Sudah tidak terhitung berapa kali Wonwoo sudah menghela napasnya sejak ia mengganti pakaian olahraganya. Ia benar-benar tidak ingin melihat Mingyu.
Jika ia tahu hari ini kelas mereka akan bertemu, ia akan memilih untuk membolos dua kali.
Melihat pesan yang baru saja dikirimkan Mingyu, membuat wajahnya semakin tertekuk.
Mendekati lapangan ia bisa melihat jika lapangan olah raga sudah dipenuhi siswa-siswi lainya. Sepertinya beberapa kelas juga melakukan PE Class bersamaan hari ini. Tapi, dari sekian banyak kelas, mengapa harus kelas dirinya dan Mingyu!?
Memasuki lapangan ia melihat kerumunan orang berkumpul mengelilingi Mingyu, “cih,” gumamnya melihat orang yang membelakanginya itu tengah berbicara dengan Vernon.
“Si Mingyu potong rambut ga sih? Ato ganti style? Ganteng juga yak. Cocok.” komentar Seungkwan yang berdiri di samping Wonwoo.
“Ga tau. Ga peduli” Jawab Wonwoo acuh.
“Jeon Wonwoo! Cepat atur kelasmu!” seru guru olahraga bermarga Shim itu.
Dengan menggerutu kecil, Wonwoo maju ke depan. Ia bisa merasakan jika kehadiran dirinya saat berteriak mengatur kelasnya tidak membuat Mingyu menoleh ke arahnya, entah ia tidak melihatnya atau berpura-pura untuk tidak melihatnya.
“Tidak ada pelajaran apapun hari ini. Kedua kelas akan bertanding basket untuk para putra. Untuk para putri, kalian kubiarkan menjadi penonton.”
Mendengar itu, seluru siswi berteriak antusias. Cepat-cepat mereka berlari menuju bangku penonton untuk mendukung tim jagoan mereka.
“Woi! Kenapa kalian duduk di tempat rival!?” teriak Wonwoo melihar hampir seluruh siswi kelasnya duduk di bangku pendukung kelas Mingyu.
“Udah jelas kita mau dukung Mingyu lah!”
Wonwoo mendecak ke arah kerumunan gadis itu sambil memutar bola matanya, “lo pada ga tau aja gimana aslinya tu orang. Nyesel tau rasa lo pada.”
“Emang tau apa lo tentang Mingyu? Kan lo cuma jadian ga sampe setaun. Kita ga butuh pendapat lo.”
Wonwoo mendengus mendengar jawaban itu dan memilih untuk tidak memberikan komentar apapun. Mereka buta, dan seberapapun Wonwoo membeberkan sifat buruk Mingyu—menurutnya—, tidak akan pernah di dengar oleh para penggemar Mingyu itu.
“Jadi lo nyesel suka ama gue?”
Wonwoo mengerjapkan matanya dengan irama detak jantungnya yang berubah seketika, suara familar itu terdengar jelas di telinganya, menggelitiknya dengan hawa napas berhembus yang menyapu kulit lehernya, “Lo—”
Wonwoo tidak melanjutknya kalimatnya, napasnya tertahan ketika melihat wajah dekat Mingyu yang hanya berjarak beberapa senti darinya.
“Gue?”
Wonwoo mengigit bibir bagian dalamnya sebelum membuang wajahnya sambil mendorong tubuh Mingyu, “lo jangan deket-deket gue.” sahut Wonwoo, bersiap untuk melenggang pergi.
“Gue mau balikin card punya lo.”
Mendengar itu Wonwoo kembali mengela napas berat, ia menjulurkan tangannya, “mana?”
“Gue lupa bawa. Ambil ke kelas gue abis PE.”
“Titip Chan aja kalo gitu.” balas Wonwoo, membalik badannya yang dengan sigap di tahan oleh Mingyu dengan meraih pergelangan tangannya.
Namun, belum ada dua detik, Wonwoo menghempaskan tangannya, membuat genggaman tangan Mingyu terlepas begitu saja. Ia pun sedikit tersentak dengan reaksi yang tubuhnya berikan.
Ketika mengangkat wajahnya, Wonwoo bisa melihat wajah terkejut di air muka Mingyu.
“Gue udah bilang. Jangan deket-deket gue lagi.” jawab Wonwoo berbalik pergi menuju grup kelasnya untuk melakukan pemanasan.
Mengabaikan Seungkwan yang melayangkan pertanyaan bertubi-tubi, Wonwoo lebih memilih melakuan dribble bola sendiri.
Mengingat ekspresi wajah terkejut, di wajah Mingyu membuat perasaan aneh di hatinya. Ia tidak bermaksud untuk menghempaskan tangannya begitu saja tadi, hanya saja tubuhnya benar-benar bergerak sendirinya.
“Wonwoo! Tolong ambilin bola basketnya!” seru salah satu teman sekelasnya menujuk ke arah bola basket yang bergelinding keluar lapangan menuju kerumunan dari entah kelas berapa yang sepertinya tengah beristirahat dari sesi olahraga mereka.
Dengan malas Wonwoo berjalan untuk mengambil bola yang kini sudah berpindah dari bawah ke tangan seseorang.
“Gue liat-liat hubungan lo ga baik lagi sama mantan lo.”
Wonwoo mengerutkan keningnya.
“Mau apa lo? Balikin bolanya.”
“Buka block gue terus jalan ama gue sekali? Kalo lo setuju gue balikin bola ini ke lo.” Sahut Suha.
Wonwoo membahasi bibirnya, “yang gue bilang itu kurang jelas? Gue ga mau lo deketin. Sekarang balikin bolanya.”
“Emang bagusnya si Mingyu apaan sih? Masa lo ga mau lupain dia cepet? Coba jalan ama gue. Gue bantu lupain dia?”
“Lo bebal banget. Gue bilang ga ya ga! Ngerti bahasa manusia ga sih lo?!”
“Dih, kasar. Pentes lo cuma jadi pelarian.”
Wonwoo mengepalkan jemarinya kuat, menahan dirinya untuk tidak memukul orang di depannya.
“Makan tu bola, bangsat.” balas Wonwoo berbalik menjauhi Suha.
“...won. JEON WONWOO!”
Wonwoo segera menoleh ketika mendengar adiknya dan Seungkwan meneriaki namanya.
“Huh?”
Ia bergumam pelan sebelum bola basket terlepar ke arahnya yang membuatnya tersungkur detik itu juga.
Yang bisa ia rasakan hanya dentuman hebat di kepalanya, membuat dengungan hebat di telingannya.
Wonwoo sadar jika tubuhnyua sudah terlentang di lapangan, tapi ia sama sekali tidak merasakan sakit sedikit pun, kecuali sebuah kilatan cahaya yang menyilaukan matanya, sebelum ia merasakan jika tubuhnya terangkat dan pandangannya gelap seketika.