Sudah cukup lama rasanya Mingyu tidak melihat dapurnya sibuk. Biasanya chef keluarga Mingyu tidak memasak disini. Ketika ia pulang, makanan sudah terjejer rapi di atas meja makan.
Sekarang, melihat jika ada orang lain yang sibuk entah melakukan apa di dapurnya membuatnya merasa sedikit aneh. Terlebih orang itu kini tinggal bersama dengannya.
Orang-orang sekitarnya tahu, jika Mingyu sangat menjaga personal spacenya. Dia sama sekali tidak pernah memiliki roommate saat ia sekolah di asrama dulu, ataupun housemate untuk sekedar berbagi tempat tinggal saat ia kuliah.
Mingyu lebih memilih untuk tinggal sendiri.
“Lo udah balik?” Wonwoo yang menyadari keberadaan Mingyu melirik ke arah jam dinding, “masih belum jam tujuh.” lanjutnya.
“Iya, tadi meetingnya kelar lebih cepet sama jalanan juga ga macet.”
“Gue belum selesai masak, lo ganti baju aja dulu.”
“Ok, nanti gue bantu.”
Pada akhirnya, tidak ada yang bisa Mingyu bantu. Saat ia sampai ke ruang makan, menu makanan sudah tertata rapi di atas meja.
“Lo bilang kalo makanan lo itu diatur sama nutritionist, jadi asumsi gue lo itu diet, makanya gue buatnya yang light.”
“How thoughtful.”
Wonwoo hanya terkekeh sembari meletakkan water jug dan duduk berseberangan dengan Mingyu.
"Bon appétit?”
"Bon appétit,” balas Wonwoo sambil memperhatikan Mingyu yang menyendok galbitang yang ia buat. Matanya berkedip lebih cepat dari biasanya dengan senyuman tertahan, menunggu reaksi Mingyu.
“Gimana?” tanyanya cepat.
Mingyu mengerjap, lalu melemparkan tatapannya ke arah Wonwoo yang terlihat sedikit jenaka, seperti anak kucing yang tengah menatapnya dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Kalau gue minta dibuatin dinner tiap hari, keterlaluan ga? Gue ngerasa minder kalo bandingin ini sama sarapan yang gue buat.” balas Mingyu.
Tawa Wonwoo terdengar sangat puas mendengar kalimat Mingyu, “bisa, selama gue masih nganggur. Sarapan lo enak, Min… gue suka.”
“Enak banget, sayang.” sahut Mingyu menyeringai, “lo terus aja nganggur, gimna?”
“Enak aja,” balas Wonwoo menyantap porsinya.
Makan malam itu pun dipenuhi dengan keduanya yang bercengkrama tentang hal random. Makan malam pertama mereka di rumah itu.
Dan ini adalah kali pertama untuk Mingyu setelah sekian lama duduk di meja makan rumahnya dengan seseorang yang menemani.
Rasanya sedikit aneh, karena ia tidak merasa terusik. Wonwoo ternyata bukan tipe orang yang pendiam, dalam perbincangan mereka ia berceloteh banyak entah ia bertanya tentang Mingyu atau ia menceritakan kejadian unik yang pernah ia alami.
. ݁₊ ⊹ . ݁˖ . ݁
“Lo mau buah?”
Mendengar suara khas itu, Wonwoo yang tengah duduk di sofa balkon penthhouse milik Mingyu menoleh dah mendapati Mingyu memeluk mangkok berisi potongan buah yang tadi ia beli.
“Boleh.” balasnya sambil bergeser ke kanan, memberikan ruang untuk Mingyu duduk di sebelahnya.
“Kok lo ga beli ice cream?”
“Lo pingin ice cream?”
“Iya. Gue ga tau kalo strawberry shortcake ice cream itu enak. Ga manis.”
Wonwoo melirik ke arah Mingyu dan mengambil dua potongan buah peach, “makanya explore, cicipin rasa ice cream yang belum pernah lo coba. Jangan mentok di vanilla ama coklat aja.”
Mingyu menaikkan salah satu alisnya, “kok lo tau kalo gue beli ice cream pasti cuma milih dua rasa itu?”
Wonwoo menyeringai, “nebak, hebat kan gue?”
Mingyu terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
“Rumah lo bagus, kayaknya disini tempat favorite gue. Bisa liat bintang.”
“Thank you? Selera gue emang bagus.”
“Lo bilang ini di beliin kakek lo?”
Mingyu membenarkan posisi duduknya, berseder di sofa sambil meletakkan mangkuk berisi buah itu di perutnya.
Mulutnya masih sibuk mengunyah, dengan tatapan mata yang melihat kerlipan bintang di langit malam.
“Kakek yang beliin, tapi gue yang milih tempatnya. Kak Han suka liatin langit, pas gue hunting akhirnya ketemu tempat ini yang gue pikir bakal cocok sama dia.”
Wonwoo menolehkan kepalanya, melihat ekspresi datar di wajah Mingyu.
“Sayang banget ya, sama Kak Han?”
Ketika Mingyu mengalihkan tatapannya, ia mendapati Wonwoo tengah memeluk lututnya sambil menyenderkan kepalanya yang menoleh ke arahnya. Seulas senyum tersungging di wajah Mingyu, “banget. Sayang banget sampe gue ga mau coba ngerebut dia dari Seungcheol. Karena gue tau Kak Han ga bakal bisa sama orang lain selain sama dia.”
“Sekalipun lo ga pernah ada niatan?”
“Pernah. Pas gue tau kalau mereka jadian. Gue maksa kakek jadiin Kak Han tunangan gue. Gue ngerasa konyol banget sih waktu itu. Tapi kakek end up buang gue ke luar, buat lanjutin sekolah.” cerita Mingyu mengingat kebodohannya.
“Emang mereka udah jadian berapa lama?”
“Gue ga ngitung. Lebih dari lima tahun sih harusnya—”
Mingyu memberikan sepotong buath peach ke Wonwoo yang menerimanya dengan sukarela.
Setelah itu, cerita penuh dengan Jeonghan. Bagaimana pengaruh pria itu dikehidupannya.
Jeonghan itu keluarga kerabat Mingyu. Kedua orang tuannya bekerja di luar negeri, dan ia menolak untuk ikut. Karena itu keluarga Mingyu menawarkan untuknya tinggal bersama.
Mingyu kehilangan kedua orang tuannya di usianya yang masih kecil. Di masa itu, Jeonghan lah yang selalu ada disisinya. Mungkin dari sana, seiring ia bertambah usia, perasaannya terhadap Jeonghan mulai berubah. Menginginkannya untuk bisa bersama dengannya selamanya.
“Ga ada niat buat confess?”
“Confess… but at what cost? Losing him completely? No. Gue lebih baik kayak gini ketimbang liat Kak Han ngejauh dari gue. Walaupun rasanya ga enak tiap liat mereka bareng, at least gue masih bisa ada di deket Kaka Han, jagain dia. Gue yakin lo juga tau rasanya. Di mana lo pingin banget ngelindungin seseorang dan pingin liat mereka happy terus.”
“Ga tau..”
Mendengar celetukan itu, membuat fokus Mingyu tertuju ke arah Wonwoo yang kembali mendongak ke atas, melihat bintang-bintang yang menghiasi langit malam.
“Gimana?” tanya Mingyu pelan.
“Gue ga tau rasanya karena gue ga punya orang kayak gitu di deket gue. Kalo sama Hoshi… itu bukan perasaan yang sama kayak lo ke Kak Han. Jadi gue ga paham sama perasaan yang lo rasain.”
Tidak ada komentar dari Mingyu. Ia tidak tahu harus membalas pernyataan dari Wonwoo itu seperti apa.
“Orang terdeket yang gue punya cuma Hoshi. Mantan-mantan gue ga mau gue hitung karena cuma gue yang nganggep kita jadian. Buat mereka gue mungkin cuma fwb?” lanjut Wonwoo sambil mendengus.
“Selama ini gue sibuk buat ngelindungin diri gue sendiri, mungkin karena itu gue belum ketemu sama orang kayak Kak Han lo. Setengah hidup gue habisin di panti yang buat gue jadi orang yang mentingin diri dulu baru orang lain. Kalau ga gitu, gue ga makan.”
Merasa masih tidak ada reaksi, membuat Wonwoo mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ceritanya, ia menoleh lagi ke arah Mingyu dan mendapati pria itu tengah menatapnya lekat-lekat.
Wonwoo tersenyum, “kenapa? Lo kaget?”
Mingyu menggeleng, “kenapa lo bisa ceritanya sesantai ini?” tanya Mingyu.
Datar, seakan tidak ada ungkapan perasaan di setiap lontaran kalimat yang Wonwoo suarakan. Ketika tatapan keduanya bertemu, Mingyu juga tidak melihat siratan apapun di dalamnya. Pria itu tersenyum, tetapi pupil matanya terlihat kosong.
“Udah biasa. Udah capek gue mempertanyakan kenapa. Jawabanya ga pernah gue dapetin.”
“Pernah kepikiran buat nyari orang tua lo?”
Wonwoo terlihat ragu menjawab pertanyaan itu, “pernah—cuma gue mikir lagi, ngapain nyari orang yang udah buang gue? Mereka titip gue di panti bukan pas gue bayi, tapi pas sekitar gue umurt tiga atau empat tahun?—lupa... tapi i tu disaat gue tau kalo gue punya orang tua, tapi mereka ninggalin gue. Gue udah lupa banget gimana rasa sakitnya cuma yang gue inget itu… Gue suka nangis nanya kenapa mama ga balik-balik. Tapi jawaban mereka sama, ‘nanti balik, kamu jangan nangis. Nanti mamanya balik…’ terus aja gitu sampe gue akhirnya udah segede ini.”
Senyuman yang Wonwoo tampilkan, semakin membuat kernyitan nyata di alis Mingyu.
Wonwoo membasahi bibirnya yang terasa kering ketika menyudahi pembicaraannya. Tatapan yang Mingyu berikan ternyata sama seperti orang-orang yang mendengarkan kisahnya.
A pity.
“Jangan liatin gue kayak kasian, Min… rasanya malah lebih sakit ketimbang inget mereka yang buang gue. Daripada sedih, gue lebih ke marah. Cuma, bingung aja mau marah ke siapa.”
Kali ini, helaan nafas berat keluar dari bibir Wonwoo, ekspresi wajahnya juga ikut berubah lebih datar dari biasanya.
“Sebenernya gue paling males buat cerita tentang ini. Soalnya beneran buat mood gue rusak.”
“Sorry.”
“Lo juga perlu tau sih. In case keluarga lo tanya, lo ada jawaban. Gue putus sekolah sebenarnya karena scholarship gue ditarik. Tiba-tiba aja, katanya spotnya penuh dan mereka harus milih siapa yang harus dikorbanin—dan orang itu gue.”
“Jurusan lo apa dulu?”
“Medicine.”
Mingyu sedikit terkejut, mendengar itu, “ada rencana mau lanjutin sekolah?”
Wonwoo dengan cepat menggelengkan kepalanya, “ga. Udah telat, otak gue udah ga sanggup.” balasnya terkekeh.
Suasana berubah menjadi hening untuk beberapa saat, Mingyu kembali merebahkan dirinya dan menatap langit, “lo ngerasa ga pertemuan kita itu unik? Sampe sekarang, tiap malem gue mikir kenapa gue bisa milih lo waktu itu.”
“Kan udah gue bilang, kita lagi sial.”
Mingyu mendecak, “ga gitu. Mungkin ada alasan kenapa kita end up gini? Mungkin gue bakal jadi Hoshi lo yang kedua.”
Mendengar kalimat itu, Wonwoo tidak kuasa menahan tawanya.
“Kayaknya ga bisa sih.”
Mingyu kembali duduk tegap, melempar tatapan tajamnya, “kenapa gitu?”
“Dunia kita terlalu beda bahkan buat temenan, Mingyu. Setelah semuanya selesai, gue yakin kita bakal balik jadi stranger. Lo bakal tetep dengan kesibukan lo dan gue masih paling masih gini-gini aja, cuma mungkin lebih kaya dikit karena bayaran lo.”
“Lo ga mau temenan sama gue?”
Wonwoo mengedikkan bahunya, “ga mau.” jawabnya singkat sembari melirik ke arah Mingyu. Dan benar saja, reaksi yang ia dapatkan sesuai dengan bayangannya. Wajah tampan itu tertekuk menatap kesal ke arahnya.
“Bercanda, sayang. Ga usah ngambek gitu,” sahut Wonwoo.
Tangannya terulur menyentuh sudut bibir Mingyu dan menariknya pelan, “lo lebih cocok senyum ketimbang merengut kayak gini.”
Detik berikutnya, dengan cepat Mingyu meraih jemari Wonwoo, tanpa memberikan pria itu kesempatan untuk menghindar. Ia menariknya pelan sambil menyematkan sebuah cincin di jari manisnya.
“Huh?” tanya Wonwoo melihat cincin berwarna perak melingkar di jarinya.
“Sekarang lo resmi tunangan gue, jadi ga apa kalo bukan temen. Statusnya kan beda.”
“Cih.” Wonwoo mendengus, “mana punya lo. Sini gue pasangin.”
Mingyu tersenyum dan memberikan kotak persegi bludru itu kepada Mingyu, “bisa-bisanya lo ngumpetin ini.”
“Bisa, kan kecil.” balas Mingyu mendapatkan tatapan mata malas dari Wonwoo.
“Mana tangannya, siniin.”
Mingyu mendecak, “kasar banget,” komentar Mingyu membuat Wonwoo menarik tangan Mingyu lebih keras dan membuatnya meringis pelan.
“I’m in your care, fiancé.” ujar Wonwoo tersenyum setelah berhasil menyematkan cincin itu di jemari Mingyu.
Mendengar itu senyuman terukir di wajah Mingyu, “Of course, sayang.”