Warning: includes sensitive mental health themes.
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Narasi 23
“Masih nervous?”
Wonwoo yang tengah berdiri sambil memegang segelas champagne—yang tidak ia minum sama sekali itu—menolehkan kepalanya dan mendapati Jeonghan datang bersama Sutradara Han Kijoon yang menganggukan kepalanya.
“Kak Han! Eh, halo juga Sutradara Han,” sapa Wonwoo sambil menjabat tangan pria berumur sekitar enam puluhan itu.
“Lo di sini sendiri aja?”
“Tadi bareng sama Minghao dan DK, cuma mereka lagi ke toilet.” balasnya.
“Okay. Kamu ikut saya ya? Ketemu sama orang yang invest di Movie Kita. Mereka silent investor, tapi nilai investasinya gede banget. Dan kebetulan kamu ada disini, jadi sekalian mau saya kenalin. Jeonghan kamu ikutan juga, udah kenal juga kan kalian?”
Jeonghan mengedipkan matanya ke arah Wonwoo, “udah dong. Deket banget lagi kita.” balasnya sambil menggandeng tangan Wonwoo dan berjalan ke arah meja VVIP di depan.
Ia baru saja masuk ke dalam tempat acara ini dan disuguhkan dengan berbagai canape dan minuman sambil menunggu MC untuk memulai acara besar ini, kamera wartawan pun masih bisa ia lihat memotret orang-orang penting yang hadir di sini. Acara eksklusif pertama yang pernah Wonwoo ikuti, membuatnya berdebar penuh semangat.
“Dari tadi Ingyu udah ngelirik lo aja. Kalau ga gue mancing Sutradara Han buat ngenalin lo, kayaknya dia bakalan pura-pura nyari Minghao ama DK.” bisik Jeonghan membuat Wonwoo tersenyum kecil.
“Gue soalnya bilang ke dia kalo dia takut ke sini kak. Gue beneran ga ada bayangan sama acara ini.”
“Lo tinggal duduk manis, sapa orang sama jawab kalau mereka tanya. Orang-orang juga udah tau lo siapa, jadi ga usah takut ya, adek? Ada gue juga.”
“Hehe. Makasi banyak Kak Han. Untung tadi Minghao sama DK terus mepetin gue.”
“Tch, gue ke sini lagi represent mama sama papa jadi ga bisa jalan-jalan bebas dulu. Stuck sama mereka.” keluh Jeonghan sambil menunjuk meja di mana Mingyu dan Kim Jaemin tengah berbincang entah dengan siapa.
“Jaemin-ssi, Mingyu-ssi. Kenalin, ini salah satu support actor yang jadi andalan saya nanti. Namanya Jeon Wonwoo.” seru Han Kijoon berjalan sambil memperkenalkan pria berkacamata yang tersenyum ke arah Mingyu dan kakeknya.
Wonwoo bisa mendengar deheman kecil dari Kim Jaemin yang tengah menatapnya.
“Hey, gue Mingyu. Gue sempet nonton drama lo yang udah tayang lalu. Gue nunggu banget untuk liat karakter lo di movie Sutradara Han… tadi gue udah dibocorin dikit naskahnya…” sahut Mingyu sambil mengulurkan tangannya.
“Hey, gue Wonwoo. Makasih pujiannya, gue juga seneng banget bisa gabung di projectnya Sutradara Han.” balas Wonwoo sambil menjabat tangan Mingyu.
“Saya juga menonton drama kamu.” celetuk Kim Jaemin sambil berdehem kecil, “Kim Jaemin, kakeknya Mingyu.”
“Terima kasih Pak Jaemin. Terima kasih juga ya sudah invest di movie yang lagi saya kerjakan.” balas Wonwoo yang juga meraih jemari Jaemin yang terulur.
“Sudah berapa lama kamu di industri ini? Saya sempat lihat poster kamu setiap ke mall di beberapa spot.” tanya Kim Jaemin yang membuat Mingyu menggelengkan kepalanya.
Wonwoo hanya tersenyum dan menjelaskan kembali tentang dirinya kepada pria tua itu. Mereka termasuk Jeonghan juga larut dalam perbincangan sampai akhirnya Mingyu berpamitan terlebih dahulu untuk mengejar flight yang ternyata dijadwalkan lebih cepat.
“So unfortunate, I can’t join the dinner. I have to catch my flight. I will excuse myself first. See you around, Wonwoo.”
Wonwoo mengerjapkan matanya dan mengangguk pelan, “see you around, Mingyu.”
“Pops, I’m leaving. Don’t drink too much! Kak Han tolong liatin kakek ya? Sutradara Han, aku pergi duluan. Nanti kita atur untuk bisa lunch bareng ya.” ujar Mingyu sebelum melenggang pergi.
“Tch. Sudah saya minta dia ga usah dateng ke sini. Tapi tetep maksa, saya tidak minta loh untuk di temani. Tapi dia keukeuh, sekarang kelabakan sendiri ngejar flight.” keluh Kim Jaemin melihat Mingyu pergi dengan langkah lebarnya.
Wonwoo tidak membalas, ia hanya tersenyum sambil melihat Mingyu yang menjauh perlahan dan di telan oleh keramaian orang.
“Adek, ga mau duduk di meja gue aja? Ga usah balik?”
Wonwoo menggeleng, “ga kak, gue disana aja sama Minghao dan DK.”
Jeonghan mengerucutkan bibirnya, “malas banget cuma gue yang muda di meja ini.”
“Tch! Nanti saya minta Seungcheol pindah kemari. Cucu Myunghwa juga duduk di tempat yang sama. Kamu ini!”
Jeonghan tetap mengerucutkan bibirnya, “aku mau sama Wonwoo, kakek. Aku pindah saja ya?”
“Tidak, Wonwoo saja yang duduk disini.”
Wonwoo langsung menggelengkan kepalanya, “terima kasih tawarannya, Pak. Tapi nama saya udah ada di meja belakang. Saya mau balik duluan ya, sebentar lagi acaranya di mulai. Saya pamit,” balas Wonwoo sambil membungkukkan badannya.
“Saya juga ikut pamit. Nanti kita atur untuk lunch seperti yang Mingyu tawarkan tadi,” ujar Han Kijoon yang mendapatkan anggaran dari Kim Jaemin.
“Ok.”
ᯓᯓᯓ
Pertunjukan Orkestra sesi pertama baru saja selesai. Seluruh tamu kembali diperbolehkan beranjak dari tempat duduknya sambil menyantap kudapan dan berbaur dengan para tamu lainnya. Setelah ini acara akan dilanjutkan ke acara Art Auction sebelum kembali dengan pertunjukan Orkestra sesi kedua yang akan menjadi penutup dari rangkaian acara Legacy Night Myunghwa Foundation.
Wonwoo menghela nafas kecil melihat orang-orang kembali bercengkrama satu sama lain. Ia memeriksa ponselnya dan ternyata sudah kehabisan baterai. Sesaat tadi, ia sempat melihat notifikasi Mingyu mengirimkannya pesan. Sekarang, Mingyu sudah dalam perjalanan dan mungkin sedang tidur atau membaca bahan-bahan meeting untuk keperluan tripnya ke New York.
Sambil mengangkat kepalanya, Wonwoo bisa melihat jika Seungcheol menghampiri Kim Jaemin dan Jeonghan. Ia bisa melihat ketiganya tengah berjalan menuju meja yang berisi kudapan untuk sesi berbaur ini. Tadi, ketika seluruh undangan memasuki ruangan utama, tidak ada lagi wartawan yang diperbolehkan masuk, kecuali photographer dari pihak acara. Mungkin karena hal itu, membuat Seungcheol tidak ragu untuk menghampiri meja Jeonghan.
Wonwoo menyunggingkan senyuman kecil melihat ketiganya, sebelum memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya. Minghao dan Dokyeom sudah pergi awal tadi untuk berburu kudapan. Saat mereka mengajaknya, Wonwoo menolaknya dengan halus karena ia sudah merasa cukup kenyang. Sekarang, ia ingin mencari udara segar yang sedikit jauh dari keramaian orang.
Tempat diadakan acara ini adalah sebuah art gallery milik keluarga Myunghwa yang juga menjadi kantor dari Myunghwa foundation. Wonwoo tadi mendengar jika tempat ini di design oleh Kim Minjae dan istrinya. Ketika ia memasuki ruangan, rasa familiar itu bisa Wonwoo rasakan. Sentuhan selera dari Kim Minjae terasa sangat kental.
Awalnya Wonwoo tidak tahu jika kakek Mingyu adalah seorang arsitek. Dia cukup sedikit terkejut mendengar Kim Minjae cerita mengenai dirinya saat di Jeju beberapa waktu lalu. Dan melihat bagaimana ia bisa membangun perusahaan real estate sebesar ini, Wonwoo tidak heran dengan latar belakang yang baru ia ketahui. Kim Jaemin juga menceritakan bagaimana kesusahan yang ia alami saat memulai usahanya. Dia benar-benar mirip dengan Mingyu, ketika bercerita ia suka lupa dengan waktu.
Dengan santai Wonwoo berjalan menelusuri jalan setapak yang membuatnya semakin menjauh dari keramaian orang-orang. Ia masih berpapasan dengan beberapa orang yang menyapanya sebelum akhirnya kakinya terhenti ketika ia ketika seseorang berdiri di depannya.
“Look, who is here?”
Degupan jantung Wonwoo seketika berubah keras. Ia perlahan mengangkat kepalanya dan mendapati Baek Rion tengah menatapnya sambil tersenyum. Secara reflek, Wonwoo menolehkan kepalanya ke sekelilingnya, memastikan jika tidak ada wanita itu.
“Kenapa ga bales pesan gue?”
Wonwoo mengerutkan keningnya, ia bisa merasakan jika telapak tangannya terasa dingin sekarang.
“Hp gue mati,” jawabnya singkat.
Baek Rion mengangguk sambil bergumam kecil, “masih ga mau bilang? Who’s that person that is wasting their money on you?”
Wonwoo membungkam mulutnya. Ia menatap pria itu dalam diam tanpa ada niat untuk membalasnya.
“Salut gue liat lo bisa dateng ke acara ini. Lo minta ke orang itu kah? Gue penasaran, did he know that you ruined my family? Did he know that my grandfather died because of you? Did he know that you’re a curse, Wonwoo?”
Wonwoo tanpa sadar melangkahkan kakinya mundur. Senyuman di wajah Baek Rion seketika menghilang. Kalimatnya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk seluruh tubuhnya secara perlahan.
Melihat tidak ada reaksi apapun dari pria berkacamata itu, Baek Rion menghela nafas kecil. Tatapan matanya yang datar menatap lurus ke arah Wonwoo yang sudah jelas tengah mengalihkan tatapannya. Suhu tangannya yang berubah dingin seketika tanpa sadar meremas celana yang tengah ia kenakan.
“Lo mau ngancurin keluarga siapa lagi, sekarang? I don’t mind helping you at all.” sahutnya kembali dengan sebuah senyuman yang Wonwoo benci.
Baek Rion mendecak kecil, ia berkacak pinggang sambil mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Wonwoo, berbisik di telinganya.
“Menurut lo, apa hal pertama yang harus gue lakuin buat bantu lo? Embezzlement? Fraud? Bribery or Tax Evasion? Tell me, Wonwoo-ya.”
Wonwoo tanpa sadar menggigit bibir bagian dalamnya.
“Tell me which one will ruin Kim Mingyu?”
Telinga Wonwoo berdengung mendengar nama itu keluar dari mulutnya. Seketika, ia meraih kerah baju Rion, menatap pria itu dengan matanya yang mulai memerah, membuat senyuman kepuasan muncul di wajah Baek Rion.
“That’s the look I missed from you, Wonwoo-ya.” ujar Baek Rion dengan tawa di dalamnya.
“Dia ga ada hubungannya sama gue.”
Baek Rion mengedikkan bahunya, “okay. Indeed, Kim Mingyu.”
“Dia ga ada hubungannya sama gue!” sahut Wonwoo dengan nada sedikit tinggi. Jemarinya mencengkram kuat keras jas yang dikenakan oleh Baek Rion.
“Kenapa lo—”
Kalimat Wonwoo terpotong, tangannya yang mencengkram baju Rion ditarik paksa dan detik berikutnya, ia bisa merasakan suara tamparan dengan pipi kirinya yang terasa panas.
“Don’t you dare to touch him.”
Nafasnya terasa tercekat, suara familiar itu kembali membuat kepalanya berdenyut.
Jung Eunrim.
“Sayang, are you okay? Did he hurt you?” nada khawatir wanita itu terdengar halus. Dari ekor matanya Wonwoo bisa melihat jika Eunrim tengah menangkup kedua pipi Baek Rion dan memeriksa seakan-akan Wonwoo benar-benar menyakiti orang itu.
“It’s okay, Mami. I’m fine.”
Wanita bergaun berwarna putih itu menggumam kecil, masih memastikan jika tidak ada luka sekecil apapun di tubuh Baek Rion sebelum ia mengalihkan perhatiannya ke arah Wonwoo yang menundukkan kepalanya.
“Berapa kali sudah saya katakan untuk jangan muncul di hadapan kami? What is someone like you even doing at an event like this?”
“Saya—”
“Is ruining my family once not enough for you? Apa yang kamu coba cari dari saya? Kamu itu ancaman untuk saya dan keluarga saya! Kapan kamu berhenti menghantui saya? From the moment you appeared, I knew you’d become my nightmare. Can you just stop and disappear?”
Dengungan di telinga Wonwoo terdengar semakin nyaring. Ia tidak lagi bisa mendengar apa yang wanita itu katakan seiring dentuman menyakitkan muncul di kepalanya. Nafasnya yang memburu membuatnya tidak bisa mengambil oksigen dengan benar. Dengan memaksakan dirinya, ia berjalan menjauhi dua orang itu.
Wonwoo tidak lagi bisa mendengar apapun yang dikatakan wanita itu. Ia tidak peduli dengan Baek Rion yang mencoba menahannya untuk mendengarkan kalimat-kalimat mematikan dari ibunya. Wonwoo menapis tangannya dan melenggang pergi dengan langkah cepat.
Ia harus pergi dari tempat ini.
Wonwoo tidak tahu kemana langkah kakinya membawanya pergi. Samar-samar ia bisa merasakan jika dirinya membuka sebuah pintu dan mendengar suara Jihoon sebelum ia merasakan jika tubuhnya terasa ringan dan pandangannya sedikit memburam.
“Wonwoo? Lo kenapa?”
“Please, bawa gue pergi.” bisiknya kecil dan selanjutnya semua terasa blur.
ᯓᯓᯓ
“Kenapa bisa seperti ini? Tadi dia baik-baik saja. Kenapa sekarang seperti ini?”
Samar-samar Wonwoo mendengar suara familiar itu. Ia membuka perlahan matanya dan mendapati jika ia berada di sebuah mobil.
“Badannya dingin sekali. Kamu segera telepon Dokter Jang.”
Wonwoo menggerakan kepalanya yang tersandar di headrest.
“Jihoon?”
Perhatian Kim Jaemin pun beralih, “Wonwoo?” panggilnya kecil.
“Sakit…”
Kim Jaemin mengerjapkan matanya, “apanya yang sakit? Your head?”
Wonwoo memejamkan matanya dan mengangguk pelan.
“Kamu tidur saja, sebentar lagi kita sampai di rumah.”
Wonwoo tidak membalas, namun ia bisa merasakan sentuhan hangat di dahinya yang masih mengeluarkan keringat, “kenapa bisa sedingin ini?” keluh Kim Jaemin memeriksa suhu tubuhnya.
“Dokter Jang sudah on the way. Bapak jangan panik juga. Nanti saya bingung.” balas Jihoon.
“Saya tidak panik!”
“Jangan keras-keras. Wonwoo lagi istirahat.”
Kim Jaemin mendecak.
“Jadi Bapak tidak ikut bidding untuk lukisan yang Bapak Incar? Saya bisa bidding online.”
“Tidak perlu. I can donate without anything in return. Masih ada banyak lukisan yang bisa saya cari.”
“Okay, saya close aplikasinya ya.”
Kim Jaemin mengangguk. Matanya masih memperhatikan Wonwoo yang tertidur dengan kernyitan kuat di dahinya.
“Kamu jangan beritahu Mingyu dulu. Let’s make sure that he’s okay. Nanti minta Wonwoo untuk check up lagi.”
Jihoon menganggukkan kepalanya, “noted, Bapak.”
ᯓ
Ketika Wonwoo membuka matanya, ia sudah berada di dalam kamar Mingyu di rumah Kim Jaemin. Di nightstand, ada beberapa obat dan segelas air putih tertutup rapi.
Ia memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan perasaannya yang kembali kacau.
Baek Rion tahu tentang Mingyu. Walau Wonwoo tidak tahu seberapa jauh orang itu tahu hubungannya dan Mingyu, ia tidak berani menebaknya. Kata-kata yang pria itu ucapkan tadi masih berputar di kepalanya yang masih berdenyut sakit.
Wonwoo membencinya.
Ia membenci dirinya yang membawa Mingyu ikut masuk ke dalam perangkap yang Baek Rion siapkan untuknya. Ketakutan yang selama ini berhasil ia kelabui bahkan dari dirinya sendiri kembali menggerogotinya. Tanpa sadar, ia kembali mengopek kulit jarinya yang sudah terasa perih.
・・・・・
Kim Jaemin menatap diam ke arah video yang tengah ia liat. CCTV yang memperlihatkan Wonwoo yang sepertinya tengah bersitegang dengan Baek Rion sebelum Jung Eunrim datang dan menamparnya. Membuat pria berkacamata itu membatu sebelum berjalan, menghilang dari CCTV yang akhirnya ditemukan oleh Jihoon.
“Baek Rion dulu satu agensi dengan Wonwoo. Ga ada informasi lebih lanjut lagi tentang hubungan keduanya. Mungkin persaingan?” ujar Jihoon menutup tab video itu.
Kim Jaemin terdiam sesaat sebelum membuka mulutnya, “saya tidak terlalu familiar dengan keluarga Jung Eunrim. Kita sempat bertemu beberapa kali di acara dan kamu juga ikut. I don’t know that she can be this arrogant. It’s quite far from her elegant image.” Komentarnya dengan nada datar.
“Tapi beasiswa Wonwoo memang berasal dari Sehwa Foundation dari sekolah menengah atas sampai akhirnya ia mutusin buat berhenti kuliah.” jelas Jihoon sambil mengunci layar tab-nya, saat ia menolehkan kepalanya, ia bisa melihat Kim Jaemin mengerutkan keningnya keras.
“Kalau Bapak mikir itu mantannya Wonwoo, kayaknya bukan. Tipenya Wonwoo itu orang yang lebih tua dari dia.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Ga sengaja denger Seungkwan cerita.”
Kim Jaemin mendecak, “tidak ada yang tidak mungkin. Melihat bagaimana dia bisa mendapatkan serangan panik seperti itu. There must be something that happened between them.”
Jihoon mengangguk setuju, “tapi Bapak tidak boleh memaksa Wonwoo kalau dia tidak mau cerita ya.”
Kim Jaemin kembali terdiam, “ayo sarapan. Wonwoo dibiarkan istirahat dulu.” sahutnya melenggang pergi yang diikuti oleh Jihoon di sampingnya.
Percakapan mereka pun beralih untuk membicarakan bisnis sambil menuruni tangga menuju ruang makan. Kemarin saat event masih berlangsung, Kim Jaemin terburu-buru untuk pergi saat mendapatkan telepon dari Jihoon. Awalnya ia yang akan mengantar Wonwoo pulang sendiri, namun pria paruh baya itu bersikukuh untuk ikut yang akhirnya membuatnya tidak mengikuti acara puncak.
“Nanti atur lunch dengan keluarga Myunghwa, sekalian membicarakan rencana untuk membuat exhibition for spring next year.”
Jihoon menganggukkan kepalanya sambil melihat schedule dari Kim Jaemin dan mengetik beberapa kalimat di catatannya. Merasa Kim Jaemin menghentikan langkahnya, Jihoon juga melakukan hal yang sama dan menoleh ke arah pria paruh baya itu. Ia mengerutkan keningnya melihat ekspresi datar pria itu ke arah living room yang membuatnya juga ikut melihat arah pandangnya.
Wonwoo tengah berdiri menatap frame foto yang ia ambil saat mereka mengesahkan pernikahan mereka. Foto keluarga kecil Mingyu yang sengaja dipasang di samping foto keluarga Mingyu dengan kedua orang tua dan kakeknya dulu. Sebuah foto yang memperlihatkan bagaimana keluarga palsu Mingyu itu terlihat nyata. Oreo pun ikut masuk ke dalam frame itu. Mereka terlihat bahagia, Mingyu, Wonwoo dan juga Kim Jaemin tersenyum menatap ke arah kamera yang di bidik oleh Jihoon.
Namun, dari posisinya ia berdiri sekarang, ia bisa melihat sisi wajah Wonwoo yang memperlihatkan ekspresi yang sulit Jihoon deskripsikan. Ia bisa melihat jemarinya meremas ujung baru miliknya sambil menatap lurus ke arah foto itu. Ketika ia membalik badannya untuk pergi ke arah taman belakang, Jihoon dan sudah pasti Kim Jaemin bisa melihat ekspresi tertekan dan tersakiti di raut lelahnya.
Wonwoo bahkan tidak sadar dengan kehadiran dua orang itu dan melangkah pergi, mengabaikan Oreo yang berusaha mencari perhatiannya dan ikut berjalan mengekorinya.
“Won—”
Kalimat Jihoon tertahan ketika Kim Jaemin menahannya, “Don't let him be.”