jaemin menyipitkan matanya melihat tingkah kekanakan cucunya.
“Aku bisa ngebayangin konsekuensi ke depannya seandainya ada hal yang membuat hubungan kita ketauan publik. Background aku beda sama Mingyu. Aku bukan dari keluarga yang punya standar sama seperti kalian. Aku orang yang ga punya kelurga. Tapi, aku bisa buat cucu kakek bahagia.”
Cucu dan kakek itu mengerjapkan matanya mendengar kalimat terakhir dari Wonwoo.
Mingyu tahu jika Wonwoo sudah menghabiskan gelas keduanya, mungkin bantuan alkohol membuatnya bisa mendeklarasi kalimat itu.
“Aku berharap kakek bisa kasi aku ijin buat Mingyu bahagia,” lanjut Wonwoo mengeratkan tautan ditangannya dan Mingyu dengan senyuman tulus di wajahnya.
Kim Jaemin berdehem, “saya tidak pernah memandang standar untuk anak dan cucu saya. Mereka itu berhak memilih untuk kebahagiananya sendiri. Tapi saya ingin Mingyu mendapatkan yang terbaik. Semua pilihan saya dan tantenya itu di tolak, dan tiba-tiba saja dia datang bawa kejutan punya pacar backstreet dan tadi pagi bilang mau adopt anak. Saya pikir awalnya anak ini cuma main-main. Tapi melihat dia benar-benar datang bawa seseorang sekarang, saya merasa senang. Seperti hutang saya itu udah kebayar.” ujar Kim Jaemin.
“Saya tidak punya hak untuk melarang keinginan Mingyu. Kalau kebahagiannya di kamu, saya juga akan ikut bahagia. Saya cuma mau mengingatkan, kalau menikah di keluarga ini memang harus punya mental yang kuat. Di luar sana banyak orang jahat. Banyak orang yang ingin melihat saya atapun Mingyu hancur. Saya hanya berharap kamu bisa menjaga nama keluarga ini juga.”
Wonwoo kembali tersenyum dan mengangguk, “terima kasih kakek. Makasi udah kasi cucunya buat saya. Saya jagain Mingyunya mulai sekarang.”
Sebuah kecupan mendarat di pipi Wonwoo, “kalo aku ga duduk, kayaknya aku udah meleyot deh.” kata Mingyu yang menyenderkan kepalanya di bahu Wonwoo, membuat pria paruh baya itu memutar bola matnya.
“Berat, Min…” keluh Wonwoo mendorong kepala Mingyu, tapi gagal.
“Min?” tanya sang kakek menatap tidak percaya ke arah Wonwoo.
Pria berkacamata itu menganggukkan kepalanya, “panggilan sayang aku, hehe.”
Kim Jaemin terdiam. Ia menatap pasangan itu satu sama lain.
Min…
Itu adalah panggilan kedua orang tua Mingyu yang dibuat oleh Ibu Mingyu kepadanya. Namun, sejak mereka meninggal tidak ada seorang pun yang boleh memanggilnya dengan sebutan itu.
Mingyu melarang orang-orang untuk memanggilnya seperti itu, bahkan Jeonghan.
Dan sekarang, melihat tidak lagi ada beban di matanya saat orang memanggilnay dengan sebutan itu, membuat Kim Jaemin terdiam.
Sepertinya Wonwoo tidak tahu mengenai hal itu dan Mingyu juga tidak melarangnya…
Mingyu sudah melepaskan kesedihan yang membelenggunya, ia sudah merelakan kedua orang tuanya.
Percakapan mereka berlanjut, dimana Kim Jaemin mulai bercerita mengenai keluarganya dan juga Mingyu. Suasana malam di rumah itu hari ini tidak sunyi seperti biasanya. Gelak tawa bisa terdengar lepas dari Mingyu dan kakeknya.
Mereka berhasil. Mingyu dan Wonwoo berhasil membodohi Kim Jaemin.
・・・・・
“Jangan minum lagi sayang…”
Mingyu meraih gelas di tangan Wonwoo dan meletakkanya di atas meja.
“Belum mabuk kok,”
“Iya tau… tapi muka kamu udah merah. Udah ngantuk kan?”
Wonwoo menggeleng, “belum,”
“Sudah malam. Kalian istirahat dulu,” sahut Kim Jaemin yang mendapatkan anggukan dari Wonwoo, “kakek udah mau tidur?”
“Iya.”
“Okay. Selamat malam kakek.”
Kim Jaemin tersenyum, “good night. Jangan begadang Igyu. Saya dengar kamu beberap hari ini sering lembur. Jangan buka laptop atau hp setelah ini. Tidur.”
“Iya, pops. Sana tidur dulua, Igyu masih mau disini sebentar lagi.”
“Jangan lama-lama, nanti masuk angin.”
“Iyaa… sana…”
Kim Jaemin mendecak, ia berjalam dengan dengeratkan jubah tidur yang sudah ia kenakan. Ketika ia ingin menyampaikan sesuatu dan membalik badannya, tubuhnya terhenti melihat cucunya dan pacarnya tengah berciuman.
Ia menggelengkan kepalanya, “tch, dasar anak muda.” komentarnya yang melajutkan langkahnya untuk menuju kamarnya.
“Udah pergi belom?” tanya Wonwoo saat ia melepaskan ciumannya. Ia masih belum berani menoleh kebelakang, dan ia sama sekali tidak mendengar suara langkah apapun.
“Udah.” balas Mingyu yang membuat Wonwoo menarik dirinya sedikit menjauh. Dengan kedua tangannya ia mengusap wajahnya, “gila minuman lo keras banget.” komentarnya yang merasa wajahnya sudah memanas.
“Gerah banget. Kamar lo dimana? Gue mau mandi.” tanya Wonwoo
“I kinda want you tonight.”
Wonwoo mengangkat kepalanya dan bertemu dengan tatapan mata Mingyu yang sedikit memerah, “lo mabuk?”
Mingyu menggeleng, “sober.”
Wonwoo nampak berpikir, “gue prep dulu, lo mau nunggu ga?”
“Mau.”
“Oke. Kamar lo dimana?”