Narasi 17
Perjalanan mereka untuk pertama kalinya terasa dingin. Mingyu kembali ke rumahnya sekitar jam tiga sore dan tidak keluar dari kamarnya sampai ia mengirim pesan kepada Wonwoo jika dia menunggunya di mobil.
Wonwoo tidak lagi mengirim pesan apapun saat Mingyu membalasnya kemarin. Dari kalimatnya, ia tahu jika pria itu tidak ingin membahas apa yang terjadi malam itu. Walau sampai saat ini Wonwoo sendiri masih bingung mengapa Mingyu bisa semarah itu, ia memilih untuk mengabaikannya dan tidak akan menanyakannya.
Mungkin, ia sedikit berlebihan menggunakan akting sebagai alasannya untuk melindungi dirinya yang ternyata mahal membuat Mingyu marah seperti itu. Ia memang salah, membiarkan dirinya nyaris lepas kontrol seperti itu.
Jika Mingyu menganggap kejadian itu tidak pernah terjadi, Wonwoo akan dengan senang hati menerimanya. Namun, sampai detik ini, tidak ada satu pun dari mereka yang memulai percakapan. Mobil itu hanya dipenuhi dengan suara kendaraan samar dari luar dan suara sign mobil. Mingyu bahkan tidak menghidupkan musik hari itu.
Saat mobil Mingyu berhenti di lampu merah, dering panggilan masuk, mata Mingyu melirik ke arah head unit dan melihat nama ‘Dokyeom’.
“Brother! Kita semua udah sampe, lo yang bintang utamanya kenapa telat.”
Suara Dokyeom menggegema di dalam mobil itu saat Mingyu menerima panggilannya.
“Ten more minutes, kita sampe. Lo ama yang lain makan snack aja dulu. Tadi ada traffic jadi telat dikit.”
“Lo harusnya nginep aja kemarin disini. Masa kita dateng tuan rumahnya ga ada, tch!”
“Tuan rumahnya kan pops, lo gimana sih.”
“Kakek lo tadi turun sebentar sebelum masuk sama Pak Seungcheol ke ruang kerjanya bareng Kak Han juga.”
“Hm. Paling mereka bahas rencana tunangan. Seungcheol abis balik dari UK kemaren mau ngobrolin itu.”
“Mantep banget. Ga sadar gue liat reaksi public pas mereka announce hubungan diem-diemnya selama itu. Heboh pasti.”
“Ya ya. Gue matiin dulu. Mau jalan lagi.”
“Okay! See you soon Wonwoo!” seru Dokyeom sebelum ia menutup panggilan itu lebih dulu.
Setelah itu, keadaan mobil kembali menjadi hening dan canggung. Wonwoo yang sedari tadi mendengar percakapan mereka berdua sama sekali dia bereaksi. Ia masih dengan posisinya menatap ke arah jendela sambil memainkan jemarinya yang diam-diam Mingyu perhatikan.
Mingyu menghela nafas kecil sambil kembali melanjutkan perjalanan, sampai tiba-tiba saja mobil di depannya berhenti mendadak dan membuatnya menginjak pedal remnya kuat-kuat.
Suara decitan ban beradu dengan aspal terdengar menyakiti telinga.
Refleks tangannya segera menjulur ke arah Wonwoo dan menahan tubuh pria itu agar tidak menabrak dashboard.
“Fuck. Lo ga apa?”
Wonwoo mengerjapkan matanya, ia terkejut tentu, terbuktu dari tangannya yang secara reflek langsung merengkuh tangan Mingyu yang melindunginya cukup kuat seiring detak jantungnya yang berdebar-debar keras.
“Ga apa, cuma kaget.” jawabnya sambil melihat ke arah depan. Ia bisa mendengar bel mobil berbunyi kencang, “ada apa ya?”
“Kecelakaan mungkin.” balas Mingyu yang langsung menyalakan sign mobilnya dan melaju ke arah kanan untuk bisa melanjutkan perjalanannya.
Dan benar saja, mobil ke empat di depannya mengalami kecelakaan dengan sebuah mobil box. Saat melewati mobil itu, mereka bisa melihat kedua pengemudi tengah beradu mulut.
・・・
Memasuki kawasan rumah Kim Jaemin, Wonwoo selalu merasa takjub. Ini adalah kedua kalinya ia kemari dan selalu saja terkesima dengan jalan-jalan yang pernah ia lalui. Tempat ini terlihat seperti kota yang dibangun sendiri dengan nuansa alam yang masih kental. Pohon-pohon yang ia lewati sudah mulai penuh dengan kuncup bunga yang siap untuk bermekaran di musim semi nanti.
Memasuki halaman rumah, Wonwoo bisa melihat jika mobil-mobil tamu sudah berjejer rapi. Mingyu sengaja memilih turun di depan lobi rumahnya dan membiarkan orang rumahnya memarkirkan mobilnya.
Melihatnya, Wonwoo juga bergegas keluar. Ia berjalan mendekati Mingyu yang menunggunya dan melangkah masuk. Keningnya mengernyit melihat tidak ada siapapun di ruang makan yang ia gunakan sebelumnya.
“Kita dinner-nya di pavilion backyard,” celetuk Mingyu melihat kebingungan di wajah Wonwoo.
“Oh. Ok.”
“Gue belum pernah ngajak lo kesana, soalnya jalan kesananya agak jauh. Dan tempat itu juga cuma dipake kalo ada dinner yang banyak orang,"
Wonwoo mengangguk sambil mengikuti Mingyu yang menuntunnya menuju halaman belakang.
“Nuansa di sini beda banget ya.” celetuk Wonwoo yang melihat pemandangan yang hijau dengan jalan setapak terbuat dari batu berukuran cukup besar.
Didepannya ada pijakan tanggal sebanyak lima buah sebelum lantai kayu menyambutnya dengan pemandangan kolam bunga teratai yang luas. Ada dua pavilion yang di ujung kanan dan kiri tempat itu.
“Pops, combine modern japanese style sama traditional chinese waktu buat ini, soalnya Nana suka sekali sama stylenya. Awalnya gak se-modern ini, cuma di renovasi lagi sekitar dua tahun lalu,” jawab Mingyu.
Mingyu mengajaknya ke berjalan menuju pavilion kiri, “kita dinner-nya disana. Kalo yang satunya biasanya dipakai ngumpul-ngumpul after dinner, tempatnya lebih luas sengaja di buat kayak tempat hiburan. Awalnya itu rumah kacanya mama buat gardening, cuma akhirnya diganti fungsinya. Pops sering ngajak kumpul temen-temennya disana.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “tempatnya kayak di film-film. Tempat orang yang biasa buat party dansa gitu.” celetuk Wonwoo menikmati bunga-bunga teratai yang bermekaran. Sorotan lampu membuat nya terlihat semakin cantik.
Mingyu tidak membalas, ia menatap sisi wajah Wonwoo yang berjalan sedikit di depannya. Senyumannya bertengger menatap setiap bunga-bunga teratai yang ia lihat. Samar-samar, ia bisa mendengar sayup suara Dokyeom dan Seungkwan entah kali ini berargumen mengenai apa.
Kakinya melangkah lebih lebar sembari jemarinya meraih tangan kanan Wonwoo dan menguatkannya. Pria berkacamata itu sedikit terperanjat, ia menoleh ke arah Mingyu dan menyunggingkan senyumannya.
Sudah di mulai.
Langkah selanjutnya untuk berperan sebagai pasangan dari Kim Mingyu di mulai.
Wonwoo menyamakan ritmenya dengan Mingyu sembari mendekatkan tubuhnya ke arahnya—cukup membuat keduanya bertabrakan beberapa kali.
Semakin mereka dekat dengan pavilion itu, suara dari Dokyeom dan Seungkwan terdengar smakin jelas.
“Kan lo yang minta pilih warna itu! Sekarang kenapa lo ngomel ke gue pas ternyata buat lo keliatan tua! Gue cuma beliin!”
“Lo kan harusnya kasi tau gue kalo warnanya ga cocok buat gue!!”
“Mana gue tau itu ga cocok di lo! Biasanya lo juga pake warna merah. Model yang lo pilih aja kali. Selera lo kan emang jelek.”
“Sialan! Lo pikir selera lo bagus?! Kalo ga pake stylish juga style baju lo jelek!” Suara Seungkwan terdengar murka, matanya menatap Dokyeom tajam.
“Mereka emang sering kayak gini ya?” Jihoon bertanya kepada Minghao yang menikmati pertengkaran keduanya.
“Kalo ga berantem setiap ketemu artinya salah satu dari mereka lagi sakit. Kalo gini normal.” Jawab Minghao sambil memakan kacang.
Lee Jihoon menganggukkan kepalanya, “Oh, Mingyu sama Wonwoo udah dateng, gue mau kasi tau Bapak dulu.” seru Jihoon membuat Minghao menoleh ke arah pandang Jihoon sambil menaikkan salah satu alisnya.
Matanya menyipit melihat pasangan itu saling bergandengan tangan berjalan ke arah mereka.
“Kalian sehari ga berantem kayaknya bakalan demam ya?”
Celetukan dari Mingyu membuat keduanya menoleh. Seungkwan memutar bola matanya dan memilih berjalan untuk duduk di samping Minghao, sementara Dokyeom terlihat sangat bersemangat.
“Wonwoo! Akhirnya bisa juga ketemu sama lo setelah lo di gatekeep sama orang ini.” sahutnya melepaskan genggaman tangan mereka dan menjabat tangan Wonwoo.
“Gue Dokyeom. Kita juga satu agensi, waktu itu gue liat lo pemotretan cuma ga di kasi kenalan sama si Mingyu itu,” lanjutnya membuat Wonwoo hanya bisa tersenyum membalas jabatan tangan itu.
“Gue Wonwoo, Mingyu udah cerita tentang lo, kok.”
“Banyak ga?”
Wonwoo memberi tanda dengan tangannya, “dikit.” balasnya yang seketika membuat perubahan raut wajah yang ‘terlihat’ menyedihkan.
“Jahat banget. Kayaknya cuma gue yang nganggep kita temenan. Tapi dia ga pernah cerita apa-apa tentang gue.”
Wonwoo terkekeh melihat reaksi balasan dari pria itu.
“Lo mending duduk ato lo gue usir.”
“Cih. Kasar banget.” balas Dokyeom yang kemudian berjalan menuju kursi di sebelah Seungkwan.
“Pops sama yang lain masih di dalem?”
“Iya, baru dipanggil sama Jihoon.”
Mingyu mengangguk, “Sini deh sayang.”
Minghao nyaris tertawa, namun Seungkwan sigap menyenggol lengannya, “tahan, kita juga harus akting!” serunya berbisik.
“Ini Minghao. Kamu katanya pernah ketemu dia beberapa kali, tapi belum sempet kenalan kan?”
Wonwoo mengangguk, “Gue Wonwoo, akhirnya kita kenalan juga ya.” ujarnya.
“Iya. Lo setiap kita ajak project bareng selalu ngilang duluan. Jadi gue ga ada chance juga buat kenalan. Semoga nanti kita ada project bareng lagi ya. Tapi kayaknya susah sih, kalo lo udah mulai sibuk dapet script.”
“Bisa aja. Kan Lumi suka buat collab pas anniversary mereka. Sampe semua artisnya kebagian jadi unit. Gila sih ya Pak Seungcheol, bisa sampe buat mereka naik cover magazine, buat single sama jadi guest list juga pas award juga. Tahun lalu, lo kan ya?” celetuk Seungkwan.
“Iya. Tahun ini belum ke decide siapa. Belum dapet kisi-kisi gue,” balas Dokyeom.
“Kalo lo bisa boom pas project pertama lo. Next unit Lumi bisa lo, Wonwoo. Semangat ya.” celetuk Minghao.
Wonwoo menggeleng, “jauh banget masih. Gue aja baru mau filming project pertama.”
“MVnya STVN ya?”
Wonwoo mengangguk, “iya. Ga sabar banget.”
“Seru. Gue pertama kali ke Lumi juga dapet project itu. Mereka ramah-ramah banget, sama ganteng. Mayan buat lo cuci mata kalo bosen liat Mingyu.” sahut Minghao membuat Mingyu duduk di sebelah Wonwoo mendecak.
“Wonwoooo! Udah lama sampe?!” suara Jeonghan memotong Mingyu yang ingin membalas Minghao.
“Kak Han! Baru aja ini, kakak udah lama ya?”
Pria cantik itu mengangguk, “lumayan, Cheol bilang mau ngomong sama kakek jadi kita ke sini dari siang. Gue ada beli cake nanti kita makan bareng ya. Geser deh Min, gue yang duduk disini.”
“Apaa sih lo kak, di sana masih kosong.”
“Ga mau, gue maunya di sebelah Wonwoo.”
Mingyu mendecak, yang akhirnya pergi duduk di samping kakeknya yang datang bersama dengan Jihoon.
“Kenapa telat baget?” tanya Kim Jaemin yang seketika membuat ruangan itu hening.
Wonwoo menaikkan alisnya, melihat tiga orang di depannya—Minghao, Seungkwan, Dokyeom— nampak mematung. Apakah Kim Jaemin semenakutkan itu?
Kemudian ia menoleh untuk menatap pria itu bergantian dengan Mingyu yang ada di sampingnya. Baginya, mereka berdua sama. Hanya saja Mingyu lebih tinggi.
“Traffic. Tadi ada yang kecelakaan juga di depan kita. Untung ga kenapa-napa.” jawab Mingyu membuat percikan panik terlihat di wajah kakeknya.
“Benar tidak apa-apa?”
Mingyu mengangguk, “bener, Wonu agak kaget aja. But he was okay. We’re good. Ga ada nabrak juga.”
Kim Jaemin menganggukkan kepalanya sebelum meminta Mingyu untuk duduk.
“Lama banget lo ngobrol ama kakek Kak.” tanya Mingyu saat keduanya duduk, “bahas apa aja?”
“Banyak banget. Semuanya di bahas sama dia.”
“Ceramah ya pasti? Biasa banget orang mau happy malah ngomongin hal ga penting.”
“Kim Mingyu! Saya di depan kamu!”
Mingyu mencibir sambil menjulurkan lidahnya.
“Si Mingyu ga ada takutnya sama sekali. Heran gue.” celetuk Dokyeom.
“Halo Wonwoo…” sapa Jihoon yang duduk di seberangnya.
“Hi. Thank you, ya buat rekomendasi orangnya, gue jadi bisa tenang ninggalin Oreo nanti.”
“Oreo siapa?” celetuk Jeonghan.
“Anaknya Wonwoo!” seru Dokyeom membuat seluruh tatapan tertuju ke arahnya, “kata Mingyu ya! Dia bilang Oreo itu anaknya Wonwoo, tapi coba deh liat kak, bukannya mirip Mingyu ya?” lanjutnya memperlihatkan foto anjing itu yang bersebelahan dengan Mingyu.
Seketika tawa Jeonghan menggema, ia mengambil ponsel Dokyeom dan berjalan ke arah kekasihnya, menunjukkannya sambil menujuk Mingyu.
“Kakek liat deh, ini cucunya.”
Kim Jaemin mendecak, “lebih lucu dia ketimbang Mingyu.” balasnya yang semakin membuat tawanya semakin keras diikuti oleh yang lain.
“Lo mau adopsi anjing ya, dek?”
“Iya, Wonu ga sengaja ketemu pas dia lagi ke cafe, terus denger ceritanya Oreo dan baru bilang ke gue kalau pingin adopt dia. Jadi ya kita adopt. Dokumennya udah kelar, tinggal jemput dia aja nanti setelah rumahnya jadi.”
“Emang bisa ngurus nanti kalo lo pergi trip dan Wonwoo sibuk sama kerjanya?”
“Jihoon untuk kasi rekomendasi orang buat bantu jaga dia. Jadi aman.”
Seungcheol mengangguk, “bagus deh kalo gitu. Gue am Hannie juga mau cari puppies nanti. Minta alamat shelter-nya, ya.”
“Gampang kak, nanti bareng aja kalau mau kesana. Lo bisa sekalian donation juga kalo mau.”
Percakapan mereka pun mengalir seiring makanan-makanan mulai dikeluarkan. Karena ada ketiga sahabat Mingyu, semua ‘aib’ Mingyu menjadi pembahasan utama malam itu.
Seungkwan dan Dokyeom sangat bersemangat mengekspos setiap kelakukan memalukan yang pernah Mingyu alami. Termasuk saat ia salah menarik orang mereka pergi berbelanja bersama. Saat itu mereka berempat liburan daerah pegunungan di China, dalam peristirahatan mereka sepakat untuk mampir ke supermarket untuk membeli kebutuhan dan juga makanan ringan. Mingyu yang memang selalu incharge dalam hal itu terlalu serius membaca setiap barang di depannya yang menggunakan bahasa Cina tidak sadar jika orang yang berdiri di sebelahnya bukan lagi Seungkwan.
Dengan santainya ia menarik orang asing itu dan menyeretnya menjauh sampai pria itu meneriakinya.
“Gila sih si Mingyu, padahal udah di panggil-panggil tetep ga sadar kalo orang itu bukan Boo. Kalo lo liat gimana muka paniknya, yakin gue lo bakal ngakak guling-guling.” seru Dokyeom yang selalu bersemangat menceritakan kejadian konyol Mingyu.
Makan malam berjalan lancar. Semuanya larut dalam percakapan yang benar-benar menghibur, bahkan Kim Jaemin juga ikut menceritakan Mingyu yang hidupnya tidak benar seperti orang-orang bayangkan.
Kim Mingyu sama seperti mereka semua, dia pernah mengalami hal konyol dan juga memalukan.
Wonwoo tidak banyak bicara malam itu. Ia hanya mendengarkan setiap cerita tentang Mingyu yang disampaikan oleh hampir semua orang di sana. Terkadang saat pertanyaan beralih kepadanya, ia hanya memberikan jawaban palsu atas setiap moment kebersamaannya dengan Mingyu. Begitu juga dengan pria itu, hampir semua cerita kencan mereka itu karangan.
Mingyu benar-benar hebat dalam berakting, begitu juga dengan Kim Jaemin.
Namun satu hal yang tidak bisa Wonwoo pungkiri. Kebersamaan seperti ini sebelumnya hanya bisa ia rasakan dari orang lain. Pertama, keluarga Hoshi dan sekarang Kim Mingyu.
Dia memang ikut dalam percakapan itu, tapi kebersamaan ini bukan miliknya. Biar bagaimanapun juga, Wonwoo adalah orang asing dan akan selamanya menjadi orang asing yang memiliki batas waktu bersama mereka.
Mingyu benar-benar terlahir di keluarga yang orang lain impikan, termasuk dirinya.
Hari itu, perasaan bersalah kembali muncul. Menatap satu demi satu orang yang ada disana, membuat perasaan tidak nyaman mengganjal lagi. Dia membohongi mereka semua.
Termasuk Mingyu. Ia bahkan membuat perjanjian berbeda dengan Kim Jaemin untuk membonhonginya.
・・・
“Wonwoo mana Igyu?” tanya Jeonghan.
Mereka sudah berpindah ke pavilion satunya untuk menikmati cake yang dibeli olehnya. Bahkan Kim Jaemin sudah meminta Seungcheol membuka minuman terbaiknya yang disambut heboh oleh teman-teman Mingyu.
“Hpnya ketinggalan di mobil, gue coba susul dulu.”
Jeonghan mengangguk sambil melihat Mingyu yang berjalan menuju tempat Wonwoo. Pria cantik itu kembali menyipitkan matanya.
Sebenarnya ia memperhatikan keduanya sedari tadi. Wonwoo lebih diam dari biasanya dan hanya menanggapi percakapan mereka seadanya. Ia tahu jika ponsel pria itu tidak ketinggalan karena ia melihat Wonwoo mengeluarkannya diam-diam saat mereka makan malam. Mereka masih belum berbaikan.
“Lama banget deh Mingyu jemput Wonwoonya, gue susulin ya.” celetuk Seungkwan yang tidak sadar untuk menerima jatah minumannya karena mereka menunggu Mingyu dan Wonwoo.
“Jangan. Kasi mereka ngobrol dulu, lagi berantem itu sebenernya.” Celetuk Jeonghan.
“Hah?”
“Mingyu nginep kemaren di rumah karena dia berantem?”
Jeonghan mengangguk melihat keterkejutan di wajah Seungcheol, sementara Kim Jaemin hanya menyesap minumannya tanpa memberikan reaksi apapun.
“Prahara rumah tangga nih. Kalo mereka pukul-pukulan gimana?” Celetuk Dokyeom.
“Saya yang pukul mereka balik.” celetuk Kim Jaemin membuat Dokyeom menutup mulutnya dan mendapatkan pukulan dari Seungkwan di sebelahnya.
“Emang berantem kenapa kak?” tanya Minghao, sedari tadi menjadi orang yang memperhatikan semuanya membuatnya sedikit penasaran. Akting Mingyu benar-benar hebat, pikirnya. Tidak mungkin bertengkar ini juga akting, bukan?
Jeonghan menggeleng, “anaknya ga mau cerita, cuma bilang kalo dia ga pingin pulang aja kemaren.” balasnya berbohong.
“Gengsi kayaknya dia cerita sama gue. Soalnya yang keliatan childish dia. Udah gede tapi masih ngambekan.” lanjutnya terkekeh yang mendapatkan decakan dari Kim Jaemin.
“Nanti juga mereka ke sini. Kalian nikmati saja minuman dan cake yang di bawa Jeonghan.” Celetuk pria paruh baya itu.
ᯓᯓᯓ
Sesampainya di tempat makan mereka tadi, Mingyu bisa melihat jika Wonwoo tengah berdiri melihat ke arah kolam teratai milik kakeknya yang sejak ia sampai memang mencuri perhatiannya.
Ia berdiri dalam diam di dekat jendela tanpa menyadari dirinya yang mendekat. Alasan Wonwoo untuk menghindar sedikit konyol. Jelas-jelas ponselnya ia taruh di saku celananya, namun ia menggunakan itu untuk berada di sini.
Mingyu tidak tahu alasannya dan tidak yakin jika Wonwoo akan mengatakan hal yang sebenarnya.
“Hey.” panggil Mingyu.
Wonwoo tidak menoleh, ia masih menatap ke arah kolam dalam diam setelah mendengar suara yang tidak asing itu.
“Kakek lo punya angsa. Gue baru sadar.” sahutnya menunjuk hal yang sejak tadi mencuri perhatiannya.
“Iya, ada enam. Semuanya pasangan.” jawab Mingyu ikut memperhatikan pandangan Wonwoo. Ia berdiri di sampingnya dan bisa mencium aroma parfum darinya.
Mingyu tahu aroma ini. Parfum yang ia beli untuknya. Menurutnya aroma ini sangat cocok untuk Wonwoo, karena itu saat berbelanja beberapa waktu lalu dan menemukan ini, Mingyu langsung membelinya tanpa pikir panjang.
“Kenapa lo ga nyusul?” tanya Mingyu.
“Sebentar lagi. Gue ngerasa ga enak.”
“Kenapa?”
“Keluarga lo… temen-temen lo… semuanya baik banget. Tapi gue disini boongin mereka.”
“Mereka ga akan tau, sampai kita cerai nanti. Yang mereka tau itu lo pasangan gue.”
Wonwoo tidak menjawab. Mingyu tidak akan mengerti mengenai perasaan bersalah yang ia rasakan saat ini.
“Tapi gue tetep merasa bersalah. Gue ngerasa jahat, terutama sama Kak Han. Gue ga kebayang gimana reaksi dia seandainya apa yang kita lakuin ini ketauan. Dia pasti bakal marah banget sama gue, dia pasti bakal benci gue. Lo ga takut kalo itu kejadian?”
Respon yang pertama Wonwoo dengar adalah helaan nafas, “takut. Cuma gue akan buat hal itu ga akan terjadi. Semuanya akan baik-baik aja. Lo akan baik-baik aja. Gue yang jamin itu.”
Kali ini Wonwoo tidak membalas dan membiarkan keheningan mengambil alih.
“Maaf.”
Wonwoo bergeming mendengar kata itu.
“Gue berlebihan kemarin. Maaf gue ga balas chat lo dan maaf udah buat lo bingung sama reaksi gue.” kata Mingyu pelan.
“Sampai sekarang gue masih ngerasa lo boong. Gue akan anggap kejadian kemarin itu lo beneran akting. Tapi gue ga bisa boong kalo gue beneran marah. Bukan karena lo boongin gue, tapi karena gue ngerasa lo ga kasi gue kesempatan buat kenal sama lo.” lanjutnya yang kali ini dengan nada sedikit meninggi.
“Lo kenal sama gue Mingyu. Apa yang lo liat ya itu gue.” balas Wonwoo menolehkan kepalanya untuk menatap Mingyu yang sekarang tengah bersandar di jendela dengan tatapan lurus ke bawah lantai. keningnya mengeryit kua, memperlihatkan jika ia merasa tidak nyaman dengan sesuatu yang sepertinya ia tahan.
“Kenapa gue ngerasa lo bohong, Wonwoo?” tanya Mingyu, kepalanya sudah menoleh membuat tatapannya bertemu dengan pupil kecoklatan milik Wonwoo yang bersembunyi di balik kacamatanya.
Jemari Mingyu meraih tangan Wonwoo, “you wouldn’t have done this, if it were just a lie. ” sahutnya menyentuh luka di jemari pria itu.
“Did something happen?”
Mingyu menyunggingkan senyuman lemah, “lo bahkan ga mau jawab itu.”
“I keep thinking that it was because of me. Gue takut kalo ada hal yang buat lo sakit dan itu karena gue. Gue harus apa biar lo mau cerita ke gue?"
“Min… berapa kalo harus gue ulang kalo lo buat gue happy? Lo kadang emang nyebelin. Tapi apa yang terjadi sama gue ga ada hubungannya sama lo. Lo ga perlu khawatir ya. Hal yang ganggu gue itu bukan tentang lo atau bukan karena lo. Jadi, jangan berpikir kayak gitu. Gue minta maaf karena gue buat lo ga nyaman dan marah. Gue janji ga bakal ngelakuin itu lagi.”
Mingyu menjilat bibirnya yang terasa kering. Mengapa ungkapannya terdengar seperti ia menambah jarak dengannya untuk mengenal Wonwoo?
Ia masih menatap Wonwoo dalam diam. Raut kelelahan dan kurang tidur masih jelas terlihat di wajahnya dan sepertinya reaksi berlebihannya kemarin menambah raut lelahnya.
Mingyu masih menggenggam jemari Wonwoo. Ia masih ingin bertanya, mengapa Wonwoo tidak mau jujur, tapi sepertinya pria itu jauh lebih keras kepala darinya.
“I hate it.”
“Hm?”
“I hate seeing you like that. Entah lo akting ato beneran—gue ga suka.”
Wonwoo menatap Mingyu nanar, ia sedikit bingung dengan kalimat itu.
Kenapa?
Ia ingin menanyakannya, namun sesuatu dalam dirinya menahannya untuk bertanya.
Setelah diam beberapa saat, Wonwoo bergerak untuk memeluk pria itu.
“Min… ketemu sama lo beneran hal yang buat gue bahagia. Lo buat jalan yang selama ini sulit gue lalui itu gampang. Sama sekali ga ada kerikil yang gue injek, semuanya berjalan bahkan jauh dari ekspektasi gue. Maaf, kalau gue buat lo merasa kayak sekarang. Maaf kalau gue belum bisa untuk buka diri gue. Tapi, sama lo gue bahagia, Mingyu. Gue gatau pake cara apa gue bayar semua kebaikan lo. Tolong jangan pernah ngerasa apa yang terjadi sama gue itu karena lo, ya?”
Mingyu membenamkan kepalanya di pundak Wonwoo, “kita beneran ga bisa temenan ya, Wonwoo?”
Wonwoo tersenyum, “lo temen gue Mingyu.”
Mendengar itu Mingyu membawa kedua tangannya untuk membalas pelukan Wonwoo.
“Jangan ngagetin gue kayak kemarin. Kalau lo beneran mau latian akting, kasi gue aba-aba. Gue benaran panik.”
“Iya… maafin gue ya?”
Mingyu mengangguk, “maaf gue juga ga respon lo.”
“Dimaafin! Kita susulin yang lain sekarang? Kayaknya udah lama lo juga pergi. Nanti mereka bingung lagi.” ujar Wonwoo melepaskan pelukannya.
Wonwoo beranjak, namun gerakannya terhenti saat Mingyu masih menggenggam tangannya, menahannya untuk melangkah.
“Kenapa?” tanya Wonwoo memiringkan kepalanya, melihat Mingyu hanya diam menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan.
Detik berikutnya, Wonwoo bisa merasakan jika tubuhnya ditarik bersamaan dengan tangan Mingyu yang meraih tengkuk lehernya.
Kecupan Mingyu mendarat di bibirnya membuatnya mengerjapkan matanya ketika jarak wajah mereka sangat dekat. Tatapan Wonwoo menatap bibir Mingyu yang terbuka sebelum ia bergerak untuk menciumnya terlebih dahulu.
Dengan tatapannya yang terpejam, Wonwoo bisa merasakan ciuman Mingyu kali ini tergesa-gesa. Ia bahkan merasa kesulitan untuk mengambil nafasnya karena Mingyu melahap mulutnya seperti predator yang mendapatkan mangsanya.
Merasa jika kakinya sudah mulai melemas karena kekurangan oksigen, Wonwoo menepuk-nepuk dada Mingyu, memintanya untuk berhenti.
Sadar dengan apa yang ia lakukan, Mingyu melepaskan ciumannya dan menahan tubuh Wonwoo yang nyaris terhuyung.
“Ada siapa sih? Kok lo ganas banget.” tanya Wonwoo menyeka bibirnya di sela-sela nafasnya yang memburu.
“Ga ada siapa. Gue kesel aja sama lo.”
Wonwoo menatap Mingyu datar mendengar jawaban konyolnya sebelum ia mendecak kecil.
“Kita kabur aja ya? Ga usah ikut kumpul?”
“Enak aja. Kak Han beliin gue cake.”
“Lo mentingin cake Kak Han ketimbang gue?”
“Iyalah. Kalo lo mau kabur, kabur aja sendiri. Gue bisa nebeng balik sama Kak Han?"
"Jangan, nanti lo di culik dia."
┈
“Lo ketemu sama Mingyu Wonwoo ga? Masih berantem mereka?” tanya Seungkwan saat melihat Jihoon datang setelah ia pamit untuk ke kamar mandi.
“Siapa berantem? Mereka lagi ciuman,” jawabanya santai membuat orang-orang disana saling bertatapan, kecuali Kim Jaemin yang masih santai menyesap minuman kesukaannya.