Keheningan masih berlangsung hampir sepuluh menit setelah Baek Daeho sampai di tempat yang ia janjikan. Kemaren sore, Wonwoo mendapatkan kunjungan dari sekretaris pria itu dan memintanya untuk bertemu. Dan hari ini, di hari ia keluar dari rumah sakit, Wonwoo meminta Hoshi untuk mengantarkannya bertemu dengan Baek Daeho.
Awalnya, Hoshi sangat tidak setuju mengetahui Wonwoo mengiyakan pertemuan itu, tapi bagi Wonwoo apa yang ia lakukan sekarang hanyalah balasan yang karena Baek Daeho mau menyempatkan waktu untuk bertemu dengannya sebelum ini. Melihat keputusannya yang tidak bisa diganggu gugat, Hoshi hanya memintanya untuk tidak memutuskan sambungan telepon mereka selama ia bertemu dengan pria itu.
"I heard what Rion did to you. He's been detained by the police since last week."
"Iya. Sesuai dengan yang bapak bilang. Kalau dia harus bertanggung jawab dengan semua yang dilakukan. Saya ga ada pilihan selain melaporkan dia."
Baek Daeho terlihat menganggukkan kepalanya, "okay."
"I swallowed my pride just to come here today. Please drop the charges. If you can't, then please convince Kim Mingyu to my request for a meeting."
Wonwoo menatap pria di depannya tidak percaya. Ternyata memang ada orang tua yang akan melakukan apapun untuk kebebasan anaknya, walaupun anak itu sudah melakukan kesalahan yang besar.
"Saya ga bisa melakukan keduanya."
Jawaban dari Wonwoo mengejutkan Baek Daeho, terbukti dari matanya yang sedikit membesar, mendengar jawaban yang tidak ia bayangkan sebelumnya.
"Saya ga tau kenapa Bapak minta pertemuan dengan Mingyu ke saya. Untuk hal itu, ga akan bisa lagi saya lakukan. Saya dan Mingyu sudah tidak mempunyai hubungan apapun."
Dari sorot matanya, Wonwoo tahu jika pria itu tidak puas dengan jawaban yang ia berikan. Tapi, ia sama sekali tidak berbohong untuk itu.
"He did something to my company. I can't let him ruined the place where I build from scratch."
Wonwoo mengernyitkan keningnya, "saya ga tau kenapa itu ada hubungannya dengan saya. Mungkin Mingyu punya alasan melakukannya."
"Kamu satu-satunya orang yang bisa mempertemukan saya dengan dia. Saya tidak bisa membiarkan perusahaan saya hancur karena kecerobohan Rion."
Wonwoo memicingkan matanya. Ia ingin tertawa mendengar nama itu lagi-lagi menjadi penyebab pria di depannya melukai harga dirinya untuk mengatakan hal seperti itu.
"Maaf, saya ga bisa."
"Kamu ingin membalas saya karena saya menolak permintaan kamu lalu?”
Wonwoo terdiam, "kalau bapak menganggapnya seperti itu, silahkah. Tapi saya hanya mengikuti saran Bapak sebelumnya. Jika anak Bapak melakukan kesalahan, dia harus menerima konsekuensinya. Seandainya apa yang dia lakukan itu merugikan perusahaan Bapak, it's all on him. I have nothing to do with it. Tuntutan saya dengan Rion tidak ada hubungannya dengan apapun yang terjadi dengan perusahaan bapak.”
“Saya sudah sering memperingati Rion untuk tidak menyeret orang lain. Saya juga meminta Bapak untuk membuatnya berhenti. Tapi, Bapak menolaknya.” lanjut Wonwoo semakin membuat wajah pria itu semakin mengeras.
“Sekarang, urusan saya dan Rion sudah selesai. Sesuai keinginan dia, Ibunya dan juga bapak, setelah hari ini, saya ga akan muncul lagi di depan kalian.”
“I never did anything to you. Why should I have to bear the consequences of what my son did?”
Wonwoo mengerutkan keningnya mendengar kalimat egois itu, “saya juga ga pernah melakukan apapun sama kalian. Waktu itu saya terlalu kecil untuk bisa menerima kalau saya sudah dibuang dan terlalu bodoh percaya jika ibu saya akan senang bertemu dengan saya. Bapak tau, kalau saya juga dimanfaatkan saat itu. Tapi bapak juga memilih diam. Kenapa saya yang harus kesalahan yang dibuat istri bapak? Did I ask her to give birth to me?”
Baek Daeho menatap Wonwoo dengan mengerutkan keningnya sangat kuat. Rahangnya mengeras seperti menahan amarah.
“Sejak hari itu sampai mereka pindah ke Amerika, saya sudah mengikuti semua keinginan kalian untuk tidak pernah muncul lagi. Tapi, anak bapak yang selalu mencari keberadaan saya.”
“Dia melakukan semua ini karena kamu!”
Wonwoo tersenyum, “It must be nice having a parent who will defend you, even when you’re trying to kill someone.”
Baek Daeho terdiam.
“Saya tau bapak juga menganggap semua ini kesalahan saya. Karena itu, sekarang saya akan melakukan kemauan kalian. Rion ga akan bisa menemukan saya.”
Baek Daeho bergeming, “kamu pergi begitu saja? Meninggalkan semua masalah ini? Call Kim Mingyu.”
“Ga. Laporan saya tidak ada hubungannya dengan Haon Atelier.”
“Jeon Wonwoo!”
“If you’re trying to hurt me because I refused, then do it. I have nothing to lose. I died once because of your wife. Dying twice doesn’t seem so bad.”
・・・・・
Hoshi memeluk Wonwoo saat erat saat pria itu kembali ke dalam mobil. Semua percakapannya dengan Baek Daeho ia dengar dengan sangat jelas.
“You did good.”
Wonwoo tersenyum.
“Ga tau malu banget. Dia bahkan ga minta maaf ke lo. Pantes anaknya gila. Kedua orang tuanya juga sama.”
“Emangnya perusahaanya dia kenapa, Hoshi?”
Hoshi melepaskan pelukannya dan mulai menghidupkan mesin mobil dan melaju.
“Pastinya sih gue ga tau kenapa. Tapi ini kayaknya ada hubungan sama cara Rion dapetin file perusahaan Mingyu. Salah satu partner law firm yang di pake sama HDH itu emang punya bapaknya. Cuma gue ga tau cakupannya sampe mana.”
“Okay.”
“Rumor orang-orang bilang Mingyu ga main-main kalau ngebales, akhirnya gue saksiin sendiri. Reality show lo juga kan? Gue diceritain Jihoon gimana dia waktu lo ilang kemarin itu. Gue rasa dia tulus sama lo, Nu.”
Hoshi melirik ke samping sekilas, melihat Wonwoo yang tengah memandang keluar jendela sambil memainkan jemarinya.
Tidak ada respon.
“Lo ga mau coba ngobrol sama dia? try to fix things?”
“Ga ada yang harus di perbaiki,”
Hoshi menghela nafas, “lo benera ga mau coba sama Mingyu? Become the real thing?”
“Ga. Orang kayak Mingyu, ga bisa sama gue. Gue cuma buang-buang waktu dia. Mingyu itu terlalu baik buat gue.”
“Nu,”
“Kim Mingyu…”
Wonwoo terdiam sesaat setelah menyebut nama itu, “Being with him was too good to be true. He was my fever dream, and now I’m fully awake.”
Hoshi terdiam mendengar kalimat Wonwoo. Ia tahu jika Wonwoo sudah menyatakan seperti itu, tidak akan ada yang merubah pikirannya. Bagi Hoshi, sampai saat ini Wonwoo adalah orang terkeras kepala yang pernah ia temui.
“Kenapa lo ga coba buat kasi dia kesempatan buktiin kalau dia bukan fever dream lo, Nu? Lo pernah ga buat tanya ke dia?”
Wonwoo kembali terdiam, saat ini tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.
“Hubungan gue sama Mingyu dari awal itu cuma pura-pura. Cepat atau lambat semuanya akan selesai. Di hubungan kita yang cuma pura-pura itu, gue udah buat dia kayak sekarang. Kalau gue tetep ada di sini, eventually Mingyu akan tau semuanya tentang gue dan Rion. Dan…”
Kalimat Wonwoo terpotong sesaat sebelum ia kembali melanjutkannya, "gue rasa dia sama kayak kakeknya. Dia punya soft spot sama orang yang sendiri kayak gue dan Jihoon… Di awal, mungkin dia akan ada rasa kasian sama gue. Tapi, lama kelamaan, dengan semua kemungkinan yang akan keluarga Rion lakuin buat bales gue—semasih gue ada di jangkauan mereka— Mingyu pasti akan ngerasa capek. Sama kayak gue. Gue capek banget di sini, Hoshi. Tiap gue nafas sampe sekarang rasanya kayak ada yang cekek.”
“Lo emang ga liat dia tulus atau lo pura-pura ga tau, Nu?”
“Gue ga bego. Gue tau dia ada rasa sama gue. Tapi, yang Mingyu ajak tinggal selama kita pura-pura itu bukan gue. Dia sukanya sama gue yang versi itu. Bukan gue yang aslinya.”
“Lo udah nunjukin lo yang asli ke dia sejak lo bangun. Did he stop trying?”
Wonwoo bungkam.
“Dia tau lo coba buat dia benci sama lo. Dia tau lo coba dorong dia ngejauh. Tapi dia ga berhenti buat coba perbaiki hubungan kalian. Kenapa, Nu? Lo boleh kok egois sekali buat bisa sama orang yang lo sayang.”
Mendengar kalimat Hoshi, entah mengapa matanya kembali terasa memanas. Ia tidak bodoh. Ia tahu apa yang dilakukan Mingyu untuknya. Bagaimana Mingyu berusaha keras untuk mengenalnya.
Hanya saja, seberapapun Wonwoo menjelaskannya, tidak akan ada orang yang paham tentang rasa ketakutannya. Sulit untuknya mendeskripsikan rasa takut sampai saat ini masih menghantuinya. Perasaan bersalahnya yang menyeret Mingyu masuk ke dalam masalahnya, menambah rasa takutnya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk meminta maaf kepada pria itu dan keluarganya.
Wonwoo juga tahu, keputusannya sekarang itu membuatnya terlihat seperti pengecut. Tapi, baginya ini adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk meminta maaf kepada Mingyu. Ia tidak tahu seberapa jauh Mingyu tahu tentang hubungannya dengan Rion. Namun hal itu cukup membuatnya tidak bisa menunjukkan wajahnya di depan Mingyu dan juga kakeknya. Bagaimana mungkin ia bisa menerima setiap kebaikan mereka, tapi balasan yang ia berikan adalah masalah untuk Mingyu dan juga kakeknya?
Rion memang sedang ditahan sekarang. Tapi, ia yakin kedua orang tuanya tidak akan tinggal diam. Mereka tidak mungkin membiarkan orang itu berakhir di sana. Karena itu, sebelum dia kembali dan mencoba untuk menghancurkannya lagi, Wonwoo memilih untuk pergi. Mengikuti permintaan Jung Eunrin dan keluarganya sejak awal.
“Gue sendiri capek ngadepin diri gue sendiri. Gue ga bisa biarin orang lain ngerasain hal yang sama. It hurts. Gue takut buat berharap lagi, buat percaya sama orang. Gue takut di saat gue terbiasa sama dia, tergantung sama dia… semuanya tiba-tiba selesai. Gue ga akan bisa handle kalau akhirnya gue akan di buang lagi.”
“Nu, lo dan pikiran lo itu…” Hoshi mendecak, ia bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya mendengar pikiran kompleks Wonwoo.
“Gue emang kayak gini, Hoshi. Lo aja capek kan liat gue gini?”
“Gue ga ada bilang capek ya?”
Wonwoo kembali tersenyum, “Kayaknya, seberapa keras pun gue berusaha buat jelasin. Ga akan ada yang bisa paham sama apa yang gue sekarang. Tapi, dengan gue yang kayak ini, lo ga pergi. Makasi udah mau jadi temen gue sampe sekarang, ya?”
“Ga suka gue sama kalimat lo. Kesannya kayak lo mau pergi jauh aja.”
“Kan emang.”
“Wonwoo!”
Wonwoo terkekeh pelan, namun Hoshi merasa jika kekehan itu terdengar tanpa isi.
Mobil Hoshi terparkir di depan pet hotel milik Heeju. Tidak ada dari mereka yang keluar, namun tidak ada juga yang mencoba memecah keheningan sampai Heeju datang bersama Oreo yang berjalan mendekati mereka.
Wonwoo memakai maskernya dan keluar dari mobil Hoshi, diikuti oleh pria itu yang hanya menatapnya dalam diam. Ia bisa melihat pria berkacamata itu tengah berbincang kepada wanita itu sebelum melambaikan tangannya saat wanita itu kembali masuk ke dalam hotel.
“Lo tau kan, kalau gue udah anggep lo keluarga gue?” celetuk Hoshi tiba-tiba.
Wonwoo mengangguk, “iya.”
“Tujuh hari. Kalau lo ga ada kabar selama tujuh hari. Gue akan buat laporan orang hilang.”
Mendengar itu, kali ini Wonwoo tertawa kecil, “iya, Ochi.”
Wonwoo membuka kedua tangannya, memberi syarat untuk Hoshi memeluknya.
Hoshi mendecak, sebelum berjalan memeluk sahabatnya, “bangsat banget mereka. Kalau ga karena mereka, lo ga akan pergi kan.”
“Hehe.”
“Obat lo jangan lupa di minum. Lo harus kasi gue medical report lo setiap lo kontrol. Gue ga ada di sana, gue ga bisa jagain lo kalau lo sakit lagi. Anjing, lo buat gue nangis.”
Wonwoo tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung Hoshi, “gue akan jaga diri gue Hoshi. Lo ga perlu khawatir. Nanti gue akan kirim semua medical report gue. Ada Oreo juga yang jagain gue.”
“Bahagia ya, Nu?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “I will. Goodbye for now, Ochi.”